BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Metode Analisis Deskriptif
4.2.1 Analisis Deskriptif Responden
Responden dalam penelitian ini adalah pegawai Rumah Sakit Bhayangkara Tk.II Medan. Kuesioner sebagai data primer dalam penelitian ini telah disebarkan kepada sampel yang telah ditentukan.
Tabel-tabel dalam penjelasan berikut menjelaskan karakteristik responden yang berjumlah 60 orang.
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Responden (Orang) Presentase
Pria 3 5,00%
Wanita 57 95,00%
Total 60 100%
Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa mayoritas pegawai yang menjadi responden berdasarkan jenis kelamin adalah wanita yang berjumlah 57 orang atau 95,00%, sementara pria berjumlah 3 orang atau 5,00%.
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja Lama Bekerja Jumlah Responden (Orang) Presentase
<1 tahun 0 0% 1-2 tahun 0 0% 2-3 tahun 9 15% 3-5 tahun 18 30% >5 tahun 33 55% Total 60 100%
Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan data yang ada pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa mayoritas pegawai yang menjadi responden berdasarkan lama bekerja adalah lebih dari 5 tahun yang berjumlah 33 orang atau 55%, sementara pegawai yang bekerja selama 2-3 tahun berjumlah 9 orang atau 15%, dan pegawai yang bekerja selama 3-5 tahun berjumlah 18 orang atau 30%.
3. Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Presentase
D3 40 66,67%
S2 1 1,67%
S3 0 0%
Lainnya 0 0%
Total 60 100%
Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan data yang ada pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa mayoritas pegawai yang menjadi responden berdasarkan tingkat pendidikan adalah Diploma-3 yang berjumlah 40 orang atau 66,67%, sementara pegawai yang berpendidikan Strata-1 berjumlah 19 orang atau 31,66%, dan pegawai yang berpendidikan Strata-2 berjumlah 1 orang atau 1,67%.
4.2.2 Analisis Deskriptif Variabel
Berikut akan disajikan penilaian-penilaian responden terhadap variabel dalam penelitian ini
1. Distribusi Jawaban Responden terhadap Variabel Kompensasi Finansial (X1)
Tabel 4.4 Distribusi Penilaian Responden terhadap Variabel X1
Item SS S N TS STS Total Total
Responden F % f % f % F % f % % 1 16 26,67 40 66,67 4 6,66 0 0 0 0 100 60 2 11 18,33 26 43,33 22 36,67 1 1,67 0 0 100 60 3 7 11,67 36 60,00 17 28,33 0 0 0 0 100 60 4 6 10,00 27 45,00 25 41,67 2 3,33 0 0 100 60 5 6 10,00 21 35,00 31 51,67 2 3,33 0 0 100 60 Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa:
a. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 1 yaitu mengenai apakah peningkatan kompensasi finansial mampu meningkatkan prestasi kerja pegawai diketahui bahwa 26,67% menjawab sangat seteju, 66,67%
menjawab seteju, 6,66% menjawab netral, dan 0% menjawab tidak seteju dan sangat tidak setuju.
b. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 2 yaitu mengenai kompensasi finansial merupakan faktor utama yang menentukan prestasi kerja pegawai, dan diketahui bahwa 11,33% menjawab sangat setuju, 43,33% mejawab setuju, 36,67% menjawab netral, 1,67% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju.
c. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 3 yaitu mengenai pemberian kompensasi finansial secara langsung akan lebih dihargai guna meningkatkan prestasi kerja pegawai, dan dapat diketahui bahwa 11,67% menjawab sangat setuju, 60,00% mejawab setuju, 28,33% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
d. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 4 yaitu mengenai kompensasi finansial merupakan ukuran mutlak guna meningkatkan prestasi kerja pegawai, dan dapat diketahui bahwa 10,00% menjawab sangat setuju, 45,00% mejawab setuju, 41,67% menjawab netral, 3,33% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju.
e. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 5 yaitu mengenai apakah kebijaksanaan perusahaan untuk memberikan kompensasi finansial secara tidak langsung akan kurang dihargai guna meningkatkan prestasi kerja pegawai, dan dapat diketahui bahwa 10,00% menjawab sangat setuju, 35,00% mejawab setuju, 51,67% menjawab netral, 3,33% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju.
2. Distribusi Jawaban Responden terhadap Variabel Motivasi Kerja (X2)
Tabel 4.5 Distribusi Penilaian Responden terhadap Variabel X2
Item SS S N TS STS Total Total
Responden f % f % f % F % f % % 1 7 11,67 26 43,33 27 45,00 0 0 0 0 100 60 2 18 30,00 35 58,33 7 11,67 0 0 0 0 100 60 3 17 28,33 39 65,00 3 5,00 1 1,67 0 0 100 60 4 8 13,33 30 50,00 21 35,00 1 1,67 0 0 100 60 5 8 13,33 33 55,00 18 30,00 1 1,67 0 0 100 60 Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa:
a. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 1 yaitu mengenai faktor utama yang menjadi motivasi kerja pegawai adalah gaji, bonus, dan berbagai tunjangan yang menggiurkan, dan diketahui bahwa 11,67% menjawab sangat seteju, 43,33% menjawab seteju, 45% menjawab netral, dan 0% menjawab tidak seteju dan sangat tidak setuju.
b. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 2 yaitu mengenai setiap pegawai bukan hanya membutuhkan motivasi dalam bentuk finansial saja tetapi juga dalam bentuk nonfinasial, dan diketahui bahwa 30% menjawab sangat setuju, 58,33% mejawab setuju, 11,67% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
c. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 3 yaitu mengenai motivasi kerja sangat dibutuhkkan guna meningkatkan prestasi kerja pegawai, dan dapat diketahui bahwa 28,33% menjawab sangat setuju, 65% mejawab setuju, 11,67% menjawab netral, serta 0% menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
d. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 4 yaitu mengenai karyawan yang memiliki prestasi kerja yang rendah akan dianggap apabila tidak memperoleh motivasi untuk setiap kinerjanya, dan dapat diketahui bahwa 13,33% menjawab sangat setuju, 50% mejawab setuju, 35% menjawab netral, 1,67% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju. e. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 5 yaitu mengenai
motivasi kerja akan dianggap sebagai sebuah solusi untuk meningkatkan prestasi kerja pegawai dalam organisasi, dan dapat diketahui bahwa 13,33% menjawab sangat setuju, 55% mejawab setuju, 30% menjawab netral, 1,67% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju.
3. Distribusi Jawaban Responden terhadap Variabel Lingkungan Kerja (X3)
Tabel 4.6 Distribusi Penilaian Responden terhadap Variabel X3
Item SS S N TS STS Total Total
Responden f % f % f % F % f % % 1 29 48,33 28 46,67 3 5,00 0 0 0 0 100 60 2 15 25,00 28 46,67 17 28,33 0 0 0 0 100 60 3 25 41,67 31 51,67 4 6,67 0 0 0 0 100 60 4 21 35,00 30 50,00 9 15,00 0 0 0 0 100 60 5 12 20,00 43 71,67 5 8,33 0 0 0 0 100 60 Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa:
a. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 1 yaitu mengenai lingkungan kerja yang nyaman merupakan harapan pegawai dalam meningkatkan prestasi kerjanya, dan diketahui bahwa 48,33% menjawab
sangat seteju, 46,67% menjawab seteju, 5% menjawab netral, 0% menjawab tidak seteju dan sangat tidak setuju.
b. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 2 yaitu mengenai lingkungan kerja merupakan salah satu ukuran penting yang dapat menentukan prestasi kerja pegawai, dan diketahui bahwa 25% menjawab sangat setuju, 46,67% mejawab setuju, 28,33% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
c. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 3 yaitu mengenai lingkungan kerja yang nyaman dan bersih memudahkan pegawai tersebut menyelesaikan pekerjaannya, dan dapat diketahui bahwa 41,67% menjawab sangat setuju, 51,67% mejawab setuju, 6,67% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
d. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 4 yaitu mengenai serang pemimpin yang mampu memberikan atmosfer di dalam ruangan tersebut, dan dapat diketahui bahwa 35% menjawab sangat setuju, 50% mejawab setuju, 15% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
e. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 5 yaitu mengenai fasilitas-fasilitas perusahaan yang tidak bersih membuat pegawai merasa tidak nyaman dalam bekerja sehingga tidak dapat menghasilkan pekerjaan sesuai standar organisasi, dan dapat diketahui bahwa 20% menjawab sangat setuju, 71,67% mejawab setuju, 8,33% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
4. Distribusi Jawaban Responden terhadap Variabel Gaya Kepemimpinan (X4)
Tabel 4.7 Distribusi Penilaian Responden terhadap Variabel X4
Item SS S N TS STS Total Total
Responden f % f % f % F % f % % 1 21 35,00 34 56,67 5 8,33 0 0 0 0 100 60 2 12 20,00 26 43,33 20 33,33 2 3,33 0 0 100 60 3 9 15,00 39 65,00 11 18,33 1 1,67 0 0 100 60 4 18 30,00 36 60,00 6 10,00 0 0 0 0 100 60 5 9 15,00 34 56,67 17 28,33 0 0 0 0 100 60 Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa:
a. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 1 yaitu mengenai pemimpin yang cerdas dan bijaksana adalah pemimpin yang memberikan sugesti dengan baik guna meningkatkan prestasi kerja pegawainya, dan diketahui bahwa 35% menjawab sangat seteju, 56,67% menjawab seteju, 8,33% menjawab netral, 0% menjawab tidak seteju dan sangat tidak setuju. b. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 2 yaitu mengenai
gaya kepemimpinan yang otoriter akan menekan kemapuan pegawai, dan diketahui bahwa 20% menjawab sangat setuju, 43,33% mejawab setuju, 33,33% menjawab netral, 3,33% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju.
c. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 3 yaitu mengenai gaya kepemimpinan yang demokratis merupakan ukuran mutlak untuk meningkatkan kinerja pegawai, dan dapat diketahui bahwa 15% menjawab sangat setuju, 65% mejawab setuju, 18,33% menjawab netral, 1,67% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju.
d. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 4 yaitu mengenai arahan yang diberikan oleh pemimpin bijaksana dapat meningkatkan kinerja pegawainya, dan dapat diketahui bahwa 30% menjawab sangat setuju, 60% mejawab setuju, 10% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
e. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 5 yaitu mengenai apakah kesuksesan seorang pemimpin tergantung dari bagaimana dia mampu melahirkan pegawai yang berprestasi, dan dapat diketahui bahwa 15% menjawab sangat setuju, 56,,67% mejawab setuju, 28,33% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
5. Distribusi Jawaban Responden terhadap Variabel Prestasi Kerja Pegawai (Y)
Tabel 4.8 Distribusi Penilaian Responden terhadap Variabel Y
Item SS S N TS STS Total Total
Responden f % f % f % F % f % % 1 20 33,33 30 50,00 10 16,67 0 0 0 0 100 60 2 15 25,00 33 55,00 12 20,00 0 0 0 0 100 60 3 13 21,67 33 55,00 14 23,33 0 0 0 0 100 60 4 20 33,34 34 56,67 6 10,00 0 0 0 0 100 60 5 12 20,00 28 46,67 20 33,33 0 0 0 0 100 60 Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa:
a. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 1 yaitu mengenai apakah pegawai yang memiliki kinerja yang baik sangat layak diberikan kompensasi finansial, dan diketahui bahwa 33,33% menjawab sangat seteju,
50% menjawab seteju, 16,67% menjawab netral, dan 0% menjawab tidak seteju dan sangat tidak setuju.
b. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 2 yaitu mengenai prestasi kerja merupakan faktor utama yang menentukan loyalitas pegawai, dan diketahui bahwa 25% menjawab sangat setuju, 55% mejawab setuju, 20% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju. c. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 3 yaitu mengenai
pemberian apresiasi untuk kinerja pegawai dapat meningkatkan prestasi kerja pegawai tersebut, dan dapat diketahui bahwa 21,67% menjawab sangat setuju, 55% mejawab setuju, 23,33% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
d. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 4 yaitu mengenai setiap pegawai akan memberikan prestasi kerja yang baik apabila mereka diberikan motivasi yang cukup, lingkungan kerja yang baik, dan pemimpin yang bijaksana, dan dapat diketahui bahwa 33,34% menjawab sangat setuju, 56,67% mejawab setuju, 10% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
e. Freskuensi responden sampel terhadap pertanyaan (item) 5 yaitu mengenai pemimpin yang bertanggung jawab penuh atas kinerja pegawainya, dan dapat diketahui bahwa 20% menjawab sangat setuju, 46,67% mejawab setuju, 33,33% menjawab netral, 0% menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
4.3 Uji Kualitas Data 4.3.1 Uji Validitas
Data penelitian yang telah terkumpul kemudian diolah untuk menguji kualitas data berupa uji validitas dan reliabilitas. Dari hasil uji validitas yang dilakukan dengan bantuan program SPSS menunjukkan bahwa koefisien korelasi
pearson moment untuk setiap item butir pernyataan dengan skor total variabel prestasi kerja (Y), kompensasi finansial (X1), motivasi kerja (X2), lingkungan kerja (X3), dan gaya kepemimpinan (X4) signifikan pada tingkat signifikansi 0,01 dan 0,05. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa setiap item indikator instrumen untuk kualitas audit tersebut valid. Secara ringkas hasil uji validitas variabel dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas Instrumen No.
Item
Koefisien Korelasi Butir Total Keterangan Kompensasi Finansial Motivasi Kerja Lingkungan Kerja Gaya Kepemimpinan Prestasi Kerja 1. 0,590 0,319 0,667 0,714 0,732 Valid 2. 0,777 0,550 0,798 0,701 0,673 Valid 3. 0,790 0,745 0,804 0,723 0,763 Valid 4. 0,663 0,603 0,718 0,815 0,750 Valid 5. 0,710 0,527 0,617 0,751 0,779 Valid
4.3.2 Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan uji One Shot, artinya satu kali pengukuran saja dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lainnya atau dengan kata lain mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Hasil perhitungan uji reliabilitas menunjukkan bahwa nilai Cronbach Alpha (α) untuk masing-masing variabel adalah lebih besar dari 0,60, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa item-item instrumen untuk masing-masing variabel adalah reliabel. Hasil uji reliabilitas secara rinci ditampilkan dalam tabel berikut ini.
Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Cronbach's Alpha
Based on Standardized Items N of Items Kompensasi Finansial 0,748 5 Motivasi Kerja 0,625 5 Lingkungan Kerja 0,770 5 Gaya Kepemimpinan 0,792 5 Prestasi Kerja 0,792 5
Sumber: Data Primer, olah data penulis, 2015
4.4 Uji Asumsi Klasik 4.4.1 Uji Normalitas
Normalitas data merupakan hal yang sangat penting karena dengan data yang terdistribusi normal, maka data tersebut dianggap dapat mewakili populasi (Priyatno, 2014:69). Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari hasil observasi berdistribusi normal atau tidak, sehingga data tersebut dapat digunakan atau tidak dalam model regresi. Ada dua cara yang dapat
digunakan untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi secara normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Pada penelitian ini digunakan kedua cara tersebut.
Salah satu cara untuk melihat normalitas adalah dengan melihat grafik histogram dan grafik normal plot yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal.
Kriteria pengambilan keputusan:
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi klasik.
b. Jika data tidak menyebar di sekitar garis diagonal dan/tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi klasik.
Gambar 4.1 Histograam
Sumber: Data Primer, hasil Pengolahan SPSS, 2015
Gambar 4.1 di atas, histogram memperlihatkan bahwa variabel penelitian telah terdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan dengan adanya grafik distribusi data yang melengkung, tidak melenceng ke kanan maupun ke kiri.
Gambar 4.2 Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Sumber: Data Primer, hasil Pengolahan SPSS, 2015
Pada gambar 4.2 di atas menunjukkan bahwa data meyebar disekitar garis diagonal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Untuk lebih memastikan apakah data disepanjang garis diagonal berdistribusi normal maka akan dilakukan uji Kolmogrov-Smirnov (One Sampel KS) dengan melihat data residual apakah berdistribusi normal.
Cara untuk menentukan kriteria keputusan:
a. Jika nilai Asymp.Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 maka data tidak mengalamai gangguaan distribusi normal.
b. Jika nilai Asymp.Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 maka data mengalamai gangguaan distribusi normal.
Tabel 4.11 Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Predicted Value
N 60
Normal Parametersa,b Mean 20.3000000
Std. Deviation 1.77389751
Most Extreme Differences Absolute .116
Positive .116
Negative -.084
Kolmogorov-Smirnov Z .900
Asymp. Sig. (2-tailed) .392
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Sumber: Data Primer, hasil Pengolahan SPSS, 2015
Pada tabel 4.11 terlihat nilai Asymp.Sig. (2-tailed) adalah 0,334. Nilai ini menunjukkan bahwa variabel penelitian residual telah berdistribusi normal. Hal ini dapat dilihat melalui perbandingan Asymp.Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0.05.
4.4.2 Uji Multikolinearitas
Menurut Priyatno (2014), multikolinearitas artinya antarvariabel independen yang terdapat dalam model regresi memiliki hubungan linear yang
sempurna atau mendekati sempurna (koefisien kolerasinya tinggi atau bahkan bernilai 1). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi sempurna atau mendekati sempurna di antara variabel bebasnya. Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien kolerasi tidak tertentu dan kesalahan menjadi sangat besar. Jelas sekali bahwa, uji ini bertujuan untuk menguji apakah ada atau tidaknya kolerasi antara variabel independen. Hasil uji multikolinieritas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.12 Uji Multikolinearitas
Variabel Independen Collinearity Statistics Keputusan
Tolerance VIF
Kompensasi Finansial
0,781 1,280 Tidak ada multikolinearitas Motivasi Kerja
0,923 1,083 Tidak ada multikolinearitas Lingkungan Kerja
0,661 1,514 Tidak ada multikolinearitas Gaya Kepemimpinan
0,711 1,406 Tidak ada multikolinearitas Sumber: Data Primer, hasil Pengolahan SPSS, 2015
Pada tabel 4.12 menjelaskan tentang besarnya tolerance dan VIF untuk masing-masing variabel independen. Semua variabel independen menunjukkan nilai tolerance lebih besar dari 0,1 dan VIF lebih kecil dari 10. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya masalah multikolinearitas.
4.4.3 Uji Heterokedastisitas
Heterokedastisitas adalah varian residual yang tidak sama pada semua pengamatan di dalam model regresi. Regresi yang baik seharusnya tidak terjadi heterokedastisitas (Priyatno, 2014:108). Heterokedastisitas terjadi karena perubahan situasi yang tidak tergambarkan dalam sprsifikasi model regresi. Dengan kata lain, heterokedastisitas terjadi jika residual tidak memiliki varian yang konstan.
Pada penelitian ini digunakan metode garfik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang tidak diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Ghozali, 2005:105). Pemeriksaan terhadap gejala heterokedastisitas adalah dengan melihat pola diagram pencar (scatter plot) yaitu selisih antara nilai Y prediksi dan Y observasi.
Hipotesis:
1. Jika diagram pencar yang ada membentuk pola-pola tertentu teratur maka regresi mengalami gangguan heterokedastisitas.
2. Jika diagram tidak membentuk pola yang acak maka regresi tidak mengalami gangguan heterokedastisitas.
Gambar 4.3 Scatterplot Dependent Variable Sumber: Data Primer, hasil Pengolahan SPSS, 2015
Berdasarkan gambar 4.3 dapat dilihat bahwa diagram pencar tidak membentu suatu pola tertentu, sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak mengalami gangguan heterokedastisitas.