• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. PA I....................................... 1

4. Metode-metode pembelajaran PAI

Dalam pendidikan Islam mencakup pengajaran umum dan pengajaran agama. Metode pengajaran untuk pengajaran umum mungkin tidak terlalu rumit permasalahannya. Tidak terlalu rumit karena teori- teorinya dapat diambilkan metode-metode dari barat secara umum diantaranya yaitu dengan metode: ceramah, cerita, latihan, tanya jawab, karya wisata, demonstrasi, sosiodrama, bermain peran, diskusi, pemberian tugas, ekspeimen dan proyek. Untuk pengajaran agama, bagian yang menyangkut pembinan psikomotor kognitif juga tidak terlalu rumit segi

perancangan langkah mengajarnya. Misalnya mengajarkan cara

berwudhu/shalat dapat digunakan urutan dalam pengajaran ketrampilan dapat langsung dipraktekkan.

Dalam pengajaran kognitif pun dapat diambilkan metode-metode dari barat walaupun tidak 100% diadaptasi semua, seperti pengetahuan tentang apa itu iman? apa itu shalat? apa itu puasa? dan lainya.

Namun untuk pengajaran agama tentang bagian afektif sangatlah rumit cara pengajarannya. Seperti dalam hal yang menyangkut dengan pembinaan rasa iman (aqidah), rasa beragama pada umumnya.

Dalam al Qur’an dan Hadis dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiw a dan

membangkitkan semangat. Disini penulis mencoba sedikit menguraikan beberapa metode tersebut yang diambilkan dari bukunya Abdurrahman an Nahlawi dan Ahmad Tafsir (2u01) yaitu:

a. Metode Hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi

Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui Tanya jaw ab mengenai suatu topik, dan mengarahkan kepada suatu tujuan. Hiwar mempunyai dampak yang sangat dalam terhadapjiwa pendengar atau pembaca yang mengikuti topik percakapan secara seksama dan penuh perhatian. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

Pertama, permasalahannya disajikan secaa dinamis, kaena kedua pihak langsung terlibat dalam pembicaraannya secara timbal balik, sehingga tidak membosankan. Cara keija metode ini sebenarnya sama dengan diskusi bebas, tetapi ada orang (di sini guru) yang dengan sengaja menggiring pembicaraan kearah tujuan tertentu.

Kedua, pembaca atau pendengar tertarik untuk terus mengikuti terus jalannya percakapan itu dengan maksud dapat mengetahui kesimpulannya.

Ketiga, hiwar itu mungkin membangkitkan berbagai perasaan dan kesan seseorang, yang mungkin melahirkan dampak pedagogis yang membantu tumbuh kukuhnya ide tersebut dalam jiw a pemirsa serta membantu mengarahkan pada tujuan akhir pendidikan.

35

Keempat, topik yang bersangkutan disajikan secara realistis dan manusiawi. Artinya memenuhi akhlak tuntutan Islam, maka cara berdialog, sikap orang yang terlibat, secara otomatis akan mempengaruhi peserta sehingga meninggalkan pengaruh berupa pendidikan akhlak, sikap dalam berbicara, menghargai pendapat orang lain, dan sebagainya.

Dalam metode hiwar ini ada beberapa jenis yang terdapat dalam al Qur’an dan Sunah Nabi Muhammad S.A.W, seperti:

1. Hiwar Khitabi atau Ta 'abudi

Merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dengan hamba-Nya, misalnya Tuhan memanggil hamba-Nya dengan mengatakan, “wahai orang-orang ya n g b e r i m a ndan hamba-Nya menjawab dalam kalbunya dengan mengatakan, “kusambut panggilan Engkau, y a RabbF, dari contoh dialog ini dapat diambil sebuah petunjuk bahwa pengajaran seperti ini dapat digunakan dalam sebuah metode pengajaran. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Aku mendengar Nabi s.a.w bersabda: Allah berfirman:

“Aku membagi salat ke dalam dua bagian, untuk-Ku dan untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku adalah apa yang dimintanya.apabila seorang hamba mengucapkan 'segala pu ji bagi Allah, Rabb semesta alam, maka Allah berfirman, hamba-Ku telah m em uji-K u.'apabila mengucapkan' Yang M aha Pengasih, Maha Penyayang' maka Allah berfirman, ’ hamba-Ku telah memuji-Ku. 'apbila

mengucapkan Yang menguasai hari pembalasan, ' maka Allah berifm an,' hamba-Ku telah mengagungkan A ku.... "(HR Muslim)

Melalui hiwar khitabi ini diharapkan dapat menanamkan hal-hal penting, sebagi berikut:

a. Agar tanggap terhadap persoalan yang diajukan oleh al

Qur’an, merenungkannya, menghadirkan jawaban

sekurang-kurangnya di dalam kalbu b. Menghayati makna kandungan al Q ur’an

c. Mengarahkan tingkah laku dan mengamalkan tuntunan al Qur’an

d. Menanamkan kepada anak dan orang Muslim yang membaca al Q ur’an suatu rasa kemuliaan berimaqn serta kemuliaan mendapat tempat di sisi allah, tatkala allah memanggil meeka dengan ungkapan, “Wahai orang-orang yang beriman...

Dalam hiwar khitabi ini dialog dimulai dari satu pihak, yaitu si pembicara, sedangkan pihak kedua yang menyambutnya

dengan pikiran dan perasannya. Lalu terundang untuk

menyambutnya dengan pikiran dan perasaannya.

2. Hiwar Washfi ialah dialog antara Tuhan dengan malaikat atau dengan makhluk ghaib lainnya. Seperti yang teriihat dalam Q.S as Saffat ayat 20-23:

37

“Dan mereka berkata, "aduhai celaka kita. "Inilah hari pembalasan, inilah hari ya n g kalian dustakan. Kami perintahkan kepada malaikat, "kumpulkan mereka beserta teman-teman mereka dan tunjukkanlah kepada mereka ja la n ke neraka”.

Dalam hiwar washfi menyajikan berbagi gambaran yang hidup tentang kondisi psikis ahli neraka dan surga. Dengan imajinasi dan deskripsi yang rinci, dengan hiwar washfi dapat memperlancar berlangsungnya pendidikan perasaan ketuhanan. 3. Hiwar Qishashi, hiwar ini terdapat dalam al Q ur’an, yang

baik bentuk maupun rangkaian ceritanya sangat jelas, merupakan bagian dari uslub kisah dalam al Q ur’an. Kalaupun di sana terdapat kisah yang keseluruhannya

merupakan dialog langsung, yang sekarang disebur

sandiwara, hiwar ini tidak dimaksudkan sebagai sandiwara. Dengan hiwar ini anak didik yang diajak berdialog diharapkan memihak kepada pihak yang benar dan membenci pihak yang salah.

4. Hiwar Jadal/i bertujuan untuk memantapkan hujjah

(alasan).

Hiwar Jadalli mempunyai implikasi pedagogis, di

a n ta r a n y a :

1. Mendidik orang menegakkan kebenaran dengan menggunakan hujjah yang kuat.

2. Dengan alasan yang kuat, mendidik orang menolak kebatilan karena pikiran itu rendah

3. Mendidik orang menggunakan pikirannya yang sehat

5. Hiwar Nabawi adalah hiwar yang digunakan oleh Nabi dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Beliau menghendaki agar sahabatnya mengajukan pertanyaan.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa metode hiwar

adalah metode pendidikan Islami, terutama efektif (teoritis) untuk menanamkan iman, yaitu pendidikan rasa (afektif)

b. Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi

Kisah Qur’ani bukanlah semata kisah atau semata-mata karya seni yang indah, ia juga suatu cara Tuhan mendidik umat agar beriman kepada-Nya. Tujuan kisah Qur’ani sendiri mempunyai tujuan sebagai berikut:

a. Mengungkapkan kemantapan wahyu dan risalah. Kisah-kisah ini menjadi sebuah bukti kebenaran wahyu dan kebenaran Rasul s.a. w b. Menjelaskan bahwa secara keseluruhan, al din itu datangnya dari

Allah.

c. Kisah-kisah itu bertujuan untuk menguatkan keimanan kaum muslimin, menghibur mereka dari kesedihan atas musibah yang

39

d. Mengingatkan bahwa musuh orang mukmin adalah setan,

menunjukkan permusuhan abadi itu lewat kisah akan tampak lebih hidup dan jelas.

Ditinjau dari dampak pedagogis, kisah Nabawi tidak berbeda dengan kisah Qur’ani di atas. Yang bila ditinjau secara mendalam, ternyata kisah nabawi berisi rincian yang lebih khusus seperti menjelaskan pentingnya keikhlasan dalam beramal, menganjurkan bersedekah dan mensyukuri nikmat Allah. Intinya, kisah Nabawi kebanyakan merupakan rincian yang lebih khusus dari ajaran Islam, c. Metode amslal(perumpamaan) Qur’ani dan Nanawi

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api... ”.44

Cara perumpamaan seperti ini dapat dapat digunakan oleh guru dalam mengajar. Pengungkapannya tentu saja sama dengan metode kisah, yaitu dengan berceramah atau membaca teks. Dari metode amstal ada beberapa kebaikzin di dalamnya diantaranya yaitu:

a) Mempermudah siswa memahami konsep yang abstrak.

44 Depag RI, Qur'an dan Terjemahannya, CV Diponegoro, 2000, hlm.'4

Adakalanya Tuhan mengajari umat dengan membuat perumpamaan, misalnya dalam surat al Baqarah ayat 17:

b) Perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut.

c) Merupakan pendidikan agar bila menggunakan perumpamaan haruslah logis, mudah dipahami. Jangan sampai dengan menggunakan perumpamaan malah pengertiannya kabur atau hilang sama sekali. Perumpamaan haruslah memperjelas konsep, bukan sebaliknya.

d) Amstal Q ur’ani dan Nabawi memberikan motifasi kepada pendengarnya untuk berbuat amal baik dan menjauhi kejahatan. Jelas hal ini dapat amat penting dalam pendidikan Islam.

d. Metode Teladan

Dalam pendidikan murid-murid cenderung meneladani seorang pendidik (guru), dasarnya adalah karena secara psikologis anak memang senang meniru, tidak saja yang baik yang jelekpun ditiru.

Sifat anak didik itu diakui dalam Islam, umat meneladani Nabi Muhammad, Nabi meneladani al Qur’an. Aisyah pernah berkata bahwa akhlak Nabi adalah al Q ur’an.

Sebagai seorang guru haruslah dapat menjadi teladan bagi anak didik tidak hanya pintar berbicara mentransformasikan

pengetahuan namun seorang guru ditutut pula dapat

mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkanya melalui perilaku guru agar tidak dianggap seorang guru yang ”'jarkoni” bisa mengajar

41

tapi tidak dapat melaksanakan apa yang diajarkan, guru yang baik adalah guru yang dapat memberi suritauladan yang baik bagi anak didiknya.

e. Metode Pembiasaan

Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman.

Pembiasaan sendiri dapat diambilakan dari apa-apa yang diamalkan. Inti pembiaaan ialah pengulangan, apabila guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, perbuatan ini telah dapat diartikan sebagai usaha membiasakan. Bila murid masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka guru mengingatkan agar kalau masuk kelas hendaknya mengucapkan salam terlebih dahulu, ini juga salah satu cara membiasakan. Karena pembiasaan berintikan pengulangan, maka metode pembiasaan juga berguna untuk menguatkan hafalan.

f. Metode Ibrah dan Mau’idzah

Ibrah atau I'libur yaitu suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan nalar, yang meneyebabkan hati mengakuinya. Adapun mau'idzah ialah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya.

g. Metode Targhib dan Tarhib

Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah,

tarhib juga demikian. Akan tetapi. Tekanannya adalah larghib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar seseorang menjauhi larangan / kejahatan.

Dokumen terkait