• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Analisis Data

Dalam dokumen SKRIPSI WAHYUNI S (Halaman 47-0)

BAB III METODE PENELITIAN

E. Metode Analisis Data

Data penelitian tidak akan berguna jika instrumen yang dipakai untukmengumpulkan data penelitian tidak memilik reliability (tingkat keandalan) danvalidity (tingkat keabsahan) yang tinggi. Uji validitas dan realibilitas dalampenelitian ini menggunakan software aplikasi statistik Statistical Package forSocial Science (SPSS) versi 22.

a. Uji Validitas

Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objekpenelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh

peneliti.Dengan demikiandata yang valid adalah data ‘yang tidak berbeda’ antara data yang dilaporkanoleh peneliti dengan data yang

sesungguhnya terjadi pada objek penelitian(Sugiyono, 2013).

Pengujian validitas data dalam penelitian ini dilakukansecara statistik yaitu menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaandengan skor total dengan menggunakan metode Product Moment

PearsonCorrelation. Data dinyatakan valid jika nila r-hitung yang merupakan nilai dariCorrected Item-Total Correlation > r-tabel pada signifikansi 0.05 (5%).

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atautemuan. Dalam pandangan positivistik (kuantitatif), suatu data dinyatakan reliable apabila dua atau lebih peneliti dalam objek yang sama menghasilkan data yangsama, atau peneliti sama dalam waktu berbeda menghasilkan data yang sama,atau sekelompok data bila dipecah menjadi dua menunjukan data yang tidakberbeda (Sugiyono, 2013). Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukandengan menggunakancronbach’s alpha. Syarat minimum yang

dianggapmemenuhi syarat adalah kalau koefisienalpha cronbach’s yang didapat 0,6. Jikakoefisien yang didapat kurang dari 0,6 maka instrumen penelitian tersebutdinyatakan tidak reliabel.

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,variabel terikat, variabel bebas atau keduanya memunyai distribusi normal atautidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal ataupenyebaran data statistik pada sumbu diagonal dari grafik distribusi normal (Ghozali,2011).

Pengujian normalitas dalam penelitian ini digunakan dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari data

normal. Menurut Ghozali (2011) dasar pengambilan keputusan untuk uji normalitas data adalah:

a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji dalam model regresiditemukan adanya korelasi antar variabel-variabel bebas (Ghozali, 2011).Modelregresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel ini tidak ortogonal. Variabelortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebassama dengan nol.

Dalam penelitian ini teknik untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi adalah melihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF), dan nilai tolerance.Apabila nilai toleranc mendekati , serta nilai VIF di sekitar angka 1 serta tidak lebih dari 10, maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas dalam model regresi (Santoso,2006).

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel-variabel bebas (Ghozali, 2011).Modelregresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel ini tidak ortogonal. Variabelortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebassama dengan nol.

Dalam penelitian ini teknik untuk mendeteksi ada atau tidaknyamultikolinearitas di dalam model regresi adalah melihat dari nilai VarianceInflation Factor (VIF), dan nilai tolerance.Apabila nilai tolerancemendekati 1, serta nilai VIF di sekitar angka 1 serta tidak lebih dari 10, maka dapatdisimpulkan tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas dalam modelregresi (Santoso,2006).

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali,2011). Cara mendeteksinya adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik Scatterplot antara SRESID dan ZPRED, di mana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-standardized (Ghozali,2011). Sedangkan

dasar pengambilan keputusan untuk uji heteroskedastisitas adalah (Ghozali,2011):

a. Jika ada pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu teratur (bergelombang, melebur kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

e. Uji Hipotesis

1. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen.Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu.Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas.Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2011).

2. Analisis Regresi Linear Berganda

Untuk menganalis hipotesis pada penelitian ini digunakan metode statistika. Seluruh perhitungan statistik digunakan bantuan program SPSS. Tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 0,05 (5%). Model yang digunakan

untuk menguji hipotesis 1 dan hipotesis 2 adalah model regresi linear berganda. Untuk menguji pengaruh sistem pengendalian intern pemerintah dan kompetensi sumber daya manusia terhadap efektivitas pengelolaan keuangan digunakan model persamaan sebagai berikut:

Y = a + β1x1 + β2x2 (1) Keterangan:

Y = Efektivitas pengelolaan keuangan daerah a = Konstanta

β1= Koefisien regresi untuk variabel independen Sistem

Pengendalian Itern Pemerintah

β2= Koefisien regresi untuk variabel independen kompetensi

Sumber Daya Manusia

x1 = sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) x2 = kompetensi sumber daya manusia (SDM) 3. Uji t

Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabelindependen secara individual dalam menerangkan variasi variabel independen(Ghozali, 2011). Langkah-langkah Uji Hipotesis untuk koefisien regresi adalah:

a) Perumusan Hipotesis Nihil (H0) dan Hipotesis Alternatif (H1)H0 : β1 = 0 Tidak ada pengaruh yang signifikan dari

masing-masing variabelbebas (X1, X2) terhadap variabel terikat (Y).

H1 : β0 ≠ 0 Ada pengaruh yang signifikan dari masing-masing variabel bebas(X1,X2) terhadap variabel terikat (Y).Penentuan harga t tabel berdasarkan taraf signifikansi dan taraf derajatkebebasan

a) Taraf signifikansi = 5% (0,05) b) Derajat kebebasan = (n-1-k) 4. Uji F

Uji F digunakan untuk menguji hipotesis nol bahwa koefisien determinasimajemuk dalam populasi, R2, sama dengan nol. Uji signifikansi meliputipengujian signifikansi persamaan regresi secara keseluruhan, serta koefisienregresi parsial spesifik.

Uji keseluruhan dapat dilakukan dengan menggunakanstatistik F.

Statistik uji ini mengikuti distribusi F dengan derajat kebebasan k dan(n-k-1) (Malhotra, 2006). Jika hipotesis nol keseluruhan ditolak, satu atau lebihkoefisien regresi majemuk populasi memunyai nilai tak sama dengan 0.

Uji F parsial meliputi penguraian jumlah total kuadrat regresi Ssreg menjadikomponen yang terkait dengan masing-masing variabel independen. Dalampendekatan yang standar, hal ini dilakukan dengan mengasumsikan bahwasetiap variabel independen telah ditambahkan ke dalam persamaan regresisetelah

seluruh variabel independen lainnya telah disertakan. Kenaikan darijumlah kuadrat yang dijelaskan, yang disebabkan oleh penambahan sebuahvariabel independen Xi , merupakan komponen variasi yang disebabkan variabeltersebut dan disimbolkan dengan SSxi . Signifikansi koefisien regresi parsialuntuk variabel, diuji dengan menggunakan sebuah statistik F incremental (Malhotra,2006).

42

A. Maksud dan Tujuan Rencana Strategis Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Makassar

Maksud dari penyusunan rencana Strategis Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Makassar untuk menunjang terwujudnya visi, misi tujuan dan sasaran pembangunan yang ditetapkan oleh Walikota Makassar Tahun 2014 – 2019, penyusunan renstra BPKA Kota Makassar 2014 – 2019 dimaksudkan tersdianya sebuah dokumen perencanaan penerimaan pendapatan transfer/dana perimbangan, penerimaan pembiayaan selama kurun waktu 5 (lima) tahun. Dengan demikian Renstra BPKA merupakan salah satu “guideline” dalam menyusun arah kebijakan dan program proritas yang akan dilaksanakan setiap tahun, yang selanjutnya akan dimuat dalam APBD Kota Makassar dari tahun 2014 – 2019.

Tujuan penyusunan Renstra BPKA tahun 2014 – 2019 adalah untuk :

1. Memberikan arah yang jelas dalam menjabarkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan serta program Walikota Makassar kedalam arah kebijakan dan program pembangunan yang lebih rinci, terarah, terukur dan dapat dilaksanakan selama tahun 2014 – 2019 bagi BPKA.

2. Menyediakan dokumen resmi yang menjadi rujukan setiap tahun dalam penyusunan rencana kerja BPKA.

3. Mempermudah dalam pengukuran kinerja dan mngevaluasi kinerja BPKA.

4. Menjadi tolok ukur penilaian keberhasilan dalam melaksanakan pembangunan sesuai dengan tugas, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawab BPKA dalam upaya mewujudkan visi, misi, program Walikota Makassar.

B. Visi dan Misi 1. Visi

Visi merupakan cara pandang jauh kedepan mengenai gambaran kesuksesan yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu oleh suatu unit Kerja/instansi. Visi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Makassar adalah mewujudkan APBD yang berkualitas menuju opini wajar tanpa pengecualian (WTP) 2019.

2. Misi

Misi yaitu sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan sesuai visi yang telah ditetakan agar Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Makassar dapat berjalan lancar dan terlaksana dengan baik.

Misi tersebut adalah :

1. Menciptakan kesesuaian APBD dengan dokumen perencanaan dan tepat waktu.

2. Meningkatkan akurasi penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D).

3. Meningkatkan system pengelolaan keuangan daerah menuju opini BPK Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

4. Meningkatkan pengelolaan barang milik daerah yang professional dan modern.

5. Meningkatkan sarana, prasarana dan SDM dalam pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.

C. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset

Pada dasarnya tujuan pengelolaan keuangan daerah adalah keinginan untuk mengelola keuangan daerah secara tertib, taat pada peraturan, perundangundangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Pemerintahan yang baik yang memiliki tiga pilar utama yaitu transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif.

Adapun tujuan untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan adanya serangkaian peraturan daerah, peraturan walikot, dan keputusan walikota yang bertujuan agar memudahkan dalam pelaksanaannya dan tidak menimbulkan multitafsir dalam penerapannya. Peraturan yang dimaksud memuat berbagai kebijakan terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah.

Pengelolaan keuangan secara tertib adalah bahwa pengelolaan keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan buktibukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pengelolaan keuangan yang taat pada peraturan perundangundangan adalah pengelolaan keuangan daerah yang mempedomani peraturan perundang undangan.

Pengelolaan keuangan yang efektif merupakan pengelolaan keuangan daerah yang menekankan pada pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingan keluaran dengan hasil.

Pengelolaan keuangan yang efesien merupakan pengelolaan keuangan daerah yang menekankan pada pencapaian keluaran yang maksimun dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu.

Pengelolaan keuangan yang ekonomis merupakan pengelolaan keuangan daerah dimana pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah.

Pengelolaan keuangan yang transparan merupakan pengelolaan keuangan daerah yang menekankan pada prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas luasnya tentang keuangan daerah.

Pengelolaan keuangan daerah yang bertanggungjawab merupakan perwujudan kewajiban pengelola untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengadilan sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Pengelolaan keuangan daerah yang berkeadilan adalah pengelolaan keuangan yang menunjukkan keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan /atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif.

Pengelolaan keuangan yang memenuhi kepatutan adalah pengelolaan keuangan daerah yang menekankan pada tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proposional.

D. Rencana Program dan Kegiatan, Indikator Kerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan indikatif

Rencana program dan kegiatan adalah jabaran suatu kegiatan yang diutamakan untuk mencapai tujuan sasaran yang telah ditetapkan, dan menjadi rencana pelaksanaan oleh yang memangku kepentingan, dalam hal ini badan pengelola keuangan dan Aset kota Makassar didalam program kerja tersebut tercantum program utama yang akan dilkasankan dan ditetapkan rencana capai kinerja untuk seluruh indikator kinerja yang ada pada tingkat sasaran dan kegiatan, terutama untuk indikator hasil (outcome) dan keluran (output) dimana penyusunan program dan kegiatan tersebut menjadi bagian dari kegiatan anggaran serta merupakan anggaran

komitmen bagi badan pengelola keuangan dan Aset Kota Makassar untuk pencapaiannya dalam tahun yang telah ditentukan, sedangkan indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian yang telah ditetapkan, penetapan indikator kinerja harus didasarkan pada hasil evaluasi, sehingga memiliki data baseline, untuk perkiraan kinerja capaian yang realistik dengan memperhatikan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

Berdasarkan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran dan kebijakan yang telah ditetapkan, dengan mengacu kepada RPJMD Kota Makassar 2014 2019, Badan Pengelola Keuangan Dan Aset menetapkan 9 (Sembilan) program dan indikator kinerja,kelompok sasaran dan pendanaan indikatif sebagai berikut :

1. Program pelayanan administrasi perkantoran 2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur 3. Program peningkatan disiplin aparatur

4. Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur

5. Program peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan

6. Program anggaran keuangan daerah 7. Program penata Aset daerah

8. Program perbendaharaan dan penatausahaan kas daerah 9. Program akuntansi dan pelaporan keuangan daerah

E. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Makassar

Organisasi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah disajikan sebagai berikut :

Badan pengelolaan keuangan dan aset dipimpin oleh seorang kepala badan dan mempunyai tugas membantu Walikota dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintah daerah dibidang keuangan daerah, berdasarkan pada :

a) Peraturan pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 pengelolaan keuangan daerah

b) Peraturan pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang Milik Negara/Daerah

c) Peraturan pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang pengelolaan uang Negara/Daerah

d) Peraturan pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang perubahan atas peraturan pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik Negara/Daerah

e) Pengelolaan Menteri dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah, sebagaimana telah diubah terakhir dengan peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2011 tentang perubahan kedua peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah

f) Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang pedoman teknis pengelolaan barang milik Daerah

g) Peraturan menteri dalam Negeri Nomor 55 Tahun 2008 tentang tata cara penatausahaan dan menyusun laporan pertanggungjawaban bendahara serta penyampaiannya, dan

h) Peraturan Daerah Kota Makassar Tahun 2009 tentang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Makassar (Lembaran Daerah Kota Makassar Tahun 2009 Nomor 2)

i) Peraturan Walikota Makassar Nomor 12 Tahun 2014 tentang uraian tugas jabatan struktural pada badan pengelolaan keuangan dan aset.

Secara lengkap, struktur organisasi pada badan pengelolaan keuangan dan aset dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Kepala Badan b. Sekretaris

1. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 2. Kepala Sub Bagian Keuangan

3. Kepala Sub Bagian Perlengkapan c. Kepala Bidan Anggaran

1. Kepala Sub Bidang Perencanaan dan Penyusunan Anggaran 2. Kepala Sub Bidang Pengendalian Anggaran

d. Kepala Bidang Perbendaharaan

1. Kepala Sub Bidang Pengelolaan Kas Daerah 2. Kepala Sub Bidang Perbendaharaan dan Gaji e. Kepala Bidang Akuntansi

1. Kepala Sub Bidang Pembukuan 2. Kepala Sub Bidang Pelaporan

f. Kepala Bidang Aset

1. Kepala Sub Bidang Mutasi Dan Inventarisasi Aset 2. Kepala Sub Bidang Pengadaan dan Pemanfaatan Aset a. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah

b. Sekretaris

Sekretariat dipimpin oleh sekretaris terdiri atas 3 (tiga) Sub Bidang yaitu :

1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 2. Sub Bagian Keuangan

3. Sub Bagian Perlengkapan

Secara umum tugas pokok secretariat mempunyai tugas memberikan pelayanan administratif bagi seluruh satuan kerja dilingkungan badan pengelolaan keuangan dan aset

Dalam melaksanakan tugas, sekretariat menyelenggarakan fungsi :

1. Pengelolaan Ketatausahaan Badan 2. Pelaksanaan Urusan Kepegawaian Badan 3. Pelakasanaan Urusan Keuangan Badan 4. Pelaksanaan Urusan Perlengkapan Badan

5. Pelaksanaan Urusan Umum dan Rumah Tangga Badan

6. Pelaksanaan Koordinasi Perumusan Program Kerja dan Rapat Kerja Badan

c. Kepala Bidang Anggaran

Kepala bidang anggaran mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dinas pendapatan pengelolaan keuangan dan aset daerah dalam urusan menyusun anggaran, administrasi anggaran dan pembiayaan dan investasi yang menjadi kewenangan pemerintah kota.

Dalam melaksankan tugas, bidang anggaran menyelanggarakan fungsi :

a. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Bidang Anggaran

b. Penyusunan Rencana dan Program Kerja Bidang Anggaran

c. Pengkoordinasian penyusunan program dan kegiatan pembahasan anggaran pendapatan dan belanja daerah

d. Pelaksanaan kebiajakan penyusunan anggaran pendapatan belanja daerah dan perubahan anggaran pendapatan belanja daerah

e. Penyusunan KUA dan PPAS beserta perubahannya

f. Pengkoordinasian penyusunan standar harga dan analisis standar belanja daerah

g. Melaksankan pengesahan DPA SKPD dan DPPA SKPD h. Penyusunan perencanaan anggaran kas dan penetapkan SPD

i. Pelaksanaan penyusunan peraturan perundangan daerah dan kebijakan pengelolaan anggaran

j. Pelaksanaan penyusunan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan anggaran pendapatan belanja daerahdan pelaksanaan pembiayaan dan investasi daerah

k. Pelaksanaan kebijakan dan pedoman pengelolaan pembiayaan dan investasi

l. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya

m. Pengelolaan administrasi urusan tertentu d. Kepala Bidang Perbendaharaan

Kepala Bidang Perbendaharaan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas badan pengelolaan keuangan dan aset daerah dalam pengelolaan perbendaharaan umum daerah, perbendaharaan belanja dan verifikasi bukti penerimaan dan pengeluaran keuangan daerah.

Dalam melaksankan tugas, bidang perbendaharaan menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Keuangan (DPA) Bidang Perbendaharaan

b. Perumusan bahan/data dan informasi untuk menyusun program pembangunan dibidang perbendaharaan

c. Pelaksanaan penerbitan SP2D

d. Pelaksanaaan pemantauan penerima dan pengeluaran APBD oleh bank dan/ atau lembaga keuangan lainnya yang ditunjuk

e. Pengusahaan dan pengaturan dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD

f. Pelaksanaan penyimpanan uang daerah dan penempatan uang daerah

g. Pelaksanaan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah

h. Pengkoordinasian pelaksanaan kewajiban perpajakan

i. Menyusun kebijakan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pengelolaan perbendaharaan umum daerah, belanja dan verifikasi kelengkapan penerimaan dan pengeluaran keuangan daerah

j. Pelaksanaan penyusunan peraturan pelaksanaan dan pengendalian anggaran pendapatan dan belanja daerah dan perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah

k. Pelaksanaan verifikasi dan meneliti kelengkapan administrasi penerima kas dan pengeluaran kas sesuai dengan peraturan perundang undangan

l. Pengelolaan administrasi urusan tertentu e. Kepala Bidang Akuntansi

Kepala Bidang Akuntansi memiliki tugas pokok menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan aset, utang piutang dan ekuitas dana, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya dalam rangka menyusun laporan dan

pertanggungjawaban keuangan daerah sesuai dengan standar akuntansi pemerintah.

Dalam melaksanakan tugas, bidang akuntansi menyelanggarakan fungsi :

a. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaa Anggaran (DPA) Bidang Akuntansi

b. Penyusunan kebijakan dan pedoman teknis operasional penyelenggaraan akuntansi daerah

c. Penyelenggaraan akuntansi dan system informasi pengelolaan keuangan daerah

d. Pelaksanaan penyusunan laporan dan pertanggungjawaban keuangan dan pemerintah daerah sesuai standar skuntansi pemerintah

e. Pelaksanaan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah f. Melaksanakan pengelolaan hutang dan piutang daerah

g. Penyelenggaraan evaluasi laporan keuangan dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah

h. Pengelolaan administrasi urusan tertentu f. Kepala Bidang Aset

Kepala Bidang Aset memiliki tugas pokok yaitu mengendalikan dan mengkoordinasikan perumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan

badan yang meliputi mutasi aset dan inventarisasi serta pemanfaatan dan pemberdayaan aset

Dalam melaksanakan tugas, bidang aset menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Bidang Aset

b. Penyusunan program kerja dan rencana kegiatan bidang

c. Perumusan kebijakan, petunjuk teknis serta rencana strategi sesuai lingkup bidang tugasnya

d. Perumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan badan yang meliputi mutasi aset dan inventarisasi serta pemanfaatan pemberdayaan aset

e. Pelaksanaan pengumpulan dan penyusunan bahan kebijakan umum dan teknis rencana kebutuhan aset daerah, penelitian dan pengkajian kebutuhan barang daerah sebagai dasar pelaksanaan pengadaan barang, administrasi barang daerah, penilaian dan penyusutan aset daerah, pencatatan brang milik daerah, inventarisasi data aset daerah, penyimpanan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah serta pelaksanaan sensus barang milik daerah setiap 5 (lima) tahun sekali

f. Pelaksanaan penyusunan pedoman petunjuk teknis pemanfaatan dan pengendalian kekayaan daerah, evaluasi datar hasil pengadaan barang daerah, pemantauan dan pengawasan kepemilikan aset

daerah serta dokumentasi kepemilikan aset berupa kendaraan, tanah dan bangunan

g. Pelaksanaan hubungan kerja sama pelaksanaan tugas dengan SKPD terkait

h. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan dalam lingkup tugasnya

i. Pengelolaan administrasi urusan tertentu

F. Sumber Daya Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset

Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan keuangan dan aset data pegawai pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Kota Makassar orang posisi tanggal 7 april 2014 dengan klasifikasi sebagai berikut :

Tabel 2

Berdasarkan Golongan

No Golongan Laki Laki Perempuan Total Orang

1 Golongan I 1 1

2 Golongan II 4 6 10

3 Golongan III 13 13 26

4 Golongan IV 3 1 4

Total 21 20 41

Tabel 3

Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Laki Laki Perempuan Total Orang

1 SD SLTP

2 SLTA 2 2 4

3 Sarjana Muda/ DIII 1 1

4 Sarjana (SI) 11 12 23

5 Master (S2) 7 6 13

6 Doktor (S3)

Total 21 20 41

Badan pengelolaan keuangan dan aset sebagai instansi Pemerintah Kota Makassar menempati gedung Kantor di Balaikota. Gedung kantor badan pengelolaan keuangan dan aset terletak dijalan Jenderal Ahmad Yani 2 Makassar yang ditempati oleh kepala badan selaku Bendahara Umum daerah, Sekretaris, Bidang Anggaran, Bidang Perbendaharaan, Bidang Akuntansi, Bidang Aset.

G. Kinerja Pelayanan Badan Pengelolaan Keuangan Aset

Dengan diberlakukannya peraturan daerah Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2009 tentang pembentukan, susunan organisasi dan tata kerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Makassar (lembaran daerah nomor 3 tahun 2009), sebagaimana telah diubah terakhir dengan undang

undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas undang undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah (Lembaran

undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas undang undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah (Lembaran

Dalam dokumen SKRIPSI WAHYUNI S (Halaman 47-0)

Dokumen terkait