BAB II MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH
D. Metode-Metode Ijtihad Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah
Muhammadiyah
a. Sumber-sumber Ajaran Agama
Manhaj (metodologi) tarjih juga mengandung pengertian sumber-sumber pengambilan diktum ajaran agama. Sumber pokok ajaran agama islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah yang ditegaskan dalam sejumlah dokumen resmi Muhammadiyah, yaitu antara lain:
1. Pasal 4 ayat (1) Anggran Dasar Muhammadiyah yang telah dikutip diatas yang menyatakan bahwa “Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Dakwah ‘Amar Ma'ruf Nahi> Munkar dan Tajdid, bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.
2. Putusan Tarjih di Jakarta Tahun 2000 Bab II ankgka 1 menegaskan, “Sumber ajaran islam adalah Qur’an dan as-Sunnah al-Maqbulah.“22 Putusan Tarjih ini merupakan penegasan kembali apa yang sudah ditegaskan dalam putusan-putusan terdahulu.23
َ تلاَ ي فَ ل ص لأا
َ ش
َ ر
ََ ي
َ ع
ََ ا
َ ل
َ س
َ ل
َ م
َ ي
َ
َ ع
َ ل
َ اَ ى
َ ل
َ ط
َ ل
َ َِ
َ
َ ه
َ و
ََ ا
َ قل
َ ر
َ نآ
ََ ا
َ كل
َ ر
َ ي
َ مَ
َ و
َ ا
َ حل
َ د
َ ي
َ ث
َ
َ شلا
َ ر
َ ي
َ ف
َ
21 Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. “Misi,” Diakses 28 Oktober, 2017, http://tarjih .muhammadiyah.or.id/content-6-sdet-misi.html
22 Keputusan Musyawarah Nasional XXV Tarjih Muhammadiyah di Jakarta Tahun 2000, (Yogyakarta: Sekretariat Majelis Tarjih dan Tajdid, 2012). 6
"Dasar mutlak dalam penetapan hukum islam adalah al-Qur'an dan al-Hadis asy-Syarif."24
Mengenai hadis (sunnah) yang dapat menjadi hujah adalah sunnah makbulah seperti ditegaskan dalam Putusan Tarjih Jakarta tahun 2000 yang dikutip diatas. Istilah sunnah makbulah merupakan perbaikan terhadap rumusan lama dalam Himpunan Putusan Tarjih tentang definisi agama islam yang menggunakan ungkapan “sunnah sahihah.” Istilah sunnah sahihah sering menimbulkan salah paham dengan mengindetikkannya dengan hadis sahih. Akibatnya hadis hasan tidak diterima sebagai hujah syari’ah, padahal sudah menjadi ijmak seluruh umat islam bahwa hadis hasan juga menjadi hujah agama. Oleh karena itu, untuk menghindari salah paham tersebut, rumusan itu diperbaiki sesuai dengan maksud sebenarnya dari rumusan yang bersangkutan, yaitu bahwa yang dimaksud sunnah sahihah adalah sunnah yang bisa menjadi hujah, yaitu hadis sahih dan hadis hasan.25
Karenanya dalam rumusan baru dikatakan “sunnah makbulah”, yang berarti sunnah yang dapat diterima sebagai hujjah agama, baik berupa hadis sahih maupun hadis hasan.
Hadis daif tidak dapat dijadikan hujah syari’ah. Namun ada suatu pengecualian dimana hadis daif bisa juga menjadi hujjah, yaitu apabila hadis tersebut :
1. Banyak jalur periwayatannya sehingga satu sama lain saling menguatkan.
2. Ada indikasi berasal dari Nabi Muhammad saw. 3. Tidak bertentangan dengan al-Qur’an.
24 Himpunan Putusan Tarjih, cet. Ke-3 (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah,t.t.), 278.
4. Tidak bertentangan dengan hadis yang lain yang sudah dinyatakan sahih.
5. Kedhaifannya bukan karena perawi hadis bersangkutan tertuduh dusta dan pemalsu hadis.
Dalam Putusan Tarjih ditegaskan :
َ لأا
َ ح
َ دا
َ ي
َ ث
َ
َ ضلا
َ ع
َ يَ ف
َ ة
ََ ي
َ ع
َ ض
َ د
ََ ب
َ ع
َ ض
َ ه
َا
َ لَاًض ع ب
ََ ي
َ ح
َ ت
َ ج
ََ ب
َ ه
َ إَا
َ ل
َ
َ م
َ ع
َ
َ ك
َ ث
َ ر
َ ةَ
َ ط
َ ر
َ ق
َ ه
َا
َ و
َ فَ ي
َ ه
َ قَ ا
َ ر
َ ي ن
َ ة
ََ ت
َ د
َ ل
َ
َ ع
َ ل
َ ثَ ى
َ ب
َ و
َ ت
ََ أ
َ ص
َ ل
َ ه
َ وَ ا
َ ل
َ م
ََ ت
َ ع
َ را
َ ض
ََ ا
َ قل
َ ر
َ نآ
َ
َ و
َ لا
َ ح
َ د
َ ي
َ ث
َ
َ صلا
َ ح
َ ي
َ ح
َ
"Hadis-hadis dhaif yang satu sama lain saling menguatkan tidak dapat dijadikan hujjah kecuali apabila banyak jalannya dan padanya terdapat karinah yang menunjukkan keotentikan asalnya serta tidak bertentangan dengan al-Qur'an dan Hadis sahih"
Apa yang dikemukakan di atas adalah sumber-sumber pokok ajaran islam secara umum. Dalam kaitan dengan sistem normatif islam terdapat sumber-sumber yang mendampingi sumber pokok. Sumber-sumber pendamping ini dapat disebut juga Sumber-sumber-Sumber-sumber instrumental. Sumber-sumber ini juga dapat diterima dan diakui dalam praktik ketarjihan, seperti Ijmak, Qiyas, Maslahat Mursalah, Istihsan, Tindakan Preventif (Sadduz-Zari’ah), dan Uruf.
b. Wawasan Toleransi
Toleransi artinya bahwa putusan Tarjih tidak menganggap dirinya saja yang benar, sementara yang lain tidak benar. Dalam “Penerangan tentang Hal Tarjih” yang dikeluarkan tahun 1936, dinyatakan, “Kepoetoesan tardjih moelai dari meroendingkan sampai kepada menetapkan tidak ada sifat perlawanan, jakni menentang ataoe menjatoehkan segala jang tidak dipilih oleh tardjih itoe.”26 Pernyataan ini
26 Boeah Congres 26 (Jogjakarta: Hoefdcomite Congres Moehammadijah, t.t.) 32.
menggambarkan bahwa Tarjih Muhammadiyah tidak menampik pendapat lain apalagi menyatakannya tidak benar. Tarjih Muhammadiyah memandang keputusan-keputusan yang diambilnya adalah suatu capaian maksimal yang mampu diraih saat mengambil keputusan itu. Oleh karena itu, Tarjih Muhammadiyah terbuka terhadap masukan baru dengan argumen yang lebih kuat. Keterbukaan terhadap penemuan baru adalah prinsip berikutnya dalam wawasan ketarjihan Muhammadiyah.
c. Keterbukaan
Keterbukaan artinya segala yang diputuskan oleh Tarjih dapat dikritik dalam rangka melakukan perbaikan, apabila ditemukan dalil dan argumen yang lebih kuat, maka Majelis Tarjih akan membahasnya dan mengoreksi dalil dan argumen yang dinilai kurang kuat. Dalam “Penerangan tentang Hal Tardjih” ditegaskan, “Malah kami berseroe kepada sekalian oelama soepaja soeka membahas poela akan kebenaran poetoesan Madjelis Tardjih itoe dimana kalaoe terdapat kesalahan ataoe koerang tepat dalilnja diharap soepaja diajoekan, sjoekoer kalaoe dapat memberikan dalil jang lebih tepat dan terang, jang nanti akan dipertimbangkan poela, dioelang penjelidikannja, kemoedian kebenarannja akan ditetapkan dan digoenakan. Sebab waktoe mentardjihkan itoe ialah menoeroet sekedar pengertian dan kekoetan kita pada waktoe itoe.”27
d. Tidak Berafiliasi Mazhab
Memahami agama dalam perspektif tarjih dilakukan langsung dari sumber-sumber pokoknya, al-Qur’an dan Sunnah melalui proses ijtihad dengan metode-metode ijtihad yang ada. Ini berarti Muhammadiyah tidak berafilisasi kepada mazhab tertentu. Namun, ini
27 Berita Resmi Muhammadiyah, Edisi Khusus, No. 1/2005 (Rajab 1426 H/September 2005 M), 111.
berarti tidak menafikan berbagai pendapat fuqaha yang ada. Pendapat-pendapat mereka sangat penting dan dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan diktum norma/ajaran yang lebih sesuai dengan semangat dimana kita hidup.
Ada tiga pendekatan yang komprehensif tentang tarjih, yaitu bayani, burhani dan ‘irfani. Dalam keputusan Muktamar tidak pernah ketiga istilah itu disebutkan, tetapi telah dilakukan sejak lama setelah terbentuknya Majelis Tarjih. Pelaksanaan ijtihad memang tidak pernah dibicarakan. Demikian juga manhaj dan cara-cara yang harus ditempuh, juga tidak pernah dibicarakan. Penyebutan kata ijtihad oleh Majelis Tarjih sejak tahun 1955, pada Muktamar Tarjih khusus di Yogyakarta. Dan peyebutan kata itu tertuang pada keputusan penggunaan qiyas.28 A. Metode Ijtihad Bayani
Pendekatan bayani sudah lama digunakan oleh para fuqoha, mutakallimin dan ushuliyyun. Bayani adalah pendekatan untuk memahami dan menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung dalam, atau dikehendaki lafaz.29
Dalam Putusan Tarjih tahun 2000 di Jakarta dijelaskan bahwa pendekatan dalam ijtihad Muhammadiyah menggunakan pendekatan Bayani, Burhani dan Irfani. Pendekatan bayani adalah merespons permasalahan dengan titik-titik tolak utama adalah nas-nas syariah (al-Qur’an dan Sunnah). Hal ini biasanya banyak digunakan dalam memecahkan masalah-masalah yang terkait ibadah mahdah (khusus) karena asas hukum syariah tentang ibadah menegaskan bahwa “Ibadah itu pada asasnya tidak dapat dilaksanakan kecuali yang disyariatkan.”
28َ Asjumuni Abdurrahman, Manhaj Tarjih Muhammadiyah (Metodologi dan
Aplikasi). 3-4
29َ Muhammad Zuhdi, Maja’iyah Syi’ah Imamamiyah (Jakarta: Gradasi Print,2017) h.120
Asas ini menegaskan bahwa suatu ritus ibadah tidak sah dilakukan apabila tidak ada dalil dari nas al-Qur’an dan Sunnah yang mensyariatkannya. Apabila orang mengerjakan suatu bentuk ibadah yang tidak disahkan dalam Sunnah Nabi saw, maka ibadah tersebut tidak sah sesuai sabda Nabi Muhammad saw, “Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk ke dalam agama kami, maka ditolak” dan dalam lafal lain dikatakan, “Barang siapa mengada-adakan dalam agama kami sesuatu yang tidak termasuk ke dalamnya, maka ditolak” [HR.Muslim]. Oleh karena itu, dalam masalah ibadah Mahdah (khusus) pendekatan bayani banyak digunakan.30
Bagi Muhammadiyah, pendekatan bayani tetap sangat diperlukan dalam rangka menjaga komitmen proses ijtihadnya yang juga selalu konsisten kepada teks, yakni al-Qur’an dan Sunnah, meskipun dalam praktiknya tidak harus berlebihan. Untuk ini diperlukan penguasaan kaidah-kaidah ushuliyyah dan kaidah-kaidah fiqhiyyah.31
B. Metode Ijtihad Burhani
Burhani dalam bahasa Arab bermakna argumen yang jelas (al-hujjah al-bayyinah) dan dapat membedakan (al-fashl). Dalam persfektif logika metode burhani adalah pendekatan yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio melalui instrumen logika. Seperti induksi dan deduksi dan lain sebagainya. Pendekatan ini mejadi realitas secara umum yang mencakup realitas alam, realitas sejarah, realitas sosial, realitas budaya. Dalam pendekatan ini teks dan realitas (konteks) berada dalam suatu wilayah yang saling mempengaruhi. Teks tidak berdiri sendiri dan dia
30 Syamsul Anwar, Manhaj Tarjih Muhammadiyah, 26.
31 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah”. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Vol. 7, no. 1 (2012): 54.
selalu terikat dengan konteks yang mengelilingi dan mengadakannya sekaligus darimana teks itu dibaca dan ditafsirkan.32
Jika dibandingkan dengan bayani dan irfani, dimana bayani menjadikan teks, ijmak, dan ijtihad sebagai otoritas dasar dan bertujuan untuk membangun konsepsi tentang alam untuk memperkuat akidah agama, yang dalam hal ini Islam. Sedangkan irfani menjadikan al-kasyf satu-satunya jalan dalam memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu burhani lebih bersandar pada kekuatan natural manusia berupa indera, pengalaman, dan akal dalam mencapai pengetahuan.33
Pendekatan burhani berpola dari nalar burhani, dan nalar burhani bermula dari proses abstraksi yang bersifat ta’aqulli terhadap realitas sehingga muncul konsepsi, sedangkan konsepsi sendiri butuh aktualisasi sebagai upaya untuk bisa dipahami dan dimengerti, sehingga disinilah ditempatkan kata-kata. Atau dengan redaksi lain, kata-kata adalah sebagai alat komunikasi dan sarana berpikir disamping sebagai simbol pernyataan konsepsi.34
Secara struktural, proses yang dimaksud terdiri atas tiga hal. Pertama, proses eksperimentasi, yakni pengamatan terhadap realitas. Kedua, proses abstraksi, yakni terjadinya gambaran atas realitas tersebut dalam pikiran. Ketiga, ekspresi yakni mengungkapkan realitas dengan kata-kata.35
Berkaitan dengan cara ketiga untuk mendapatkan ilmu burhani diatas, pembahasan tentang silogisme demonstratif atau qiyas burhani
32َ Muhammad Zuhdi, Maja’iyah Syi’ah Imamamiyah (Jakarta: Gradasi Print,2017) h.120
33 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah”, 53.
34َ Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
35 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54
menjadi sangat signifikan. Qiyas atau tepatnya qiyas jama’i, yakni mengumpulkan dua preposisi yang disebut premis, kemudian dirumuskan hubungannya dengan bantuan terminus medius atau tengah sehingga diperoleh sebuah konklusi yang meyakinkan, menuju sesuatu yang sangat penting.36
Selain itu, pendekatan burhani atau pendekatan rasional argumentatif melalui dalil-dalil logika, menjadikan teks maupun konteks sebagai sumber kajian. Dalam konteks ini metode ta’lili, yakni pola penafsiran yang bertumpu pada illah yang diyakini berada pada kandungan Ayat atau Hadis yang menjadi tambatan ditetapkannya suatu norma. Artinya, lafz} tidak cukup hanya dipahami berdasarkan arti kebahasaannya, tetapi juga dilihat dalam persfektif sosio-historisnya, analisis pada metode ini dapat dibedakan kepada penalaran qiyasi, istihsani, maupun istihlahi.37
Pendekatan burhani merespons permasalahan dengan banyak menggunakan ilmu pengetahuan umum yang berkembang. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan dinamika kepada pemikiran tarjih (pemikiran keislaman) Muhammadiyah,38 khususnya diluar bidang ibadah mahdah (khusus). Berbagai permasalahan sosial dan kemanusian yang timbul tidak hanya didekati dari sudut nash-nash syari’ah, tetapi juga didekati dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang relevan. Nas-nas baik yang berupa al-Qur’an maupun Sunnah, meskipun banyak yang bersifat universal, namun turun dalam konteks tertentu dan untuk menyapa situasi tertentu. Oleh karena itu, apabila konteks penerapannya di zaman sekarang telah berubah, maka pemahaman terhadapnya perlu
36 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
37َ Afif Fauzi Abbas,“Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
dilakukan kontekstualisasi dengan memanfaatkan temuan berbagai ilmu yang terkait. Tetapi kontekstualisai tidak semata memaksa nas agar mengikuti konteks saja sehingga terjadi pemaksaan nash agar sesuai dengan konteks sehingga nash hanya berfungsi sebagai legitimasi terhadap penafsiran yang kita buat. Konteks memberikan wawasan kepada kita bagaimana memahami nash, tetapi nash juga dalam jangka waktu yang sama menerangi kita dan memberikan petunjuk bagaimana kita menangani konteks, yang semuanya dilakukan dalam bingkai Maqasid asy-Syari’ah sebagai ruang makna.39
C. Metode Ijtihad ‘Irfani
‘Irfani berasal dari kata ‘irfan (Arab) merupakan bentuk dasar dari kata ‘arafa, yang semakna dengan ma’rifah. Dalam bahasa Arab, istilah al-Irfan berbeda dengan kata al-‘ilm. Al-‘Ilm menunjukan pemerolehan obyek pengetahuan melalui transformasi ataupun rasionalitas, sementara ‘irfan atau ma’rifah berhubungan dengan pengalaman atau pengetahuan langsung dengan objek pengetahuan.40
Istilah tersebut digunakan untuk membedakan antara pengetahuan yang diperoleh melalui indera dan akal atau keduanya, dengan pengetahuan yang diperoleh melalui kasyf (ketersingkapan), Ilham,’Iyan, atau Isyraq. Irfan dimengerti sebagai ketersingkapan lewat pengalaman intuitif akibat persatuan antara yang mengetahui dan yang diketahui yang telah dianggap sebagai pengetahuan tertinggi.41
Bagi kalangan ‘irfaniyyin, pengetahuan tentang Tuhan tidak diketahui melalui bukti-bukti empiris rasional, tetapi harus melalui pengalaman langsung. Untuk dapat berhubungan langsung dengan
39 Syamsul Anwar, Manhaj Tarjih Muhammadiyah, 27.
40 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
41 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
Tuhan, seseorang harus melepaskan dirinya dari segala ikatan dengan alam yang menghalanginya.42
Menurut konsep ‘irfani, Tuhan dipahami sebagai realitas yang berbeda alam. Seangkan akal, indera,dan segala yang ada didunia ini merupakan bagian dari alam, sehinggatidak mungkin mengetahui Tuhan dengan sarana-sarana tersebut. Satu-satunya saranayang dapat digunakan untuk mengetahui hakikat Tuhan adalah melalui jiwa (nafs), sebab ia merupakan bagian dari tuhan yang terpancar dari alam keabadian dan terpasung ke alam dunia. Ia akan kembali kepada-Nya, jika sudah bersih dan bebas dari kungkungan alam dunia.43
Jika sumber pokok dari ilmu pengetauan dalam pendekatan bayani adalah teks, maka dalam pendekatan irfani,sumber pokonya adalah experience (pengalaman), yakni pengalaman hidup yang otentik, dan sesungguhnya, yang merupakan pelajaran tak ternilai harganya.44
Pengalaman-pengalaman batin yang amat mendalam, otentik, fitri, dan hampir-hampir tak terkatakan oleh logika dan tak terungkapkan oleh bahasa inilah yang disebut direct experience, dan disebut ilmu hudhuri dalam tradisi ‘isyraqiyyah. Semua pengalaman otentik tersebut dapat dirasakan secara langsung tanpa harus mengatakannya terlebih dahulu lewat pengungkapan “bahasa” atau “logika”.45
Pendekatan‘irfani adalah pendekatan pemahaman yang bertumpu
pada pengalaman batin dan intuisi. Pendekatan pengetahuan ini menekankan hubungan anatara subjek dan objek berdasarkan
42Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhhammadiyah, 54.َ
43 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
44 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
45 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah,. 54.
pengalaman langsung seorang muslim, tidak melalui medium bahasa atau logika rasional, sehingga obyek menyatu dalam diri subjek. Pengetahuan ‘irfani sesungguhnya adalah pengetahuan pencerahan (iluminasi).46
Dalam kaitan ini pengetahuan ‘irfani dapat diperoleh melalui tiga tingkatan. Pertama, tahap membersihkan diri dari ketergantungan pada hhal yang bersifat duniawi. Ini dapat dilakukan dengan tazkiyyah al-nafs (penyucian jiwa). Kedua, melalui pengalaman-pengalaman eksklusif dalam menghampiri dan merasakan pancaran nur Ilahi. Ketiga, ditandai dengan pengetahuan yang seolah-olah tidak terbatas dan tidak terikat ruang dan waktu.47
Meskipun metode ‘irfani sangat subjektif dan batini, namun semua orang dapat merasakan kehadiran-Nya, setiap orang melakukan dengan tingkat kadarnya sendiri-sendiri. Ketika pengalaman masing-masing tersebut diwacanakan maka ia akan menjadi ntersubjektif. Sifat intersubjektif tersebut dapat diformulasikan dalam beberapa tahapan. Pertama, tahapan persiapan diri. Kedua, tahapan pencerahan. Ketiga, tahapan konstruksi (pemaparan secara simbolik), sehingga memberi peluang bagi orang lain untuk mengaksesnya. Implikainya adalah akan lahir pengalaman keagamaan yang berbeda antara satu orang dengan yang lain, berbeda ekspresinya, meskipun substansi dan esensinya tetap sama. Inilah yang memperkaya empati dan simpati terhadap orang lain yang setara secara elegan.48
46 Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54.
47َ Afif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 54-55.
48َAfif Fauzi Abbas, “Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah, 55.
D. Prosedur Metode a. Asumsi Metode
Metode adalah langkah-langkah prosedural dalam pemanfaatan sumber guna menemukan suatu petunjuk agama. Metode tarjih didasarkan kepada dua asumsi pokok, yaitu a). Asumsi integralistik, dan b). Asumsi hirarkis. Asumsi integralistik mempostulasikan teori keabsahan koroboratif tentang norma, yakni suatu asumsi yang memandang adanya koroborasi49 dan saling mendukung di antara berbagai elemen sumber guna melahirkan suatu norma. Suatu norma yang didasarkan kepada suatu elemen sumber tentu sudah absah, hanya saja keabsahan itu bersifat zanni.50 Namun, kekuatan keabsahan tersebut akan meningkat manakala dapat dihadirkan lebih banyak elemn sumber yang saling menguatkan dan saling berkoroborasi untuk mendukung norma yang dimaksud, untuk pada suatu tingkat dalam kasus-kasus tertentu kekuatan keabsahan itu mencapai derajat qat’i.51 Keqat’ian tidak terdapat dalil yang terpisah satu persatu, tetapi terdapat koroborasi sejumlah dalil yang satu sama lain saling menguatkan dan menunjukkan satu pemaknaan yang sama. Sebagiman yang dikatakan asy-Syatibi> “Keseluruhan itu memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh bagian-bagian yang terpisah.”52 Cara pandang integralistik ini mengharuskan proses operasionalisasi sumber dapat dilakukan dengan suatu metodeَ ‘istiqra’ (induktif).
Asumsi hirarkis adalah suatu anggapan bahwa norma itu berjenjang dari norma yang paling bawah hingga norma yang paling atas.
49 Bukti-bukti sejarah yang membenarkan atau memperkuat suatu pernyataan.
50 Dalil yang menunjukan adanya kemungkinan takwil dengan adanya dalil yang selainnya.
51 Suatu dalil yang menunjukan terhadap makna yang dapat dipahami maksudnya serta tidak membutuhkan penakwilan dan tidak memberi petunjuk terhadap makna yang lain.
Apabila jenjang norma itu adalah prinsip-prinsip dasar baik norma teologis maupun norma etik dan yuristik. Norma dasar ini diambil dari nilai-nilai universal islam seperti tauhid, akhlaq karimah, kemashlahatan, keadilan, persamaan, kebebasan, dan persaudaraan yang bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, atau dapat disimpulkan dari kenyataan hidup manusia di bawah sinar sumber-sumber pokok tersebut. Norma dasar ini memayungi norma di bawahnya yang berupa asas-asas yang diambil dari kedua sumber pokok diatas atau di satu sisi merupakan deduksi dari prinsip dasar atau pada sisi lain merupakan abstraksi dari norma konkret. Asas-asas ini merupakan konkretisasi dari nilai-nilai dasar. Lebih jauh asas-asas ini pada gilirannya memayungi norma paling bawah, yakni norma konkret berupa ketentuan-ketentuan syar’i yang bersifat far’i yang langsung mengkualifikasi suatu peristiwa hukum syar’i.
Struktur jenjang norma ini juga bisa dilihat dari bawah ke atas. Apabila dilihat dengan cara ini, maka norma dasar terletak pada bagian paling bawah yang berfungsi melandasi asas-asas. Asas-asas pada gilirannya melandasi konkret yang merupakan norma paling atas yang berdiri di atas jenjang dua lapis norma lainnya yang lebih asasi.
Dengan dua asumsi metode diatas, maka respons terhadap permasalahan sosial atau kemanusiaan tidak selalu dilakukan dengan introduksi norma-norma konkret (dilihat dari segi hukum taklifi seperti halal, haram, wajib) tetapi juga dimana diperlukan, menggali asas-asas agama yang menjadi pedoman bertindak, bahkan juga melihat nilai-nilai dasarnya yang menyemangati aktifitas kehidupan. Penggunaan prosedur seperti ini dalam bertarjih telah banyak dilakukan dalam sejumlah keputusan tarjih seperti keputusan tentang fiqih tata kelola air atau fiqih air.
b. Ragam Metode
Untuk menemukan norma konkret terdapat tiga ragam yang secara tidak langsung dipraktikkan dalam pengambilan keputusan atau fatwa tarjih. Ragam metode yang dimaksud adalah 1). Metode bayani (metode interpretasi), (2). Metode kausasi, baik kausasi berdasarkan kausa efisien maupun berdasarkan kausa finalis (maqasid asy-syariah), dan 3). Metode sinkronisasi dalam hal terjadi taarud.53
Dengan metode bayani (tidak sama dengan istilah bayani dalam pendekatan) adalah suatu metode interprestasi yang ditujukan untuk menjelaskan nash-nash yang sudah ada. Ragam ini digunakan untuk menangani kasus-kasus yang sudah terdapat nash langsung mengenainya, hanya saja nash itu bersifat kabur sehingga perlu diperjelas. Sedangkan ragam kausasi digunakan untuk memecahkan masalah yang tidak terdapat nash langsung mengenainya. Prosesnya dilakukan dengan cara menggali kausa, baik efisien maupun finalis, yang dapat memberikan landasan bagi hukum kasus tersebut. Ragam metode sinkronisasi digunakan untuk menemukan ketentuan hukum bagi kasus-kasus yang untuknya terdapat dalil-dalil yang salimg bertentangan (ta’arud dalil). Mengenai ini telah terdapat Putusan Tarjih yang menyatakan, Jika terjadi ta’arud, diselesaikan dengan urutan cara-cara sebagai berikut:
a. Al-Jam’u wa at-Taufiq yakni sikap menerima semua dalil yang walaupun zahirnya ta’arud. Sedangkan pada dataran pelaksanaan diberi kebebasan untuk memilihnya (takhyir).
b. At-Tarjih yakni memilih dalil yang lebih kuat untuk diamalkan dan meninggalkan dalil yang lemah.
c. An-Naskh yakni mengamalkan dalil yang munculnya lebih akhir.