• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Metode Analisa Data

a. Induktif, yaitu mengemukakan masalah yang bersifat khusus untuk generalisasi yang bersifat umum, pengambilan kesimpulan kepada prinsip yang dikemukakan Ahli Tafsir.7

b. Deduktif, yaitu pembahasan yang dimulai dari persoalan yang bersifat umum untuk menilai suatu kejadian yang bersifat khusus.

Pengambilan kesimpulan dari pendapat pendapat yang dikemukakan ahli tafsir untuk dikembangkan dalam teori pendidikan pada umumnya.

c. Komperatif, yaitu membandingkan beberapa pendapat yang lebih tepat. Pengambilan kesimpulan dari data yang dikemukakan para ahli untuk diambil diantara pendapat yang lebih tepat.8

6Depertemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Tafsirnya. (Jakarta:Lentera Abadi, 2010). Hal.

71

7Sutrisno hadi, Metode Penelitian, ( Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, 1986 ) hal 42

8Winarto Suracmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, ( Bandung: Tersito,1994 ) hal 143

53

Seorang pendidik harus memiliki sifat kepribadian yang positif.bagaimanapun alasannya seorang pendidik harus memiliki sifat kelebihan dari anak didiknya.karena dia bertuga mendidik dan mengajar anak anak didik,serta mengantarkannya menuju keberhasilan tujuan yang dicita citakanyakni memiliki kepribadian yang takwa kepada allah. sulit rasanya seorang pendidik mampu membawakan anak didiknya menuju keberhasilan tujuan pendidik tersebut,jika seorang guru atau seorang pendidik tidak terlebih dahulu memiliki sifat sifat kepribadian tersebut.

seorang guru disamping keberadaannya sebagai figur contoh (figur centered) di hadapi anak didik,di juga harus mampu mewarnai dan mengubah kondisi anak didik dari kondisi yang negatif menjadi positif dari keadaan yang kurang menjadi lebih. guru atau pendidikterhadap anak didik bagaikan orang tua terhadap anak anaknya.1

Dari tela’ah terhadap al-Qur’an surat ‘abasa ayat 1-16 yang penulis

lakukan, maka kompetensi personal guru yang harus dimilikinya adalah 1. Bersikap adil terhadap anak didiknya

Adil merupakan prinsip ideologi Islam. Pelaksanaan keadilan tidak boleh berat sebelah, artinya berimbang tanpa membeda-bedakan status sosial seseorang, kekayaan, kelas, ras, pengaruh politik, ataupun

1Abdul Majid Khon. Hadits Tarbawi: Hadis-Hadis Pendidikan. (Jakarta: Kencana, 2012). Hal 65

keyakinan agama. Pada surat ‘abasa keadilan terhadap peserta didik dapat dipahami dari ayat 1-7



“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. karena telah datang seorang buta kepadanya. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).”

Pada ayat ini Allah menegur nabi saw, ketika beliau merasa tidak senang dengan ummi maktum, ayat ini mengisyaratkan agar dalam pembelajaran jangan mengkhususkan antara orang kaya dan orang miskin, orang berkuasa atau rakyat biasa, hendaklah seorang guru tersebut bersifat adil dalam menyampaikan ilmu kepada peserta didiknya, karena setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pengajaran.

Keadilan merupakan nilai-nilai ajaran alquran yang paling esensial dalam kehidupan ini,urgensi keadilan pada diri sendiri maupun dalam kelompok orgensi atau pemerintah, tuhan mendukung pemerintah an yang adil meskipun kafir,dan tindak mendukung pemerintahan yang

zalim meskipun mukmin,sebagai firman allah dalam surat an-Nahl ayat

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Kata adil yang terdapat pada ayat tersebut menurut al maraghi adalah al-musawah fi kull sya’in bu laa ziyadatah wa laa nughsan fih (memperlakukam segala sesuatu secara sama , tanpa menambah dan tanpa mengurangi. Sedangkan kata itai dzilqurba berarti memberikan hak kaum kerabat dengan cara bersilaturahmi dan berbuat baik. Jadi adil dalam ayat tersebut adalah bahwa Allah menyuruh manusia agar berbuat adil yaitu menunaikan kadar kewajiban berbuat baik dan terbaik dengan meningkatkan kepatuhan dan menjunjung tinggi perintah tuhan. Berbuat kasih sayang kepada ciptaannya.3

Dalam surat ak-maidah ayat 58



2Hefniy Rozak. Kepemimpinan Pendidikan Dalam Al-Quran:Tinjauan Sakralitas, Profanitas Dan Gabungan. (Yogyakarta:Teras, 2014). Hal. 156

3Abuddin Nata. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. (Jakarta:Rajawali Pers, 2014). Hal. 252-253

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”

Kata amanah yang terdapat pada ayat tersebut adalah sesuatu yang harus dipelihara dan disampaikan kepada pemiliknya. Orang yang melakukan perbuatan tersebut disebut sebagai orang yang aminan, wafiyan yaitu orang yang dapat dipercaya dan menunaikan tugas dengan

sempurna. Para ulama memasuki kedalam ketagori amanat ini adalah keadilan seorang pemimpin terhadap rakyatnya dan keadilan ulama kepada orang awam dengan cara memberi petunjuk kepada mereka untuk memiliki akidah yang kuat, melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupannyadi dunia dan akhirat dengan cara menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang baik.4

Ayat tersebut mengandung pengertian kewajiban berbuat adil, kewajiban berbuat adil dalam memberi kesaksian terhadap siapapun, larangan menyimpang dari kebenaran, dan larangan tidak adil terhadap musuh. Allah memerintahkan berbuat baik dan adil kepada kerabat, kaya maupun miskin, menegakan hukum dengan adil, dalam beberapa firman nya allah sangat menekankan masalah keadilan,dia mengutus rasul rasul nya untuk menyampaikan keadilan bagi umat manusia melalui alkitab agar mereka mengaplikasikan keadilan, perintah Allah untuk berbuat adil juga kepada anak yatim yang memerlukan belaian kasih sayang,

4Abuddin Nata. Tafsir Ayat-Ayat... Hal.254

termasuk dengan mengembangkan hartanya dengan cara lebih bermanfaat.5

Dalam proses belajar mengajar di sekolah/madrasah sering siswa memberikan penilaian terhadap gurunya mengenai sikap guru dalam menghadapi siswanya, diantara mereka ada yang menyatakan “bapak A

pilih kasih terhadap murid-muridnya, lebih memperhatikan siswa yang lebih cerdas, mudah marah jika yang bertanya adalah siswa yang mempunyai IQ rendah, dan lain-lainnya. Terlepas dari hal tersebut, penilaian seperti ini menunjukan bahwa peserta didik ingin diperlakukan dengan sama dan adil oleh gurunya.

Setiap guru harus adil dalam mengajar dan membimbing murid-muridnya. Setiap siswa harus mendapat kasih sayang yang sama dari guru , harus mendapat perhatian, bimbingan yang sama dari guru mereka.

Guru harus mengetahui seluruh persoalan siswanya jika ada persoalan siswa dan latar belakang keluarganya sehingga ada permasalahan yang mudah dapat diatasinya atau ditanganinya secara terpisah. Karena masing-masing siswa mempunyai persoalan masing-masing.6

Dengan demikian sikap adil dalam proses belajar mengajar harus dilaksanakan/diterapkan, dengan cara memberikan materi yang sama kepada siswa, memberikan kesempatan bertanya yang sama kepada siswa tanpa membedakan status sosial, jabatan, dan ekonomi.

5Hefniy Rozak. Kepemimpinan Pendidikan Dalam Al-Quran:Tinjauan Sakralitas, Profanitas Dan Gabunga... Hal. 156

6Muhammad Abdurrahman. Akhlak: Menjadi Muslim Berakhlak Mulia.

(Jakarta:Rajawali Pers, 2016). Hal. 197

Sebagai seorang guru hendaknya menanggapi pertayaan dari siswanya tanpa mengabaikan pertanyaan dari siswa lainnya. Memberikan materi yang sama dan penilaian yang sama terhadap siswa yang berada dikelas yang berbeda.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa sikap adil dalam proses belajar mengajar harus diterapkan dengan sebaik-baiknya karena akan berpengaruh terhadap siswa, jika gurunya adil maka siswa akan bersemangat dalam belajar mereka akan berlomba-lomba untuk mencapai keberhasilan. Tapi jika gurunya tidak adil maka anak akan malas dalam belajar karena mereka akan berpikir bahwa usahanya dalam belajar tidak akan dipandang oleh guru, bahkan nilai yang didapatnya hanya secara Cuma Cuma.

2. Wibawa

Yang dimaksud dengan wibawa adalah dipatuhi dan disegani.

Adanya wibawa seorang guru dapat diketahui melalui penampilan dan sikapnya sehari-hari. Selain memiliki ilmu pengetahuan, seorang guru dituntut untuk memiliki sifat penyayang, lemah lembut, iklas, jujur, dapat dipercaya, keteladanan dalam tingkah laku dan memahami batas kemampuan intelektual dan pengembangan emosional anak. Dengan demikian maka kepribadian akan menjadi lebih berwibawa sebagai sosok seorang guru.7

7Samsul Nizar. Memperbincangkan Dinamika Intelektual Dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam...Hal. 138

Dengan seorang guru menghargai siswanya, siswa juga akan semakin menghormati gurunya, tapi sebaliknya guru yang tidak mengahargai siswanya, maka siswanya juga tidak akan patuh dan menghormati gurunya. Mereka tidak akan patuh terhadap apa yang dikatakan guru tersebut, sehingga kewibawaan akan hilang dimata siswanya.

Guru mempunyai wewenang terhadap peserta didik tetapi bukan berarti guru tersebut dapat melakukan apapun kepada peserta didik seperti menghardiknya, memukul, ataupun menyalahkan siswa yang memiliki keterbatasan. Sebagai panutan guru hendaknya dapat menunjukan nilai positif seperti lemah lembut, sopan, saling menghargai, menerima kekurangan siswanya.

Seorang guru harus membalas kehormatan siswanya dan menanamkan kasih sayang kepada mereka sehingga tidak takut kepada guru akan tetapi menyegani gurunya. Disinilah diperlukan kelembutan dan keramahan seorang guru agar siswanya tidak menjadikan gurunya menakutkan.8

Sebagaimana yang terdapat dapat dalam al-Qur’an surat al-furqan ayat 63

8Muhammad Abdurrahman. Akhlak:Menjadi Seorang Muslim... Hal. 196

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”

Dari ayat ini jelas bahwa seseorang hendaknya dapat berlaku dengan baik meskipun orang berbuat jahat kepadanya. Apalagi dalam pendidikan jika seorang siswa memiliki kesalahan atau mempunyai kekurangan hendaknya tetap diperlakukan dengan baik. Maka kewibawaan guru akan dapat membantunya dalam melaksanakan tugasnya.

3. Menjadi teladan bagi siswa

Siswa yang merupakan anak yang sedang berkembang tentu saja dapat meniru atau mencontoh hal-hal yang ada disekitarnya. Pendidik yang baik harus menunjukan perilaku yang sesuai dengan nasehat atau atribut karakter yang ingin dibentuk dari siri siswa.9

Dalam surat ‘abasa pada ayat 12-16



“Maka Barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan yang ditinggikan lagi disucikan di tangan Para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.”

Pada ayat ini menjelaskan bahwa orang yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan, maka ia akan memperhatikan apa yang ada di sekitarnya.

Begitu juga dengan seorang siswa karena ia berada pada suatu

9Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri. Pendidikan Karakter: Mengembangkan Karakter Anak Yang Islami... Hal. 139

lingkungan maka ia akan meniru apa yang ada di lingkungannya, maka hendaklah guru menunjukan perilaku yang baik sebab siswa akan menjadikan guru tersebut sebagai contohnya.

seorang siswa karena ia berada disuatu lingkungan maka ia akan meniru apa yang ada di lingkungannya, maka hendaklah guru menunjukan perilaku yang baik sebab siswa akan menjadikan guru tersebut contoh baginya. Guru yang sebagai idola bagi siswanya wajib menerapkan apa yang ingin diajarkan kepada siswanya.

Salah satu keberhasilan rasulullah Saw dalam menyebarkan ajaran islam adalah beliau terlebih dahulu menunjukan perilaku yang baik dan melalui kebiasaan-kebiasaan baik. Dalam melaksanakan perintah Allah rasulullah telebih dahulu melaksanakannya dan diteruskan secara konsisten. Firman Allah dalam surat al-ahzab:2110



“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Pada ayat ini jelas bahwa rasulullah saw adalah menjadi contoh dan teladan bagi kita semua. Rasulullah saw dalam menyebarkan ajaran islam terlebih dahulu melaksanakan perintah Allah sebelum beliau menyampaikan kepada umat. Begitu juga dalam pendidikan, guru

10Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri. Pendidikan Karakter: Mengembangkan Karakter Anak Yang Islami... Hal. 143

sebagai subyek pendidikan yang berperan penting dalam pendidkan, harus menjadi orang yang beriman dan berbudi luhur agar dapat dijadikan teladan oleh murid-muridnya beserta seluruh masyarakatnya.11

Guru perlu menjadi teladan bagi siswanya karena menjadi pengasuh, pendidik dan pembimbing kepada siswanya. Dewasa ini para penuntut ilmu sangat mendambakan seorang guru yang menjadi panutan bagi mereka baik di rumah maupun di sekolah. Oleh karena itu seorang guru harus bisa mencapai ke tingkat itu semoga menjadi teladan bagi murid.12

Guru harus terlebih dahulu memberikan contoh yang baik kepada siswanya. Dengan guru menunjukan perilaku yang baik kepada siswanya maka secara tidak lansung guru tersebut telah melaksanakan sebagian dari tugasnya. Hal tersebut dapat mempermudah guru dalam melaksanakan tugas.

4. Berakhlak mulia

Arahan pendidikan nasional ini hanya mungkin terwujudkan jika guru memiliki akhlak mulia. Siswa terbentuk menjadi siswa yang berakhlak mulia karena guru, sebab guru menjadi cerminan bagi setiap muridnya.

Pendidikan nasional yang bermutu diarahkan untuk pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

11Muhammad Fathurrohman & Sulistyorini. Meretas Pendidik Berkualitas Dalam Pendidikan Islam... Hal. 134

12Muhammad Abdurrahman. Akhlak:Menjadi Seorang Muslim... Hal. 196

kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demoktratis serta bertanggung jawab.

Menurut husain dan ashraf “dalam dunia kontemporer saat ini

perhatian lebih ditunjukan pada bangunan, peralatan, perlengkapan, dan materi dibandingkan kepribadian dan karakter guru”. Sebuah kritik yang

telah diutarakan perlu dijadikanperbincangan hangat bagi setiap management lembaga pendidikan dan fakultas pencetak guru.

Esensi pembelajaran adalah perubahan perilaku, guru akan mampu mengubah perilakupeserta didik jika dirinya telah menjadi manusia baik.

Pribadi guru harus baik karena inti dari pendidikan adalah perubahan perilaku, sebagaimana makna pendidikan adalah proses pembebasan peserta didik dari ketidak mampuan, ketidak benaran, ketidak jujuran, dan dai buruknya hati, akhlak, dan keimanan.

Gardder dan cowell menyatakan, “suatu karakteristik sekolah yang

baik adalah bahwa kondisi moral gurunya tinggi. Kondisi moral tiggi berarti guru mempunyai percaya diri tinggi dan antusiasme. Percaya diri berarti bahwa guru mengetahui ia dapat bekerja baik, antusiasme berarti bahwa sungguh-sungguh bekerja baik.

Mengapa guru harus seorang yang berakhlak mulia atau berkarakter yang baik?karena diantara tugas yang amat pokok seorang guru adalah memperkukuh daya positif yang dimiliki siswa agar mencapai tingkatan manusia yang seimbang atau harmonis (al adalat)

sehingga perbuatannya mencapai tingkat perbuatan ketuhanan (af al ilahiyat)

Guru harus berakhlak mulia, karena ia adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Dengan berakhlak mulia, guru dlam keadaan bagaimanapun harus memiliki sifat istiqamah dan tidak tergoyahkan. Guru yang berakhlak mulia akan menjadi panutan bagi siswa dalam menghadapi berbagai situasi apapun.

Kompetensi kepribadian guru yang dilandasi akhlak mulia, tentu tidak tumbuh dengan sendirinya begitu saja, tetapi memerlukan ijtihad yang mujahadah, yakni usaha sungguh-sungguh, kerja keras, tanpa mengenal lelah dengan niat ibadah tentunya. Melalui guru yang demikianlah, berharap pendidikan akan menjadi ajang pemberntukan karakter pembentukan bangsa.

Selain itu rasulullah dalam menghadapi umat beliau, beliau selalu menunjukan akhlak yang mulia. Seperti saat berbicara beliau selalu jujur, lemah lembut, penyayang, sabar dan tabah, tidak pernah memukul, bahkan musuh beliaupun mengakui akhlak mulia beliau.

Bagi seorang guru sikap rasulullah ini harus menjadi panutan, sebagai contoh dan idola bagi siswa hendaklah memiliki akhlak yang mulia sebab dengan akhlak mulia ini, siswa juga akan berperilaku seperti gurunya. Disekitar kita terdapat nilai-nilai yaitu nilai baik dan buruk, tugas guru adalah menunjukan kepada siswa mana nilai yang baik seperti jujur, benar, dermawan sabar, tanggung jawab, peduli, empati, serta

menerapkannya dalam kehidupan peserta didik melalui praktik pengalaman kepada mereka.13

5. Ikhlas

Ikhlas berarti suci, bersih, sesuatu yang tidak ternoda.14 Secara umum ikhlas berarti hilangnya rasa pamrihatas segala sesuatu yang diperbuat.15

Allah berfirman dalam surat ‘abasa ayat 3-4



“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”

Dalam ayat ini al maraghi dalam tafsirnya “tafsir almaraghi”

menyimpulkan bahwa sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang hendak dilakukannya yaitu keinginan untuk membersihkan diri dan meminta nasehat, niscaya kamu tidak akan berbuat demikian.16

Seorang guru harus ikhlas dalam mengajarkan imu pengetahuan atau semua apa yang dilakukannya dalam kegiatan pendidikan. Ini merupakan kompetensi personal relegius yang harus dimiliki oleh seorang pendidik dalam pendidikan islam.17

13H Haidar Putra Daulay. Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat... Hal. 106

14H Haidar Putra Daulay. Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat... Hal. 107

15Muhammad Fathurrohman & Sulistyorini. Meretas Pendidik Berkualitas Dalam Pendidikan Islam. Hal... 129

16Ahmad Mustafa Almaraghi. Terjemah Tafsir Almaraghi. (Semarang, PT Karya Tuha Putra, 1993). Hal. 73

17Muhammad Fathurrohman & Sulistyorini. Meretas Pendidik Berkualitas Dalam Pendidikan Islam. Hal... 129

Dalam melaksanakan tugasnya guru harus ikhlas karena Allah SWT. Dia menjalankan tugasnya dengan nawaitu yang ikhlas dan beramalsaleh sehingga apabila ia diberi aji maka terimalah tapi jangan pernah menentukan bayarannya.18 Kalau saja rasulullah saw tahu bahwa maksud kedatangan ibnu ummi maktum untuk membersihkan diri maka nabi akan memperlakukannya dengan baik, maka allah akan memberi ganjaran yang lebih baik lagi.

Semua perbuatan yang yang dikerjakan hanya karena Allah semata, tidak ada niat lain selain mengaharap ridha Allah semata.19 Orang yang berbuat dengan ikhlas maka ia akan mendapat balasan dari Allah, meskipun amalan yang diperbuatnya ssangat kecil maka tetap akan dibalas oleh Allah sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surat alzalzalah ayat 7:















Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.”

Guru harus memulai dengan niat yang ikhlas, agar semua pekerjaananya terasa mudah dan ringan tanpa beban. Tapi jika guru sudah tidak ikhlas atau tidak mengharap ridha Allah maka ia akan merasa berat dalam menghadapi siswanya apalagi siswa mempunyai perbedaan-perbedaan. Maka sifat ikhlas tersebut harus ditanamkan sejak dini. Allah pun berjanji akan membalas setiap amal perbuatan yang baik, dalam

18Muhammad Abdurrahman. Akhlak:Menjadi Seorang Muslim... Hal. 196

19Halimuddin. Kembali Kepada Aqidah Islam. (Jakarta:Rineka Cipta, 1990). Hal. 98

artian ketika guru itu ikhlas, Allah akan melapangkan hatinya, memudahkan rezkinya.

69 A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang penulis dalam skripsi ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dalam al-Qur’an tedapat kompetensi kepribadian pendidik yang meliputi:

a. Sifat keadilan adalah memberi kesempatan yang sama antara orang kaya dan orang miskin, laki-laki dan perempuan dalam pendidikan.

Dalam proses belajar mengajar guru harus memberikan mata pelajaran kepada semua peserta didik dan memberikan kesempatan dan hak yang sama untuk belajar ataupun bertanya tanpa membedakan status sosial, ekonomi, budaya dan rupa sehinggga tidak ada kesan pilih kasih atau perbedaan.

b. Wibawa. Wibawa pendidik yang dapat menghargai, sopan lemah lembut kepada peserta didiknya akan mempunyai pengaruh besar dalam perubahan tingkah laku peserta didiknya. Jika guru dapat menghargai siswanya maka sikap yang akan tertanam pada siswa adalah sikap saling menghargai, tapi jika guru oteriter maka sikap siswanya akan lebih buruk lagi dan akan melakukan pemberontakan pada gurunya.

c. Keteladanan. Guru harus dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya, agar dapat menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan siswa.

d. Akhlak mulia. Guru yang baik adalah guru yang memiliki akhlak mulia yang dapat dicontoh oleh siswanya. Kemuliaan akhlaknya akan mengagkat derajat guru tersebut dan meningkatkan wibawa yang dimiliki okeh seorang guru.

e. Ikhlas. Ikhlas bukan berarti tidak ada imbalan. Orang yang ikhlas dalam beramal maka Allah yang akan memberikan balasan kepadanya dalam bentuk apaun, seperti ketenangan, rezki dan kebahagiaaan.

B. Saran

1. Seorang guru sebaiknyamengetahui tetang konsep kepribadian guru agar dapatmenjadi bekal dalam mengajar dan kehidupan sehari-hari untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.

2. Lembaga pendidikan memperhatikan kompetensi kepribadian guru agar meningkatkan kualitas pendidikan.

3. Bagi penulis sendiri, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih perlu pembenahan baik dari segi isi maupun metode. Segala kritik dan saran terhadap skripsi ini penulis harapkan dan untuk penyempurnaan penulisan skripsi ini.

Ali, Muhammad. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2010

Amri Syafri, Ulil. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an. Jakarta:Rajawali Pers. 2014

Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Alqur’an. Bandung:CV Pustaka Setia. 1998

Muhammad, Imam Bin Ahmad Al-Qurtubi. The Secret Of Quran. (Yogyakarta:

Mitra Pustaka, 2013

B Uno, Hamzah. Profesi Kependidikan: Problema, Dan Reformasi Pendidikan Di Indonesia. Jakarta: PT Bumi Akssara. 2011

Dzakiah, Darajat. Kepribadian Guru. Jakarta:Bulan Bintang. 1978

Darmansyah. Strategi pembelajaran Menyenangkan dengan Humor. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2012

Daud, Mohammad. Pendidikan Agama Islam. Jakarta. Rajawali Pers. 2011

Depertemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Tafsirnya. Jakarta:Lentera Abadi. 2010

Djamarah, Syaiful Bahri. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta:Rineka Cipta. 2010

Fathurrohman, Muhammad. Sulistyorini. Meretas Pendidikan Berkualitas Dalam Pendidikan Islam: Menggagas Pendidik Atau Guru Yang Ideal Dan Berkualitas Dalam Pendidikan Islam.Yogyakarta: Teras. 2012

Hadi, Sutrisno. Metode Penelitian. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM. 1986

Halimuddin. Kembali Kepada Aqidah Islam. Jakarta:Rineka Cipta. 1990

Halimuddin. Kembali Kepada Aqidah Islam. Jakarta:Rineka Cipta. 1990

Dokumen terkait