ANALISIS DAMPAK PENERAPAN KEBIJAKAN MINIMUM
LEGAL SIZE INPUT PRODUCTION TERHADAP TINGKAT
PROFITABILITY MINI PLANT PENGOLAHAN RAJUNGAN
KECAMATAN TARUMAJAYA KABUPATEN BEKASI
HUSEN NUGROHO H44080105
DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Analisis Dampak Penerapan Kebijakan Minimum Legal Size Input Production Terhadap Tingkat Profitability Mini Plant Pengolahan Rajungan Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi adalah benar merupakan hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Mei 2012
Husen Nugroho H44080105
RINGKASAN
HUSEN NUGROHO. Analisis Dampak Penerapan Kebijakan Minimum Legal Size Input Production Terhadap Tingkat Profitability Mini Plant Pengolahan Rajungan Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. Dibimbing oleh RIZAL BAHTIAR
Kebijakan minimun legal size input production merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mengendalikan permintaan rajungan berdasarkan ukurannya. Kebijakan ini dimaksudkan agar para pengolah rajungan tidak mengolah rajungan yang berukuran kurang dari delapan sentimeter karena pada ukuran delapan sentimeter, sekurang-kurangnya rajungan dapat bertelur satu kali sehingga sumberdaya rajungan akan terjaga dan lestari. Penerapan kebijakan tersebut akan mempengaruhi produksi mini plant pengolahan rajungan yang berdampak pada perubahan profitability mini plant. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat profitability mini plant pengolahan rajungan di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi jika diterapkannya kebijakan minimum legal size input production untuk melihat dampak dari kebijakan tersebut. Secara umum penelitian ini menghitung analisis finansial mini plant dengan pendekatan Cost Benefit Analysis (CBA) dari cash flow yang terjadi pada mini plant. Selain itu, untuk mendukung analisis dengan CBA dilakukan juga percobaan pada pengolahan dan pengupasan rajungan. Hasil percobaan menyimpulkan bahwa rajungan mentah dengan masing-masing berat 5 kg pada ukuran 5-7 cm, 8-10 cm, dan 11-13 cm menghasilkan berat daging yang berbeda. Ukuran 5-7 cm menghasilkan daging seberat 1,15 kg (0,4 kg jumbo, 0,1 kg special, 0,3 kg super lump, dan 0,35 kg claw meat). Ukuran 8-10 cm menghasilkan daging seberat 1,4 kg (0,5 kg jumbo, 0,11 kg special, 0,34 kg super lump, dan 0,45 kg claw meat). Ukuran 11-13 cm menghasilkan daging seberat 1,6 kg (0,7 kg jumbo, 0,1 kg special, 0,3 kg lump, dan 0,5 kg claw meat). Hasil percobaan tersebut digunakan untuk menghitung hasil produksi mini plant sehingga dapat diketahui nilai cash flow. Discount rate yang digunakan dalam perhitungan CBA sebesar 15% berdasarkan suku bunga pinjaman. Berdasarkan perhitungan CBA sebelum penerapan kebijakan diketahui hasil CBA pada mini plant Bapak Maulana didapatkan nilai NPV = 1.194.566.292, IRR = 28%, dan NET B/C = 4,67. Setelah kebijakan minimum legal size input production disimulasikan pada mini plant maka hasil perhitungan CBA pada mini plant Bapak Maulana didapatkan nilai NPV = 1.508.365.375 IRR = 37%, dan NET B/C = 6,45. Sedangkan hasil perhitungan CBA pada mini plant Bapak Abdul Hamid didapatkan nilai NPV = 62.504.193,49, IRR = 27%, dan NET B/C = 2,94. Kebijakan minimum legal size input production dapat mendorong stok rajungan lebih stabil, mengefektifkan pengolahan rajungan dengan produksi yang optimal, dan meningkatkan profitability mini plant pengolahan rajungan dalam jangka panjang.
Kata Kunci : Rajungan, Minimum Legal Size Input Production, Cost Benefit Analysis, Profitability, Perusahaan.
ANALISIS DAMPAK PENERAPAN KEBIJAKAN MINIMUM
LEGAL SIZE INPUT PRODUCTION TERHADAP TINGKAT
PROFITABILITY MINI PLANT PENGOLAHAN RAJUNGAN
KECAMATAN TARUMAJAYA KABUPATEN BEKASI
HUSEN NUGROHO H44080105
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan
DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
Judul Skripsi : Analisis Dampak Penerapan Kebijakan Minimum Legal Size Input Production Terhadap Tingkat Profitability Mini Plant Pengolahan Rajungan Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi
Nama : Husen Nugroho NIM : H44080105
Menyetujui, Dosen Pembimbing,
Rizal Bahtiar S.Pi, M.Si NIP. 19800603 200912 1 006
Mengetahui, Ketua Departemen,
Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT NIP. 19660717 199203 1 003
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Rasullallah SAW, kepada keluarga, para sahabat, dan pada kita selaku umat-Nya.skripsi ini dilakukan sebagai salah satu prasyarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih kepada Bapak Rizal Bahtiar S.Pi, M.Si sebagai dosen pembimbing yang telah memberi kritik, saran, bimbingan, dan arahan selama penulisan skripsi ini. Terimakasih juga kepada Bapak Hamid dan Bapak Maulana sebagai pemilik mini plant pengolahan rajungan yang telah memberi izin untuk melakukan penelitian sehingga diperoleh data pada skripsi ini.Terimakasih juga disampaikan pada Bapak Benny Osta Nababan S.Pi,M.Si dan Bapak Ir. Ujang Sehabudin sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran sehingga membuat skripsi ini menjadi lebih baik lagi. Serta semua pihak yang telah membantu segala bentuk bantuan dalam penyelesaian kripsi ini.
Teristimewa penulis ucapkan kepada kedua orangtua (Abdul Mutholib dan Sri Dasriah), saudara-saudaraku (Hasan Sutrisno dan Indah Nurhasanah), keluarga besar, teman-teman ESL 45, dan Citra Paramitha yang senantiasa memberikan doa, semangat, dan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada sepupu (Arif Mujahidin) yang telah membantu finansial penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari terdapat kekurangan dalam skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak sehingga mampu meningkatkan keilmuan serta berguna bagi bangsa Indonesia.
Bogor, Mei 2012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, akhirnya skripsi Analisis Dampak Penerapan Kebijakan Minimum Legal Size Input Production Terhadap Tingkat Profitability Mini Plant Pengolahan Rajungan Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi telah selesai ditulis. Skripsi ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis selama menempuh kuliah dan arahan serta bimbingan di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Cost Benefit Analysis (CBA) merupakan salah satu bahasan dalam mata kuliah analisis biaya manfaat, dimana kita dapat menilai kelayakan suatu proyek secara finansial yaitu dari cash inflow dan cash outflow yang terjadi dalam proyek tersebut dalam beberapa tahun. Penelitian dilakukan di dua mini plant di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi karena mini plant ini masih memproduksi daging rajungan dengan input rajungan berukuran kurang dari delapan sentimeter. Hasil penulisan ini dapat digunakan untuk melihat kelayakan proyek atau usaha secara finansial dalam pengolahan rajungan skala mini plant pada saat sebelum dan sesudah diterapkannya kebijakan minimum legal size input production. Hasil analisis CBA dapat memperlihatkan perubahan tingkat profitability yang terjadi jika kebijakan tersebut diterapkan pada mini plant akibat perubahan produksi yang disebabkan penerapan kebijakan minimum legal size input production. Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk membuat skripsi ini menjadi lebih baik lagi.
Bogor, Mei 2012
vi DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan Penelitian ... 7 1.4 Ruang Lingkup ... 7 1.5 Kegunaan Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perikanan ... 10
2.2 Rajungan ... 11
2.2.1 Deskripsi dan Klasifikasi Rajungan ... 12
2.2.2 Jenis-jenis Rajungan ... 13
2.2.3 Habitat dan Penyebarannya ... 15
2.2.4 Kandungan Gizi dan Manfaat ... 15
2.3 Tangkap Lebih (Overfishing) ... 16
2.4 Kapasitas Lebih (Overcapacity) ... 16
2.5 Aspek-aspek Dalam mengevaluasi proyek ... 17
2.6 Studi Analisis Kelayakan Investasi ... 21
2.7 Penelitian Terdahulu ... 23
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis ... 25
3.2 Kerangka Operasional ... 26
3.3 Hipotesis Penelitian ... 28
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29
4.2 Metode Pengambilan Sampel dan Jenis Data ... 29
4.3 Metode Analisis dan Pengolahan Data ... 31
4.3.1 Identifikasi Rata-rata Rajungan ... 32
4.3.2 Tingkat Efisiensi Pengolahan Rajungan ... 32
4.3.3 Tingkat Produktifitas Tenaga Kerja ... 33
4.3.4 Analisis Aspek Finansial ... 34
4.3.4.1 Net Present Value ... 34
4.3.4.2 Internal Rate of Return ... 35
vii
4.3.4.4 Payback Period ... 36
4.4 Simulasi Penerapan Kebijakan ... 36
4.5 Asumsi Penelitian ... 37
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Kondisi Geografis Kabupaten Bekasi ... 39
5.2 Keadaan Penduduk Kabupaten Bekasi ... 40
5.3 Potensi Sumberdaya Perikanan Kabupaten Bekasi ... 41
5.4 Karakteristik Nelayan Kabupaten Bekasi ... 42
5.5 Alat Tangkap dan Waktu Penangkapan ... 43
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Data Identifikasi Rajungan... 45
6.1.1 Persentase Jumlah Rajungan ... 46
6.1.2 Hubungan antara Lebar Karapas dengan Berat Rajungan .... 47
6.2 Pengolahan Rajungan ... 49
6.3 Klasifikasi Jenis Daging Rajungan ... 50
6.4 Hasil Percobaan Tingkat Efisiensi Rajungan ... 54
6.5 Profil Mini Plant Pengolahan Rajungan ... 55
6.6 Tingkat Produktifitas Tenaga Kerja ... 57
6.7 Produksi Mini Plant Sebelum Penerapan Kebijakan ... 58
6.8 Produksi Mini Plant Setelah Penerapan Kebijakan ... 58
6.9 Hasil Analisis (CBA) Sebelum Penerapan Kebijakan ... 59
6.10 Hasil Analisis (CBA) Setelah Penerapan Kebijakan ... 60
6.11 Estimasi Dampak Penerapan Kebijakan ... 61
6.12 Sistem Pemasaran Rajungan ... 62
6.13 Rekomendasi Implikasi Kebijakan ... 64
VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 67
LAMPIRAN ... 70
viii DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1 Matriks Pemanfaatan Sumberdaya Perairan ... 11
2 Hasil Analisa Kimia Daging Kepititing dan Rajungan ... 16
3 Jenis Data dan Penggunaannya ... 31
4 Data Identifikasi Rajungan di Tingkat Mini Plant ... 32
5 Pengolahan Rajungan Berdasarkan Klasifikasi Ukuran ... 33
6 Pengolahan Data Berdasarkan Klasifikasi Jenis Kelamin ... 33
7 Jumlah Penduduk Kabupaten Bekasi ... 40
8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Bekasi .. 41
9 Jumlah Nelayan Perikanan Tangkap di Jawa Barat ... 42
10 Jumlah Perahu per Kecamatan di Kabupaten Bekasi ... 43
11 Jumlah Alat Tangkap ... 44
12 Persentase Jumlah Rajungan di Tingkat Nelayan ... 47
13 Persentase Jumlah Rajungan di Mini Plant Abdul Hamid ... 47
14 Grade Daging Jumbo ... 51
15 Grade Daging Rajungan Claw Meat ... 53
16 Hasil Pengolahan Rajungan Berdasarkan Klasifikasi Ukuran... 55
17 Hasil Pengolahan Rajungan Berdasarkan Klasifikasi Jenis Kelamin 55 18 Tingkat Produktifitas Tenaga Kerja Mini Plant Bapak Maulana .... 57
19 Tingkat Produktifitas Tenaga Kerja Mini Plant Bapak A.Hamid ... 57
20 Produksi Mini Plant Pengolahan Rajungan Sebelum Kebijakan .... 58
21 Produksi Mini Plant Pengolahan Rajungan Setelah Kebijakan ... 59
22 Hasil Perhitungan CBA Mini Plant Bapak Maulana ... 61
ix DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1 Perbedaan Rajungan Jantan dengan Betina ... 13
2 Rajungan (Portunus pelagicus) ... 13
3 Rajungan Bintang (Portunus sanguinolentus) ... 14
4 Rajungan Karang (Charybdis feriatus) ... 14
5 Alur Kerangka Operasional ... 27
6 Hubungan antara Lebar Karapas dengan Berat Rajungan Jantan .... 48
7 Hubungan antara Lebar Karapas dengan Berat Rajungan Betina ... 48
8 Hubungan antara Lebar Karapas dengan Berat Rajungan Betina Bertelur ... 49
9 Tahapan Pengolahan Rajungan... 50
10 Daging Rajungan Grade Jumbo ... 50
11 Posisi Daging Jumbo di dalam tubuh rajungan ... 51
12 Daging rajungan Grade Special... 51
13 Posisi Daging Special di dalam Tubuh Rajungan ... 52
14 Daging Rajungan Super Lump ... 52
15 Posisi Daging Super Lump di dalam Tubuh Rajungan ... 52
16 Daging Rajungan Grade Claw Meat ... 53
17 Posisi Daging Claw Meat di dalam Tubuh Rajungan ... 53
x DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1 Tabel Pengolahan Data Cash Flow... 71 2 Peta Kabupaten Bekasi ... 72 3 Data Identifikasi Rajungan di Tingkat Nelayan ... 73 4 Data Identifikasi Rajungan di Mini Plant Skala Rumah Tangga .... 77 5 Data Cash Flow Mini Plant ... 87 6 Dokumentasi Mini Plant ... 89 7 Dokumentasi Percobaan ... 90 8 Jumlah Produksi Rajungan Sebelum Kebijakan Pada
Mini Plant Bapak Maulana ... 91 9 Jumlah Produksi Rajungan Setelah Kebijakan Pada
Mini Plant Bapak Maulana ... 92 10 Jumlah Produksi Rajungan Pada Mini Plant Bapak Abdul Hamid . 93 11 Hasil Perhitungan CBA Sebelum Penerapan Kebijakan Pada
Mini Plant Bapak Maulana ... 94 12 Hasil Perhitungan CBA Setelah Penerapan KebijakanPada
Mini Plant Bapak Maulana ... 96 13 Hasil Perhitungan CBA Pada Mini Plant Bapak Abdul Hamid ... 98 14 Surat Pemberitahuan Rencana Penerapan Kebijakan
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumberdaya perikanan laut Indonesia sangat berperan penting bagi sebagian besar masyarakatnya karena dari sumberdaya perikanan tersebut masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat mencari keuntungan dengan menjual kembali hasil tangkapannya. Banyaknya kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan dilakukan oleh masyarakat harus dikontrol dengan kebijakan dan pengelolaan sumberdaya perikanan yang baik agar populasi keanekaragaman perikanan laut tetap terjaga dan lestari.
Keanekaragaman jenis perikanan laut yang dimiliki Indonesia sangat banyak, mulai dari berbagai jenis ikan, udang, kerang, hingga hewan laut berkulit keras lainnya seperti kepiting dan rajungan. Rajungan (blue swimming crab) merupakan salah satu potensi sumberdaya laut yang memiliki protein dan manfaat tinggi. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BBPMHP)pada tahun 1995, menyatakan hasil penelitiannya bahwa dalam daging rajungan jantan terkandung 16,85 persen protein dan rajungan betina terkandung 16,17 persen protein. Rajungan banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan manusia dan salah satu sumber protein hewani. Rajungan biasanya tersedia dalam bentuk segar, beku, dan bentuk olahan daging rajungan dalam kemasan/kaleng yang kaya akan protein.
Rajungan disisi ekonomi merupakan komoditas perikanan yang sangat menjanjikan. Berdasarkan data Departemen Kelautan dan Perikanan tahun 2007, permintaan rajungan dan kepiting dari pengusaha restoran seafoodAmerika Serikat mencapai 450 ton tiap bulannya. KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) mencatat, nilai ekspor kepiting dan rajungan selama Januari-Agustus 2011 ini sudah mencapai US$ 172 juta. Ekspor kepiting dan rajungan itu terbagi dalam tiga jenis, yaitu kalengan, beku, dan segar. Sepanjang periode tahun 2011, ekspor kepiting dan rajungan kalengan mencapai 7.164 ton senilai US$ 119,4 juta. Sedangkan ekspor kepiting dan rajungan beku mencapai 2.425 ton senilai US$
2 31,3 juta, dan kepiting segar sebanyak enam ribu ton senilai US$ 21,2 juta1. Namun, Permintaan rajungan dari pengusaha restoran seafoodmaupun pengolah daging rajungan domestik juga tidak kalah besarnya. Hal ini menyebabkan semakin meningkatnya permintaan rajungan tiap tahunnya.
Indonesia merupakan negara pengekspor rajungan terbesarke berbagai negara khususnya Amerika. Setiap tahunnya produksi daging rajungan Indonesia yang masuk ke pasaran Amerika mencapai empat juta ton. Tak kurang dari 90 persen rajungan Indonesia masuk ke Amerika Serikat. Umumnya diekspor dalam produk pasteurized crab meat, frozen crab meat, dan crab cake2. Selain ekspor ke Amerika, Indonesia juga mengekspor rajungan ke Singapura, Malaysia, China, Jepang, dan beberapa negara di Eropa. Rajungan yang diekspor merupakan rajungan yang sudah dikuliti ataupun sudah diolah. Kualitas daging rajungan yang diekspor merupakan kualitas terbaik agar mampu bersaing dengan negara pengekspor rajungan lainnya, seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam. Terdapat banyak perusahaan pengelolaan rajungan di Indonesia, bahkan beberapa perusahaan besar di bidang pengelolaan rajungan membentuk asosiasi yang bernama Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI). Perusahaanpendiri APRI diantaranyaPT. Phillips Seafoods Indonesia, PT. Mina Global Mandiri, PT. Kemila Bintang Timur, PT. Windika Utama, PT. Kelola Mina Laut, PT. Tonga Tiur Putra.
Disisi lain, permintaan daging rajungan di pasar domestik juga terus meningkat. Walaupun rajungan yang diperdagangkan untuk kebutuhan domestik bukan merupakan daging rajungan dengan kualitas terbaik, namun peminat daging hewan laut ini terus meningkat. Permintaan rajungan domestik berasal dari perusahaanpengolahan rajungan skalamini plant, restoran seafood, dan konsumen rumah tangga yang memiliki kriteria khusus untuk memenuhi kebutuhannya.
Pengolahan rajungan skalamini plantmerupakan sebuah usaha skala kecil-menengah yang memanfaatkan rajungan sebagai input produksi utamanya. Input rajungan darimini plant sendiri didapat langsung dari nelayan seluruh Indonesia
1.HandoyoAW. 2011. diakses dari http://industri.kontan.co.id/v2/read/industri/82576/ Kepiting-dan-Rajungan-semakin-diminati-di-pasar-internasional-. pada tanggal 2 Desember 2011.
2.Yulianto T. 2008. Ketika Si Capit Biru Terjepit Krisis. diakses dari http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=10&aid=1569. pada tanggal 30 November 2011.
3 karena jumlah rajungan yang dibutuhkan sangat banyak dan tentunya dengan harga yang murah untuk mengurangi biaya produksi. Pengolahan rajungan skala mini plant memilikibeberapa tahap pengolahan.Tahapan pengolahan rajungan skala mini plant yaitu penerimaan rajungan mentah dari nelayan, pencucian, pengukusan, hingga pengupasan. Semua tahapan tersebut memerlukan pekerja, apalagi untuk tahapan pengupasan. Pengupasan rajungan memerlukan teknik khusus yang hanya bisa dilakukan pekerja-pekerja terampil dan terlatih. Para pemasok umumnya memiliki sentra pengupasan dengan para pekerja yang mereka gaji. Diperkirakan industri pengolahan daging rajungan skala mini plantdi Indonesia menyerap ribuan tenaga kerja dan nelayan.
Hasil produksi mini plant ini kemudian digunakan untuk menyuplai kebutuhandaging rajunganrestoran sea food danperusahaan pengolahandaging rajungan skala besar (plant). Restoran sea food memanfaatkan hasil produksi mini plant ini sebagai bahan baku untuk produk jadi, yaitu membuat makanan laut yang akan dihidangkan untuk pelanggannya. Sedangkan perusahaan pengolahan rajungan skala besar menerima hasil produksi mini plant yang sudah dikupas untuk diolah kembali menjadi produk setengah jadi seperti daging rajungan kemasan kaleng atau bahan olahan makanan yang akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan rajungan dari negara lain.
Nelayan menjual rajungan hasil tangkapan mereka ke penampung atau pedagang yang sudah menjadi langganan mereka dengan harga yang bervariasi. Harga rajungan terbilang cukup mahal, kini satu kilogram kepiting laut ini dijual dengan harga Rp 18.000 - Rp 21.000 untuk rajungan yang berukuran kecil,sedangkan rajungan berukuran besar harganya bisa mencapai Rp 30.000 sampai Rp 33.000 per kilogram3.Namun, tingginya harga tidak mengurangi jumlah permintaan akan rajungan karena rasa rajungan yang lezat dan banyak mengandung protein. Hal ini membuat nelayan terus mengeksploitasi rajungan sebagai kekayaan alam tanpa melihat keseimbangan ketersediannya di alam demi mendapatkan keuntungan pribadi yang lebih banyak.
Melihat adanya peluang mendapatkan untung besar dari penangkapan rajungan, banyak nelayan menambah waktu melaut (effort) merekadan bahkan
3.Ediyusmanto. 2011. Rajungan Andalan Desa Kandis. diakses dari http://bangka.tribunnews.com/ 2011/07/18/rajungan-andalan-desa-kandis. Padatanggal 29 November 2011.
4 menggunakan jaring dengan ukuran celah/pori yang lebih kecil demi mendapatkan rajungan yang lebih banyak, walaupun ukuran hasil tangkapan lebih kecil. Kondisi ini sangat membahayakan stok rajungan karena penangkapan yang berlebihan tanpa melihat ukuran produktif optimal rajungan dapatmemicu terjadinya penangkapan yang berlebihan padapopulasi rajungan.
Akibatnya, degradasi kualitas dan kuantitas rajungan di laut terus terjadi. Kondisi tersebut dapat dilihat dari potensi rajungan di Pantai Utara Jawa yang terus menurun baik dari ukuran rajungan yang semakin mengecil maupun dari jumlahnya yang semakin sedikit. Selain itu, untukmenangkap rajungankini membutuhkan waktu yang lebih lama karena telah terjadi penurunan jumlah rajungan di tengah laut. Dampak dari degradasi sumberdaya rajungan tersebut mengakibatkan penurunan pada produksi rajungan yang bergerak kearah kelangkaan pada rajungan.
Kecenderungan peningkatan penangkapan rajungan yang melebihi tangkapan lestarinya dapat diantisipasi dengan kebijakan yang membatasi penangkapan rajungan berdasarkan ukuran optimumnya. Kebijakan ini mengatur batasan ukuran minimal rajungan yang boleh ditangkap oleh nelayan sehingga rajungan yang masih produktif dapat terus berkembang biak untuk menjaga kelestariannya. Namun, penerapan kebijakan masih belum optimal. Semua itu dapat dilihat dari masih banyaknya nelayan yang menangkap rajungan kecil untuk dijual. Penangkapan rajungan kecil oleh nelayan dikarenakan masih banyaknya permintaan rajungan yang tak terkendali oleh pengusaha pengolahan rajungan skala rumah tangga ataumini plant. Sehingga untuk mengoptimalisasikan kebijakan tersebut, perlu dibuatnya kebijakan pembatasan ukuran rajungan pada pengolahanrajungan di tingkat mini plant.
Kebijakan minimum legal sizeinput production di tingkat pengolahan rajungan skala mini plantmerupakan suatu cara untuk mengontrol permintaan sumberdaya perikanan rajungan yang berkelanjutan. Kebijakan ini berupa pembatasan ukuran pemanfaatan rajungan yang lestari. Dimana perusahaan pengolahan rajungan skala mini planttidak boleh menggunakan rajungan dengan ukuran kurang dari delapan sentimetersebagai input produksinyakarena pada ukuran delapan sentimeter, sekurang-kurangnya rajungan telah bertelur minimal
5 satu kali sehingga kesinambungan (sustainability) sumberdaya rajungan dapat terjaga. Penerapan kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi suplai rajungan dengan ukuran kurang dari delapan sentimeter dari nelayan sehingga nelayan akan menangkap rajungan dengan ukuran lebih dari delapan sentimeter dan stok rajungan akan mengarah pada kestabilan stok.
1.2 Perumusan Masalah
Rajungan merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas yang permintaanya semakin meningkat tiap tahunnya. Namun, saat ini kebutuhan terhadap rajungan masih mengandalkan dari hasil penangkapan di laut sehingga akan mempengaruhi jumlah populasinya di alam. Oleh karena itu pemanfaatan dari sumberdaya laut ini harus seimbang dengan produktifitasnya atau lestari.
Peningkatan permintaan rajungan akan berdampak pada penangkapan rajungan secara berlebihan dan tidak lestari yang membuat stok hewan laut ini terus mengalami degradasi. Hal tersebut terlihat dari upaya nelayan dalam menangkap rajungan yang sebelumnya hanya membutuhkan lima menit untuk mendapatkan rajungan di laut, sekarang membutuhkan lebih dari sepuluh sampai dua puluh menit. Kedalaman laut untuk mencari rajungan juga semakin sulit yaitu dari lima menjadi dua puluh meter. Hasil yang didapat nelayan pun semakin sedikit jumlahnya dan kecil ukurannya.
Permintaan daging rajungan terbesar berasal dari luar Indonesia atau ekspor. Negara pengimpor daging rajungan Indonesia membutuhkan daging rajungan olahan dalam jumlah yang sangat besar. Daging rajungan olahan yang diekspor merupakan hasil produksi dari perusahaan pengolahan daging rajungan skala besar di Indonesia. Namun, daging rajungan yang sudah dikupas sebelum diolah, dipasok dulu oleh perusahan pengupasan daging rajungan skala mini plant yang rajungan mentahnya disuplai langsung dari para nelayan ataupun pedagang (bakul).
Permintaan rajungan mentah dalam skala besaroleh mini plant tersebut membuat nelayan mengeksplotasi rajungan secara berlebihan tanpa memperhatikan ukuran dan tidak melestarikan rajungan, Seharusnya rajungan
6 kecil atau yang bertelur dilepas kembai ke laut jika tertangkap untuk menjaga kelestariannya. Namun, nelayan tetap menangkapnya untuk memenuhi kebutuhan mini plant dalam memproduksi daging rajungan kupasan.
Perusahaan pengolahan rajungan skala mini plant merupakan konsumen domestik yang memiliki jumlah permintaan rajungan mentah terbesar. Penurunan stok rajungan yang menyebabkan sulitnya mendapatkan rajungan besar membuat perusahaan pengolahan rajungan mini plant menerima rajungan kecil sebagai input produksi agar tidak terjadi penurunan produksi pada usahanya. Selain itu, untuk mempertahankan produksi, mini plant juga harus menambah jumlah input rajungan karena semakin mengecilnya ukuran rajungan yang diperoleh nelayan. Siklus proses pengolahan daging rajungan tersebut membuat produktifitas populasi rajungan terganggu karena semakin sedikitnya rajungan yang produktif hidup bebas di laut.
Secara biologi, telah terjadi degradasi populasi rajungan dimana seharusnya rajungan kecil diberi kesempatan untuk berkembang biak, tetapi pada kenyataannya masih terjadi penangkapan rajungan kecil. Kesempatan rajungan untuk regenerasi semakin menurun. Padahal, menurut pelatih budidaya rajungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bangka, Sujono, mengatakan, umumnya untuk ukuran induk 250 gram mempunyai jumlah telur mencapai 800.000 butir dengan potensi menetas relatif kecil yaitu hanya sepuluh persen4. Selain itu rajungan juga bisa bertelur dalam beberapa kali, tetapi bila rajungan telah berukuran minimal delapan sentimeter rajungan tersebut bisa bertelurminimal satu kali.
Berdasarkan uraian tersebut perlu dibuat kebijakan untuk membatasi ukuran minimumrajungan pada produksi pengolahan rajungan di tingkat mini plantagar terciptanya kestabilan stok rajungan di masa yang akan datang. Stok rajungan yang terjaga akan membuat input produksi pengolahan rajunganyang stabil dan juga akan menaikan keuntungan bagi mini plant. Melihat permasalahan diatas maka disusun pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana ukuran rajungan yang diolah oleh mini plant di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi ?
4.Harian Umum PELITA. 2012. LIPI Teliti Budidaya Rajungan di Bangka. diakses dari http://www.pelita.or.id/baca.php?id=96523. Pada tanggal 27 Februari 2012.
7 2. Bagaimana tingkat efisiensi rajungan yang diolah pada mini plant pengolahan
rajungan?
3. Bagaimana tingkat profitabilitymini plant pengolahan rajungan jika menggunakan input produksi rajungan all size?
4. Bagaimana tingkat profitabilitymini plant pengolahan rajungan jika menggunakan input produksi rajungan dengan ukuran lebih dari delapan sentimeter (penerapan kebijakan minimum legal size input production) ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah 1. Mengetahui ukuran rajungan yang diolah oleh mini plant di Kecamatan
Tarumajaya Kabupaten Bekasi.
2. Menganalisis tingkat efisiensi rajungan yang diolah.
3. Menganalisistingkat profitabilitymini plant pengolahan rajungan jika menggunakan input produksi rajungan all size.
4. Menganalisis tingkat profitabilitymini plantbila diterapkannya kebijakan minimum legal size input productionpada mini plant pengolahan rajungan tersebut.
1.4 Ruang Lingkup
Mengingat begitu luasnya ruang lingkup penelitian ini, maka penulis membatasi permasalahan tersebut pada :
1. Penelitian ini menggunakan Cost Benefit Analysis (CBA) dengan instrument NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), dan PP (Payback Period).
2. Mengingat begitu banyaknya jumlah pengolahan rajungan skala mini plant di Indonesia, maka penulis dalam peneltian ini hanya memfokuskan pada mini plantdi Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi.
3. Peneliti membandingkan tingkat profitabilitymini plantpengolahan rajungan sebelum diberlakukan kebijakan pembatasan ukuran minimal rajunganpada
8 input produksinya dan sesudah diberlakukannya kebijakan tersebut dengan menggunakan pendekatan CBA.
4. Data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder. Data primer didapat denganmewawancarai pihak perusahaan pengolahan rajunganmini plant, pengukuran sampel, dan beberapa percobaan. Sedangkan data sekunder didapat dari buku, catatan produksi mini plant, maupun internet.
5. Peneliti menggunakan alat bantu software excel untuk mengolah data statistik agar dapat dianalisa sehingga dapat menyajikan suatu informasi pada penelitian ini.
6. Harga yang digunakan merupakan harga pasar domestik atau wilayah Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi.
1.5 Kegunaan Penelitian 1. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari sehingga bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan penulis.
2. Bagi Konsumen Rajungan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran atau informasi mengenai pemanfaatan rajungan secara lestari sehingga rajungan dapat terus dimanfaatkan tanpa terjadinya kelangkaan di masa yang akan datang.
3. Bagi Pengusaha Pengolahan Rajungan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif terbaik dalam pemanfaatan rajungan secara optimal sehingga keuntungan yang didapat pengusaha pengolahan rajungan pun menjadi optimal.
4. Bagi Pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada pemerintah tentang bagaimana pemanfaatan rajungan secara lestari untuk menyusun kebijakan pemanfaatan sumberdaya perikanan khususnya rajungan secara lestari.
9 5. Bagi Penelitian Berikutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan acuan atau informasi bagi penelitian selanjutnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
10 Secara umum, Meriam-Webster Dictionary mendefinisikan perikanan sebagai kegiatan, industri, atau musim pemanenan ikan atau hewan laut lainnya. Definisi yang hampir serupa juga ditemukan di Encyclopedia Brittanica yang mendefinisikan perikanan sebagai pemanenan ikan, kerang-kerangan (shellfish) dan mamalia laut. Sementara Hempel dan Pauly (2004) mendefinisikan perikanan sebagai kegiatan eksploitasi sumberdaya hayati dari laut. Definisi di atas membatasi pada perikanan laut karena perikanan memang semula berasal dari kegiatan hunting (berburu) yang harus dibedakan dari kegiatan farming seperti budidaya. Dalam artian yang lebih luas, perikanan tidak saja diartikan aktifitas menangkap ikan (termasuk hewan invertebrata lainya seperti finfish atau ikan bersirip) namun juga termasuk kegiatan mengumpulkan kerang-kerangan, rumput laut, dan sumberdaya hayati lannya dalam suatu wilayah geografis tertentu.
Definisi yang lebih luas diberikan oleh Lackey (2005) yang mengartikan perikanan sebagai sesuatu sistem yang terdiri dari tiga komponen yakni biota perairan, habitat biota, dan manusia sebagai pengguna sumberdaya tersebut. Setiap komponen akan mempengaruhi performa perikanan. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 Republik Indonesia tentang perikanan yang diubah dalam UU No. 45/2009 mendefinisikan perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan (Fauzi A,2010).
Sumber daya perikanan dikelompokan kedalam empat kelompokberdasarkan beberapa pemanfaatan sumberdaya hayati sebagai mana terlihat padaTabel 1. Kolom satu pada Tabel 1 berikut ini menggambarkan tipologipemanfaatan berdasarkan proses eksploitasi, mobilitas sumber daya, strukturkepemilikan dan klasifikasi sektor atau kelompok kegiatan (Fauzi,2010).
Tabel 1. Matriks Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Proses Eksploitasi Hunting (berburu) Gathering (mengumpulkan) Husbandry (farming) Mobilitas Fugitive (bergerak) Sedentary Contained
11
Sumberdaya (menetap) (dikendalikan)
Struktur Hak
Kepemilikan Common property Private property Klasifikasi
Sektor Fishing Aquaculture
Sumber : Ekonomi Perikanan (Fauzi, 2010)
2.2 Rajungan
Rajungan (Portunus sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Pada umumnya rajungan berbeda dengan kepiting (Scyla sereta). Rajungan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya, dan duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing dari duri akhir ada kepiting. Rajungan bila tidak berada dilingkungan air laut, hanya tahan beberapa jam saja. (Kasry, 1996).
Rajungan hidup pada habitat yang beraneka ragam, yaitu perairan pantai dengan dasar pasir atau pasir berlumpur, pasir putih, pasir berlumpur dengan rumput laut pada pulau-pulau karang dan laut terbuka. Species rajungan juga ditemukan pada daerah berbakau, ditambak-tambak air payau yang berdekatan dengan laut. Daerah penyebarannya secara ruang dapat ditemukan mulai di permukaan, kedalaman satu meter bahkan mencapai kedalaman perairan 65 m (Moosa 1980). Rajungan memijah sepanjang tahun dan mengalami pergantian kulit sebanyak 20 kali sejak stadium larva sampai dewasa. Rajungan yang telah dewasa biasanya mempunyai panjang karapas antara 3,75 – 5,9 cm dan lebar karapas sekitar 11 cm (Toro 1981). Rajungan dewasa hidup di dasar perairan, sedangkan stadium larva dan megalopa berenang-renang terbawa arus dan hidup sebagai plankton (Nontji 1987).
Rajungan betina dewasa memilik kencenderungan untuk bergerak ke perairan yang lebih dalam. Rajungan betina setelah melakukan pemijahan kemudian bergerak ke perairan yang lebih dalam untuk menghindari pemangsaan dan untuk bertelur, sedangkan rajungan jantan setelah pemijahan biasanya tetap berada di perairan tersebut atau bergerak ke perairan yang lebih dangkal (Atmadja 1978).
12 2.2.1 Deskripsi dan Klasifikasi Rajungan
Klasifiasi rajungan menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : malacostraca
Ordo : Eucaridae
Sub Ordo : Decapoda
Famili : Portunidae
Genus : Portunus
Spesies : Portunus pelagicus
Rajungan memiliki warna karapas lebih indah daripada kepiting dan berbeda diantara jenis kelaminnya. Rajungan jantan memiliki dasar biru dengan bercak-bercak putih, sedangkan rajungan betina memiliki warna dasar hijau dengan bercak-bercak putih. Rajungan mempunyai lima pasang kaki jalan, yang pertama ukurannya cukup besar dan disebut capit, yang berfungsi untuk memegang dan memasukan makanan ke dalam mulutnya. Sepasang kaki terakhir mengalami modifikasi menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti dayung. Oleh sebab itu rajungan digolongkan ke dalam kepiting renang (swimming crab). Sedangkan berdasarkan tempat hidupnya, rajungan umumnya hidup di air laut dan banyak terdapat di pantai dangkal dan di dasar perairan (Nontji, 1986).
13
Sumber : http://mainsesukahatimu.blogspot.com/2011/04/tiram-tawar.html
Gambar 1. Perbedaan Rajungan Jantan dengan Betina 2.2.2 Jenis-jenis Rajungan
Jenis rajungan yang umum dimakan (edible crab) ialah jenis-jenis yang termasuk cukup besar yaitu sub family Portinidae dan Podopthalnae. Jenis-jenis lainnya walaupun dapat dimakan tetapi karena berukuran kecil dan tidak memiliki daging yang berarti, menyebabkan tidak umum untuk dimakan. Beberapa jenis rajungan lainnya yang biasa dimakan, yakni diantaranya rajungan (Portunus pelagicus), rajungan bintang (Portunus sanguinolentus, dan rajungan karang (Charybdis feriatus) (Nontji, 1993, dalam Hermanto, 2004).
Rajungan (Portunus pelagicus)
Rajungan (Portunus sp.) yang paling popular sebagai bahan makanan dan mempunyai harga yang cukup mahal adalah Portunus pelagicus. Panjang karapas hewan ini bisa mencapai 18 cm, sapitnya memanjang, kokoh, dan berduri-duri. Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan mempunyai sapit yang lebih panjang dari rajungan betina.
Sumber : http://www.flickr.com/photos/crabhunter/photostream.html
14 Rajungan Bintang (Portunus sanguinolentus)
Warna dasar pada tubuhnya hijau kotor dibagian punggung dan pada bagian belakang terdapat tiga bulatan merah coklat berjajar melintang. Jenis ini jarang ditemukan di pasaran. Hidup di laut terbuka dari tepi pantai sampai kedalaman lebih dari 30 meter, sering tertangkap bersama ikan dasar laut di perairan pantai.
Sumber : http://www.flickr.com/photos/crabhunter/photostream.html
Gambar 3. Rajungan Bintang (Portunus sanguinolentus)
Rajungan Karang (Charybdis feriatus)
Rajungan ini berduri samping enam buah pada tiap dua sisi. Pada bagian depan punggungnya terdapat tanda tambah (+), mempunyai warna yang khas, coklat kemerah-merahan. Rajungan ini jarang dijumpai dan kadang tertangkap dalam jaring besar.
Sumber : http://www.flickr.com/photos/crabhunter/photostream.html
15 2.2.3 Habitat dan Penyebarannya
Rajungan merupakan hewan yang aktif. Ketika dalam keadaan tidak aktif, rajungan akan membenamkan diri pada dasar perairan sampai kedalaman 35 meter. Rajungan melakukan pergerakan atau migrasi ke perairan yang lebih dalam sesuai umurnya untuk menyesuaikan diri pada suhu dan salinitas perairan (Nontji, 1993).
Menurut Nontji (1993), rajungan hidup pada habitat yang beraneka ragam seperti pantai dengan pasir, pasir lumpur dan juga laut terbuka. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam dalam keadaan normal rajungan diam di dasar perairan sampai kedalaman 65 meter, tetapi sesekali dapat juga terlihat berada dekat permukaan laut.
2.2.4 Kandungan Gizi dan Manfaat
Rajungan seperti juga hasil perikanan yang lain merupakan bahan pangan yang cepat rusak (ferishable). Rendemen total daging rajungan atau kepiting dari hasil pengolahan adalah sebesar 25 - 30 persen dari berat tubuh dan besarnya rendemen dipengaruhi juga oleh kesegaran bahan baku serta cara pengambilan dagingnya (BBPMHP, 1995).
Daging kepiting dan rajungan memiliki nilai gizi yang tinggi. Berdasarkan kandungan lemaknya, hasil perikanan (termasuk kepiting dan rajungan) dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu golongan kandungan lemak rendah (kurang dari dua sampai lima persen), golongan berlemak medium (dua sampai lima persen) dan golongan berlemak tinggi dengan kandungan lemak antara enam sampai sepuluh persen. Rajungan (swimming crab), oyster, udang, ikan mas, ekor kuning, lemuru, dan salmon termasuk golongan berlemak medium (sedang) (Winarno, 1993). Komponen gizi daging rajungan dipengaruhi oleh musim, ukuran rajungan, kematangan gonad, suhu, dan ketersediaan bahan makanan (Sudhakar.et al, 2009).
Komposisi proksimat daging kepiting dan rajungan antara jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 2. Data tersebut menunjukan bahwa kandungan protein dan lemak daging rajungan lebih tinggi dari pada daging kepiting.
16 Tabel 2. Hasil Analisa Kimia Daging Kepiting dan Rajungan
Jenis Komoditi Protein (%) Lemak (%) Air (%) Abu (%) Kepiting (Jantan) 11,45 0,04 80,68 2,45 Kepiting (Betina) 11,90 0,28 82,85 1,08 Rajungan (Jantan) 16,85 0,10 78,78 2,04 Rajungan (Betina) 16,17 0,35 81,27 1,82
Sumber : BBPMHP (1995)
Rajungan banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan bagi manusia dan sebagai salah satu sumber protein hewani. Rajungan biasanya tersedia dalam bentuk segar, beku, dan bentuk olahan daging rajungan dalam kaleng yang kaya akan protein. Tangko dan Rangka (2009) menyatakan bahwa cangkang dan kepala rajungan dapat dibuat kitosan yang bisa berfungsi sebagai bahan pengawet.
2.3 Tangkap Lebih (Overfishing)
Menurut Fauzi (2010), overfishing pada hakikatnya adalah penangkapan ikan yang melebihi kapasitas stok (sumberdaya), sehingga kemampuan stok untuk memproduksi pada tingkat Maximum Sustainable Yield (MSY) menurun. Penggunaan poin referensi MSY ini memang tidak bersifat mutlak karena bisa juga digunakan poin referensi lainnya seperti MEY atau poin referensi yang disepakati pengelola perikanan lainnya. Memang belakangan banyak perdebatan mengenai poin referensi ini sehingga pengertian overfishing pun kemudian secara lebih rinci dipilah lagi menjadi overfishing secara biologi (biological overfishing) dan overfishing secara ekonomi (economic overfishing).
Tangkap lebih secara ekonomi atau economic overfishing pada hakikatnya adalah situasi dimana perikanan yang semestinya mampu menghasilkan rente ekonomi yang positif, namun ternyata menghasilkan rente ekonomi yang nihil oleh karena pemanfaatan input (effort) yang berlebihan (Fauzi, 2010).
2.4 Kapasitas Lebih (Overcapacity)
Masalah perikanan lainnya yang cukup serius adalah adanya fenomena kapasitas lebih atau overcapacity. Hal ini terjadi karena investasi yang tidak
17 terkendali dalam perikanan serta sifat dari “open access” dalam pengelolaan perikanan. Pascoe dan Greboval (2003) lebih lanjut melihat beberapa pemicuterjadinya kapasitas lebih ini antara lain (Fauzi,2010):
1. Harga ikan yang relatif inelastis dianggap dapat mengkompensasi penurunan sumberdaya.
2. Dampak dari penambahan wilayah laut dan kebijakan nasional perikanan serta subsidi besar-besaran pada sektor perikanan.
3. Kapasitas perikanan yang relatif mobile yang menyebabkan ekses kapital bisa dipindahkan dari satu armada ke armada lainnya.
4. Perubahan pola industri perikanan yang cenderung global dan menuntut industri bersifat kompetitif dan capital intensive.
5. Kegagalan kebijakan perikanan secara umum.
Dalam perspektif ekonomi, overcapacity merupakan pemborosan sumberdaya karena input yang digunakan tidak semestinya untuk menangkap ikan pada produksi tertentu. Sehingga keuntungan tidak maksimum, biaya juga tidak minimum dan masyarakat secara umum tidak memperoleh manfaat maksimal dari sumberdaya ikan.
2.5 Aspek-aspek Dalam Mengevaluasi Proyek
Gittinger (1986) menyatakan bahwa ada enam aspek dalam mengevaluasi atau menilai suatu proyek/usaha, yaitu aspek teknis, aspek institusional-oganisasi-manajerial, aspek pasar, aspek finansial, aspek sosial, dan aspek ekonomi. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), aspek studi kelayakan terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek keuangan, aspek manajemen, dan aspek ekonomi. Semua aspek tersebut harus dipertimbangkan secara bersama-sama untuk menentukan manfaat-manfaat yang diperoleh dari suatu investasi.
Secara umum aspek-aspek tersebut adalah
1. Aspek Teknis
Aspek teknis merupakan aspek yang berhubungan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan operasi setelah proyek tersebut selesai dibangun (Husnan dan Suwarsono, 2000). Aspek tersebut menyangkut kaitan
18 antara faktor produksi input dan hasil produksi (output) yang akan menguji hubungan teknis dalam suatu proyek sehingga dapat diidentifikasi perbedaan-perbedaan yang ada dalam informasi yang harus dipenuhi baik sebelum maupun sesudah perencanaan proyek atau pada tahap awal pelaksanaan proyek.
2. Aspek Pasar
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), analisis terhadap aspek pasar ditujukan untuk mendapat gambaran mengenai jumlah pasar potensial yang tersedia dan jumlah pangsa pasar yang dapat diserap proyek tersebut di masa yang akan datang dan strategi pemasaran yang digunakan untuk mencapai pangsa pasar yang telah ditetapkan.
Analisis aspek pasar terdiri dari rencana pemasaran output yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan proyek (Gittinger, 1986).
3. Aspek Institusional-Organisasi-Manajerial
Analisis terhadap aspek manajemen dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan staf dalam melaksanakan proyek. Dalam aspek manajemen perlu dikaji struktur organisasi yang sesuai dengan proyek yang direncanakan sehingga diketahui jumlah kebutuhan, kualifikasi, dan deskripsi tugas individu untuk mengelola proyek (Kadariah et al, 1999)
4. Aspek Sosial
Aspek sosial yaitu aspek yang berkenaan dengan implikasi sosial yang lebih luas dari investasi yang diusulkan, seperti penyediaan, pengaruh terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan pemerataan pendapatan.
5. Aspek Ekonomi
Aspek ekonomi berkenaan dengan kontribusi proyek terhadap pembangunan ekonomi secara keseluruhan dan apakah kontribusi tersebut cukup besar dalam menentukan pembangunan sumberdaya yang diperlukan.
19 6. Aspek Finansial
Analisis terhadap aspek finansial dilakukan untuk melihat apakah proyek tersebut mampu memenuhi kewajiban finansial ke dalam dan ke luar perusahaan serta dapat mendatangkan keuntungan yang layak bagi perusahaan atau pemiliknya (Husnan dan Suwarsono, 2000). Dalam aspek finansial ditentukan jumlah dan modal tetap serta modal awal kerja yang dibutuhkan, struktur permodalan, sumber pinjaman yang diharapkan, dan persyaratan serta kemampuan proyek memenuhi kewajiban finansial.
Analisis finansial dilakukan dengan tujuan untuk melihat suatu hasil kegiatan investasi. Analisis finansial merupakan analisis manfaat dan biaya yang berpusat pada hasil dari modal yang ditanamkan dalam proyek dan merupakan penerimaan langsung bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaannya. Analisis finansial penting artinya dalam memperhitungkan insentif bagi orang-orang yang terlibat langsung dalam menyukseskan proyek atau usaha tersebut (Kadariah et al, 1999). Dalam analisis finansial yang perlu diperhatikan adalah hasil dari modal saham (equity capital) yang ditanam dalam proyek/usaha.
Analisis finansial didasarkan pada keadaan sebenarnya dengan menggunakan data harga yang ditemuan di lapangan. Dengan mengetahui hasil analisis finansial, para pembuat keputusan dapat melihat apa yang terjadi pada proyek dalam keadaan sebenarnya dan para pembuat keputusan juga dapat segera melakukan penyesuaian apabila proyek berjalan menyimpang dari rencana semula. Salah satu cara untuk melihat kelayakan dari analisis finansial adalah dengan menggunakan metode cash flow analysis (Gittinger, 1986). Cash flowanalysis dilakukan setelah komponen-komponennya ditentukan dan diperoleh nilainya. Komponen tersebut dapat dikelompokan dalam dua bagian yaitu pengeluaran/biaya dan penghasilan/manfaat.
a. Teori Biaya dan Manfaat
Biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan, sedangkan manfaat adalah segala sesuatu yang dapat membantu tujuan (Gittinger, 1986). Dalam suatu analisis finansial, biaya yang umumnya digunakan adalah biaya
20 langsung yaitu biaya operasional, biaya investasi, dan biaya lainnya. Manfaat lebih berupa nilai produksi total, pinjaman, nilai sisa, dan pendapatan lainnya.
Analisis biaya dan manfaat menurut Gittinger (1986) adalah suatu analisis yang ditujukan untuk melihat besarnya biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat yang akan diterima pada suatu kegiatan ekonomi. Analisis ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan mengenai pengalokasian sumberdaya yang langka.
Pada dasarnya analisis biaya dan manfaat merupakan suatu cara untuk menghitung manfaat-manfaat yang akan diperlukan dan kerugian-kerugian yang harus ditanggung akibat dari suatu kegiatan ekonomi. Dalam analisis biaya dan manfaat juga dilakukan perhitungan terhadap biaya dan manfaat yang akan diterima oleh masyarakat dan juga individu. Analisis biaya dan manfaat yang ditujukan untuk melihat suatu proyek dari sudut pandang kelembagaan atau badan-badan yang mempunyai kepentingan langsung dalam proyek tersebut disebut analisis finansial.
Menurut Gittinger (1986), manfaat (benefit) adalah sesuatu yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang menggunakan sejumlah biaya. Menurut Kadariah (1999), manfaat dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Manfaat langsung (direct benefit) yang diperoleh dari adanya kenaikan nilai output, fisik, dan penurunan biaya.
2. Manfaat tidak langsung (indirect benefit) yang disebabkan oleh adanya proyek tersebut biasanya dirasakan oleh orang tertentu serta masyarakat berupa adanya efek ganda, skala ekonomi yang lebih besar, dan adanya dynamic secondary effect misalnya perubahan dalam produktifitas tenaga kerja.
3. Manfaat yang tidak dapat dilihat dan sulit dinilai dengan uang (intangible effect), misalnya perbaikan lingkungan atau pemandangan lingkungan.
b. Konsep Nilai Waktu Terhadap Uang (Time Value of Money)
Investasi suatu unit usaha berkaitan dengan usaha dalam jangka waktu yang panjang. Uang memiliki nilai waktu, yaitu uang dihargai secara berbeda dalam waktu yang berbeda. Konsep nilai waktu uang (time value of money) menyatakan bahwa uang yang diterima sekarang lebih berharga daripada uang
21 yang diterima dikemudian waktu atau nilai sekarang adalah lebih baik daripada nilai yang sama pada masa yang akan datang (Gittinger, 1986).
Waktu mempengaruhi nilai uang, sehingga untuk membandingkan nilai uang yang berbeda pada waktu penerimaan dan pengeluarannya perlu dilakukan penyamaan nilai tersebut dengan menggunakan tingkat diskonto (discount rate) yang bertujuan untuk melihat nilai uang di masa yang akan datang (future value) danpada saat sekarang (present value).
c. Umur Proyek atau Usaha
Menurut Kadariah et al (1999), dalam menentukan panjangnya umur proyek, terdapat beberapa pedoman yang dapat menjadi acuan, antara lain :
1. Sebagai ukuran umum dapat diambil suatu periode (jangka waktu) yang kira-kira sama dengan umur ekonomis dari suatu aset. Umur ekonomis suatu aset adalah jumlah tahun selama pemakaian aset tersebut dapat meminimumkan biaya tahunannya.
2. Penentuan umur proyek yang mempunyai nilai investasi yang sangat besar dapat menggunakan umur teknis. Dalam hal ini, untuk proyek-proyek tertentu, umur teknis dari unsur-unsur pokok investasi adalah lama, tetapi umur ekonomisnya dapat jauh lebih pendek karena obsolascene (ketinggalan zaman karena penemuan teknologi baru yang lebih efisien).
3. Untuk proyek-proyek yang umurnya lebih lama daripada 25 tahun dapat diambil 25 tahun, karena nilai-nilai sesudah itu, jika di-discount dengan discount rate sebesar 10% ke atas maka nilai present value-nya sudah sangat kecil.
2.6. Studi Analisis Kelayakan Investasi
Dalam kegiatan investasi keputusan untuk menanam modal adalah suatu tindakan yang mengandung konsekuensi yang sangat besar. Oleh karena itu untuk melihat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk kegiatan investasi perlu dilakukan analisis investasi.
Studi kelayakan investasi adalah penelitian tentang dapat atau tidaknya suatu proyek investasi dilaksanakan dengan berhasil (Husnan dan Suwarsono,
22 2000). Studi kelayakan investasi diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah, terutama bagi perekonomian nasional sehingga dapat menambah devisa dan perluasan kesempatan kerja.
Kriteria-kriteria yang digunakan dalam melakukan suatu evaluasi terhadap investasi proyek adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost (NET B/C), dan Payback Period.
1. Net Present Value (NPV)
Net Present Valuemerupakan manfaat bersih yang diterima selama umur proyek pada tingkat diskonto tertentu. Ukuran ini bertujuan utuk mengurutkan alternatif yang dipilih karena adanya kendala biaya modal, dimana proyek ini memberikan NPV biaya sama atau NPV penerimaan yang kurang lebih sama setiap tahun. Proyek dinyatakan layak atau bermanfaat jika NPV lebih besar dari nol. Jika NPV sama dengan nol, berarti biaya dapat dikembalikan persis sama besar oleh proyek. Pada kondisi ini proyek tidak untung dan tidak rugi. NPV lebih kecil dari nol, proyek tidak dapat menghasilkan senilai biaya yang dipergunakan dan ini berarti bahwa proyek tersebut tidak layak dilakukan (Gray.et al, 1992).
2. Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Returnmenunjukan rata-rata tingkat keuntungan internal tahunan perusahaan yang melaksanakan investasi dan dinyatakan dalam persen. IRR adalah tingkat suku bunga yang membuat nilai NPV proyek sama dengan nol.
Investasi dinyatakan layak jika IRR lebih besar dari tingkat diskonto (discount rate), sedangkan jika IRR lebih kecil dari tingkat diskonto maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Tingkat IRR mencerminkan tingkat bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumber dana yang digunakan. Suatu investasi dinyatakan layak jika nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku.
23 3. Net Benefit Cost (NET B/C)
Net Benefit Costadalah besarnya manfaat tambahan pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan. NET B/C adalah merupakan perbandingan antara nilai sekarang (present value) dari net benefit yang positif dengan net benefit yang negatif. Proyek dinyatakan layak bila nilai NET B/C lebih besar dari satu.
4. Payback Period
Payback Periodmerupakan penilaian kelayakan investasi dengan mengukur jangka waktu pengembalian investasi. Semakin cepat waktu pengembalian investasi, maka semakin baik proyek tersebut untuk dilaksanakan.
2.7 Penelitian Terdahulu
Nugraha (2011) menyatakan hasil analisis bioekonomi dilihat dari net benefit untuk usaha penangkapan menunjukan keuntungan rata-rata nelayan rajungan di Kabupaten Cirebon Rp -2.522,76 juta/tahun. Nilai net benefit aktual dibawah profit MEY yang dikhawatirkan terjadi overfishing secara ekonomi. Apabila diberlakukan regulasi minimum legal size rajungan lebih dari 8,5 cm, dimana share rata-rata rajungan dibawah ukuran legal mencapai lima persen. Hasil analisis tersebut menghasilkan batasan penangkapan rajungan berbagai rezim perikanan lestari, sole owner, dan open acces berturut-turut sebesar 2.425,41, 1.856,26 dan 2.423,05 ton/tahun. Sedangkan effort lestari, sole owner, dan open access sebesar 607.994, 313.471 dan 626.943 days fishing/tahun. Simulasi penerapan kebijakan minimum legal size secara grafik menunjukan terjadinya efisiensi dan efektifitas penggunaan input perikanan tangkap. Kebijakan dapat mendorong tingkat stok lebih stabil, mengefektifikan penggunaan effort yang menghasilkan keuntungan maksimal, produksi yang memberikan nilai rajungan besar yang stabil setiap tahunnya, serta profitability nelayan rajungan selama lima tahun kedepan yang stabil.
Rosidah et al (2004) menyatakan hasil penelitiannya bahwa produksi hasil tangkapan rajungan per tahun per orang/nelayan sebesar 6.300 kg dimana nelayan rajungan ini adalah nelayan Cirebon. Berdasarkan analisis ekonomi, penghasilan
24 per nelayan per tahun adalah 18 juta rupiah dengan nilai revenue per cost (R/C) rasio sebesar 1,54 yang berarti layak untuk dikembangkan.
25
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Teoritis
Tingginya tingkat permintaan rajungan membuat nelayan terus mengeksploitasi sumberdaya rajungan. Penangkapan rajungan secara besar-besaran dan terus-menerus membuat stok rajungan akan semakin menurun dan mengarah pada kelangkaan sumberdaya rajungan. Tingginya permintaan juga mendorong nelayan untuk menangkap lebih tanpa menghiraukan ukuran dan kondisi stok rajungan demi keuntungan yang akan diperoleh dari pengolah rajungan mini plant. Apabila kegiatan tersebut terus berlangsung maka akan berdampak pada pengurangan tingkat profitabilitymini plant dalam jangka panjang karena sulitnya mendapatkan input rajungan.
Penurunan stok rajungan dapat diatasi dengan kebijakan minimum legal size input production dimana permintaan rajungan dibatasi berdasarkan ukuran rajungan yang diminta atau diolah oleh produksi mini plant. Kebijakan tersebut dimaksudkan agar mini plant pengolahan rajungan tidak menerima rajungan dengan ukuran kecil sebagai input produksinya sehingga akan menurunkan penawaran nelayan terhadap rajungan kecil. Akibatnya, nelayan akan mengurangi atau tidak menangkap rajungan kecil yang akan membuat stok rajungan di laut meningkat dan juga meningkatkan tingkat profitabilitymini plant dalam jangka panjang.
Stok rajungan yang terjaga akan membuat input rajungan pada pengolahan rajungan menjadi stabil. Kestabilan input produksi ini berdampak langsung pada kestabilan biaya produksi dan juga peningkatan keuntungan pengolahan rajungan skalamini plant. Tingkat kenaikan keuntungan tersebutdapat dilihat dengan membandingkan hasil analisis kelayakan finansial mini plant, yaitu dengan menggunakan pendekatan Cost Benefit Analysis(CBA) saat sebelum dan sesudah penerapan kebijakan minimum legal size input production. Uji kelayakan finansial usaha pengolahan rajungan skala mini plant inidilakukan secara jangka panjang untuk melihat dampak kebijakan secara langsung.
26 3.2 Kerangka Operasional
Penelitian ini diawali dengan penelitian lapang untuk mendapatkan data primer dan data sekunder yang dibutuhkan dalam perhitungan analisis. Data primerdiperoleh melalui wawancara, pengamatan langsung dan percobaan. Sedangkan data sekunder didapatkan dari pihak mini plant pengolah daging rajungan di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. Data primer dan sekunder digunakan untuk menganalisis aspek finansial mini plant sehingga diperoleh NPV, IRR, Net B/C, dan payback perioddengan berbagai skenario kebijakan minimum legal size input production.Data primer khususnya digunakan untuk menghitung produksi rata-rata, harga, dan tingkat produktifitas tenaga kerja.
Skenario dalam perhitungan analisis finansial mini plant dibagi menjadi dua, yaitu analisis finansial mini plant aktual dan analisis finansial jika diterapkannya kebijakan minimum legal size input production pada produksi mini plant. Penentuan minimum legal size input production yaitu batas ukuran minimal rajungan didapat dari hasil percobaan tingkat efisien rajungan dalam pengolahan berdasarkan ukurannya. Kemudian disimulasikan selama mini plant tersebut telah melakukan produksi untuk melihat profitability yang telahdidiskontokan dengan suku bunga yang belaku tahun 2012.
Data tersebut kemudian diolah dengan program komputer excel dengan membuat simulasi model. Kerangka pemikiran dan operasionalyang penulis lakukan dapat disederhanakan menjadi bagan kerangka operasional berikut ini:
27 Wilayah Penelitian
Gambar 5. Alur Kerangka Oprasional
Pengendalian permintaan Tingginya Permintaan
Rajungan
Overfishing, overcapacity dan penurunan ukuran rajungan
yang tertangkap
Aspek Biologi Aspek Ekonomi
Penurunan Stok Rajungan Penurunan Tingkat Keuntungan (Profitability) Penerapan Kebijakan Minimum Legal Size Input
Production Produksi dengan input rajungan all size Produksi dengan input rajungan minimal8 cm
Perubahan Tingkat Profitability Perbandingan Analisis
Finansial Proyek Pengolahan Rajungan
Simulasi Kebijakan
28 3.3 Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis memiliki hipotesis yaitu pemberlakuan pembatasan ukuran minimal rajungan pada input produksi mini plant di Kecamatan tarumajaya Kabupaten Bekasi dengan hipotesis sebagai berikut : 1. Pemberlakuan pembatasan ukuran rajungan pada input produksi miniplant
dapat mengurangi permintaan terhadap rajungan kecil.
2. Penurunan permintaan terhadap rajungan kecil akan membuat nelayan enggan menangkap rajungan kecil sehingga nelayan akan lebih suka menangkap rajungan dengan ukuran optimal atau besar.
3. Pengurangan penangkapan rajungan kecil akan menambah stok rajungan di masa yang akan datang.
4. Pembatasan ukuran rajungan sebagai input produksi akan menurunkan penerimaan mini plantsecara aktual dalam jangka pendek. Namun akan meningkat dalam jangka panjang.
5. Tingkat rente ekonomi (profitability) mini plant akan menurun secara signifikan, tetapi perlahan akan meningkat dalam jangka panjang.
29
IV.
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengambilan data dilakukan di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan yang memiliki mini plant pengolahan rajungan besar dengan jumlah pekerja yang juga besar.Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2012.
4.2 Metode Pengambilan Sampel dan Jenis Data
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara purposive sampling (sengaja) terhadap pengusaha pengolahan rajungan skala mini plant. Mini plant yang dimaksud merupakan mini plant yang memproduksi daging kupas rajungan dengan input rajungan mentah.
Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik wawancara dan obeservasi lapang untuk mengidentifikasi rajungan yang diolah di mini plant pengolahan rajungan. Analisis dilakukan secara deskriptif dan juga dengan menggunakan pendekatan Cost Benefit Analysis(CBA) untuk analisis aspek ekonominya.
Menurut Nasution (2003), tidak terdapat aturan yang jelas mengenai jumlah sampel yang disyaratkan untuk suatu penelitian dari populasi yang tersedia. Selain itu tidak ada batasan yang jelas apa yang dimaksud dengan sampel yang besar dan kecil. Penentuan jumlah sampel yang sering digunakan yaitu sebanyak sepuluh persen dari jumlah populasi. Jika populasinya besar maka sampel yang diambil dapat kurang dari sepuluh persen dan jika populasinya kecil maka jumlah sampelnya dapat lebih besar dari sepuluh persen. Sampel diambil dari mini plant di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasisebagai unit analisis. Teknik penarikan sampel dengan sistem probability sampling, dimana sampel dipilih secara sengaja oleh penulis. Hal iniberdasarkan jenis responden yang homogen dan asumsi dalam sampel adalahmenyebar normal.
30 Menurut Nazir (2005), sebuah sampel adalah bagian dari populasi. Survei sampel adalah suatu prosedur dimana hanya sebagian dari populasi saja yang diambil dan dipergunakan untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki dari populasi. Dalam mencari sampel, para ahli biasanya menggunakan probability sample. Probability sample adalah suatu sampel yang ditarik sedemikian rupa, dimana suatu elemen (unsur) individu dari populasi tidak didasarkan pada pertimbangan pribadi, tetapi tergantung kepada aplikasi kemungkinan (probabilitas). Jika pemilihan individu dari populasi didasarkan atas pertimbangan pribadi, maka sampel tersebut dinamakan judgement sample.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara, pengamatan lapang dan percobaan. Penulis telah mempersiapkan kusioner dengan beberapa pertanyaan mengenai produksi, harga, kondisi input rajungan, jumlah tenaga kerja, upah tenaga kerja, dan kebijakan produksi daging rajungan. Selain itu penulis juga melakukan percobaan yang dilakukan di mini plant untuk mengetahui ukuran terbaik dari rajungan dalam pengolahannya.
Data sekunder dalam penelitian ini meliputi data time series untuk mengetahui rata-rata produksi, modal investasi, biaya produksi, penerimaan dari hasil penjualan, supplier rajungan mentah, jumlah input rajungan, dan jangka waktu produksi. Data sekunder ini didapatkan langsung dari pihak mini plant. Jenis data dan pengunaannya dapat dilihat pada tabel 3.
31 Tabel 3. Jenis Data dan Penggunaannya
Jenis Data Tujuan Analisis Hasil Pengolahan rajungan berdasarkan klasifikasi ukuran& jenis kelamin Produksi, harga, kondisi input
rajungan, dan jumlah tenaga kerja.
Data time series biaya dan
penerimaan dalam produksi daging rajungan skala mini -plant. •Menghitung waktu pengupasan •Menghitung nilai ekonomi rajungan •Produksi aktual •Produktifitas tenaga kerja •ukuran rajungan yg diproduksi •NPV •IRR •Net B/C •PP
•Tingkat efisensi pengolahan rajungan
•Rente ekonomi rajungan
•Produksi rata-rata •Tingkat produktifitas
•Rata-rata ukuran rajungan yang digunakan
• Tingkat profitabilitymini plantsecara aktual
•Tingkat profitabilityminiplant setelah diterapkannya
kebijakan minimum legal size input production
4.3 Metode Analisis dan Pengolahan Data
Dalam penelitian ini data didapat dari hasil pengamatan lapang dan percobaan yang dianalisis dengan mencari rata-rata, nilai terkecil, dan nilai terbesar dari data yang diperoleh. Sedangkan, data yang diperoleh melalui wawancara dianalisis dengan pendekatan produksi rata-rata per jumlah pekerja dan Cost Benefit Analysis(CBA).Jumlah produksi rata-rata dibagi jumlah tenaga kerja digunakan untuk menghitung tingkat produktifitas tenaga kerja pada mini plant. Sedangkan analisis aspek finansial berupa CBAdilakukanuntuk mengetahui aspek finansial suatu proyek pengolahan rajungan skala mini plant saat sebelum dan sesudah diterapkannya kebijakan minimum legal size input production.Sehingga diketahui seberapa besar dampak penerapan kebijakan