• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

3.6. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh melalui alat bantu kuesioner dilakukan pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Editing (pemeriksaan data), pada tahap ini peneliti akan melakukan pemeriksaan kembali data yang telah dikumpulkan untuk menghindari kesalahan dan menjamin data sudah lengkap dan benar.

2. Coding (pemberian kode), pada tahap ini peneliti memberi tanda atau kode tertentu terhadap data yang telah diperbaiki untuk mempermudah pengolahan data.

3. Data Entry (pemasukan data), pada tahap ini dimasukkan data ke dalam file data komputer untuk kemudian di analisa menggunakan program yang digunakan.

4. Cleaning (evaluasi data), pada tahap ini peneliti mengevaluasi kembali data yang telah disusun untuk menghindari kesalahan dalam pengumpulan data.

5. Saving, pada tahap ini data disimpan dan siap dilakukan analisis data.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 HASIL PENELITIAN

4.1.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan secara online dengan mengunakan kuesioner online dengan menggunakan google form yang disebarkan kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran USU angkatan 2018 dengan menggunakan sosial media berupa Whatsapp dan Line. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober. Sejumlah 72 orang yang berpartisipasi dalam penelitian ini.

4.1.2 KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN

Dari pengumpulan responden dengan menggunakan kuesioner online, penulis mengumpulkan 72 respoden yang berpartisipasi dalam penelitian ini.

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2018. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi responden berdasarkan diagnosis rinitis alergi.

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan diagnosis rinitis alergi.

Diagnosis Rinitis Alergi n %

Mahasiswa Bukan Penderita Rinitis Alergi

34 47,2%

Mahasiswa Penderita Rinitis Alergi

38 52,8%

Total 72 72 (100%)

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden dibagi atas dua kelompok dimana ada kelompok mahasiswa penderita rinitis alergi berjumlah 38 orang (52,8%) dan ada yang kelompok mahasiswa bukan penderita rinitis alergi berjumlah 34 orang (47,2%).

Tabel 4.2 Distribusi rinitis alergi berdasarkan jenis kelamin.

Dari tabel 4.2 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa presentasi penderita rinitis alergi perempuan lebih besar yaitu dengan jumlah 20 orang (45,5%), sedangkan laki-laki sebesar 18 orang (64,3%). Sementara presentasi bukan penderita rinitis alergi, perempuan sebanyak 24 orang (54,5%) dan laki-laki sebanyak 10 orang (35,7%).

Tabel 4.3 Distribusi rinitis alergi berdasarkan riwayat keluarga.

Riwayat Keluarga Mahasiswa Bukan Penderita Rinitis

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat dilihat bahwa distribusi riwayat penyakit keluarga sebanyak 29 responden (40,3%) dengan 24 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi. Sejumlah 43 responden (59,7%) tanpa riwayat penyakit keluarga dengan 14 orang penderita rinitis alergi dan 29 bukan penderita rinitis alergi.

Tabel 4.4 Distribusi rinitis alergi berdasarkan gejala klinis rinitis.

Gejala Klinis

Hidung gatal &

Dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa gejala klinis yang paling sering dialami oleh responden adalah gejala bersin, hidung berair, hidung tersumbat, hidung gatal

& mata berair dengan sejumlah 17 responden (23,5%) yang terdiri dari 12 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi. Selanjutnya diikuti dengan gejala bersin-bersin sebanyak 13 orang responden (18,1%) yang terdiri dari 5 orang penderita rinitis alergi dan 8 orang bukan penderita rinitis alergi. Gejala

bersin, hidung berair & hidung tersumbat sebanyak 10 (13,8%) yang terdiri 5 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi.

Tabel 4.5 Distribusi rinitis alergi berdasarkan riwayat penyakit atopik lainnya.

Riwayat Penyakit

Dari tabel 4.5 dapat dilihat bahwa distribusi riwayat penyakit atopik lainnya terbanyak adalah rinitis alergi sebanyak 13 responden (18,1%) dengan 8 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi. Riwayat keluarga atopik selanjutnya adalah asma dengan jumlah 11 orang (15,3%) dengan 6 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi. Riwayat keluarga asma dan rinitis alergi berjumlah 4 orang (5,5%) yaitu responden penderita rinitis alergi. Riwayat keluarga ekzema berjumlah 2 orang (2,8%) dengan 1 orang penderita rinitis alergi dan 1 orang bukan penderita rinitis alergi. Riwayat keluarga ekzema dan rinitis alergi berjumlah 1 orang (1,4%) yaitu responden penderita rinitis alergi. Sejumlah 40 responden (55,5%) tanpa riwayat penyakit atopik dengan 18 orang penderita rinitis alergi dan 22 bukan penderita rinitis alergi.

Tabel 4.6 Distribusi responden berdasarkan kualitas hidup.

Kualitas Hidup n %

Buruk 20 27,8%

Baik 52 72,2%

Total 72 100%

Dari tabel 4.6 menunjukkan bahwa responden dengan kualitas hidup baik 52 orang (72,2%) dan kualitas hidup buruk sejumlah 20 orang (27,8%).

Tabel 4.7 Distribusi responden rinitis alergi berdasarkan kualitas hidup. Kualitas Hidup Mahasiswa bukan

penderita rinitis

Dari tabel 4.7 distribusi responden dengan kualitas hidup baik menunjukkan bahwa 52 orang (72,2%) dengan 21 orang penderita rinitis alergi dan 31 orang bukan penderita rinitis alergi. Sementara responden dengan kualitas hidup buruk berjumlah 20 orang (27,8%) dengan 17 orang penderita rinitis alergi dan 3 orang bukan penderita rinitis alergi.

4.1.3 Tabulasi Silang Antara Penyakit Rinitis Alergi Dengan Kualitas Hidup

Pada penelitian ini terdapat 2 kuesioner yaitu kuesioner SFAR untuk diagnosis rinitis alergi dan SF-36 untuk menilai kualitas hidup responden. Dari hasil penelitian diperoleh sebagai berikut:

Tabel 4.8 Tabulasi Silang Rinitis Alergi dengan Kualitas Hidup.

Kualitas Hidup P value

Buruk Baik

Dari tabel 4.8 tersebut dapat diketahui bahwa nilai p (p value) sebesar 0,001 (p<0,005) yang berarti terdapat hubungan rinitis alergi dengan kualitas hidup penderitanya.

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Distribusi Frekuensi Rinitis Alergi Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada penelian ini, jumlah responden adalah 72 orang dimana 38 orang (52,8%) menderita rinitis alergi dan diantaranya 20 orang (45,5%) jenis kelamin perempuan dan 18 orang (64,3%) jenis kelamin laki-laki. Hasil menunjukkan bahwa kejadian rinitis alergi lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Menurut penelitian yang telah dilakukan di RSUP DR. M.

Djamil Padang oleh Adila (2017) juga didapatkan hasil bahwa lebih banyak penderita rinitis alergi berjenis kelamin perempuan (77,6%) dibanding laki-laki (22,4%). Didapatkan bukti adanya peranan faktor hormonal pada perempuan terhadap rinitis alergi. Tingkat estrogen pada fase menstruasi berhubungan dengan hiperaktivitas mukosa hidung terhadap histamin. Hormon estrogen juga menstimulasi produksi sitokin T Helper 2 (Th2) dan meregulasi distribusi eosinofil pada uji paparan alergen pada tikus. Oleh sebab itu, hormon seks perempuan berhubungan erat dengan timbulnya respon antibodi terhadap alergen dan antigen (Sigarlaki, 2017).

4.2.2 Distribusi Frekuensi Rinitis Alergi Berdasarkan Riwayat Keluarga Faktor genetik sangat menentukan seseorang menderita atopik atau tidak.

Dold et all menyatakan bahwa atopik orang tua menentukan besarnya risiko anaknya untuk menderita penyakit alergi yang sama. Peneliti ini juga menyebutkan bahwa prevalensi asma pada anak yang tidak memiliki riwayat alergi pada kedua orang tuanya sebesar 6%, sedangkan pada anak yang memiliki riwayat alergi pada kedua orang tuanya didapatkan peningkatan lebih dari dua kali lipat atau sebesar 16%. Studi kohort menunjukkan bahwa bila salah satu orang tua mengidap alergi, kemungkinan anaknya untuk menderita alergi sebesar 33%. Bila kedua orang tua mengidap alergi, kemungkinan anaknya untuk menderita alergi sebesar 70%. Manifestasi klinis penyakit alergi atopik dapat dianggap sebagai perwujudan adanya bakat genetik atopik pada individu yang bersangkutan (Ludfi,2012).

Adanya riwayat atopik keluarga akan meningkatkan risiko terjadinya rinitis alergi. Hal ini dikarenakan jika seseorang memiliki riwayat atopik maka akan

terdapat kecenderungan untuk lebih peka dan memicu komponen genetik yang diwariskan atau diturunkan untuk memberikan reaksi berupa penghasilan antibodi IgE sebagai respon terhadap suatu alergen tertentu. Tidak adanya atopik keluarga bisa saja terjadi apabila penderita terpapar alergen pada usia kurang dari satu tahun atau memiliki faktor risiko lainnya (Nadira, 2020).

4.2.3 Distribusi Frekuensi Rinitis Alergi Berdasarkan Gejala Klinis Rinitis Michael S. Blaiss et all pada tahun 2018, yang menyatakan bahwa gejala rinitis alergi seperti hidung berair, hidung tersumbat, bersin, serta mata terasa gatal dan berair adalah gejala yang paling mengganggu pada remaja. Namun, prevalensi gejala bisa saja bervariasi antara beberapa penelitian. Bersin-bersin pada penderita rinitis alergi disebabkan oleh histamin yang mengiritasi saraf sensorik nervus trigeminus pada mukosa nasal dan selanjutnya akan mentransmisikan pusat bersin yaitu medula oblongata sehingga terjadilah refleks bersin. Selain itu, histamin juga akan secara langsung menuju pembuluh darah mukosa dan menyebabkan vasodilatasi, merangsang sekresi mukus sehingga terjadi hidung berair. Penyumbatan pada hidung disebabkan oleh histamin, triptase kimase, prostaglandin 2, leukotrien yang menyebabkan kebocoran plasma dan terjadinya edema interstisial. Mata gatal dan berair disebabkan adanya refleks nasolakrimal yang terjadi ketika serat saraf nosiseptif terstimulasi, rangsangan ini akan diteruskan oleh nervus trigeminus menuju nuclei salivatorius superior dan menyebabkan hiperlakrimasi. Selain itu antibodi mukosa, IgE dapat ditemukan di mata, hidung dan saluran pernapasan bagian bawah oleh karena itu hal ini merupakan kondisi komorbid umum dari rinitis alergi (Nadira, 2020).

4.2.4 Distribusi Frekuensi Rinitis Alergi Berdasarkan Riwayat Penyakit Atopik Lainnya

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa komorbid pentakit atopik lain sedikit berpegaruh terhadap peningkatan penyakit rinitis alergi. Hal ini sedikit berbeda dengan penelitian Yuksel (2008) di Perancis yang mengatakan bahwa penyakit komorbid atopik lain (ekzema) meningkatkan resiko rinitis alergi (Yuksel, 2008). Hal ini karena adanya kesamaan dasar genetik dari beberapa

penyakit atopik yang memberikan keadaan klinis berbeda dalam waktu yang berbeda dalam kurun kehidupan. Regio gen pada 11p14, 5p13, 17q21 dan 5p15 memiliki hubungan yang sama dengan beberapa penyakit atopik seperti ekzema dan penyakit alergi lainnya (Nurjannah, 2011).

4.2.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Kualitas Hidup

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden dengan kualitas hidup baik sejumlah 52 orang (72,2%) dan kualitas hidup buruk sejumlah 20 orang (27,8%). Penelitian ini secara keseluruhan terdapat 38 orang yang menderita rinitis alergi dan 34 orang yang tidak menderita rinitis alergi. Dari 38 orang menderita rinitis alergi didapat 17 orang kualitas hidupnya buruk dan 21 orang kualitas hidupnya baik, sedangkan dari 34 orang tidak menderita rinitis alergi didapat 3 orang kualitas hidupnya buruk dan 31 orang kualitas hidupnya baik.

Penilaian untuk setiap pertanyaan pada kuesioner SF-36 dapat dengan menggunakan metode RAND. Untuk menilainya dilakukan recoding pada setiap pertanyaan dimana nilai yang tinggi menunjukkan keadaan yang lebih baik. Perhitungan skor kualitas hidup tersebut dilakukan secara perhitungan manual. Untuk pertanyaan yang memiliki 2 kategori jawaban diberi kode 0 dan 100, untuk pertanyaan yang memiliki 3 kategori jawaban dikode 0, 50 dan 100, untuk pertanyaan yang memiliki 5 kategori jawaban diberikan kode 0, 25, 50, 75 dan 100, sedangkan untuk pertanyaan yang memiliki 6 kategori jawaban diberikan kode 0, 20, 40, 60, 80 dan 100. Kemudian nilai kode untuk pertanyaan-pertanyaan yang memiliki skala yang sama dijumlahkan kemudian dirata-ratakan.

4.2.6 Kualitas Hidup Penderita dan Bukan Penderita Rinitis Alergi

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan rinitis alergi dengan kualitas hidup penderitanya. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan nilai p (p value) sebesar 0,001 (p<0,005). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara rinitis alergi dengan kualitas hidup penderita pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Novian (2016) dimana nilai p (p value) sebesar 0,022 (p<0,05) menyatakan bahwa ada perbedaan yang

bermakna pada skor kualitas hidup antara kelompok rinitis alergi positif dengan kelompok rinitis alergi negatif. Pada penelitian sebelumnya mengatakan hasil yang sama terdapat pengaruh kualitas hidup antara kelompok rinitis alergi dan kelompok bukan rinitis alergi. Beberapa studi menyatakan alasan mengenai lebih buruknya kualitas hidup penderita rinitis alergi daripada bukan penderita rinitis alergi (Meltzer, 1997 ; Bousquet, 1994). Secara umum, pasien merasa terganggu terutama oleh gejala yang ditimbulkan pada hidung (sumbatan pada hidung, rhinorrhea dan bersin). Mereka merasakan ketidaknyamanan membawa tidu atau sarung tangan ke mana-mana, kebutuhan untuk menyeka hidung atau mata, dan mengeluarkan cairan dari hidung terus menerus. Mereka juga terganggu dengan tidak bisa tidur nyenyak pada malam hari dan sering menjadi kelelahan, mudah tersinggung, gangguan memori, dan mengantuk di siang hari.

Mereka mengalami keterbatasan dalam kegiatan sehari-hari, yang membuat mereka frustrasi dan terganggu (Camelo-Nunes dan Sole, 2010).

Penelitian ini dilakukan uji hipotesis dengan metode Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0,05 (α=5%) diperoleh nilai p (p value) sebesar 0,001 (p<0,05) yang berarti hasilnya signifikan. Oleh karena itu, hipotesis Ho ditolak.

Hal tersebut bahwa ada hubungan antara penyakit rinitis alergi dengan kualitas hidup pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan data dan analisis hasil penelitian serta dari pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa :

1. Jumlah penderita rinitis alergi dari 73 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2018 sebanyak 38 mahasiswa menderita rinitis alergi.

2. Jumlah penderita rinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2018 berdasarkan jenis kelamin lebih tinggi pada perempuan yaitu 20 orang (52,6%).

3. Jumlah penderita rinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2018 berdasarkan riwayat keluarga sebanyak 24 orang (63,2%).

4. Gejala klinis rinitis alergi yang paling sering dialami pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2018 adalah gejala bersin, hidung berair, hidung tersumbat, hidung gatal & mata berair dengan sejumlah 17 responden (23,5%) yang terdiri dari 12 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi.

5. Jumlah penderita rinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2018 berdasarkan penyakit atopik yaitu rinitis alergi sebanyak 13 responden (18,1%) dengan 8 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi dan diikuti oleh asma dengan jumlah 11 orang (15,3%) dengan 6 orang penderita rinitis alergi dan 5 orang bukan penderita rinitis alergi.

6. Terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit rinitis alergi dengan kualitas hidup mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2018 dengan nilai p (p value) sebesar 0,001 (p<0,05), sehingga hipotesa nol (Ho) ditolak.

5.2 SARAN

Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan :

1. Bagi penderita rinitis alergi disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar mendapatkan tatalaksana yang tepat.

2. Perlu meningkatkan promosi kesehatan mengenai penyakit rinitis alergi yang dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya oleh tenaga kesehatan.

3. Bagi penelitian selanjutnya disarankan cara melakukan penelitian tidak hanya dengan menggunakan kuesioner, namun dengan menggunakan metode diagnosis yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Akdis, C. A. 2015, The Underlying Mechanisms in Allergic Rhinitis. Dalam C.

Akdis, P. Hellings, & I. Agace, Global Atlas of Allergic Rhinitis and Rhinosinusitis (hal. 24-26). Zurich: European Academy of Allergy and Clinical Immunology.

Ayu Betty. 2020, Perbedaan kualitas hidup penderita dan bukan penderita rinitis alergi dengan mengunakan kuesioner SFAR sebagai uji diagnosis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2020, Medan.

Blaiss MS, Hammerby E, Robinson S, Kennedy-Martin T, Buchs S. The Burden Of Allergic Rhinitis And Allergic Rhinoconjunctivitis On Adolescents: A Literature Review. Ann Allergy, Asthma Immunol [Internet].

2018;121(1):43-52.e3. Available from :

https://doi.org/10.1016/j.anai.2018.03.028

Bousquet, J., Khaltaev, N., Cruz, A., Denburg, J., Fokkens, W., Togias, A., et al.

2008 ‘Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) 2008 Update.

Allergy , 63 (Suppl. 86), 8-160.

Brożek, J.L., Bousquet, J., Agache, I., Agarwal, A., Bachert, C., et al. 2017,

‘Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) guidelines—2016 revision’, Journal of Allergy and Clinical Immunology, 140(4), pp.950-958.

Centers for Disease Control and Prevention. 2000. Measuring healthy days.Population Assessment of Health-Related Quality of Life:1-40.

Cordier, R., Brown, T., Clemson, L., & Byles, J. 2018. Evaluating the longitudinal item and category stability of the SF-36 full and summary scales using rasch analysis. BioMed Research International, 2018.

https://doi.org/10.1155/2018/1013453

Cristina Camelo-Nunes, I. and Solé, D. 2010 Allergic rhinitis: indicators of quality of life* Rinite alérgica: indicadores de qualidade de vida, J Bras Pneumol.

David, Sigarlaki. 2017.Perbedaan Kualitas Hidup Penderita dan Bukan Penderita Rinitis Alergi Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Tahun 2016.

Depkes. (2008). Sistem Kesehatan Nasional. Diakses dari www.pppl.depkes.go.id tanggal 1 November 2018.

Dian Ayu Juwita, Almahdy, R. A. 2018. Pengaruh Karakteristik Pasien Terhadap Kualitas Hidup Terkait Kesehatan pada Pasien Kanker Payudara di RSUP Dr. M. Djamil Padang, 5(2), 126–133.

Elvina M. 2011. Skoring kualitas hidup ibu post partum berdasarkan faktor faktor demografi ibu yang diukur dengan kuesioner short form-36 [tesis]. Medan:

Universitas Sumatera Utara.

Fauzi, Sudiro M, Lestari BW. Prevalence of Allergic Rhinitis based on World Health Organization (ARIA- WHO) questionnaire among Batch 2010 Students of the Faculty of 16. Medicine Universitas Padjadjaran. Althea Med J. 2016;2(4). doi:10.15850/amj.v2n4.658

Gentile, D. 2013. “Current and Future Directions in Pediatric Allergic Rhinitis,”

Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, 1(3), pp. 214–

226. doi: 10.1016/j.jaip.2013.03.012.

George, L. 2013. Boies : Buku ajar Penyakit THT. Caroline Wijaya, alih bahasa.

Harjanto Effendi, editor. Edisi 6. Jakarta : EGC. 194-19

Greiner, A. N., Hellings, P. W., Rotiroti, G., & Scadding, G. K. 2011. Allergic rhinitis. The Lancet, 378(9809), 2112–2122.doi:10.1016/s0140 6736(11)60130-x

Hauswald, B., Dill, C., Boxberger, J., Kuhlisch, E., Zahnert, T., Yarin, Y.M. 2014.

The Effectiveness of Acupuncture Compared to Loratadine in Patients Allergic to House Dust Mites. Journal of Allergy Vol. 2014(5). Pp. 1-7.

Hutasoit AS. 2001. Kualitas hidup penderita nyeri kepala tipe tegang episodic dan kronik di poliklinik saraf RSUP dr.kariadi semarang [tesis]. Medan:

Universitas Sumatera Utara.

Irawati, Nina & Nikmah Rusmono. 2017. ‘Rinitis Alergi’ in Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ketujuh.

Jakarta : FKUI

Jimenez, R., Romero, P., Martinez, J. L. M. T., 2012 ‘Allergic Rhinitis. ISSN : 2155-6121 JAT.

Junaedi, I. 2015. Prevalensi rinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara pada tahun ajaran 2014/2015.

Khairani, A. 2017.Hubungan Derajat Rinitis Alergi dengan Hasil Skin Prick Tes Terhadap Tungau Debu Rumah. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Kholid, Y. 2013, Prevalensi dan faktor risiko kejadian rinitis alergi pada usia 13- 14 tahun di Ciputat Timur dengan menggunakan kuesioner International Study of Asthma and Allergy in Childhood (ISAAC) Tahun 2013, Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah, Jakarta.

Korabelnikova Alexey B Danilov Andrey B Danilov Yulia D Vorobyeva Nina V Latysheva Ada R Artemenko, E. A. 2017. “Sleep Disorders and Headache:

A Review of Correlation and Mutual Influence,” Pain and Therapy. doi:

10.6084/m9.figshare.12446018.

Lins, L., & Carvalho, F. M. 2016. SF-36 total score as a single measure of health-related quality of life: Scoping review. SAGE Open Medicine, 4, 205031211667172. https://doi.org/10.1177/2050312116671725

Lumantow, I., Rompas, S., & Onibala, F. 2016. Hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada remaja di Desa Tombasian Atas Kecamatan Kawangkoan Barat. E-Journal Keperawatan, 4(1), 1–6.

Meltzer EO, Diego S. 2011. Quality of life in adults and children with allergicrhinitis. J.Allergy Clin. Immunol.108(1):45-53.

Meltzer EO, Nathan RA, Selner JC, Storms W. 1997. Quality of life and rhinitic symptoms : results of a nationwide survey with the SF-36 and RQLQ questionnaires. J. Allergy Clin. Immunol.99(6):815-19

Mollayeva, T. et al. 2016. “The Pittsburgh sleep quality index as a screening tool for sleep dysfunction in clinical and non-clinical samples: A systematic review and meta-analysis,” Sleep Medicine Reviews. W.B. Saunders Ltd, pp. 52–73. doi: 10.1016/j.smrv.2015.01.009.

Nadira, Alya. 2020. Hubungan Rinitis Alergi dengan Depresi Pada Siswa Pondok Pesantren Darul Ulum Banda Aceh.

Novian, Maya. 2016. Hubungan Rinitis Alergi Dengan Kualitas Hidup Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Nurhutami, A. D. Suprihati, S., Marliyawati, D., & Dewi, A. M. K. 2020.

Diponegoro medical journal. 9, 127–134.

Nurjannah. 2011. Faktor risiko rinitis alergi pada pasien rawat jalan di poliklinik THT- KL rumah sakit umum daerah zainoel abidin (RSUDZA) banda aceh tahun 2011. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala.11(2):60-5.

Okubo, K., Kurono, Y., Fujieda, S., Ogino, S., Uchio, E. et al. 2011. Japanese Guideline for Allergic Rhinitis, Allergology International. Available at:www.jsaweb.jp!

Okubo, K., Kurono, Y., Fujieda, S., Ogino, S., Uchio, E., et al. H. 2014. Japanese Guideline for Allergic Rhinitis 2014. Allergology International, 63(3), 357–

375. doi:10.2332/allergolint.14-rai-0768

Rand Health. 1992. Medical outcomes study:36-item short form survey scoring instructions:91-7.

Salim S. 2015. Validitas dan reliabilitas kuesioner kualitas hidup SF-36 dan aquarel berbahasa indonesia pada pasien dengan pacu jantung permanen [tesis].

Jakarta: Universitas Indonesia.

Seidman, M. D., Gurgel, R. K., Lin, S. Y., Schwartz, S. R., Baroody, F. M., et al.

2015. “Clinical practice guideline: Allergic rhinitis executive summary,”Otolaryngology - Head and Neck Surgery (United States), 152(2), pp. 197–206. doi: 10.1177/0194599814562166.

Septriana M, Purnamasari N, Studiawan H. Allergic Rhinitical Therapy With Acupuncture, Legundi And Temulawak Herbs Terapi. 2018;01:60–6.

Simons, F. E. R. et al. 2011. “World allergy organization guidelines for the assessment and management of anaphylaxis,” World Allergy Organization Journal, 4(2), pp. 13–37. doi: 10.1097/WOX.0b013e318211496c.

Soetjipto, D., Mangunkusumo, E., 2012, Sinus Paranasal, dalam : Soepardi, E.A., Iskandar, N., Bashiruddin, J., Restuti, R. D., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher, Badan Penerbit FKUI,Jakarta, 122-126.

Sudiro, Mediapora, & Purwanto. 2010. ‘Eosinofil Kerokan Mukosa Hidung Sebagai Diagnostik Rinitis Alergi. MKB. Vol. 2, No. 1, pp. 6-11.

Sur, G. Emanuela, F. Donca, V. Simona, T. 2014. ‘The quality of life- An Indicator of Fair Treatment of Allergic Rhinitis’ ISSN : 2115-6121 JAT An Open Access Journal. Vol. 5, Issue 6, pp. 1-3

Tinartayu, S., & Riyanto, B. U. D. (2015). SF-36 sebagai instrumen penilai kualitas hidup penderita tuberkulosis (TB) paru. Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran

Dan Kesehatan, 15(1), 7–14.

https://journal.umy.ac.id/index.php/mm/article/view/2488/2552

Vinka, S. Gambaran kualitas hidup pada penderita rinitis alergi kelompok usia remaja di RSUP H.Adam Malik Medan : cross sectional study (Skripsi Sarjana). Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara; 2012.

Wise, S. K. et al., 2018. “International Consensus Statement on Allergy and Rhinology: Allergic Rhinitis,” International Forum of Allergy and Rhinology, 8(2), pp. 108–352. doi: 10.1002/alr.22073.

Yuksel H, Sakar A, Yilmaz O, Yorgancioglu A, Celik P, Ozcan C. 2008. Prevalence and comorbidity of allergic eczema, rhinitis , and asthma in a city in western turkey. J Investig Allergol Clin Immunol.18(1):31-5.

Zhang, L., & Zhang, Y., 2019. Increasing prevalence of allergic rhinitis in China.

Allergy, Asthma and Immunology Research, 11(2), 156–169.

https://doi.org/10.4168/aair.2019.11.2.156

Zhang, Y., Zhang, L., 2014. Prevalence of allergic rhinitis in China. Allergy, Asthma Immunol. Res. 6(2):105–113.

Lampiran A. Lembar Biodata Penulis

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Anna Delinda

NIM : 180100116

Tempat / Tanggal Lahir : Tangerang / 27 Oktober 2000

Agama : Kristen Prostestan

Nama Ayah : Lukman Hutapea

Nama Ibu : Paulina P Banjarnahor

Alamat : Komplek Sapta Marga No 45 Unyur Serang Banten Riwayat Pendidikan :

1. TK BPK Penabur Serang (2004-2006) 2. SD Mardi Yuana Serang (2006-2012) 3. SMPN 2 Kota Serang (2012-2015) 4. SMAN 1 Kota Serang (2015-2018)

5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2018-sekarang) Riwayat Pelatihan :

1. Peserta PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) FK USU 2018

2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU 2018

Riwayat Organisasi :

1. Anggota Divisi Logistik Scora Comitte On Reproductive Health Including AIDS ( SCORA PEMA FK USU) (2019-2020)

2. Wakil Kepala Divisi Logistik Scora Comitte On Reproductive Health

2. Wakil Kepala Divisi Logistik Scora Comitte On Reproductive Health

Dokumen terkait