• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an a.Pengertian Metode Pembelajaran a.Pengertian Metode Pembelajaran

& /

\

U]

@ﺏ

9

ﺡ ^

U]

UOY.

.

ﺡ U&(ﻡ

U]

R

4=ﻡ > 3 .!

25

"Dari Abdullah bin masud, RA, is berkata Rasulullah bersabda "barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur'an) maka ia akan memperoleh pahala satu amal kebajikan dan satu amal kebajikan itu dilipatkan sepuluh kali. Saya tidak mengatakan bahwa 'alif-lam, mim' itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf dan mim juga satu huruf"

Sementara itu, Al-Qur'an maupun hadits tidak menyebutkan secara spesifik mengenai manfaat menulis Al-Qur'an kecuali keterangan mengenai sejarah penulisan Al-Qur'an itu sendiri. Meski demikian, menulis Al-Qur'an memiliki manfaat yaitu mengetahui dan memahami huruf dari kitab Allah (Al-Qur'an) dengan baik dan benar. Selain itu juga dapat memelihara dan mendekatkan diri dengan kitab Allah (Al-Qur'an).

2. Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an a. Pengertian Metode Pembelajaran

25

Kata "Metode" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Greek (Yunani). "Metha" yang berarti melalui atau melewati dan "Hodos" yang berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus ditempuh atau dilalui untuk mencapai tujuan.26 Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer pengertian metode adalah "cara kerja yang sistematis untuk mempermudah sesuatu kegiatan dalam mencapai maksudnya".27

Dalam metodik khusus pengajaran agama Islam pengertian metode adalah "Suatu cara kerja yang sistematik dan umum seperti cara kerja ilmu pengetahuan".28

Pengertian metode yang lebih khusus diartikan sebagai "Suatu cara atau siasat menyampaikan bahan pelajaran agar murid memahami, mempergunakan dengan kata lain menguasai bahan pelajaran tersebut.29

Dari perumusan tentang pembelajaran sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pembelajaran tidak hanya berarti sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan atau tindakan yang harus dilakukan agar hasil belajar bisa efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Tabrani bahwa, "Pembelajaran pada dasarnya adalah proses mengkoordinasikan sejumlah tujuan, bahan, metode, alat dan penilaian".30

Dengan demikian, jelas bahwa tujuan dari pembelajaran ialah agar pihak yang diberi pelajaran dapat menerima bahan yang disajikan, dapat menguasai bahan-bahan yang telah diterima dan dikuasainya. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran tersebut, setidaknya dibutuhkan 4 unsur pokok pada proses pembelajaran yaitu, "(1) guru

26

Abdurrahman Getteng, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Ujung Pandang: Al-Thahiriyah Indonesia, 1987), h. I

27

Peter Salim, dkk, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English,1991), h. 1126

28

Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi/IAIN, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, 1984, Cet. 2, h. 1

29

Departemen Agama RI, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: DEPAG RI, 1984), Cet. 2, h.1

30

A. Fabrani, Pendekatan Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Remaja Karya, 1989), Cet. I, h. 29

yang berpengetahuan, memiliki pengalaman dan terampil, (2) siswa yang sedang berkembang, (3) metode penyampaian informasi atau keterampilan penyampahan pesan, dan (4) respons atau perubahan perilaku siswa"31

Unsur metode pembelajaran dalam hal ini adalah "suatu tekhnik penyampaian bahan pelajaran kepada murid. Ia dimaksudkan agar murid dapat menangkap pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna oleh murid dengan baik."32

Istilah metodologi pengajaran sebenarnya sama dengan metodik, yakni suatu ilmu yang membicarakan bagaimana cara atau teknik menyajikan bahan pelajaran terhadap siswa agar tercapai suatu tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.33

Sementara Zuhairini menjelaskan bahwa metode mengajar adalah; "Merupakan salah satu komponen daripada proses pendidikan, Merupakan alat untuk mencapai tujuan, yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar, Merupakan kebulatan dalam suatu sistem pendidikan".34

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapatlah diambil suatu pengertian mengenai metode pembelajaran yaitu, bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang terencana dan berfungsi sebagai alat yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dan definisi-definisi yang telah diuraikan, maka dapat dikatakan adanya beberapa prinsip penting yang mencirikan metode pembelajaran, yaitu:

31

Lutan, Rusli, Belajar Keterampilan Motorik: Pengantar Teori dan Metode, (Jakarta: Depdikbud, 1988) h. 97

32

Zakiyah, Drajat, Metodologi Pengajaran Islam, (Bumi Aksara: Jakarta, 1983) ,h. 60 33

M. Basyaruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), Cet. I, h. 3

34

Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), Cet. 8, h. 79

1) Menyenangkan, yaitu metode dirancang secara khusus dalam suasana yang mengembirakan dan menimbulkan kepuasan peserta didik.

2) Menarik, pemahaman terhadap istilah "menarik diartikan dengan metode yang "hidup", artinya dibawakan dalam suasana serius tetapi santai, artinya siswa dapat mengikuti pelajaran tanpa merasakan 'beban atas apa yang dipelajarinya, karena siswa sudah menyenangi pelajaran tersebut.

3) Efektif, yaitu metode harus dapat membangun proses pembelajaran yang diarahkan kepada Sasaran akhir ketercapaian tujuan pengajaran dengan baik dan berhasil.

4) Efisien, yaitu metode hendaknya diarahkan kepada Sasaran akhir ketercapaian tujuan pengajaran dengan cepat dan tepat dalam kurun waktu tertentu.

5) Fleksibel, metode yang digunakan hendaklah terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu peserta didik dalam memperoleh hasil yang diinginkan.

6) Keseimbangan, metode hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik dengan memperhatikan kondisi sekolah.

b. Aspek-aspek Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran mencakup 8 (delapan) aspek, yaitu "Peragaan, Minat dan perhatian, Motivasi, Apersepsi, Korelasi dan konsentrasi, Kooperasi, Individualisasi, Evaluasi".35

1) Peragaan

Salah satu kegiatan yang tidak boleh diabaikan dalam keseluruhan proses pembelajaran adalah peragaan. Substansi

35

peragaan adalah "suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh siswa".36

Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan dengan menekankan penerapan konsep belajar sambil melakukan.

Terdapat dua peragaan yang dapat diterapkan guru dalam proses pembelajaran, yaitu:

a) Peragaan langsung; dengan menunjukkan benda aslinya atau mengadakan percobaan-percobaan yang bisa diamati oleh siswa;

b) Peragaan tidak langsung; dngan menunjukkan benda tiruan atau suatu model. Sebagai contoh: gambargambar, boneka, foto, film, dan sebagainya.37

2) Minat dan perhatian

Pada prinsipnya minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan atau dapat dikatakan suatu rasa lebih suka dan merasa terikat pada suatu kegiatan tanpa adanya suatu perintah atau paksaan dari pihak luar.

Dalam pengertian ini, minat menghasilkan kecenderungan yang tetap untuk perhatian penuh terhadap kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang diminati akan diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang dan tidak mudah bosan karena kegiatan tersebut pada dasarnya tidak bertentangan dengan keinginan. Artinya siswa dapat mengikuti pelajaran tanpa merasakan 'beban atas apa yang dipelajarinya, karena siswa sudah menyenangi pelajaran tersebut.

3) Motivasi

Motivasi diartikan sebagai dorongan yang menjadi sebab timbulnya segala suatu tingkah laku. Alisuf Sabri membagi motivasi

36

M. Basyaruddin Usman; Metodologi Pembelajaran Agama Islam..., h. 7 37

menjadi dua macam yaitu, motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.38 Dalam pengertian kegiatan pembelajaran, motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang yang erat hubungannya dengan tujuan belajar. Sementara motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar diri individu dan tidak berkaitan dengan tujuan belajar.

4) Apersepsi

Yaitu bersatunya memori lama dengan baru pada saat tertentu. Apersepsi itu penting dalam kegiatan pembelajaran untuk membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. Tujuannya agar anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru, sekaligus untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan dan keterampilan siswa.

5) Korelasi dan konsentrasi

Yang dimaksud korelasi ialah konsep belajar yang membuat hubungan/ mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan mata pelajaran lain untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran. Dengan konsep ini, konsentrasi siswa akan terbentuk dan hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Sehubungan dengan itu, guru dituntut menerapkan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. c. Aspek-aspek Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an

1) Tajwid

38

Tajwid secara bahasa berasal dari kata jawwada, yujawwidu, tajwidan yang artinya membaguskan atau membuat jadi bagus. Dalam pengertian lain membaguskan menurut lughah, tajwid dapat pula diartikan sebagai:

_(` #ﺏ "#(0Y

Segala sesuatu yang mendatangkan kebajikan.

Sedangkan pengertian tajwid menurut istilah adalah:

ﻡ P><ﻡ. ﺡ a] ﺡ @' :#b ﺏ ] ی U&

#$75Pﻥ. &(2M> #' c d (e. S._$ . f#Mg

Ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf (haqqul harf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf (mustahaqqul harf) dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum madd, dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah tarqiq, tafkhim, dan yang semisalnya.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, ruang lingkup Ilmu Tajwid secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua bagian: a) Haqqulharf ( ), yaitu segala sesuatu yang wajib ada

(lazimati) pada setiap huruf. Hak huruf meliputi sifat-sifat huruf (shifatul harf) dan tempat-tempat keluarnya huruf (makharijul harf). Apabila hak huruf ditiadakan, maka semua suara yang diucapkan tidak mungkin mengandung makna karena bunyinya menjadi tidak jelas. Begitu pun lambang suara tidak mungkin diwujudkan dalam bentuk tulisan. Contohnya ialah suara-suara alam yang sukar dipahami.

b) Mustahaqqul harf ( ), yaitu hukum-hukum baru ('aridlah) yang timbul oleh sebab-sebab tertentu setelah hak-hak huruf melekat pada setiap huruf. Hukum-hukum ini berguna untuk menjaga hak-hak huruf tersebut, makna-makna yang terkandung di dalamnya serta makna-makna yang

dikehendaki oleh setiap rangkaian huruf (lafazh). Mustahaqqul harf meliputi hukum-hukum seperti Izhhar, Ikhfa', Iqlab, Idgham, Qalqalah, Ghunnati, Tafkhfm, Tarqiq, madd, waqaf, dan lain-lain.

Al-Quran merupakan firman Allah yang agung, yang dijadikan pedoman hidup oleh seluruh kaum Muslimin. Membacanya bernilai ibadah dan mengamalkannya merupakan kewajiban yang diperintahkan dalam agama. Seorang muslim harus mampu membaca ayat-ayat al-Quran dengan baik sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw.. Inilah salah satu tujuan mempelajari Ilmu Tajwid, sebagaimana diterangkan oleh Syekh Muhammad al-Mahmud rahimahullah:

0 #ﻡ " hM "# 0 I Dی#[ i5 ﺏ >ی#e

"5 >ی#e @(+. D(PgIY Dی5 CP ﻡ

# 0 V#>' I :#b2 "#<

Tujuan (mempelajari Ilmu Tajwid) ialah agar dapat membaca ayat-ayat al-Qur’an secara betul (fasih) sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi saw., Dengan kata lain ,agar dapat memelihara lisan dari kesalahan-kesalahan ketika membaca kibat Allah Ta’ala.

Hukum mempelajari Ilmu Tajwid sebagai disiplin ilmu adalah fardu kifayah atau merupakan kewajiban kolektif. Ini artinya, mempelajari Ilmu Tajwid secara mendalam tidak diharuskan bagi setiap orang, tetapi cukup diwakili oleh beberapa orang saja. Namun, jika dalam satu kaum tidak ada seorang pun yang mempelajari Ilmu Tajwid, berdosalah kaum itu.

Adapun hukum membaca al-Quran dengan memakai aturan-aturan tajwid adalah fardu ain atau merupakan kewajiban pribadi. Membaca al-Quran sebagai sebuah ibadah haruslah

dilaksanakan sesuai ketentuan. Ketentuan itulah yang terangkum dalam Ilmu Tajwid. Dengan demikian, memakai Ilmu Tajwid dalam membaca al-Quran hukumnya wajib bagi setiap orang, tidak bisa diwakili oleh orang lain. Apabila seseorang membaca al-Quran dengan tidak memakai tajwid, hukumnya berdosa.39

2) Qiraat

Ilmu Qiraat adalah ilmu yang membahas bermacam-macam bacaan (qiraat) yang diterima dari Nabi saw. dan menjelaskan sanad serta penerimaannya dari Nabi saw.. Dalam ilmu ini, diungkapkan qiraat yang sahih dan yang tidak sahih seraya menisbatkan setiap wajah bacaannya kepada seorang Imam Qiraat.

Asal muasal terjadinya perbedaan ini adalah karena bangsa Arab dahulu mempunyai berbagai dialek bahasa (latyati) yang berbeda antara' satu kabilah dengan kabilah lainnya. Dan al-Quran yang ditu-runkan Allah swt. kepada rasul-Nya saw. menjadi semakin sempurna kemukjizatannya karena ia dapat menampung berbagai macam dialek tersebut sehingga tiap kabilah dapat membaca, menghafal, dan mema-hami wahyu Allah.

Qiraat yang bermacam-macam ini telah mantap pada masa Rasulullah saw. dan beliau mengajarkannya kepada para shahabat r.a. sebagaimana beliau menerimanya dari Jibril a.s.. Kemudian pada masa shahabat muncul para ahli bacaan al-Quran yang menjadi panutan masyarakat. Yang termasyhur di antara mereka antara lain Ubay bin Ka'b, 'Utsman bin Wfan, 'Ali bin Abi Thalib, 'Abdullah bin Mas'ud, Zaid bin Tsabit, dan Abu Musa al-Asy'ari. Mereka inilah yang menjadi sumber bacaan bagi sebagian besar shahabat dan tabi’in .

Namun dalam perkembangan selanjutnya, perbedaan qiraat ini menghadapi masalah yang serius karena munculnya banyak versi

39

Acep Iim Abdurrahim, Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap, (Bandung: Diponegoro, 2003), h. 3-6

bacaan yang semuanya mengaku bersumber dari Nabi saw.. Untuk itu dilakukanlah penelitian dan pengujian oleh para pakar qiraat dengan menggunakan kaidah dan kriteria dari segi sanad, Rasm 'Utsmani, dan tata bahasa Arab.

Setelah melalui upaya yang keras serta penelitian dan pengujian yang mendalam terhadap berbagai qiraat al-Qur’an yang banyak bereda tersebut, ternyata yang memenuhi syarat mutawatir, menurut kesepakatan para ulama, ada tujuh qiraat. Tujuh qiraat ini selanjutnya dikenal dengan sebutan Qiraat Sab'ab (bacaan yang tujuh). Qiraat Satfah ini masing-masing dibawa dan dipopulerkan oleh seorang imam qiraat, sehingga seluruhnya berjumlah tujuh orang imam qiraat. Sebagai penghargaan dan agar mudah diingat, nama-nama mereka selanjutnya diabadikan pada qiraatnya masing-masing. Contohnya: qiraat 'Ashim, qiraat Naff, qiraat Ibnu Katsir, dan seterusnya. Tetapi patut dipahami, hal ini bukan berarti bahwa merekalah yang menciptakan qiraatnya sendiri. Qiraat yang mereka anut dan gunakan tetap bersumber dari Rasulullah saw. yang diperolehnya secara talaqqi U dari generasi-generasi sebelumnya.40 3) Makhraj Huruf

Makhraj ditinjau dari morfologi berasal dari fi’il madli: yang artinya keluar. Lalu,dijadikan ber-wazan yang ber-sighat isim makan, maka menjadi . Bentuk jamaknya adalah: . Karena itu, makha-rijul huruf ( ) yang diindonesiakan menjadi makhraj huruf, artinya: tempat-tempat keluar huruf.

Secara bahasa, makhraj artinya:

j. 2 k 5ﻡ

Tempat keluar.

Sedangkan menurut istilah makhraj adalah:

] P ﻡ FX ی l= @P$ U&- 57

40

Suatu nama tempat, yang padanya huruf dibentuk (atau diucapkan). Dengan demikian, makhraj huruf adalah tempat keluarnya huruf pada waktu huruf tersebut dibunyikan.

Ketika membaca al-Quran, setiap huruf harus dibunyikan sesuai makhraj hurufnya: Kesalahan dalam pengucapan huruf atau makhraj huruf, dapat menimbulkan perbedaan makna atau kesalahan arti pada bacaan yang tengah dibaca. Dalam kondisi tertentu, kesalahan ini bahkan dapat menyebabkan kekafiran manakala seseorang melakukannya dengan sengaja dan sadar.

Contoh kesalahan dalam pengucapan makhraj huruf adalah pada ayat ! (segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam). Jika lafazh dibaca " (huruf 'ain berubah menjadi hamzati), maka artinya menjadi: segala puji bagi Allah "rajanya segaja penyakit". Contoh lainnya, lafazh # $ی pada potongan ayat:

# $ی &' ( ) (Tiada yang dapat memberi syafaat) dibaca # ی

(suara syin berubah menjadi sin), maka artinya menjadi: tiada yang dapat memberikan "tempelengan". Demikian pula bila kata *ﺵ

(bersyukur) dibaca *ﺱ, artinya berubah menjadi "mabuk".

Cara Mengetahui Makhraj Huruf

Untuk mengetahui makhraj suatu huruf, hendaklah huruf tersebut disukunkan atau ditasydidkan, kemudian tambahkan satu huruf hidup di belakangnya, lalu bacalah! Tatkala suara tertahan, maka tampaklah makhraj huruf dari huruf yang bersangkutan. Kaidah menerangkan:

@ 5 A$7 ( @)_0. 3S_X0 . ] P m<0 "

? 2ﻡ "#' f5g kb ﻥ n(PI ( og0 &ﺙ

Hendaklah kamu menyukunkan huruf atau mentasydidkannya, lalu masukkan hamzah al-washal (alif berharakat). Kemudian ucapkan

(dan dengarkan). Saat suara tertahan, maka di sanalah letak makhrajnya. 41

Contoh:

(huruf ba’) menjadi (dibaca : ab) atau (dibaca: abb) (huruf sin) menjadi - (dibaca : ab) atau (dibaca: abb) (huruf qaf) menjad . (dibaca : ab) atau (dibaca: abb)

4) Metode Imla (dikte)

Metode imla atau dikte adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan menyuruh peserta didik apa-apa yang dikatakan guru. Alat penyajian bahan yang digunakan guru dalam metode ini adalah bahasa lisan. Sedangkan alat peserta didik yang terutama dalam menyalin bahan pelajaran ialah berupa alat tulis dengan perhatian mendengarkan guru.

Manfaatnya:

a) Membenarkan dan memperbaiki bacaan siswa sebelum mereka menghafal

b) Memantapkan lisan ketika melafalkan ayat-ayat al-Qur’an secara benar dan tartil.42

d. Macam-Macam Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an Sesuai dengan kekhususan-kekhususan yang ada pada masing-masing bahan/materi pelajaran, baik sifat maupun tujuan maka diperlukan metode-metode yang berlainan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Apabila dijabarkan secara terinci, faktor-faktor yang menyebabkan banyaknya metode belajar-mengajar antara lain adalah:

1) Tujuan yang berbeda dari masing-masing pelajaran sesuai dengan sifat maupun isi meteri pelajaran masmg-masmg. Misalnya dari segi tujuan dan sifat pelajaran Tauhid yang membicarakan tentang masalah keimanan tentunya lebih bersifat p mhilosophis, daripada

41

Ibid., h. 20-21 42

mata pelajaran Fiqih yang bersifat praktis dan menekankan pada aspek keterampilan. Oleh karena itu cara penyajiannya/metode yangdipakai harus berbeda.

2) Perbedaan latar belakang individual anak, baik latar belakang kehidupan, tingkat usianya maupun tingkat kemampuan berptkintya. Oleh karena itu cara mengajar untuk tingkat perguruan tinggi tidak dapat disamakan dengan mengajar di Sekolah Dasar.

3) Perbedaan situasi dan kondisi di mana pendidikan berlangsung; dengan pengertian bahwa di samping perbedaan jenis lembaga pendidikan (sekolah) masingmasing, juga letak geografis dan perbedaan social kultural ikut menentukan metode yang dipakai oleh guru.

4) Perbedaan pribadi dan kemampuan dart para pendidik masmg-masmg. Seorang guru yang pandai menyampaikan sesuatu dengan lisan, disertai mimik, gerak lagu tekanan suara, akan lebih berhasil dengan memakai metode ceramah daripada guru lain yang karena pembawaannya dia tidak pandai berbicara dan

5) Karena adanya sarana/fasilitas yang berbeda baik dari segi ……segi kuantitasnya. Suatu sekolah yang sudah lebih lengkap peralatan sekolahnya baik sarana pergeduangan, kelas dan….metode demonstrasi dan eksperimen sarana pendidikannya.43

6) Konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

7) Kooperasi

Kooperasi diartikan belajar bersama atau belajar dalam tim. Yaitu proses pembelajaran yang berlangsung dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting karena belajar akan lebih bermakna dan anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.

8) Individualisasi

Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya. Pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan. Di sini basil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya, tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan.

43

9) Evaluasi

Evaluasi dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk

mendapatkan berbagai informasi secara berkala,

berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.

Dalam pembelajaran Al-Qur'an, metode memegang peranan yang tidak kalah penting dengan komponen-komponen lain. Metode baca dan baca Al-Qur'an adalah suatu cara atau jalan untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran Al-Qur'an. Untuk dapat membaca dan menulis Al-Qur'an seseorang harus terlebih dahulu mengenal huruf-hurufnya, karena tanpanya adalah tidak dimungkinkan bisa membaca ataupun menulis Al-Qur'an.

Pada dasarnya, metode yang digunakan dalam pembelajaran Al-Qur'an dibagi dua metodik yaitu, metodik umum dan metodik khusus. Termasuk dalam metodik umum adalah:

1) Metode Ceramah

Metode ceramah adalah suatu metode di dalam pendidikan di mana Cara menyampaikan pengertian-pengertian materi kepada anak didik dengan jalan penerangan dan penuturan secara lisan. Untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat bantu mengajar lain misalnya, gambar-gambar, peta, denah dan alat peraga lainnya".44 Demikian penjelasan Zuhairini dalam bukunya Metodik Khusus Pendidikan Agama.

Pelaksanaan metode ceramah yang wajar terletak dalam pemberian fakta atau pendapat dalam waktu yang singkat kepada jumlah pendengar yang besar dan apabila cara lain tidak mungkin ditempuh, misalnya : karena tidak adanya bahan bacaan dan atau untuk menyimpulkan dan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru.

44

Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi. Metode ini juga dipandang paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya bell dan daya paham siswa.

Namun pada kenyataannya ditemukan beberapa kelemahan metode ceramah tersebut yaitu : 1) Membuat siswa pasif. 2) Mengandung unsur paksaan siswa. 3) Menghambat daya kritis

Dokumen terkait