PENDIDIKAN INDONESIA ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
F. Metode Discovery
1. Pengertian Pembelajaran Discovery
Model pembelajaran ini menekankan agar siswa mampu menemukan informasi dan memahami konsep pembelajaran secara mandiri berdasarkan kemampuan yang dimilikinya namun tidak tanpa bimbingan dan pengawasan guru agar pembelajaran yang mereka dapat terbukti benar.
Pendekatan ini merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan mengambil kesimpulan. Pada kegiatan discovery guru hanya memeberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah sesuai melalui percobaan. Pada pendekatan
133 inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari discovery anatara lain: merancang, dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.
2. Ciri-Ciri Secara Umum:
a. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan.
b. Berpusat pada siswa.
c. Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu :
a. Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
b. Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa.
c. Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai. d. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada
hasil.
e. Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan. f. Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.
g. Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa. h. Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa. i. Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.
j. Banyak menggunakan terminilogi kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran; seperti predeksi, inferensi, kreasi dan analisis.
k. Menekankan pentingnya “bagaimana” siswa belajar.
l. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru.
3. Langkah-Langkah Pembelajaran Discovery
Menurut Jerome Bruner Langkah-langkah penggunaan discovery learning ada 6: a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
134 Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri (Taba dalam Affan, 1990:198).
b. Data collection (pengumpulan data
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).
c. Data processing (pengolahan data)
Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
d. Verification (pentahkikan/pembuktian)
Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41).
e. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalitation/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). G. Strategi Pembelajaran Active Learning
Metode Aktif Learning, merupakan salah satu cara guru mengajar dengan tujuan agar siswa mampu belajar secara aktif, kreatif dan menyenangkan. Keatifan siswa belajar dibuktikan melalui kesediaan mereka menyampaikan pendapat, atau kemampuan mengungkap kembali hal-hal yang baru saja dipelajarinya. Apalagi aktifitas ini dibarengi dengan keinginan siswa untuk berani mencoba mempraktekkan apa yang dipelajarinya di depan kelas.
Bagi seorang guru, kreativitas mengajar merupakan model dasar untuk mengembangkan kemampuan peserta didik memahami dan mengembangkan pengetahuan yang sedang dipelajari, dengan tujuan mereka memiliki kemampuan
135 untuk mengekspresikan dalam kehidupan yang nyata. Kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. Dengan demikian, kreativitas guru mengajar merupakan usaha untuk mengekspresikan pengetahuan yang dimilikinya dalam bentuk tingkahlaku dengan tujuan untuk mendidik dan membimbing anak didiknya ke arah peningkatan pengetahuan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam materi perawatan jenazah dapat meningkat, jika dilakukan melalui pembelajaran aktif aktif (active learning), yang merupakan cara baru dalam meningkatkan prestasi belajar ke tingkat yang lebih baik.
Adapun prinsup dalam pembelajaran aktif ini adalah a. Belajar dapat terjadi dengan proses mengalami b. Belajar merupakan transaksi aktif
c. Belajar secara aktif memerlukan kegiatan yang bersifat vital, sehingga dapat berupaya mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan pribadinya.
d. Belajar terjadi melalui proses mengatasi hambatan sehingga mencapai pemecahan atau tujuan.
e. Hanya dengan melalui penyodoran masalah memungkinkan diaktifkannya motivasi dan upaya, sehingga siswa berpengalaman dengan kegiatan yang bertujuan.
Peran guru dalam menerapkan metode ini adalah sebagai fasilitator, mediator, pembimbing dan pengarah siswa. Hal ini berarti bahwa guru harus mampu untuk: a. Menjelaskan tugas apa yang harus dilakukan siswa.
b. Apa tujuan tugas tersebut
c. Kemana harus mencari informasi, dan
d. Bagaimana cara mengolah informasi tersebut.
Dengan kata lain, proses pembelajaran active learning menuntut keaktifan serta partisipasi siswa seoptimal mungkin sehingga mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan efesien. Jadi, peran siswa di sini adalah sebagai “gurunya sendiri”. Tujuan metode Active Learning (Pembelajaran Aktif)
136 a. Menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan
b. Memaksimalkan hasil belajar siswa c. Mengurangi porsi guru untuk ceramah
d. Mengaktifkan siswa dalam semua proses pembelajaran e. Melatih siswa untuk mandiri
f. Melatih kemampuan analitis dan sintesis siswa g. Mengubah tingkah laku siswa.
Kelebihan dan kekurangan Metode Active Learning (Pembelajaran Aktif) Kelebihan metode active learning menurut Hamdani (2010). Diantaranya:
a. Meningkatkan kemampuan siswa untuk mencari dan menemukan informasi sendiri
b. Membuat siswa tidak mudah melupakan informasi atau pengetahuan yang baru saja diterimanya.
c. Membuat otak bekerja lebih baik dalam menyimpan informasi atau pengetahuan d. Meningkatkan perilaku atau sikap positif siswa
e. Meningkatkan aktivitas siswa
f. Mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar siswa Adapun yang menjadi kelemahan metode ini adalah:
a. Tidak mudah mengakomodir semua kegiatan siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan berlangsung.
b. Menghendaki inovasi guru
c. Menghendaki kreasi guru secara terus menerus/berkesinambungan.