• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pemberian Tugas

Dalam dokumen JURNAL PENDIDIKAN SERAMBI ILMU (Halaman 37-41)

Dukungan Pemerintah Pusat

C. Metode Pemberian Tugas

Mengajar dan belajar merupakan dua hal yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan yang telah ditetapkan. Walaupun keduanya berbeda, namun mempunyai hubungan yang erat satu dengan lainnya. Mengajar berarti memberikan kepada siswa pengetahuan, keterampilan dan sikap, yang semuanya tertuang dalam satu bentuk yaitu perubahan tingkah laku pada siswanya, perubahan itu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Terjadinya proses interaksi antara guru dan siswa, sebagaimana yang dikehendaki guru, perlu metode penyampaian atau metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran. Dalam pelajaran matematika metode mengajar yang digunakan antara lain metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, demontrasi, penyelidikan dan pemberian tugas. Diharapkan seorang guru tampil menggunakan metode mengajar secara tepat agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. 1. Pengertian Metode Pemberian Tugas

Salah satu metode mengajar yang digunakan dalam pelajaran matematika Islam adalah metode pemberian tugas . Metode ini Nirwana Pohan, Ketuntasan Belajar Meningkatkan Motivasi Siswa

185

Nirwana Pohan* adalah Kepala Sekolah SD Negeri 49 Banda Aceh dilaksanakan pada akhir proses belajar

mengajar. Metode pemberian tugas (resitasi) adalah salah satu mengajar, dimana guru diberikan tugas-tugas kepada siswa dan setelah dikerjakan siswa menyerahkan kembali kepada guru untuk diperiksa (diberikan penilaian). Menurut Hamalik (1989:46) metode pemberian tugas adalah, ”Suatu cara mengajar yang dicirikan oleh adanya kegiatan perencanaan antara guru dan siswa mengenai suatu Persoalan atau problema yang harus diselesaikan serta dikuasai oleh siswa dalam jangka waktu yang disepakati bersama antara guru dan murid.”

Metode pemberian adalah sesuatu tugas yang diberikan kepada siswa, dan siswa diharapkan mengerjakan tugas tersebut. Dalam pelajaran matematika tugas itu berupa sejumlah soal yang diberikan kepada siswa sebagai pekerjaan rumah. Pada waktu yang telah disepakati, tugas tersebut harus dikumpul dan dipertanggung jawabkan oleh siswa didepan kelas.

Pengertian metode pemberian tugas secara lebih luas merupakan suatu perencanaan atau pengorganisasian bersama antara guru dan siswa mengenai suatu materi pelajaran. Perencanaan yang dilakukan bersama antara guru dan siswa mengenai suatu persoalan yang harus diselesaikan oleh siswa dalam waktu tertentu.

Dalam metode pemberian tugas hendaknya guru memberikan saran-saran dan pengarahan-pengarahan serta mengecek, apakah siswa benar-benar telah memahami apa yang harus dicapai. Kegagalan siswa dalam mengerjakan tugas adalah tanggung jawab guru dan orang tua siswa. Sehingga menyebabkan tugas yang diberikan kurang tepat diselesaikan siswa. Menurut Soejono (1981:43) menyatakan, “ Pemberian tugas sangat banyak macam, tergantung pada tujuan yang hendak dicapai seperti tugas peneliti, tugas menyusun laporan, tugas motivasi, tugas di laboratorium dan tugas-tugas lainnya.”

2. Tujuan Pemberian Tugas

Tujuan pemberian tugas kepada siswa antara lain untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan siswa, dimana informasi tersebut diperoleh dari hasil pekerjaannya. Dengan demikian guru mengetahui apakah metode mengajar yang

digunakannya tepat dan tujuan yang telah disusun dapat dicapai oleh siswa.

Dengan mengerjakan tugas siswa dapat lebih memahami konsep matematika Islam yang diberikan disekolah. Hal ini disebabkan mereka mempelajari kembali materi pelajaran tersebut sebelum mengerjakan tugas. Dalam kaitan tugas guru memeriksa dan menilai pekerjaan siswa. Kemudian semua tugas yang telah diperiksa itu dikembalikan kepada siswa, agar mereka mengetahui hasil kerjanya, dan sekaligus mengetahui dimana yang belum dikuasainya. Sehingga pada kesempatan yang lain kekurangan tersebut dapat diperbaiki. Berkenaan dengan hal itu, Arikunto (1984 : 5) mengemukakan bahwa

Dengan diadakan penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa ada dua kemungkinan :

a. Memuaskan

Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, maka hal itu ingin diperolehnya lagi dikesempatan lain waktu. Akibatnya siswa akan mempuyai motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat

b. Tidak memuaskan

Jika siswa tidak puas dengan hasil yang telah diperoleh ia akan berusaha agar lain kali keada Sebaliknya dapat terjadi. Ada beberapa siswa yang lemah kemampuannya, akan menjadi putus asa Dengan hasil kurang memuaskan yang telah diterimanya.

Berdasarkan uraian diatas diperoleh bahwa pemberian tugas akan memupuk kebiasaan siswa untuk bekerja sendiri dan memecahkan masalah yang diberikan kepadanya, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa terhadap apa yang akan dikerjakannya.

Dalam pelaksanaan pemberian tugas dapat dilakukan secara perseorangan (masing-masing siswa), kelompok kecil maupun kelompok besar. Tiap-tiap tugas materi pelajaran yang diberikan dapat berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, maupun satu masalah dipecahkan oleh masing-masing siswa atau kelompoknya. Pada akhirnya menghasilkan suatu pendapat bersama atau berbeda dapat diketahui setelah adanya evaluasi oleh guru.

186

Nirwana Pohan* adalah Kepala Sekolah SD Negeri 49 Banda Aceh 3. Fase Pemberian Tugas

a. Guru memberi tugas

Dalam memberikan tugas kepada siswa sebagai pekerjaan rumah guru perlu memeriksa soal-soal, antara lain :

Pertama, soal yang dibuat harus sesuai dengan materi pelajaran yang baru diberikan di sekolah. Hal ini dimaksud agar pengetahuan yang diperoleh disekolah dapat kembali di perdalam di rumah, dengan menyelesaikan soal-soal, seperti yang ditegaskan oleh Hudoyo (1989: 238) bahwa : “Soal untuk pekerjaan rumah harus sesuai dengan konsep yang baru diperoleh di sekolah”.

Kedua, soal harus sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang telah ditentukan, agar taraf pencapaian tujuan yang diharapkan dapat diukur.

Ketiga, soal harus disertai petunjuk yang jelas. Jadi guru harus menjelaskan hal-hal yang perlu dipelajari oleh siswa agar mereka tidak merasa bingung mengenai apa yang harus dipelajari dan bagian-bagian mana yang dipentingkan. Jika hal tersebut sudah jelas, maka perhatian mereka sewaktu belajar akan lebih terpusat pada bagian-bagian yang penting. Sebaliknya jika mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan, berarti mereka akan tidak peduli sama sekali tugas itu, hal ini ditegaskan oleh Hudoyo (1989:173) bahwa: “ Bila seseorang siswa tidak mengerti masalah yang akan diselesaikan, biasanya ia tidak lagi mempunyai perhatian terhadap masalah tersebut”.

b. Siswa melaksanakan tugas.

Berkenaan dengan tugas yang diberikan kepada siswa, siswa akan mempelajari kembali materi pelajaran yang diperoleh disekolah. Bila petunjuk tugas tersebut jelas, maka siswa akan memusatkan perhatian hal-hal yang menyangkut dengan pertanyaan soal-soal mengenai peristiwa belajar dalam menemukan penyelesaiannya. Seorang guru harus menyadari bahwa didalam suatu kelas terdapat siswa yang beragam tingkat intelektualnya. Ada siswa yang cepat menerima pelajaran dan ada pula yang sedang serta lambat. Untuk itu guru perlu memberikan bimbingan dalam mengerjakan tugas yang diberikan kepada siswa. Bimbingan guru tersebut sangat bermanfaat bagi siswa yang lambat menerima

pelajaran, karena dapat membantu mereka dalam mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya.

Bagi siswa akan merupakan kebahagiaan tersendiri jika mereka dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kepadanya. Oleh karena apa yang mereka usahakan dalam menyelesaikan soal-soal tersebut mendapat hasil dari usahanya sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Hudoyo (1989:61) bahwa:” Para siswa akan merasakan puas bila mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapi sendiri. Kepuasan intelektual ini merupakan hadiah bagi siswa tersebut”.

c. Siswa mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya

Pada waktu yang telah ditentukan, hasil kerja siswa harus dikumpulkan. Kemudian guru dapat mengajukan beberapa pertanyaan sesuai dengan soal yang telah diberikan kepada mereka. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah benar mengerjakan tugas tersebut atau hanya mencontoh hasil pekerjaan temannya.

Selain itu pertanyaan yang diajukan oleh guru setiap kali siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya akan membuat mereka usaha dengan sungguh-sungguh untuk mengerjakan tugas berikutnya. Dengan demikan dapat memupuk kebiasaan siswa untuk selalu bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya. Hal ini ditegaskan pula oleh Ruseffendi (1982:223) bahwa: “ Agar penilaian kita lebih objektif dan timbul rasa tanggung jawab dari siswa, kita perlu mengajukan beberapa pertanyaan tentang hasil tugasnya”.

Dari hasil jawaban siswa, guru dapat mengetahui apakah materi pelajaran yang diajarkan dapat dipahami oleh siswa, bagi siswa yang berhasil diberikan penghargaan misalnya dengan kata-kata pujian. Penghargaan ini pendorong baginya, dan bagi siswa salah. Guru dapat memberikan bimbingan dalam menyelesaikan soal tersebut agar siswa dapat menyelesaikan tugasnya secara benar. Kondisi seperti ini akan memupuk rasa percaya diri pada siswa. 4. Cara membuat Tugas

Sangat sedikit sekali ilmu pengetahuan yang diperoleh siswa, jika hanya Nirwana Pohan, Ketuntasan Belajar Meningkatkan Motivasi Siswa

187

Nirwana Pohan* adalah Kepala Sekolah SD Negeri 49 Banda Aceh menerima bahan pelajaran yang diberikan

guru disekolah saja. Maka untuk memperbanyak pembendaharaan, memperluas wawasan siswa, perlu menambahnya dalam bentuk menyelesikan tugas-tugas yang diberikan guru maupun soal yang ada dalam buku paket.

Dengan banyaknya mengerjakan tugas-tugas, akan mempertajam cara berfikir siswa, mengumpulkan data, bahan-bahan dan mempelajari dari berbagai sumber, menganalisa dan mengolahnya,seperti dalam membuat paper, laporan, ringkasan dan menjawab soal-soal .

Hampir setiap mata pelajaran guru memberikan sejumlah tugas kepada siswa. Ada tugas brsifat mingguan yang harus diselesaikan setip kali pertemuan, dan ada pula yang bersifat bulanan dan semesteran tergantung dari jenis dan sifat-sifat tugas itu sendiri.

Salah satunya yang belajar matematika Islam adalah harus selalu banyak latihan untuk memecahkan soal-soal. Dengan cara ini, maka pengertian siswa tentang materi terdahulu diperkuat, sementara yang baru mengerjakan banyak soal yang ada kaitanya dengan bahan yang terdahulu akan menyempurnakan pengertian siswa tentang teori yang telah dipelajari Soejono (1981: 63): “Kesempurnaan dapat dicapai dengan latihan.

Jadi dengan seringnya siswa melatih menyelesaikan tugas-tugas di luar waktu sekolah, maka dengan sendirinya jika ada soal-soal yang ada hubungannya dengan materi pelajaran yang telah diajarkan itu diharapkan mereka yang dapat mengerjakan dengan baik. Apabila ada yang kurang jelas dapat ditanya langsung kepada guru yang bersangkutan, dan tugas itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan diserahkan tepat pada waktu yang telah ditentukan oleh seorang guru.

Hindari keinginan untuk menciplak kepunyaan teman karena hal tersebut mematikan daya kreativitas dan pola berfikir. METODA PENELITIAN

A. Setting Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD N 40 Banda Aceh pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012,

mulai tanggal 1 juni 2012 sampai dengan tanggal 30 juni 2012.

2. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian adalah seluruh siswa kelas 6 SD N 40 Banda Aceh yang terdiri dari 28 orang, karena permasalahan kelas 6 ini lebih diprioritaskan dibandingkan kelas yang lain. Subjek memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda dan bervariasi (heterogen). Yang menjadi guru peneliti adalah guru SD.

3. Sumber Data dan Pengumpulan Data a. Sumber data

Sumber data pada penelitian ini adalah :

- Siswa (kelas VI yang diberikan tindakan) SD N 40 Banda Aceh.

- Guru (yang melakukan tindakan). b. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif maksudnya metode yang menggambarkan suatu kejadian pada saat peneltian ini dilakukan.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara : 1. Pada saat diterapkan metode Tanya

jawab dan pemberian tugas, menggunakan media LKS. Semua proses kegiatan Pembelajaran dicatat oleh guru pengamat

(observer).

2. Sebelum dan sesudah pembelajaran berlangsung siswa diberikan tes (tes awal dan tes akhir).

3. Selesai pembelajaran berakhir siswa diberikan format motivasi siswa, guru mengetahui secara jelas apa yang dialami oleh siswa setelah diberi tindakan guru selama PBM berlangsung (contoh format terlampir).

4. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Tes hasil belajar (produk) yaitu bentuk soal-soal yang sesuai dengan materi pembelajaran yang disajikan (bentuk soal uraian terlampir). 2. Format mengukur motivasi siswa

terhadap pembelajaran : format yang diseain oleh guru peneliti yang dilakukan dialami oleh siswa selama Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

188

Nirwana Pohan* adalah Kepala Sekolah SD Negeri 49 Banda Aceh PBM (kur SD 2004. Pedoman

khusus penilaian Berbasis kompetensi).

3. Catatan lapangan guru pengamat/peneliti hasil pengamatan lapangan (hasil observasi)

4. Lembaran kerja siswa dan kamera. Metode Pengolahan Data

Setelah semua data terkumpul, maka peneliti melakukan penelitian sebagai berikut: 1. Tes Hasil Belajar

Dianalisis dengan proporsi ketuntasan hasil belajar yaitu :

Ketuntasan belajar individu siswa bila memperoleh proporsi > 6,5, dan klasikal bila 80%.

2. Format mengukur motivasi siswa dalam matematika dianalisis dengan skala. (Kur. SD 2004).

3. Catatan lapangan digunakan untuk menambah/melengkapi informasi yang terjadi saat PBM berlangsung dan didiskripsikan dalam pengolahan data dan pembahasan hasil penelitian.

4. Kamera digunakan untuk merekam salah satu kegiatan belajar mengajar merupakan dokumen penelitian untuk memperkuat data.

6. Persiapan dan Rencana Pelaksanaan Penelitian

a. Persiapan penelitian

Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum dilakukan tindakan untuk memecahkan masalah dalam penelitian ini adalah :

 Menyusun Desain Pembelajaran (DP)  Menyusun Lembar Kerja Siswa ( LKS)  Menyusun Soal ( tes)

 Mendesain format pengamatan motivasi siswa

b. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan Penelitian tindakan kelas ini dilakukan selama 2 ( dua ) siklus, setiap siklus terdiri dari 2 kali tatap muka dengan tahap-tahap :

 Perencanaan (Planning)  Tindakan (Acting)  Pengamatan (Observating)

 Pengkajian efektivitas tindakan (Reflekting)

Selanjutnya hasil refleksi digunakan untuk mengetahui tingkat perubahan (kemajuan) dan tingkat pencapaian indikator-indikator yang telah ditetapkan, jika belum tercapai pada siklus 1, maka perlu dipikirkan rencana tindakan untuk ditindak lanjuti pada siklus berikutnya.

PELAKSANAAN DAN HASIL

PENELITIAN

Dalam dokumen JURNAL PENDIDIKAN SERAMBI ILMU (Halaman 37-41)

Dokumen terkait