’
VOLKER JAKARTA UTARA
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)
Oleh:
Hermansyah
NIM: 109051000202
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1.
Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata S1 di UIN Syarif Hidayatullah2.
Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.3.
Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerimasanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 22 April 2015
i
Hermansyah
Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Volker Jakarta Utara.
Metode dakwah adalah suatu tata cara dalam mengajak masyarakat untuk ber’amar maruf nahi mungkar. Dalam literatur Ilmu Dakwah, metode dakwah yang selalu menjadi rujukan yaitu pada Surat An-Nahl ayat 125 yang memuat tiga metode dalam berdakwah yaitu hikmah, maidzha hasanah, dan
al-mujadalah. Dalam aktifitas dakwah, penerapan metode dakwah itu disesuikan
dengan situasi dan kondisi mad’u di mana tempat da’i berdakwah. Karena penggunaan metode yang tepat, yang dilakukan seorang da’i dalam berdakwah kepada madu lebih baik daripada materi dakwah itu sendiri. Penggunaan metode yang tepat yang dilakukan oleh seorang da’i, adalah salah satu kunci kesuksesan dari aktifitas dakwah yang dilakukannya.
Dari uraian di atas maka pertanyaannya adalah, Bagaimana metode dakwah K.H. Misbahul Munir di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Al-Misbah Volker Jakarta Utara? dan Apa metode yang dominan digunakan oleh K.H. Misbahul Munir di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Al-Misbah Volker Jakarta Utara?
Terdapat beberapa Metode dakwah Kh. Misbahul Munir yang diterapkan di Pesantrean Ilmu Al-Qur’an Volker Jakarta Utara yaitu metode hikmah,
al-maidzha hasanah, dan al-mujadalah. Selain metode dakwah, ada beberapa
unsur-unsur dakwah yang mendukung keberhasilan dalam aktifitas dakwah yaitu: Subyek dakwah (da’i), obyek dakwah (madu), materi dakwah, metode dakwah, media dakwah, dan tujuan dakwah. Unsur-unsur dakwah di atas saling melengkapi satu sama lain dalam kesuksesan aktifitas dakwah yang memuat materi dakwah yaitu tentang iman, islam, dan ikhsan.
Penelitian ini Kualitatif Deskriptif Analisis yang berdasarkan data-data yang dihasilkan dari sumber-sumber tertulis mengenai pokok-pokok permasalahan yang akan dikaji. Studi ini dilakukan berdasarkan pada: Penelitian Kepustakaan, wawancara mendalam bersama K.H. Misbahul Munir dan orang-orang terdekatnya. Bingkai penelitain ini hanya ingin mengetahui bagaimana metode dakwah K.H. Misbahul Munir di Indonesia dengan berbagai pendekatan. Hal ini dilakukan agar mendapatkan data yang lengkap dan akurat.
ii Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulilahirobbil ‘alamiiin, puji dan syukur kehadirat Allah SWT. atas
rahmat taufik, dan hidayahNYA peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. shalawat
serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW.
Penulisan skripsi ini berhasil diselesaikan dengan tujuan untuk memenuhi
tugas akhir pendidikan Strata Satu (S1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peneliti
menyadari tanpa bantuan dan bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak,
penelitian skripsi ini tidak akan selesai, untuk itulah pada kesempatan ini peneliti
ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah
2. Dr. Arief Subhan, MA, Selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, Pudek I Dr. Suparto, M.Ed, Ph.D, Pudek II Dr.Hj.
Roudhonah, MA dan Pudek III Drs. Suhaimi, M.Si
3. Drs. Rachmat Baihaky, M.Si dan Fita Fathurokhmah, M.Si, selaku ketua
jurusan dan sekretaris jurusan komunikasi dan penyiaran islam, Noor
Bekti Negoro, SE, M.Si, selaku pembimbing akademik, kami haturkan
terima kasih karena telah banyak memotivasi dalam penulisan skripsi
ini.
4. Kalsum Minangsih, MA, selaku Pembimbing penulis, kami ucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya dalam meluangkan waktunya di
iii
5. K.H. Misbahul Munir, MA, selaku narasumber, terima kasih yang
sebesar-sebesarnya atas kesediaan waktunya ditengah kesibukan dan
ilmu-ilmu yang telah diberikan selama masa penelitian.
6. Kedua orang tua tercinta, Bapak Abdul Halim dan Ibu Siti Aminah yang
memiliki peran yang sangat penting dan tak terkira serta terima kasih
yang telah memberikan doa tulus, ikhlas, dan kasih sayang serta
dukungan moril dan materi kepada peneliti untuk tetap semangat.
7. Kepada istriku tercinta Sri Wahyuni, yang telah membantu dan rela
berkorban ditinggal untuk ke kampus atau bertemu dosen pembimbim
dan memberi semangat dalam penulisan penelitian ini sehingga skripsi
ini dapat rampung.
8. Terima kasih kepada teman-teman KPI F angkatan 2009, terutama Ibnu
Abdillah, Rizki Fadillah, Aziz Orlando, Aryo Bimo dan yang lainnya
yang tidak bisa di sebutkan satu persatu yang ikut membantu dan
memberi semangat dalam penulisan skripsi ini.
9. Teman-teman satu keoraganisasian yaitu HMI, Arkadia, BKC Karate
Club, dan terutama FLP Cabang Ciputat, yang telah membantu penulis
membentuk karakter kepribadian seperti sekarang ini, dan juga tempat
bernaung disaat penulis berada di Ciputat.
10. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam kelancaran penulis skripsi ini, terima kasih atas
dukungannya.
Terima kasih atas semua yang telah meluangkan waktunya untuk sharing
iv
Dan penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itulah kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah
diharapkan untuk menyempurnakan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga penelitian ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi semua pihak. Amien ya Robbal alamien…
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Jakarta, 19 Mei 2015
v
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan dan Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 10
D. Metodologi Penelitian ... 10
E. Tinjauan Pustaka ... 13
F. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II LANDASAN TEORITIS A. Dakwah dan unsur-unsurnya ... 16
1. Pengertian Dakwah ... 16
2. Unsur-Unsur Dakwah ... 19
B. Bentuk –Bentuk Dakwah ... 32
1. Dakwah Dalam Bentuk Lisan (Bil- Lisan) ... 32
2. Dakwah Dalam Bentuk Perbuatan (Bil-Hal) ... 33
3. Dakwah Dalam Bentuk Tulisan (Bil-Qolam) ... 33
BAB III BIOGRAFI K.H. MISBAHUL MUNIR A. Latar Belakang Riwayat Hidup K.H. Misbahul Munir... 34
1. Riwayat Hidup K.H. Misbahul Munir ... 34
2. Latar Belakang Pendidikan K.H. Misbahul Munir ... 42
3. Aktifitas K.H. Misbahul Munir ... 43
4. Karya-Karya K.H. Misbahul Munir ... 44
vi
4. Program Unggulan Pondok Pesantren Al-Qur’an
Al-Misbah ... 49
BAB IV METODE DAKWAH K.H. MISBAHUL MUNIR DI PESANTREN ILMU AL-QUR’AN VOLKER JAKARTA UTARA A. Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir Di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Al-Misbah ... 50
1. Pengertian Metode Dakwah Menurut Kh. Misbahul Munir ... 50
2. Unsur-Unsur Dakwah Menurut Kh. Misbahul Munir .... 52
B. Metode Dakwah yang dominan dipakai dalam berdakwah oleh K.H. Misbahul Munir ... 57
C. Metode Dakwah Menurut KH. Misbahul Munir ... 61
1. Metode Al-Hikmah ... 62
2. Metode Dakwah Mauidzadatil Hasanah ... 64
3. Metode Dakwah Mujadalah Billati-Hiyya Akhsan ... 65
E. Media Dakwah Menurut KH. Misbahul Munir ... 66
F. Efek Dakwah Menurut KH. Misbahul Munir ... 67
G. Tujuan Dakwah Menurut KH. Misbahul Munir ... 68
H. Metode Dakwah Paling Dominan yang Digunakan Oleh KH. Misbahul Munir Di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Al-Misbah Volker Jakarta Utara ... 69
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 73
B. Saran-Saran ... 75
DAFTARN PUSTAKA ... 76
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama dakwah, artinya agama yang selalu mendorong
pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Kemajuan dan
kemunduran umat Islam sangat berkaitan erat dengan dakwah yang dilakukannya.
Karena itu, Al-Qur‟an menyebut kegiatan dakwah dengan ahsanul qaula (ucapan) dan perbuatan yang baik.1
Jalan dakwah dalam menegakkan amar maruf nahi mungkar, menapaki jalan
yang panjang dimana aktifitas dakwah dimulai dari kerasulan manusia pertama yaitu
Nabi Adam AS. Sampai pada umat sekarang ini. Selama ada manusia yang masih
senang melakukan maksiat dan larut dalam gelimangan dosa, maka selama itu pula
aktifitas dakwah yang tujuannya menegakkan amar maruf nahi mungkar akan terus
dilakukan agar berfungsinya predikat khalifah yang melekat pada diri manusia. Agar
jalan dakwah berhasil sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu adanya
strategi/langkah-langkah untuk mendukung hal itu dan Strategi/langkah dalam islam
disebut Metode Dakwah.
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui) dan
“hodos” (jalan, cara).2 Dengan demikian kita dapat artikan bahwa metode adalah cara
atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sumber yang lain
1M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 214
2
menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa Jerman methodica, artinya ajaran
tentang metode. Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos artinya
jalan yang dalam bahasa arab di sebut thariq.3Metode berarti cara yang telah diatur
dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud. 4
Ditinjau dari segi bahasa “Da’wah” berarti: panggilan, seruan atau ajakan.
Bentuk perkataan tersebut dalam bahasa arab disebut mashdar. Sedangkan bentuk
kata kerja (fi’ilnya) adalah berarti: memanggil, menyeru atau mengajak (Da’a yad’u
da’watan). Orang yang berdakwah biasa disebut dengan Da’i dan orang yang
menerima dakwah atau orang yang didakwahi disebut dengan Mad’u.5
Dari pendapat di atas dapat diambil pengertian bahwa metode dakwah
adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da‟i (komunikator) kapada
mad‟u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.6Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan
human oriented menempatkan penghargaan yang mulia atas diri manusia. 7
Dalam Al-Qur‟an sendiri banyak kita temukan terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan metode dakwah. Diantaranya yang sering dijadikan rujukan dalam
metode dakwah yaitu Surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
3
Drs.H. Hasanuddin, Hukum Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. ke-1, hal. 35
4
M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 6-7
5
Ahmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), hal. 406-407
6
Toto Tasmaran, Komunikasi Dakwah, (Jakarta : Gaya Medika Pratama, 1997), Cet.1, hal. 43.
7
s
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.”
Seseorang yang menyampaikan dakwah disebut da‟i atau da‟iyah. Sosok da‟i atau da‟iyah adalah bagian sosok sentral penting dari unsur- unsur dakwah. Yang harus ditekankan disini sebelum seorang da‟i atau da‟iyah melakukan aktitifitas dakwah ke masyarakat (madu) dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah
terjadinya kemungkaran (amar ma’ruf nahi mungkar), hendaknya seorang da‟I
mengintropeksi diri apakah tutur kata dan perilakunya sesuai dengan yang
disampaikan. Apakah selama ini seorang da‟i sudah melaksanakan kewajiban ibadah maupun meninggalkan larangan yang diperintahkan oleh agama yang disampaikan
dalam setiap materi dakwah yang disampaikannya. Jika kondisinya bertentangan
dengan yang disampaikan dan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan, maka
ucapannya tidak akan bertuah kepada hati orang yang menjadi objek dakwahnya.
Ucapannya akan sampai ke mulut saja, maka jangan heran tidak akan ada perubahan
di tengah masyarakat setelah mendengar dakwah dari da‟i tersebut.
Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar merupakan tujuan utama dan
termulia diciptakannya manusia. Allah SWT. telah menciptakan alam semesta yang
Karena itu, Allah Azza Wa Jalla sengaja menciptakan manusia sebagai khalifah di
permukaan bumi ini, demi terwujudnya kekhalifaan. Dan untuk menunjang
keberhasilan tugas kekhalifaan dimaksud, Allah sengaja mengutus sejumlah Nabi dan
Rasul sebagai penunjuk jalan menuju kehendaknya. 8
Aktifitas Dakwah itu sendiri dimulai sejak rasul pertama yaitu Nabi Adam
AS. sampai bersambung terakhir kepada rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.
Selama terjadi kemungkaran dan kerusakan yang dilakukan manusia, selama itu juga
gerakan dakwah diperlukan terlebih lagi pada zaman modern sekarang ini, kita
rasakan bersama semakin tua usia bumi ini bentuk maksiat yang dilakukan makin
beragam terlebih gencarnya hegemoni barat yang menambah rusak pola pikir dan
tingkah laku generasi muda sekarang ini sehingga membawa perilakunya bertambah
liar. Dengan melihat keadaan itu, aktifitas dakwah sekarang ini amat dibutuhkan agar
dampak kerusakan yang dilakukan tidak bertambah parah. Sebagai umat yang
terakhir dan terbaik yang terlahir di dunia, wajib bagi kita untuk saling
ingat-mengingatkan kepada kebaikan, sebagaimana yang disebutkan pada ayat dibawah ini
yaitu:
Artinya :“Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah yang
mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran ayat
104).
8
Maksud dari firman Allah SWT. di atas adalah hendaknya ada sebagian orang
dari orang-orang yang beriman yang senantiasa menegakkan amar maruf nahi
mungkar, agar umat manusia tidak tenggelam dalam kesesatan, dan sekaligus dapat
mengurangi jumlah kemaksiatan. Jika di dalam suatu masyarakat telah ada sejumlah
orang yang senantiasa menegakkan amar maruf nahi mungkar, maka masyarakat
semacam itu akan dilindungi dari murka dan siksa Allah SWT. 9
Jika kita menengok pada sejarah, kaum-kaum yang diazab oleh Allah adalah
penduduknya yang sudah melupakan nilai-nilai ajaran agama dan mengindahkan dari
seruan dakwah yang dibawah oleh para rasul yang diutus oleh Allah . Dan Allah tidak
akan mengazab suatu kaum, jika masih ada yang masih mengagungkan namanya
dalam bentuk ibadah-ibadah yang dilakukannya.
Agar aktifitas dakwah berjalan dengan maksimal, tentunya untuk sekarang ini
seorang da‟I berdakwah dengan mengikuti perkembangan zaman dalam berdakwah. Karena dakwah yang dilakukan Wali Songo tentunya berbeda dakwah dengan da‟i pada zaman sekarang. Dengan makin canggihnya teknologi informasi, tentunya
disamping seorang da‟I membekali diri dengan ilmu pengetahuan agama, kita juga up
date terhadap ilmu pengetahuan, dengan menguasai ilmu teknologi komunikasi. hal
ini tentunya penunjang sebagai media dakwah yang efektif selain berdakwah dalam
bentuk yang lain seperti bil-lisan maupun bil-hal.
Selain metode dakwah, unsur da‟i yang sebagai pelaku dakwah amatlah penting. Karena da‟i hendaknya intropeksi diri sebelum melakukan aktifitas dakwah ke tengah-tengah masyarakat, karena da‟i sebagai panutan umat. Dan kunci sukses
9
dakwah, salah satunya terletak pada kekuatan keteladanan. Jangan sampai
masyarakat melihat seorang da‟i yang perilakunya tidak sesuai dengan ucapannya ketika berdakwah. Karena jika hal itu terjadi, dampaknya tidak ada efek dakwah
kepada masyarakat dikarenakan tidak bertuah ucapannya kepada mad‟u.
Maka jangan heran, walaupun jumlah da‟i di Indonesia tidak sedikit tapi efek dakwah yang merupakan bagian dari unsur dakwah dirasakan kurang berhasil untuk
merubah dari pola pikir dan perilaku masyarakat sekarang ini. Malahan cenderung
masyarakat makin parah perilakunya dengan banyaknya tindakan kriminal maupun
asusila yang dilakukan, hal ini bisa kita lihat dan saksikan secara langsung maupun
dari media seperti kejadian perampokan, pemerkosaan, judi, mabuk, dan yang paling
anyar yaitu begal motor. Dengan melihat fakta itu, perlu adanya pembenahan dalam
aktifitas dakwah yang dilakukan oleh seorang da‟i, baik dari unsur dakwah atau unsur yang lain agar aktifitas dakwah yang dilakukan berhasil, agar dampaknya terbentuk
khairu ummah di tengah-tengah masyarakat.
Sosok Nabi Muhammad SAW. adalah figur yang selalu dijadikan suri
teladan dalam setiap kehidupannya tidak kecuali dalam cara berdakwah beliau dalam
menyebarkan agama islam. Dakwah Rasulullah adalah penerapan dari metode dari
Surat An-Nahl ayat 125 yang berisikan berdakwah dengan bijak, dengan akhlak
mulia dan berbudi pekerti yang luhur, bertutur kata yang lemah lembut dalam
menyebarkan agama islam kepada manusia, baik selama berdakwah di kota Mekah
maupun di kota Madinah. Tak heran dalam waktu singkat perjalanan dakwahnya,
kaum yang bermartabat. Langkah-langkah dakwah Rasulullah juga diikuti oleh para
sahabat nabi sampai bersambung kepada Wali Songo, sosok da‟i kondang yang
menyebarkan agama islam di tanah jawa. Para Wali Songo menyebarkan agama islam
dengan bijak, berakhlak mulia, dengan bertutur kata yang lemah lembut dan penuh
kasih sayang sehingga jalan dakwah islam di nusantara ini tanpa dengan jalan
kekerasan sehingga mampu mengajak masyarakat yang pada waktu itu mayoritas
ber-agamakan Hindu/Budha untuk memeluk agama islam.
Berdasarkan data dari sejarah, penyebaran agama islam di nusantara ini yaitu
salah satunya dengan melalui jalur perdagangan, selain itu, pendekatan dalam
berdakwah yang mereka lakukan juga dengaan melalui pernikahan dan penggunaan
unsur-unsur budaya di tengah-tengah masyarakat. Agar masyarakat pada waktu itu
menjadi tertarik kepada agama islam, salah satu dakwah Wali Songo dengan
menggunakan unsur budaya sebagai media dakwah karena hal itu sudah bagian yang
sudah dekat dengan mereka yang masih kita lihat sampai sekarang ini seperti acara
tahlilan, tembang dan gamelan, dan wayang kulit yang awalnya ber-unsur agama
Hindu dan Budha diubah ber-unsur islam. Salah satu metode yang dipakai wali songo
yang sampai sekarang bisa kita lihat yaitu masjid yang menyerupai pura dari masjid
menara kudus di jawa tengah. Karena pendekatan itulah akhirnya agama islam dapat
diterima khususnya masyarakat Jawa dan sekarang menjadi agama mayoritas di
nusantara ini karena tidak terlepas dari penggunaan metode tepat yang dipakai oleh
Diantara da‟i di indonesia yang melakukan aktifitas amar maruf nahi
mungkar salah satunya yaitu K.H. Misbahul Munir. Beliau merupakan alumni dari
Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur. Lahir dan besar dari keluarga
ulama membuat beliau dididik oleh orang tuanya dengan ilmu agama islam yang
baik. Berdakwah di Jakarta tepatnya daerah Volker Tanjung Priok yang dikenal akan
daerah yang rawan akan kejahatan dan kemaksiatan, dijalani oleh beliau dengan
istiqomah. Dengan kesabarannya dalam berdakwah, dengan banyaknya rintangan
dalam berdakwah, masyarakat yang awalnya dekat dengan perilaku maksiat seperti,
judi, mabuk, dan narkoba, sex bebas perlahan-lahan insyaf dengan ajakan dakwah
beliau dengan menjadi jamaahnya maupun menjadi santerinya. Dengan tahu betul
situasi dan keadaan mad‟unya, dalam berdakwah beliau menggunakan metode al -hikmah atau bahasa beliau berdakwah dengan ”pendekatan hati”yaitu berupa akhlak
yang mulia (uswatun hasanah), memakai kata yang efektif dan tidak memaksa dalam
berdakwah (toleransi) sehingga dakwah beliau terima oleh masyarakat sekitar.
Dengan berkumpul dengan masyarakat, beliau secara tidak langsung
memberikan materi dakwah kepada mereka berupa suri teladan yang baik pada
masyarakat sehingga dikenal akan akhlaknya yang baik. Sehingga ketika beliau aktif
berdakwah, dengan sendirinya masyarakat mudah menerima pesan dakwah yang
diberikan oleh beliau. Disamping itu penerapan dari metode al-hikmah yaitu beliau
membuka beberapa pengajian yang tujuannya untuk membuka hati mad‟unya, seperti
istighosah, pembacaaan surat yasin yang dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji
materi ceramah kepada mad‟unya sehingga materi dakwah mudah diterima oleh para jamaah dan santeri karena hati mereka sudah terbuka. Adapun jamaah dan santeri Kh.
Misbah amat beragam, selain dari orang yang memang berasal dari orang baik,
mereka juga dari penjudi, pemabuk, pemakai narkoba dan sex bebas. Dengan hidayah
dari Allah melalui dakwah Kh. Misbah akhirnya mereka insyaf dan kembali ke jalan
Allah. Dengan melihat pada latar belakang di atas, maka fokus penelitian ini pada
“Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir Di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Al-Misbah Volker Jakarta Utara”.
B. Batasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih akurat dan terfokus, maka peneliti
membatasi penelitian ini pada Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir Di
Pesantren Ilmu Al-Qur‟an Al-Misbah Volker Jakarta Utara”. 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, penulis hanya memfokuskan rumusan
masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir Di Pesantren Ilmu
Al-Qur‟an Al-Misbah Volker Jakarta Utara?
b. Metode dakwah apa yang paling dominan digunakan oleh K.H. Misbahul
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui metode dakwah K.H. Misbahul Munir di Pesantren Ilmu
Al-Qur‟an Al-Misbah yang mencangkup definisi serta unsur-unsur dakwah.
b. Untuk mengetahui Metode dakwah Apa yang paling dominan digunakan
oleh K.H. Misbahul Munir di Pesantren Ilmu Al-Qur‟an Al-Misbah Volker Jakarta Utara?
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti serta
kontribusi khususnya Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi jurusan
Komunikasi Penyiaran Islam.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi para pemikir
dakwah maupun pihak masyarakat dalam mengemas pesan dakwah islam
menjadi kajian yang menarik dan diminati masyarakat luas.
D. Metodologi Penelitian
Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena
pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data yang deskriptif dan lebih mendalam
baik berupa kata-kata tertulis yaitu data atau secara lisan (wawancara).10
10
Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field research). Dalam
penelitian lapanangan (field research) peneliti menggunakan metode deskriftif
(menggunakan data kualitatif), yang dimaksud dengan deskriptif adalah peneliti
berusaha menjelaskan Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir di Pesantren Ilmu
Al-Qur‟an Al-Misbah Volker Jakarta Utara. 1. Subyek Dan Obyek Penelitian.
Subyek dalam penelitian ini adalah K.H. Misbahul Munir sedangkan
yang menjadi obyek penelitian ini adalah Metode Dakwah K.H. Misbahul
Munir Di Pesantren Ilmu Al-Quran Al-Misbah Volker Jakarta Utara.
2. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data-data dan informasi sesuai dengan
permasalahan penelitian ini, penulis mengadakan komunikasi secara langsung
dan tidak langsung dengan menggunakan alat (instrument) pengumpulan data
sebagai berikut:
a. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah sebuah pengumpulan data dengan cara
mengadakan tanya jawab secara langsung antara pewawancara dengan
terwawancara.11 Adapun jenis wawancara yang digunakan adalah dengan
menggunakan jenis wawancara semitestruktur, dimana dalam pelaksanaanya
lebih bebas. Hal ini dilakukan oleh peneliti agar dapat menggali informasi
11
dan mendapatkan data yang akurat dari K.H. Misbahul Munir atau dengan
orang terdekatnya.
b. Observasi atau Pengamatan Lapangan
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang dilakukan secara
sistematis dari fenomena yang diteliti. 12Dalam hal ini peneliti langsung ke
tempat penelitian yaitu kediaman K.H. Misbahul Munir di Jl. RE.
Martadinata Bak Air 1 RT. 08 RW. 13 No. 157 Tanjung Priok Jakarta Utara
untuk mengetahui dan mengamati bagaimana metode dakwah K.H.
Misbahul Munir di Pesantren Ilmu Al-Qur‟an Al-Misbah. c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui
pengumpulan dokumen-dokumen untuk memperkuat informasi. 13 Dalam hal
ini peneliti melakukan penelusuran data dengan menalaah buku, majalah,
surat kabar, internet. Tujuannya untuk mendapatkan inforamasi yang
mendukung analisis dan interpretasi data.
3. Waktu Dan Tempat Penelitian.
Penelitian ini di lakukan pada bulan Maret sampai September 2014.
Adapun tempat penelitian ini berlangsung di kediaman K.H. Misbaul Munir di
Jl.RE. Martadinata Bak Air 1 RT. 08/13 No. 157 Tj. Priok Jakarta Utara.
12
Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: Sebuah Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002) h. 117
13
4. Analisis Data
Setelah data diperoleh, selanjutnya peneliti melakukan analisis data.
Dalam menganalisis, peneliti menggunakan deskriptif, yaitu suatu metode
dalam penulisan sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu
pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.14Tujuan dari
deskriptif ini adalah untuk berusaha menggambarkan objek penelitian sesuai
dengan kenyataan yang ada.
E. Tinjauan Pustaka
Sebelum penulis melakukan penelitian, sebagai langkah awal dalam
penyusunan skripsi yang akan penulis buat, maka penulis melakukan studi
kepustakaan untuk mempelajari skripsi, tesis, atau penelitian lain serta buku-buku
yang ada hubungannya dengan judul yang penulis teliti. Adapun tujuan dari
penelitian ini agar dapat diketahui permasalahan yang penulis teliti berbeda dengan
yang ada sebelumnya. Setelah melakukan kajian pustaka, maka penulis menemukan
beberapa skripsi yang hampir sama dengan yang penulis buat saat ini yaitu skripsi
tersebut diantaranya adalah skripsi karya Siti Masyitoh KPI tahun 2011 yang berjudul
“Metode Dakwah Habib Rizieq Husein Syihab Pada Majelis Ta‟lim Jami‟ Ali-Slah. Skripsi ini menjelaskan metode dakwah yang digunakan pada masyarakat perkotaan
yang berpendidikan cukup tinggi oleh Habib Rizieq Husein Syihab dengan metode
yang berbeda dengan penulis. Dan skripsi karya Lis Setiawati Ningsih KPI NIM
108051000039 tahun 2012 dengan judul “Metode Dakwah Habib Ali Bin Umar
14
Assegaf Pada Majelis Taklim Daarusisfa Bukit Duri Jakarta Selatan”. Skripsi ini
hampir sama tapi yang membedakan adalah obyek penelitian yang berbeda dari
penulis.
Dan skripsi “Dakwah Ustadz Abdul Hakim Di Kampung Sudimampir” karya Sihabuddin KPI tahun 2013 dengan NIM 109051000092. Pada skripsi ini membahas
metode dakwah yang sama yang dibahas oleh penulis tetapi obyek dan subyeknya
berbeda.
Sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis pada saat ini yaitu
dengan judul” Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir di Pesantren Ilmu Al-Qur‟an Al-Misbah”. Adapun pedoman penulisan skripsi ini menggunakan CEQDA.
F. Sistematika Penulisan
BAB I : Yaitu Pendahuluan yang berisi Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat
Penelitian, Metodologi Penelitian dan Tinjauan Pustaka.
BAB II : Yaitu Kajian Teori yangberisi tentang Pengertian Dakwah, Unsur-Unsur Dakwah, dan Bentuk-Bentuk Dakwah.
BAB III : Yaitu Biografi K.H. Misbahul Munir, yang berisi tentangLatar Belakang Riwayat Hidup K.H. Misbahul Munir dan Gambaran
Umum Pesantren Ilmu Al-Qur‟an Al-Misbah.
BAB IV : Temuan dan analisi lapangan berisikan tentang Metode Dakwah K.H. Misbahul Munir dan Unsur-Unsurnya dan Metode Dakwah
BAB V : PENUTUP : Penutup Merupakan Kesimpulan dan Saran-Saran bagian terakhir yang memuat Daftar Pustaka dan
16
A. Dakwah dan unsur-unsurnya 1. Pengertian Dakwah.
Menurut etimologi/bahasa dakwah berasal dari bahasa arab, yaitu
“dakwatan” atau da’a, yad’u, da’wan, du’a,1 yang artinya memanggil (to call)
mengajak (to summon) atau menyeru (to propose).2 Secara terminology, kata
dakwah mengandung arti merangkul atau mengajak manusia denngan cara yang
bijaksana untuk menuju jalan yang benar sesuai dengan petunjuk Allah SWT. agar
mendapatkan kesenangan, ketenangan, kenyamanan, keselamatan, dan kebahagian
di dunia dan akherat. 3
Dakwah adalah penyiaran; propaganda; penyiaran agama dan
pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari,
dan mengamalkan ajaran agama.4
Istilah dakwah dalam Al-Qur‟an diungkapkan dalam bentuk fi’il maupun
mashdar sebanyak lebih dari seratus kata. Al-Qur‟an menggunakan kata dakwah
untuk mengajak kepada kebaikan yang disertai dengan resiko masing-masing
pilihan. Dalam Al-Qur‟an, dakwah dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak
ke neraka atau kejahatan. Disamping itu, banyak sekali ayat–ayat yang menjelaskan istilah dakwah dalam konteks yang berbeda.5
1
Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir.(Surabaya: Pustaka Progresif, 1994), h. 439
2
Majma‟ Al-Lughah Al-Arabiyah, 1972: 286.
3
Toha Yahya Umar, Ilmu Dakwah (Jakarta: Wijaya, 1998), Cet. Ke-3, h. 1
4
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka , 1998), Cet. Ke -1 edisi tiga, h. 288
5
Menurut Dr. Quraish Shihab, dakwah adalah seruan atau ajakan kepada
keinsyafan atau usaha mengubah situasi yang lebih baik dan sempurna, baik
terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha
peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi
juga menuju sasaran yang lebih luas.6
Sedangkan Nasaruddin Latif menyatakan, bahwa dakwah adalah setiap
usaha aktifitas dengan lisan maupun tulisan yang bersifat menyeru, mengajak,
memanggil manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah SWT. sesuai
dengan garis-garis akidah dan syariat serta akhlak islamiyah.7
Lebih lanjut, dakwah merupakan suatu proses yang dilakukan agar dapat
mengubah keadaan seseorang berada pada keadaan yang lebih baik serta tidak
keluar dari kaidah-kaidah ajaran agama islam, intinya mengajak seseorang kepada
jalan yang diridhai oleh Allah SWT. 8
Sedangkan menurut Arifin, dakwah adalah kegiatan, ajaran tertulis lisan
dan tingkah laku yang dilakukan sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi
manusia baik individu maupun kelompok, supaya dalam dirinya ada suatu
pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengalaman agama sebagai pesan
yang disampaikan padanya tanpa ada unsur paksaan.9
Dakwah Islam adalah suatu kewajiban yang terpikul di atas pundak
setiap muslim dalam posisi, profesi, dan dimanapun mereka baik secara
6
Quraish Shihab, Membumikan Al-qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan
Masyarkat, Cet. Ke 22, (Bandung: Mizan, 2001), hal. 194
7
H.M.S. Nasaruddin Latief , Teori Dan Praktek Dakwah Islamiyah, (Jakarta: PT Firma Dara, tt), h. 11.
8
Wardi Bahtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah (Jakarta: Logos, 1997), h. 31
9
perorangan ataupun secara kelompok.10Menurut Prof. DR. Hamka, dakwah adalah
seruan panggilan untuk menganut suatu pendirian yang ada dasarnya berkonotasi
positif dengan substansi terletak pada aktifitas yang memerintahkan amar maruf
nahi mungkar.11
Bagi seorang muslim, dakwah merupakan kewajiban yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi. Kewajiban dakwah merupakan suatu yang bersifat
conditionsine quanon, tidak mungkin dihindari dari kehidupannya. Dakwah
melekat erat bersamanya dengan pengakuan diri sebagai seseorang yang
mengidentifikasi dirinya sebagai muslim. Sehingga orang yang mengaku dirinya
seorang muslim, maka secara otomatis menjadi juru dakwah. 12
Dakwah merupakan suatu tindakan dalam beramar maruf nahi mungkar
agar berfungsinya predikat khalifah pada dirinya yang menjadi tujuan terciptanya
manusia. Aplikasi dakwah amat beragam, yaitu dakwah lisan, hal, dan
bil-qolam.
Setiap kita yang mengaku beriman berkewajiban untuk melaksanakan
dakwah. Paling tidak di lingkungan terdekat kita; di keluarga atau di kantor
misalnya. Artinya setiap kita sesungguhnya adalah seorang da‟i. Setiap kita
berkewajiban menegakkan amar maruf nahi mungkar yang menjadi inti aktifitas
dakwah.
Betapapun definisi-definisi di atas terlihat dengan redaksi yang berbeda,
namun dapat disimpulkan bahwa esensi dakwah merupakan aktifitas dan upaya
untuk mengubah manusia, baik individu maupun masyarakat dari situasi yang
tidak baik kepada situasi yang lebih baik.13
10
Anwar Harjono, Dakwah Dan Masalah Sosial Kemasyarakatan. (Jakarta: Media Dakwah, 1985), h. 3
11
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Rajawali Press, 2001), h. 2
12
Toto Tasmaran, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1987), Cet.1, h. 6
13
2. Unsur–Unsur Dakwah
Unsur-unsur dakwah yaitu beberapa bagian yang harus selalu ada dalam
setiap kegiatan dakwah. Diantara satu bagian dengan bagian lainnya mempunyai
korelasi dalam suksesnya dakwah. Adapun bagian-bagian tersebut yaitu:
1. Da‟i (Subjek Dakwah).
Drs. Wahidihin Saputra dalam bukunya berjudul pengantar
metode dakwah (2001) mengatakan da‟i adalah orang yang aktif
melaksanakan dakwah kepada masyarakat. Da‟i ini ada yang
melaksanakan dakwahnya secara individu ada juga yang berdakwah
secara kolektif melalui organisasi.
Da‟i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan, tulisan, maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok, atau
organisasi.14 Nasaruddin Latief mengartikan da‟i adalah muslim dan muslimat menjadikan dakwah sebagai suatu amaliah.15
Da‟i juga harus mengetahui cara menyampaikan dakwah tentang Allah, alam semesta, dan kehidupan, serta apa yang dihadirkan dakwah
untuk memberikan solusi, terhadap problem yang dihadapi manusia,
juga metode-metode yang dihadirkannya untuk menjadikan agar
pemikiran dan perilaku manusia tidak salah melenceng.16
Seorang da‟i mempunyai peran penting dalam proses pelaksanaan
dakwah. Kepandaian dan keahlian seorang da‟i akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para objek dakwah. Setiap da‟i mempunyai keikhlasan
14
Ibid.
15
Ibid.
16
Mustafa Malaikah, Manhaj Dakwah Yusuf Al-Qarhdhowi Harmoni Antara
masing-masing, tergantung kepada wacana keilmuan, latar belakang
pendidikan, dan pengalaman kehidupannya. Da‟i ibarat seorang guide atau pemandu terhadap orang-orang yang ingin mendapatkan
keselamatan hidup di dunia dan akherat. Da‟i di tengah masyarakat
mempunyai kedudukan yang penting sebab ia adalah seorang pemuka
(pelopor) yang selalu diteladani oleh masyarakat. perbuatan dan tingkah
lakunya selalu dijadikan tolak ukur masyarakat. Kemunculan da‟i
sebagai pemimpin adalah atas pengakuan masyarakat yang tumbuh
secara bertahap.17Da‟i adalah orang yang aktif melaksanakan dakwah
kepada masyarakat. Da‟i ada yang melaksanakan dakwahnya secara
individu, ada juga yang berdakwah secara kolektif melalui organisasi. 18
2. Mad‟u (Penerima Dakwah)
Mad‟u yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah, atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok,
baik manusia yang beragama islam maupun tidak; atau dengan kata
lain, manusia secara keseluruhan. Kepada manusia yang belum
beragama islam, dakwah bertujuan untuk mengajak mereka untuk
mengikuti agama islam; sedangkan kepada orang-orang yang telah
beragama islam dakwah bertujuan meningkatkan kualitas iman, islam,
dan ikhsan.19
Dr. Wahidin Saputra mengatakan mad‟u adalah masyarakat atau orang yang didakwahi, yakni diajak ke jalan Allah agar selamat dunia
17
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), h. 69
18
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Rajawali Press, 2001), h. 8
19
dan akherat. Masyarakat sebagai objek dakwah sangat heterogen,
misalnya ada masyarakat yang berprofesi sebagai petani, nelayan,
pedagang, pegawai, buruh dan artis, anggota legislatif, eksekutif,
karyawan dan lainnya. bila kita melihat dari aspek geografis,
masyarakat itu ada yang tinggal di kota, desa, pegunungan, bahkan ada
juga yang tinggal di pedalaman. Bila dilihat dari aspek agama, maka
ma‟du ada yang muslim/mukmin, kafir, munafik, musrik dan lain
sebagainya. 20
Dakwah tidak hanya ditujukan kepada orang islam, tetapi juga
kepada orang-orang di luar islam. Intinya dakwah ditujukan untuk siapa
saja tanpa melihat status sosial ekonomi dan latar belakang mereka,
pernyataan ini sesuai dengan Q.S Saba‟ ayat : 28 yaitu:
Artinya:“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.”
3. Maddah (Materi Dakwah)
Maddah dakwah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan
da‟i kepada ma‟du. Dalam hal ini sudah jelas bahwa yang menjadi
maddah dakwah adalah ajaran islam itu sendiri. Secara umum materi
dakwah dapat diklasifikasikan menjadi empat masalah pokok, yaitu:
20
a. Masalah Akidah (Keimanan)
Masalah pokok yang menjadi materi dakwah adalah akidah
islamiyah.21 Aspek akidah ini yang akan membentuk moral (akhlaq)
manusia. Oleh karena itu, yang pertama kali dijadikan materi dalam
dakwah islam adalah masalah akidah atau keimanan. Akidah yang
menjadi materi utama dakwah ini mempunyai ciri-ciri yang
membedakannya dengan kepercayaan agama lain. 22
b. Masalah Syariah.
Syariah islam mengembangkan hukum bersifat komprehensif
yang meliputi segenap kehidupan manusia. Materi dakwah yang
menyajikan unsur syariat harus dapat menggambarkan atau
memberikan informasi yang jelas di bidang hukum dalam bentuk
status hukum yang bersifat wajib, haram (dilarang), mubah
(dibolehkan) mandub, (dianjurkan), dan makruh (dianjurkan untuk
ditinggalkan),23
c. Masalah Muamalah
Islam merupakan agama yang menekankan urusan muamalah
lebih besar porsinya daripada urusan ibadah. Islam lebih banyak
memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan
ritual. Islam adalah agama yang menjadikan seluruh bumi ini masjid,
tempat mengabdi kepada Allah. Ibadah dalam muamalah di sini,
diartikan sebagai ibadah yang mencangkup hubungan dengan Allah
21Akidah (Aqidah) Secara Harafiah Berarti “
Sesuatu Yang Terbuhul Atau Tersimpul Secara Erat Atau Kuat. Lihat, Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, (Jakarta: Ptictiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 9 -11
22
M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 25
23
dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Cakupan aspek
muamalah jauh lebih luas daripada ibadah. 24
d. Masalah Akhlak.
Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa arab yaitu
jamak dari “khuluqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Sedangkan secara terminologi, pembahasan akhlak berkaitan
dengan masalah tabiat atau kondisi temperatur batin yang
mempengaruhi perilaku manusia.
Berdasarkan pengertian ini, maka ajaran akhlak dalam islam
pada dasarnya meliputi kualitas perbuatan manusia yang merupakan
ekspresi dari kondisi kejiwaaannya. Akhlak dalam islam bukanlah
norma ideal yang tidak diemplementasikan, dan bukan pula sekumpulan
etika yang terlepas dari kebaikan norma sejati. Dengan demikian, yang
menjadi materi akhlak dalam islam mengenai sifat dan kriteria
perbuatan manusia serta berbagai kewajiban yang harus dipenuhinya.
Karena semua manusia harus mempertanggung jawabkan setiap
perbuatannya, maka islam mengajarkan kriteria perbuatan dan
kewajiban yang mendatangkan kebahagiaan, bukan siksaan. Bertolak
dari prinsip perbuatan manusia ini, maka materi akhlak membahas
tentang tentang norma luhur yang harus menjadi jiwa dari perbuatan
manusia, serta tentang etika atau tata cara yang harus dipraktekkan
dalam perbuatan manusia sesuai dengan jenis sasarannya.25
24
ibid
25
4. Wasilah (Media) Dakwah.
Kata media merupakan jamak dari bahasa latin yaitu medion,
yang berarti alat perantara. Sedangkan secara istilah media berarti
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu.26
Wasilah (media) dakwah adalah alat yang digunakan untuk
menyampaikan materi dakwah (ajaran islam) kepada ma‟du. Untuk menyampaikan ajaran islam kepada umat, dakwah dapat
menggunakan berbagai wasilah. Hamka Ya‟qub membagi wasilah dakwah menjadi lima macam, yaitu :
a. Lisan adalah mediah dakwah yang paling sederhana yang
menggunakan lidah dan bersuara, dakwah dengan media ini dapat
berbentuk pidato, ceramah, kuliah, bimbingan, penyuluhan, dan
sebagainya.
b. Tulisan adalah media dakwah melalui tulisan, buku, majalah, surat
kabar, surat menyurat (korespondensial), spanduk, dan sebagainya.
c. Lukisan adalah media dakwah melalui gambar, karikatur, kaligrafi dan
sebagainya.
d. Audiovisual adalah media dakwah yang dapat merangsang indra
pendengaran penglihatan, atau kedua-duanya, seperti televise, film
slide, OHP, internet, dan sebagainya.
f. Akhlak, yaitu media dakwah melalui perbuatan-perbuatan nyata yang
mencerminkan ajaran islam yang secara langsung dapat dilihat dan
didengarkan oleh madu.27
26
Ali Yafie, Teologi Social Telaah Kritis Persoalan Agama Dan Kemanusiaan,
(Yogyakarta: LKPSM, Oktober 1997), h. 91-92
27
5. Thariqah ( Metode) Dakwah.
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara). Dengan demikian, Kita dapat artikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk
mencapai suatu tujuan, sumber yang lain menyebutkan bahwa metode
berasal dari bahasa Jerman methodicay artinya ajaran tentang metode.
Dan dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos artinya
jalan yang dalam bahasa arab di sebut thariq. Metode berarti cara yang
telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu
maksud. 28
Kata metode telah menjadi bahasa Indonesia ynag memiliki
pengertian “ Suatu cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana
sistem, tata pikir manusia.29Sedangkan dalam metodologi pengajaran
islam disebutkan metode adalah “suatu cara yang sistematis dan umum
terutama dalam mencari kebenaran ilmiah”.30
Metode dakwah adalah jalan atau cara yang dipakai juru
dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah islam. Dalam
menyampaikan suatu pesan dakwah, metode sangat penting perannya
ketika membahas tentang metode dakwah, dalam literature Ilmu
Dakwah pada umumnya merujuk Surat An-Nahl ayat 125 yaitu : 31
28
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h. 52 29 M. Syafaat Habib, Buku Pedoman Dakwah, (Jakarta: Wijaya, 1992), h. 160
30 Soeleman Yusuf, Pengantar Pendidikan Sosial, (Surabaya: Usah Nasional, 1981), h. 36
Artinya :“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. SesungguhnyaTuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.”
Secara garis besar, ayat di atas menjelaskan bahwa metode
dakwah tiga, yaitu : bi al-hikmah, mauidzhatul hasanah, dan mujadalah
biallati hiya ahsan.
a. Metode Bi Al-hikmah
Metode bi al-hikmah yaitu berdakwah dengan
memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah dengan
menitikberatkan pada kemampuan mereka sehingga di dalam
menjalankan ajaran-ajaran islam selanjutnya mereka tidak lagi
merasa terpaksa atau keberatan.32
Prof. DR. Toha Yahya Umar, M.A., menyatakan bahwa
hikmah berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan
berpikir, berusaha menyusun dan mengatur dengan cara yang
sesuai keadaan zaman dengan tidak bertentangan dengan larangan
Tuhan.33
32
M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajeman Dakwah, h. 34
33
Al-hikmah juga berarti pengetahuan yang dikembangkan
dengan tepat sehingga menjadi sempurna. Sebagai metode dakwah,
al-hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang
lapang, hati yang bersih, dan menarik perhatian orang kepada
agama atau Tuhan. Menurut Imam Abdullah bin Ahmad Mahmud
An Nasifi, arti hikmah yaitu: “Dakwah bil-hikmah” adalah dakwah dengan menggunakan perkataan yang benar dan pasti, yaitu dalil
yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan.34
b. Metode Al-mau‟idza hasanah
Secara bahasa, mauidza hasanah terdiri dari dua kata, yaitu
mau‟idzha dan hasanah. Kata mauidzah yang berarti nasihat, bimbingan, pendidikan, dan peringatan, sementara hasanah
merupakan kebalikan fansayyi’ah yang artinya kebaikan lawan dari
kejeleken.35
Adapun pengertian secara istilah, mauidzhatul hasanah
yaitu berdakwah dengan memberikan nasehat-nasehat atau
menyampaikan ajaran-ajaran islam dengan rasa kasih sayang,
sehingga nasehat dan ajaran islam yang disampaikan itu dapat
menyentuh hati mereka.36
Menurut Ali Musthafa Yakub, bahwa maidzhatul hasanah
adalah ucapan yang berisi nasihat-nasihat yang baik dan
bermanfaat bagi orang mendengarkanya atau argument–argumen
34
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, h. 246
35
Ibid.
36
yang memuaskan sehingga pihak audiensi dapat membenarkan apa
yang disampaikan oleh da‟i.37
Sedangkan menurut pendapat Imam Abdullah bin Ahmad
An-Nasafi. Kata tersebut mengandung arti :
“Al-mau‟idzhatul hasanah yaitu perkataan yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasehat dan
menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan Al-Qur‟an.38
Jadi, kalau kita telusuri kesimpulan dari mau‟idzhatul
hasanah akan mengandung arti kata-kata yang masuk ke dalam
kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan
penuh kelembutan, tidak membongkar atau membeberkan
kesalahan orang lain sebab kelemahlembutan dalam menasehati
sering kali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan
kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kabaikan daripada
larangan dan ancaman. 39
c. Metode Al-Mujadalah
Dari segi etomologi (bahasa) mujadalah terambil dari kata
“jadala” yang bermakna memintal, melilit. apabila ditambahkan
alif pada huruf jim yang mengikuti wazan faa ala, “jaa dala” dapat
bermakna berdebat dan “mujadalah” perdebatan.
Mujadalah adalah cara terakhir yang digunakan untuk
berdakwah manakala kedua cara terakhir yang digunakan untuk
orang-orang yang berpikirnya cukup maju, dan kritis seperti ahli
37
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), h. 100
38
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, h. 251
39
kitab yang memang telah memiliki bekal keagamaan dari para
utusan sebelumnya. Oleh karena itu, Al-Qur‟an juga telah memberikan perhatian khusus kepada ahli kitab, yaitu melarang
berdebat dengan mereka kecuali dengan cara yang terbaik. 40
Firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 yaitu:
Artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
Dari pengertian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa,
al-mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oelah dua
pihak sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan
agar lawan menerima pendapat yang diajukkan dengan
memberikan argumentasi satu dengan yang lainnya saling
menghargai dan menghormati pendapat keduanya berpegang pada
kebenaran mengakui kebenaran pihak-pihak lain dan ikhlas
menerima hukuman tersebut.41
40
Samsul Munir Amin, ilmu Dakwah, h. 253
41
6. Atsar (Efek) Dakwah.
Dalam setiap aktifitas dakwah pasti akan menimbulkan reaksi.
Artinya, jika dakwah telah dilakukan oleh seorang da'i dengan materi
dakwah, wasilah, dan thariqah tertentu, maka akan timbul respon dan
efek (atsar) pada ma‟du (penerima dakwah).42
Atsar (efek) sering disebut dengan feed back (umpan balik) dari
proses dakwah ini sering dilupakan atau tidak banyak menjadi perhatian
para da‟i. kebanyakan mereka menganggap bahwa setelah dakwah disampaikan, maka selesailah dakwah. padahal, atsar sangat besar
artinya dalam penentuan langkah-langkah dakwah berikutnya tanpa
menganalisis atsar dakwah, maka kemungkinan kesalahan strategi yang
sangat merugikan pencapaian tujuan dakwah akan terulang kembali.
Sebaliknya, dengan menganalisis atsar dakwah secara cermat dan tepat,
maka kesalahan strategi dakwah akan segera diketahui untuk diadakan
penyempurnaan pada langkah–langkah berikutnya (corrective action). Demikian juga strategi dakwah termasuk di dalam penentuan
unsur-unsur dakwah yang dianggap baik dapat ditingkatkan. 43
Jalaluddin Rahmat menyatakan bahwa efek kognitif terjadi bila
ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi
khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan,
keterampilan, kepercayaan, atau inforamasi. Efek efektif timbul bila ada
perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak,
yang meliputi segala yang berhubungan dengan emosi, sikap serta nilai.
42
M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, h. 34
43
sedangkan efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat
diamati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan
perilaku. 44
7. Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah adalah nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai
atau di peroleh oleh keseluruhan tindakan dakwah. Serta terwujudnya
kebahagian hidup manusia di dunia dan akherat yang diridhai Allah.
Tujuan utama ini, masih bersifat umum memerlukan penjabaran agar
kebahagian manusia di dunia dan akherat ini bisa tercapai dan
terwujud.45
Tujuan khusus dakwah ini secara operasional dapat dibagi lagi ke
dalam beberapa tujuan, yakni :
a. Menganjurkan dan menunjukkan perintah-perintah Allah.
b. Menunjukkan larangan–larangan yang bersifat perbuatan dan perkataan.
c. Menunjukkan keuntungan bagi kaum yang bertaqwa kepada Allah.
Menunjukkan ancaman Allah bagi kaum yang ingkar kepada
Allah.46
Sementara itu M. Natsir dalam serial media dakwah
mengemukaan, bahwa tujuan dari dakwah itu adalah:
a. Memanggil kita pada syariat , yang memecahkan persoalan hidup,
baik persoalan hidup perseorangan atau persoalan rumah tangga,
44
Jalaluddin Rahmad, Retorika Modern, Sebuah Kerangka Teori dan Praktek Berpidato, (Bandung: Akademika, 1982), h. 269
45
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, h. 265
46
berjamaah masyarakat, berbangsa-bersuku bangsa, bernegara, dan
berantar Negara.
b. Memanggil kita pada fungsi hidup sebagai hamba Allah di atas
dunia yang terbentang luas yang berisi kan manusia secara
heterogen, bermacam karakter pendirian dan kepercayaan, yakni
fungsi sebagai syahada’ala an-nas, menjadi pelopor dan pengawas
manusia.
c. Memanggil kita kepada tujuan hidup yang hakiki, yakni
menyembah Allah.47 Sebagaimana firman-Nya dalam Surat
Adzariyat : 56.
“Dan Aku Tidak Menciptakan Jin dan Manusia Melainkan Supaya
Mereka mengabdi Kepada-Ku.”
B. Bentuk –Bentuk Dakwah
Aplikasi dakwah ke tengah masyarakat beraneka ragam, sesuai dengan
kemampuan kita dalam berdakwah. Umumnya bentuk-bentuk dakwah terbagi
dari tiga macam yaitu antara lain:
a. Dakwah dalam bentuk lisan (bil- lisan)
Allah berfirman dalam Al-Qur‟an dengan tegas mengenai hal ini akan ahsan qaulan (ucapan yang baik). Sebagaimana dalam Surat
Al-Fussilat ayat 33 yaitu:
47
Artinya:“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
Pengertian ayat diatas adalah pentingnya akan keteladanan berupa
dengan ucapan yang baik dalam menyeru pada jalan Allah SWT.
b. Dakwah dalam bentuk Perbuatan (bil-hal)
Dakwah bil-hal adalah melaksanakan amal kebaikan dalam
kehidupan sehari-hari yang meliputi bidang sosial, ekonomi, dan budaya
dalam bingkai nilai-nilai ajaran islam. Dakwah bil- hal merupakan usaha
merintis dan mempratekkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari,
dakwah dalam bentuk ini dapat dilakukan oleh setiap orang dimana pun
berada dengan profesi apapun.48
c. Dakwah dalam bentuk tulisan (bil-qolam)
Dakwah bil-qolam adalah dakwah berupa tulisan baik media
cetak maupun online. Isinya berupa dakwah menyeru/mengajak kepada
umat untuk ber-amar maruf dan nahi mungkar. Dakwah ini pernah
dilakukan oleh Rasulullah dulu berupa pengiriman surat kepada
raja/penguasa yang belum memeluk islam seperti raja Persia. Rasulullah
saw bersabda: “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik baik dari
darahnya para syuhada”.
48
Umi Musyarofa, Dakwah Kh. Hamam Dja’far dan Pondok Pesantren Pabelan,
34
PROFIL K.H. MISBAHUL MUNIR DAN GAMBARAN UMUM
PONDOK PESANTREN ILMU AL-QUR
’
AN AL-MISBAH
VOLKER JAKARTA UTARA.
A. Latar Belakang K.H. Misbahul Munir 1. Riwayat Hidup K.H. Misbahul Munir
Nama lengkap beliau adalah K.H. Misbahul Munir cholil lahir dan
dibesarkan di desa Mayangan Probolinggo 6 Juni 1972 Putra pertama dari Alm.
K.H. Kholilurrahman dan ibu Hj. Hafsah yang kedua orantuanya secara silsilah
merupakan keturunan dari para ulama1. Sekolah dasar Kh. Misbah (panggilan
akrab K.H. Misbahul Munir) dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum
Jrebeng Kulon Probolinggo yang merupakan sekolah swasta asuhan abahnya
sendiri. Kh. Misbah di sekolah itu masuk dua kali dalam sehari, yaitu waktu pagi
Kh. Misbah masuk sekolah ibtidaiyah dengan kurikulum pemerintah yang sama
sepertinya umumnya sekolah dasar (SD). Setelah shalat dhuhur, Kh. Misbah
masuk lagi pada sekolah yang sama, bedanya yang dipakai kali ini dengan
kurikulum yang dibuat sendiri oleh pengasuh sekolah yang pelajarannya lebih
ditekankan pada ilmu keagamaan seperti Ilmu Fiqih, Nahu Shorof, Ilmu Tauhid
dan disiplin ilmu agama lainnya.2
Sepulang dari sekolah, Kh. Misbah membantu usaha orang tuanya yang
berprofesi mebel dan juga menggembelakan kambing di sawah. Selain membantu
1
Ustad Syam, (teman Kh. Misbah) wawancara pribadi, Jakarta utara, 2 maret 2014 2
orang tua, Kh. Misbah amat hobi bermain bola sampai pernah suatu ketika
bermain dengan teman-temannya, Pernah suatu ketika asyik bermain dan tidak
sadar sudah menjelang malam dan sampai di rumah sudah pada waktu magrib. hal
itu diketahui oleh abahnya, lalu kemudian Kh. Misbah dihukum dengan diikat
pada sebatang pohon di ladang sampai jam 21.00 malam sebagai hukuman. Hal
itu karena beliau tidak ingat akan waktu, dan cenderung akan melalaikan shalat.3
Malam hari setelah waktu bahda magrib, Kh. Misbah masuk mengaji
belajar kitab, begitu pun juga di waktu pagi hari Kh. Misbah kembali mengaji,
tapi kali ini mengaji Al-Qur‟an yang langsung kepada abahnya sendiri yang memang seorang tokoh agama, juga sebagai pengajar mengaji anak-anak di desa
tempat tinggal beliau tanpa dengan dipungut biaya.
Setelah lulus sekolah ibtidaiyah, orang tua Kh. Misbah melanjutkan
pendidikannya di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Di Sidogiri Kh. Misbah
masuk kelas 5 ibtidaiyah dan melanjutkan ke jenjang tsanawiyah 3 tahun.
Kemudian diteruskan studinya di Aliyah Tarbiyatul Muallimin (ATM) selama 3
tahun juga. Di Sidogiri Kh. Misbah juga aktif pada kegiatan non formal dengan
mengikuti berbagai organsasi seperti OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah),
Jamiyatul Muballighin (Jamub) dan Himpunan Santri Daerah Probolinggo
(Hisdap). Selama Beliau mengenyam pendidikan di Sidogiri, Kh. Misbah dikenal
diantara para santeri di Sidogiri akan ahli berpidato/ceramah. Bahkan beliau Ketua
Organisasi Jamiyyatul Muballighin (organisasi mengasah skill dalam
berpidato/berorasi) terlama sewaktu masih menjadi santeri.4
3
Ustad Syam, (teman Kh. Misbah) Wawancara pribadi, Jakarta utara, 2 Maret 2014
4
Hal itu tidak lepas akan gigihnya Kh. Misbah dalam berlatih menjadi
seorang narator ulung atau ahli berpidato seperti Bung Karno yang diidolakannya.
Hal ini didapat dari Kesaksian para santeri seangkatannya sewaktu mondok dulu
dalam keadaan tugas menyapu saja di masjid, Kh. Misbah masih berlatih
menggunakan gagang sapu lidi sebagai media mix. Melihat hal itu, Sampai suatu
ketika pernah ada temannya yang menegur ”Misbah, nanti lama kelamaan jadi gila Kamu nantinya dengan kebiasaanmu itu”. Lalu dengan enteng dijawab oleh Kh. Misbah,” Tidak apa saya gila, asal kamu suatu hari nanti akan tergila-gila sama saya,”jawabnya.5
Pernah ada suatu peristiwa yang buat geger Pesantren Sidogiri karena
ketika ada acara ihtisan di Pondok Pesantren Kyai Kholil di Bangkalan, pihak
pondok mengundang penceramah ke Sidogiri, dan yang diundang untuk acara
ihtisan itu bukan seorang guru untuk mengisi ceramah disana, melainkan seorang
murid yaitu Kh. Misbahul Munir sendiri.6
Setelah lama menimba ilmu di Sidogiri, Kh. Misbah muda mendapat
tugas wajib oleh pengasuh pondok untuk mengajar di Banyualet Desa Tanah
Merah Laok Kabupaten Bangkalan selama dua tahun. Di sana Beliau mengajar di
kelas 3 Tsanawiyah dan kelas 3 Aliyah. Lalu setelah tugas wajib selesai, selama