BAB III METODE PENELITIAN
F. Metode Analisis
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan metode kuadrat terkecil atau ordinary least square (OLS).Analisis regresi ini untuk melihat hubungan antara modal, tenaga kerja,
dan produksi yang dapat dilihat sebagai berikut:
Y = f(K,L) Dimana:
Y = Produksi K = Modal L = Tenaga Kerja
Secara sederhana formulasi fungsi produksi cobb douglass adalah sebagai berikut:
Q = AKβ1Lβ2 Dimana:
Q = Produksi A = Konstanta K = Modal
L = Tenaga Kerja 1,2= Parameter
Untuk memudahkan dalam mengestimasi atau pendugaan fungsi produksi cobb douglass terhadap persamaan di atas, dapat dilakukan dengan cara melinearkan fungsi produksi cobb douglass yaitu dengan transformasi logaritma. Oleh karena itu persamaan di atas di ubah menjadi bentuk linear berganda dengan cara melogaritmakan persamaan tersebut, sehingga diperoleh:
LnQ = 1nA + 1lnk + 2lnk + µ LnQ = O + 1lnk + 2lnk + µ Q = 0 + 1k + 2L + µ Dimana:
Q = Variabel Terikat K,L = Variabel Bebas
0,1,2, = Parameter
29
µ = Error Term
sesuai dengan kepentingan penelitian, maka persamaan regresi produksi yang menjelaskan hubungan fungsional antara variabel terikat dan variabel bebas dalam penelitian ini, di informasikan ke dalam model logtimasi sebagai berikut:
log Q = 0 + 1log K + 2logL + µ Dimana:
Log Q = Produksi Log K = Modal
Log L = Tenaga Kerja
0 = Konstanta
1,2 = Koefisien Regresi
µ = Error Term (Kesalahan Pengganggu)
hasil analisis regresi adalah berupa koefisien regresi untuk masing-masing variabel independen ( kuncoro, 2011:98). Untuk keberhasilan analisis suatu fungsi regresi maka di uji dengan menggunakan alat uji F dan t.
Alat uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.Nilai F tabel yang diperoleh disbanding dengan nilai F hitung.Apabila F hitung lebih besar dari F tabel, maka ada pengaruh yang signifikan antara variabel indenpenden dengan variabel dependent.
Alat uji t digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel bebas secara individual dalam menerangkan variasi terikat.Tujuannya adalah untuk menguji koefisien regresi secara
individual. Nilai t tabel yang diperoleh dibandingkan nilai thitung., apabila t hitung lebih besar dari tabel, maka variabel indenpenden berpengaruh pada variabel dependent. Apabila t hitung lebih kecil dari t tabel,maka variabel independen berpengaruh pada variabel depend.Apabila t hitung lebih kecil dari t tabe,maka variabel independen tidak berpengaruh terhadap dependent.
Langkah selanjutnya adalah dilakukan pengujian validasi model sebagai berikut:
1. Uji Statistik
Dalam penelitian ini, data diolah dengan menggunakan program SPSS (statistical package for social sience) dan pengujian hipotesis menggunakan regresi linear berganda, dimana akan terlihat pengaruh secara simultan maupun secara parsial.
2. Uji T (T-test)
Uji statistik t dilakukan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas secara individual menjelaskan variasi variabel dependen (Ghozali, 2005). Dengan menganggap variabel lain tetap, menggunakan derajat keyakinan 95% (a = 0,05). Uji ini dilakukan dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Apabila probabilitas t hitung < a = 0,05 maka variabel indenpenden mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
b. Apabila probabilitas t hitung > a =0,05 maka variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
31
3. Uji F (F – test)
Uji F pada dasarnya dimaksudkan untuk membuktikan secara statistik bahwa seluruh variabel independen berpengaruh secara bersama – sama terhadap variabel -variabel dependen Uji F dalam penelitian ini dilakukan dengan dengan membandingkan nilai F hitung dengan derajat keyakinan 95% ( a = 0,05).Uji ini dilakukan dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Apabila nilai F hitung > a = 0,05 maka H0 ditolak, artinya bahwa secara bersama -sama semua variabel independen mampu mempengaruhi varabel dependen secara signifikan.
b. Apabila nilai F hitung < a = 0,05 maka H0 diterima, artinya bahwa secara bersama –sama semua variabel indenpenden tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
4. Koefisien Determinasi ( R2)
Nilai R2 yang sempurna adalah satu, yaitu apabila keseluruhan variabel dependen dapat dijelaskan sepenuhnya oleh variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Dimana 0< R2<1 sehingga kesimpulan yang dpat diambil adalah:
a. Nilai R2 yang kecilatau mendekati nol, berarti kemampuan variabel –variabel bebas dalam meneranglan variasi variabel tak bebas sangat terbatas.
b. Nilai R2 mendekatisatu, berarti kemampuan variabel-variabel bebas menerangkan hampir semua informasi yang digunakan untuk memprediksi variasi variabel tak bebas.
5. Uji Asumsi Klasik
Pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik yang merupakan dasar dalam model regresi linear berganda.
a. Uji Normalitas Data
Ghozali (2005) uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah dalan model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.
b. Uji Multikolineritas
Uji multikolineritas dilakukan untuk melihat apaka variabelyang saling berkorelasi pada variabel bebas.Jika terjadi korelasi maka terdapat masalah multikolineritas sehingga model regresi tidak dapat digunakan.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengaji apakah dalam sebuah regresi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan kepengamatan yang lain tetap,maka disebut homokedastisitas dan jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas.Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.
33
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran umum objek penelitian 1. Kondisi Geografis Lokasi Penelitian
Secara geografis kelurahanMalino yang terdiri dari daratan tinggidengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut,Malino terletak di lereng sebelah barat Gunung Bawakaraeng.tepatnya Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.Daerah yang terletak 90 km dari kota Makassar kearah selatan ini merupakan salah satu objek wisata alam yang mempunyai daya tarik luar biasa.Dikawasan wisata Malino sendiri, terdapat hutan wisata, berupa pohon pinus yang tinggi berjejer di antara bukit dan lembah.jalan menanjak dan bekelok-kelok dengan melintasi deretan pegunungan dan lembah, kawasan tersebut terkenal sebagai kawasan rekreasi dan wisata sejak zaman penjajahan belanda.
Kecamatan Tinggimoncong merupakan daerah pegunungan yang berbatasan Sebelah Utara Kabupaten Maros, Sebelah Selatan Kecamatan Parigi, Sebelah Barat Kec Parangloe dan Kecamatan Tombolo Pao di Sebelah Timur.Curah hujan rata dalam pertahun antara 135 hari sampai 160 hari dan ketinggian dari permukaan laut berkisar rata-rata 500 meter.Dengan jumlah Desa/Kelurahan sebanyak 7 (tujuh) Desa/Kelurahan, dan dibentuk berdasarkan PERDANo. 7 Tahun 2005.Ibukota Kecamatan Tinggimoncong adalah
Kelurahan Malino dengan jarak sekitar 63 km dari
Sungguminasa merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Sulawesi Selatan.Gambar 4.1
Peta Kecamatan Tinggimoncong
2. Kondisi Demografi
Jumlah penduduk Kecamatan Tinggimoncong sebesar 24.065 jiwa yang terdiri dari lakilaki sebesar 11.902 jiwa dan perempuan sebesar 12,163 jiwa dan sekitar 98,7 persenberagama Islam.Beberapa fasilitas umum yang terdapat di Kecamatan Tinggimoncong seperti saranapendidikan antara lain Taman Kanak-Kanak sebanyak 10 buah, Sekolah dasar negeri 8 buah,Sekolah dasar Inpres 17 buah, Sekolah lanjutan pertama 6 buah, sekolah lanjutan atas 2 buah,salah satu diantaranya merupakan sekolah unggulan, Madrasah Ibtidaiyah 2 buah, Madrasahtsanawiah 3 buah, madrasah Aliyah 2 buah.
Disamping itu terdapat beberapa sarana kesehatan,tempat ibadah (Masjid dan Gereja), dan pasar. Di Kecamatan Tinggimoncong juga
35
terdapatsarana pendidikan untuk mendidik calon Tamtama TNI yang berlokasi di kota Malino.Penduduk Kecamatan Tinggimoncong umumnya berprofesi sebagai petani utamanyapetani sayuran dan perkebunan, sedangkan sektor non pertanian terutama bergerak padalapangan usaha perdagangan besar dan eceran.Partisipasi masyarakat dalam pembangunan cukup besar hal ini terlihat dari konstribusipenerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) yang telah mencapai 100 persen.
B. Penyajian data (hasil penelitian)
Sebelum melakukan analisis penelitian, perlu dijelaskan deskripsi data-data yang berhasil dikumpulkan, terdiri dari sampel penelitian, analisis data yang meliputi analisis deskriptif, dan masing-masing dari variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:
1. Deskripsi data
Pengumpulan data pada penelitian dilaksanakan dengan menyebarkan kuesioner seluruh sentra usaha kecil mebel yang tersebar di Kelurahan Malino Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. sedangkan responden (sampel) yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 pelaku usaha yang mulai dibagikan kepada responden pada tanggal 10 september 2020. Pengumpulan kembali kuesioner dilakukan sendiri oleh penulis dan dilakukan secara bertahap tergantung pada kesediaan para responden untuk mengisi kuesioner. Kuesioner sudah terkumpul dan diterima kembali oleh peneliti pada tanggal 20 september 2020.
dalam penelitian ini terdiri dari jenis kelamin,lama bekerja, penghasilan, sumber modal, omset, persentase keuntungan, carapemasaran,dan lama berproduksi. Adapun hasil deskriptif mengenai profil responden tersebut adalah dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut:
tabel 4.1
Jumlah Responden Menurut Jenis kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi %
1. Laki-Laki 28 93,33
2. Perempuan 2 6,66
Total 30 100
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa distribusifrekuensi respondenberdasarkan jenis kelamin usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa adalah laki-laki sebesar 28 dengan persentase sebesar 93,33%
sedangkan jenis kelamin wanita sebesar 2 dengan nilai persentase sebesar 6,66%.
Selain jenis kelamin, usia parapemilik usaha kecil mebel juga beragam. Berikut adalah data mengenai usia para pemilik usaha kecil mebeldi Kelurahan Malino Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :
37
Tabel 4.2
data usia para pemilik usaha kecil mebel
No Usia (Tahun) Frekuensi %
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa frekuensi terbesar adalah 18. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar usia para pemilik usaha kecil mebel berkisar 30-38 tahun.
Berdasarkan data tersebut dapat digunakan untuk membuat tabel distribusi frekuensi sesuai dengan kategori jawaban angket mengenai lama berproduksi usaha kecil mebel dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3
Lama Berproduksi usaha Industri kecil mebel
No Lama bekerja Frekuensi %
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa distribusi frekuensi berdasarkan lama berproduksi usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa yang lama berproduksi antara 6 -10 tahun sebesar 17 (56,7%). usaha kecil mebel yang berproduksi selama 11 – 15 tahun sebesar 5 (16.7%). usaha kecil mebel yang berproduksi selama 16 – 20 tahun sebesar 5 usaha kecil
mebel (16.7%) sedangkan yang berproduksi selama 21 – 25 tahun sebesar 3 usaha kecil mebel (10.0%).
Berdasarkan data tersebut dapat digunakan untuk membuat tabeldistribusi frekuensi sesuai dengan kategori jawaban angket mengenai penghasilan perbulan responden dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut:
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa distribusi frekuensi responden berdasarkan penghasilan pada usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa yang penghasilan Rp. 3.000.000 s/d Rp. 5.000.000 sebesar 13 responden (43,4%). Responden yang penghasilan Rp 6.000.000 s/d 8.000.000 sebesar 15 responden (50.0%). sedangkan responden yang penghasilannya Rp 9.000.000 s/d Rp.15.000.000 sebesar 2 responden (06.0%).
Berdasarkan data tersebut dapat digunakan untuk membuat tabel distribusi frekuensi sesuai dengan kategori jawaban angket mengenai cara pemasaran usaha kecil mebel di
39
Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut:
Tabel 4.5
Cara Pemasaran Usaha Industri Kecil Mebel
No Cara Pemasaran Frekuensi %
1. Konsumen datang langsug ke lokasi
10 33.33
2. Menggunakan jasa online 18 60,0
3. Pembagian brosur 2 6.67
Total 30 100
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa distribusi frekuensi berdasarkan cara pemasaran pada usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa.
cara memasarkanya adanya konsumen yang datang langsung ke lokasi sebesar 10 responden (33.33%) sedangkan responden yang cara pemasaran dengan menggunakan jasa online sebesar 18 responden (60.0%). Dan pemasaran dengan cara pembagian brosur sebesar 2 responden (6.67%).
a. Modal (X1)
Modal dalam hal ini merupakan modal usaha yang digunakan oleh pengelola atau pemilik usaha industri kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa.
yang digunakan untuk kebutuhan produksinya agar meningkatkan hasil pendapatannya dan dapat dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut:
Tabel 4.6
Sumber Modal Usaha Kecil Mebel
No Sumber Modal Frekuensi %
1. Modal sendiri 15 50.0
2. Koperasi,bank,pegadaian 15 50,0
Total 30 100
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa distribusi frekuensi berdasarkan sumber modal pada usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa, dimana modal sendiri sebesar 15 responden (50.0%). Responden yang sumber modal koperasi,bank,pegadaian sebesar 15 responden (50.0%).
b. Bahan Baku (X2)
Bahan baku juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi pendapatan. Semakin besar kualitas bahan baku yang digunakan maka semakin besar pula kemungkinan jumlah produk yang dihasilkan, sehingga kemungkinan pendapatan yang diterima semakin besar dari hasil penjualan produksinya.
Berikut ini jumlah responden pengusaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa.berdasarkan kualitas bahan baku yang digunakan maka dapat dilihat banyaknya bahan baku yang diproduksi dapat dilihat pada tabel 4.7 sebagai berikut :
41
Tabel 4.7
Jumlah Responden Bahan Baku Usaha Kecil Mebel
No Bahan baku (Rp) Frekuensi %
1. 1.700.000 – 5.000.000 20 66.67
2. 5.000.000 – 10.000.000 10 33.33
3. 10.000.000 – 15.000.000 0 0
Total 30 100
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan data pada Tabel 4.7 diketahui bahwa distribusi frekuensi pada usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa. bahan baku yang terbesar digunakan berada pada nilai Rp. 1.700.000 hingga Rp. 5.000.000 dengan 20 responden usaha dengan tingkat persentase (66.67%), sedangkan pada Rp. 5.000.000 sampai dengan Rp. 10.000.000 dengan 10 responden usaha dengan tingkat persentase (33.33%), dan bahan baku yang digunakan oleh pengusaha kecil mebel sebesar Rp. 10.000.000 sampai dengan Rp. 15.000.000 yaitu sebanyak 0 atau tidak ada pemilih responden usaha dengan tingkat persentase sebesar (0%).
c. Tenaga Kerja (SDM) (X3)
Tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi karena tenaga kerja merupakan aset utama yang menjadi faktor penggerak dalam kegiatan usaha produksi sebab tenaga kerja inilah yang memiliki dua modal utama dalam bisnis yakni pikiran sekaligus tenaga. jumlah pengusaha pada usaha kecil mebel di kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa. berdasarkan tenaga kerja yang di serap dapat dilihat pada tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 4.8
Jumlah Responden Pengusaha Berdasarkan Tenaga Kerja Yang Digunakan
No Jumlah tenaga kerja (orang)
Frekuensi %
1. 1-2 25 83,3
2. 2-5 4 13,33
3. 5-6 1 03.3
Total 30 100
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa distribusi frekuensi berdasarkan jumlah tenaga kerja 1-2 karyawan pada usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa sebanyak sebesar 25 Industri kecil mebel (83.3%).usaha kecil mebel yang jumlah tenaga kerjanya 2-5 karyawan sebesar 4 usaha kecil mebel (13.33%).Dan 5-6 karyawan sebesar 1 usaha kecil mebel (03.3%).
d. Keberhasilan Usaha (Y)
Keberhasilan usaha pada hakikatnya adalah keberhasilan dari bisnis mencapai tujuannya, suatu bisnis dikatakan berhasil bila mendapat laba, karena laba dan penghasilan adalah tujuan dari seseorang melakukan bisnis untuk mendapatkan keberhasilan usaha yang diinginkan. Untuk melihat presentase keuntungan yang didaptkan dari hasil usaha kecil mebel dapat dilihat pada tabel 4.9 sebagai berikut:
43
Tabel 4.9
Persentase Keuntungan Perbulan No Presentase
Berdasarkan tabel 4.9 diketahui bahwa distribusi frekuensi berdasarkan persentase keuntungan perbulan pada usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa yang persentase keuntungannya antara 10% - 20%
sebesar 6 responden (20.0%). Responden yang persentase keuntungannya 21% - 31% sebesar 12 responden (40.0%).
Responden yang persentase keuntungannya 32% - 42% sebesar 10 responden (33.3%), sedangkan responden yang persentase keuntungannya 43% - 53% sebesar 2 responden 6.67%).
Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengetahui bagaiamana gambaran umum data yang telah dikumpulkan dari responden adalah analisis deskriptif yang disajikan dalam tabel 4.11 sebagai berikut :
SDM (Tenaga Kerja)
30 1,00 40,00 7,1000 2,23375
Keberhasil
an Usaha 30 18,00 30,00 24,7667 3,07025 Valid N
(listwise) 30
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan data pada tabel 4.11 usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa memiliki rata-rata modal sebesar Rp. 20.400.000 modal yang paling rendah (minimum) adalah sebesar Rp. 13.000.000. dan modal yang paling tinggi (maksimum) adalah sebesar Rp.
25.000.000. pengusaha usaha industri kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa rata-rata menggunkan bahan baku sebanyak Rp.16.766.700. jumlah bahan baku yang paling sedikit sebanyak Rp.12.000.000. dan yang paling banyak adalah sebanyak Rp. 20.000.000.
Total tenaga kerja (SDM) yang di gunakan pada usaha industri kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa rata-rata berjumlah 7 orang.
Jumlah tenaga kerja (SDM) yang paling sedikit sebanyak 1 orang dan yang paling banyak adalah 4 orang. Kemudian untuk keberhasilan usaha industri kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tnggimoncong Kabupaten Gowa memiliki rata-rata sebesar Rp. 24,766.700. pendapatan yang paling rendah (minimum) sebesar Rp. 18.000.000. dan pendapatan yang paling tinggi (maksimum) adalah sebesar Rp. 30.000.000 perbulan.
45
2. Uji Validitas Dan Uji Asumsi Klasik a. Analisis Regresi Linear Berganda
Model regresi yang digunakan adalah model regresi dengan variabel keberhasilan usaha (Y) sebagai variabel dependent (variabel tak bebas), dan variabel modal (X1), bahan baku (X2), dan SDM (X3) sebagaivariabel independet (bebas), dengan fungsi Y = f (X1, X2, X3), model regresidalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Y = a+ β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + e
Pengujian data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Perhitungan koefisien regresi linear berganda dilakukan dengan analisis melalui software SPSS 26.0 for windows, diperoleh hasil yang ditunjukkan pada tabel 4.11 sebagai berikut:
Tabel 4.11
hasil analisis regresi linear berganda
Model
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda seperti yang disajikan pada tabel 4.11, maka dapat di bentuk persamaan struktual sebagai berikut :
Y = 1.882 + 0,318 X1 + 0,369 X2 + 0,596 X3
Hasil dari persamaan regresi linear berganda tersebut memberikan pengertian sebagai berikut :
1. Koefisien variabel modal dalam persamaan regresi berganda sebesar
0,.318angka ini sekaligus menggambarkan elastisitas produksi dengan variabel modal, dapat diartikan bahwa apabila ada peningkatan 1% modal maka akan mengalami peningkatan keberhasilan usaha kecil mebe.l Hal ini berpengaruh signifikan dibuktikan dengan nilai signifikan 0,022 < 0,05.
2. Koefisien variabel bahan baku dalam persamaan regresi berganda sebesar
0,369angka ini sekaligus menggambarkan elastisitas produksi dengan variabel bahan baku, dapat diartikan bahwa apabila ada peningkatan 1% bahan baku maka akan mengalami peningkatan keberhasilan usaha kecil mebel Hal ini berpengaruh signifikan dibuktikan dengan nilai signifikan 0,038 < 0,05.
3. Koefisien variabel SDM dalam persamaan regresi berganda sebesar 0,956 Angka ini sekaligus menggambarkan elastisitas produksi dengan variabel SDM, dapat diartikan bahwa apabila ada peningkatan 1% SDM maka akan mengalami peningkatan keberhasilan usaha kecil mebel. Hal ini berpengaruh signifikan dengan nilai signifikan 000 < 0,05.
b. Uji hipotesis
47
1. Uji statistik t
Uji statistik t digunakan untuk mengetahui besarnya signifikan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara individual (parsial) dengan menganggap variabel lain bersifat konstanta. Nilai t tabel di cari di tabel t dengan patokan taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (df= n – k), maka t tabel = (5%);(30 – 4) = (5%);(26) = 2,056 dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variable lbebas dan terikat.
berdasarkan hasil tabel 4.13 variabel modal diperoleh nilai t hitung > t tabel yaitu 2.442 > 2,056, untuk variabel Bahan Baku diperoleh nilai t hitung > t tabel yaitu 2,185 > 2,056, serta untuk variabel SDM diperoleh nilai t hitung > t tabel yaitu 4,349 > 2,056. Hal ini menunjukkan ada pengaruh antara variabel modal, Bahan Baku, dan SDM terhadap usaha kecil mebel.
2. Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara bersama-sama (simultan) dapat berpengaruh terhadap variabel terikat yang dijelaskan oleh perubahan nilai semua variabel bebas. pengujian ini dilalukan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel. Nilai Ftabel dicari di tabel F dengan patokan taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (dfl = k – 1); (df2 = n – k), maka Ftabel= (5%);(4-1);(30-4) = (5%); (3);(26) = 2.98 dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel bebas dan terikat. Hal ini ditunjukkan pada tabel 4.12 sebagai berikut:
Tabel 4.12 Uji F
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan hasil tabel 4.12 diperoleh nilai Fhitung >Ftabel yaitu 58.943 hal ini menunjukkan berpengaruh positif antara variabel modal, Bahan Baku, dan SDM terhadap keberhasilan usaha kecil mebel. Dengan demikian hipotesis diterima, sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa ada pengaruh antara variabel modal, Bahan Baku, dan SDM secara bersama-sama terhadap keberhasilan usaha kecil dapat diterima. Hasil signifikansi sebesar 000 < 0,05 ini
menggambarkan adanya pengaruh yang signifikan antara modal, Bahan Baku, dan SDM terhadap keberhasilan usaha kecil mebel di Kelurahan Malino Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa.
3. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang dinyatakan dalam persen. Hal ini ditunjukkan pada tabel 4.14 sebagai berikut:
Model
Sum of Squares Df
Mean
Square F Sig.
1 Regression 238,325 3 79,442 58,943 ,000b Residual 35,042 26 1,348
Total 273,367 29
49
Tabel 4.13
Koefisien Determinasi (R2)
Sumber: Data output spss 26, 2020
berdasarkan hasil tabel 4.13, diperoleh nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,872 Hal ini berarti bahwa variasi variabel bebas dapat menjelaskan variasi variabel terikat sebesar 87,2% sedangkan sisanya 12,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.
c. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah data yang bersangkutan berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Data dikatakan berdistribusi normal jika nilai Asymp. Sig (2- tailed) ≥ 0,05 maka data terdistribusi dengan normal, jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) <
0,05 maka distribusi data tidak normal. Berikut ini disajikan hasil dari pengujian normalitas dapat dilhat pada tabel 4.14 sebagai berikut:
Tabel 4.14 uji normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 30
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Std.
Deviation 1,09924929
Most Extreme Differences Absolute ,140
Positive ,108
Negative -,140
Kolmogorov-Smirnov Z ,767
Asymp. Sig. (2-tailed) ,599
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan tabel 4.14 nilai dari Asymp. Sig (2-tailed) tidak ada yang menunjukkan nilai kurang dari 0.05 yang berarti bahwa data tersebut berdistribusi normal.
2. Uji Multikolinearitas
Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Jika variabel bebas saling berkorelasi maka variabel ini tidak ortogonal.
Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar variabel bebas sama dengan nol. Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya VIF (Varians Inflation Factor), jika nilai VIF kurang dari 4 maka tidak terjadi multikolinieritas. Berikut disajikan hasil dari pengujian multikolinieritas dapat dilhat pada tabel 4.15 sebagai berikut:
51
SDM (Tenaga Kerja) ,495 2,019
Sumber: Data output spss 26, 2020
Berdasarkan tabel 4.15 menunjukkan bahwa variabel modal, Bahan Baku, dan SDM memiliki nilai VIF sebesar 3,191< 4; 3,759 < 4;
dan 2,019< 4 maka dapat disimpulkan bahwa antara variabel Upah, Bahan Baku, dan Lama Usaha tidak saling mempengaruhi atau tidak terjadi multikolinieritas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Penelitian ini untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas menggunakan uji Gletser. Jika nilai
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Penelitian ini untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas menggunakan uji Gletser. Jika nilai