BAB IV METODE DAKWAH K.H. MISBAHUL MUNIR DI
C. Metode Dakwah Menurut KH. Misbahul Munir
Metode dakwah berasal dari dua kata yaitu metode dan dakwah. Dalam bahasa arab, metode berasal dari kata thariqat atau manhaj yang mengandung arti tata cara. Sedangkan kata dakwah sendiri berasal dari da’a – yad’u – dakwatan yang artinya mengajak atau menyeru kepada jalan Allah SWT. Jadi metode dakwah adalah tata cara mengajak atau menyeru kepada jalan Allah SWT. Metode dakwah adalah alat untuk menyampaikan materi dakwah islam kepada madu dalam aktifitas dakwah yang dilakukan seorang da‟i. Suatu pesan dakwah yang
11
Wawancara pribadi dengan Kh. Misbahul Munir di kediamannya, Jakarta 10 Februari 2014
baik, tapi disampaikan dengan cara yang salah, akan berdampak ditolaknya pesan dakwah oleh mad‟u. Maka karena itulah, pentingnya akan pemahaman ilmu metode dakwah bagi seorang da‟I sebelum melakukan aktifitas dakwahnya ke masyarakat. Dalam ilmu dakwah, Metode dakwah yang selalu menjadi rujukan dalam aktifitas dakwah yaitu pada Surat An-Nahl ayat 125, yaitu:12
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dalam ayat ini metode dakwah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bi-hikmah, mauizzatul hasanah, dan muzadalah billati hiyya ahsan. Adapun pengertiannya adalah sebagai berikut:
1. Metode al-hikmah
Metode Bil-hikmah itu adalah dakwah dengan kebijaksanaan. Mengapa hal ini harus dipahami, adakalanya ajaran itu tidak harus berupa teks yang harus diajarkan kepada masyarakat tapi berupa kebijakan atau kebijaksanaan. Suatu contoh pernah suatu ketika, Kh. Misbahul Munir hendak menyampaikan sebuah ajaran yaitu mau mengajarkan sujud tilawah. Sujud tilawah dalam shalat jum‟at dianjurkan membaca Surat As-Sajadah. Beliau kebetulan masih baru di Masjid At-Taqwa, idealnya dibaca tapi persoalannya masyarakat belum siap dan beliau menganggap ini tidak pakai hikmah tapi pakai teks saja. Jadi hanya sekedar teks
12
Wawancara pribadi dengan Kh. Misbahul Munir di kediamannya, Jakarta 10 Februari 2014
yang harus disampaikan kepada masyarakat dengan kaku ternyata tidak berhasil. Justru menjadi masalah ketika beliau membaca Surat As-Sajadah seharusnya ruku kemudian sujud kejadian itu jadi masalah dan orang pada ribut, pada umumnya shalat harusnya setelah surat itu ruku tapi langsung sujud, dikarenakan beliau membaca Surat As-Sajadah. Hal itu benar secara teori dan secara ajaran tidak ada masalah, tapi persoalannya ketidakmampuan beliau menyampaikan secara kurang bijak.
Lalu contoh yang ke dua karena masyarakat maupun para santeri disini susah diajarkan tentang najis, sampai mulut berbusa orang tidak bakalan mengerti najis. Sekali diingatkan akan najis, jamaah pada menggurutu dan dampaknya setiap ada pengajian datangnya sedikit. Dengan keadaan itu, maka Kh. Misbahul Munir membuat kolam air mengalir yang isinya lebih dari dua kulla di depan tempat wudhu. Hal ini menerjemahkan ilmu yang beliau pahami, dibuatkan kolam yang isi air dua kolla tain dan pemahaman air dua kola tain adalah ketika kejatuhan barang najis jadi airnya tidak najis. Maka dibuatlah kolam di depan tempat wudhu, mungkin secara teks tidak ada anjuran harus dengan hal itu tapi beliau pikir itu bagian dari kebijaksanaan. Tentu cara yang baik kita menyampaikan karena prinsip kita “man amanah bin mahruf hal yukun amanah
bin mahruf “yang artinya barang siapa yang memerintahkan kebaikan maka
dengan cara yang baik salah satunya dengan dakwah bil-hikmah atau kebijakan atau kebijaksanaan. Dalam penyampaiannya materi dakwahnya, Kh. Misbah juga lebih dulu mengenali lawan bicara sesuai dengan ukuran madu yang diajak berbicara dan mampu memilih kata yang tepat yaitu dengan perkataan qaulan
lembut) qaulan marufan (perkataan yang baik) qaulan maisura (perkataan yang ringan) qulan karima ( perkataan yang mulia), hal itu bertujuan agar aktifitas dakwah berjalan sesuai dengan harapan. Khusus kepada para santeri beliau, penerapan metode al-hikmah yaitu sebelum mengaji membaca membaca Surat Al-Mulk bahkan dianjurkan untuk dihafal dan disertai amalan doa setelah membaca Surat Al-Mulk. Lalu kemudian dilanjutkan pembacaan Tabarroq, Asmaul Husna, pembacaan Rattib Al-Haddad dan bangun malam menjelang shubuh atau
“aktifitas penggerak hati”.
2. Metode dakwah mauidzadatil hasanah
Dakwah mauidzadatil hasanah berarti nasehat yang baik. pengertiannya adalah dakwah dengan yang disampaikan kepada madu dengan perkataan lembut dan penuh kasih sayang dalam menyampaikan pesan dakwah kepada madu. Perumpamaan jangan kita mencuci pakaian dengan air kencing, atau mencuci dengan air comberan bukan malah bersih melainkan tambah najis. Nasehat yang baik harus kita sesuaikan pada kondisi dan tempat. Tidak mungkin marah-marahin di depan orang banyak misalnya, menasehatin orang walaupun itu benar, hal itu tidak akan efektif, misalnya marah di depan mimbar. Mungkin kita sampaikan berdua, ada waktunya kita berdua berbicara dari hati ke hati. Itu suatu contoh, jadi mauidzatul hasanah adalah nasehat yang baik disampaikan dengan cara yang baik. Dalam prakteknya dakwah mauidzadatil hasanah beliau mengisi materi
dakwahnya berupa ceramah umum, pembacaan khotbah jum‟at, berupa pengajian
seperti pengajian malam jumat, dan kajian-kajian kitab seperti kitab Bulughul Marom di Masjid Istiqlal, kajian-kajian keagamaan baik secara media TV maupun radio, adapun kepada santerinya di pesantrean ilmu al-Qur‟an metode dakwah
mauidzadatil hasanah beliau terapkan berupa ceramah dan khotbah jum‟at yang
dihadiri para santeri dan jamaah Masjid At-Taqwa dan kata-kata motivasi kepada santerinya agar menambah semangat belajar dan meraih cita-cita.
3. Metode dakwah mujadalah billati- hiyya akhsan
Dakwah mujadalah billati- hiyya aksan adalah dakwah berdebat dengan cara yang baik untuk meneguhkan sebuah pandangan kita. Atau juga mempunyai arti berdebat/berdiskusi dengan cara yang baik. Menurut Kh. Misbah tidak selalu orang di hadapi dengan argument, kadang-kadang kita kepada orang bodoh cukup diam, “ida kodaa bal mujahiluna kolu salama” kalau orang bodoh tidak usah dilayanin, karena hal itu bagian dari metode. Mengalah saja, dijelaskan pun tidak bakal mengerti, atau kepada orang yang datang kepada kita dalam rangka untuk tidak mencari kebenaran untuk memojokkan dan mencari menang-menangan. tujuan kita i‟dakwah ilallah, bukan idakwah I’llannafsi, bukan I‟dakwah kemenang-menangan. Dakwah kepada sekiranya kita menang, dakwah sekiranya bisa mempermalukan orang kalau semangat dakwahnya i‟lalalah, kalau kira-kira dengan diam sudah cukup, atau tidak menjawab justru dengan menjawab kita tidak akan diterima pandangan kita karena sudah penuh dengan emosional dan sebagainya. Itu yang di sebut dengan metode mujadallah billati hiyya ahsan. Kalau bahasa kasarnya argumenlah dengan yang terbaik, kemudian yang terbaik itu tidak selalu yang menjawab. Dan dalam aktifitas dakwahnya, metode dakwah
mujadallah billati hiyya ahsan beliau aplikasikan pada santerinya pada majelis
fajar yaitu pengajian kitab kuning di pagi hari bersama para santeri dan jamaah Masjid At-Taqwa. Metode mujadalah beliau juga terapkan ketika ada seminar maupun acara keagamaan misalnya beliau sebagai perwakilan dari MUI ketika
mengadakan diskusi dengan perwakilan dari negara Iran berkaitan dengan ajaran syiah di indonesia.13