• Tidak ada hasil yang ditemukan

UCAPAN TERIMAKASIH

VIII. DAFTAR PUSTAKA 65 LAMPIRAN

4.4 Metode dan Prosedur Analisis

Pengolahan dan analisis data dilakukan pada bulan Maret 2012. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan Minitab 14. Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi kondisi aktual hutan mangrove pasca rehabilitasi. Nilai ekonomi total hutan mangrove yang telah mengalami rehabilitasi tersebut dinilai melalui identifikasi manfaat dan fungsi yang terkait

No Tujuan Penelitian Data yang Dibutuhkan Metode Analisis Sumber Data Jumlah Responden (Orang) 1 Mengidentifikasi sumberdaya alam hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan pasca- rehabilitasi. Kondisi aktual sumberdaya alam hutan mangrove pasca-rehabilitasi Analisis Deskriptif Observasi, Wawancara Instansi Terkait 5 2 Mengestimasi nilai ekonomi total dari hutan mangrove pasca-rehabilitasi Nilai ekonomi dari manfaat langsung hutan mangrove yang telah direhabilitasi tersebut Productivity Method Wawancara, Instansi Terkait 30

Nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi Replacement Cost Wawancara, Study Literatur, Instansi Terkait 3

Nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove sebagai feeding ground Productivity Method Wawancara, Instansi Terkait 3

Nilai ekonomi dari hutan mangrove sebagai tempat tujuan ekowisata Travel Cost Method (TCM) Wawancara, Kuesioner 35

Nilai pilihan dari hutan mangrove Benefit Transfer Nilai Biodiversity Ekosistem Mangrove - Nilai keberadaan dan niai warisan

dari hutan mangrove pasca rehabilitasi Contingen Valuation Method (CVM) Wawancara, Kusioner 70

21 dengan hutan mangrove serta kuantifikasi nilai manfaat tersebut ke dalam nilai uang.

4.4.1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah suatu analisis yang digunakan untuk menggambarkan perkembangan karakteristik kondisi sosial dan ekonomi tertentu dari suatu daerah. Beberapa kondisi sosial dan ekonomi yang perlu dideskripsikan misalnya, laju pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, dan sebagainya. Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu populasi. Misalnya populasi pohon mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan yang dilihat dari nilai rata-rata diameter pohon dan tingginya serta kerapatannya. Deskripsi dari kondisi sosial dan ekonomi suatu daerah bisa beragam bentuknya, yaitu berupa tabulasi silang, grafik histogram dan sebagainya. Bentuk deskripsi ini dipilih sesuai dengan keperluan analisis agar tujuan penelitian bisa dicapai.

4.4.2 Identifikasi Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove

Nilai ekonomi suatu sumberdaya pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu nilai kegunaan (use value) dan nilai non-guna (non-use value) nilai keguanaan meliputi nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, dan nilai guna pilihan. Nilai non-guna terdiri dari nilai warisan dan nilai keberadaan.

1. Nilai Guna Langsung (Direct Use Value)

Nilai guna langsung dihasilkan dari pemanfaatan secara langsung dari suatu sumberdaya, dalam hal ini adalah hutan mangrove yang terehabilitasi. Nilai manfaat langsung tersebut dihitung dari jenis manfaat yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Pesisir Pantai Tlanakan. Nilai manfaat langsung ini diidentifikasi dari hasil tangkapan kepiting, udang, ikan, dan nilai potensi kayu mangrove.

22 Nilai manfaat langsung dari hutan mangrove dari produktivitas ikan, udang, dan kepitingnya dapat diperoleh dengan menggunakan Productivity Method. Nilai tersebut diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pamekasan. Sementara nilai potensi kayu mangrove diperoleh dengan menggunakan Analysis of Standing Volume (Analisis Volume Tegakan) pada pohon mangrove dengan menentukan tiga titik contoh (sampel).

Menurut Nilwan et al (2003) dalam Santoso (2005) rumus umum yang digunakan pada Analysis of Standing Volume (Analisis Volume Tegakan)adalah:

Vha= 0,5x Π x D2 x T x K Keterangan:

D: Diameter rata-rata (m) T: Tinggi rata-rata (m) K: Kerapatan rata-rata per ha Π: 3,14

Analisis volume tegakan ini dapat menggambarkan kondisi dari hutan mangrove pada tiap hektar. Selain itu juga dapat dijadikan perhitungan awal dari nilai ekonomi potensi kayu mangrove.

2. Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value)

Nilai guna tidak langsung dari hutan mangrove dapat diidentifikasi dari manfaat fisik dan biologisnya serta dari potensi kawasan hutan mangrove sebagai tujuan ekowisata. Manfaat fisik dari hutan mangrove yaitu sebagai penahan abrasi air laut. Manfaat biologisnya yaitu sebagai tempat pemijahan ikan, daerah asuhan ikan dan sebagai penyedia makanan bagi ikan.

Penilaian hutan mangrove secara fisik diestimasi dari fungsi hutan mangrove sebagai penahan abrasi. Nilai ekonomi hutan mangrove sebagai penahan abrasi ini diperoleh berdasarkan pendekatan biaya pengganti

23

(Replacement cost) pembuatan penahan abrasi. Hutan mangrove ini diibaratkan sebagai bangunan dari beton yang berfungsi sebagai pemecah gelombang (breakwater). Pengestimasian nilai ekonominya dilakukan dengan cara mengukur panjang garis pantai yang dilindungi oleh hutan mangrove, kemudian biaya pembuatan breakwater yang diperoleh dikalikan satu per tiga dari panjang garis pantai yang dilindungi hutan mangrove. Hal ini dikarenakan manfaat hutan mangrove tersebut dapat tergantikan dengan membangun breakwater sepanjang satu per tiga dari panjang garis pantai (Santoso, 2005).

Penilaian ekonomi secara biologi berbeda dengan penilaian ekonomi secara fisik. Penilaian ekonomi secara biologi didekati secara tidak langsung melalui Productivity Method. Produktivitas yang digunakan untuk mengetahui nilai tidak langsung dari hutan mangrove sebagai penyedia pakan yaitu produktivitas hasil tangkapan udang. Nilai ini diestimasi setara dengan hasil tangkapan udang disekitar hutan mangrove dikali dengan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk setiap kilogram udang yang diperoleh dikali harga pakan udang didaerah penelitian (Sribianti, 2008).

Nilai ekonomi ekowisata hutan mangrove diestimasi melalui pendekatan biaya perjalanan. Menurut Hufschmidt et al (1987) dalam Darmawan (2011) pendekatan biaya perjalanan dikembangkan untuk menilai manfaat barang lingkungan. Konsep ini dapat digunakan untuk memperoleh besarnya nilai tidak langsung hutan mangrove sebagai tujuan ekowisata terutama untuk kawasan yang belum memiliki harga tiket masuk. Biaya perjalanan pengunjung ini akan diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan panduan kuesioner.

24 Biaya perjalanan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan menuju lokasi wisata. Biaya tersebut meliputi biaya transportasi, biaya konsumsi, biaya dokumentasi, dan biaya-biaya lainnya. Adapun fungsi dari biaya perjalanan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

C = Bt + Bk + Bd + Bl………...(1)

Keterangan:

C : Biaya perjalanan (Rp/orang) Bt : Biaya transportasi (Rp/orang) Bk : Biaya konsumsi (Rp/orang/hari) Bd : Biaya dokumentasi (Rp/orang) Bl : Biaya lain-lain (Rp)

3. Nilai Pilihan (OptionValue)

Nilai pilihan untuk hutan mangrove biasanya didekati dengan menggunakan metode Benefit Transfer. Metode ini menggunakan sistem penilaian benefit dari tempat lain, dimana sumberdaya tersedia, kemudian benefit tersebut ditransfer untuk memperoleh perkiraan kasar mengenai manfaat lingkungan (Tuwo, 2011). Metode tersebut didekati dengan cara menghitung besarnya nilai keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang ada di ekosistem hutan mangrove tersebut. Menurut Ruitenbeek (1991) dalam Fahrudin (1996) hutan mangrove Indonesia memiliki nilai biodiversitassebesar US$ 1 500 per km2 atau US$ 15 per ha. Nilai ini dapat digunakan untuk seluruh Hutan mangrove yang ada di Indonesia. Nilai manfaat pilihan dapat dirumuskan sebagai berikut:

OV = US$15 per ha x Luas hutan mangrove………....(2) Dimana: OV = OptionValue

4. Nilai Warisan (Bequest Value)

Hutan mangrove memiliki nilai warisan dari masyarakat sekarang ke generasi yang akan datang jika bisa terpelihara dengan baik. Oleh sebab itu nilai

25 manfaat warisan tersebut perlu diestimasi. Metode yang digunakan adalah

Contingent Valuation Method (CVM). Metode ini didasarkan pada kesediaan membayar seseorang (Willingness To Pay) untuk memelihara hutan mangrove agar bisa diwariskan pada generasi yang akan datang seperti saat menilai nilai keberadaan hutan mangrove. Pencarian data dalam metode ini dilakukan dengan wawancara dengan mengunakan panduan kuesioner. Teknik CVM ini memerlukan analisis survei yang kompeten untuk mencapai perkiraan yang bisa dipertahankan, akan tetapi sifat studi dan hasil penelitian dari CVM tidak sulit untuk menganalisis dan menjelaskan permasalahan. CVM telah banyak digunakan, serta banyak penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan metodelogi, membuat hasil lebih valid dan dapat diandalkan (Fadhli, 2011).

Tahap-tahap dalam melakukan penelitian untuk menentukan Willingness To Pay (WTP) dengan menggunakan CVM dalam penelitian ini meliputi:

a. Membentuk Pasar Hipotetik

Pasar hipotetik yang dibentuk adalah suatu pasar dengan kualitas hutan mangrove yang berbeda dengan kondisi sekarang. Responden sebelumya telah menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai persepsi terhadap kondisi hutan mangrove. Pasar hipotetik dibentuk setelah responden diminta untuk mendengarkan atau membaca suatu pernyataan mengenai kondisi hutan mangrove saat ini (pasca rehabilitasi). Dijelaskan pula bahwa kondisi ini terjadi karena adanya rehabilitasi oleh pemerintah pada tahun 2009 yang bekerjasama dengan masyarakat setempat. Selanjutnya pasar hipotetik CVM yang ditawarkan, dibentuk dalam sebuah skenario sebagai berikut:

26 Skenario ini memberikan gambaran kepada responden mengenai situasi hipotetik rencana pengelolaan dan pembayaran jasa SDAL sebagai upaya konservasi untuk kelesarian hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan. Nilai sumberdaya alam tersebut akan diberlakukan dan ditanyakan kepada responden mengenai WTP per bulan untuk masyarakat sekitar hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan.

b. Mendapatkan Penawaran Besarnya Nilai WTP

Apabila alat survei telah dibuat, maka survei tersebut dapat dilakukan dengan wawancara langsung. Teknik yang digunakan dengan menggunakan metode referendum atau discrete choise (dichotomous choise). Responden diberi suatu nilai rupiah kemudian diberi pertanyaan setuju atau tidak. Metode lebih memudahkan responden dalam memahami maksud dan tujuan dari penelitian dibanding dengan metode lain.

c. Memperkirakan Dugaan Rataan WTP

WTPi dapat diduga dengan menggunakan nilai tengah dari kelas atau interval kelas WTPi. Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa WTPi yang benar berada antara jawaban yang dipilih (batas bawah kelas WTP) dengan WTP berikutnya (batas atas kelas WTP). Dugaan rataan WTP dihitung dengan rumus:

“Pihak pengelola berencana akan bekerjasama dengan masyarakat untuk terus merehabilitasi hutan mangrove. Hal tersebut memerlukan partisipasi aktif masyarakat melalui penarikan dana sumbangan. Selanjutnya dana tersebut akan digunakan untuk biaya pembelian bibit mangrove, pancang tegakan bibit mangrove, dan upah bagi masyarakat yang menanam pohon mangrove. Apakah anda bersedia untuk ikut

27 Keterangan:

EWTP : Dugaan rataan WTP Wi : Nilai WTP ke-i Pfi : Frekuensi relatif N : Jumlah responden

i : Responden ke-i yang bersedia melakukan pembayaran nilai SDA

d. Penjumlahan Data

Penjumlahan data merupakan proses dimana nilai tengah penawaran dikonversikan terhadap total populasi yang dimaksud. Setelah menduga nilai tengah WTP maka dapat diduga nilai WTP dari rumah tangga dengan menggunakan rumus: ∑ ( ) Keterangan TWTP : Total WTP

WTPI : WTP individu sampai ke-i

ni : Jumlah sampel ke-i yang bersedia membayar sebesar WTP N : Jumlah sampel

P : Jumlah populasi

i : Responden ke-i yang bersedia membayar jasa sumberdaya alam dan lingkungan

e. Mengevaluasi Penggunaan CVM

Evaluasi ini merupakan penilaian sejauh mana penggunaan CVM telah berhasil dilakukan. Pada tahap ini memerlukan pendekatan seberapa besar tingkat keberhasilan dalam pengaplikasian CVM. Apakah hasil survei mengandung tingkat penalaran sanggahan yang tinggi. Apakah ada bukti bahwa responden benar-benar mengerti mengenai pasar hipotetik. Seberapa besar tingkat kesalahan responden dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Seberapa baik pasar hipotetik yang digunakan dapat menangkap

28 setiap aspek dalam barang lingkungan. Seberapa baik permasalahan yang terjadi diasosiasikan dengan CVM.

5. Nilai Manfaat Keberadaan (ExistenceValue)

Keberadaan hutan mangrove dalam kehidupan masyarakat tentu akan dirasakan oleh mereka apalagi jika hutan mangrove itu mengalami perubahan. Oleh sebab itu nilai manfaat keberadaan tersebut perlu diestimasi. Metode yang digunakan adalah Contingent Valuation Method (CVM). Metode ini didasarkan pada kesediaan membayar seseorang (Willingness to pay) terhadap keberadaan sumberdaya mangrove sehingga manfaat dan fungsi hutan mangrove tetap dirasakan oleh masyarakat.

Tahap-tahap dalam melakukan penelitian untuk menentukan Willingness to pay (WTP) nilai keberadan dengan menggunakan CVM sama halnya dengan tahap-tahap untuk memperoleh nilai warisan. Hal yang membedakan adalah responden dan pasar hipotetiknya. Responden yang diperlukan untuk menilai keberadaan hutan mangrove adalah masyarakat yang mengetahui tentang hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan dan mereka bukan masyarakat sekitar hutan mangrove.

Pasar hipotetik yang dibentuk untuk memperoleh nilai keberadaan hutan mangrove adalah suatu pasar dengan kualitas hutan mangrove yang berbeda dengan kondisi sekarang. Pasar hipotetik dibentuk setelah responden diminta untuk mendengarkan atau membaca suatu pernyataan mengenai kondisi hutan mangrove saat ini (pasca rehabilitasi). Dijelaskan pula bahwa kondisi ini terjadi karena adanya rehabilitasi oleh pemerintah sebelumnya pada tahun 2009 yang

29 bekerjasama dengan masyarakat setempat. Selanjutnya pasar hipotetik CVM yang ditawarkan, dibentuk dalam sebuah skenario sebagai berikut:

Skenario ini memberikan gambaran kepada responden mengenai situasi hipotetik mengenai rencana pengelolaan dan pembayaran jasa SDAL sebagai upaya konservasi untuk kelestarian hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan. Nilai sumberdaya alam tersebut akan diberlakukan dan ditanyakan kepada responden mengenai WTP per bulan untuk masyarakat yang mengetahui hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan.

4.4.3 Analisis Regresi Linear Berganda

Menurut Juanda (2009), analisis linear berganda (multiple regresion) adalah persamaan regresi yang menggambarkan hubungan antara beberapa peubah bebas dan satu peubah tak bebas. Analisis regresi linear berganda pada penelitian ini digunakan untuk mengevaluasi penggunaan CVM. Evaluasi pelaksanaan model CVM dapat dilihat dari tingkat keandalan fungsi WTP. Persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi nilai WTP responden adalah sebagai berikut:

WTP = β0 + β1JK+ β2UR+ β3ST+ β4Pdi+ β5Pda+ β6Pk1+ β7Pk2+β8Pk3 + β9Pk4+ β10Pk5+ β11MH+ β12LN+ ɛi

Keterangan

WTP : Nilai WTP Responden (Rp/orang)

β0 : Intersep

β1,..,βn : Koefisien Regresi

JK : Jenis Kelamin (Dummy)

UR : Usia Responden (Tahun)

ST : Status (Dummy)

“Pihak pengelola berencana akan terus melakukan rehabilitasi. Hal tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat dengan penarikan dana sumbangan. Selanjutnya dana tersebut akan digunakan untuk biaya pembelian bibit mangrove, pancang tegakan bibit mangrove, dan upah bagi masyarakat yang menanam pohon mangrove. Berapa jumlah yang bersedia anda

30

Pdi : Tingkat Pendidikan Responden

Pda : Tinkat Pendapatan Responden (Rp/bulan)

Pk1 : Jenis Pekerjaan sebagai Karyawan (Dummy)

Pk2 : Jenis Pekerjaan sebagai Nelayan (Dummy)

Pk3 : Jenis Pekerjaan sebagai Wiraswasta (Dummy)

Pk4 : Jenis Pekerjaan sebagai PNS (Dummy)

Pk5 : Jenis Pekerjaan lain (Dummy)

MH : Mahasiswa (Dummy)

LN : Kelestarian Lingkungan/Kondisi Hutan Mangrove (Dummy)

i : Responden ke-i (i = 1, 2, 3,...,n)

4.4.4 Kuantifikasi Manfaat ke Dalam Nilai Uang

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah mengidentifikasi manfaat-manfaaat dari hutan mangrove adalah mengkuantifikasi seluruh manfaat yang diperoleh ke dalam nilai uang. Nilai tersebut dikuantifikasi berdasarkan nilai ekonomi total hutan mangrove secara keseluruhan. Ada beberapa nilai yang dapat digunakan untuk melakukan kuantifikasi dari sumberdaya mangrove, yaitu:

1. Nilai Pasar

Pendekatan nilai pasar digunakan untuk menghitung nilai ekonomi dari komoditas-komoditas yang langsung dapat dimanfaatkan dari sumberdaya mangrove. Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan Productivity Method. Pendekatan ini dilakukan untuk menilai manfaat langsung dari penggunaan komponen suatu sumberdaya hutan mangrove seperti kayu, ikan, udang, dan kepiting.

2. Harga Tidak Langsung

Pendekatan ini digunakan untuk menilai manfaat tidak langsung dari hutan mangrove. Pendekatan ini digunakan untuk komoditas yang tidak memiliki nilai pasar seperti manfaat tidak langsung hutan mangrove sebagai penahan abrasi pantai dan sebagai tempat tujuan ekowisata.

31

3. Contingent Valuation Method (CVM)

Pendekatan CVM ini digunakan untuk menghitung nilai dari manfaat keberadaan dan nilai warisan dari hutan mangrove melalui responden terpilih. 4. Nilai Total Ekonomi

Nilai total dari hutan mangrove merupakan penjumlahan seluruh nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove yang telah diidentifikasi dan dikuantifikasi ke dalam nilai uang. Nilai manfaat total tersebut dirumuskan sebagai berikut: TEV = DV + IV + OV +BV+EV...….(5)

Keterangan

TEV : Total Economic Value DV : Direct Value

IV : Indirect Value

OV : Option Value

BV : Bequest Value

32

V. GAMBARAN UMUM

5.1 Keadaan Umum Hutan Mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan

Tlanakan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Pamekasan yang memiliki luas wilayah 48,10 Km2 dan terletak 22 m di atas permukaan laut serta terdiri dari 17 desa. Ekosistem mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan terletak di tujuh desa di Kecamatan Tlanakan. Desa-desa tersebut adalah Desa Tlesah, Tlanakan, Ambat, Branta Tinggi, Branta Pesisir, Kramat, dan Bandaran. Berdasarkan hasil survei tahun 2008 dan analisis citra landsat ETM +7 diketahui luas hutan mangrove di Kecamatan Tlanakan 15,708 Ha (DKP, 2008). Berdasarkan data terbaru Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pamekasan luas hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan pada tahun 2011 (setelah rehabilitasi) adalah 58 ha (DKP, 2012). Keadaan umum dari hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan tersebut tidak terlepas dari pengaruh batas-batas daerahnya. Sebelah utara, timur, selatan, dan barat Kecamatan Tlanakan berbatasan dengan Kecamatan Proppo, Pademawu, Selat Madura, dan Kabupaten Sampang.

5.2 Keadaan Sosial Ekonomi

Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di Pesisir Pantai Tlanakan dideskripsikan berdasarkan keadaan kependudukan yang terdiri atas jumlah penduduk dan umur penduduk. Keadaan ekonomi dideskripsikan berdasarkan mata pencaharian penduduk Tlanakan.

1. Kependudukan

Perkembangan fisik, perekonomian serta sosial budaya daerah sangat ditentukan oleh perubahan keadaan dan kondisi penduduk setempat. Jumlah

33 penduduk sangat berpengaruh terhadap segala kegiatan terutama perekonomian dan keberadan suatu sumberdaya alam. Semakin besar jumlah penduduk semakin besar pula kebutuhannya terhadap sumberdaya alam baik yang ada di sekitarnya ataupun yang ada di tempat lain. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan (2011), jumlah penduduk di Kecamatan Tlanakan adalah 51 483 jiwa. Jumlah penduduk di desa-desa sekitar hutan mangrove adalah 1 002 jiwa (Desa Tlesa) 2 317 jiwa (Desa Tlanakan), 5 031 (Desa Ambat), 4 162 (Desa Branta Pesisir), 1 848 (Desa Branta Tinggi), 3 266 (Desa Kramat), dan 5 178 (Desa Bandaran). Dengan demikian populasi penduduk di sekitar Pesisir Pantai Tlanakan adalah 22 804 jiwa.

2. Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk di Pesisir Pantai Tlanakan sangat bervariasi. Mata pencaharian yang mendominasi di Pesisir Pantai Tlanakan adalah nelayan, wiraswasta dan buruh. Berdasarkan data yang ada dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (2009) jumlah penduduk di Pesisir Pantai Tlanakan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, buruh, nelayan, petani, penjahit, dan wiraswata masing-masing adalah 1 471 jiwa, 279 jiwa, 1 218 jiwa, 75 jiwa, 15 jiwa, dan 430 jiwa.

5.3 Karakteristik Responden WTP

Karakteristik umum responden willingness to pay di Kecamatan Tlanakan adalah sebanyak 35 responden (Lampiran 2). Responden ini diminta kesediaannya untuk menjawab kuesioner mengenai nilai warisan. Karakteristik umum responden WTP tergambar melalui usia, jenis kelamin, pendidikan formal yang pernah ditempuh, dan tingkat pendapatan tiap bulan.

34 1. Responden WTP Nilai Warisan

Pada umumnya responden nilai warisan adalah mereka yang tinggal di sekitar Pesisir Pantai Tlanakan. Responden tersebut pada umumnya adalah laki- laki. Tingkat usia respoden WTP cukup bervariasi dengan distribusi usia antara 15 sampai dengan 65 tahun (Lampiran 2). Responden WTP yang berusia 15-25 tahun sebanyak sepuluh orang (29 % dari total keseluruhan responden), responden WTP yang berusia 26-35 tahun sebanyak 11 orang (31 % dari total keseluruhan responden), responden WTP yang berusia 36-45 tahun sebanyak tujuh orang (20 % dari total keseluruhan responden), responden WTP yang berusia 46-55 tahun sebanyak dua orang (6 % dari total keseluruhan responden), dan responden yang berusia 56-65 orang sebanyak lima orang (14 % dari total keseluruhan responden). Persentase distribusi usia responden WTP dapat terlihat pada Gambar 3.

Sumber: Data Primer yang Diolah (2012)

Gambar 3. Karakteristik Responden WTP Nilai Warisan Berdasarkan Distribusi Usia

Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh responden WTP bervariasi. Mayoritas responden WTP nilai warisan di Pesisir Pantai Tlanakan menempuh pendidikannya di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Berdasarkan hasil analisis data pimer terhadap responden, sebanyak 14 (41 % dari keseluruhan responden) hanya mencapai pendidikan sampai di tingkat SD, delapan orang (24 % dari keseluruhan responden) mencapai

29% 31% 20% 6% 14% 15-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun 56-65 tahun

35 pendidikan sampai di tingkat SLTP, 11 orang (32 % dari keseluruhan responden) mencapai pendidikan sampai tingkat SLTA, dan hanya ada satu orang (1 % dari keseluruhan responden yang berhasil menempuh pendidikan sampai tingkat S1. Persentase tingkat pendidikan dapat dilihat di Gambar 4.

Sumber: Data Pimer yang Diolah (2012)

Gambar 4. Karakteristik Responden WTP Nilai Warisan Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Pada umumnya tingkat pendapatan responden WTP di Pesisir Pantai Tlanakan tidak berkorelasi dengan tingkat pendidikannya. Mayoritas pendapatan responden WTP nilai warisan di Pesisir Pantai Tlanakan berkisar antara Rp. 500 000,00/bulan sampai Rp. 1 000 000,00/bulan. Sebanyak 26 % dari keseluruhan responden memiliki pendapatan yang kurang dari Rp. 500 000,00/bulan, sebanyak 57 % dari keseluruhan responden memiliki pendapatan yang berkisar antara Rp 500 000,00/bulan sampai Rp. 1 000 000,00/bulan, sebanyak 11 % dari keseluruhan responden memiliki pendapatan yang berkisar antara Rp. 1 100 000,00/bulan sampai Rp. 1 500 000,00/bulan, sisanya (6 % dari keseluruhan responden) pendapatannya berkisar antara Rp. 1 600 000,00 sampai Rp. 2 000 000,00. Persentase tingkat pendapatan responden terlihat pada Gambar 5.

SD 41% SLTP 24% SLTA 32% S1 3%

36 Sumber: Data Primer yang Diolah (2012)

Gambar 5. Karakteristik Responden WTP Nilai Warisan Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Berdasarkan karakteristik pendapatannya diketahui bahwa masyarakat Pesisir Pantai Tlanakan masih tergolong masyarakat miskin. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar pendapatan responden (83 % dari seluruh responden) berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten pamekasan (Rp. 975 000,00). 2. Responden WTP Nilai Keberadaan

Pada umumnya responden nilai keberadaan adalah mahasiswa yang belum menikah dan mereka mengetahui tentang hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan. Responden tersebut pada umumnya berjenis kelamin laki-laki. Tingkat usia respoden tidak terlalu bervariasi dengan distribusi usia antara 15 sampai dengan 55 tahun (Lampiran 3). Responden yang berusia 15-25 tahun sebanyak 31 orang (88 % dari total keseluruhan responden), responden yang berusia 26-35 tahun sebanyak dua orang (6 % dari total keseluruhan responden), responden yang berusia 36-45 tahun sebanyak satu orang (3 % dari total keseluruhan responden), dan responden yang berusia 46-55 tahun sebanyak satu orang (3 % dari total keseluruhan responden). Persentase distribusi usia responden WTP dapat terlihat pada Gambar 6. 26% 57% 11% 6% < Rp. 500.000 Rp. 500.000-s/d Rp. 1.000.000 Rp. 1.100.000-s/d Rp. 1.500.000 Rp. 1.600.000-s/d Rp. 2.000.000

37 Sumber: Data Primer yang Diolah (2012)

Gambar 6. Karakteristik Responden WTP Nilai Keberadaan Berdasarkan Distribusi Usia

Mayoritas responden nilai keberadaan hutan mangrove di Pesisir Pantai Tlanakan menempuh pendidikan terakhirnya di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Berdasarkan hasil analisis data pimer terhadap responden WTP, sebanyak satu orang (3 % dari keseluruhan responden) hanya mencapai

Dokumen terkait