• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa ahli pendidikan mengemukakan macam-macam metode pembelajaran, yang saling berbeda pendapat dari segi jumlah metode yang digunakan pada proses pembelajaran. Namun, untuk perkembangan dan peningkatan proses pembelajaran tersebut keseluruhan metode-metode tersebut dapat digunakan dan diakui sebagai bagian dari metode suatu pembelajaran di dalam kelas, Adapun macam-macam metode tersebut adalah :

1. Metode Ceramah ialah suatu metode di dalam pendidikan dimana cara menyampaikan pengertian-pengertian materi kepada anak didik dengan jalan penerangan dan penuturan secara lisan.7 Dapat juga dikatakan metode ceramah ialah penuturan bahan pelajaran secara lisan.8 Dengan demikian dapat diketahui dengan jelas bahwa metode ceramah ini ialah metode dalam pembelajaran menggunakan lisan dan pernyataan dalam penyampaian materi kepada peserta didik.

2.Metode Tanya Jawab ialah metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic. Sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa.9 Pendapat yang lain juga mengatakan metode tanya jawab ini yaitu suatu metode penyampaian pelajaran dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab, atau suatu metode di dalam pendidikan dimana guru bertanya sedang murid

7

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

8

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.105

9

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

menjawab tentang bahan/materi yang ingin diperolehnya. Metode ini dimaksudkan untuk mengenalkan pengetahuan, fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan dan untuk merangsang perhatian murid dengan berbagai cara (sebagai appersepsi, selingan, dan evaluasi).10 Dengan demikian metode tanya jawab ini ialah metode yang digunakan dalam penyampaian materi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pengajuan pertanyaan- pertanyaan dan dijawab oleh murid.

3. Metode Diskusi ialah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk menumbuhkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami tentang konsep, prinsip atau keterampilan tertentu.11 Pendapat lain mengatakan metode diskusi ialah suatu metode di dalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikannya, sehingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang murid berfikir dan mengeluarkan pendapat sendiri, serta ikut menyumbangkan pikiran dalam satu masalah bersama yang terkandung banyak kemungkinan-kemungkinan jawaban.12 Dengan demikian dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa metode diskusi ialah metode yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan memberikan permasalahan kepada siswa, sehingga terjadinya saling tukar pikiran dan pandangan dalam diskusi untuk memecahkan permasalahan tersebut oleh murid.

4. Metode Demonstrasi dan Eksperimen merupakan metode pengajuan pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar

10

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

11

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.97

12

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

tiruan.13 Adapun pendapat lain mengatakan metode demonstrasi dan eksperimen ini yaitu suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta atau murid sendiri memperlihatkan pada seluruh kelas tentang suatu proses atau suatu kaifiyah melakukan sesuatu.

(misalnya : proses cara mengambil air wudhu, proses cara mengerjakan shalat jenazah dan sebagainya). Sedangkan metode eksperimen adalah metode pengajaran dimana guru dan murid-murid bersama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui.

(misalnya : mengadakan eksperimen tentang tanah/debu yang dapat dipergunakan untuk tayamum, eksperimen untuk merawat jenazah dan sebagainya).14 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi dan eksperimen ialah suatu metode dalam proses pembelajaran dengan guru dalam penyampaian materi kepada murid/siswa memperagakan dan mempertunjukkan suatu proses situasi atau benda tertentu.

5. Metode Tugas dan Resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah tetapi lebih luas dari itu. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu atau kelompok. Tugas dan resitasi bias dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan dan tempat lainnya.15 Pendapat lain mengatakan bahwa metode tugas dan resitasi ini yaitu suatu metode dimana murid diberi tugas khusus di luar jam pelajaran. Dalam pelaksanaan metode ini anak-anak dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya di rumah, tapi dapat dikerjakan juga di perpustakaan, di laboratorium, di ruang-ruang praktikum dan lain sebagainya untuk dapat dipertanggungjawabkan kepada guru.16 Dengan demikian dapat disimpulkan dari pernyataan di atas bahwa metode tugas dan resitasi ini ialah suatu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pemebrian tugas khusus di luar jam

13

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.100

14

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

15

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.102

16

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

pelajaran kepada siswa, dan siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di manapun dapat dikerjakan oleh siswa, dengan catatan tempatnya benar-benar mendukung dan kondusif dalam belajar.

6. Metode Kerja Kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil.17 Dapat juga dikatakan bahwa metode kerja kelompok ini yaitu kelompok kerja dari kumpulan beberapa individu yang bersifat paedagogis yang di dalamnya terdapat adanya hubungan timbal balik (kerjasama) antara individu serta saling percaya mempercayai.18 Dari beberapa pernyataan di atas dapat dipahami dengan jelas bahwa metode kerja kelompok ini ialah suatu metode dalam proses pembelajaran dengan pemebrian tugas kepada siswa dan dikerjakan secara berkelompok dalam pelaksanaan metode ini.

7. Metode Sosiodrama ialah bentuk metode mengajar dengan mendramakan/memerankan cara tingkah laku di dalam hubungan social. Sedangkan bermain peranan lebih menekankan pada kenyataan di mana para murid diikutsertakan dalam memainkan peranan di dalam mendramakan masalah-masalah hubungan social.19 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode sosiodrama ini ialah suatu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan cara pendidik mendramakan/memerankan cara tingkah laku di dalam hubungan sosial, sehingga siswa terpengaruh dari segi emosional untuk mengikuti dari peranan tingkah laku yang dilakukan oleh guru.

8. Metode Karyawisata ialah suatu metode pengajaran yang dilaksanakan dengan jalan mengajak anak-anak ke luar kelas untuk dapat memperlihatkan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan pelajaran. Dalam perjalanan karyawisata ada hal-hal tertentu yang telah direncanakan

17

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.103

18

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

19

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

oleh guru untuk didemonstrasikan/ditunjukkan kepada siswa, di samping ada hal-hal yang secara kebetulan diketemukan dalam perjalanan tamasya tersebut, Misalnya : pengenalan terhadap kekuasaan Tuhan dalam penciptaan alam semesta.20 Dapat juga berarti metode karya wisata (field trip) ini dalam arti metode pembelajaran yang mempunyai arti tersendiri yang berbeda dengan karya wisata dalam arti umum. Karya wisata ini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar.21 Dengan demikian dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa metode karya wisata ini ialah suatu metode dalam proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada kunjungan ke luar kelas untuk dapat memperlihatkan kepada siswa hal-hal atau peristiwa yang ada hubungannya dengan pelajaran.

9. Metode Drill/Latihan pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berfikir, maka hendaknya guru/pengajar memperhatikan tingkat kewajaran dari metode ini.22 Pendapat lain mengatakan bahwa metode drill/latihan ini ialah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan malatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. Metode drill/latihan siap biasanya digunakan pada pelajaran-pelajaran yang bersifat motoris, seperti : pelajaran menulis, pelajaran bahasa, dan pelajaran-pelajran keterampilan, lalu pelajaran-pelajaran yang bersifat kecakapan mental dalam arti melatih anak-anak berfikir cepat.23 Dengan demikian dapat diketahui dengan jelas bahwa metode drill/latihan ini ialah suatu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan cara memberikan keterampilan dan ketangkasan

20

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

21

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.105

22

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.104

23

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

kepada siswa dari apa yang telah dipelajari, dalam hal ini keterampilan atau ketangkasan yang diberikan bersifat motoris.

10.Metode Sistem Regu ialah suatu metode pembelajaran : dua orang guru atau lebih bekerja sama pembelajaran sebuah kelompok siswa, jadi kelas dihadapi beberapa guru.24 Hal ini berarti juga bahwa metode sistim regu (Team Teaching) ini yaitu metode mengajar di mana dua orang guru (atau lebih bekerja sama mengajar sekelompok murid).25 Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa metode sistim regu ini ialah suatu metode dalam proses pembelajaran dengan cara/tekhnik dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sekelompok murid. Jadi terdapat beberapa guru dalam proses pembelajaran tersebut.

11.Metode Problem Solving adalah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anak-anak untuk menghadapi masalah-masalah dari apa yang paling sederhana sampai kepada masalah-masalah yang sulit.26 Pendapat lain mengatakan bahwa metode problem solving (metode pemecahan masalah) ini yaitu bukan hanya sekedar metode pembelajaran tetapi juga metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.27 Dengan demikian dapat diketahui dengan jelas bahwa metode problem solving ini ialah suatu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan cara memecahkan suatu masalah yang diberikan oleh guru, sehingga siswa dapat mencari jawaban dari masalah tersebut dengan cara berfikir pada masalah tersebut dan dapat menarik kesimpulan dari masalah tersebut. Demikian metode-metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran untuk menunjang guru dalam mengatasi masalah dalam penyampaian materi kepada siswa. Dari beberapa metode di atas seorang

24

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.104

25

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

26

Zuhairini dan Abdul Ghafir,dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Malang;PT.FT IAIN Sunan Ampel, 1983) cet,Ke-8,h.83

27

Asep Herry Hermawan,dkk, Belajar & Pembelajaran Sekolah Dasar (Bandung;UPI Press,2007)Cet,Ke-1, h.104

guru dapat menggunakan dan menvariasikan beberapa metode tersebut, dengan harapan dapat mencapai hasil dari tujuan proses pembelajaran yaitu memberikan pemahaman dan peningkatan dari proses pembelajaran ini.

3. Faktor-faktor penyebab banyaknya metode mengajar

Sesuai dengan kekhususan-kekhususan yang ada pada masing-masing bahan/materi pelajaran, baik sifat maupun tujuan maka diperlukan metode-metode yang berlainan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Dari perbedaan mata pelajaran tersebut, tentunya tidak seluruh metode dapat digunakan dalam satu mata pelajaran, dipilih metode yang sesuai dengan tujuan akhir dari mata pelajaran tersebut sehingga dengan metode yang dipilih dapat memudahkan dalam pengajaran, bukan malah menyulitkan dalam pengajaran satu mata pelajaran.

Faktor-faktor penyebab bermacam ragamnya metode mengajar, yaitu :

1. Tujuan yang berbeda dari masing-masing mata pelajaran sesuai dengan jenis, sifat maupun isi mata pelajaran masing-masing..

2. Perbedaan latar belakang individual anak, baik latar belakangkehidupan, tingkat usianya maupun tingkat kemampuan berfikirnya.

3. Perbedaan situasi dan kondisi di mana pendidikan berlangsung; dengan pengertian bahwa disamping perbedaan jenis lembaga pendidikan (sekolah) masing-masing, juga letak geografis dan perbedaan sosial kultural ikut menentukan metode yang dipakai guru.

4. Perbedaan pribadi dan kemampuan dari pada pendidik masing-masing.

5. Karena adanya sarana/fasilitas yang berbeda baik dari segi kualitas maupun segi kuantitasnya.

Demikianlah yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya berbagai macam ragamnya dari metode mengajar dalam proses pembelajaran, yang bertujuan untuk tercapainya tujuan dari pembelajaran dan memudahkan menyampaikan bahan materi ajar dengan baik dan efektif melalui metode yang sesuai dengan masing-masing mata pelajaran.

4. Metode Diskusi dan manfaatnya

Pengertian Diskusi ditinjau dari segi bahasa dan istilah meliputi, diskusi berasal dari bahasa latin, yaitu “discussus” yang berarti “to examine”, “investigate” (memeriksa, menyelidiki). “Discuture” berasal dari akar kata “dis” dan “cuture”. Dis artinya terpisah dan Cuture artinya menggoncang atau memukul.

Secara etimologi, “discuture” berarti suatu menjadi jelas dengan cara memecahkan atau menguraikannya. (to clear away by breaking up or cuturing). Diskusi secara umum, adalah suatu proses yang melibatkan dua individu atau lebih, berintegrasi secara verbal dan saling berhadapan, saling tukar informasi (information sharing), saling mempertahankan pendapat (self maintenance) dalam memecahkan suatu masalah tertentu (problem solving).28

Metode Diskusi menurut Drs.M.Basyiruddin Usman M.Pd, adalah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan objektif.29 Sedangkan metode diskusi dalam proses belajar mengajar adalah sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan atau menyampaikan materi dengan jalan mendiskusikannya, dengan tujuan dapat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku pada siswa.30 Sedangkan kelompok berarti bersama-sama dalam satu kelompok kurang lebih dari tiga orang atau lebih yang saling berinteraksi dan bertukar ide, informasi sehingga satu sama lain memberi respon/tanggapan dan jawaban dari jawaban antara satu dengan lainnya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Metode Diskusi Kelompok ialah suatu cara atau metode dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu dengan mempelajari bahan materi pengajaran dan mendiskusikannya secara berkelompok, bertukar ide, argumentasi dan referensi dalam upaya untuk mencari solusi atau jawaban dari permasalahan yang terdapat pada satu mata pelajaran sehingga dapat mencapai hasil dari tujuan pembelajaran secara aktif dan efektif.

28

Ramayulis, op.Cit, h.145

29

M.Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta; Ciputat Press, 2002), Cet.ke-1,h.36

30

Zuhairini, et.al, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya; Usaha Nasional, 1983), Cet.Ke-8, h.89

Menurut Basyiruddin Usman ada beberapa jenis diskusi yang dapat dilakukan oleh guru dalam membimbing belajar siswa, terutama belajar dalam berkelompok antara lain :

a. Whole group

b. Diskusi kecil/diskusi kelompok c. Buzz group d. Panel e. Syndicate group f. Symposium g. Informal Debate h. Fish bowl

i. The open discussion group j. Brain Storming31

Jenis-jenis diskusi ini dapat dilakukan dalam proses pembelajaran secara berkelompok. Dari macam-macam disksui di atas dapat dijelaskan secara terperinci, yaitu :

1) Whole group merupakan bentuk diskusi kelas dmana para peserta duduk setengah lingkaran. Dalam diskusi ini guru bertindak sebagai pemimpin, dan topik yang akan dibahas telah direncanakan sebelumnya.

2) Diskusi kecil/diskusi kelompok

Dalam diskusi kelompok biasanya dapat berupa diskusi kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang peserta, dan juga diskusi kelompok besar yang terdiri dari 7-15 orang anggota. Dalam diskusi tersebut dibahas tentang suatu topik tertentu dan dipimpin oleh seorang ketua dan seorang sekretaris. Para anggota diskusi diberikan kesempatan berbicara atau mengemukakan pendapat dalam pemecahan masalah.

3) Buzz group

Bentuk diskusi ini terdiri dari kelas yang dibagi-bagi menjadi kelompok. Kelompok kecil yang terdiri 3-4 orang peserta. Tempat duduk diatur sedemikian rupa agara para siswa dapat bertukar pikiran dan bertatapmuka dengan mudah. Diskusi ini biasanya diadakan di tengah-tengah pelajaran atau di akhir pelajaran dengan maksud untuk memperjelas dan mempertajam kerangka bahan pelajaran atau sebagai jawaban terhadap pertanyaan-

31

Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Ciputat Press; Cet I Juni 2002 Jakarta) h.42-43

pertanyaan yang muncul. 4) Panel

Yang dimaksud [anel disini adalah suatu bentuk diskusi yang terdiri dari 3-6 orang peserta untuk mendiskusikan suatu topic tertentu dan duduk dalam bentuk semi melingkar. Yang dipimpin oleh seorang moderator. Panel ini secara fisik dapat berhadapan langsung dengan audien atau dapat

juga secara tidak langsung. Sebagai contoh diskusi panel yang terdiri dari para ahli yang membahas suatu topik di muka televisi. Biasanya dalam

diskusi panel ini para audien tidak turut bicara. Namub dalam forum tertentu para audien diperkenankan untuk memebrikan tanggapannya.

5) Syndicate group

Dalam bentuk diskusi ini kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 peserta, masing-masing kelompok mengerjakan tugas- tugas tertntu atau tugas yang bersifat komplementer. Guru menjelaskan garis besar permaslahan, menggambarkan asapek-aspeknya, dan kemudian tiap kelompok diberi tuags untuk mempelajari aspek-aspek tertentu. Guru diharapkan dapat menyediakan sumber-sumber informasi atau referensi yang dijadikan rujukan oleh para peserta.

6) Symposium

Dalam symposium biasanya terdiri dari pembawa makalah, penyanggah, moderator, dan notulis, serta beberapa peserta simpusium. Pembawa makalah diberi kesempatan untuk menyampaikan makalahnya di muka peserta secara singkat (antara 10-15 menit) selanjutnya diikuti oleh penyanggah dan tanggapan para audien. Bahasan diskusi kemudian disimpulkan dalam bentuk rumusan hasil symposium.

7) Informal Debate

Biasanya bentuk diskusi ini dibagi menjadi dua tim yang agak seimbang besarnya dan mendiskusikan subjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa memperhatikan peraturan perdebatan formal.

8) Fish bowl

ketua untuk mencari suatu keputusan. Tempat duduk diatur setengah melingkar dengan dua atau tiga kursi yang kosong menghadap peserta diskusi kelompok pandangan duduk mengelilingi jkelompok diskusi yang seolah-olah melihat ikan yang berada dalam sebuah mangkok.

Selama diskusi kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pendapatnya dapat duduk di kursi yang kosong yang telah disediakan.

Apabila ketua diskusi mempersilahkannya bicara, maka dia boleh bicara, dan kemudian meninggalkan kursi tersebut setelah selesai bicara.

9) The open discussion group

Kegiatan dalam bentuk ini akan dapat mendorong siswa agar lebih tertaik untuk berdiskusi dan belajar keterampilan dasar dalam mengemukakan pendapat, mendengarkan dengan baik, dan memperhatikan suatu pokok pembicaraan dengan tekun. Jumlah anggota kelompok yang baik terdiri antara 3-9 orang peserta. Dengan diskusi ini dapat membantu para siswa belajar mengemukakan pendapat secara jelas, memecahkan masalah,

memahami apa yan dikemukakan oelh orang lain dan dapat menilai kembali pendapatnya.

10)Brain Storming

Bentuk diskusi ini akan menjadi baik bila jumlah anggotanya terdiri dari 8-12 orang peserta. Setiap anggota kelompok diharapkan dapat

menyumbangkan ide dalam pemecahan masalah. Hasil bahasan yang diinginkan adalah menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan rasa percaya diri dalam upaya mengembangkan ide-ide yang ditemukan atau dianggap benar.

Demikianlah beberapa jenis atau model diskusi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di dalam kelas. Dengan memilih diantara satau model tersebut akan terwujud diskusi dalam kelompok kecil dalam proses pembelajaran yang baik dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Tentunya model-model di atas dapat dilakukan hanya di dalam kelas maupun dalam kelompok yang lebih kecil

sehingga diskui ini dapat berpengaruh dalam peningkatan prestasi belajar siswa/siswi.

Adapun penggunaan diskusi yang tertera di atas paling sederhana dalam pelaksanaanya dan sesuai dengan tingkatan pembelajaran dalam diskudi maka yang paling tepat digunakan yaitu diskusi informal (Informl Debate) dan diskusi kelompok kecil.

Diskusi kelompok kecil inilah yang dipakai peneliti dalam penelitian ini guna memberikan pengaruh pada pengingkatan prestasi belajar siswa/siswi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Pertama : Pemilihan topik yang akan didiskusikan dapat dilakukan oelh guru dengan siswa atau oleh siswa itu sendiri.

Kedua : Dibentuk kelompok-kelompok diskusi yang terdiri dari 4-6 anggota setiap kelompok dan dipimpin oleh seorang ketua dan seorang notulis.

Pembentukan kelompok dapat dilakukan secara acak atau memperhatikan minat dan latar belakang siswa.

Ketiga : Dalam pelaksanaan diskusi. Para siswa melakukan diskusi dalam kelompok masing-masing, sedangkan guru memperhatikan dan memberikan petunujuk bilamana diperlukan.

Keempat : Laporan kecil hasil diskusi, hasil diskusi dilaporkan secara tertulis oleh masing-msing kelompok kemudian diadakan suatu forum panel diskusi

Dokumen terkait