BAB III METODE PENELITIAN
G. Metode Analisis
Uji validitas digunakan untuk valid atau tidaknya suatu kuesioner.
Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2011).
person correlation > 0.30 maka pertanyaan atau indikator tersebut dinyatakan valid (Sugiyono 2012:124). Penyelesaian pengujian validitas menggunakan program IBM SPSS Statistics Version 21.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan sebagai alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten dari waktu ke waktu. Indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk mengukur reliabel atau handal, apabaila memiliki koefisien reliabilitas alpa cronbach (a) sebesar 0,70 atau lebih (Ghozali 2016:133). Artinya semakin dekat (a) dengan 1, maka semakin tinggi ketepatan alat ukur. Sementara itu dalam pengujian reliabilitas juga menggunakan program IBM SPSS Statistics Version 21.
3. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, residu,dan persamaan regresi mempunyai distribus normal atau tidak. Cara pengujiannya antara lain menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Jika tidak normal, maka prediksi yang dilakukan dengan model tersebut akan tidak baik, atau dapat memberikan hasil prediksi yang normal apabila tingkat signifikannya menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,05 (Ghozali, 2016:160-161).
4. Uji Heteroskedastisitas
model regresi terjadi kesamaan variabel. Jika variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka itu disebut Homokedastisitas dan jika pengamatannya beda maka disebut heteroskedastisitas. Dikatakan baik adalah yang homokedastisitas dan tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011).
Cara pengujian ada atau tidaknya heteroskedastisitas dengan Glesjer Test. Kriteria pengujiannya dinilai signifikan dari variabel independen lebih dari 0,05 maka tidak terjadi heterskodestisitas, dan jika nilai signifikan dari variabel independen lebih kecil dari 0,05 maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2016:137-138).
5. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji pada model rekregi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolonieritas dapat dilihat dari besarnya nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor) melalui Statistical Product and Service Solution (SPSS). Jika nilai tolerence >
0,10 atau nilai VIF < 10,00 maka tidak terjadi multikolonieritas (Ghozali, 2016).
6. Analisis Regresi Linear Berganda
Hipotesis menyatakan bahwa diduga kesadaran wajib pajak (X1), kewajiban moral (X2), dan akuntabilitas pelayanan publik (X3) mempunyai pengaruh simultan terhadap kepatuhan wajib pajak (Y).
Untuk menguji hipotesis tersebut diperlukan alat analisis regresi
sejauh mana variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Adapun persamaan yang digunakan adalah:
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 Dimana:
Y = Kepatuhan wajib pajak X1 = Kesadaran wajib pajak X2 = Kewajiban moral
X3 = Akuntabilitas pelayanan publik α = Konstanta regresi
β = Koefisien regresi 7. Uji statistik t (t-test)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikan 0.05 (α = 5%). Penerimaan atau penolakan hipotesis dengan kriteria sebagai berikut:
a. Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tdiak signifikan). Hal ini berarti secara persial variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b. Jika nilainya signifikan < 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi signifikan). Hal ini berarti secara persial variabel independen mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016:97).
Koefisien determinasi (R2) menunjukkan seberapa jauh variabel independen menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Nilai dari koefisian determinasi bernilai antara nol (0) sampai (1). Nilai R2 yang kecil mengartikan kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen yang terbatas. Nilai yang mendekati (1) berati variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2011).
35
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Samsat kabupaten Pangkep
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan biasa disingkat Pangkep memiliki luas wilayah 12.362,73 Km2 yang terdiri dari luas wilayah daratan 898,29 Km2 dan wilayah laut 11.464,44 Km2 dengan jumlah penduduk 345.812 jiwa (2020). Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulsel dibentuk untuk menigkatkan pendapatan daerah, antara lain, melalui penguatan taxing power yang dilakukan dengan mengimplementasikan secara efektif regulasi perpajakan daerah dan retribusi daerah sesuai kewenangan pememrintahan daerah provinsi sebagaimana diatur dalam undang-undang No 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Mengingat luasnya wilayah pengelolaan obyek pajak dan perkembangan jumlah kendaraan yang pesat di Provinsi Sulsel,maka sejak 2008 dibentuk Unit Pelayanan Teknisi Daerah (UPT) untuk melakukan efisiensi dn efektivitas pelaksaan tugas pokok. Awalnya, perpanjangan tangan pengelolaan pajak di daerah hanya dilayani 10 UPTD Samsat dan 13 Samsat Pembantu, berdasarkan peraturan Gubernur Sulsel No 16 tahun 2010 tentang organisasi dan tat kerja unit pelaksana teknis jumlah UPT bertambah menjadi 15 UPT dan hingga 2017 UPT telah hadir dismua kabupaten/kota, jumlahnya 25 unit, 1 diantaranya terdapat di kabupaten Pangkep.
pelaksanaan pemungutan pajak-pajak daerah khususnya pemungutan pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Biaya Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) serta sumbangan wajib kecelakaan lalu lintas jalan, maka kerja sama dengan pihak lain terutama Kepolisian dan Jasa Raharja sangat diperlukan.
Dengan intruksi Bersama Mentri Keamanan, Mentri Dalam Negeri dan Mentri Keuangan Nomor INS/03/M/X/1999, Nomor 29 tahun 1999, Nomor 61/IMK.014/1999, maka dibentuk sistem Administrasi Manunggal di Bawah Satu Atap (samsat), UPTD Dinas Pendapatan Provinsi Sulsel di Kabupaten Pangkep.
2. Visi dan Misi Samsat Pangkep
- Visi
“Maksimalnya Peningkatan Pendapatan Daerah Melalui Pengelolaan Pendapatan Daerah yang Bersih, Tertib, Transparan, Akuntabel dan Inovatif”.
- Misi
1. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar 13% per tahun dan total pendapatan daerah sekitar 10%.
2. Meningkatkan kapasitas, efektivitas, dan efisiensi unit kerja dalam rangka memberikan kualitas prima dalam pelayanan pajak.
jujur, bertanggung jawab dan profesional dalam mengelola pendapatan daerah.
4. Mewujudkan sistem dan prosedur pengelolaan pendapatan daerah yang trasnparan dan akuntabel.
3. Struktur Organisasi
STRUKTUR ORGANISASI KANTOR SAMSAT PANGKEP
GAMBAR 4.1
Sumber: Kantor Samsat Pangkep 2021
1. Kepala UPT kabupaten Pangkep bertugas melaksanakan oprasional pelayanan pendapatan pemerintah dibidang pajak, retribusi dan pungutan lainnya yang sah meliputi pendapatan, penetapan, pemungutan, penagihan, pelaporan dan evaluasi sesuai petunjuk, pedoman kerja dan ketentuan yang telah ditetapkan untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
2. Kepala Bagian Tata Usaha bertugas melaksanakan urusan administrasi kepegawaian, organisasi dan tata laksana, melaksanakan urusan
KEPALA UPT
KEPALA BAGIAN TATA USAHA
KEPALA SEKSI BAGIAN PENDATAAN
DAN PENAGIHAN KEPALA SEKSI BAGIAN
PENETAPAN DAN PENERIMAAN
penyusunan laporan organisasi upt, melaksanakan penatausahaan keuangan, melaksanakan urusan dokumentasi perkantoran, menyusun laporan perkembangan kinerja upt pendidikan dan pelatihan, dan melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan atas sesuai bidang tugasnya masing-masing.
3. Kepala seksi bagian pendataan dan penagihan bertugas mengordinasikan kebijakan pendataan dan pendaftaran objek pajak, serta mengordinasikan kebijakan penagihan pajak, memonitoring, mengevaluasi dan menyusun pelaporan bidang pendataan dan penagihan.
4. Kepala seksi bagian penetapan dan penerimaan bertugas melaksanakan pengoordinasian kebijakan penetapan dan pendistribusian ketetapan pajak.
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Penelitian ini mengambil sempel sebanyak 100 orang yang diperoleh dengan metode accidental sampling. Accidential sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, artinya jika siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok sebagai sampel atau sumber daya (Sugiyono, 2012:67). Sampel dalam penelitian ini adalah wajib pajak kendaraan bermotor. Dari 100 sampel yang digunakan, peneliti mendapat 66 responden yang cocok dijadikan sebagai sampel. Sehingga kuesioer yang dapat digunakan sebanyak 66 kuesioner.
Uji kualitas data
Ketentuan suatu instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisient person correlation > 0.30 (Sugiyono, 2012:124). Hasil pengujian validitas dapat dilihat pada Tabel 4.2 sebagai berikut:
yang digunakan untuk mengukur variabel dalam penelitian ini mempunyai person correlation > 0,30 dan signifikansi < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua indikator yang digunakan dinyatakan valid.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya untuk mengukur reliabel, apabila koefisien reliabiltas (a) sebesar 0,70 atau lebih (Ghozali, 2012:133). Hasil pengujian reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 4.3 berkaitan dengan variabel independen dan variabel dependen memiliki nilain cronbach’s alpha > 0,70 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh data yang digunakan pada kuesioner dikatakan reliabel.
3. Uji Normalitas
Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Jika tidak normal, maka prediksi yang dilakukan dengan
apabila tingkat signifikannya menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,50 (Ghozali, 2016:160-161). Uji normalitas data dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov yang dapat dilihat pada 4.4 dibawah ini:
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas
Sumber: Data diolah
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan nilai Kolmogorov-Smirnov 0,163 dengan nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,050 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan merupakan data yang berdistribusi normal.
4. Uji Heterokedastisitas
regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Kriteria pengujiannya dinilai signifikan dari variabel independen > 0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas, dan jika nilai signifikan dari variabel independen lebih kecil dari 0,05 maka ada indikasi terjadi heterokedastisitas (Ghozali 2016:137-138). Hasil uji heterokedastisitas dapat dilihat pada Tabel 4.5 dibawah ini:
Tabel 4.5
Hasil Uji Heterokedastisitas
Pada tabel 4.5 diatas dapat dilihat pada kolom sig. Bahwa nilai signifikan variabel-variabel bebas yang digunanakn dalam penelitian memiliki nilai lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa syarat heterokedastisitas telah dipenuhi.
5. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk
besarnya
nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor) melalui Statistical Product and Service Solution (SPSS). Jika nilai tolerence > 0,10 atau nilai VIF < 10,00 maka tidak terjadi multikolonieritas (Ghozali, 2016). Hasil uji variabel < 10,00 dan nilai tolerance semua variabel > 0,10 yang berarti tidak terjadi korelasi antar variabel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala multikolonieritas antar variabel dalam model regresi.
6. Analisis Regresi Linear Berganda
wajib pajak kendaraan bermotor di kantor samsat Pangkep yang disebabkan oleh kesadaran wajib pajak, kewajiban moral dan akuntabilitas pelayanan publik dengan rumus (Sugiyono, 2012). Hasil pengujiannya dapat dilihat pada Tabel 4.7 dibawah ini:
Berdasarkan Tabel 4.7 diatas diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
Y = 2.825 + 0,211 X1 + 0,149 X2 + 0,009 X3
Berdasarkan persamaan regresi diatas maka dapat dijelaskan bahwa:
variabel-variabel bebas tidak mengalami perubahan (konstan) maka nilai Y adalah sebesar 2,825.
2. Variabel Kesadaran Wajib Pajak (X1) memiliki keofisien regresi sebesar 0,211. Hal ini berarti jika variabel kesadaran wajib pajak meningkat sebesar 1%, maka Kepatuhan Wajib Pajak akan mengalami penigkatan sebesar 0,211%.
3. Variabel Kewajiban Moral (X2) memiliki koefisien regresi sebesar 0,149. Hal ini berarti jika variabel kewajiban moral meningkat sebesar 1% maka Kepatuhan Wajib pajak tidak mengalami peningkatan atau penurunan sebesar 0,149%
4. Variabel Akuntabilitas Pelayanan Publik (X3) memiliki koefisien sebesar 0,009. Hal ini berarti jika variabel Akuntabilitas Pelayanan Publik meningkat sebesar 1% maka Kepatuhan Wajib Pajak tidak mengalami peningkatan atau penurunan sebesar 0,009%
7. Uji t
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikan 0.05 (α = 5%). Hasil t test dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut:
Hasil Uji t
Berdasarkan hasil uji t diatas dapat dijelaskan bahwa:
1. Kesadaran Wajib Pajak (X1) dengan nilai signifikan sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa kesadaran wajib pajak (X1) berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak (Y).
2. Kewajiban Moral (X2) dengan nilai signifikan sebesar 0,067 lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti bahwa kewajiban moral (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak (Y).
pajak (Y).
8. Uji Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) menunjukkan seberapa jauh variabel independen menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Hasil pengujiannya dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.9 Hasil Uji Determinasi
Berdasarkan Tabel 4.9 di atas dapat dilihat pada nilai Adjusted R Square sebesar 0,387 atau 38,7% yang berarti kesadaran wajib pajak (X1), kewajiban moral (X2), dan akuntabilitas pelayanan publik (X3) secara simultan mempunyai pengaruh sebesar 38,7% terhadap kepatuhan wajib pajak (Y) yang sisanya 62,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
Pembahasan
1. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hasil hipotesis pertama variabel Kesadaran Wajib Pajak dapat dilihat dari hasil uji t pada tabel 4.8 bahwa nilai koefisien pada persamaan linear berganda bertanda positif yaitu sebesar 0,211 dengan nilai signifikan sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05, berarti H1 diterima. Hal tersebut menyatakan bahwa meningkatnya kesadaran wajib apajak akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak itu sendiri. Sesuatu yang disampaikan Jahyadi (2017) dan Kusuma (2017) yang menyatakan bahwa kesadaran membayar pajak yang mendorong wajib pajak untuk membayar pajak dan juga pada penelitian Nuraeni Elfa Ruki (2018) menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dimana hasil penilitian juga sejalan dengan yang telah dilakukan.
Hal tersebut terjadi karena wajib pajak mengerti dan memahami manfaat pembayaran pajak sebagai bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan negara maka dengan sendirinya akan melakukan pembayaran pajak tanpa adanya paksaan atau perasaan dirugikan karena merasa harus membayar pajak.
Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 60 responden atau 60% setuju dan sangat setuju bahwa pajak kendaraan bermotor merupakan partisipasi dalam menunjang pembangunan daerah. Sebanyak 54 responden atau 54% setuju dan sangat setuju bahwa pajak adalah iuran rakyat untuk dana pengeluaran umum pelaksanaan fungsi pemerintah. Sebanyak 56 responden atau 56% setuju dan sangat setuju bahwa pajak adalah sumber penerimaan daerah terbesar. Dan sebanyak 62 responden atau 62% setuju dan sangat setuju bahwa pajak adalah kewajiban yang harus dibayar sebagai
wajib pajak kendaraan bermotor di kota Pangkep sebagian besar telah mempunyai kesadaran yang cukup tinggi terhadap kewajiban perpajakannya.
Ini juga sejalan dengan teori kepatuhan dimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kepatuhan berasal dari kata patuh yang berati suka atau taat terhadap peraturan. Kepatuhan berarti sikap patuh, taat, tunduk pada ajaran dan peraturan. Kepatuhan juga dapat di artikan sebagai suatu perubahan perilaku dari perilaku yang tidak menaati peraturan ke perilaku yang menaati peraturan (Green, 1991).
2. Pengaruh Kewajiba Moral Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
H2 menyatakan bahwa Kewajiban Moral berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hasil hipotesis kedua, variabel kewajiban moral tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.8 menunjukkan nilai koefisiensi pada persamaan linear berganda sebesar 0,149 dan nilai signifikan sebesar 0,067 lebih bear dari 0,5, berarti H2 ditolak. Artinya moral seorang wajib pajak tidak memiliki dampak bagi kepatuha wajib pajak.
Kesimpulan ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Tri Julianti Fatimah Ismail(2017) yang mengatakan bahwa kewajiban moral berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Tetapi hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewajiban moral tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak kendaraan bermotor.
3. Pengaruh Akuntabilitas Pelayanan Publik Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Berdasarkan hasil hipotesis ketiga, variabel akuntabilitas pelayanan publik tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini dapat dilihat dari pada tabel 4.8 meninukkan nilai koefisien pada persamaan linear berganda sebesar 0,009 dengan nilai signifikan 0,855 lebih dari 0,05, berarti H3 ditolak. Artinya semakin baik atau buruknya kualitas pelayanan pajak, maka tidak berpengaruh kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak. Seperti yang dijelaskan pada penelitian Jati (2017), dan Wirmie Eka Putri (2018) menyatakan bahwa akuntabilitas pelayanan publik berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Wa Ode Aswati (2018) yang menyatakan bahwa akuntabilitas pelayanan publik tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Jadi, bisa disimpulkan bahwa di setiap daerah atau kabupaten/kota, wajib pajak kendaraan bermotor memiliki prinsip berbeda dalam menjalankan kewajibannya sebagai wajib pajak.
50
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka berikut adalah beberapa kesimpulan yang didapatkan:
1. Kesadaran Wajib Pajak berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak kendaraan bermotor di Kantor SAMSAT Pangkep. Hal ini berarti bahwa kesadaran yang dimiliki oleh wajib pajak dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.
2. Kewajiban Moral tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak kendaraan bermotor di Kantor SAMSAT Pangkep. Hal ini berarti bahwa Moral yang dimiliki setiap individu tidak dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak.
3. Akuntabilitas Pelayanan Publik tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak kendaraan bermotor di Kantor SAMSAT Pangkep.
Hal ini berarti kualitas dan pelayanan yang diberikan masih kurang memuaskan sehingga tidak dapat mempengaruhi Kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti akan memberikan saran yaitu:
1. Bagi Kantor SAMSAT Pangkep
Lebih meningkatkan lagi kualitas pelayanan petugas pajak dalam memberikan pelayanan yang terbaik dan bertindak profesional dalam
melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini memiliki banyak keterbatasan maka dari itu diharapkan peneliti selanjutnya dapat menggunakan faktor eksternal sepeti pengetahuan pajak, kondisi keuangan dan lain-lain untuk mengetahui pengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Karena dari hasil penelitian ini kesadaran wajib pajak, kewajiban moral, dan akuntabilitas pelayanan publik memiliki pengaruh yang tergolong kecil yang dilihat dari nilai adjusted R square terhadap kepatuhan wajib pajak.
52
Aswati, W. O., Mas’ud, A., & Nudi, T. N. (2018). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Pengetahuan Pajak, dan Akuntabilitas Pelayanan Publik Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor (Studi Kasus Kantor UPTB SAMSAT Kabupaten Muna). Jurnal Akuntansi dan Keuangan fakultas Ekonomi dan Bisnis, UHO Jurnal Akuntansi dan Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UHO page 74, III(1), 27-39.
Artha, K. G. W., & Setiawan, P. E. (2016). Pengaruh Kwajiban Moral, Kualitas Pelayanan, Sanksi Perpajakan dan Kepatuhan Wajib Pajak di KPP Bandung Utara. E-jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 17(2), 913-937.
Ajzen, I. (2005). Ajzeni-2005-attitudes-personality-and-behaviour-2nd-ed-open-uviversity-press.pdf. Internasional Journal of Strategic Innovation Marketing, 3, 117.
Cahyadi, I. M. W., & Jati, I. K (2016). Pengaruh Kesadaran, Sosialisasi, Akuntabilitas Pelayanan Publik dan Sanksi Perpajakan pada Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 16(3), 2342-2373.
Chau, Liung. 2009. A Critical Review of Fisher Tax Compliance Model (A Research Syntesis). Jurnal of Acconting Taxation, 1(2), pp: 34-40.
Devano, S. & Rahayu, S. K. (2006). Perpajakan Konsep, Teori dan Isu.
Jakarta:Prenada Media.
Dewi Arista, Ni putu. 2015. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak dan Sanksi Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Yang Melakukan Kegiatan Usaha dan Pekerjaan Bebas Pada Wilayah Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Barat. Skripsi. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa, Denpasar.
Ghozali, imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: Badan Penerbit Universitas Udayana.
Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 22. Edisi V. Semarang. Badan Penerbit Uviversitas Diponegoro.
Ilhamsyah, R., Endang, M. G. W., & Dewantara, R. Y. (2016). Pengaruh Pemahaman dan Pengetahuan Wajib Pajak Tentang Peraturan Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan dan Sanksi Pajak Kendaraan Bermotor (Studi SAMSAT kota Malang). Jurnal
https://doi.org/10.1017/CDO9781107415324.004.
Jatmiko, A. N. (2006). Pengaruh Sikap Wajib Pajak Pada Pelaksanaan Sanksi Denda, Pelayanan Fiskus dan Kesadaran Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak ( Studi Empiris Terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi di Kota Semarang ). Tesis Program Studi Magister Akuntansi Universitas Diponegoro, 86.
Mahaputri, N. N. T., & Noviari, N. (2016). Pengaruh Pemahaman Peraturan Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak dan Akuntabilitas Pelayanan Publik Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. E-jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 17(3), 2321-2351.
Mahfud, Arfan, M., & Abdullah, S. (2017). Pengaruh Pemahaman Peraturan Perpajakan, Kesadaran Membayar pajak, dan Kualitas Pelayanan Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan (Studi Empiris Pada Koperasi di Kota Banda Aceh). Jurnal Megister Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, 6(3), 1-9.
Mardiasmo, 2011. Perpajakan Edisi Revisi Tahun 2011. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Mardiasmo.(2018). Perpajakan. Edisi 2018 Andi Publisher.
Marziana Bt. Hj. Mohamad, Norkhazimah Bt. Ahmad, and Mohamad Sakarnor Bin Deris. 2010. The Relationship Between Perceptions and level of compliance Under Self Assesment System-A Study in East Coast Region. Journal of Global Business and Economic, 1(1), pp:241-257.
Mustikasari. 2008. Faktor Prilaku Dan Lingkungan Organisasi yang Mempengaruhi Ketidak Patuhan Tax Professional Dalam Melaksanakan Kewajiban Perpajakan Pada Suatu Perusahaan Industri Pengolahan Di Surabaya, Diserta. Program Pasca Sarjana Universitas Erlangga, Surabaya.
Ni Putu Ayu Sista, (2019). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan Pajak, Kewajiban Moral, dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor di Kantor SAMSAT Gianyar. Jurnal Sains, Akuntansi dan Manajemen Vol. 1, No. 1.
Nuraini, E. R., Wirmie, E. P., & Fitrini, M. (2018). Pengaruh Pemahaman Peraturan Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak, Akuntabilitas Pelayanan Publik, Dan Kewajiban Moral Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Empiris pada Kantor Bersama SAMSAT Kota Jambi).
Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 6(3), 405-418.
Susilawati, K. E., & Budiartha, K. (2013). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Pengetahuan Pajak, Sanksi Perpajakan dan Akuntabilitas
Bermotor. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 4(2), 345-357.
Tri Julianti Fatimah Ismail. (2017). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Upaya Pemenuhan Kewajiban Pajak Kendaraan Bermotor di Kota Makasaar. Skripsi Universitas Hasanuddin Makassar Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pengetahuan Perpajakan dan Pelayanan Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor di Kabupaten Semarang. Fakultas Ekonomi Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, Indonesia, 1-14.
Wardani, D. K., & Rumiyatun, R. (2017). Pengaruh Pengetahuan Wajib Paja, Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Pajak Kendaraan Bermotor, dan Sistem Drive Thru Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor. Jurnal Akuntansi, 5(1), 15-24.
https://doi.org/10.24964/ja.v5il.253
Wa Ode Aswati, Mas’ud & Nudi, T. N. (2018) Pengaruh Kesadaran Wajib
Wa Ode Aswati, Mas’ud & Nudi, T. N. (2018) Pengaruh Kesadaran Wajib