• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENAMBANGAN BATU GAMPING

DAFTAR LAMPIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Metode Estimasi Penilaian Lingkungan dengan Contingent Valuation

Method (CVM)

Barang dan jasa lingkungan tergolong kedalam barang non market value.

Terdapat berbagai metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai dari suatu barang dan jasa lingkungan. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi nilai dari barang dan jasa lingkungan adalah dengan Contingent Valuation Method (CVM).

Metode yang dibangun oleh Davis pada tahun 1963 ini merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan semua komoditas yang tidak diperjualbelikan di pasar dapat diestimasi nilai ekonominya, termasuk nilai ekonomi dari barang lingkungan. Metode CVM menggunakan pendekatan secara langsung dengan menanyakan kepada masyarakat atas kesediaan untuk membayar (WTP) akibat manfaat tambahan yang diperoleh dari perubahan lingkungan dan atau seberapa besar kesediaan masyarakat untuk menerima (WTA) kompensasi akibat penurunan kualitas barang lingkungan (Hanley dan Spash, 1993).

Contingent Valuation Method memiliki tujuan untuk menghitung nilai atau penawaran yang mendekati, jika pasar dari barang-barang lingkungan tersebut benar-benar ada. Asumsi dasar yang belaku di CVM adalah bahwa individu- individu memahami benar pilihan masing-masing dan cukup mengenal kondisi lingkungan yang dinilai. Oleh karena itu, pasar hipotetik (kuisioner dan responden) harus mendekati kondisi pasar sebenarnya. Responden harus mengenal secara baik barang yang ditanyakan dan alat hipotetik yang digunakan untuk pembayaran, seperti pajak dan biaya masuk secara langsung.

Tahapan-tahapan untuk mengetahui nilai WTA (Hanley dan Spash, 1993), adalah :

1. Membuat Pasar Hipotetik (Setting Up the Hypothectical Market)

2. Mendapatkan Penawaran Besarnya Nilai WTA/WTP (Obtaining Bids)

3. Memperkirakan Nilai Rata-Rata WTP dan/atau Nilai Tengah WTA

(Calculating Average WTP and/or Mean WTA)

4. Memperkirakan Kurva Penawaran (Estimating Bid Curve)

5. Menjumlahkan Data (Agregating Data)

6. Mengevaluasi Penggunaan CVM (Evaluating the CVM Exercise)

2.6 Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian mengenai Kesediaan Menerima Dana Kompensasi atau

Willingness to Accept Masyarakat Akibat Eksternalitas Negatif Aktivitas Penambangan Batuan Gamping masih sulit ditemukan. Salah satu peneliti yang mengkaji tentang kesediaan menerima dana kompensasi yaitu Adhitya Ramadhan dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor. Ramadhan (2009) melakukan penelitian dengan judul ”Analisis Kesediaan Menerima Dana Kompensasi Di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cipayung Kota Depok Jawa Barat”. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengkaji persepsi masyarakat tentang keberadaan TPAS Cipayung dan mengkuantifikasi besarnya nilai dana kompensasi (WTA) yang bersedia diterima dengan turut serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tersebut. Hasil yang ditunjukkan oleh penelitian tersebut bahwa masyarakat sekitar TPAS menilai terjadi penurunan kualitas lingkungan dibandingkan sebelum berdirinya TPAS yang ditunjukkan dengan kondisi pemukiman, kondisi air, kondisi udara

dan kondisi sampah yang buruk. Sebagian besar masyarakat bersedia menerima dana kompensasi dengan nilai rata-rata WTA sebesar Rp.54.300,00/bulan/KK yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan paling signifikan.

Penelitian yang dilakukan oleh Triani (2009) tentang WTA masyarakat terhadap pembayaran jasa lingkungan DAS Cidanau dengan pendekatan CVM. Pada studi ini diberlakukan kompensasi kepada masyarakat oleh perusahaan sejak tahun 2005. Mekanisme pembayaran dilakukan dengan melibatkan Forum Komunikasi DAS Cidanau, desa-desa terkait dan perusahaan yang memanfaatkan jasa lingkungan. Responden menilai kualitas lingkungan semakin baik setelah adanya upaya konservasi, namun penetapan nilai pembayaran dinilai buruk oleh sebagian besar responden. Mayoritas responden bersedia menerima nilai pembayaran sesuai dengan skenario yang ditawarkan, dan nilai dugaan rataan WTA responden adalah Rp 5.056,98 /pohon/tahun. Nilai tersebut dipengaruhi oleh faktor pendapatan dan kepuasan terhadap nilai pembayaran jasa lingkungan selama ini yang paling dominan.

Anwar (2008) melakukan penelitian dengan judul Nilai Ekonomi Akibat Kerusakan Jalan Berdasarkan Pendekatan Willingness to Pay dan Willingness to Accept di Jalan Lintas Timur Sumatera. Lokasi penelitian tersebut mencakup enam provinsi yaitu Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Sumatera Utara dan NAD dengan pendekatan utama yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif. Metode yang digunakan adalah CVM untuk mengukur seberapa besar keinginan membayar dan keinginan dibayar dari masyarakat. WTA dan WTP masyarakat sekitar wilayah Jalintim Sumatera berkisar antara Rp 2.222,67 – Rp 2.735,93 per hari per responden. Terdapat lima faktor yang menyebabkan

besarnya nilai keinginan membayar dan dibayar akibat perubahan lingkungan yaitu berupa keterlambatan, kondisi sakit, kecelakaan, kebisingan, dan kejengkelan. Total nilai ekonomi dari kerusakan jalan berdasarkan penilaian masyarakat wilayah Jalintim Sumatera untuk suatu kondisi akibat dari perubahan berkisar antara Rp 1,488 Triliun sampai Rp 3,863 Triliun dengan rataan total nilai ekonomi sebesar Rp 1,879 Triliun

Penelitian yang mengkaji tentang kesediaan menerima dana kompensasi kepada masyarakat akibat dampak suatu kegiatan relatif banyak dilakukan. Terdapat beberapa kesamaan di penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terutama metode untuk penentuan dana kompensasi yaitu Contigent Valuation Metode (CVM) namun terdapat juga beberapa perbedaan. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian lain adalah dari segi lokasi, tujuan, dan jenis kegiatan yang melatarbelakangi terjadinya eksternalitas negatif. Jenis kegiatan yang diteliti dalam penelitian ini adalah penambangan batu gamping yang telah beroperasi sejak tahun 1975 dengan kawasan penambangan yang luas. Lokasi pada penelitian ini adalah Desa Lulut Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor yang berdampingan langsung dengan kegiatan penambangan batu gamping sehingga eksternalitas negatif sangat dirasakan.  

             

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Willingness to Accept

Willingness to Accept merupakan salah satu bagian dari metode CVM dan akan digunakan dalam penelitian ini. Tahapan-tahapan metode CVM akan mengarahkan penelitian untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan yaitu WTA dari masyarakat yang terkena eksternalitas negatif akibat penambangan. Tahapan tersebut membuat pelaksanaan menjadi lebih sistematis sehingga diharapkan hasil yang didapat sesuai dengan tujuan utama penelitian dan juga untuk menghindari bias yang terjadi dalam penelitian.

A. Asumsi dalam Pendekatan Willingness to Accept (WTA) Masyarakat Asumsi-asumsi yang diperlukan dalam pelaksanaan pengumpulan nilai

Willingness to Accept (WTA) dari setiap responden adalah :

a. Responden merupakan anggota masyarakat yang terletak di lokasi penelitian dan bersedia menerima dana kompensasi.

b. Nilai WTA yang diberikan konsumen merupakan nilai minimum yang bersedia diterima responden jika kompensasi yang diberikan benar-benar dilaksanakan.

c. Perusahaan penambangan batuan gamping bersedia memberikan kompensasi atas penurunan kualitas lingkungan.

d. Responden dipilih secara acak dari populasi yang terkena dampak penurunan kualitas lingkungan dan merupakan kepala keluarga dari masing-masing rumah tangga.

B. Metode Mempertanyakan Nilai Willingness to Accept (Elicitation

Method)

Metode yang dapat digunakan untuk memperoleh besarnya penawaran nilai WTA/WTP responden (Hanley dan Spash,1993) adalah :

1. Bidding Game (Metode tawar-menawar)

Metode yang digunakan dengan mempertanyakan kepada responden tentang sejumlah nilai tertentu yang diajukan sebagai titik awal dan selanjutnya semakin meningkat sampai titik maksimum yang disepakati.

2. Open-ended Question (Metode pertanyaan terbuka)

Menanyakan langsung kepada responden berapa jumlah maksimum uang yang ingin dibayarkan atau jumlah minimum uang yang ingin diterima akibat perubahan kualitas lingkungan. Metode ini memiliki kelebihan yaitu responden tidak perlu diberi petunjuk yang bisa mempengaruhi nilai awal yang ditawarkan sehingga tidak akan menimbulkan bias titik awal. Kelemahan metode ini terletak pada kurangnya akurasi nilai serta terlalu besar variasinya selain itu seringkali ditemukan responden yang kesulitan menjawab pertanyaan yang diberikan terutama bagi mereka yang tidak memiliki pengalaman mengenai pertanyaan yang ada dalam kuesioner.

3. Closed-ended Question (Metode pertanyaan tertutup)

Metode pertanyaan tidak jauh berbeda dengan Open-ended Question hanya saja bentuk pertanyaannya tertutup. Responden diberikan beberapa nilai WTA/WTP yang disarankan kepada mereka untuk dipilih, sehingga responden tinggal memberi jawaban sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka.

4. Payment Card (Metode kartu pembayaran)

Metode ini menawarkan kepada responden suatu kartu yang terdiri dari berbagai nilai kemampuan untuk membayar atau kesediaan menerima, sehingga responden dapat memilih nilai maksimal/minimal sesuai dengan preferensinya. Metode ini dikembangkan untuk membatasi bias titik awal dari metode tawar-menawar. Mengembangkan kualitas metode ini terkadang diberikan semacam nilai patokan yang menggambarkan nilai yang dikeluarkan oleh seseorang dengan tingkat pendapatan tertentu bagi barang lingkungan yang lain. Keunggulan metode ini adalah memberikan stimulan untuk membantu responden berpikir lebih leluasa tentang nilai maksimum atau minimum yang akan diberikan tanpa harus terintimidasi dengan nilai tertentu, seperti pada metode tawar menawar. Penggunaan metode ini dibutuhkan pengetahuan statistik yang baik.

Selain metode tersebut, terdapat pula metode bertanya Contingent Rangking. Metode ini tidak menanyakan langsung berapa nilai yang ingin dibayarkan atau diterima, tetapi responden diberi pilihan rangking dari kombinasi kualitas lingkungan yang berbeda dengan nilai moneter yang berbeda. Responden diminta mengurut beberapa pilihan dari yang paling disukai sampai kepada yang tidak disukai. Metode ini menggunakan skala ordinal sehingga diperlukan pengetahuan statistik yang sangat baik dan jumlah sampel yang besar.

C. Langkah-langkah untuk Mengetahui Nilai Willingness to Accept Masyarakat

Besarnya nilai WTA masyarakat dapat diketahui dengan menggunakan pendekatan CVM. Pendekatan tersebut memiliki enam tahapan (Hanley and Spash,1993) , yaitu :

1. Membangun Pasar Hipotetis

Pasar hipotetik adalah membangun suatu alasan mengapa masyarakat seharusnya menerima dana kompensasi dari dipergunakannya jasa lingkungan oleh pihak lain dimana terdapat nilai dalam mata uang berapa harga barang/jasa lingkungan tersebut. Pasar hipotetik harus terdapat penjelasan secara mendetail, nyata, dan informatif mengenai barang/jasa lingkungan yang akan dinilai.

2. Memperoleh Nilai Penawaran

Tahapan yang dilakukan setelah membuat instrumen survei adalah administrasi survei. Tahapan ini dapat dilakukan melalui wawancara dengan tatap muka, surat atau perantara telepon mengenai besarnya minimum WTA yang bersedia diterima. Wawancara dengan teknik-teknik tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya bias yang dilakukan oleh petugas pada saat melakukannya.

3. Menghitung Dugaan Nilai Rataan WTA (Estimating Mean WTA)

Nilai WTA telah terkumpul, lalu tahap yang selanjutnya dilakukan adalah perhitungan nilai tengah dan rata-rata dari WTA. Nilai tengah dilakukan apabila terjadi rentang nilai penawaran yang terlalu jauh. Jika perhitungan nilai penawaran menggunakan rata-rata, maka nilai yang diperoleh akan lebih

tinggi dari yang sebenarnya. Nilai tengah penawaran tidak dipengaruhi oleh rentang yang cukup besar dan selalu lebih kecil daripada nilai rata-rata.

4. Menduga Kurva Penawaran

Kurva penawaran dapat diperkirakan dengan menggunakan nilai WTA sebagai variabel dependen dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai sebagai variabel independen. Kurva penawaran berfungsi untuk memperkirakan perubahan nilai WTA karena perubahan sejumlah variabel independen dan untuk menguji sensitivitas jumlah WTA terhadap variasi perubahan mutu lingkungan.

5. Menjumlahkan Data

Penjumlahan data merupakan proses dimana nilai tengah penawaran dikonversikan terhadap total populasi yang dimaksudkan.

6. Mengevaluasi Penggunaan CVM

Evaluasi penggunaaan CVM berfungsi untuk menilai sejauh mana penerapan CVM telah berhasil dilakukan. Penilaian dilakukan dengan cara melihat tingkat keandalan (reability) fungsi WTA dengan nilai R-squares (R2) dari model regresi berganda WTA.

3.1.2 Model Regresi Logistik

Menurut Hosmer dan Lemeshow dalam Merryna (2007) analisis regresi logistik merupakan analisis yang mengkaji hubungan pengaruh-pengaruh peubah penjelas terhadap peubah respon dengan persamaan matematis tertentu. Analisis logistik digunakan untuk menduga besarnya peluang kejadian dari kategorik peubah respon maupun penjelas. Peubah penjelas pada analisis regresi ini dapat berupa peubah kategorik maupun numerik.

Data yang dapat dianalisis dengan regresi logistik adalah data yang relatif umum dan terdiri atas dichotomus classification. Peubah kategori bisa merupakan suatu pilihan ya/tidak atau suka/tidak suka. Analisis pemodelan peluang kejadian tertentu dari kategori peubah respon dilakukan melalui transformasi logit. Persamaan dari transformasi logit tersebut adalah :

Pi merupakan peluang munculnya kejadian kategori dari peubah respon untuk individu ke – i. Loge logaritma dengan basis bilangan ke e. Gambar 2 memperlihatkan proses transformasi logit (Juanda, 2009).

P(i) Logit (Pi)

Transformasi Logit

Predictor (X) Predictor (X)

Gambar 2. Gambaran Transformasi Logit, dengan Peubah X Berskala Interval Model logistik dapat diinterpretasikan sama seperti model OLS yaitu dengan slope dari parameter. Slope diinterpretasikan sebagai perubahan logit (p) akibat perubahan satu unit peubah bebas (X). Keuntungan dalam penggunaan regresi logistik adalah terdapatnya odds ratio. Odd adalah peluang kejadian tidak sukses dari peubah respon. Ratio mengindikasikan seberapa mungkin dalam kaitannya dengan nilai odd munculnya kejadian sukses pada suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok lain.

3.1.3 Model Regresi Linier Berganda

Model regresi yang terdiri lebih dari satu variabel bebas disebut model regresi berganda. Terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat pada regresi berganda. Metode analisis berganda merupakan metode analisis yang didasarkan pada metode Ordinary Least Square (OLS). Sifat-sifat OLS adalah (Gujarati, 2003): (1) penaksiran OLS tidak bias, (2) penaksiran OLS mempunyai varian yang minimum, (3) konsisten, (4) efisien, dan (5) linier. Menurut Gujarati (2003) analisis regresi berganda digunakan untuk membuat model pendugaan terhadap nilai suatu parameter (variabel penjelas yang diamati). Asumsi-asumsi yang dapat digunakan untuk model regresi linier berganda dengan OLS adalah : 1. E (ui) = 0, untuk setiap i, dimana i = 1,2,....,n, artinya rata-rata galat adalah

nol, dengan nilai yang diharapkan bersyarat dari ui tergantung pada variabel bebas tertentu adalah nol.

2. Cov (ui,uj) = 0, i ≠ j. artinya covarian (ui,uj) = 0, dengan kata lain tidak ada autokorelasi antara galat yang satu dengan yang lain.

3. Var (ui) = 2, untuk setiap i, dimana i = 1,2,....,n. Artinya setiap galat memiliki varian yang sama (asumsi homoskedastisitas).

4. Cov (ui, X1i) = cov (ui, X2i) = 0. Artinya kovarian setiap galat memiliki varian yang sama. Setiap variabel bebas tercakup dalam persamaan linier berganda. 5. Tidak ada multikolinearitas, yang berarti tidak terdapat hubungan linier yang

pasti antara variabel yang menjelaskan, atau variabel penjelas harus saling bebas.

Secara umum, fungsi regresi berganda dituliskan sebagai berikut (Juanda, 2009) :

Y = β1 X1i + β2 X2i + β3 X3i + ... + βk Xki +

ε

i ...(1)

Jika semua pengamatan X1i bernilai 1, maka model diatas menjadi

Y = β1 + β2 X2i + β3 X3i + ... + βk Xki +

ε

i...(2)

Keterangan :

Y = Peubah tak bebas

i = Nomor pengamatan dari 1 sampai N (populasi) / n (sample) Xki = Pengamatan ke-i untuk peubah bebas Xk

β1 = Intersep

β2,3,..n = Parameter penduga Xi i = Pengaruh sisa (error term) 3.2 Kerangka Operasional

Penambangan merupakan salah satu bentuk aktivitas pemanfataan terhadap sumberdaya alam. Kegiatan ini menimbulkan eksternalitas baik eksternalitas positif maupun negatif bagi lingkungan maupun masyarakat. Peningkatan pendapatan asli daerah, penyerapan tenaga kerja, pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan usaha mikro disekitar lokasi tambang merupakan bentuk-bentuk eksternalitas positif yang timbul dari aktivitas penambangan. Akan tetapi, eksternalitas negatif dari kegiatan ini juga harus ditanggung oleh masyarakat berupa eksternalitas negatif seperti tertutupnya sumbermata air, pencemaran udara, kebisingan, dan penurunan tingkat kesehatan.

Kerugian yang dialami masyarakat perlu kajian yang mendalam mengenai hal tersebut. Kajian tersebut menyangkut tentang dampak eksternalitas negatif yang dirasakan masyarakat akibat penambangan batu gamping dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Peluang kesediaan menerima dana kompensasi masyarakat akibat eksternalitas negatif dengan analisis regresi logistik. Besarnya dana kompensasi yang bersedia diterima oleh masyarakat

dengan menggunakan perhitungan Willingness To Accept dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi besarnya nilai kompensasi tersebut dengan analisis regresi linier berganda.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan pihak perusahaan dalam penentuan keputusan atau program dari perusahaan dalam penyelesaian eksternalitas negatif dengan kompensasi. Untuk mempermudah pelaksanaan penelitian, dibuat alur pemikiran yang dapat dilihat pada Gambar 3.

Keterangan: = Batasan penelitian = Aliran Gambar 3. Diagram Alur Kerangka Berpikir

Penambangan Batu Gamping

Eksternalitas Negatif Kebisingan dan Getaran Perusahaan Semen Eksternalitas Kerugian Masyarakat Kualitas dan Kuantitas Air Pencemaran Udara Eksternalitas Positif Peningkatan - PAD - Tenaga kerja - SDM - Usaha mikro masyarakat sekitar

Rekomendasi Tentang Kompensasi Atas Eksternalitas Negatif

Penambangan Batu Gamping

Estimasi Nilai Kompensasi Faktor mempengaruhi nilai kompensasi Eksternalitas Negatif yang Timbul Peluang Kesediaan Menerima Kompensasi Analisis Regresi Logistik Perhitungan WTA Analisis Regresi Linier Berganda Analisis Deskriptif

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lulut, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Lulut merupakan desa yang terdekat jaraknya dengan lokasi penambangan batu gamping dan jumlah masyarakatnya yang relatif padat. Pengambilan data primer dilaksanakan dari April hingga Juni 2011.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section.

Data dikumpulkan untuk penelitian ini dalam satu waktu tertentu. Sumber data meliputi data primer dan data sekunder. Data primer data yang dibutuhkan meliputi : karakteristik responden, eksternalitas negatif yang dirasakan responden akibat penambangan batu gamping, mengenai kesediaan atau ketidaksediaan menerima dana kompensasi, seberapa besar nilai yang bersedia mereka terima, dan dilengkapi dengan wawancara yang dilakukan kepada tokoh-tokoh masyarakat, Kepala Desa, Ketua RT/RW, dan para warga yang bekerja untuk penambangan.

Data sekunder meliputi data-data kesehatan warga Desa Lulut, produktivitas semen dan polutan yang dihasilkan, data sosial-demografi penduduk, dan data lainnya yang dibutuhkan. Data sekunder tersebut diperoleh dari Pemerintah Daerah (PEMDA), Dinas Kesehatan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bogor, BAPPEDAL Kabupaten Bogor, Laporan Pelaksanaan

PT. ITP Tbk., perpustakaan, internet, serta berbagai penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini.

4.3 Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode Purposive Sampling. Responden merupakan kepala keluarga sebagai perwakilan dari rumah tangga yang terpilih menjadi sampel. Jumlah responden adalah 70 kepala keluarga (KK) yang bermukim sekitar kawasan penambangan batu gamping.

4.4 Metode dan Prosedur Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan komputer program Microsoft Office Excel 2007 dan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 15 For Windows Evaluation Version. Matriks metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Matriks Metode Analisis Data

N0 Tujuan Penelitian Sumber Data dan Jumlah Sampel

Metode Analisis Data 1 Mengkaji dampak

eksternalitas negatif yang timbul akibat penambangan batu gamping. • Kuesioner • Responden = 70 KK Analisis deskriptif kualitatif 2 Mengkaji peluang

kesediaan menerima dana kompensasi • Kuesioner • Responden = 70 KK Analisis logistik dengan SPSS 15.0 3. Menghitung nilai WTA

masyarakat akibat eksternalitas negatif kegiatan penambangan batuan gamping. • Kuesioner • Responden = 46 KK CVM 4. Mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi besarnya nilai WTA

• Kuesioner • Responden = 46 KK Analisis regresi berganda dengan SPSS 15.0

4.4.1 Analisis Dampak Eksternalitas Negatif Kegiatan Penambangan Batu Gamping

Analisis dampak eksternalitas negatif yang timbul akibat kegiatan penambangan batu gamping bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh/kerugian dan apa saja perubahan yang dirasakan masyarakat atas aktivitas tersebut. Analisis ini meliputi ada atau tidak adanya gangguan atas aktivitas penambangan, pandangan responden terhadap kualitas lingkungan, dan dampak yang timbul akibat penambangan. Dampak eksternalitas negatif ini diidentifikasi dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.

4.4.2 Analisis Peluang Kesediaan Menerima WTA Responden

Analisis terhadap peluang kesediaan menerima WTA responden bertujuan untuk mengetahui nilai observasi dan harapan. Nilai tersebut didapat melalui perhitungan dengan menggunakan metode regresi logistik. Analisis ini meliputi bersedia atau tidak bersedia menerima dana kompensasi akibat eksternalitas negatif kegiatan penambangan batu gamping. Hasil identifikasi ini dapat menduga ketepatan antara nilai harapan dan observasi dari data yang diperoleh.

4.4.3 Analisis Nilai WTA dari Masyarakat Terhadap Aktivitas Penambangan Batu Gamping

Besarnya nilai WTA masyarakat dapat diketahui dengan menggunakan pendekatan CVM. Pendekatan tersebut memiliki enam tahapan (Hanley and Spash,1993) , yaitu :

1. Membangun Pasar Hipotetis

Hipotetis pasar dibuat dengan skenario bahwa perusahaan semen yang melakukan kegiatan penambangan batu gamping akan memberlakukan peraturan baru yaitu pemberian dana kompensasi dengan tujuan mengurangi

kerugian akibat eksternalitas negatif yang timbul. Pertanyaan dalam pasar hipotetis yang akan dibentuk dalam skenario adalah :

“Bersediakah bapak/ibu/saudara/i untuk berpartisipasi dalam kebijakan perusahaan berupa pemberian dana kompensasi akibat dampak negatif yang timbul dari penambangan dan berapa besar dana kompensasi yang bersedia diterima ?”

2. Memperoleh Nilai Penawaran

Alat survei telah dibuat, maka survei dilakukan dengan cara wawancara langsung. Responden ditanya besarnya minimum WTA untuk menerima dampak penurunan kualitas lingkungan, dalam hal ini digunakan cara bidding game.

3. Menghitung Dugaan Nilai Rataan WTA (Estimating Mean WTA)

Perhitungan nilai rata-rata dan median dapat dilakukan setelah nilai WTA diketahui. Dugaan rata-rata dihitung dengan rumus :

dimana :

EWTA = Dugaan rataan WTA xi = Jumlah tiap data n = Jumlah responden

i = Responden ke-i yang bersedia menerima dana kompensasi 4. Menduga Kurva Penawaran

Pendugaan kurva penawaran akan dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut ini :

WTA = f (PNDK, PNDP, UR, LT, JTT, JTK, KU, KBS, KA, KSH, BRH, PNS, WRS, PTN, SWT, SPR)

dimana:

UR = usia responden (tahun) PNDK = tingkat pendidikan (tahun) PNDP = tingkat pendapatan (Rp)

JTK = jumlah tanggungan keluarga (orang) LT = lama tinggal (tahun)

JTT = jarak tempat tinggal (meter) KU = kualitas udara (deskriptif)

KA = kualitas dan kuantitas air (deskriptif) KBS = kualitas kebisingan dan getaran (deskriptif) KSH = biaya kesehatan (Rp)

BRH = dummy jenis pekerjaan buruh (buruh = 1; bukan buruh = 0 )

PNS = dummy jenis pekerjaan pegawai negeri sipil (PNS = 1; bukan PNS = 0) WRS = dummy jenis pekerjaan wiraswasta (wiraswasta= 1;bukan wiraswasta=0) PTN = dummy jenis pekerjaan petani (petani = 1; bukan petani = 0)

SWT = dummy jenis pekerjaan pegawai swasta (swasta = 1; bukan swasta = 0) SPR = dummy jenis pekerjaan supir/ojek (supir = 1; bukan supir = 0)

5. Menjumlahkan Data

Penjumlahan data merupakan proses dimana nilai rata-rata penawaran dikonversikan terhadap populasi yang dimaksud. Nilai total WTA dari masyarakat dapat diketahui setelah menduga nilai tengah WTA. Rumus yang dapat digunakan adalah :

dimana :

TWTA = Total WTA

WTA = WTA individu ke-i

ni = Jumlah sampel ke-i yang bersedia menerima sebesar WTA

i = Responden ke-i yang bersedia menerima dana kompensasi 6. Mengevaluasi Penggunaan CVM