BAB II LANDASAN TEORI
B. Pekerja Sosial
4. Prinsip-prinsip Pekerja Sosial
Dalam teori Midgey untuk ke semua praktik pekerja sosial
tersusun dalam suatu prinsip-prinsip general yang menggambarkan keyakinan filsafat dari sosial profesi yang menjadi sebuah pedoman pekerja sosial untuk bekerja dengan klien-klien mereka, beberapa
10Chatarina Rusmiyati, dkk, Efektifitas Peran Pekerja Sosial Studi Kasus Panti Sosial Petirahan Anak Satria Baturaden, (Yogyakarta: Balai Pendidikan dan Penlitian Kesejahteraan Sosial Balai Besar Penelitian dan Pengembangan PelayananKesejahteraan Sosial, 2013), h. 33-45.
11
WawaChayoo, “Pengertian, Fungsi dan Peran Pekerja Sosial”, Artikel diakes pada
Tanggal 12 Februari 2014, dari:http://wawachayoo.blogspot.com/2012/07/pengertian-fungsi-dan-peran-pekerja.html
prinsip ini lebih menekankan nilai-nilai dan ide-ide dari pada prosedur praktik.
1. Prinsip Dasar Pekerja Sosial
Di bawah ini akan diuraikan prinsip-prinsip dasar sebagai seorang pekerja sosial sebagai berikut :
a. Pengakuan akan harkat dan martabat manusia (Human Warth
and Dignity). Martabat adalah harga diri yang paling tinggi bagi setiap manusia dan merupakan hal yang paling penting dipertaruhkan keberadaannya. Pekerja sosial adalah suatu kegiatan yang berupaya agar manusia dapat diterima oleh orang lain sesuai dengan martabatnya. Pekerja sosial tidak boleh membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Pengakuan bahwa setiap manusia mempunyai hakikat dan martabat harga diri dan juga pengakuan bahwa setiap manusia mempunyai potensi yang dikembangkan sepanjang hidup manusia harus dihormati.
b. Hak untuk menentukan diri sendiri (Self Determination).
Dimana suatu prinsip yang berdasarkan bahwa manusia atau individu itu mempunyai hak untuk menentukan diri sendiri pekerja sosial juga percaya bahwa bahwa individu, kelompok dan masyarakat mempunyai hak untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka dan bagaimana hal itu dapat dicapai. Setiap orang bebas menentukan nasibnya sendiri keyakinan bahwa setiap orang dan manusia yang mengalami penderitaan pribadi
ekonomi atau sosial mempunyai hak untuk menentukan diri sendiri dan bagaimana cara untuk mengatasinya. Pekerja sosial juga tidak bersifat memerintah, memohon atau bahkan mempengaruhi klien-klien mereka untuk membuat keputusan. Sebaliknya, pekerja sosial membantu klien untuk mendapatkan kembali keyakinan akan kemampuan kepada diri sendiri untuk menyelesaikan masalah-masalahnya.
c. Kesempatan yang sama bagi semua orang (Equal Apportunity).
Keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama yang hanya dibatasi oleh kemampuan masing-masing, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama yang dibatasi kemampuan.
d. Tanggung jawab sosial (Social Responsibility). Pada
hakikatnya manusia itu disamping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk yang sosial ia memiliki tanggung jawab sosial, segala keutuhan seseorang individu akan terpenuhi oleh pihak lain atau orang lain sehingga secara langsung dan tidak langsung setiap orang bertujuan secara sosial terhadap orang lain dilingkungan sosial akan terpanggil dan dituntut untuk
ikut mengatasinya.12
2. Prinsip Khusus Pekerja Sosial
Sebagai seorang yang berprofesi sebagai pekerja sosial,
dalam memberikan pelayanan kepada penerima manfaat, terdapat
12
Chazali H. Situmorang, Mutu Pekerja Sosial Di Era Otonomi Daerah, (Jawa Barat: Cinta Indonesia, 2013), h. 78-85.
prinsip-prinsip yang dijalankan oleh pekerja sosial. Selain terdapat prinsip dasar pekerja sosial, seperti yang telah diungkapkan di atas, terdapat pula prinsip khusus pekerja sosial, seperti yang akan di uraikan sebagai berikut :
1) Prinsip penerimaan (The Principle of Acceptance)
Prinsip ini melihat bahwa praktisi kesejahteraan sosial harus
berusaha menerima (client) mereka apa adanya, tanpa
„menghakimi’ klien tersebut. kemampuan praktisi kesejahteraan sosial untuk menerima klien (pihak yang membutuhkan „bantuan’)-nya dengan sewarjarnya akan dapat banyak membantu perkembangan relasi antara mereka. Maka anda sebagai praktisi kesejahteraan sosial harus berusaha untuk tidak menghakimi klien tersebut berdasarkan panampilan fisiknya. Seorang praktisi harus berusaha meredam perasaan suka atau tidak suka yang terlihat dari penampilan fisik seseorang. Karena
dengan adanya sikap (acceptence)maka klien akan dapat merasa
lebih percaya diri dan tidak kaku dalam berbicara dengan
praktisi kesejahteraan sosial, sehingga ia dapat
menggungkapkan perasaan yang menganjal di hatinya. Dengan cara seperti ini maka relasi antara praktisi dengan klien dapat dikembangkan.
2) Prinsip komunikasi (The Principle of Communication)
Prinsip komunikasi ini berkaitan erat dengan kemampuan praktisi kesejahteraan sosial untuk menangkap informasi
ataupun pesan yang dikemukakan oleh klien. Pesan yang disampaikan klien dapat berbentuk pesan verbal, yang diucapkan klien melalui ucapannya. Atau pesan tersebut dapat berbentuk non verbal, misalnya dari cara duduk klien cara menggunakan tangannya, cara klien meletakan tangannya dan sebagainya. Dari pesan non verbal tersebut kita bisa menangkap apakah klien sedang merasa gelisah, cemas, takut, gembira, dan berbagai ungkapan lainnya. Bila suatu saat klien tidak dapat
mengungapkan peraaan apa yang dirasakan, praktisi
kesejahteraan sosial diharapkan dapat membantu klien tersebut untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Dengan berkembangnya komunikasi antara praktisi dan klien, maka praktisi dapat menelaah permasalahan. Kita harus bisa menangkap informasi yang dilontarkan klien baik verbal maupun non verbal dari si klien.
3) Prinsip Kerahasian (The Principle Of Confidentiality)
Dalam prinsip ini praktisi kesejahteraan sosial harus menjaga kerahasiaan dari kasus yang sedang ditanganinya. Sehingga kasus itu tidak dibicarakan dengan sembarang orang yang tidak terkait dengan penanganan kasus tersebut. Dengan dijamin kerahasiaan ini, maka klien akan dapat lebih bebas mengungkapkan permasalahan yang ia hadapi ataupun perasaan yang ia rasakan. Ia akan merasa lebih aman mengungkapkan perasaannya karena ia yakin apa yang ia utarakan dalam relasi
dengan praktisi kesejahteraan sosial akan terjaga kerahasiaannya.
4) Prinsip Partisipasi(The Principle Of Participation)
Praktisi diharapkan akan mengajak kliennya untuk ikut serta
berperan aktif dalam menghadapi permasalahan yang
dihadapinya. Karena tanpa peran aktif dari klien, maka tujuan dari terapi tersebut sulit untuk tercapai. Dalam prinsip ini, tergambar bahwa „perbaikan’ kondisi seseorang bukanlah hasil kerja dari praktisi kesejahteraan sosial itu sendiri. Tetapi rasa tanggung jawab dan keinginan yang sungguh dari klien untuk memperbaiki kondisinya justru menjadi kunci keberhasilan dari prosespemberian bantuan ini.
5) Prinsip Individualisasi(The Principle Of Individualization)
Menganggap setiap individu itu berbeda antara satu dengan yang lainnya, sehingga seorang praktisi kesejahteraan sosial
haruslah berusaha memahami keunikan (Uniqueness) dari setiap
klien. Karena itu, dalam proses pemberian bantuan harus berusaha mengembangkan intervensi yang sesuai dengan kondisi kliennya agar mendapatkan hasil yang optimal. Dengan adanya prinsip individualisasi ini maka praktisi kesejahteraan sosial diharapkan tidak menyamaratakan setiap klien. Sehingga pendekatan dalam melakukan terapi lebih diutamakan dengan penanganan kasus perkasus.
6) Prinsip Sadar Diri(The Principle Of Self A Warness)
Prinsip kesadaran diri (self a warness)ini menuntut praktisi
kesejahteraan sosial untuk bersikap profesional dalam menjalin relasi dengan kliennya. Dalam arti bahwa praktisi kesejahteraan sosial harus mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak terhanyut oleh perasaan ataupun permasalahan yang dihadapi oleh kliennya. Praktisi kesejahteraan sosial di sini haruslah tetap rasional, tetapi harus mampu menyelami perasaan kliennya secara objektif. Apabila seorang pekerja sosial tidak dapat mengendalikan emosinya maka sebaiknya klien tersebut
dialihkan ke praktisi pekerja sosial yang lain.13
7) Sikap-sikap tidak menghakimi(The Principle Of Non Judgment)
Pekerjaan sosial yang menerapkan sikap tidak menghakimi tidak menimbulkan rasa bersalah, atau derajat tanggung jawab klien atas sebab-sebab masalah atau kebutuhan-kebutuhan, tetapi meliputi pemberian penilaian-penilaian evaluatif tentang sikap-sikap, standardstandard, atau tindakan-tindakan klien. Sikap tidak menghakimi diterapkan ke dalam semua proses pekerjaan sosial. Akan tetapi, keadaan-keadaan tertentu seperti saat-saat ketika klien merasa terdemoralisasi, terstigmatisasikan, atau disalahkan, menuntut sikap tidak menghakimi yang sangat sensitif. Pandangan yang tidak menghakimi mengandung arti sikap-sikap dan perilaku-perilaku pekerja sosial yang tidak
13
Isbandi Rukminto Adi, Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial (Pengantar Pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan), (Depok, Fisip UI Press, 2005), h.80-84.
menghakimi. Pekerja sosial tidak menghakimi orang lain sebagai baik atau buruk, berharga atau tidak berharga. Akan tetapi, pekerja sosial melakukan penilaian-penilaian atau keputusan-keputusan profesional setiap hari tentang pendekatan-pendekatan alternatif dan solusi-solusi yang tepat. Pandangan yang tidak menghakimi ialah suatu prinsip yang harus diterapkan secara universal, Pekerja sosial harus menyadari di dalam dirinya keadaan-keadaan yang memicu sikap menghakimi dan menyalahkan itu. Standard profesional mewajibkan pekerja sosial untuk menghadapi nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan pribadi yang dapat mengakibatkan efek merusak terhadap
interaksi dengan klien.14