• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Kerja .1 Alur Penelitian .1 Alur Penelitian

3. MATERI DAN METODE

3.3 Metode Kerja .1 Alur Penelitian .1 Alur Penelitian

Alur yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 2. Alur Penelitian 3.3.2 Persiapan Alat dan Media Penetasan

Sebelum penelitian disiapkan terlebih dahulu akuarium, heater, termometer dan peralatan aerasi. Akuarium dibersihkan dan dibilas sampai bersih dan diisi air. Air yang digunakan untuk penetasan telur adalah air tawar dari air sumber Sawangan. Dua belas buah akuarium untuk perlakuan pH dan diletakkan di dalam ruangan. pH diperoleh dengan cara mencampurkan asam sitrat untuk

Persiapan Alat dan Bahan

Persiapan induk dan adaptasi Akuarium

Seleksi Induk

Pemberian perlakuan (asam sitrat dan KOH) pada masing

masing akuarium

Pemijahan Buatan

Penebaran Telur

Perhitungan Hatching Rate

Pengamatan Embriogenesis pada mikroskop

Perhitungan Survival Rate

Pengamatan Kualitas air

menurunkan pH dan KOH untuk menaikkan pH ke dalam akuarium hingga didapat pH yang diinginkan, kemudian dipasang heater, termometer dan aerasi.

Penyesuaian perlakuan pH pada media dengan dilakukan melarutkan 2 gram asam sitrat dengan 100 ml aquades kemudian di tambahkan pada media sampai penyesuaian pH yang diingikan tercapai. Untuk menaikkan pH sesuai yang diinginkan menambahkan larutan KOH dengan cara mencampurkan 2 gram KOH dengan 100 ml aquades kemudian ditambahkan pada akuarium sedikit demi sedikit, hal ini dilakukan sampai pH yang diinginkan tercapai.

Menurut Purba (2006), menyatakan bahwa asam merupakan zat yang dalam air melepaskan ion H+. Dengan kata lain, pembawa sifat asam adalah ion H+. Asam Arrhenius dapat dirumuskan sebagai HxZ dan dalam air mengalami ionisasi sebagai berikut:

HxZ(aq)x H+(aq) + Zx-(aq)

Basa merupakan senyawa dalam air dapat menghasilkan ion hidroksida (OH-). Basa Arrhenius merupakan hidroksida logam, dapat dirumuskan sebagai M(OH)x, dan dalam air mengion sebgai berikut:

M(OH)x(aq) → Mx+ (aq) + xOH-(aq)

Konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+, yaitu sama dengan negative logaritma konsentrasi ion H+. secara metematika diungkapkan dengan persamaan sebagai berikut:

Jika [H+] = 1 x 10-n, maka pH = n

Jika [H+] = a x 10-n, maka pH = a – log a Sebaliknya jika pH = n, maka [H+] = 10-n pH = - log [H+]

pOH = - log [OH-] pH = pKw – pOH pH = 14 - pOH

Sehingga dapat diasumsikan bahwa suatu larutan KOH pada 100 ml aquades dengan 0,01M diperoleh pH:

[OH-] = 0,01

= 10-2 M pOH = 2

pH = 14 - pOH = 14 – 2 = 12

Jadi, dapat diketahui pH larutan KOH memiliki pH 12, kemudian larutan tersebut di teteskan pada masing masing perlakuan sampai pH yang diinginkan tercapai.

3.3.3 Seleksi Induk

Seleksi induk dilakukan pada sore hari dilakukan penjaringan di kolam induk kemudian setelah diseleksi ditampung terlebih dahuli di kolam penampungan induk. Induk betina ditandai dengan perutnya yang buncit dan lembut, bila diurut telur ynag keluar bentuknya bulat utuh berwarna kecoklatan, tubuhnya agak kusam gerakan lambat. Induk jantan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya agak kemerahan, gerakan licah. Setelah induk diseleksi diletakkan di bak penampungan kemudian dipuasakan selama 24 jam. Bobot induk ikan baung yang sudah dapat dipijahkan berkisar 0,8 kg sampai 1 kg.

Menurut Kordi (2008), menyatakan bahwa calon induk ikan baung pada induk betina dan janta memiliki berat minimial 300 gram, umur induk minimal 1 tahun, kondisi sehat dan tidak cacat. Induk betina saat matang telur perut bagian belakang mengembung dan permukaan kulit sangat lembut, jika perut dipijat mengeluarkan telur berwarna kecoklatan, gerakan lambat, alat genital bulat dan kemerahan. Sedangkan pada induk jantan lubang genital memanjang dan

meruncing kearah caudal dan bagian ujungnya berwarna merah, bentuk badan agak langsing, induk menjadi galak dan lincah.

3.3.4 Pemijahan

Percobaan pemijahan secara buatan telah dilakukan dengan teknik pemberian rangsangan dengan suntik hormon. Induk betina disuntik dengan ovaprim sebanyak 0,6 ml/kg dan jantan dengan ovaprim 0,5 ml/kg. Penyuntikan pada ikan betina dilakukan dua kali dengan selang waktu 6 jam dengan perbandingan 60% dan 40%. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung dan induk ditutup lap basah.

Setelah penyuntikan dilakukan, untuk pengurutan akan dilakukan 6 s/d 8 jam setelah penyuntikan kedua. Langkah pertama adalah menyiapkan sperma : ambil kantong sperma dari induk jantan dengan membedah bagian perutnya, gunting kantong sperma dan keluarkan. Cairan sperma ditampung dalam mangkok dicampur Nafis secukupnya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat, tambahkan larutan pengencer sampai larutan berwarna putih susu agak encer.

Selanjutnya, induk betina yang dikeluarkan telurnya. Pijit bagian perut kearah lubang kelamin sampai telurnya keluar. Telur ditampung dalam mangkok plastik yang bersih dan kering. Masukkan larutan sperma sedikit demi sedikit dan aduk sampai merata. Agar terjadi pembuahan, tambahkan air bersih dan aduklah sampai merata sehingga pembuahan dapat berlangsung dengan baik, untuk mencuci telur dari darah dan kotoran lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian dibuang. Lakukan pembilasan 2 s/d 3 kali agar bersih. Ditebar kedalam hapa yang sudah disediakan waring untuk perlakuan hingga permukaan sampai merata dan digunting sesuai ukuran dan segera dipindahkan ke akuarium perlakuan.

Selanjutnya melakukan pengamatan dibawah mikroskop perbesaran 400x pengamatan dilakukan dengan waktu yang telah ditentukan mengacu pada literatur hingga telur menetas dan menjadi larva. Setelah berumur dua hari, larva

diberi makan kuning telur dan sehari kemudian diberi cacing sutra (Tubifex) yang telah dicincang sampai larva berukuran 2 minggu.

3.3.5 Penetasan Telur dan Perlakuan

Telur ditebar ke dalam akuarium yang telah disiapkan, pada sebelumnya telur yang sudah distripping dan sperma yang sudah disiapkan diaduk dengan bulu ayam. Selama proses penetasan, telur ditebar di dalam akuarium berukuran 40 cm x 60 cm x 40 cmdan dilengkapi dengan sistem aerasi. Telur dimasukkan ke dalam akuarium pada masing – masing perlakuan sebanyak 45 butir. Telur yang telah mati dibuang dengan cara diambil menggunakan pipet tetes.

Menurut Hadit et al.(2014), menyatakan bahwa penetasan ikan baung berkisar 29 jam sampai 32 jam. Pada perkembangan telur diamati dengan menggunakan mikroskop mikroskop mulai dari perkembangan embrio telur ikan hingga menetas. Frekuensi pengamatan yang pertama dilakukan yaitu 15 menit sekali, kemudian 30 menit selama 3 jam setelah selesai pengamatan telur segera dimasukkan ke dalam akuarium. Setelah itu, pengamatan dilakukan 60 menit sekali. Pengamatan semua perlakuan dilakukan secara bersamaan pada waktu yang sudah ditentukan. Waktu perubahan tiap fase perkembangan embrio dicatat dan didokumentasikan. Pengamatan embrio pada telur mengacu pada literatur yang sudah ada sebelumnya. Setiap 30 menit juga dilakukan pengecekan telur dan mengambil telur yang mati pada akuarium agar tidak merusak telur lain yang masih hidup.

3.4 Parameter Uji

Dokumen terkait