PELAKSANAAN PEKERJAAN
E. Sumber Bahan (Material)
4.2.4. Metode Pelaksanaan Galian Struktur Kedalaman 0-2 meter
Gambar 4.23. Flow chart pekerjaan galian struktur 0-2 meter.
ILUSTRASI
Excavator menggali sesuai dengan profil yang telah ditentukan.Dan memuat hasil galian ke atas Dump Truck untuk ditempatkan pada disposal area.
Dump Truck mengangkat tanah hasil galian untuk ditempatkan pada Disposal Area.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 39
Struktur 0-2 meter :
1. Shop drawing dibuat dan dicetak pada kertas ukuran A3 atau sesuai ukuran yang disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Shop Drawing dibuat sesuai data dari hasil pengukuran dan investigasi bersama di lapangan.
2. Request diajukan sebelum pelaksanaan dilapangan guna mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi. Request yang telah disetujui disimpan sebagai arsip untuk back up data.
3. Setelah request disetujui dilakukan Persiapan seluruh peralatan dan tenaga kerja yang dibutuhkan.
Perlatan utama yang dibutuhkan : - Excavator
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 40 - Alat Ukur
Gambar 4.25. Alat ukur.
4. Pekerjaan galian biasa dimaksudkan untuk mendapatkan area atau lahan abutment/pier jembatan yang akan dibangun. Galian dilakukan sesuai dengan dimensi, elevasi serta alinyemen rencana konstruksi abutment. Galian dilakukan dengan menggunakan excavator dan hasil galian diletakkan pada area bebas dekat dengan rencana abutment yang digali. Hal inidimaksudkan untuk dapat digunakan sebagai timbunan kembali(backfill). Sisa hasil galian diratakan atau diangkut keluar.
Sebelum dilakukan pekerjaan galian, terlebih dahulu dilakukan pengukuran untuk menentukan elevasi dan batas-batas galian. Pemberian tanda elevasi atau batas dapat dilakukan dengan menggunakan bouwplank atau patok.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 41 Gambar 4.26. Alat ukur.
Excavator menggali tanah sesuai profil dan hasil galian langsung ditempat pada area bebas yang tidak mengganggu kegiatan disekitarnya. Hasil galian digunakan untuk timbunan kembali.
Gambar 4.27. Galian 0-2 meter.
Mengingat kedalaman galian dilakukan cukup dalam, maka bila lokasi memungkinkan akan dibuat sodetan saluran untuk menghindari genangan yang jumlahnya akan diatur sesuai kebutuhan.
5. Request for Inspection
Setelah pekerjaan galian struktur selesai dan dinilai cukup untuk dilanjutkan pada pekerjaan berikutnya, diajukan Request for Inspection. Pada kegiatan ini dilakukan pemeriksaan/opname
Alat yang digunakan berupa Total Station dan Water Pass.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 42
bersama dengan Konsultan Pengawas/Direksi untuk menentukan apakah pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan rencana atau masih diperlukan adanya penyempurnaan.
Pemeriksaan meliputi : - Elevasi galian - Panjang galian - Lebar galian - Kemiringan galian - Kerapihan galian
- Kerapihan secara visual
Setelah hasil pekerjaan dinilai cukup, dilanjutkan pada tahapan pekerjaan selanjutnya yaitu Lantai Kerja Beton K-125.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 43 4.2.5. Metode Pelaksanaan Galian Struktur kedalaman 2-4 meter
Gambar 4.28. Flow chart pekerjaan galian struktur 2-4 meter.
1. Shop drawing dibuat dan dicetak pada kertas ukuran A3 atau sesuai ukuran yang disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Shop Drawing dibuat sesuai data dari hasil pengukuran dan investigasi bersama di lapangan.
2. Request diajukan sebelum pelaksanaan dilapangan guna mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi. Request yang telah disetujui disimpan sebagai arsip untuk back up data.
3. Setelah request disetujui dilakukan Persiapan seluruh peralatan dan tenaga kerja yang dibutuhkan.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 44
Peralatan utama yang dibutuhkan : - Excavator
Gambar 4.29. Excavator.
- Alat Ukur
Gambar 4.30. Alat ukur.
4. Pekerjaan galian biasa dimaksudkan untuk mendapatkan area atau lahan abutment/pier jembatan yang akan dibangun. Galian dilakukan sesuai dengan dimensi, elevasi serta alinyemen rencana konstruksi abutment. Galian dilakukan dengan menggunakan
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 45
excavator dan hasil galian diletakkan pada area bebas dekat dengan rencana abutment yang digali. Hal inidimaksudkan untuk dapat digunakan sebagai timbunan kembali(backfill). Sisa hasil galian diratakan atau diangkut keluar.
Sebelum dilakukan pekerjaan galian, terlebih dahulu dilakukan pengukuran untuk menentukan elevasi dan batas-batas galian. Pemberian tanda elevasi atau batas dapat dilakukan dengan menggunakan bouwplank atau patok.
Gambar 4.31. Alat ukur.
Excavator menggali tanah sesuai profil dan hasil galian langsung ditempat pada area bebas yang tidak mengganggu kegiatan disekitarnya. Hasil galian digunakan untuk timbunan kembali.
Gambar 4.32. Galian 2-4 meter.
Alat yang digunakan berupa Total Station dan Water Pass.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 46
Mengingat kedalaman galian dilakukan cukup dalam, maka bila lokasi memungkinkan akan dibuat sodetan saluran untuk menghindari genangan yang jumlahnya akan diatur sesuai kebutuhan.
5. Request for Inspection
Setelah pekerjaan galian struktur selesai dan dinilai cukup untuk dilanjutkan pada pekerjaan berikutnya, diajukan Request for Inspection. Pada kegiatan ini dilakukan pemeriksaan/opname bersama dengan Konsultan Pengawas/Direksi untuk menentukan apakah pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan rencana atau masih diperlukan adanya penyempurnaan.
Pemeriksaan meliputi : - Elevasi galian - Panjang galian - Lebar galian - Lebar galian - Kemiringan galian - Kerapihan secara visual
Setelah hasil pekerjaan dinilai cukup, dilanjutkan pada tahapan pekerjaan selanjutnya yaitu Lantai Kerja Beton K-125.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 47 4.2.6. Metode Pelaksanaa Timbunan Biasa
Gambar 4.33. Flow chart timbunan biasa.
1. Shop drawing dibuat dan dicetak pada kertas ukuran A3 atau sesuai ukuran yang disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Shop Drawing dibuat sesuai data dari hasil pengukuran dan investigasi bersama di lapangan.
2. Request diajukan sebelum pelaksanaan dilapangan guna mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi. Request yang telah disetujui disimpan sebagai arsip untuk back up data.
3. Setelah request disetujui dilakukan Persiapan seluruh bahan, peralatan dan tenaga kerja yang dibutuhkan.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 48 - Tanah Timbun (dari hasil galian yang memenuhi persyaratan
sebagai tanah timbun).
Alat yang diperlukan : - Bulldozer
Gambar 4.34.Bulldozer. - Vibro Roller
Gambar 4.35. Vibro roller. - Water Tank Truck
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 49
4. Tanah Timbun didatangkan dari hasil galian dengan menggunakan Dump Truck, dihampar denga Bulldozer dan dipadatkan dengan Vibro Roller. Untuk mendapatkan kadar air optimum disediakan Water Tank Truck untuk melakukan penyiraman bila diperlukan. Ketebalan rencana timbunan adalah variable. Pelaksanaan dilakukan per layer yaitu masing-masing tiap 20 cm tebal padat. a. Sebelum dihampar tanah timbun diinspeksi terhadap
keseragaman butiran dan kebersihan secara visual.
Gambar 4.37. Tanah timbunan di truck.
b. Tanah Timbun yang telah sesuai ditempatkan secara spot berselang dengan memperhitungan material mencukupi lebar dan tebal yang direncanakan sesuai patok-patok batas hamparan.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 50
c. Penghamparan dilakukan dengan Bulldozer sesuai patok-patok batas hamparan dengan telah memperhitungkan faktor gembur ketebalan.
Gambar 4.39. Penghamparan.
d. .Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller. Dan untuk mendapatkan kadar air optimum pemadatan disiapkan Water Tank Truck untuk melakukan penyiraman.
Gambar 4.40. Pemadatan.
5. Setelah proses pemadatan dianggap cukup, kemudian dilakukan Test Kepadatan dengan menggunakan Sand Cone Test. Proses dilakukan berulang hingga ketebalan rencana ketebalan (elevasi) tercapai. Test Kepadatan dilakukan dengan menggunakan Sand Cone Test. Kepadatan yang disyaratkan adalah 100% kepadatan kering.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 51 Gambar 4.41. Sand cone test.
6. Request for Inspection
Setelah pekerjaan Timbunan Biasa selesai dan dinilai cukup untuk dilanjutkan pada pekerjaan berikutnya, diajukan Request for Inspection. Pada kegiatan ini dilakukan pemeriksaan/opname bersama dengan Konsultan Pengawas dan Direksi untuk
menentukan apakah pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan rencana atau masih diperlukan adanya penyempurnaan.
Pemeriksaan meliputi :
- Elevasi Timbunan
- Lebar Timbunan
- Panjang Timbunan
- Kemiringan Timbunan
- Kerapihan secara visual
Setelah hasil pekerjaan dinilai cukup, dilanjutkan pada tahapan pekerjaan selanjutnya yaitu pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas B.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 52 4.2.7. Metode Pelaksanaan Lapis Pondasi Agregat Kelas B
Gambar 4.43. Flow chart lapis pondasi agregat kelas B.
1. Shop drawing dibuat dan dicetak pada kertas ukuran A3 atau sesuai ukuran yang disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Shop Drawing dibuat sesuai data dari hasil pengukuran dan investigasi bersama di lapangan.
2. Request diajukan sebelum pelaksanaan dilapangan guna mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi. Request yang telah disetujui disimpan sebagai arsip untuk back up data.
3. Setelah request disetujui dilakukan Persiapan seluruh bahan, peralatan dan tenaga kerja yang dibutuhkan.
Bahan utama yang dibutuhkan : - Agregat Kelas B
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 53 - Motor Grader
Gambar 4.44. Motor grader. - Vibro Roller
Gambar 4.45. Vibro Roller. - Water Tank Truck
Gambar 4.46. Water Tank Truck.
4. Lapis Pondasi Agregat Kelas B didatangkan dari Quarry Produksi dengan menggunakan Dump Truck, dihampar dengan Motor
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 54
Grader dan dipadatkan dengan Vibro Roller. Untuk mendapatkan kadar air optimum disediakan Water Tank Truck untuk melakukan penyiraman bila diperlukan.
Ketebalan rencana Lapis Pondasi Agregat Kelas B adalah 20 cm. Pelaksanaan dilakukan dalam 1 (satu) layer yaitu 20 cm tebal padat.
a. Sebelum dihampar material agregat diinspeksi terhadap keseragaman dan kebersihan butiran secara visual.
Gambar 4.47. Tanah timbunan di truck.
b. Material yang telah sesuai ditempatkan secara spot berselang dengan memperhitungan material mencukupi lebar dan tebal yang direncanakan sesuai patok-patok batas hamparan.
Gambar 4.48. Tanah timbunan selingan.
3.2 Tanah timbunan berselang.
c. Penghamparan dilakukan dengan Motor Grader sesuai patok- patok batas hamparan dengan telah memperhitungkan faktor gembur ketebalan.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 55 Gambar 4.49. Penghamparan.
d. Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller. Dan untuk mendapatkan kadar air optimum pemadatan disiapkan Water Tank Truck untuk melakukan penyiraman.
Gambar 4.50. Pemadatan.
5. Setelah proses pemadatan dianggap cukup, kemudian dilakukan Test Kepadatan dengan menggunakan Sand Cone Test. Test Kepadatan dilakukan dengan menggunakan Sand Cone Test. Kepadatan yang disyaratkan adalah 100% kepadatan kering.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 56
6. Request for Inspection
Setelah pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas B selesai dan dinilai cukup untuk dilanjutkan pada pekerjaan berikutnya, diajukan Request for Inspection. Pada kegiatan ini dilakukan pemeriksaan/opname bersama dengan Konsultan Pengawas dan Direksi untuk menentukan apakah pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan rencana atau masih diperlukan adanya penyempurnaan.
Pemeriksaan meliputi :
- Elevasi Lapis Pondasi Agregat Kelas B - Lebar Lapis Pondasi Agregat Kelas B - Panjang Lapis Pondasi Agregat Kelas B - Kemiringan Lapis Pondasi Agregat Kelas B - Kerapihan Secara Visual
Setelah hasil pekerjaan dinilai cukup, dilanjutkan pada tahapan pekerjaan selanjutnya yaitu pekerjaan Lapis Bawah Beton Kurus.
Gambar 4.52. Ilustrasi pelaksanaan lapis pondasi agregat kelas B.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 57 4.2.8. Metode Pelaksanaan Lapis Perekat
Gambar 4.53. Flow chart pekerjaan lapis perekat.
1. Request diajukan sebelum pelaksanaan dilapangan guna mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi. Request yang telah disetujui disimpan sebagai arsip untuk back up data.
2. Setelah request disetujui dilakukan Persiapan seluruh bahan, peralatan dan tenaga kerja yang dibutuhkan.
Bahan yang dibutuhkan :
- Aspal Emulsi Kationik jenis penguapan cepat (CRS-1 atau CRS-2) disesuaikan kebutuhan.
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 58
Peralatan Utama : a. Air Compressor
Gambar 4.54. Air compressor.
b. Asphalt sprayer
Gambar 4.55. Asphalt sprayer.
c. Mobil Penarik/Truck Engkel
Gambar 4.56. Mobil penarik / truck engkel.
d. Paper Test
- Timbangan Terkalibrasi - Kertas Uji
3. Pembersihan Lokasi Pekerjaan
Pembersihan lokasi pekerjaan dimaksudkan agar lokasi yang akan dilapis dengan Lapis Perekat (Tack Coat) benar-benar bersih dari debu dan partikel-partikel lepas yang dapat merusak konstruksi
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 59
perkerasan beraspal diatasnya. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan blower bertekanan tinggi yaitu dengan Air Compressor. Badan Jalan yang telah discrapping dibersihkan dengan menggunakan Air Compressor yang ditarik dengan mobil penarik. Pipa penyemprot dioperasikan oleh pekerja yang berpengalaman.
Gambar 4.57. Pembersihan lokasi pekerjaan.
4. Setelah lahan dibersihkan kemudian dilakukan pelapisan Lapis Perekat (Tack Coat). Pelapisan menggunakan Asphalt Sprayer yang ditarik oleh kendaraan penarik. Bahan yang digunakan adalah Aspal emulsi kationik jenis penguapan cepat (CRS-1 atau CRS-2).
Takaran pemakaian dilakukan sesuai dalam spesifikasi , dengan ketentuan :
Tabel 4.1. Perkerasan beraspal dan kaku.
Lapisan dibiarkan selama + 24 jam sebelum penghamparan Lapisan Asphalt Hotmix berikutnya.
5. Paper Test
Untuk menjamin bahwa distribusi Lapis Perekat dan kadar pelapisan merata serta memenuhi takaran seperti tertera dalam spesifikasi, dilakukan pengecekan melalui Paper Test setiap 25 meter panjang. Bila takaran lapisan dinilai kurang maka pada bagian yang kurang tersebut dilakukan penyemprotan ulang secara merata. Dan bila pelapisan sudah sesuai dengan spesifikasi, maka pekerjaan dapat dilakukan pada tahapan berikutnya yaitu overlay. Hasil pengujian
Pembangunan Jalan Tembusa Kamojang 60
Paper Test disimpan sebagai arsip untuk digunakan sebagai Back Up data.
6. Request for Inspection
Setelah pekerjaan dinilai cukup untuk dilanjutkan pada pekerjaan berikutnya, diajukan Request for Inspection. Pada kegiatan ini dilakukan pemeriksaan/opname bersama dengan Konsultan Pengawas untuk menentukan apakah pelaksanaan pekerjaan Lapis Perekat (Tack Coat) sudah sesuai dengan rencana atau masih diperlukan adanya penyempurnaan.
Pemeriksaan meliputi :
- Kerataan.
- Kerapihan secara visual.
Setelah pekerjaan dinilai sudah sesuai, dilakukan berita acara yang akan digunakan sebagai dasar opname hasil pekerjaan. Setelah itu dapat dilanjutkan pada pekerjaan berikutnya yaitu Overlay Asphalt Hotmix.