• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Tujuan Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA

4.4 Metode Analisis Data

Penelitian ini dilakukan di tiga level yakni rumahtangga, desa dan wilayah, dengan kajian di level rumah tangga yaitu analisis mikro berupa struktur

pendapatan, dan status kesejahteraan ekonomi dalam hal ini status dalam Poverty

Line (garis kemiskinan) dan kajian di level desa berupa pengukuran kepadatan

agraris dan kemampuan mendukung kehidupan, serta kondisi sosial untuk

menjamin kehidupan masyarakat lokal, serta analisis Carrying Capacity (daya

dukung lahan) dan identifikasi kondisi ekologi pada level wilayah (analisis Makro), dalam hal ini kabupaten, kecamatan dan desa. Data tersebut kemudian diolah secara kuantitatif menggunakan perhitungan matematis dan konsep penghitungan sesuai kajian yang kemudian diuraikan secara sistematis.

4.4.1 Analisis Struktur Nafkah dan Status Kesejahteraan

Untuk mengetahui orientasi ketahanan ekonomi yang ada di wilayah pasang surut ini, maka dilakukan analisis stuktur nafkah melalui perhitungan pendapatan rumah tangga masyarakat wilayah tersebut,

dengan rumus :

Y = F + OF + NF Dimana :

Y = Pendapatan rumah tangga dalam satu tahun

F = Pendapatan rumah tangga dari usaha disektor pertanian bersumber dari

OF =Pendapatan rumahtangga yang bersumber dari pertanian tetapi rumahtangga tersebut tidak memiliki lahan sendiri, berupa bagi hasil (Off Farm)

NF = Pendapatan rumahtangga yang bersumber dari kegiatan mata pencaharian

selain usaha tani padi sawah pasang surut (Non Farm)

Pendapatan on farm dan off farm rumahtangga yang digunakan sebagai

data adalah pendapatan total per tahun yang telah dikurangi biaya produksi selama

setahun, sehingga yang diambil adalah pendapatan bersih (netto). Begitu juga

pendapatan Non Farm rumahtangga yang digunakan sebagai data adalah

pendapatan total per tahun yang telah dikurangi modal usaha selama setahun, sehingga diperoleh pendapatan bersih (netto). Ketiga sumber kegiatan matapencaharian rumahtangga ini akan dipersentasekan untuk melihat kontribusi masing masing kegiatan mata pencaharian dan kecenderungan pergeseran mata pencaharian yang terjadi di kedua desa studi.

Untuk menghitung pendapatan Perkapita Maka digunakan formulasi:

Y/365 (hari) Income/ kapita/hari =

 Anggota Rumah Tangga

.Basis nafkah rumahtangga responden adalah petani sehingga hampir semua rumahtangga yang dijadikan responden adalah rumahtangga yang memiliki lahan berjumlah 35 KK dan sisanya adalah rumahtangga yang sama sekali tidak memiliki lahan yaitu berjumlah 5 KK untuk masing-masing desa. Hal ini dimaksudkan untuk melihat besaran kontribusi masing-masing kegiatan

matapencaharian rumahtangga berdasarkan kegiatan on farm, off farm dan non

farm, sehingga diperoleh struktur nafkah rumahtangga yang menggambarkan

struktur nafkah wilayah transmigrasi pasang surut.

Hasil perhitungan pendapatan ini akan dipersentasekan (%) untuk melihat distribusi sebaran pendapatan responden (rumah tangga) di tiap desa Sampel serta

persentase peralihan mata pencaharian yang terjadi dari On Farm ke Off Farm,

dan ditampilkan dalam bentuk diagram Box Plot, melalui penggunaan program

standar garis kemiskinan (poverty line), dengan menggunakan indikator

kemiskinan menurut World Bank yaitu pendapatan US$ 2 per hari (konversi

Rupiah sebesar Rp. 9000/$) atau setara dengan Rp. 18.000/hari atau Rp. 540.000 per bulan/kapita.

Untuk mengetahui kontribusi pendapatan dari masing-masing kegiatan

mata pencaharian rumahtangga akan dibuat struktur nafkah rumahtangga

responden, yang selanjutnya dilakukan pengklasifikasian kelas rumah tangga menjadi tiga kelas yaitu: rumahtangga kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah berdasarkan sebaran normal dan standar pendapatan rata-rata

masing-masing desa melalui box plot pendapatan rumahtangga.

Klasifikasi Status Kesejahteraan, diklasifikasikan berdasarkan nilai rata- rata pendapatan total rumahtangga pertahun di satu desa, menjadi 3 kelas yaitu

kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah. Kelas Atas adalah Rumahtangga

yang memiliki pendapatan total pertahun diatas pendapatan total rata-rata

rumahtangga pertahun di desa tersebut. Kelas Menengah adalah Rumahtangga

yang memiliki pendapatan total pertahun sama dengan pendapatan total rata-rata

rumahtangga pertahun di desa tersebut. Kelas Bawah adalah Rumahtangga yang

memiliki pendapatan total pertahun dibawah pendapatan total rata-rata rumahtangga pertahun di desa tersebut.

4.4.2 Analisis Daya Dukung (Carrying Capacity/CCR)

Menurut Bratakusumah dan Riyadi (2004), untuk mengetahui apakah daya

dukung lahan (carrying capacity) masih bisa menjamin keberlanjutan

(sustainability) pengembangan wilayah di daerah pasang surut tersebut, maka

dilakukan analisis carrying capacity. Analisis Daya Dukung (Carrying

Capacity/CCR) memberikan gambaran mengenai hubungan antara penduduk, penggunaan lahan dan lingkungan. Dari pengertian diatas, dapat diketahui bahwa paling tidak ada dua variable pokok yang harus diketahui secara pasti untuk melakukan analisis daya dukung, yaitu 1) Potensi lahan yang tersedia, termasuk luas lahan dan 2) Jumlah Penduduk.

Adapun langkah-langkah dalam melakukan analisis daya dukung pada dasarnya bersifat fleksibel dan dinamis (cukup beragam), langkah-langkah tersebut antara lain :

a) Identifikasi luas areal yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. b) Identifikasi frekuensi panen per hektar per tahun.

c) Tentukan jumlah keluarga dalam area tersebut.

d) Tentukan persentase jumlah petani yang ada di area tersebut. e) Tentukan ukuran lahan rata-rata yang dimiliki petani.

f). Hitung kemampuan daya dukung dengan menggunakan rumus CCR.

Selanjutnya, cara sederhana untuk menghitung kemampuan daya dukung suatu daerah dapat digunakan rumus matematis sebagai berikut :

Ai x ri

CCR =

H x h x Fi Dimana :

CCR = Kemapuan daya dukung (Carrying Capacity)

A = Jumlah total area yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian (i)

r = Frekuensi panen per hektar per tahun (komoditi i)

H = Jumlah KK (Rumah tangga)

h = Persentase jumlah penduduk yang tinggal

F = Ukuran lahan pertanian rata-rata yang dimiliki petani

Asumsi umum untuk menginterpretasikan hasil perhitungan analisis daya dukung tersebut, dapat terbagi dalam tiga bagian, yaitu :

1. Apabila CCR >1, berarti dilihat dari kuantitas lahannya, suatu wilayah masih memiliki kemampuan untuk mendukung kebutuhan pokok penduduk dan masih mampu menerima tambahan penduduk, pembangunan masih dimungkinkan bersifat ekspansif dan eksploratif lahan.

2. Apabila CCR <1, berarti bahwa berdasarkan jumlah lahan yang ada, di wilayah tersebut sudah tidak mungkin lagi dilakukan pembangunan yang bersifat ekspansif dan eksploratif lahan, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok telah berkurang.

3. Apabila CCR =1, berarti daerah tersebut masih memiliki keseimbangan antara kemampuan lahan dan jumlah penduduk, pemenuhan kebutuhan pokok masih dapat diatasi, namun kondisi ini harus diwaspadai oleh pemerintah daerah.

Perhitungan carrying capacity lahan hanya dilakukan pada lahan pertanian

pangan berupa sawah pasang surut dikarenakan wilayah studi ini merupakan daerah penyangga pangan dengan komoditi unggulan berupa padi sawah pasang surut, serta adanya pelarangan tanaman keras diaderah ini, sehingga untuk tanaman palawija dan perkebunan bukan merupakan komoditi yang dijual hanya berupa tanaman pekarang dan tanaman di tegalan, karenanya perhitungan

carrying capacity lahan hanya dilakukan pada lahan sawah pasang surut.

Perhitungan carrying capacity lahan pasang surut dilakukan di tiga level

wilayah studi yaitu desa, kecamatan dan kabupaten, hal ini dilakukan mengingat jika dilakukan perhitungan secara administratif maka ada bias dalam penghitungan CCR, sehingga jika dilakukan dalam lingkup ekosistem yang lebih besar maka bias tersebut dapat dikurangi, namun ketersediaan data yang dapat diperoleh hanya berupa wilayah administratif.

Asumsi wilayah kabupaten, kecamatan dan desa yang digunakan sebagai

perhitungan CCR ini berarti kajian daya dukung lahan yang dilakukan hanya berupa lahan darat, tidak termasuk wilayah perairan, karena data yang digunakan adalah data luas lahan pasang surut berdasarkan data kabupaten dalam angka dari Badan Pusat Statistik, dalam hal ini Banyuasin dalam angka 2009 dan 2010, serta buku profil desa 2010.

4.4.3 Pengukuran Kepadatan Agraris

Tingkat kepadatan penduduk (population density) menggambarkan Jumlah

penduduk pada setiap 1 km2 dalam suatu wilayah. Konsep kepadatan penduduk ini belum menggambarkan daya dukung dari suatu daerah dalam menampung Jumlah penduduk, karenanya untuk mengetahui hal itu konsep yang digunakan sebaiknya adalah konsep daya dukung (Bratakusumah, 2004).

Untuk mengetahui kondisi daya dukung ekosistem (ekologi) pasang surut dalam menopang kehidupan sosial ekonomi penduduk setempat dilakukan pengukuran kepadatan agraris, dengan formulasi sebagai berikut :

 Penduduk (Tahun tertentu) Kepadatan Agraris =

 Luas Lahan Subur

Sehingga :

 Panen dalam setahun Kemampuan Mendukung Kehidupan =

 Penduduk (Tahun tertentu )

Hasil perhitungan kepadatan agraris akan menunjukkan tingkat kepadatan lahan pertanian yang telah digarap, dan dilakukan pembandingan kepadatan agraris dikedua desa studi dengan kemampuan mendung kehidupannya. Selanjutnya hasil perhitungan kemampuan mendukung kehidupan ini dikonversikan dengan nilai rupiah, dimana 1 kilogram gabah diasumsikan sebesar Rp. 3000/kilogram gabah. Hasil konversi nilai gabah ini akan dibandingakn dengan upah minimum regional (UMR) dan kebutuhan hidup rata-rata pekerja, berdasarkan standar Badan Pusat Sattistik (BPS) Kabupaten Banyuasin yaitu Banyuasin dalam angka tahun 2010.

4.4.4 Analisis Kualitatif

Untuk mengetahui dan mengidentifikasi kondisi ketahanan Sosial dijawab dengan melakukan identifikasi dan menganalisis secara kualitatif komponen ketahanan sosial yang didapat dari hasil wawancara dan pengamatan langsung yang dilakukan, diolah secara tabulasi dan kemudian menguraikannya secara deskriftif.

Adapun komponen ketahanan sosial ekologi (socio ecology sustainability)

yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi ketahanan sosial ekologi ini adalah migrasi penduduk, peralihan mata pencaharian, konflik sosial, bencana alam (banjir, erosi), desa adat, kepemilikan lahan (fragmentasi lahan), infrastuktur, serta perubahan tutupan lahan, gangguan perubahan iklim, perubahan curah hujan, dan masalah-masalah lingkungan lainnya yang mempengaruhi ekosistem daerah pasang surut.

4. 5 Matriks Penelitian

Secara ringkas matrik penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5 Matriks Penelitian

No Tujuan Alat Analisis Data

Jenis Sumber 1 Menganalisis Carrying Capacity - Analisis CCR - Asumsi CCR

Data Luas lahan Pertanian Data Jumlah Penduduk 1. Data Sekunder 2. Wawancara 3. Kuesioner 2 Untuk mengetahui status kesejahteraan ekonomi - Analisis Pendapatan rumah tangga - Garis Kemiskinan (Poverty line)

Data primer tentang pendapatan usaha pertanian (farm) dan usaha non pertanian (non farm) 1. Wawancara 2. Kuesioner 3 Untuk mengetahui kondisi ketahanan ekologi - Pengukuran kepadatan agraris - Kemampuan mendukung kehidupan

Data primer dan sekunder 1.Data Sekunder 2. Wawancara 3. Kuesioner 4 Untuk mengetahui kondisi ketahanan Sosial ekologi - Analisis Kualitatif

Data primer dan sekunder 1. Data Sekunder 2. Observasi 3. Wawancara 4. Kuesioner