• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran-Saran

Dari hasil penelitian, penulis memberikan masukan berupa saran-saran kepada K.H. Misbahul Munir sehubungan dengan judul karya ilmiah yang ditulis yaitu Metode Dakwah di Pesantren Ilmu Al-Qur‟an Al-Misbah Volker Jakarta Utara, yaitu :

1. Tetap semangat untuk Kh. Misbahul Munir dalam berdakwah, agar melahirkan insan yang soleh dan soleha berguna untuk Indonesia di masa mendatang.

2. Ke depannya mudah-mudahan bertambah cabang-cabang Pesantrean Ilmu Al-Qur‟an Al-Misbah di tiap daerah-daerah di Indonesia agar lebih banyak lagi melahirkan insan khairu ummah yang berguna terhadap lingkungan sekitanya.

3. Jika dimungkinkan adanya pemberian pengetahuan ilmu saintek yang lebih ditingkatkan di lingkungan Pesantren Ilmu Al-Quran Al-Misbah agar santeri menguasai perkembangan ilmu komunikasi terkini.

4. Jika dimungkinkan di pondok pesantren disediakan balai latihan kerja kepada santeri agar nantinya jika keluar dari pondok, para santeri selain mempunyai keilmuan di bidang agama, juga mempunyai bekal kewirausahaan dalam dunia kerja di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir. Rekonstruksi Dakwah Islam. Jakarta: Sinar Graffika Offset, 2008.

Arifin, M. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Sebuah Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Arifin, Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniyah Manusia, Jakarta: Bulan Bintang 1976.

Asmuni, Syukur. Dasar-Dasar Dakwah Islam, Surabaya: Il-Ikhlas, 1983.

Anwar Harjono, Dakwah Dan Masalah Sosial Kemasyarakatan. Jakarta: Media Dakwah, 1985

Bahtiar, Wardi. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos, 1997

Cairo, Mesir, Diterjemahkan Oleh Abdus Salam M. Dan Muhil Dhafir, Dengan

Judul Terjemahan “Etika Diskusi” Era Inter Media, 2001.

Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Jakarta: Ptictiar Baru Van Hoeve, 2002.

Gulen, Fethullah. Dakwah, Jakarta: Republika Penerbit, 2011. Hasanuddin, H. Hukum Dakwah, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996.

Hamid Al-Bilali, Abduh. Fiqh Al-Dawah Fi Ingkar Al-Mungkar, Kuwait: Daral-Dakwah, 1989.

Hasanuddin, Hukum Dakwah, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996.

Musyarofa, Umi. Dakwah Kh. Hamam Dja’far Dan Pondok Pesantren Pabelan,

Jakarta: In Press, 2009.

Munir, M. Metode Dakwah. Jakarta: Kencana, 2003.

Munir. M Dan Ilaihi, Wahyu. Manajemen Dakwah, Jakarta: Kencana, 2006. Malaikah, Mustafa. Manhaj Dakwah Yusuf Al-Qarhdhowi Harmoni Antara

Kelembutan Dan Ketegasan, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar,1997.

Muchtar, Affandi. Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT Ictiar Baru Van Hoeve, 2002

Munir Amin, Samsul. Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah, 2009

Nasaruddin Latief, H.M.S. Teori Dan Praktek Dakwah Islamiyah, Jakarta: PT Firma Dara, 2003.

Natsir, M. Metode Penelitian, Jakarta: Ghaliaindo,1998.

Rauf, Abdul Kadir Sayyid Abd. Dirasah Fid Dakwah Al-Ismiyah, Kairo: Dar

El-Tiba‟ah al-Mahmadiyah, 1987

Rahmad, Jalaluddin. Retorika Modern, Sebuah Kerangka Teori Dan Praktek Berpidato, Bandung: Akademika, 1982.

Yusuf, Soeleman. Pengantar Pendidikan Sosial, Surabaya: Usah Nasional, 1981. Saputra, Wahidin. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: Rajawali Press, 2001

Shihab, Quraish. Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan, 1992. Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2005. Syafaat Habib, M. Buku Pedoman Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1992.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus

Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998.

Tasmaran, Toto. Komunikasi Dakwah, Jakarta: Gaya Medika Pratama, 1997. Warson Munawir, Ahmad. Kamus Al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progresif,

1997.

World Assembly Of Muslim Youth (Wamy), Fii Ushulil Hiwar, Maktabah Wahbah

Yahya Umar, Toha. Ilmu Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1998.

Yafie, Ali. Teologi Social Telaah Kritis Persoalan Agama Dan

A. Pribadi

Nama lengkap : K.H. Misbahul Munir cholil, M.Ag. Jenis kelamin : Laki-Laki

Alamat rumah : Jl. Re. Martadinata Bak Air 1 RT. 08/13 No. 157 Tj. Priok Jakarta Utara

Agama : Islam

Istri : Hj. Mamah musyarofah

Nama anak : Fatimah azzahra (meninggal ketika usia 1 tahun) Ahmad dan Ahmda (kembar)

Nama orang tua : Alm. Kh. Kholilurrahman dan Nyi Hj. Hafsah status perkawinan : Menikah

Aktifitas sekarang : Mengajar di Pesantren Ilmu Al-Qur‟an (PIQ), dan aktif komisi fatwa MUI, Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren se-DKI, Anggota Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (PP LDNU), Pengisi Kajian Rutin Kitab Bulughul Marom di Masjid Istiqlal, Pengisi Kajian Aswaja Ahlus Sunnah Waljamaah di TV Aswaja, Mengisi Kajian Menjelang Beduk di TVRI, Mengisi Kajian Kitan Akhlak di TV MUI, Kajian Islam Rahmatan Lil-Alamin di Elshinta TV, Khatib Syuriah NU Cab. Jakarta Utara, mengisi ceramah dan pembacaan khotbah di lembaga

Penguasaan bahasa : Bahasa Arab dan Inggris

Hobby : Membaca, Ceramah dan Menulis

B. Riwayat Pendidikan

SD/Sederajat : Ibtidaiyah Miftahul Ulum di Jrebeng Kulon Probolinggo SLTP/SLTA Sederajat : Sekolah Tsanawiyah Dan Aliyah Tarbiyatul Muallimin

(ATM) Di Pondok Pesantren Sidogiri

S1 : Universitas Sunan Giri Surabaya Jurusan Tafsir Hadis (1997)

S2 : Universitas Sunan Giri Surabaya Jurusan Tafsir Hadis (2000)

Pengalaman Organisasi : OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah), Jamiyatul Muballighin (Jamub) Himpunan Santri Daerah Probolinggo (Hisdap) di Kader Muballigh di Yayasan Taufiq Cipeucang

Aktif Di LDNU (Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama) Sekretaris Jakarta Utara.

Menjadi Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jakarta Utara tahun 2009

Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Se DKI Jakarta

Sekarang aktif di anggota Komisi Fatwa MUI pusat

Jakarta, 22 april 2015

DAFTAR PERTANYAAAN WAWANCARA K.H. MISBAH MUNIR DI PESANTREN ILMU AL-QUR’AN AL-MISBAH

VOLKER JAKARTA UTARA

1. Bagaimana Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan Kh. Misbahul Munir?

Saya lahir dan dibesarkan di desa Mayangan Probolinggo 6 Juni 1972 Putra pertama dari Alm. Kh. Kholilurrahman dan ibu Hj. Hafsah. Sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Jrebeng Kulon Probolinggo yang merupakan sekolah swasta asuhan abah saya sendiri.

Usaha orang tua saya berprofesi mebel dan menggembelakan kambing dan tiap saya sepulang dari sekolah membantu usaha mereka. Di bidang olahraga saya amat menyukai permainan sepak bola, dan Pernah suatu ketika saya bermain dan tidak sadar sudah menjelang malam dan sampai di rumah sudah pada waktu magrib dan hal itu diketahui oleh abah yang langsung menyambut dengan berkacak pinggang di depan rumah, dan akibat hal itu saya dihukum dengan diikat pada sebatang pohon di ladang sampai jam 9 malam sebagai hukuman. Hal itu dilakukan abah karena tidak ingat akan waktu, dan akan cenderung akan melalaikan shalat.

Pada malam hari di setelah waktu bahda magrib, saya masuk mengaji membaca kitab kuning, dan di waktu pagi hari kembali mengaji, tapi kali ini mengaji Al-Qur‟an yang langsung kepada abah saya sendiri yang memang seorang tokoh agama yang mengajar mengaji anak-anak di desa tempat tinggal saya tanpa dipungut biaya.

Sidogiri, saya masuk kelas 5 Ibtidaiyah dan melanjutkan ke jenjang tsanawiyah 3 tahun, lalu diteruskan lagi studi di Aliyah Tarbiyatul Muallimin (ATM) selama 3 tahun juga. Di Pondok Pesantrean Sidogiri, Saya juga aktif pada kegiatan non formal dengan mengikuti berbagai organisasi seperti OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah), Jamiyatul Muballighin (Jamub) dan Himpunan Santri Daerah Probolinggo (Hisdap).

Setelah lama di dunia pondok, saya mendapat tugas wajib oleh pengasuh pondok untuk mengajar di Banyualet Desa Tanah Merah Laok Kabupaten Bangkalan selama dua tahun. Di sana mengajar di kelas 3 Tsanawiyah dan kelas 3 Aliyah. Lalu setelah tugas wajib dan selama 12 tahun mengenyam pendidikan di PP Sidogiri, saya pulang kampung ke propolinggo yang kemudian mengabdi Setengah tahun mengajar di Miftahul Ulum sekolah kecil saya dulu kepunyaan abah kholilurahman.

2. Apa yang dimaksud dengan metode dakwah kyai?

Metode dakwah ya berasal dari dua kata yaitu metode dan dakwah. Dalam bahasa arab, metode berasal dari kata thariqat atau manhaj yang mengandung arti tata cara. Sedangkan kata dakwah sendiri berasal dari da’a–yad’u–dakwatan yang artinya mengajak atau menyeru kepada jalan Allah SWT. Jadi metode dakwah adalah tata cara mengajak atau menyeru kepada jalan Allah SWT.

Sedangkan tata cara harus disesuaikan dengan keadaan situasi madu. Berdakwah dengan metode bil-lisan dalam bentuk ceramah hal itu benar jika

situasinya nyaman dan memungkinkan, maka ceramahlah seorang da‟i

menyampaikan dakwah kepada madu. Dan dakwah tidak harus dengan ceramah, dakwah dengan aksi sosial misalnya itu salah satu dari bentuk metode dakwah khan. Jadi metode dakwah tidak harus dibatasi dengan dakwah bil-lisan, ada juga bentuk metode yang lain yaitu dakwah bil-qolam, dan bil-hal seperti contoh aksi social yang

situasi dan keadaan mad‟u adalah sebagai langkah awal kesuksesan dari seorang da‟i

dalam berdakwah.

Dalam aktifitas dakwah, seorang da‟i harus mengedepankan budi pekerti yang luhur dan contoh teladan yang baik seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berdakwah dengan cerdas, mengedepankan toleransi, ikhlas berdakwah tanpa pamrih dan membekali diri dengan ilmu pengetahuan (Up Date) adalah salah satu hal yang harus dimiliki seorang da‟i. Rasululullah SAW. dalam

berdakwah dengan bijak, menyampaikan nasehat dengan baik dan penuh rasa kasih sayang dan berdiskusi dengan para sahabat dengan baik merupakan penerapan dari metode dakwah dari Surat An-Nahl ayat 125 yaitu :















































Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat

petunjuk.”

Tujuan dari dakwah itu sendiri yaitu bagaimana sekiranya hatta lamakbuda

ilallah, atau bagaimana orang menyembah kepada Allah, tentu dengan melalui

Rasulullah SAW. yang sudah diajarkan kepada kita yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bertumpu pada tiga titik, yaitu pelajaran iman, islam dan ikhsan lewat pelajaran-pelajaran dan aktifitas-aktifitas keseharian. Hal ini bertujuan agar terbentuknya khairu ummah, menuntun umat islam untuk menjadi uswah atau contoh yang baik bagi lingkungan sekitarnya sebagaimana dalam Q.S Ali Imron ayat 110 :



























Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan

mereka adalah orang-orang yang fasik.”

3. Apa definisi Da’i menurut Kyai?

Menurut saya da‟i adalah nama yang sudah melekat pada penganjur agama di dalam islam. Padahal da‟i itu masih nama umum, tapi sudah menjadi nama khusus.

Da‟i walaupun arti harfiahnya orang yang mengajar, tapi sudah didentik dengan penganjur buat agama islam, dan da‟i itu harus di pahami dari sebuah konsep yang terdapat pada Surat Al-Fushilat ayat 33 yaitu:





























Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Mimman daa ilallah, tidak orang yang lebih bagus daripada orang yang

menyeru di jalan Allah. Jadi menurut saya, posisi seorang da‟i itu luar biasa bagaimana sekiranya orang di ajak hatta lama’ muda ilallah yaitu kiranya orang mengabdi kepada Allah dan beribadah kepada Allah. Harusnya Semangat da‟I itu harus kesana, jadi harus dipahami oleh kita karena distorsi sekarang ini, da‟i didentik dengan ilal fulus, I’dai ialal kerumunan, idai ilal kewibawaan, idai ilal kursi, bukan karena ilalalah. Dan massa, Al-Qura‟an hanya dijadikan alat saja sekarang ini. Jadi

lakukan. Dalam aktifitas dakwah saya selain memberikan materi dakwah kepada masyarakat, saya aktif di masyarakat jika ada sesuatu yang terjadi di masyarakat seperti ada kematian, pernikahan atau kelahiran. Dengan saya bersentuhan langsung dengan mereka, saya lebih mengenal dengan masyarakat dan lebih mudah memberikan materi dakwah kepada mereka.

4. Apa definisi Mad’u menurut Kyai?

Madu adalah (penerima dakwah), dan keadaan madu tiap suatu daerah berbeda-beda bergantung latar belakang sosialnya. Khusus Di daerah tanjung priok tempat saya berdakwah keadaan masyarakatnya amat beragam, ada muslim, kafir, awam, cendekiawan, dewasa maupun anak-anak, dan segi ekonomi sendiri karena daerah priok ini umumnya mereka dari kelas menengah ke bawah. Melihat keadaan

ma‟du tadi yang beragam, saya mendifinisakan, tidak mungkin mengislamkan semua orang, dan saya memahami tidak semua orang (madu) dapat tersentuh oleh seorang

da‟i. Adakalanya ada orang yang mau diajak, ada juga orang yang tidak mau, ada orang yang maunya datang sendiri, ada yang maunya didatangi. Dan bagi orang yang tidak mau kita tidak perlu ada paksaan, yang terpenting mereka tidak mengganggu kepetingan umum, tidak melanggar aturan-aturan yang sudah dibuat dan jika melanggar hubungannya dengan undang-undang atau pidana dan sebagainya.

Seorang da‟i harus mampu mendifinisakan sasaran karena tidak mungkin membatasi lingkungan ini. mengajar, mengajak kepada orang yang percaya kepada saya dan yang tidak percaya menjadi urusan mereka. Seorang da‟i ibarat seperti dokter, orang yang berobat kepada dokter itu orang yang percaya kepadanya. Dan Secara khusus, memang segmentasinya banyak. Ada bapak, ibu-ibu, di sini juga ada remaja dan anak-anak dan lain-lain.

karena sepuluh tahun ke depan, mereka akan menjadi remaja, dan sepuluh tahun ke depan akan menjadi orang dewasa dan sekarang santeri saya sudah banyak yang menikah. Santeri yang dulunya masih anak-anak waktu belajar ke saya seperti kamu sekarang sudah menjadi dewasa bahkan ada yang sudah punya anak dengan berbagai macam profesi, bahkan beberapa santeri saya ada yang buka pengajian seperti saya. Seseorang yang mengambil segmen yang jelas, unsur yang lain pun akan ikut. Tidak keculai misalnya saja jika ada acara yang melibatkan para santeri yang acaranya akhir minggu seperti acara istighosa, secara tak langsung para wali santeri pada ikut hadir dalam acara tersebut. Begitupun juga pada pembacaan barzanji pada malam jumat setelah shalat isya yang membaca maupun yang menabuh hadrahnya para santeri dan secara tidak langsung para wali santeri yang berjamaah di Masjid At-Taqwa pun ikut hadir untuk turut menyaksikan penampilan para santeri yang tak lain anak mereka sendiri. Jadi mengambil sebuah konsep, disebutkan dalam ilmu marketing dikatakan ambil sesuatu hal yang jelas pada sebuah produk yang akan dijual. Dari satu hal tadi, berdampak pada yang lain. Pada awalnya saya buat pengajian pada segmen bapak-bapak dan ibu-ibu ternyata banyak yang tidak hadir dalam pengajian dan dampaknya pengajian akhirnya sepi, padahal sebelumnya sudah saya umumkan lewat speaker. kemudian dengan pikiran yang sederhana, saya mencari segmen yang paling mungkin, dan dilakukan paling mungkin. Apa yang paling mungkin, dan ternyata anak-anak. Dari segmen itu ternyata Alhamdulillah berhasil, sekarang pengajian ramai dan banyak diikuti juga orang dewasa dan tidak itu saja bahkan berdampak pada yang lain tidak kecuali warga yang lain misalnya orang-orang pemabuk, penjudi, pemakai obat pun ikut segan, karena hal itu bagian dari realitas lingkungan kita di tanjung priok.

Akhirnya dengan saya fokus pada satu titik, dikenallah sebagai tokoh agama, pada acara-acara keagamaan saya yang selalu direkrut. Seperti ada kematian, aqiqah, pernikahan bersentuhan dengan mereka tanpa sadar, dan mereka akhirnya segan

orang pemasoknya lebih besar. Tidak harus diceramahin mereka, kalau hendak diingatkan, perlu ada waktu dan tempat yang tepat untuk mengingatkan mereka. Walaupun banyak halangan yang melintang selama ini saya berdakwah dan selama itu pula saya tetap tegar, kenapa kekuatan itu ada karena istikomah untuk mengajar kepada masyarakat.

5. Apa definisi materi dakwah menurut Kyai?

Materi dakwah adalah isi pesan yang disampaikan da‟i kepada madu. Ya

Sumber utamanya adalah Al-Qur‟an dan Al-hadis yang pada pokoknya mengajak orang hatta lama budda ilallah, sehingga tidak ada yang disembah selain Allah. materi pokok yang diajarkan tidak jauh-jauh dari tiga hal, yaitu tentang iman, islam dan ikhsan. Dan ini berkembang menjadi disiplin-disiplin ilmu yang lain. Apa itu iman, islam dan ikhsan? Seperti yang diriwayatkan dari Imam Muslim yaitu:

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu „alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :

“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau

bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”

maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. Kemudian

ia bertanya lagi:“Beritahukan kepadaku tentang Iman”.

Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya;

kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang

baik dan yang buruk,”

ia berkata,“Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.

Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam menjawab, ”Hendaklah engkau beribadah

kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya,

sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

Dia pun bertanya lagi :“Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika

engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam,

Sehingga Nabi bertanya kepadaku :“Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”

Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,”

Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian. ”

standarnya ya rukun islam dan iman juga standarnya ya rukun iman dan ikhsan berkaitan dengan akhlak yang paradigmanya merasa ketika beribadah sedang melihat kepada Allah, dan apabila tidak bisa maka merasa dirinya sedang dilihat oleh Allah.

Dan ketiga pokok ini ada yang mewakili, misalnya dalam bidang Iman dikenal dengan istilah ilmu tauhid atau ilmu kalam, kalau dibidang islam/syariat di kenal dengan ilmu fiqih, dan ikhsan berkaitan dengan akhlak atau tasawwuf. Ke tiga ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Ketika bicara islam butuh iman, iman butuh ikhsan. Artinya tidak cukup ketika orang mengatakan beriman saja tapi tidak ber-islam misalnya tidak melaksanakan syariat seperti tidak melaksanakan ibadah shalat atau menjalankan syariat saja tapi tidak berlandaskan iman untuk sekarang sudah banyak. Ada orang melakukan ritual/ibadah kadang shalat, kadang zakat tapi dirinya tidak beriman hal itu juga tidak benar. Iman dan islam tanpa ikhsan juga tidak sempurna. Misalnya katakanlah orang beriman kemudian ber-islam menjalankan syariat, akan butuh norma-norma yang bernama akhlak/kepatutan. Ketika orang beriman kepada Allah kemudian melaksanakan syariat misalnya ibadah shalat, dan bicara dalam kontek shalat saja secara syariat dalam shalat aurat laki-laki antara pusar sampai sebatas lutut, hal itu sudah cukup secara kontek syariat/fiqih. Tapi persoalannya berani tidak menjalankan syariat tanpa akhlak, misalnya shalat tanpa

baju cukup pakai sarung berangkat ke masjid ketika shalat jum‟atan. Dari sisi syariat

hal itu sudah cukup, karena dalam ilmu fiqih mengatakan auratnya laki-laki dalam shalat antara pusar sampai sebatas lutut. Tapi sekali lagi persoalannya hal itu kurang ajar/tidak bagus dalam penggunaan ukuran-ukuran akhlak. Akhlak saja tanpa ada iman dan islam tidak cukup. Karena banyaknya akhir-akhir ini berkembang banyak aliran, maka Visi pesantren ini ditambah dengan iman, islam, ikhsan ala ahlusunnah waljamaah.

Kenapa saya memakai ala sunnah waljamaah? Sekarang ini banyak orang mengartikan iman, islam, dan ikhsan tapi paradigmanya tidak berlandaskan

mengikuti parameter sendiri, dimaknain sendiri sehingga terjadi kerancuhan makna dan kesimpulan- kesimpulan yang salah. Kenapa iman islam dan ikhsan ala sunna

waljamaa? Karena di ahlusunnah waljamaa memahami teks-teks keagamaan melalui

paradigama mahzab ulama/mujotohid ulama yang empat dalam bidang fiqih. Dalam bidang keimanan mengikuti paradigama Imam Sur Al-Mutorobi dan Imam Abu Hasan Al-ashari. Sedangkan dalam bidang tasawwuf menggunakan pendekatan paradigama Imam Juned Al-Bagdadi Dan Al-Ghazali. Dan Kenapa saya harus

Dokumen terkait