• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

3. Metode Pembelajaran

b. Strategi Penyampaian Pembelajaran (Delivery Strategy)

Strategi Penyampaian Pembelajaran (Delivery strategy) adalah metode untuk menyampaikan pemb' lajaran kepada siswa dan atau untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari siswa. Media pembelajaran merupakan bidang kajian utama dari strategi ini.

Strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Sekurang- kurangnya ada 2 (dua) fungsi dari strategi ini, yaitu (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada si belajar, dan (2) menyediakan informasi atau bahan-bahan yang diperlukan siswa untuk menampilkan untuk kerja (seperti latihan/tes)

Paling tidak, ada 5 (lima) cara dalam mengklasifikasikan media untuk mendeskripsikan strategi penyampaian :

1) Tingkat kecermatannya strategi penyampaian 2) Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan 3) Tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya 4) Tingkat motivasi yang dapat ditimbulkannya 5) Tingkat biaya diperlukannya

c. Strategi Pengelolaan Pembelajaran (Management Strategy)

Strategi Pengelolaan Pembelajaran (Management Strategy)

adalah metode untuk menata interaksi antara si belajar dan variabel metode pembelajaran lainnya, variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran lainnya, variabel pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran.

Disini, paling tidak, ada 3 (tiga) kalasifikasi, penting variabel strategi pengelolaan, yaitu penjadwalan, pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, dan motivasi.

4. Tujuan Pembelajaran

a) Pengcrtian dan Tujuan Pembelajaran

Banyak pengertian yang diberikan para ahli pembelajaran tentang tujuan pembelajaran, antara lain :12

(1) Definisi pertama:

Menurut Robert F. Magor memberikan pengertian tujuan pembelajaran sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.

(2) Definisi kedua :

Menurut Ed war L. Dejozkia dan David E. Kapel juga Kemp yang memandang bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu pernyatan yang sepesifik yang dinyatakan dalam pembelajaran perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang kongkret. serta dalam dilihat dari fakta yang tersamar.

(3) Definis ketiga:

Menurut Fred Prercival dan Henry Ellington yakni tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang jelas dan menunjukkan

penampilan atau ketrampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.

Pada prinsipnya ada dua macam tujuan pembelajaran yaitu : (1) Tujuan jangka panjang (tujuan terminal) merupakan jav/aban

atas masalah atau kebutuhan yang telah diketahui berdasarkan analisis sebelumnya

(2) Tujuan jangka pendek (tujuan instruksional), merupakan hasil pemecahan atau operasionalisasi dari tujuan tenninal yang disusun secara hierarkis dalam upaya tujuan terminal.

b) Taksonomi Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran biasanya diarahkan pada salah satu kawasan dari taksonomi. Benyamin t». Bloom dan D. Krathwohl memilih taksonomi pembelajaran dalam tiga kawasan, yakni kawasan (1) kognitif, (2) arektif, (3) psikomotorik.13

(1) Kawasan Kognitif

Kawasan kognitif adalah kawasan yang membatasi tujuan pembelajaran berkenaan dengan proses mental yang berawal dari lingkat pengetahuannya sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan kognitif ini terdiri dari 6 (enam) tingkatan yang sampai ke yang paling tinggi (evaluasi), antara lain :

(a) Tingkat Pengetahuan (Knowledge)

(b) Tingkat Pemahaman (Comprehension)

(c) Tingkat Penerapan (Application)

(d) Tingkat Analisis (Analisys)

(e) Tingkat Sintesis (Synthesis)

(f) Tingkat Evaluasi (Evaluation)

(2) Kawasan Afektif (sikap dan prilaku)

Kawasan afektif adalah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interes, aspirasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan sosial. Tmgkatan ini ada 5 (lima), dari yang paling sederhana ke yang kompleks adalah sebagai berikut:

(a) Kemauan menerima (b) Kemauan menanggapi (c) Berkeyakinan

(d) Penerapan karya

(e) Ketekunan dan ketelitian (3) Kawasan Psikomotorik

Domain psikomotor mencakup tujuan yang berkaitan langsung dengan ketrampilan (skill) yang bersifat manual atau motorik. Sebagiamna kedua domain yang lain, domain ini juga mempunyai berbagai tingkatan, adalah sebagai berikut:

(a) Persepsi

(b) Kesiapan melakukan suatu kegiatan (c) Mekanisme

(d) Respon terbimbing (e) Kemahiran

(f) Adaptasi (g) Originasi

Penuangan tujuan pembelajaran bukan saja memperjelas arah yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran, tetapi dari segi efisiensi diperoleh hasil yang maksimal. Keuntungan yang dapat diperoleh melalui penuangan tujuan pembelajaran tersebut sebagai berikut:

(1) Waktu mengajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat (2) Pokok bahasan dapat dibuat seimbang sehingga tidak ada materi

pelajaran yang dibahas terlalu mendalam atau terlalu sedikit

(3) Guru dapat menetapkan berapa banyak materi pelajaran yang dapat atau sebaiknya disajikan dalam setiap jam pelajaran

(4) Guru da[:a'i menetapkan urutan dan rangkaian materi pelajaran secara tetap. Artinya, peletakan masing-masing materi pelajaran akan memudahkan siswa dalam mempelajari isi pelajaran

(5) Guru dapat dengan mudah menetapkan dan mempersiapkan strategi belajar mengajar yang paling cocok dan menarik

(6) Guru dapat dengan mudah mempersiapkan berbagai keperluan peralatan maupun bahan dalam keperluan belajar

(7) Guru dapat dengan mudah mengukur keberhasilan siswa dalam belajar

(8) Guru dapat menjamin bahwa hasil belajamya akan lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar tanpa tujuan yang jelas.

Hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) yaitu : a. Keefektifan (effectivensess)

b. Efisiensi (efficinecy)

c. Daya tarik (appeal)14

1) Indikator hasil pembelajaran

Keefektifan pembelajaran biasanya diukur dengan thgkat pencapaian si belajar. Ada 4 (empat) aspek penting yang dapat dipakai untuk mendeskripsikan keefektifan pembelajaran, yaitu (a) Kecermatan penguasaan perilaku atau sering disebut dengan “tingkat kesalahan” (b) kecepatan unjuk kerja, (c) tingkat alih belajar, (d) tingkat resensi dariapa yang dipelajari.

Makin cermat siswa menguasai perilaku yang dipelajari, makin efektif pembelajaran yang telah dilakukan. Kecepatan untuk kinerja dikaitkan dengan jumlah waktu yang diperlukan dalam memperagakannya. Siswa yang menggunakan waktu paling sedikit dalam unjuk kerja merupakan indikator lebih efisien dan efektif proses belajar mengajar. Pembelajaran juga bisa disebut efektif bila siswa dapat menampilkan unjuk kerja sesuai dengan prosedur buku yang ditetapkan. Termasuk indikator keberhasilan belajar adalah mengacu banyaknya unjuk kerja yang ditampilkan siswa dalam satuan waktu yang telah ditetapkan. Kualitas hasil akhir berkaitan dengan produk yang dipresentasikan siswa secara kualitatif lebih baik. Dua indikator terakhir adalah kemampuan mentransfer materi yang dipelajari dalam

5. Efektivitas Pembelajaran

14

konteks yang berbeda. Dan tingkat kemampuan siswa mengingat materi setelah berselang waktu.15

Efisiensi pembelajaran biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai si belajar dan atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan.

2) Faktor Determinan Hasil Belajar (Efektivitas Pembelajaran)

Keberhasilan proses belajar mengajar bergantung pada sejumlah faktor yang saling terkait. Pandangan Houston bahwa dari perspektif guru siswa faktor penentu keberhasilan pembelajaran meliputi:

(a) Ekspektasi guru tentang kemampuan para pelajar yang akan dikembangkan

(b) Keterampilan pengelolaan kelas

(c) Sejumlah waktu yang digunakan oleh guru-guru untuk melakukan tugas-tugas belajar yang bersifat akademik

(d) Kemampuan guiu dalam mengambil keputusan (e) Variasi metode mengajar yang dipakai guru.16

Pembelajaran .yang efektif harus memberi kesempatan luas kepada siswa menentukan aktivitas belajamya karena seperti dinyatakan oleh Flanaers bahwa “potensi belajar siswa berkaitan secara terbalik dengan tingkat Keie%amungan kepada guru”.17

15 Nyoman Sudana Dogeng, Kerangka Perkuliahan dari Bahan Pengajaran. P2LPTK Ditjen Dikti Depdikbud, Jakarta, 1989, him 457

16 U. Saripudin W, Konsep dan Masai ah Pengaruh Ilmti Sosial di Sekolah Menengah P2LPTK Ditjen Dikti Depdikbud, Jakaita, 1989, him. 147

Sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang pendekatan belajar dan pembelajaran, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan tentang makna dan ciri belajar, syarat agar peserta didik berhasil belajar dan cara belajar yang baik.

a. Makna dan Ciri Belajar

Makna belajar dilihat dari psikologi adalah adanya perubahan kematangan bagi anak didik sebagai akibat belajar. Sedangkan dilihat dari proses adalah adanya interaksi antara peserta didik dengan pendidik sebagai proses pembelajaran.

Perubahan kematangan ini akibat dari adanya proses pembelajaran, dan perubahan ini tampak pada perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar.

Secara singkat dari berbagai pandangan itu oleh Syamsudin Makmun bahwa yang dimaksud dengan perubahan dalam konteks belajar itu dapat bersifat fungsional atau struktural, material, dan behavioral, serta keseliiruhan pribadi. Gestalt atau sekurang-kurangnya multidimensional. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Hilgard dan Bower yang mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan yang merupakan hasil proses pembelajaran bukan disebabkan oleh adanya proses kedewasaan.18

6. Pendekatan Belajar dan Pembelajaran

Karakteristik perilaku belajar ini dilihat dari sudut psikologi pendidikan. Berkaitan dengan konsep perubahan dalam konteks belajar itu dapat bersifat fungsional atau struktural, material dan behavioral, serta keseluruhan pribadi, secara singkat dijelaskan bahwa : (1) belajar merupakan perubahan fungsional yaitu jiwa manusia itu terdiri atas sejumlah fungsi-fungsi yang memiliki daya atau kemampuan tertentu misalnya daya mengingat, daya txapuwr, dan sebagainya (2) belajar merupakan pelayanan materi pengetahuan, material atau perkayaan pola-pola sambman (respons) perilaku baru (behavior), (3) belajar merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan.

Dari ketiga pandangan dapat dipahami bahwa perbuatan dan hasil belajar itu mungkin dapat dimanifestasikan dalam wujud : (1) pertambahan materi pengetahuan berupa fakta, informasi, prinsip hukum atau kaidah, prosedur atau pola kerja atau teori sistem nilai- nilai dan sebagainya, (2) penguasaan pola-pola perilaku kognitif (pengamatan) proses berpikir, mengingat atau mengenal kembali, perilaku afektif (sikap-sikap apresiasi, penghayatan, dan sebagainya) perilaku psikomotorik tennasuk yang bersifat ekspresif, dan (3) perubahan dalam sifat-sifat kepribadian baik yang tangible maupun intangible. Setiap perilaku belajar tersebut selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik antara lain :

1) Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus menerus, yang berpengaruh pada yroses belajar selanjutnya

2) Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual 3) Belajar merupakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan yaitu arah

yang ingin dicapai melalui proses belajar

4) Belajar menghasilkan perubahan yang menyentuh, melibatkan keseluruhan, tingkah laku secara integral

5) Belajar adalah proses interaksi

6) Belajar berlangsung dari yang paling sederahan.

Dari pembahasan tersebut ditegaskan bahwa ciri khas belajar adalah perubahan, yaitu belajar menghasilkan perubahan perilaku dalam diri persepsi didik.

b. Syarat Agar Peserta Didik Berhasil Belajar

Agar peserta didik dapat berhasil belajar diperlukan persyaratan tertentu antara lain seperti dikemukakan berikut in i:

1) Kemampuan berfikir yang tinggi bagi para siswa, hal ini ditandai dengan berpikir kritis, logis, sistematis, dan objektif

2) Menimbulkan minat yang tinggi terhadap mata pelajaran

3) Bakat dan minat yang khusus para siswa dapat dikcmbangkan sesuai potensinya

4) Menguasai bahan-bahan yang diperlukan untuk meneruskan pelajaran di sekolah yang menjadi lanjutannya. (Achievement test)

5) Menguasai salah satu bahasa asing, terutama bahasa Inggris (English Comprehension Test) bagi siswa yang telah memenuhi syarat untuk itu

6) Stabilitas psikis (tidak mengalami masalah penyesuaian diri dan seksual)

7) Kesehatan jasmani 8) Lingkungan yang tenang

9) Kehidupan ekonomi yang memadai

10) Menguasai teknik belajar di sekolah dan diluar sekolah c. Cara Belajar yang Baik

Cara oeiajar yang baik, tentu harus mampu mengatasi kesulitan belajar. Rusyan menawarkan petunjuk umum cara dan teknik mengatasi kesulitan belajar yakni :

1) Menetapkan target dan tujuan belajar yang jelas 2) Menghindari saran dan kritik yang negatif

3) Menciptakan situasi belajar yang sehat dan kompetitif 4) Menyelenggarakan remidial program

5) Memberi kesempatan agar peserta didik memperoleh pengalaman yang sukses.

d. Pendekatan Belajar dan Pembelajaran

1) Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran ini sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.

(a) Pendekatan Belajar dan Pembelajaran 1. Pendekatan lconsep

Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kescmpatan kepada sisvva untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan sub konsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.

2. Pendekatan proses

Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam ketrampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan ketrampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.

(b) Pendekatan Deduktif dan Pendekatan Induktif 1. Pendekatan Deduktif

Pendekatan deduktif adalah proses penilaian yang bermula dan keadaan umum keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan

aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu ke dalam keadaan khusus.

2. Pendekatan Induktif

Pendekatan induktif pada awalnya dikemukakan oleh filosof Inggris Francis Bacon yang menghendaki agar penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang kongkrit sebanyak mungkin. Si:tem ini dipandang sebagai sistem berpikir yang paling unik pada abad pertengahan yaitu cara induktif, disebut juga sebagai dogmatif artinya bersifat mempcrcayai begitu saja tanpa diteliti secara rasiona!.19

(c) Pendekatan Eksploitasi dan Pendekatan Neuristik 1. Pendekatan Eksploitasi

Pendekatan ini bertolak dari pandangan, bahwa tingkah laku kelas dan penyelesaian pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru/pengajar. Hakekat mengajar menurut pandangan ini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan guru.

2. Pendekatan Neuristik

Kata neuristik berasal dari Bahasa Yunani yaitu “Neurikein” yang berarti “saya menemukan”. Pergantian ini

menurut Rusyan adalah semacam fakta psikologis yang muncul sebagai kodrat manusia yang memiliki nafsu untuk menyelidiki sejak bayi.20

Prinsip pendekatan neuristik oleh Rusyan adalah (1) aktivitas peserta didik menjadi fakta perhatian utama dalam belajar, (2) berpikir logis adalah cara yang paling utama dalam menemukan sesuatu, (3) proses mengetahui dari sesuatu yang sudah diketahui adalah jalan pelajaran yang paling rasional dalam pelajaran di sekolah, (4) pengalaman penuh tujuan adalah tonggak dari usaha pembelajaran peserta didik kearah belajar, berbuat, bekerja dan berusaha, (5) perkembangan mental seseorang berlangsung selama ia berpikir dan belajar menadiri. Hal ini mendorong peserta didik bsrsikap berani untuk berpikir ilmiah dan mengembangkan berpikir mandiri.

(d) Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning) disfngkat CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masayarakat dari kehidupan mereka sehari-hari.

Hal ini dilakukan dengan melibatkan komponen utama pembelajaran yang efektif yaitu :

(1) Konstruksivisme (Constructivisme)

Konstruksivisme (construct ivisme) merupakan landasan berpikir (filosofi?). Pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba.

Esensi dari teori ini adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

(2) Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu berraula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :

a. Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis

b. Mengecek pemahaman siswa c. Membangkitkan respon pada siswa

d. Mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa e. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

f. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

g. Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan diri siswa

h. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

* 9

(3) Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakai, bagian inti dari kegiatan peinbelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry adalah :

a. Observasi (obnservation)

b. Bertanya (questioning)

c. Mengajukan dugaan (hypothesis)

d. Pengumpulan data (data gathering)

e. Penyimpulan (conclusion)

Kata kunci dari strategi inquiry adalah siswa menemukan sendiri. Adapun langkah-langkah menemukan sendiri adalah : (1) merumuskan masalah dalam mata pelajaran apapun, (2) mengamati atau melakukan observasi, (3) menganalisis dan menvajikan hasil dan tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya,

dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audience lainnya. (4) Masyarakat Belajar (learning community)

Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman antar kelompok, dan antara yang tahu dan yang bclum tahu. (5) Pemodelan (modeling)

Dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru.

(6) Refieksi (reflexion)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang barn dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal ini belajar di masla lalu. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan refleksi itu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. (7) Penilaian Sebenarnya (Authenthic Assesment)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.

Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dengan berbagai cara. Tes hanya salah

satunya, itulah hakekat penilaian yang sebenarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.

Karakteristik uulhentliic assessment adalah :

a. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung

b. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif

c. Yang diukur ketrampilan dan performansi, bukan hanya mengingat fakta

d. Berkesinambungan e. Terintegrasi

f. Dapat digunakan sebagai feed back

Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn)

sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran.

(8) Pendekatan tujuan pembelajaran

Pendekatan ini berorientasi pada ujian akhir yang akan dicapai. ScUeiiuniya pendekatan ini tercakup juga ketika seorang guru merencanakan pendekatan lainnya, kaixna suatu pendekatan itu dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Sebagai contoh : Apabila dalam tujuan pembelajaran tertera bahwa dapat mengetahui dalil A1 Qur’an tentang sholat, maka guru harus merancang pembelajaran, pada akhir pembelajaran tersebut siswa sudah dapat mengetahui dalil A1 Qur’an tentang sholat. Metode yang digunakan untuk mencapai tersebut dapat berupa metode pemberian tugas atau kerja kelompok. (9) Pemecahan masalah

Pemecahan masalah, merupakan pendekatan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atas pengamatan. Dalam hal ini ada dua versi. Versi pertama siswa dapat menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian penanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahari dan membantu memberi petunjuk. (10) Sains teknologi dan masyarakai (STM)

Konsep ini, merupacan hasil penelitian dari

National Science Teaches Association (NSTA) (dalam Poejiadi, 2006) menunjukkan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa.

Perbedaan tersebut pada aspek : kaitan dan aplikasi belajar, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM : dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya pendekatan ini, tercakup pula adanva pemecahan masalah, tetapi lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari-hari, yang dalam pemecahanya menggunakan langkah-langkah ilmiah.

7. Motivasi Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan

Motivasi dapat dipahami sebagai suatu variabel penyelang yang digunakamuntuk uenimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju suatu sasaran, motivsi berbeda dengan motiv. Motiv dipahami sebagai suatu keadaan ketenangan didalam individu, yang membangkitkan, memelihara dan mengarahkan tingkah laku menuju suatu tujuan atau sasaran.

Woodworth, selanjutnya menggolongkrn motif itu menjadi kebutuhan-kebutuhan otganis seperti lapar, bergerak, istirahat dan sebagainya, motif-motif yang timbul sekonyong-konyong seperti kejutan, dan motif penelitian-penelitian menunjukkan bahwa sukses belajar tidak hanya tergantung pada banyak yang bermotif adalah penting. Siswa yang- belajar harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan bahwa belajar akan memperoleh hasil akselerator pendidikan dan pembelajaran.21

21

Dari sejumlah teori belajar yang telah dikemukakan para ahli pendidikan maupun psikologi pendidikan, belakangan ini ada pendekatan belajar yang popular disebut “quantum learning” berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang edukator asal Bulgaria yang bereksperimen dibidang pendidikan dan pembelajaran, terutama pembelajaran dengan pendekatan suggastologi atau suggastopedir.. Uraian berikut sebagian besar dicatat dari karya Bubby Deporter dan 1 like Hemacky.

Quantum learning atau suggestology merupakan istilah yang dapat diperluiklan dengan pemercepatan belajar (accelerated learning) atau kegiatan yang dimaksudkan untuk mempercepat dan mengoptimalkan pencapaian hasil belajar peserta didik.

Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolignuistik yaitu bagaimana otak mengatur informasi yang diperoleh dalam belajar.

Kepada setiap prestasi belajar harus diberi sugesti. Sugesti dimaksud dapat dan pasti mempengaruhi situasi belajar (learning situation) dan setiap detil apapun memberikan sugesti positif maupun negatif.

Sugesti positif itu dapat diberikan dengan c^ra : a. Mengatur tempat duduk peserta didik secara nyaman b. Memasang musik latar di dalam kelas

d. Menggunakan poster-poster untuk menampilkan kesan yang nyata sambil menonjolkan informasi

e. Menyediakan guru-guru yang terlatih baik di bidang pembelajaran sugesti

Adapun bagaimana pembelajaran secara sukses dan menyenangkan

(learning succesfull and enjoyable) itu dapat di agendakan oleh guru untuk dikemas di kelas ? Rose dan Nicholi menawarkan konsep sebagai berikut: a. Menciptakan sebuah lingkungan yang rendah daya mengundang stress

pada diri anak didik, bahkan mereduksinya sama sekali. Lingkungan pembelajaran harus terhindar dari kemungkinan tidak aman, sehingga memunculkan kondisi salah dalam belajar, sebaliknya menciptakan harapan-harapan bagi pencapaian tingkat tinggi

b. Jaminan bahwa materi bahan ajar (ensuring subject) relevan dengan kebutuhan anak didik. Karena mereka akan tersugesti belajarnya manakala merasa bahwa apa yang dipelajari dan manfaatnya, paling

Dokumen terkait