4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perkembangan Embrio
4.1.5 Pembelahan Keempat (16 Sel)
Pembelahan ke empat pada pengamatan perkembangan embrio menghasilkan 16 blastomer. Pembelahan ini dihasilkan karena adanya pembelahan secara duplikat pada sel yang sebelumnya (Pattipeilohy, 2013). Pada pengamatan embrio ikan baung pembelahan keempat atau pembentukan 16 sel pada pH 6 selama 2 jam 12 menit, pada pH 7 selama 2 jam 08 menit, pH 8 selama 2 jam 05 menit dan pH 9 selama 2 jam 07 menit. Pembelahan 16 sel dapat dilihat pada Gambar 13.
(a) (b)
Gambar 13. Pembelahan 16 sel (a) Gambar Literatur ( Kimmel et al., 1995) dan (b) Gambar Pengamatan (Perbesaran 400x).
4.1.6 Pembelahan Kelima ( 32 Sel)
Pada pembelahan V, blastomer yang terbentuk sama besar dan ukurannya lebih kecil dari pembelahan IV, blastomer-blastomer yang terbentuk susunannya tidak beraturan lagi dan membentuk seperti bola kecil. Selain itu, ruang perivetilin sudah tidak terlihat lagi (Pattipeilohy, 2013). Pada pengamatan embrio ikan baung pembelahan kelima atau pembentukan 32 sel pada pH 6 selama 2 jam 30 menit, pada pH 7 selama 2 jam 26 menit, pH 8 selama 2 jam 20 menit dan pH 9 selama 2 jam 24 menit. Pembelahan 32 sel dapat dilihat pada Gambar 14.
Ruang Perivitelin
16 Blastomer
Kuning Telur
Korion
(a) (b)
Gambar 14. Pembelahan Kelima (32 sel) (a) Gambar Literatur (Kimmel et al., 1995) dan (b) Gambar Pengamatan (Perbesaran 400x).
4.1.7 Morula
Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah 32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil. Hasil pengamatan menunjukan stadia morula pada telur ikan baung pada pH 6 pembelahan terjadi pada durasi waktu 3 jam 34 menit dan pada pH 7 terjadi pada durasi waktu 3 jam 32 menit, pH 8 pada durasi waktu 3 jam 31 menit, pH 9 3 jam 32 menit. Menurut (Pattipeilohy et al.
(2013), menyatakan bahwa awal terbentuknya stadia morula adalah terbentuknya 32 sel yang merupakan turunan blastomer ke lima. Stadia morula adalah stadia dimana blastomer-blastomer yang terbentuk akan memadat sehingga menjadi blastodisk pada kutub anima yang membentuk dua lapisan sel.
(a) (b)
Gambar 15. Stadia Morula (a) Gambar Literatur (Kimmel et al., 1995) dan (b) Gambar Pengamatan (Perbesaran 400x).
Blastomer Korion
Ruang Perivitelin Ruang Perivitelin 32 Blastomer Kuning Telur Korion
Kuning Telur
4.1.8 Blastula
Proses pembentukan blastula disebut blastulasi dimana kelompok sel-sel anak hasil pembelahan berbentuk benda yang relatif bulat ditengahnya terdapat rongga yang kosong disebut suloblastula (coeloblastula) sedangkan yang berongga massif disebut steroblastula. Hasil pengamatan menunjukan stadia Blastula pada telur ikan baung pada pH 6 pembelahan terjadi pada durasi waktu 5 jam 59 menit dan pada pH 7 terjadi pada durasi waktu 5 jam 55 menit, pH 8 pada durasi waktu 5 jam 43 menit, pH 9 selama 5 jam 48 menit. Telur selanjutnya akan mengalami blastulasi, blastulasi ialah proses perkembangan embrio yang menghasilkan pembentukan blastula (Yulianti et al, 2013).
(a) (b)
Gambar 16. Stadia Blastula (a) Gambar Literatur (Kimmel et al.,1995) dan (b) Gambar Pengamatan (Perbesaran 400x).
4.1.9 Gastrula
Proses awal terbentuk stadia gastrula dimana kutub anima terbentuknya blastodisk akan berusaha membungkus kutub vegetatif dengan bergerak dan melakukan invaginasi, sebagai proses gastrulasi. Pada fase ini terjadi penebalan pada satu sisi pada bidang lateral ekuator kuning telur yang membentuk germ ring (cincin germinal). Pada penelitian ini fase perisai embrio setelah pembuahan pada pH 6 berlangsung pada 9 jam 3 menit, pada pH 7 selama 8 jam 59 menit, pada pH 8 selama 8 jam 52 menit, pada pH 9 selama 9 jam 00 menit.
Korion
Perivitelin Kuning telur
Blastomer Periblast
Menurut Cindelaras et al. (2015), menyatakan bahwa setelah fase blastula berakhir, dilanjutkan dengan fase gastrula dimana blastomer menunjukan gerakan invaginasi dan membentuk rongga yang dinamakan gastrocoel. Blastomer kemudian menutupi 50% dari kuning telur yang menunjukkan berlangsungnya perisai embrio (embryo shield). Setelah fase ini berakhir kemudian dilanjutkan dengan fase pembentukan organ.
(a) (b)
Gambar 17. Stadia Gastrula (a) Gambar Literatur (Kimmel et al .,1995) dan Gambar Pengamatan (Perbesaran 400x).
4.1.10 Organogenesis
Setelah pembentukan perisai, maka pada saat delapan jam empat puluh sembilan menit setelah pembuahan, terjadi organogenesis. Organogenesis dengan terbentuknya bagian-bagian seperti notokorda dari embrio yang memanjang disisi kuning telur, bagian kepala terletak di kutub anima, bagian ekor di bagian kutub vegetatif dan somit yang belum jelas, sehingga bentuk tubuh embrio melengkung hampir di seluruh kuning telur dan semua ini masih transparan. Pada pnelitian ini diketahui bahwa ikan baung mulai terbentuk organ dimulai pada pH 6 selama 19 jam 20 menit, pada pH 7 selama 19 jam 15 menit, pada pH 8 selama 19 jam 0 menit, pada pH 9 selama 19 jam 7 menit .
Menurut Iswanto dan Tahapari (2011), menyatakan bahwa sebelumnya pada tahap gastrulasi, ditandai dengan terjadinya proses perluasan dan penutupan kuning telur oleh blastoderm ke arah blastopora (blastopore closure, Bakal kepala
Gastrosol Korion
Kuning Telur Bakal ekor
epiboly) hingga seluruh bagian kuning telur telah tertutupi oleh blastoderm.
Kemudia dilanjutkan pada tahap organogenesis. Dimana pada tahap organogenesis diawali dengan terbentuknya bakal kepala dan ekor pembentukan kepala, ekor, ruas - ruas tulang belakang, bakal mata, otolith, jantung, dan organ-organ lainnya sudah mulai terlihat serta pigmentasi kantung kuning telur dan penetasan larva.
(a) (b)
Gambar 18. Stadia Organogenesis (a) Gambar Literatur (Kimmel et al., 1995) dan (b) Gambar Pengamatan (Perbesaran 400x).
4.1.11 Menetas
Pada penelitian ini diketahui hasil waktu penetasan pada masing masing perlakuan pH, penetasan ikan baung pada pH 6 mulai menetas selama 31 jam 22 menit, pada pH 7 selama 30 jam 44 menit, pada pH 8 selama 29 jam 47 menit, pada pH 9 selama 30 jam 38 menit. Masing – masing larva tetap dipelihara dalam akuarium, stelah kuning telur larva habis larva ikan baung diberikan makanan tambahan berupa kuning telur dan selanjutnya diberikan cacing sutera yang telah dicacah terlebih dahulu. Menurut Kordi (2008), menyatakan bahwa penetasan ikan baung yang dilakukan di corong penetasan yang telah mengalami perkembangan hingga menetas menjadi larva membutuhkan waktu antara 30 – 36 jam setelah ovulasi. Setelah menetas, larva tersebut tetap dipelihara di dalam corong penetasan selama 2 – 3 hari sampai kuning telurnya habis.
Kepala Notokorda
Ruang perivitelin
Korion Ekor
Untuk memenuhi kebutuhan energinya pasca-penetasan, larva ikan menggunakan kuning telur (yolk egg) atau bisa disebut masa endogenous feeding.
Masa ini berakhir saat kuning telur habis dan digantikan dengan exogenous feeding dimana larva harus bisa menerima pakan dari luar untuk bertahan hidup.
Masa peralihan dari endogenous menjadi endogenous merupakan fase yang sangat kritis bagi larva. Oleh karena itu informasi mengenai waktu terserapnya kuning telur sangat diperlukan agar larva tidak mengalami kematian akibat terlambat dalam pemberian pakan (Cindelaras et al., 2015). Pada larva ikan baung yang telah menetas dapat dilihat pada gambar 19.
(a) (b)
Gambar 19. Larva Ikan Baung (a) Gambar Literatur (Kimmel et al., 1995) dan (b) Gambar Pengamatan Larva Ikan Baung (Perbesaran 400x).