BAB 1 PENDAHULUAN
2.1 Deskrpisi Teori
2.1.5 Metode Evaluasi Kebijakan
Dalam rangka mengevaluasi kebijakan, secara rinci Casley dan Kumar dalam Wibawa (1994:16-17) menunjukkan sebuah metode dengan enam langkah sebagai berikut :
1. Identifikasi masalah. Yaitu membatasi masalah yang akan dipecahkan atau dikelola dan memisahkan dari gejala yang mendukungnya, yaitu dengan merumuskan sebuah hipotesis.
2. Menentukan faktor-faktor yang menjadikan adanya masalah, dengan mengumpulkan data kuantitatif maupun kualitatif yang memperkuat hipotesis.
3. Mengkaji hambatan dalam pembuatan keputusan dengan menganalisis situasi politik dan organisasi yang mempengaruhi pembuatan kebijakan. Berbagai variabel seperti komposisi staf, moral dan kemampuan staf, tekanan politik, kepekaan budaya, kemauan penduduk dan efektivitas manajemen.
4. Mengembangkan solusi-solusi alternatif.
5. Memperkirakan/mempertimbangkan solusi yang paling layak, dengan menentukan kriteria yang jelas dan aplikatif untuk menguji kelebihan dan kekurangan setiap solusi alternatif.
6. Memantau secara terus-menerus umpan balik dari tindakan yang telah dilakukan guna menentukan tindakan selanjutnya.
Menurut Dunn (2000:601) menyatakan bahwa evaluasi memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Pada dasarnya nilai juga dapat dikritik dengan menanyakan secara sistematis kepantasan tujuan dan target dalam hubungan dengan masalah yang dituju. Evaluasi kebijakan adalah proses untuk menilai seberapa jauh suatu
kebijakan membuahkan hasil, yaitu membandingkan antara hasil yang diperoleh dengan tujuan atau target kebijakan yang ditentukan
Selanjutnya Ripley (Wibawa,1994:8-9) mengatakan bahwa kegiatan evaluasi kebijakan merupakan langkah awal untuk meningkatkan proses pembuatan kebijakan berikut hasilnya. Beberapa persoalan yang harus dijawab oleh suatu kegiatan evaluasi adalah :
1. Kelompok dan kepentingan mana yang memiliki akses di dalam pembuatan kebijakan.
2. Apakah proses pembuatannya cukup rinci, terbuka dan memenuhi prosedur.
3. Apakah program didesain secara logis.
4. Apakah sumber daya yang menjadi input program telah cukup memadai untuk mencapai tujuan.
5. Apakah standar implementasi yang baik menurut kebijakan tersebut. 6. Apakah program dilaksanakan sesuai standar efisien dan ekonomi 7. Apakah uang digunakan dengan jujur dan tepat.
8. Apakah kelompok sasaran memperoleh pelayanan dan barang seperti yang didesain dalam program.
9. Apakah program memberikan dampak kepada kelompok nonsasaran. 10.Apa dampaknya, baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan,
terhadap masyarakat.
11.Kapan tindakan program dilakukan dan dampaknya diterima oleh masyarakat.
12.Apakah tindakan dan dampak tersebut sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi kebijakan publik tidak hanya untuk melihat hasil (outcomes) atau dampak (impacts), akan tetapi dapat pula untuk melihat bagaimana proses pelaksanaan suatu kebijakan dilaksanakan. Ada dua macam tipe dalam evaluasi kebijakan, yaitu sebagai berikut :
1. Tipe evaluasi semu (outcomes of public policy implementation) merupakan riset yang mendasarkan diri pada tujuan kebijakan. Ukuran keberhasilan pelaksanaan kebijakan adalah sejauh mana apa yang menjadi tujuan program dapat dicapai.
2. Tipe evaluasi yang mendasarkan proses (Process of public policy implementation), yaitu riset evaluasi yang mendasarkan diri pada petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk jenis (juknis). Ukuran keberhasilan pelaksanaan kebijakan dengan garis petunjuk (guide lines) yang ditetapkan
Dalam melakukan riset evaluasi mempunyai tujuan yang dimana riset evaluasi untuk mengukur dampak dari suatu program yang mengarah pada pencapaian dari serangkaian tujuan yang ditetapkan dan sebagai sarana untuk memberikan kontribusi (rekomendasi) dalam membuat keputusan dan perbaikan program pada masa mendatang. Dari tujuan riset evalusi terdapat unsur-unsur penting dalam evaluasi, yakni :
1. Untuk mengukur dampak (to measure the effects) dengan bertumpu pada metodologi riset yang di gunakan
2. Dampak (effects) tadi menekankan pada suatu hasil (outcomes) dari efesiensi, kejujuran, moral yang melekat pada aturan-aturan atau standar 3. Perbandingan antara dampak (effects) dengan tujuan (goal) menekankan
pada penggunaan kriteria (criteria) yang jelas dalam menilai bagaimana seutu kebijakan telah dilaksanakan dengan baik.
4. Memberikan kontribusi pada perbuatan keputusan selanjutnya dan perbaikan kebijakan pada masa yang mendatang sebagai tujuan sosial (the social purpose) dari evaluasi
Kriteria evaluasi atau indikator evaluasi menurit Dunn seperti dibawah ini :
Tabel. 2.1
Kriteria Evaluasi menurut Dunn
Efektivitas Apakah hasil yang diinginkan telah tercapai
Efesiensi Seberapa banyak usaha yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan
Kecukupan Seberapa jauh hasil yang tercapai dapat memcahkan masalah
Pemerataan Adakah biaya dan manfaat didistribusikan merata kepada kelompok-kelompok yang berbeda
Responsivitas Apakah hasil kebijakan memuat preferensi atau nilai kelompok dan dapat memuaskan mereka
Ketepatan Adakah hasil yang dicapai benar-benar berguna atau bernilai
Dari tabel diatas 2.1 mengenai kriteria evaluasi, dapat dijabarkan lebih jauh, yaitu :
Efektivitas, berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diaadakanya tindakan. Efesiensi, berkenaan dengan julah usaha yang dihasilkan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya yang terkecil disebut efisien.
Kecukupan, berkenaan dengan seberapa jauh tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan yang menimbulkan adanya masalah. Kriteria kecukupan ini berkenaan dengan 4(empat) tipe masalah, yaitu : (1) masalah tipe I, meliputi ongkos tetap dan efektivitas yang berubah. Kebijakan yang paling memadai adalah yang dapat memaksimalkan pencapaian tujuan dengan biaya yang tetap sama, (2) Masalah Tipe II, menyangkut efektivitas yang sama dan biaya yang berubah. Kebijakan yang paling memadai adalah yang dapat meminimalkan biaya dalam mencapai tingkat efektivitas yang tetap. (3) Masalah Tipe III, menyangkut biaya yang berubah dan efektivitas yang berubuah. Kebijakan yang paling memadai adalah yang dapat memaksimalkan rasio efektivitas tetap. Alternatif yang dapat dilakukan ialah dengan tidak melakukan tindakan apapun.
Perataan atau kesamaan, maksudnya adalah sejauhmana suatu kebijakan dapat didistribusikan secara adil baik, akibatnya maupun usaha dari kebijakan
tersebut. Seperti misalanya pelayanan publik biasanya dirancang dengan kriteria kesamaan.
Responsivitas, berkenaan denagn seberapa jauh suatu kebijakan dapat memenuhi kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Dan yang terahir adalah Ketepatan, merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan kepada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan-tujuan tersebut.
Nugroho (2009) memberikan definisi evaluasi kebijakan ialah di tujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakn publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstiteunya. Sejauh mana tujuan di capai. Evaluasi diperlukan untuk melihat kesenjangan antara “harapan” dan “kenyataan”.
(Nugroho, 2009:669)
House membuat taksonomi evaluasi yang cukup berbeda, yang membagi model evaluasi menjadi :
1. Model sistem, dengan indikator utama adalah efisiensi.
2. Model perilaku, dengan indikator untama adalah produktivitas dan akuntabilitas
3. Model formulasi keputusan, dengan indikator utama adalah keefektifan dan keterjagaaan kualitas.
4. Model tujuan bebas (goal free), dengan inidkator utama adalah pilihan pengguna dan manfaat sosial.
5. Model kekrtisan seni (art criticism), dengan indikator utama adalah standar yang semakin baik dan kesadaran yang semakin meningkat.
6. Model review profesional, dengan indikator utama adalah penerimaan profesional.
7. Model kuasi-legal (quasi-legal), dengan indikator utama adalah resolusi. 8. Model studi kasus, dengan indikator utama dalah pemahaman atas
Subarsono memberikan sebuah alasan mengapa evaluasi dalam sebuah kebijakan perlu dilakukan.
1. Untuk mengetahui tingkat efektivitas suatu kebijakan, yakni seberapa jauh suatu kebijakan mencapai tujuanya.
2. Mengetahui apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal. Dengan melihat tingkat efektivitasnya, maka dapat disimpulkan apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal.
3. Memenuhi aspek akuntabilitas publik. Dengan melakukan penilaian kerja suatu kebijakan, maka dapat dipahami sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada publik sebagai pemilik dana dan mengambil manfaat dari kebijakan dan program pemerintah.
4. Menunjukan pada Stakeholder manfaat suatu kebijakan. Apabila tidak dilakukan evaluasi terhadap sebuah kebijakan, para stakeholders, terutama kelompok sasaran tidaak mengetahui secara pasti manfaat dari sebuah kebijakan atau program pemerintah.
5. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pada akhirnya, evaluasi kebijakan bermanfaat memberikan masukan bagi proses pengambilan kebijakan yang akan datang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, dari hasil evaluasi diharapkan dapat ditetapkan kebijakan yang lebih baik (Subarsono, 2012).
Secara terpisah Nurcholis mengatakan bahwa evaluasi kebijakan adalah penilaian secara menyeluruh yang menyangkut Input, Proses, outputs, dan outcames dari kebijakan Pemerintah daerah (Nurcholis, 2007 :274). Evaluasi adalah proses yang mendasarkan diri pada disiplin yang ketat dan tahapan waktu. Menurutnya evaluasi membutuhkan sebuah skema umum penilaian, yaitu :
1) Input, yaitu masukan yang diperlukan untuk pelaksanaan kebijakan
2) Proses, yaitu bagaiman sebuah kebijakan diwujudkan dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat, bagiamana hambatan dan tantangannya
3) Outputs, yaitu hasil dari pelaksanaan kebijakan. Apakah suatu pelaksanaan kebijakan menghasilkan produk sesuai dengan tujuan yang ditetapkan? 4) Outcomes, yaitu apakah suatu pelaksanaan kebijakan berdampak nyata
Skema umum penilaian menurut Nurcholis ini merupakan penilaian secara menyeluruh terhadap suatu kebijakan . penilaian tersebut meliputi masukan awal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kebijakan, proses pelaksanaan kebijakan, hasil kebijakan hingga kesesusaian antara tujuan kebijakan dengan dampaka yang dtimbulkan. Dengan menggunakan teori evaluasi kebijakan ini dapat dibuat penilaian secara menyeluruh terhadapa kebijakan yang akan dievalusi