KAJIAN PUSTAKA
B. Metode Pembelajaran PAI pada Siswa Tunagrahita
1. Pengertian
a. Metode pembelajaran
Metode ialah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari (Roestiyah, 2008:125).
35
Metode adalah cara yang ditempuh oleh guru untuk
menciptakan situasi pembelajaran yang benar-benar
menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan (Kastolani, 2014:7).
Metode mengajar menurut Tardif (1989) dalam Jurnal
Pengaruh Mengajar Guru dan Kemandirian Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Madrasah Aliyah Kab. Kudus oleh Rofiq Faudy Akbar Vol. 8, No. 1 (2013:228), adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode mengajar guru adalah suatu cara yang digunakan oleh guru dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya dalam
penyampaian materi pembelajaran.
Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode ialah suatu cara atau teknik yang ditempuh oleh guru dalam memberikan pembelajaran kepada siswa. Dengan harapan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan demi tercapainya prestasi belajar siswa yang memuaskan.
36
Kemudian pembelajaran berasal dari kata belajar yang
berimbuhan pe dan an. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia
pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar (KBBI, 2007:17).
Jadi metode pembelajaran berarti cara atau teknik yang ditempuh guru dalam melaksanakan suatu proses, cara dan perbuatan mentransfer ilmu pengetahuannya kepada siswa sehingga siswa dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan.
b. Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki pengertian, suatu usaha sadar terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, dan mengamalkan Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan. Secara hakekat PAI merupakan sebuah proses dalam perkembangannya juga dimaksud sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan disekolah atau madrasah dan perguruan tinggi (Nazarudin, 2007:12).
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dimaksud dalam konteks ini yaitu Pendidikan Agama Islam sebagai suatu rumpun mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, madrasah dan perguruan tinggi. Dan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam penelitian ini adalah sebagai obyek penelitian.
37
c. Siswa Tunagrahita
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang
perkembangannya berbeda dengan anak pada umumnya. Karena perbedaan tersebut, anak berkebutuhan khusus memerlukan
perlakuan khusus sesuai dengan kecacatannya agar
kemampuannya dapat berkembang. Tunagrahita merupakan salah satu dari beberapa jenis anak berkebutuhan khusus.
Menurut peraturan pemerintah yaitu, anak-anak dalam kelompok di bawah normal dan atau lebih lamban daripada anak normal, baik perkembangan sosial maupun kecerdasannya disebut anak terbelakang mental; istilah resminya di Indonesia disebut anak tunagrahita (PP No. 72 Tahun 1991).
Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi. Grahita berarti pikiran. Retardasi mental (mental retardation atau mentally retarded) berarti terbelakang mental (Apriyanto, 2012:28).
Sedangkan menurut Aqila Smart (2012:49) menuturkan bahwa anak tunagrahita ditandai dengan keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.
Tunagrahita adalah seorang yang mempunyai kecerdasan dibawah rata-rata mengalami kesulitan dalam komunikasi dan sosial, terjadi pada masa perkembangan, memerlukan layanan pendidikan khusus dan kondisi tersebut tidak bisa disembuhkan.
38
Anak tunagrahita adalah anak yang secara signifikan memiliki kecerdasan di bawah rata-rata anak pada umumnya dengan disertai hambatan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekitarnya. Mereka mengalami keterlambatan dalam segala bidang, dan itu sifatnya permanen. Rentang memori mereka pendek terutama yang berhubungan dengan akademik, kurang dapat berpikir abstrak dan hal yang rumit.
Anak-anak tunagrahita tertentu dapat belajar akademik yang sifatnya aplikatif. Secara signifikan anak tunagrahita memiliki kecerdasan di bawah rata-rata anak normal pada umumnya, maknanya bahwa perkembangan kecerdasan anak berada di bawah pertumbuhan usia sebenarnya. Jadi apabila dilihat dari segi umur anak tunagrahita terlihat sudah lebih tua, padahal daya pikirannya masih seperti anak kecil. Walaupun demikian bukan berarti pendidikan bagi anak tunagrahita hanyalah sia-sia. Melalui pendidikan, bakat dan potensi diri mereka akan lebih berkembang. Secara historis terdapat lima basis yang dapat dijadikan pijakan konseptual dalam memahami anak tunagrahita seperti yang dikemukakan oleh Herbart J. Prehm (Rochyadi, 2005:11), yaitu:
a. Tunagrahita merupakan kondisi
b. Kondisi tersebut ditandai oleh adanya kemampuan mental jauh
di bawah rata-rata
39
d. Berkaitan dengan adanya kerusakan organik pada susunan
saraf pusat
e. Tunagrahita tidak dapat disembuhkan
Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita yaitu seorang yang memiliki kecerdasan dibawah rata-rata anak pada umumnya dan mempunyai kesulitan dalam berkomunikasi dan interaksi sosial, sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Dalam pengklasifikasian anak tunagrahita di Indonesia saat ini sesuai dengan PP 72 Tahun 1991 yaitu, tunagrahita ringan IQnya 50-70, tunagrahita sedang IQnya 30-50, tunagrahita berat dan sangat berat IQnya kurang dari 30 (Apriyanto, 2012: 30-31).
Sedangkan dalam hal penggolongan anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran sebagai berikut:
a. Educable
Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak regular pada kelas 5 sekolah dasar.
b. Trainable
Anak pada kelompok ini mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik.
40
c. Custodia
Anak dalam kelompok ini harus dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. Dapat dilatih tentang dasar- dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif (Apriyanto, 2012:31-32).
2. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam
Sebelum membahas lebih jauh mengenai metode pembelajaran yang digunakan pada siswa tunagrahita, akan diuraikan terlebih dahulu mengenai tujuan dan fungsi dari Pendidikan Agama Islam itu sendiri sebagai suatu rumpun mata pelajaran dalam lembaga pendidikan.
Pendidikan agama Islam pada sekolah umum bertujuan untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman siswa terhadap ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Nazarudin, 2007:13).
Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang RI Pasal 3 No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertaqwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
41
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Agama Islam (PAI) yang ada pada lembaga-lembaga pendidikan yaitu untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pendidikan Agama Islam haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dengan berpegang
teguh pada dasar ajaran agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kemudian fungsi pendidikan Agama Islam disamping sebagai proses penanaman keimanan dan materi (bahan ajar) adalah sebagai berikut: (Nazaruddin, 2007:17-19)
a. Pengembangan
Fungsi PAI sebagai pengembangan adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya usaha menanamkan keimanan dan ketakwaan menjadi tanggung jawab setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan kemampuan yang ada pada diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
b. Penyaluran
Fungsi PAI sebagai penyaluran adalah untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama agar bakat
42
tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.
c. Perbaikan
Fungsi PAI sebagai perbaikan adalah untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan- kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari yang sebelumnya mungkin mereka peroleh melalui sumber-sumber yang ada di lingkungan keluarga dan masyarakat.
d. Pencegahan
Fungsi PAI sebagai pencegahan adalah untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
e. Penyesuaian
Fungsi PAI sebagai penyesuaian artinya yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
f. Sumber nilai
Fungsi PAI sebagai sumber nilai adalah memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
43
3. Metode Pembelajaran yang Digunakan Pada Siswa Tunagrahita
Ada beberapa jenis metode pembelajaran yang digunakan dalam mendidik siswa tunagrahita pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pada umumnya metode yang digunakan di SLB Negeri Salatiga yaitu metode cerita dan ceramah, demonstrasi, tanya jawab/diskusi.
a. Metode cerita dan ceramah
Metode ceramah adalah sebuah bentuk interaksi edukatif melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru atau pendidik terhadap sekelompok pendengar (peserta didik), untuk memperjelas uraiannya dapat digunakan alat-alat mengajar (Kastolani, 2014:156).
Metode ceramah dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam penyampaian ilmu pengetahuan yang diuraikan guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui uraian informasi yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.
b. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi yaitu suatu metode mengajar dimana
44
memperagakan atau menunjukan pada seluruh kelas tentang suatu proses melakukan sesuatu (Kastolani, 2014:192).
Metode demonstrasi menggunakan peragaan untuk
memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Metode ini digunakan dalam mengajarkan materi yang berhubungan dengan praktek secara langsung seperti sholat, wudhu dan lain sebagainya yang berkaitan dalam pelajaran PAI.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode demonstrasi diantaranya:
1) Demonstrasi akan menjadi metode yang tidak wajar apabila
alat yang didemonstrasikan tidak bisa diamati dengan seksama oleh siswa.
2) Demonstrasi akan menjadi kurang efektif bila tidak diikuti
oleh aktivitas dimana siswa sendiri dapat ikut memperhatikan dan menjadi aktivitas mereka sebagai pengalaman yang berharga
3) Tidak semua hal dapat di demonstrasikan di kelas karena alat-
alat yang terlalu besar atau yang berada di tempat lain yang jauh dari kelas
4) Hendaknya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis
45
5) Guru harus memperagakan demonstrasi dengan sebaik-
baiknya, karena itu guru perlu mengulang-ulang peragaan dirumah dan memeriksa semua alat yang akan dipakai sebelumnya, sehingga sewaktu mendemonstrasikan di kelas semuanya berjalan dengan baik (Kastolani, 2014:197).
c. Metode diskusi
Metode diskusi merupakan kegiatan tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur. Menurut Gulo metode diskusi merupakan metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kualitas interaksi antara peserta didik. Tujuannya ialah untuk memperoleh pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, disamping untuk mempersiapkan dan menyelesaikan keputusan bersama (Nasih dan Kholidah, 2009:57).
Metode diskusi ini adalah metode di dalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikannya (Zein, 1995:175). Dalam metode ini para siswa dituntut untuk aktif dalam berdiskusi melalui interaksi secara langsung bersama-sama teman-teman sekelasnya.
d. Metode tanya jawab
Kemudian metode tanya jawab merupakan suatu metode pembelajaran yang menekankan pada cara penyampaian materi pembelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan
46
peserta didik memberikan jawaban. Metode ini dimaksudkan untuk meninjau pelajaran yang lalu agar peserta didik memusatkan lagi perhatiannya tentang sejumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat merangsang perhatian anak didik, dapat digunakan sebagai persepsi, selingan dan evaluasi (Nasih dan Kholidah, 2009:53).
Metode ini biasa digunakan pada saat selingan pelajaran yang sedang berlangsung. Karena dengan metode ini seorang guru dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa dalam kegiatan pembelajaran.