• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Tujuan Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA

8.1 Refleksi Teori Christaller

Walter Christaller (1933), memperkenalkan teori pemusatan tempat atau

yang dikenal dengan Central Places Theory, menurut Christaller pusat-pusat

pelayanan cenderung tersebar di dalam wilayah menurut pola berbentuk heksagonal (segi enam). Model Christaller menjelaskan model area perdagangan heksagonal dengan menggunakan jangkauan atau luas pasar dari setiap komoditi

yang dinamakan range dan threshold, jangkauan luas pasar dari setiap komoditas

itu ada batasnya dan ada batas minimal dari luas pasarnya agar produsen bisa tetap berproduksi..

Teori ini mengemukakan lokasi optimum, yaitu lokasi yang terbaik dan menguntungkan secara ekonomi. Adanya susunan hierarki daerah pelayanannya yaitu dari kota sampai ke desa, sesuai dengan asumsi dari teori pemusatan tempat Christaller yaitu konsumen dapat memilih tempat pemasaran terdekat dari tempat tinggalnya untuk meminimalisir jarak ekonomi, dimana tempat pusat (sebagai suatu pemukiman yang menyediakan barang dan jasa-jasa bagi penduduk daerah belakangnya).

Jika dikaitkan antara hasil studi dengan teori Christaller ini. Diperoleh data seperti tabel 26. Status kesejahteraan yang dikaitkan dengan jarak kepusat, serta jumlah produksi padi yang dihasilkan ( K=3), letak desa dalam satu jalur atau traffic (K=4), serta market area yang menjadi daerah pemasaran yang dimasukkan kedalam area dengan orde lebih tinggi (K=7).

Tabel 30 Refleksi hasil studi pada teori Christaller

Desa

Status

Kesejahteraan % Jarak Ke Pusat Km K=3 K=4 K=7

Mekar

Sari

Dibawah 35 Sumsel 60 7.180 Jalur 10 Sumsel Diatas 53 Banyuasin 80

Miskin 13 Muara Telang 12 Telang

Rejo

Dibawah 17.5 Sumsel 39 8.970 Jalur 8 Sumsel

Diatas 52.5 Banyuasin 69

Miskin 30 Muara Telang 6

Sumber: Data Primer, Buku Profil Desa 2010, data diolah

Pada Tabel 30, terlihat perbandingan status kesejahteraan dengan jarak kepusat, di Desa Mekar Sari rumahtangga yang berada dibawah garis kemiskinan (35 persen) lebih banyak dibandingkan desa Telang Rejo (17,5 persen), jika dilihat berdasarkan jaraknya kepusat maka desa Mekar Sari memilki jarak yang lebih jauh ke pusat yaitu 60 km ke ibukota provinsi, 80 km ke ibukota kabupaten dan 12 km ke ibukota kecamatan, sedangkan desa Telang Rejo memiliki jarak yang lebih dekat dengan ibukota propinsi yaitu 39 km, ke ibukota kabupaten 69 km serta ke ibukota kecamatan 6 km., Dari data ini jelas terlihat bahwa jarak kepusat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan rumahtangga masyarakat.

Untuk tingkat produksi atau K=3, Desa Telang Rejo yang jaraknya lebih dekat ke Pusat juga memiliki tingkat produksi padi yang lebih tinggi (8.970 ton/th) dibandingkan Desa Mekar Sari (7.180 ton/th) ini berarti jarak kepusat juga mempengaruhi tingkat produksi usahatani yang dijalankan, hal ini dikarenakan semakin dekat ke pusat aksesibitas semakin baik, kemudahan memperoleh sarana produksi serta pemasaran hasil produksi.

Untuk letak traffic atau K=4. Desa Mekar Sari berada di jalur 10, sedangkan ibukota kecamatan yaitu desa Muara Telang berada di jalur 8, satu jalur dengan Desa Telang Rejo. Hal ini merupakan satu keuntungan bagi Desa Telang Rejo, karena jika dikaitkan dengan teori Christaller, suatu wilayah yang terletak dalam satu jalur dengan pusat akan memiliki aksesibitas yang lebih baik, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi hasil produksi.

Sedangkan untuk market area atau K=7, kedua desa ini sama-sama

dimasukkan dalam market area Sumatera Selatan, karena daerah ini merupakan

salah satu lumbung pangan bagi provinsi Sumatera Selatan, sehingga jarak kepusat tentunya sangat mempengaruhi, karena semakin jauh jarak semakin tinggi biaya transportasi, yang otomatis memperbesar biaya pemasaran sehingga mengurangi pendapatan yang diterima rumahtangga petani di desa tersebut. Jarak

kedua desa ini ke market area masih dalam kategori yang jauh, dikarenakan

belum tersedianya jalan darat yang mempermudah aksesibitas pemasaran barang dan jasa dari dan ke desa ini. Jalur perairan yang tersedia saat ini masih belum

memungkinkan untuk pemasaran hasil komoditi ke market area dalam jumlah

yang besar dan waktu yang lebih singkat dan lebih sering.

Jika dihubungkan dengan lokasi studi yaitu Kecamatan Muara Telang yang dapat direfleksikan sebagai pusat pelayanan, dan Desa Mekar Sari serta Desa Telang Rejo menjadi pusat pelayanan yang tersebar di sekeliling Kecamatan Muara Telang. Peluang pengembangan kedepan untuk menjadikan desa Mekar Sari dan desa Telang Rejo sebagai pusat pelayanan bagi dusun-dusun kecil disekitarnya dimana saat ini kedua desa telah dicanangkan program sebagai Kota Terpadu Mandiri (KTM) untuk wilayah Telang I, meskipun secara umum dan hasil observasi menunjukkan keadaan di kedua desa masih belum memadai baik secara infrastuktur maupun sarana dan prasarana pertanian yang ada, sehingga masih perlu adanya pengembangan dan kegiatan pembangunan lebih lanjut, terutama infrastruktur jalan yang menghubungkan wilayah pasang surut ini

dengan market area di Sumatera Selatan.

Untuk mewujudkan kedua desa tersebut menjadi sebuah pusat pertumbuhan baru, jika dilihat dari kondisi saat ini masih belum memadai,

(threshold) serta keterbatasan aksesibiltas transportasi menjadi faktor utama penyebab lambannya pertumbuhan ekonomi dikedua desa ini.

Maka untuk menerapkan teori ini, diperlukan beberapa kondisi prasyarat yang terlebih dahulu harus terpenuhi, antara lain:

1. Range, dimana masih jauhnya jangkauan pasar harus diperpendek dengan menyediakan sarana jalan berupa akses transportasi darat yang lebih memudahkan lalu lintasperdagangan.

2. Threshold, dimana luas luas wilayah pemasaran yang masih sangat kecil yaitu hanya sampai pada tengkulak di tingkat desa menyebabkan petani tidak memiliki kekuatan sebagai penentu harga seharusnya dapat diatasi dengan membentuk lembaga pemasaran ditingkat desa dan kecamatan, yang

memungkinkan perluasan akses pasar hingga ke market area yaitu kota

Palembang.

Selanjutnya dari hasil studi yang telah dikaitkan dengan teori Christaller ini maka diketahui bahwa:

- Dari kondisi ekonomi, kegiatan mata pencaharian Non Farm berkembang

lebih dominan di Desa Telang Rejo, dikarenakan jarak Desa Telang Rejo yang lebih dekat dengan pusat pelayanan yaitu kecamatan Muara Telang, dan sesuai dengan konsep pertumbuhan wilayah maka daerah yang dekat dengan pusat pelayanan cenderung akan lebih berkembang kegiatan skunder dan tersier untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat.

- Dari Kondisi carrying capacity, CCR desa Mekar sari lebih kecil dari CCR

desa Telang Rejo, dikarenakan desa Telang Rejo lebih dekat dengan pusat sehingga meskipun seharusnya mampu menghasilkan produksi pertanian

yang lebih baik, namun kenyataannya Non Farm lebih dominan berkembang

di Desa Telang Rejo dibanding Desa Mekar sari yang lebih terisolir.

- Dari Kondisi Sosial, Daerah ini aman dan kondusif sehingga memberikan

peluang untuk berproduksi yang lebih baik karena didukung oleh kondisi sosial yang aman dan nyaman, akan tetapi permasalah jangkauan dan luas pasar yang terkendala tersedianya infrastruktur, menjadi kondisi prasyarat yang belum terpenuhi.