• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI REZKIA ISNAENI SAHARUDDIN NIM (Halaman 39-0)

BAB III METODE PENELITIAN

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Kantor SAMSAT yang bertempat di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Sedangkan waktu penelitian kurang lebih selama 2 bulan dimulai dari bulan agustus-september 2021.

C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran 1. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen pada penelitian ini adalah kepatuhan wajib pajak.

Kepatuhan dalam hal perpajakan merupakan suatu kedisiplinan yang dimiliki oleh wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya dibidang perpajakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Kepatuhan dalam hukum pajak memiliki arti umum sebagai melaporkan secara benar dasar pajak, memperhitungkan secara benar kewajiban, tepat waktu dalam pngembalian, dan tepat waktu membayar jumlah dihitung (Cahyadi dan Jati, 2106). Indikator yang digunakan dalam kepatuhan wajib pajak

terhadap ketentuan perundang-undangan pajak kendaraan, wajib pajak mengisi formulir pajak dengan lengkap, benar dan jelas, wajib pajak membayar pajak kendaraan dalam jumlah yang sesuai dengan biaya-biaya yang terter pada surat-surat kendaraan.

2. Variabel Independen (X)

Variabel independen dalam penelitian ini terdiri dari 3 variabel yaitu kesadaran wajib pajak (X1), kewajiban moral (X2), dan akuntabilitas pelayanan publik (X3).

a. Kesadaran Wajib Pajak, adalah suatu kondisi dimana wajib pajak memahami tententuan perpajakan dan melaksanakannya dengan baik dan benar. Kesadaran wajib pajak dapat dilihat dengan kesungguhan dan keinginan wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya yang ditunjukkan dalam pemahaman wajib pajak terhadap fungsi pajak dan kesungguhannya dalam membayar pajak dam melaporkan pajak. Indikator yang digunakan dalam kesadaran wajib pajak diadopsi dari penelitian (Mahaputri dan Noviari, 2016) yaitu pajak kendaran bermotor merupakan bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan daerah, menunda pembayaran pajak dan pengurangan beban pajak kendaraan sangat merugikan daerah, pajak ditetapkan dengan undang-undang dan dapat dipaksakan, hasil pemungutan pajak dapat dinikmati kembali oleha wajib pajak walaupun tidak secara langsung, membayar pajak dengan tepat waktu dapat mempercepat realisasi program pemerintah untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat

tetapi kemungkinan tidak dimiliki orang lain (Ajzen, 2002). Menurut Wenzel (2005) moral wajib pajak, etika, dan sosialnya sangat berpengaruh terhadap perilaku wajib pajak. Penelitian ini diukur dengan indikator yang mengadopsi dari penelitian (Artha dan Setiawan, 2016) yaitu tanggung jawab pemeliharaan negara adalah tanggung jawab bersama, ada perasaan cemas jika tidak melaksanakan kewajiban pajak sebagaimana mestinya, ada perasaan bersalah jika melakukan penggelapan pajak, ada perasaan bersalah jika tidak membayar pajak, menghitung, membayar dan melaporkan pajak dengan benar dan sukarela.

c. Akuntabilitas Pelayanan Publik, kualitas pelayanan pajak merupakan tingkat baik buruknya layanan pajak dimana kualitas pelayanan yang baik dapat terwujud petugas pajak melakukan tugasnya secara profesional, disiplin, transparan dan wajib pajak merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Variabel independen dalam penelitian ini diukur menggunakan indikator yang diadopsi dari penelitian (Mahaputri dan Noviari, 2016) yaitu bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati.

Ketiga variabel independen tersebut diukur menggunakan skala likert 1 s.d 5 yang menujukkan setuju atau tidak dengan pernyataan yang disajikan, dengan skala likert yang digunakan yaitu: sangat setuju (5), setuju (4), ragu-ragu (3), tidak setuju (2), sangat tidak setuju (1).

1. populasi

Populasi mengacu pada keseluruhan orang, kejadian, atau hal minat yang akan diinvestigasi (Sekaran, 2006:121). Populasi dalam penelitian ini adalah wajib pajak kendaraan bermotor yang terdaftar di SAMSAT Pangkep yaitu sebanyak 180.899.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi. Sampel terdiri dari sejumlah anggota yang dipilih dari populasi, dengan kata lain, sejumlah, tetapi tidak semua elemen populasi akan membentuk sampel. Jadi, sampel adalah sub kelompok atau sebagian dari populasi. Dengan mempelajari sampel, akan ditarik kesimpulan yang dapat digeneralisasikan terhadap populasi penelitian. Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode accidental sampling, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti di lokasi penelitian dapat digunakan sebagai sampel apabila orang ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2013: 122). Adapun yang menjadi kriteria responden dalam penelitian ini adalah seluruh wajib pajak PKB yang terdaftar di kantor bersama SAMSAT Pangkep. Perhitungan penentuan sampel dengan menggunakan rumus Slovin (Umar Husein, 2008:78) yaitu :

n =

Keterangan:

n = Jumlah anggota sampel N = Jumlah anggota populasi e = Nilai kritis (batas ketelitian 0,1)

n =

n = 99,99

n = 100 (dibulatkan)

Dari hasil rumus slovin diatas,maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejumlah 100 (seratus) wajib pajak PKB.

E. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan data sekunder. Data primer yang diperoleh dari peyebaran kuesioner.

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab, Sugiyono (2015 : 249). Data primer dalam penelitian ini adalah informasi yang dikumpulkan berdasarkan jawaban responden mengenai kepatuhan wajib pajak, kesadaran wajib pajak, kewajiban moral, dan akuntabilitas pelayanan publik. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media prantara umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (dokumenter) baik yang dipublikasikan maupun tidak.

Data sekunder dalam penelitian ini berupa penlitian terdahulu, jurnal-jurnal, dan mengakses website.

F. Instrumen Pengumpulan Data

Menurut Arikunto (2007:101) mengatakan bahwa instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data, agar kegiatan tersebut dipermudah olehnya. Sedangkan menurut Sugiyono (2013) mengemukakan bahwa

Instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat.

Pada penelitian ini, instrumen penelitian yang digunakan adalah teknik kuesioner dimana peneliti memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden yang berkaitan dengan variabel-variabel yang akan diuji kemudian diukur menggunakan skala likert, dimana responden memilih kategori sangat setuju (5), setuju (4), ragu-ragu (3), tidak setuju (2), dan sangat tidak setuju (1). Penyebaran kuesioner dilakukan dengan bantuan google form untuk memporoleh data. Proses penyebaran kuesioner dilakukan dengan menggunakan fasilitas pengisian data pada google form, yang dikirimkan kepada responden yang kebetulan cocok dan bersedia menjadi responden. Selanjutnya responden diharuskan menjawab pertanyaan dan pernyataan yang diajukan oleh peneliti melaului kuesioner online (google form). Data sekunder yang memporoleh data dari lembaga yang berpengaruh dengan penelitian, buku pustaka, dan sebagainya seperti studi kepustakaan, pengambilan data dari luar tempat penlitian secara langsung seperti pengambilan data dari lembaga sekitar tempat penelitian.

G. Metode Analisis 1. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk valid atau tidaknya suatu kuesioner.

Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2011).

person correlation > 0.30 maka pertanyaan atau indikator tersebut dinyatakan valid (Sugiyono 2012:124). Penyelesaian pengujian validitas menggunakan program IBM SPSS Statistics Version 21.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan sebagai alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten dari waktu ke waktu. Indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk mengukur reliabel atau handal, apabaila memiliki koefisien reliabilitas alpa cronbach (a) sebesar 0,70 atau lebih (Ghozali 2016:133). Artinya semakin dekat (a) dengan 1, maka semakin tinggi ketepatan alat ukur. Sementara itu dalam pengujian reliabilitas juga menggunakan program IBM SPSS Statistics Version 21.

3. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, residu,dan persamaan regresi mempunyai distribus normal atau tidak. Cara pengujiannya antara lain menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Jika tidak normal, maka prediksi yang dilakukan dengan model tersebut akan tidak baik, atau dapat memberikan hasil prediksi yang normal apabila tingkat signifikannya menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,05 (Ghozali, 2016:160-161).

4. Uji Heteroskedastisitas

model regresi terjadi kesamaan variabel. Jika variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka itu disebut Homokedastisitas dan jika pengamatannya beda maka disebut heteroskedastisitas. Dikatakan baik adalah yang homokedastisitas dan tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011).

Cara pengujian ada atau tidaknya heteroskedastisitas dengan Glesjer Test. Kriteria pengujiannya dinilai signifikan dari variabel independen lebih dari 0,05 maka tidak terjadi heterskodestisitas, dan jika nilai signifikan dari variabel independen lebih kecil dari 0,05 maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2016:137-138).

5. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji pada model rekregi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.

Untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolonieritas dapat dilihat dari besarnya nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor) melalui Statistical Product and Service Solution (SPSS). Jika nilai tolerence >

0,10 atau nilai VIF < 10,00 maka tidak terjadi multikolonieritas (Ghozali, 2016).

6. Analisis Regresi Linear Berganda

Hipotesis menyatakan bahwa diduga kesadaran wajib pajak (X1), kewajiban moral (X2), dan akuntabilitas pelayanan publik (X3) mempunyai pengaruh simultan terhadap kepatuhan wajib pajak (Y).

Untuk menguji hipotesis tersebut diperlukan alat analisis regresi

sejauh mana variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Adapun persamaan yang digunakan adalah:

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 Dimana:

Y = Kepatuhan wajib pajak X1 = Kesadaran wajib pajak X2 = Kewajiban moral

X3 = Akuntabilitas pelayanan publik α = Konstanta regresi

β = Koefisien regresi 7. Uji statistik t (t-test)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikan 0.05 (α = 5%). Penerimaan atau penolakan hipotesis dengan kriteria sebagai berikut:

a. Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tdiak signifikan). Hal ini berarti secara persial variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

b. Jika nilainya signifikan < 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi signifikan). Hal ini berarti secara persial variabel independen mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016:97).

Koefisien determinasi (R2) menunjukkan seberapa jauh variabel independen menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Nilai dari koefisian determinasi bernilai antara nol (0) sampai (1). Nilai R2 yang kecil mengartikan kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen yang terbatas. Nilai yang mendekati (1) berati variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2011).

35

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Samsat kabupaten Pangkep

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan biasa disingkat Pangkep memiliki luas wilayah 12.362,73 Km2 yang terdiri dari luas wilayah daratan 898,29 Km2 dan wilayah laut 11.464,44 Km2 dengan jumlah penduduk 345.812 jiwa (2020). Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulsel dibentuk untuk menigkatkan pendapatan daerah, antara lain, melalui penguatan taxing power yang dilakukan dengan mengimplementasikan secara efektif regulasi perpajakan daerah dan retribusi daerah sesuai kewenangan pememrintahan daerah provinsi sebagaimana diatur dalam undang-undang No 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Mengingat luasnya wilayah pengelolaan obyek pajak dan perkembangan jumlah kendaraan yang pesat di Provinsi Sulsel,maka sejak 2008 dibentuk Unit Pelayanan Teknisi Daerah (UPT) untuk melakukan efisiensi dn efektivitas pelaksaan tugas pokok. Awalnya, perpanjangan tangan pengelolaan pajak di daerah hanya dilayani 10 UPTD Samsat dan 13 Samsat Pembantu, berdasarkan peraturan Gubernur Sulsel No 16 tahun 2010 tentang organisasi dan tat kerja unit pelaksana teknis jumlah UPT bertambah menjadi 15 UPT dan hingga 2017 UPT telah hadir dismua kabupaten/kota, jumlahnya 25 unit, 1 diantaranya terdapat di kabupaten Pangkep.

pelaksanaan pemungutan pajak-pajak daerah khususnya pemungutan pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Biaya Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) serta sumbangan wajib kecelakaan lalu lintas jalan, maka kerja sama dengan pihak lain terutama Kepolisian dan Jasa Raharja sangat diperlukan.

Dengan intruksi Bersama Mentri Keamanan, Mentri Dalam Negeri dan Mentri Keuangan Nomor INS/03/M/X/1999, Nomor 29 tahun 1999, Nomor 61/IMK.014/1999, maka dibentuk sistem Administrasi Manunggal di Bawah Satu Atap (samsat), UPTD Dinas Pendapatan Provinsi Sulsel di Kabupaten Pangkep.

2. Visi dan Misi Samsat Pangkep

- Visi

“Maksimalnya Peningkatan Pendapatan Daerah Melalui Pengelolaan Pendapatan Daerah yang Bersih, Tertib, Transparan, Akuntabel dan Inovatif”.

- Misi

1. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar 13% per tahun dan total pendapatan daerah sekitar 10%.

2. Meningkatkan kapasitas, efektivitas, dan efisiensi unit kerja dalam rangka memberikan kualitas prima dalam pelayanan pajak.

jujur, bertanggung jawab dan profesional dalam mengelola pendapatan daerah.

4. Mewujudkan sistem dan prosedur pengelolaan pendapatan daerah yang trasnparan dan akuntabel.

3. Struktur Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI KANTOR SAMSAT PANGKEP

GAMBAR 4.1

Sumber: Kantor Samsat Pangkep 2021

1. Kepala UPT kabupaten Pangkep bertugas melaksanakan oprasional pelayanan pendapatan pemerintah dibidang pajak, retribusi dan pungutan lainnya yang sah meliputi pendapatan, penetapan, pemungutan, penagihan, pelaporan dan evaluasi sesuai petunjuk, pedoman kerja dan ketentuan yang telah ditetapkan untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

2. Kepala Bagian Tata Usaha bertugas melaksanakan urusan administrasi kepegawaian, organisasi dan tata laksana, melaksanakan urusan

KEPALA UPT

KEPALA BAGIAN TATA USAHA

KEPALA SEKSI BAGIAN PENDATAAN

DAN PENAGIHAN KEPALA SEKSI BAGIAN

PENETAPAN DAN PENERIMAAN

penyusunan laporan organisasi upt, melaksanakan penatausahaan keuangan, melaksanakan urusan dokumentasi perkantoran, menyusun laporan perkembangan kinerja upt pendidikan dan pelatihan, dan melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan atas sesuai bidang tugasnya masing-masing.

3. Kepala seksi bagian pendataan dan penagihan bertugas mengordinasikan kebijakan pendataan dan pendaftaran objek pajak, serta mengordinasikan kebijakan penagihan pajak, memonitoring, mengevaluasi dan menyusun pelaporan bidang pendataan dan penagihan.

4. Kepala seksi bagian penetapan dan penerimaan bertugas melaksanakan pengoordinasian kebijakan penetapan dan pendistribusian ketetapan pajak.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Penelitian ini mengambil sempel sebanyak 100 orang yang diperoleh dengan metode accidental sampling. Accidential sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, artinya jika siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok sebagai sampel atau sumber daya (Sugiyono, 2012:67). Sampel dalam penelitian ini adalah wajib pajak kendaraan bermotor. Dari 100 sampel yang digunakan, peneliti mendapat 66 responden yang cocok dijadikan sebagai sampel. Sehingga kuesioer yang dapat digunakan sebanyak 66 kuesioner.

Uji kualitas data

Ketentuan suatu instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisient person correlation > 0.30 (Sugiyono, 2012:124). Hasil pengujian validitas dapat dilihat pada Tabel 4.2 sebagai berikut:

yang digunakan untuk mengukur variabel dalam penelitian ini mempunyai person correlation > 0,30 dan signifikansi < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua indikator yang digunakan dinyatakan valid.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya untuk mengukur reliabel, apabila koefisien reliabiltas (a) sebesar 0,70 atau lebih (Ghozali, 2012:133). Hasil pengujian reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 4.3 berkaitan dengan variabel independen dan variabel dependen memiliki nilain cronbach’s alpha > 0,70 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh data yang digunakan pada kuesioner dikatakan reliabel.

3. Uji Normalitas

Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Jika tidak normal, maka prediksi yang dilakukan dengan

apabila tingkat signifikannya menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,50 (Ghozali, 2016:160-161). Uji normalitas data dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov yang dapat dilihat pada 4.4 dibawah ini:

Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas

Sumber: Data diolah

Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan nilai Kolmogorov-Smirnov 0,163 dengan nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,050 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan merupakan data yang berdistribusi normal.

4. Uji Heterokedastisitas

regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Kriteria pengujiannya dinilai signifikan dari variabel independen > 0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas, dan jika nilai signifikan dari variabel independen lebih kecil dari 0,05 maka ada indikasi terjadi heterokedastisitas (Ghozali 2016:137-138). Hasil uji heterokedastisitas dapat dilihat pada Tabel 4.5 dibawah ini:

Tabel 4.5

Hasil Uji Heterokedastisitas

Pada tabel 4.5 diatas dapat dilihat pada kolom sig. Bahwa nilai signifikan variabel-variabel bebas yang digunanakn dalam penelitian memiliki nilai lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa syarat heterokedastisitas telah dipenuhi.

5. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk

besarnya

nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor) melalui Statistical Product and Service Solution (SPSS). Jika nilai tolerence > 0,10 atau nilai VIF < 10,00 maka tidak terjadi multikolonieritas (Ghozali, 2016). Hasil uji variabel < 10,00 dan nilai tolerance semua variabel > 0,10 yang berarti tidak terjadi korelasi antar variabel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala multikolonieritas antar variabel dalam model regresi.

6. Analisis Regresi Linear Berganda

wajib pajak kendaraan bermotor di kantor samsat Pangkep yang disebabkan oleh kesadaran wajib pajak, kewajiban moral dan akuntabilitas pelayanan publik dengan rumus (Sugiyono, 2012). Hasil pengujiannya dapat dilihat pada Tabel 4.7 dibawah ini:

Berdasarkan Tabel 4.7 diatas diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Y = 2.825 + 0,211 X1 + 0,149 X2 + 0,009 X3

Berdasarkan persamaan regresi diatas maka dapat dijelaskan bahwa:

variabel-variabel bebas tidak mengalami perubahan (konstan) maka nilai Y adalah sebesar 2,825.

2. Variabel Kesadaran Wajib Pajak (X1) memiliki keofisien regresi sebesar 0,211. Hal ini berarti jika variabel kesadaran wajib pajak meningkat sebesar 1%, maka Kepatuhan Wajib Pajak akan mengalami penigkatan sebesar 0,211%.

3. Variabel Kewajiban Moral (X2) memiliki koefisien regresi sebesar 0,149. Hal ini berarti jika variabel kewajiban moral meningkat sebesar 1% maka Kepatuhan Wajib pajak tidak mengalami peningkatan atau penurunan sebesar 0,149%

4. Variabel Akuntabilitas Pelayanan Publik (X3) memiliki koefisien sebesar 0,009. Hal ini berarti jika variabel Akuntabilitas Pelayanan Publik meningkat sebesar 1% maka Kepatuhan Wajib Pajak tidak mengalami peningkatan atau penurunan sebesar 0,009%

7. Uji t

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikan 0.05 (α = 5%). Hasil t test dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut:

Hasil Uji t

Berdasarkan hasil uji t diatas dapat dijelaskan bahwa:

1. Kesadaran Wajib Pajak (X1) dengan nilai signifikan sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa kesadaran wajib pajak (X1) berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak (Y).

2. Kewajiban Moral (X2) dengan nilai signifikan sebesar 0,067 lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti bahwa kewajiban moral (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak (Y).

pajak (Y).

8. Uji Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) menunjukkan seberapa jauh variabel independen menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011). Hasil pengujiannya dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.9 Hasil Uji Determinasi

Berdasarkan Tabel 4.9 di atas dapat dilihat pada nilai Adjusted R Square sebesar 0,387 atau 38,7% yang berarti kesadaran wajib pajak (X1), kewajiban moral (X2), dan akuntabilitas pelayanan publik (X3) secara simultan mempunyai pengaruh sebesar 38,7% terhadap kepatuhan wajib pajak (Y) yang sisanya 62,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Pembahasan

1. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hasil hipotesis pertama variabel Kesadaran Wajib Pajak dapat dilihat dari hasil uji t pada tabel 4.8 bahwa nilai koefisien pada persamaan linear berganda bertanda positif yaitu sebesar 0,211 dengan nilai signifikan sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05, berarti H1 diterima. Hal tersebut menyatakan bahwa meningkatnya kesadaran wajib apajak akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak itu sendiri. Sesuatu yang disampaikan Jahyadi (2017) dan Kusuma (2017) yang menyatakan bahwa kesadaran membayar pajak yang mendorong wajib pajak untuk membayar pajak dan juga pada penelitian Nuraeni Elfa Ruki (2018) menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dimana hasil penilitian juga sejalan dengan yang telah dilakukan.

Hal tersebut terjadi karena wajib pajak mengerti dan memahami manfaat pembayaran pajak sebagai bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan negara maka dengan sendirinya akan melakukan pembayaran pajak tanpa adanya paksaan atau perasaan dirugikan karena merasa harus membayar pajak.

Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 60 responden atau 60% setuju dan sangat setuju bahwa pajak kendaraan bermotor merupakan partisipasi dalam menunjang pembangunan daerah. Sebanyak 54 responden atau 54% setuju dan sangat setuju bahwa pajak adalah iuran rakyat untuk dana pengeluaran umum pelaksanaan fungsi pemerintah. Sebanyak 56 responden atau 56% setuju dan sangat setuju bahwa pajak adalah sumber penerimaan daerah terbesar. Dan sebanyak 62 responden atau 62% setuju dan sangat setuju bahwa pajak adalah kewajiban yang harus dibayar sebagai

wajib pajak kendaraan bermotor di kota Pangkep sebagian besar telah mempunyai kesadaran yang cukup tinggi terhadap kewajiban perpajakannya.

Ini juga sejalan dengan teori kepatuhan dimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kepatuhan berasal dari kata patuh yang berati suka atau taat terhadap peraturan. Kepatuhan berarti sikap patuh, taat, tunduk pada ajaran dan peraturan. Kepatuhan juga dapat di artikan sebagai suatu perubahan perilaku dari perilaku yang tidak menaati peraturan ke perilaku yang menaati peraturan (Green, 1991).

2. Pengaruh Kewajiba Moral Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

H2 menyatakan bahwa Kewajiban Moral berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hasil hipotesis kedua, variabel kewajiban moral tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.8 menunjukkan nilai koefisiensi pada persamaan linear berganda sebesar 0,149 dan nilai signifikan sebesar 0,067 lebih bear dari 0,5, berarti H2 ditolak. Artinya moral seorang wajib pajak tidak memiliki dampak bagi kepatuha wajib pajak.

Kesimpulan ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Tri Julianti Fatimah Ismail(2017) yang mengatakan bahwa kewajiban moral berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Tetapi hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewajiban moral tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak kendaraan bermotor.

3. Pengaruh Akuntabilitas Pelayanan Publik Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Berdasarkan hasil hipotesis ketiga, variabel akuntabilitas pelayanan publik tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini dapat dilihat dari pada tabel 4.8 meninukkan nilai koefisien pada persamaan linear berganda sebesar 0,009 dengan nilai signifikan 0,855

positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Berdasarkan hasil hipotesis ketiga, variabel akuntabilitas pelayanan publik tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini dapat dilihat dari pada tabel 4.8 meninukkan nilai koefisien pada persamaan linear berganda sebesar 0,009 dengan nilai signifikan 0,855

Dalam dokumen SKRIPSI REZKIA ISNAENI SAHARUDDIN NIM (Halaman 39-0)

Dokumen terkait