METODE PENELITIAN
3.3. Metode Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data sekunder melalui penelusuran kepustakaan dengan mengambil kasus di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Menurut Singarimbun dan Effendi (1981), metode penelitian analisis data sekunder yang digunakan dalam penelitian ilmiah, biasanya sudah tersedia data yang dapat digunakan. Data tersebut diantaranya merupakan hasil survei yang belum diperas dan dianalisis lebih lanjut untuk dapat menganalisis sesuatu yang berguna, juga dapat berupa studi perbandingan dari studi-studi yang pernah dilakukan.
Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif, yang ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Analisis data kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana kontribusi (perkembangan) sektor perikanan dalam perekonomian wilayah. Analisis kualitatif digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi. Analisis yang dimaksud adalah deskripsi daerah penelitian, deskripsi tentang implikasi terhadap strategi kebijakan pembangunan wilayah dengan sektor-sektor yang ada di wilayah tersebut, misalkan kegiatan ekonomi wilayah. Selain itu analisis kualitatif dapat berupa keadaan umum wilayah seperti pemerintahan, jumlah penduduk, tenaga kerja, potensi ekonomi, sistem sosial dan hal-hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian.
3.3.1. Analisis Kontribusi Sektor Perikanan
Analisis Kontribusi (perkembangan) yang merupakan bagian dari analisis Shift share ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kontribusi sektor perikanan terhadap PDRB dengan menggunakan formula (Swasono dan Endang dalam Anita, 1999):
Ki = Vi / Pi x 100% Dimana :
Ki = besarnya kontribusi sektor perikanan di Kabupaten Maluku Tengah pada tahun ke-i
UNIVERSITAS
Vi = Jumlah PDRB sektor perikanan di Kabupaten Maluku Tengah pada tahun ke-i
Pi = Total PDRB seluruh sektor di Kabupaten Maluku Tengah pada tahun ke-i
3.3.2. Analisis Sektor Basis
Analisis sektor basis menggunakan pendekatan Location Quotient (LQ) bertujuan untuk mengetahui apakah sektor perikanan merupakan sektor basis atau sektor non-basis, dengan menggunakan rumus (Budiarsono, 2001) sebagai berikut:
LQ = (Vi/Vt)/(Pi/Pt) Dimana :
LQ = Location Quotient
Vi = jumlah PDRB sektor perikanan di Kabupaten Maluku Tengah Vt = jumlah PDRB sektor perikanan di Provinsi Maluku
Pi = jumlah PDRB seluruh sektor di Kabupaten Maluku Tengah Pt = jumlah PDRB seluruh sektor di Provinsi Maluku
Kriteria penilaian:
Jika LQ < 1, berarti sektor perikanan bukan merupakan kegiatan basis dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah.
Jika LQ > 1, berarti sektor perikanan merupakan kegiatan basis dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah.
3.3.3. Analisis Pola dan Struktur Pertumbuhan
Analisis ini menggunakan Tipologi Klassen yang pada dasarnya membagi daerah berdasarkan 2 (dua) indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan perkapita daerah. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai vertikal dan rata-rata perdapatan perkapita sebagai sumbu horisontal, daerah yang diamati dapat menjadi 4 klasifikasi (Sjafrizal, 2008) yaitu: 1. Tipologi I: sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat (developed sector) kuadran I. kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s) dan memiliki
UNIVERSITAS
pendapatan perkapita dari sektor perikanan (ski) yang lebih besar dibandingkan pendapatan perkapita dari sektor perikanan daerah yang menjadi referensi (sk). klasifikasi ini di lambangkan dengan si > s dan ski > sk.
2. Sektor maju tapi tertekan (stagnant sector) Kuadran II. Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s), tetapi memilki pendapatan perkapita dari sektor perikanan (ski) yang lebih besar dibandingkan pendapatan perkapita dari sektor perikanan daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si < s dan ski > sk.
3. Sektor potensial atau masih dapat berkembang (developing sector) Kuadran III. Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s), tetapi memiliki pendapatan perkapita dari sektor perikanan (ski) yang lebih kecil dibandingkan pendapatan perkapita dari sektor perikanan daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si > s dan ski < sk.
4. Sektor relatif tertinggal (underdeveloped sector) Kuadran IV. Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s) dan sekaligus memiliki pendapatan perkapita dari sektor perikanan (ski) yang lebih kecil dibandingkan pendapatan perkapita dari sektor perikanan daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si < s dan ski <sk.
UNIVERSITAS
Klasifikasi sektor PDRB menurut tipologi Klassen sebagaimana tercantum pada kuadran-kuadran berikut ini:
Kuadran I
Sektor maju dan tumbuh dengan pesat (developed sector)
si > s dan ski > sk
Kuadran II
Sektor maju tapi tertekan (Stagnant sector) si < s dan ski > sk Kuadran III
Sektor potensial atau masih dapat berkembang (developing sector)
si > s dan ski < sk
Kuadran IV Sektor relatif tertinggal (underdeveloped sector)
si < s dan ski < sk Sumber: Sjafrizal, 2008
3.3.4. Analisis Aglomerasi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui tingkat konsentrasi/pemusatan kegiatan sektor perikanan pada suatu wilayah. Formula yang digunakan adalah:
α it = (Vi/Pi) – (Vt/Pt) Dimana :
αit = Tingkat Aglomerasi
Vi = Jumlah PDRB sektor perikanan di Kabupaten Maluku Tengah Pi = Jumlah PDRB seluruh sektor di Kabupaten Maluku Tengah Vt = Jumlah PDRB sektor perikanan Provinsi Maluku
Pt = Jumlah PDRB seluruh sektor di Provinsi Maluku
Kriteria nilai aglomerasi adalah jika hasil αit mendekati 1 atau bernilai positif, menunjukan bahwa sektor perikanan terkosentrasi/terpusat pada suatu wilayah. Sedangkan jika αit mendekati nol atau bernilai negatif menunjukkan bahwa sektor perikanan tidak terpusat/ terkosentrasi pada suatu wilayah.
3.3.5. Analisis Spesialisasi
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui tingkat spesialisasi kegiatan sektor perikanan pada suatu wilayah. Formula yang digunakan adalah:
β it = (Vi/Vt) – (Pi/Pt)
UNIVERSITAS
Dimana:
βit = Tingkat spesialisasi
Vi = Jumlah PDRB sektor perikanan di Kabupaten Maluku Tengah Vt = Jumlah PDRB sektor kelautan dan perikanan Provinsi Maluku Pi = Jumlah PDRB seluruh sektor di Kabupaten Maluku Tengah Pt = Jumlah PDRB seluruh sektor di Provinsi Maluku
Kriteria nilai spesialisasi adalah jika hasil βit mendekati 1 atau bernilai positif, menunjukan bahwa sektor perikanan terspesialisasi. Sedangkan jika βit
mendekati nol atau bernilai negatif menunjukkan bahwa sektor perikanan tidak terspesialisasi.
3.3.6. Analisis SWOT
Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah Analisis SWOT (Rangkuti, 2008). Tahap-tahap dalam analisis ini adalah sebagai berikut:
1. Tahap pengumpulan data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan, evaluasi dan pengklasifikasian data melalui pencermatan terhadap faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (ancaman dan peluang), sehingga pada tahap ini data dibedakan atas data internal dan data eksternal.
Selanjutnya data-data tersebut dimasukan dalam dua matriks pada tahap ini, yakni matriks faktor strategi internal dan matrik faktor strategi eksternal, untuk menentukan prioritas pada data-data tersebut melalui pemberian bobot, rating, dan peringkat. Adapun cara penentuan faktor strategi internal dan eksternal dalam matriks adalah sebagai berikut:
a. Susunlah dalam kolom 1 faktor-faktor kekuatan dan kelemahan atau peluang dan ancaman.
b. Berikan bobot pada masing-masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,0 (sangat penting) sampal dengan 0,0 (tidak penting). Pemberian bobot ini dengan pencermatan bahwa faktor internal dan eksternal dapat memberikan dampak atau pengaruh terhadap posisi strategis pengembangan sektor perikanan.
UNIVERSITAS
c. Berikan rating dalam kolom 3 untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampal dengan 1 (poor). Skala tersebut adalah 4 = sangat menonjol, 3 = menonjol, 2 = cukup menonjol, dan 1 = kurang menonjol. Pemberian rating ini dengan pencermatan bahwa pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap strategis pengembangan sektor perikanan.
d. Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3 untuk memperoleh skor terhadap masing-masing faktor pada kolom 4.
e. Gunakan kolom 5 untuk memberikan peringkat berdasarkan skor pada masing-masing faktor. Peringkat ini yang menentukan prioritas dari masing-masing faktor internal dan eksternal.
2. Tahap analisis
Pada tahap ini disusun faktor-faktor strategis melalui matriks SWOT. Matrik ini menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan. Matriks ini menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategi, yakni:
a. Strategi SO (strengths-opportunities)
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang.
b. Strategi ST (strengths-threats)
Strategi ini menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman.
c. Strategi WO (weaknesses-opportunities)
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan.
d. Strategi WT (weaknesses-threats)
Strategi ini dasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
Setelah diperoleh alternatif-alternatif strategi, selanjutnya adalah menentukan prioritas dalam perumusan strategi dan usulan program pengelolaan pengembangan sektor perikanan di Kabupaten Maluku Tengah. Melalui penggunaan dan penjumlahan nilai bobot pada matrik faktor strategi internal
UNIVERSITAS
dan eksternal, kemudian diberi peringkat sesuai dengan besarnya nilai bobot pada masing-masing alternatif strategi.