III. KERANGKA PEMIKIRAN
4.3 Metode Analisis dan Pengolahan Data
Dalam penelitian ini data didapat dari hasil pengamatan lapang dan percobaan yang dianalisis dengan mencari rata-rata, nilai terkecil, dan nilai terbesar dari data yang diperoleh. Sedangkan, data yang diperoleh melalui wawancara dianalisis dengan pendekatan produksi rata-rata per jumlah pekerja dan Cost Benefit Analysis(CBA).Jumlah produksi rata-rata dibagi jumlah tenaga kerja digunakan untuk menghitung tingkat produktifitas tenaga kerja pada mini plant. Sedangkan analisis aspek finansial berupa CBAdilakukanuntuk mengetahui aspek finansial suatu proyek pengolahan rajungan skala mini plant saat sebelum dan sesudah diterapkannya kebijakan minimum legal size input production.Sehingga diketahui seberapa besar dampak penerapan kebijakan
32 terhadap tingkat profitabilitypada proyek pengolahan rajungan karena kebijakan ini akan mempengaruhi penggunaan dan biaya input rajungan.
4.3.1 Identifikasi Rata-Rata Rajungan
Data identifikasi rajungan didapat dengan cara melakukan pengukuran pada setiap ekor rajungan yang menjadi input produksi pada mini plant. Pengukuran rajungan dilakukan di dua lokasi berbeda, yaitu di nelayan dan mini plant yang membeli rajungan dari pedagang (bakul).Data identifikasi rajungan yang diambil diantaranya : jenis kelamin, kondisi fisik (bertelur/moulting), lebar karapas, dan berat rajungan. Setelah data didapat, kemudian dihitung ukuran rata-rata rajungan yang digunakan sebagai input produksi mini plant. Pengambilan data menggunakan tabel untuk mempermudah dalam pencatatan dan perhitungannya. Tabel data yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 4. Data Identifikasi Rajungan di Tingkat Mini plant No.
JENIS KELAMIN KONDISI UKURAN
Jantan Betina Bertelur Moulting Lebar ( cm ) Berat ( gram ) 1
2 3 n
4.3.2 Tingkat Efisiensi Pengolahan Rajungan
Pengukuran tingkat efiensi pengolahan rajungan merupakan cara untuk mengetahui kondisi rajungan yang mudah dan cepat dalam pengupasan serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi dalam pengolahannya. Tingkat efisiensi pengolahan rajungan dapat diukur dengan melakukan dua percobaan berdasarkan klasifikasinya. Percobaan pertama, rajungan dikelompokan berdasarkan ukurannya (5-7 cm, 8-10 cm, dan 11-13 cm) dengan berat yang sama yaitu masing-masing lima kilogram. Kemudian percobaan dilakukan dengan menghitung berat sebelum perebusan, berat setelah perebusan, waktu yang dibutuhkan dalam pengupasan, berat daging yang dihasilkan, dan harga jualnya. Percobaan ini menggunakan tabel untuk memudahkan dalam pencatatan. Tabel yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 5.
33 Tabel 5. Pengolahan Rajungan Berdasarkan Klasifikasi Ukuran
Ukuran (cm) Sebelum Perebusan (kg) Setelah Perebusan (kg) Waktu Pengupasan ( Menit ) Total Berat Daging (kg) Harga Jual ( Rp ) 5 – 7 5 8 – 10 5 11 – 13 5
Percobaan kedua dilakukan sama seperti percobaan pertama, tetapi rajungan diklasifikasikan/dikelompokan berdasarkan jenis kelamin rajungan. Hasil percobaan kedua akan dicatat dalam tabel untuk memudahkan dalam perhitungan. Tabel data yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pengolahan Rajungan Berdasarkan Klasifikasi Jenis Kelamin Ukuran (cm) Sebelum Perebusan (kg) Setelah Perebusan (kg) Waktu Pengupasan ( Menit ) Total Berat Daging (kg) Harga Jual ( Rp ) Jantan 5 Betina 5
4.3.3 Tingkat Produktifitas Tenaga Kerja
Tingkat produktifitas tenaga kerja merupakan cara untuk melihat seberapa besar seorang pekerja dapat memproduksi dan menghasilkan output daging kupas rajungan. Tingkat produktifitasnya dapat dihitung dengan membagi jumlah rata-rata produksi satu periode produksi dengan jumlah pekerja. Sehingga dapat dilihat seberapa besar tingkat produktifitas rata-rata pekerja. Secara umum dapat dituliskan rumus sebagai berikut :
Dimana :
TK = Tingkat produktifitas tenaga kerja O = Jumlah Ouput Daging Rajungan/Tahun I = Jumlah Input Rajungan/Tahun
34 4.3.4 Analisis Aspek Finansial
Analisisaspek ekonomi suatu proyek atau usaha dapat dilakukan dengan menggunakan analisis kelayakan finansial.Analisis ini dilakukan dengan terlebih dahulu menyususun aliran kas (cashflow), yang terdiri dari cash inflow (arus penerimaan kas) dan cash outflow (arus pengeluaran). Cash inflow meliputi nilai produksi total, penerimaan pinjaman, dan nilai sisa. Cash outflow terdiri dari biaya investasi, biaya produksi, pembayaran pinjaman dan bunga, pajak dan lain-lain. Pengukuran cash inflow dengan cash outflow akan diperoleh manfaat bersih (net benefit). Analisis finansial dilakukan secara kuantitatif dan alat analisis yang digunakan untuk menguji kelayakan adalah Cost Benefit Analysis (CBA) dengan instrumen Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (NetB/C), dan Payback Period (PP). Tabel pengolahan data analisis aspek finansial dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.3.4.1 Net Present Value ( NPV )
Manfaat bersih merupakan selisih antara present value dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan yang diterima selama umur proyek pada tingkat diskonto tertentu. NPV dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan :
Bt = manfaat pada tahun ke-t Ct = biaya pada tahun ke-t
= compounding factor t = tahun (1,2,3,...n) n = umur proyek
Ukuran ini bertujuan untuk mengurutkan alternatif yang dipilih karena adanya kendala biaya modal, dimana proyek ini memberikan NPV biaya yang
35 sama atau NPV penerimaan yang kurang lebih sama setiap tahun. Proyek dinyatakan layak atau bermanfaat jika NPV lebih besar dari nol. Jika NPV sama dengan nol, berarti biaya dapat dikembalikan persis sama besar oleh proyek. Pada kondisi ini proyek tidak untung dan tidak rugi. NPV lebih kecil dari nol, proyek tidak dapat menghasilkan senilai biaya yang dipergunakan dan ini berarti bahwa proyek tersebut tidak layak dilakukan (Gray etal, 1992).
4.3.4.2 Internal Rate of Return ( IRR )
Internal Rate of Returnmenunjukkan rata-rata keuntungan internal tahunan perusahaan yang melaksanakan investasi dan dinyatakan dalam persen. IRR adalah tingkat suku bunga yang membuat nilai NPV proyek sama dengan nol. IRR secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
i1 = tingkat diskonto yang menghasilkan NPV positif i2 = tingkat diskonto yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV positif
NPV2 = NPV negatif
Investasi dikatakan layak jika IRR lebih besar dari tingkat diskonto, sedangkan jika IRR lebih kecil dari tingkat diskonto maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan. Tingkat IRR mencerminkan tingkat bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan. Suatu investasi dinyatakan layak jika IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku.
4.3.4.3 Net Benefit Cost Ratio ( Net B/C )
Besarnya manfaat tambahan pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan. Net B/C adalah merupakan perbandingan antara nilai sekarang (present
36 value) dari net benefit yang positif dengan net benefit yang negatif. Net B/C ratio secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut.
Dimana:
Bt = manfaat pada tahun ke-t Ct = biaya pada tahun ke-t
= compounding factor n = umur proyek
Proyek dikatakan layak bila Net B/C lebih besar dari satu (Gray et al, 1992).
4.3.4.4 Payback Period ( PP )
Menurut Gittinger (1986)Payback Periodadalah jangka waktu kembalinya keseluruhan jumlah investasi modal yang ditanamkan dihitung mulai dari permulaan proyek sampai dengan arus nilai neto produksi tambahan sehingga mencapai jumlah keseluruhan investasi modal yang ditanamkan. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai PP sebagai berikut :
Keterangan :
PP = payback Period
I = jumlah modal investasi
Ab =hasil bersih per tahun/periode atau laba bersih rata-rata per tahun.