• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Pekerja Sosial

5. Metode Pekerja Sosial

Secara tradisional pekerjaan sosial dikatakan mempunyai

tiga metode pokok. Metode pokok tersebut adalah bimbingan sosial

individu (social case work), bimbingan sosial kelompok (social

group work), dan bimbingan sosial organisasi/masyarakat (community organization/community development). Pekerja sosial

mempunyai dua pendekatan yaitu praktik langsung (direct

practice) dan praktik tidak langung (indirect practice).

Karena dalam praktek langsung, untuk suatu kasus tertentu,

pekerja sosial dituntut untuk tidak hanya berhadapan dengan

14

Fredi Akbar, “Prinsip-prinsipetikpekerjaan social”, ArtikelDiaksesPadaTanggal 02

Maret 2014, dari: http://kesejahteraansosialunpas.wordpress.com/2010/12/05/prinsip-prinsip-etik-pekerjaan-sosial/

kelompok atau bahkan juga dengan masyarakat, maka pekerja sosial harus memiliki pengetahuan dan keterampilan, tidak hanya tentang dinamika individu, kelompok, atau masyarakat saja, tetapi sampai batas-batas tertentu harus memiliki semua pengetahuan dan

keterampilan itu.15

Menurut W.A. Friedlander bimbingan sosial perorangan

atau social case work adalah cara menolong seseorang dengan

konsultasi untuk memperbaiki hubungan sosialnya sehingga memungkinkan tercapainya kehidupan yang memuaskan dan

bermanfaat.16

Menurut Friedlander bimbingan sosial kelompok (social

group work) pekerja sosial kelompok bekerja dengan beberapa cara agar pergaulan didalam kelompok dan kegiatan kerja kelompok dalam membantu perkembangan para individu anggota kelompok dan membantu mencapai tujuan sosial yang dikehendaki. Bimbingan sosial kelompok dilaksanakan untuk menolong individu yang terikat di dalam kelompok, bimbingan tersebut diberikan oleh pekerja sosial dalam mengikuti kegiatan kelompok, tujuan bimbingan kelompok adalah individu yang terikat dengan kelompok dapat bergaul dengan sesama anggota kelompok secara baik, individu dapat mengambil manfaat dari pengalaman

15

Adi Fahrudin, Pengantar Kesejahteraan Sosial, (Bandung: PT Refika Aditama, 2012),h.71.

16

Istiana Hermawati, Metode dan Praktek Dalam Praktik Pekerjaan Sosial, (Jogjakarta: Adi Cipta Karya Nusa, 2001),h.33.

pergaulan sesuai kebutuhan dan kemampuan, individu dapat

mencapai kemajuan pribadi, kelompok dan masyarakat.17

Bimbingan sosial masyarakat (social community

organization) menurut Friedlander bahwa metode bimbingan sosial masyarakat adalah badan-badan sosial yang tidak memberikan bantuan langsung kepada individu dan kelompok sosial, tetapi dibentuk dengan tujuan untuk membantu merencanakan serta

membiayai lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat.18

6. Teori-teori Pekerja Sosial

a. Teori psikodinamik berasal dari teori yang dikembangkan oleh

Sigmund Freud dan para pengikutnya. Disebut psikodinamik karena teori ini memiliki asumsi bahwa tingkah laku berasal dari gerakan dan interaksi yang terjadi dalam pikiran manusia. Teori ini menekankan bahwa pikiran mempengaruhi perilaku seseorang. Sementara pikiran dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosialnya. Beberapa konsep

teori ini adalah ketakutan dan ambivalensi (anxiety and

ambivalence) yang dibentuk dari resolusi terhadap permasalahan yang kurang tepat pada awal masa kehidupan seseorang, yang kemudian secara kuat mempengaruhi perasaan agresi, marah, dan cinta.

b. Terapi psikodinamik sangat berpengaruh dalam praktik

pekerjaan sosial seperti dalam hubungan interpesonal permisif

17

Istiana Hermawati, Metode dan Praktek Dalam Praktik Pekerjaan Sosial h.46.

18

keterbukaan, mendengarkan. Menurut Wallen, intinya adalah

menyangkut penggunaan istilah-istilah kesadaran,

ketidaksadaran, agresi,konflik, ketakutan, hubungan dengan ibu dan sebagainya. Sebelumnya, dalam pekerjaan sosial Hamilton

mengemukakan psikodinamik dapat dikenal melalui teori

diagnostik, yang merujuk kepada teori psikososial menurut

Woods dan Hollis. Elemen idenya adaah person in-situations,

meski kebanyakan penulis merujuk kepada kepada teori

ekologis yang lebih mengenal tentang person in enviroment

(PIE) dan klasifikasi dari treatmen case work.19

c. Teori kognitif-perilaku ini memiliki keterikatan dengan dua

teori yang diperlakukan sama, yaitu model terapi perilaku yang berasal dari teori psikologi mengenai persepsi dan proses informasi. Kerja kognisi-perilaku memiliki perhatian dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan manusia, khususnya yang berkaitan dengan pobia sosial, ketakutan dan

depresi.20

d. Terapi kognitif, Alford dan Beck mendefinisikan kognitif

sebagai fungsi yang melibatkan inferensi tentang pengalaman seseorang dan tentang terjadinya peritiwa dimasa mendatang dan pengontrolannya. Oleh karena itu, Beck mengembangkan teori kognitif sejak awal tahun 1960an. Teori kognitif ini

19

Siti Napsiyah Ariefuzzaman dan Lisma Diawati Fuaida, Belajar Teori Pekerja Sosial, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), h.31-33.

20

dilandaskan oleh tiga hal. Pertama,pendekatan fenomologis psikologi yang menyatakan pandangan individu tentang self dan dunia personalsentral tentang bagaimana ia berprilaku. Kedua,

teori struktur dan psikologi dalam (depth psycology) khususnya

teori Freud yang memberikan kontribusi pada pembentukan struktur kognisi Beck mejadi proses-proses primer dan sekunder. Ketiga, karya para pakar psikologi kognitif awal, seperti Alport, Piager, dan George dan Kelly. Konsep dasarterapi kognisi adalah bahwa kognisi merupakan kunci untuk memahami dan menangani gangguan psikologis. Oleh karena itu kognisi didefinisikan sebagai fungsi yang melibatkan

tentang inferensi tetang pengalaman seseorang dan

pengontrolannya. Hal ini karena manusia dihadapkan pada keharusan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selalu

berubah.21

e. Terapi kognitif perilaku pada prinsipnya terapi kognitif perilaku

adalah mengidentifikasikan kandungan pemikiran yang meliputi

asumsi, keyakinan, harapan, pesan kepada diri sendiri (self talk)

atau kelengkapan (atributions). Pemikiran-pemikiran kemudian

dikaji melalui berbagai tekhnik, pemikiran-pemikiran, kemudian dikaji untuk menentukan dampak akhirnya terhadap emosi dan perilaku klien dengan penggunaan tekhnik-tekhnik yang

21

Siti Napsiyah Ariefuzzaman dan Lisma Diawati Fuaida, Belajar Teori Pekerja Sosial, h.44-45.

mendorong klien untuk mengadopsi pemikiran alternatif dan

yang lebih dapat menyesuaikan diri.22

7. Kode Etik Pekerja Sosial

Kode etik pekerja sosial merupakan pedoman yang

dijadikan sebagai standar perilaku para pekerja sosial yang berisikan nilai-nilai, prinsip-prinsip, aturan profesi pekerjaan osial yang dijadikan pedoman bagi anggotanya. Penetapan kode etik ditujukan untuk menjaminkompetensi pelayanan profesional meningkatkan mutu pelayanan sosial dan melindungi penerima pelayanan sosial. Prinsip-prinsip pekerjaan sosial dituangkan dalam kode etik profesi, dalam bentuk petunjuk dan kewajiban. Adapun kode etik pekerja sosial adalah :

a. Pekerja sosial mengutamakan tanggung jawab melayani

kesejahteraan individu dan kelompok.

b. Pekerja sosial mendahulukan atau mengutamakan tanggung

jawab profesi dari pada kepentingan pribadi.

c. Pekerja sosial tidak membeda-bedakan latar belakang

keturunan, warna kulit, agama, umur, jenis kelamin, warga negara, dan berusaha mencegah serta menghapuskan dikriminasi dalam memberikan pelayanan, dalam tugas serta dalam praktek-praktek kerja.

d. Pekerja sosial melaksanakan tanggung jawab demi mutu dan

keleluasaan pelayanan yang diberikan.23

22

Siti Napsiyah Ariefuzzaman dan Lisma Diawati Fuaida, Belajar Teori Pekerja Sosial, h.47.

Dokumen terkait