KAJIAN PUSTAKA
A. Peningkatan Hasil Belajar
1. Pengertian
Peningkatan hasil belajar terdiri dari tiga suku kata yang masing- masing kata memiliki arti tersendiri. Apabila ketiga kata tersebut digabungkan akan menghasilkan arti baru. Kata yang pertama yaitu peningkatan. Peningkatan berasal dari kata dasar tingkat yang
berimbuhan pe dan an. Peningkatan menurut kamus besar bahasa
Indonesia berarti proses, cara, perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan, dan sebagainya) (KBBI, 2007:1198).
Kata yang kedua yaitu hasil. Hasil menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan, dan sebagainya) oleh usaha (KBBI, 2007:391). Menurut Surayin hasil adalah suatu pendapatan atau perolehan dari sesuatu yang telah dikerjakan (Surayin, 2001-2007).
Kata yang ketiga yaitu belajar. Belajar menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 20017:17). Jadi yang dimaksud belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Melalui belajar seseorang akan dipastikan akan berubah dalam hal tingkah lakunya dikarenakan oleh pengalaman yang diperolehnya.
25
Lebih lanjut lagi Crow and Crow dalam Educational Psychology
(1984) mengemukakan pengertian belajar adalah perbuatan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan dan berbagai sikap, termasuk penemuan baru dalam mengerjakan sesuatu, usaha memecahkan rintangan dan menyesuaikan dengan situasi baru. Definisi ini menekankan hasil dari aktifitas belajar (Lilik, 2013:14).
Pengertian dari hasil belajar, yaitu suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat dari latihan atau pengalaman yang diperoleh. Dalam hal ini Gagne dan Briggs mengidentifikasi hasil belajar sebagai kemampuan yang diperoleh
seseorang sesudah mengikuti proses belajar (Sam’s, 2010:33).
Jadi dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar adalah proses/usaha meningkatkan pencapaian dalam memperoleh kebiasaan, kepandaian, ilmu pengetahuan dan berbagai sikap atau keterampilan yang diperoleh melalui aktifitas belajar, latihan dan juga pengalaman.
Menurut Sumadi Suryabrata (2004) dalam Lilik, dkk (2013:15), hal-hal pokok dalam definisi belajar adalah:
a. Bahwa belajar itu membawa perubahan, baik yang aktual maupun
yang potensial.
b. Bahwa perubahan itu pada pokoknya mendapatkannya kecakapan
baru.
26
Jadi proses peningkatan hasil belajar tidak akan diperoleh jika tanpa membawa perubahan. Dan perubahan tersebut harus aktual, potensial, memberikan kecakapan baru serta dilaksanakan dengan adanya usaha.
2. Ciri-ciri Peningkatan Hasil Belajar
Dalam peningkatan hasil belajar terdapat ciri-ciri tertentu dari akibat proses pembelajaran itu sendiri. Menurut Baharuddin & Esa N.W (2007), ciri-ciri belajar meliputi:
a. Belajar ditandai adanya perubahan tingkah laku.
b. Perubahan perilaku dari hasil belajar itu relative permanen.
c. Perubahan tingkah laku tidak harus dapat diamati pada saat
berlangsungnya proses belajar, tetapi perubahan perilaku itu bisa jadi bersifat potensial.
d. Perubahan tingkah laku itu merupakan hasil latihan atau
pengalaman.
e. Pengalaman atau latihan itu dapat memberikan penguatan.
Berdasarkan pendapat tersebut dikemukakan bahwa peningkatan hasil belajar mempengaruhi perubahan tingkah laku yang relatif permanen, serta perubahan tersebut merupakan hasil latihan atau pengalaman yang telah dicapainya. Syah (2003) menjelaskan bahwa perubahan sebagai hasil belajar itu memiliki tiga ciri, yaitu:
27
a. Perubahan intensional
Perubahan intensional adalah perubahan yang terjadi dalam diri individu dilakukan dengan sengaja dan disadari. Maksudnya, perubahan sebagai hasil belajar bukanlah suatu kebetulan, akan tetapi perubahan itu disengaja dan disadari sebelum aktifitas belajar.
b. Perubahan itu positif dan aktif
Perubahan sebagai ciri belajar bersifat positif dan aktif. Bersifat positif masksudnya perubahan itu baik, bermanfaat dan sesuai yang diharapkan oleh individu. Dan bersifat aktif maksudnya perubahan yang terjadi dalam diri individu merupakan hasil usahanya.
c. Perubahan itu efektif dan fungsional
Perubahan sebagai ciri belajar bersifat efektif dan fungsional. Perubahan bersifat efektif, artinya perubahan itu berhasil guna. Perubahan yang berhasil guna adalah perubahan yang bermakna dan bermanfaat bagi diri individu. Sedangkan perubahan bersifat fungsional artinya perubahan itu relative permanen dan siap dibutuhkan setiap saat.
Ciri-ciri tersebut merupakan tanda bahwa seorang individu telah berhasil melaksanakan proses belajar dan dapat dipastikan memperoleh peningkatan hasil belajar.
28
3. Perwujudan Peningkatan Hasil Belajar
Perwujudan dari hasil belajar dapat berupa bermacam-macam hal. Dalam hal ini Syah (2003) menyatakan bahwa wujud dari hasil belajar dapat dilihat dari sembilan perubahan, antara lain:
a. Kebiasaan
Orang yang berhasil belajar akan mengurangi kebiasaan- kebiasaan yang tidak diperlukan dan tidak berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Keberhasilan belajar akan menjadikan seseorang akan berperilaku positif yang relatif menetap dan otomatis.
b. Keterampilan
Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat syaraf dan otot yang bersifat motorik kegiatan ini membutuhkan koordinasi gerak yang teliti dan memerlukan kesadaran yang tinggi. Oleh sebab itu, hasil belajar dapat dilihat dari tingkat keterampilan yang ada dalam diri individu.
c. Pengamatan
Pengamatan dapat diartikan proses menerima, menafsirkan dan mengartikan rangsangan yang masuk melalui panca indra, terutama mata dan telinga. Seseorang yang belajar akan menghasilkan pengamatan yang objektif dan benar.
29
d. Berpikir asosiatif dan daya ingat
Berpikir asosiatif maksudnya berpikir untuk
menghubungkan sesuatu dengan sesuatu lainnya. Dan orang yang belajar akan memiliki daya ingat yang lebih baik.
e. Berpikir rasional dan kritis
Berpikir rasional berarti mampu menggunakan logika untuk menentukan sebab-akibat, menganalisis, menyimpulkan, bahkan meramalkan sesuatu.
f. Sikap
Sikap adalah kecenderungan yang relative menetap untuk mereaksi terhadap sesuatu hal. Hasil belajar akan ditandai muncul kecenderungan baru dalam diri seseorang dalam menghadapi suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.
g. Inhibisi
Inhibisi dalam konteks belajar dapat diartikan kesanggupan individu untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu dan mampu memilih dan melakukan tindakan lain yang lebih baik.
h. Apresiasi
Hasil belajar dapat dilihat adanya apresiasi dalam diri individu yang belajar. Orang belajar akan muncul kemampuan untuk menilai dan menghargai terhadap sesuatu objek tertentu.
30
i. Tingkah laku efektif
Tingkah laku efektif ini dapat dilihat sebagai wujud dari hasil belajar. Maksudnya, seseorang dikatakan berhasil jika orang tersebut memiliki tingkah laku yang bermanfaat.
Perwujudan hasil belajar tidak hanya di ukur dari tingkat ilmu pengetahuan saja, seperti yang telah diuraikan. Tetapi dapat berupa kebiasaan, sikap, tingkah laku dan lain sebagainya. Selama terjadi peningkatan maka dapat dikatakan sebagai perwujudan hasil belajar. Tentunya hal tersebut merupakan hal yang bermanfaat dan memberikan dampak yang positif.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Dalam proses memperoleh hasil belajar pasti terdapat faktor- faktor yang mempengaruhinya. Menurut Suryabrata (2004), keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum, keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Masing-masing faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu. Dalam proses belajar di sekolah, faktor eksternal berarti faktor-faktor yang berada di luar diri siswa. Faktor-faktor eksternal terdiri dari faktor non sosial dan faktor sosial.
31
1) Faktor non sosial
Faktor non sosial adalah faktor-faktor dari luar individu yang berupa kondisi fisik yang ada di lingkungan belajar. Kondisi fisik berupa cuaca, alat, gedung dan sejenisnya.
2) Faktor sosial
Faktor sosial adalah faktor-faktor di luar individu yang berupa manusia. Faktor eksternal yang bersifat sosial, bisa dipilah menjadi faktor yang berasal dari keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat (termasuk teman pergualan anak).
b. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal terdiri dari faktor fisiologis dan faktor psikologis.
1) Faktor fisiologis
Faktor fisiologis adalah kondisi fisik yang terdapat dalam diri individu. Faktor fisiologis terdiri dari:
a) Keadaan Tonus jasmani pada umumnya
Keadaan tonus jasmani secara umum yang ada dalam diri
individu sangat mempengaruhi hasil belajar. Keadaan
tonus jasmani secara umum ini, misalnya tingkat kesehatan dan kebugaran fisik individu.
32
b) Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu
Keadaan ini adalah keadaan fungsi jasmani tertentu, terutama yang terkait dengan fungsi panca indra yang ada dalam diri individu. Panca indra merupakan pintug gerbang masuknya pengetahuan dalam diri individu.
2) Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah faktor psikis yang ada dalam diri individu. Faktor-faktor psikis tersebut antara lain tingkat kecerdasan, motivasi, minat, bakat, sikap, kepribadian, kematangan dan lain sebagainya.
Faktor ekstern dan intern mempengaruhi keberhasilan belajar, pengaruhnya bisa bersifat positif-mendukung, namun bisa juga bersifat negatif-menghambat. Dalam proses belajar individu sebaiknya dapat memilah faktor-faktor yang dapat menunjang untuk menunjang hasil belajarnya, sehingga dapat jika kedua faktor tersebut dapat dimiliki seorang individu dengan baik maka, ketercapaian dalam hasil belajar dapat maksimal dan berhasil sesuai dengan harapan yang di inginkan.
5. Alat untuk Mengukur Hasil Belajar
Alat untuk mengukur hasil belajar adalah evaluasi. Evaluasi
berasal dari bahasa Inggris “value” yang berarti nilai atau harga,
evaluate artinya menentukan nilai, dan evaluation dengan arti penilaian. Dengan demikian evaluasi dapat diartikan sebagai penilaian terhadap sesuatu.
33
Adapun dari segi istilah, evaluasi dapat diberi pengertian seperti yang diungkapkan Edwind Wandt dan Gerald W. Born yaitu bahwa:
“Evaluation refer to act or process to determining devalue of something”. Menurut definisi tersebut, maka evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu (Farikhah, 2006:1).
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi belajar yaitu, suatu perbuatan menentukan nilai sebagai hasil dari usaha yang diperoleh seorang individu dalam memperoleh kepandaian (proses belajar).
Evaluasi sangat dibutuhkan, disamping untuk melihat
keberhasilan guru, evaluasi juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa dalam belajar. Evaluasi dalam belajar bisa berbentuk nilai, skor, skala dan lain sebagainya.
Dalam evaluasi hasil belajar diperlukan alat penilaian untuk mengetahui tingkat keberhasilan bagi guru dan siswa. Dengan alat penilaian guru dapat memberikan predikat belajar berhasil atau tidaknya hasil belajar yang telah dicapai para peserta didik. Adapun alat penilaian evaluasi hasil belajar ada dua kategori diantaranya, tes dan non tes.
34
a. Tes
Fungsi alat penilaian tes adalah untuk mengukur keberhasilan program pengajaran dan untuk mengukur hasil peserta didik
b. Non Tes
Alat penilaian non tes biasanya digunakan untuk mengukur aspek afektif, psikomotorik yang mencakup sikap kebiasaan bekerja dengan baik, kerjasama, tanggung jawab, kejujuran, solidaritas, nasionalisme, pengabdian, keyakinan dan lain-lain. Beberapa alat penilaian non tes yang sering digunakan adalah
observasi (pengamatan), kuesioner (angket), wawancara
(interview) dan skala sikap.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi sebagai alat untuk menentukan nilai dari suatu kegiatan belajar mempunyai dua kategori yaitu, tes dan non tes.