• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENDIDIKAN SERAMBI ILMU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL PENDIDIKAN SERAMBI ILMU"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PENDIDIKAN

SERAMBI ILMU

ISSN 1693-4849

(Wadah Informasi Ilmiah dan Kreativitas Intelektual Pendidikan)

VOLUME 22

NOMOR 1

SEPTEMBER 2015

Pengembangan Design Pembelajaran Tematik untuk Menemukan Rumus Luas Lingkaran Di Sekolah Dasar

Aklimawati (Hal 149-156)

 Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia Terhadap Efektivitas Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Muhammad Daud (Hal 157-163)

 Analisis Materi Pendidikan Berkarakter dalam Pembelajaran Sosiologi pada SMA Kota Banda Aceh

Abubakar dan Anwar (Hal 164-173)

 Strategi Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam Penanaman Nilai Karakter Bangsa Di Kabupaten Aceh Besar

Ahkyar (Hal 174-179)

 Ketuntasan Belajar Meningkatkan Motivasi Siswa dengan Penerapan Metode Tanya Jawab dan Pemberian Tugas dalam Pembelajaran Matematika pada Salah Satu Konsep yaitu Akar Kuadrat Di Kelas 6 SD N 40 Banda Aceh

Nirwana Pohan (Hal 180-193)

 Penerapan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas IX SMP Negeri 2 Kota Banda Aceh

Maikarni (Hal 194-199)

 Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VI Ilmu Pengetahuan Alam melalui Model

Pembelajaran Interaktif pada Pokok Bahasan Konduktor dan Isolator Di Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 40 Kota Banda Aceh

Sulastri (Hal 200-210)

Diterbit Oleh

FKIP Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Jurnal

Pendidikan Serambi Ilmu

Volume 22 Nomor 1 Hal

149-210

Banda Aceh September

2015

(2)

149

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah

PENGEMBANGAN DESIGN PEMBELAJARAN TEMATIK UNTUK MENEMUKAN RUMUS LUAS LINGKARAN DI SEKOLAH DASAR

Oleh Aklimawati*

Abstrak

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki rumus-rumus serta materi pelajaran yang membutuhkan pemahaman konsep. Siswa tidak mampu memaknai simbol-simbol yang digunakan dalam suatu rumus. Apalagi jika ditanya mengapa rumus luas lingkaran adalah , siswa tidak dapat memberi jawaban sama sekali. Hal ini terjadi karena pembelajaran selama ini kurang bermakna, sehingga siswa menganggap bahwa rumus-rumus dalam matematika hanya simbol tanpa makna. Kondisi ini menyebabkan perlu upaya guru mendesign lintasan belajar yang dapat mempermudah siswa memahami materi tertentu. Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan Hypothetical Learning Trajectory (HLT) yang dapat membantu siswa memahami konsep menemukan rumus luas lingkaran. Penelitian ini melibatkan satu orang guru dan 30 siswa kelas V SD Negeri 1 Banda Aceh. Metode yang digunakan adalah metode Design Research yang dilaksanakan dua siklus yaitu pilot experiment dan teaching experiment yang masing-masing terdiri atas tiga tahap yaitu (i) Preparing for the Experiment, (ii) the Teaching Experiment, (iii) the Retrospective Analysis. Pengumpulan data penelitian menggunakan dua macam instrumen yaitu instrumen utama yang merupakan peneliti sendiri dan instrumen pendukung yang terdiri dari lembar aktivitas siswa, lembar observasi, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan HLT yang dikembangkan dapat membantu siswa menemukan rumus luas lingkaran dengan pendekatan rumus luas bangun datar lainnya seperti rumus luas persegi panjang, jajargenjang, dan segitiga.

Kata Kunci: Hypothetical Learning Trajectory (HLT), Design Research, Pemahaman Siswa, dan Lingkaran.

Pengaplikasian rumus-rumus dalam menyelesaikan permasalahan matematika menjadi penyebab mayoritas siswa menganggap bahwa matematika itu pelajaran yang sulit dan membosankan karena banyaknya simbol/lambang yang digunakan dalam rumus-rumus matematika. Meskipun penggunaan simbol/lambang diharapkan dapat memudahkan siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dituangkan dalam bentuk kalimat matematika. Penggunaan simbol dalam proses penyelesaian masalah pada pelajaran matematika biasanya kurang bermakna, siswa langsung diberi simbol tersebut untuk kemudian digunakan dalam perhitungan. Siswa tidak diberikan kesempatan untuk mengetahui darimana munculnya lambang tersebut atau nilai yang biasanya menyertai lambang tersebut.

Salah satu pokok bahasan matematika yang paling banyak menggunakan rumus

adalah goemetri. Geometri menempati posisi khusus dalam kurikulum matematika, karena banyaknya konsep-konsep yang termuat di dalamnya. Dari sudut pandang psikologi, geometri merupakan penyajian abstraksi dari pengalaman visual dan spasial, misalnya bidang, pola, pengukuran dan pemetaan. Sedangkan dari sudut pandang matematik, geometri menyediakan pendekatan-pendekatan untuk pemecahan masalah, misalnya gambar-gambar, diagram, sistem koordinat, vektor, dan transformasi (Burger & Shaughnessy, 1986).

Menurut NCTM (2000), pada dasarnya geometri mempunyai peluang yang lebih besar untuk dipahami siswa dibandingkan dengan cabang matematika yang lain karena geometri sudah dikenal oleh siswa sejak mereka belum masuk sekolah seperti garis, bidang dan ruang melalui aktivitas sehari-hari. Mengingat pentingnya geometri untuk dipelajari, sebaiknya siswa maupun guru Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

(3)

150

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah harus lebih memahami materi geometri, namun

kenyataannya siswa maupun guru masih mengalami kesulitan pada materi geometri. Hal ini sesuai dengan pendapat Fielker dalam Mariana (2008), mengungkapkan bahwa sebagian besar guru menghindari mengajar geometri. Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa sebagian besar guru menghindari mengajar geometri. Salah satu alasan yang mungkin adalah karena kebanyakan dari guru tidak memiliki pengetahuan tentang geometri. Alasan lain yang mungkin adalah bahwa geometri tidak memiliki bukti dalam kehidupan sehari-hari.

Kesulitan mempelajari geometri juga terjadi pada mahasiswa calon guru. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Jones dalam Dicky (2011), menunjukkan bahwa pengetahuan calon guru matematika mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang membutuhkan perhitungan luas, luas permukaan, dan volume. Hal ini akan terus berlanjut hingga mahasiswa calon guru menjadi guru.

Kesulitan mempelajari geometri sesuai hasil penelitian Fujita & Jones dalam dicky (2011) juga menyimpulkan bahwa guru dan calon guru tidak dapat memberikan definisi yang tepat untuk beberapa segi empat seperti trapesium dan memiliki masalah dalam mengklasifikasikan segi empat.

Selama ini, pada pembelajaran yang terjadi di kelas dan buku-buku yang digunakan siswa maupun guru cenderung diperkenalkan dengan algoritma dari berbagai bangun datar, sehingga banyak siswa menganggap tidak terdapat hubungan luas suatu bangun datar dengan bangun datar lainnya. Hal ini disebabkan karena pada saat pembelajaran siswa tidak terbiasa menemukan rumus luas dengan pendekatan bangun datar lain yang sudah dipelajarinya. Sebagai contoh siswa terbiasa menghitung luas lingkaran dengan menghafal algoritma luas lingkaran sehingga siswa tidak memiliki pemahaman bahwa luas lingkaran dapat ditemukan dengan pendekatan bangun datar lain seperti persegi panjang, segitiga sama kaki, jajargenjang, persegi, dan trapesium. Menurut Kenney & Kouba (van de Walle, 2007), kesalahan yang umum adalah bertukarnya rumus untuk keliling dan luas. Kesalahan seperti ini seringkali terjadi akibat penekanan berlebihan pada rumus-rumus tanpa latar belakang konseptual yang

mendalam. Hal ini juga dikemukakan oleh Achadiyah (2009), kesulitan siswa dalam mempelajari geometri juga terjadi pada materi keliling dan luas lingkaran. Hal ini terjadi karena siswa sekedar menerima dan menghafal rumus keliling dan luas lingkaran. Akibatnya, pengetahuan yang diperoleh siswa hanya bertahan sementara karena pengetahuan tersebut tidak dikonstruk sendiri oleh siswa.

Berdasarkan diskusi dengan guru, dari pengalamannya selama mengajar di SD Negeri 1 Banda Aceh, diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa kelas V yang mengalami kesulitan memahami rumus luas lingkaran. Jika siswa ditanya berapa luas lingkaran yang diketahui jari-jari atau diameter, siswa tidak langsung menjawab. Ada yang mengatakan lupa rumusnya dan ada yang salah menggunakan rumus. Apalagi jika ditanya mengapa rumus luas lingkaran adalah , siswa tidak dapat memberi jawaban sama sekali. Kesulitan ini sangat mempengaruhi pemahaman siswa pada materi selanjutnya, misalnya pada materi volume bangun ruang sisi lengkung.

Disnawati (2013), mengemukakan bahwa kebermaknaan konsep matematika merupakan konsep utama dari PMRI. Suatu pengetahuan akan menjadi bermakna bagi siswa jika proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan konteks atau permasalahan yang realistik. Permasalahan realistik mengandung makna bahwa masalah tersebut tidak harus selalu ada didunia nyata dalam kehidupan sehari-hari. Apabila suatu masalah dapat dibayangkan (imaginable) atau nyata (real) dalam pikiran siswa maka masalah tersebut merupakan masalah ‘realistik’. Pendekatan PMRI pun menekankan adanya penggunaan konteks sebagai starting point dalam pembelajaran matematika seperti bentuk alat musik tradisional, cerita rakyat, legenda, dan bentuk formal matematika bisa digunakan sebagai konteks atau masalah realistik.

Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran geometri khususnya menemukan rumus luas lingkaran di sekolah yaitu mengajarkan matematika dengan menggunakan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). PMRI merupakan adaptasi pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) di Belanda yang dikembangkan oleh Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

(4)

151

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah Institut Freudenthal pada tahun 1971 yang

merupakan buah pemikiran Hans Freudenthal (1991) yang memandang “mathematics is a human activity”. Freudenthal berkeyakinan bahwa siswa bukanlah sekedar penerima yang pasif terhadap materi matematika yang siap saji, tetapi siswa perlu diberi kesempatan untuk menemukan (reinvent) kembali konsep matematika melalui aktivitas yang mereka alami sendiri. Siswa harus diberi kesempatan untuk membangun pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri melalui penggunaan situasi nyata yang bermakna sehingga menjadi sumber belajar.Jadi, dalam hal ini pembelajaran berpusat pada siswa (student center learning) dan guru hanya sebagai fasilitator. Oleh karena itu fokus pendidikan matematika bukan hanya pada hasil, tetapi juga cara memperoleh hasil (Johar, 2001:11).

Dalam merancang kegiatan pembelajaran di kelas untuk menemukan rumus luas lingkaran, guru harus mempunyai dugaan atau hipotesis dan mampu mempertimbangkan reaksi siswa untuk setiap tahap lintasan belajar terhadap tujuan pembelajaran yang dilaksanakan. Freudenthal (Grameijer & Eerde, 2009), menjelaskan bahwa siswa diberikan kesempatan untuk membangun dan mengembangkan ide dan pemikiran mereka ketika mengkonstruksikan matematika. Guru dapat memilih aktivitas pembelajaran yang sesuai sebagai dasar untuk merangsang siswa berpikir dan bertindak ketika mengkonstruksikan konsep matematika tersebut.

Dalam proses aktivitas tersebut guru harus mengantisipasi aktivitas mental apa saja yang muncul dari siswa dengan tetap memperhatikan tujuan pembelajaran. Prediksi dan antisipasi yang dilakukan tersebut disebut Hypothetical Learning Trajectory (HLT) (Simon, 1995). HLT merupakan suatu hipotesa atau prediksi bagaimana pemikiran dan pemahaman siswa berkembang dalam aktivitas pembelajaran.

Salah satu benda konkret yang menjadi konteks dalam penelitian ini adalah alat musik Rapa’i. Alat musik Rapa’i sudah dikenal dan paling dekat dengan siswa karena permainan Rapa’i merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler SD negeri 1 Banda Aceh. Rapa’i merupakan alat musik yang masih identik dengan masyarakat Aceh

hingga kini. Rapa’i dapat juga diartikan sebagai salah satu nama untuk instrumen musik pukul (sejenis gendang) yang terbuat dari kayu Tualang atau kayu Merbau, sedangkan membrannya berbentuk lingkaran terbuat dari kulit kambing yang sudah diolah sedemikian rupa dan di sekelilingnya dililitkan rotan. Permainan alat musik rapa’i telah dikenal siswa sebelumnya, sehingga bentuk alat musik rapa’i ini dapat diintegrasikan dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi keliling dan luas lingkaran.

Pembelajaran tematik dimaknai sebagai pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu (Trianto, 2009:98). Dalam pembahasannya tema ditinjau dari berbagai mata pelajaran, sebagai contoh tema “Ekosistem” yang diterapkan dalam penelitian ini mengaitkan matapelajaran matematika, PKn, IPS, IPA, Bahasa Indonesia, dan PJOK. Pembelajaran matematika pada penelitian ini tepatnya pada materi kelliling dan luas lingkaran.

Berdasarkan tuntutan kurikulum 2013 bagi guru harus kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi siswa, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, dan menyenangkan. Selain itu materi belajar hendaknya tidak hanya bersumber dari buku teks, namun diperkaya dengan buku bacaan yang sesuai dengan tema yang dikembangkan.Untuk itu perlu dikembangkan teori lokal yang memuat lintasan belajar siswa dalam pembelajaran untuk memahami materi geometri yaitu pada materi menemukan rumus luas lingkaran siswa kelas V Sekolah Dasar. Dengan demikian, fokus utama dalam penelitian ini adalah mengembangkan Hypothetical Learning Trajectory (HLT) yang dapat membantu siswa memahami konsep menemukan rumus luas lingkaran. HLT yang desain bertujuan mempermudah penyampaian bahan ajar agar dapat dipahami dengan baik oleh siswa.

HLT tersebut kemudian diujicobakan dalam pembelajaran di kelas dan dianalisis berulang-ulang baik untuk tiap satu aktivitas pembelajaran maupun keseluruhan rangkaian hipotesis hingga tujuan pembelajaran tercapai. HLT pada siklus yang telah mencapai tujuan pembelajaran, selanjutnya dianalisis kembali Aklimawati, Pengembangan Design Pembelajaran Tematik

(5)

152

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah untuk selanjutnya dapat digunakan untuk

kebutuhan yang lebih luas. METODA PENELITIAN

Penelitian ini mendeskripsikan ujicoba HLT menemukan rumus luas lingkaran. Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan pada hari Selasa, 3 Juni 2015, di kelas V(B) SDN 1 Banda Aceh. Siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran ini berjumlah 30 siswa. Langkah pembelajaran dikembangkan berdasarkan kajian teoretis yang memperhatikan prinsip dasar dan karakteristik dalam pembelajaran dengan teori pendekatan matematika realistik. Langkah-langkah pembelajaran dibuat dengan tujuan memudahkan guru dalam proses belajar mengajar agar menjadi pembelajaran yang lebih sistematis dan bermakna sesuai dengan teori yang dianut. Namun demikian langkah tersebut tidak membatasi gerak guru melainkan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dikelas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Aktivitas pertama diawali dengan melukis benda berbentuk lingkaran, memotong lingkaan menjadi bagian yang sama besar, menyusun potongan juring lingkaran membentuk bangun datar lain yang sudah dipelajari dan menentukan rumus luas lingkaran dengan pendekatan bangun datar lain yang sudah dipelajari. Aktivitas ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mengetahui cara memotong lingkaran menjadi bagian yang sama besar, mengetahui cara menyusun potongan lingkaran menjadi bangun datar lain dan menemukan rumus luas lingkaran. Di samping itu aktivitas ini juga mengaitkan antara pengetahuan sebelumnya tentang menghitung luas bangun datar lain dengan materi yang akan dipelajari. Hal ini sesuai dengan karakteristik dari pendidikan matematika realistik yaitu intertwining atau keterkaitan antara konsep dalam matematika.

Deskripsi aktivitas, guru memulai aktivitas pembelajaran dengan mengaitkan tema ekosistem pada materi keliling dan luas lingkaran. Upaya yang dilakukan guru dengan bertanyajawab tentang definisi ekosistem dan salah satu komponen ekosistem alam/biotik yang sudah dipelajari sebelumnya yaitu sapi dan kambing. Sapi dan kambing banyak manfaatnya untuk manusia. Guru meminta

seorang siswa menyebutkan apa saja manfaat sapi untuk manusia. beberapa siswa menunjukkan tangan dan menyebutkan beberapa manfaat sapi untuk manusia. Kemudian guru menunjukkan beberapa gambar yang memperlihatkan manfaat dari sapi seperti yang sudah disebutkan siswa-siswanya. Salah satu yang disebutkan siswa tersebut adalah kulit sapi dapat dimanfaatkan untuk membuat rapa’i, guru menunjukkan rapa’i yang terdapat di kelas tersebut dan menanyakan bagaimana cara menghitung luas kulit sapi yang digunakan untuk membuat rapa’i tersebut. Berikut cuplikan tanggapan guru terhadap siswa tersebut.

Guru : Bagaimanakah menghitung luas kulit yang diperlukan untuk membuatrapa’i?

Siswa : Dengan menggunakan rumus luas lingkaran bu?

Guru : Adakah dari anak ibu yang mengetahui apa rumusnya? RF : Tidak tahu bu.

Guru : Mari kita sama-sama menemukan rumus luas lingkaran, tapi sebelumnya ibu ingin mengetahui apakah anak-anak ibu masih mengingat rumus keliling lingkaran?

Siswa : (Dengan serempak menjawab), masih, × bu.

Guru : Kalau yang diketahui jari-jari lingkaran?

RF : 2 × × bu.

Guru : Iya, RF benar, sekarang kita akan melanjutkan pembelajaran menemukan rumus luas lingkaran. Guru mengingatkan siswa kembali bahwa setiap bangun datar yang sudah dipelajari memiliki keterkaitan seperti halnya ekosistem yang saling berhubungan satu sama lainya, begitu juga bangun datar persegi dengan lingkaran yang saling berkaitan dalam menemukan rumus luas lingkaran dibutuhkan rumus luas bangun datar lain. Kemudian guru memberikan kesempatan siswa untuk memilih tiga kertas transparan untuk membantu siswa menemukan luas lingkaran. Berikut tiga model kertas transparan yang peneliti gunakan saat melakukan untuk membangkitkan motivasi siswa dalam menemukan rumus luas lingkaran.

(6)

153

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah

Gambar 1. Kertas transparan yang digunakan untuk menemukan rumus luas

Setelah semua kelompok selesai memilih kertas transparan tersebut guru mengajukan pertanyaan untuk mengetahui alasan siswa memilih kertas transparan tersebut. Berikut cuplikan tanggapan siswa terhadap pertanyaan guru.

Guru : Kertas transparan yang mana yang kalian pilih?

DH : (Perwakilan kelompok 1), kami memilih kertas transparan yang berbentuk persegi satuan bu. Guru : Tolong berikan alasanya mengapa

memilih kertas transparan tersebut.

DH : Karena biasanya kami

mengunakan persegi satuan untuk menemukan rumus luas bangun datar yang lain bu.

Guru : Coba perhatikan jika menggunakan kertas berpetak satuan masih adakah celah RF : Masih bu

Guru : bolehkah menghitung luas bangun datar dengan tidak menghitung bagian yang bercelah

Siswa : tidak boleh bu.

Guru : iya pintar anak ibu, tapi coba anak ibu perhatikan jika bentuk lingkaran semakin besar, masih bisakah anak ibu menutupinya dengan kertas transparan yang tersedia?

MD : Kalau lingkarannya semakin luas harus pakai rumus bu

Guru : Iya MD benar, untuk menemukan luas lingkaran terlebih dahulu menemukan rumus luas lingkaran. Guru memberikan kesimpulan bahwa untuk menghitung luas lingkaran diperlukan rumus luas lingkaran. Sehingga guru meminta siswa melakukan percobaan dengan menggunting lingkaran menjadi bagian yang sama besar dan menyusunnya membentuk bangun datar lain yang sudah dipelajari rumus luasnya. Guru meminta siswa mempresentasikan hasil kerja setiap kelompok. Hal ini dilakukan agar kelompok yang menyusun bangun datar yang berbeda-beda tetap dapat memahami cara penyusunan kelompok lain. Setiap kelompok terlihat antusias dalam mengunting dan menempel hasil kerja mereka pada karton yang sudah disediakan guru. Mereka saling berbagi tugas dan mendiskusikan bagaimana bentuk bangun datar yang akan dibentuk. Pada kegiatan menyusun bangun datar dari potongan lingkaran, terdapat dua kelompok yang menemukan kesulitan. Mereka kesulitan dengan mengatur posisi potongan lingkaran hingga hasil kerja mereka tidak membentuk bangun datar yang beraturan. Kelompok tersebut terpaksa untuk melepaskan potongan-potongan tersebut kembali. Kegiatan ini menuntut kreativitas dan kerja sama sesama anggota kelompok. Dari lima kelompok yang ada terdapat tiga macam bangun datar yang terbentuk. Berikut gambar hasil kerja siswa dalam menyusun juring-juring lingkaran tersebut.

(7)

154

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah

Gambar 2. Hasil kerja beberapa kelompok dalam menyusun juring lingkaran Setelah setiap kelompok selesai membentuk

bangun datar dari potongan lingkaran, guru membantu siswa dalam menemukan rumus luas lingkaran. Guru mengawalinya dengan menanyakan bagaimana sisi alas dari bangun datar yang sudah dibentuk siswa. Pada awalnya siswa kebingungan dalam mengaitkannya dengan bagian pada lingkaran. Guru membimbing siswa dengan mengingatkan bahwa pada bagain sisi alas bangun datar yang terbentuk merupakan bagian dari keliling lingkaran. Guru meminta siswa untuk melepaskan kembali bagian alas bangun yang sudah dibentuknya dan menyusunnya kembali menjadi lingkaran, kemudian guru meminta siswa memperhatikan berapa bagian lingkaran yang terbentuk. Pada tahapan ini kelompok yang berhasil menyusun bangun datar segitiga menemukan alas bangun segitiga sama dengan seperempat bagian keliling lingkaran, sedangkan kelompok lain menemukan setengah bagian keliling lingkaran. Setelah itu guru melanjutkan dengan

memberikan pertanyaan mengenai tinggi atau lebar pada bangun datar yang terbentuk. Guru meminta siswa menunjukkan bagian yang disebut jari-jari dari potongan juring lingkaran, kemudian guru mengaitkannya dengan tinggi bangun datar yang terbentuk. Pertanyaan guru mampu membuat siswa memahami bahwa tinggi dari bangun datar yang terbentuk merupakan jari-jari lingkaran. Setelah siswa memahami hubungan antara bangun datar yang terbentuk dan bagian lingkaran, siswa diminta untuk menemukan rumus luas lingkaran berdasarkan rumus luas bangun datar tersebut. Guru mengunjungi setiap kelompok untuk memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan. Setelah semua kelompok selesai dalam menemukan rumus luas lingkaran, kegiatan selanjutnya adalah memajang hasil pekerjaan siswa di papan tulis dan mempresentasikannya. Berikut hasil kerja siswa dalam mengaitkan hubungan luas bangun datar jajargenjang dengan luas lingkaran.

Gambar 3. Hasil kelompok yang menyusun juring lingkaran membentuk jajargenjang Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

(8)

155

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah Mengakhir pembelajaran guru

menanyakan hal baru yang diperoleh siswa saat belajar, dan guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran. Kemudian guru memberikan penilaian terhadap cara siswa mengemukakan pendapat dalam bekerja sama. Guru memilih kelompok yang diberikan nilai tertinggi dan memberikan mereka penghargaan.

Restrospective Analysis dilakukan setelah mengimplementasikan desain pembelajaran yang telah dirancang, peneliti dan guru yang bersangkutan melakukan refleksi. Secara umum proses belajar mengajar berlangsung dengan baik. Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Siswa terlihat antusias dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diminta oleh guru. Namun ada beberapa hal yang perlu dianalisis sebagai bahan pertimbangan untuk dapat lebih baik kedepannya. Pada kegiatan menemukan luas lingkaran dengan pendekatan bangun datar segitiga, masih terdapat kelompok yang mengalami kesulitan dikarenakan kelompok tersebut salah menuliskan rumus luas segitiga. SIMPULAN

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendidikan matematika realistik dapat meningkatkan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan pola pikirnya. Selama proses pembelajaran siswa melaksanakan semua aktivitas yang diminta guru dengan baik. Rumus-rumus yang biasanya hanya langsung diberikan oleh guru kepada mereka sebenarnya berasal dari fenomena yang terjadi di dunia nyata dan dapat dipelajari bagaimana cara menemukannya.

Saran

1. Guru diharapkan lebih mengembangkan pendidikan matematika realistik dalam proses pembelajaran matematika agar siswa-siswa lebih aktif dan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan bagi siswa. 2. Memperhatikan konteks atau situasi

masalah seideal mungkin dalam membuka pelajaran baik melalui cerita maupun pengajuan masalah untuk membuat pondasi yang jelas dan dipahami siswa dengan baik.

3. Memberikan perhatian yang cukup kepada siswa sebagai upaya untuk menjembatani

keterbatasan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan konsep yang akan dicapai mengingat geometri merupakan salah satu materi yang sangat abstrak bagi siswa sekolah dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Achadiyah, Nur. (2009). Pembelajaran Keliling dan Luas Lingkaran dengan Strategi REACT pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 6 Kota Mojokerto. Makalah Disampaikan pada Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY pada tanggal 5 Desember 2009.

Burger, W. F & Shaughnessy, J. M. (1986). Characterizing the van Hiele Levels of Development in Geometry. Journal for Research in Mathematics Education. 17(1): 31-48.

Dicky, (2011). Indonesian Primary Teachers’

Mathematical Knowledge for TeachingGeometry: Implications for Educational Policy and Teacher PreparationPrograms. Asia-Pacific Journal of Teacher EducationVol. 39, No. 2, May 2011, 151–164

Disnawati, (2013). Desain Pembelajaran Bangun Datar Segi Empat Menggunakan Konteks Cak Ingkling Matematika di Sekolah Dasar. Tesis. Universitas Sriwijaya. Tidak diterbitkan.

Freudenthal, Hans. (1983). Didactical Phenomenology of Mathematical Structures. Dordrecht: Reidel. Gravemeijer, K. & Van Eerde, D. (2009).

Design Research as a Means for Building a Knowledge Base for Teachers and Teaching in Mathematics Education. The Elementary School Journal. Vol. 109 (5), pp. 510-524.

Johar, R. (2001).Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. JICA Jurusan Pendidikan FMIPA Universitas Negeri Malang.

Mariana, N. (2008). Design Research in Geometry Education Developing Spatial Ability in Young Children. Netherlands: Freudenthal Institute. NCTM.(2000). Principles and Standar for

Scholl Matematics. USA: NCTM. Aklimawati, Pengembangan Design Pembelajaran Tematik

(9)

156

Aklimawati, S.Pd, M.Pd* adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah Simon, Martin. (2004). Explicating the Role of

Mathematical Tasks in Conceptial Learning: An Elaboration of the Hypothetical Learning Trajectory. Penn State University.

Trianto. (2009). Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik.Prestasi Pustaka: Jakarta.

Van De Walle, John A. (2007). Matematika Sekolah Dasar dan Menengah Pengembangan Pengajaran. Jilid 2. Erlangga: Jakarta.

(10)

157

Muhammad Daud, S.Sos, M.Si*adalah dosen FISIP Universitas Terbuka

PENGARUH KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP EFEKTIVITAS ORGANISASI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

Oleh Muhammad Daud* Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengakaji pengaruh kualitas sumber daya manusia terhadap efektifitas organisasi pada Bappeda Kota Banda Aceh, khususnya pengaruh pendidikan, pengalaman, dan kemampuan pegawai, serta mengkaji teori-teori yang dipergunakan dalam penelitian yang berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia dan efektifitas organisasi. Bertempat di Bappeda Kota Banda Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey eksplanatory. Popilasi penelitian ini adalah pada Bapeda Kota Banda Aceh. Dalam hubungannya dengan ini maka yang menjadi popolasi sasaran seluruh pegawai negeri sipil yang bekerja pada lingkungan Bappeda Kota Banda Aceh yang berjumlah 47 orang. Dari jumlah tersebut secara sensus semuanya dijadikan responden. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara dan angket/daftar pertanyaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Path Analiysis (analisis Jalur). Berdasarkan Hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan (korelasi) yang positif dan pengaruh yang sangat nyata kualitas sumber daya manusia maka semakin efektif organisasi Bappeda Kota Banda Aceh, berarti bahwa semakin tinggi kualitas sumber daya manusia maka semakin efektif organisasi Bappeda Kota Banda Aceh. Secara simultan ketiga komponen sumber daya manusia (tingkat pendidikan, pengalaman, kemampuan) mampu mempengaruhi efektifitas Bappeda Kota Banda Aceh. Secara Mandiri komponen tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap efektifitas organisasi Bappeda Kota Banda Aceh, dibandingkan komponen pengalaman dan kemampuan.

Kata Kunci: Kualitas, SDM, Organisasi, Pendidikan, Pengalaman, Kemampuan, Pegawai.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pembanguan nasional merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan pembangunan suatu daerah. Di Indonesia pembangunan daerah ini dirasakan sangat penting, karena pada dasarnya pembangunan daerah merupakan proses untuk meratakan pembangunan dan hasil-hasilnya keseluruh pelosok tanah air. Pada hakikatnya pembangunan terdapat unsur pertumbuhan, perubahan menuju ke keadaan yang diinginkan dan selanjutnya akan menuju kearah modernisasi. Dengan modernisasi, maka pemerintah dan masyarakat akan semakin termotivasi untuk mencapai kehidupan yang lebih layak. Untuk mencapai hal tersebut perlu adanya upaya berupa strategi atau kebijaksanaan yang tepat sehingga apa yang diinginkan pemerintah dan masyarakat terwujud. Dengan kata lain pembangunan dalam prosesnya harus bergerak menuju suatu

masyarakat lebih layak, lebih adil dan lebih merata. Dengan demikian pemerintah harus melakukan intervensi dalam menerapkan model kesamarataan dalam pembangunan sehingga memberikan peluang terhadap berbagai unsur pembangunan untuk selanjutnya berperan aktif dalam kegiatan pembangunan.

Selanjutnya dalam UU No. 32 tahun 2004 dinyatakan bahwa setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. Kepala Daerah untuk provinsi disebut Gubernur, untuk kabupaten disebut Bupati, dan untuk kota disebut Walikota. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Perencanaan pembangunan daerah disusun oleh pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

(11)

158

Muhammad Daud, S.Sos, M.Si*adalah dosen FISIP Universitas Terbuka Pembangunan Daerah.

Penyusunan perencanaan

pembangunan di daerah pada dasarnya berpedoman kepada komponen perencanaan pembangunan daerah dalam repelita. Dalam penyusunan perencanaan tersebut dilakukan upaya kearah pembinaan perencanaan dari bawah keatas dan sebaiknya dari atas ke bawah melalui tahap-tahap penyusunan semua tingkatan pemerintahan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten atau kota, propinsi, regional sampai nasional dan sebaliknya dari pusat sampai ke pedesaan. Menurut observasi awal penulis terhadap Bappeda Aceh masih adanya ketidak sesuaian antara tujuan yang ingin dicapai organisasi dengan rencana yang ditetapkan, seperti adanya perancanaan proyek pembangunan yang tidak terealisasi, hal ini disebabkan oleh kurangnya koordinasi antara perencanaan proyek pembangunan dari daerah kecamatan dan kotamadya. Selain itu jumlah hasil kerja yang ingin dicapai juga belum optimal dan kemampuan didalam menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepada personil masih sangat terasa lambat. Sementara itu efisiensi organisasi juga masih harus dibenahi, hal ini dapat dilihat dari kemampuan organisasi didalam memanfaatkan tenaga personil yang ada dan masih banyaknya waktu pegawai yang kurang dimanfaatkan sehingga hal ini menyebabkan kurangnya keefektivan organisasi Bappeda selama ini B. Identifikasi dan Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan seperti yang telah di uraikan, maka pernyataan permasalahan (problem statement) yang diajukan dalam penelitian ini adalah efektivitas organisasi di Bappeda Kota Banda Aceh masih rendah. Kualitas sumber daya manusia masih belum memadai. Kualitas sumber daya manusia di Bappeda Kota Banda Aceh akan diukur melalui tiga dimensi: pendidikan, pengalaman dan kemampuan (Thoha, 1988:316), guna mempengaruhi dimensi efektivitas organisasi.

Berdasarkan problem statement tersebut, maka research question akan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Adakah pengaruh kualitas sumber daya manusia (terdiri dari tiga dimensi yaitu pendidikan, pengalaman dan kemampuan). terhadap efektivitas organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Banda Aceh.

C. Maksud Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai fenomena-fenomena tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia serta pengaruhnya terhadap efektivitas organisasi pada Badan Perencanaan Daerah Kota Banda Aceh.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian yang akan dicapai adalah : Menganalisis dan mengkaji pengaruh kualitas sumber daya manusia terhadap efektivitas organisasi pada Bappeda Kota Banda Aceh.

E. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini pada dasarnya mempunyai kegunaan dilihat dari:

1. Kegunaan akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi media untuk mengaplikasi dan mengembangkan teori yang berkaitan dengan objek penelitian, yaitu pengaruh kualitas sumber daya manusia yang meliputi; pendidikan, pengalaman, dan kemampuan terhadap efektifitas organisasi pada Bappeda Kota Banda Aceh.

2. Kegunaan praktis

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi Pemerintah Kota Banda Aceh dalam rangka memberikan informasi yang obyektif untuk menyusun rencana pembangunan daerah

KAJIAN PUSTAKA

A. Kualitas Sumber Daya Manusia

Kualitas pegawai dari organisasi perencanaan pembangunan daerah akan menjanjikan kekuatan dalam menghasilkan rencana yang baik. Untuk memahami pengertian kualitas, sampai akhirya menuju kepada kemampuan aparat perencana, beberapa konsep diantaranya menurut Katz dan Rosen weigh (1970 : 220) kemampuan adalah : "to mobolize, allocate, and combine the action that one technically needed to achieve development objectives" (mengerahkan, menyediakan dan menyatukan berbagai tindakan yang secara teknis dibutuhkan guna mencapai tujuan pembangunan). Seseorang akan mampu Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

(12)

159

Muhammad Daud, S.Sos, M.Si*adalah dosen FISIP Universitas Terbuka melakukan suatu tindakan apabila memang ada

kekuasaan untuk mengerahkan atau menggerakkan. Tentunya ini berkaitan dengan potensi yang dimiliki oleh personal atau pribadi itu dan ini dapat dilihat pendapat Thoha (1988 : 316) yaitu kemampuan yang merupakan salah satu unsur dalam kematangan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan, latihan dan pengalaman. Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Katz dan Rosenweigh (1970: 222) bahwa kemampuan tergantung pada keterampilan dan pengetahuan (ability depends upon both skill and knowledge). Dua unsur yaitu pengetahuan dan keterampilan merupakan determinan dari kemampuan yang diperoleh dari pendidikan formal, informal dan non formal yang dapat menunjang peningkatan kecakapan.

B. Efektivitas Organisasi

Suatu organisasi dapat dikatakan berhasil atau efektif apabila organisasi tersebut dapat mencapai tujuannya. Konsep efektivitas sesungguhnya merupakan suatu konsep yang luas, mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar organisasi. Tampaknya konsep efektivitas ini oleh para pakar belum ada keseragaman pandangan, dan hal tersebut disebabkan karena sudut pandang yang dilakukan dengan pendekatan disiplin ilmu yang berbeda, sehingga melahirkan konsep yang berbeda pula. Hal tersebut akan berbeda pula di dalam pengukurannya.

Dalam suatu organisasi menuntut adanya kebutuhan untuk mengkoordinasikan pola interaksi para anggota organisasi secara formal. Untuk itu diperlukan sekali struktur organisasi. Dengan adanya struktur organisasi, maka akan ada pembagian tugas, mekanisme organisasi yang formal serta pola interaksi yang akan diikuti. Secara umum dibentuknya suatu organisasi secara sadar adalah untuk mencapai tujuan tertentu, agar organisasi itu dapat berjalan secara efektif maka harus didasari dengan perhitungan yang rasional. Menurut Ndraha (1997:54) rasional adalah usaha didasarkan pertimbangan untung - rugi dan baik - buruk. Indikator rasionalitas adalah efektif, ekpedien dan efesien. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa efektifitas organisasi dapat diartikan sebagai pencapaian tujuan sesuai denga rencana yang dibuat berdasarkan kebijaksanaan organisasi.

Efektivitas organisasi juga dapat diartikan sebagai pencapaian tujuan sesuai dengan rencana yang dibuat berdasarkan kebijaksanaan organisasi. Efektivitas organisasi dapat dilihat sejauh mana organisasi melaksanakan seluruh tugas pokoknya atau mencapai semua sasaran. Adapun yang menjadi tolak ukur efektivitas dalam penelitian ini yaitu: adanya target, produktivitas dan efisiensi.

METODA PENELITIAN

Metoda penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey eksplanatory. Pendekatan explanatory menurut Rusidi (1992:24) merupakan penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis dengan cara mendasarkan pada pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah variabel kualitas sumber daya manusia terhadap efektivitas organisasi, dan subjek penelitian ini adalah pegawai yang bekerja dilingkungan Bappeda Kota Banda Aceh.

Dengan pendekatan ini akan diperolah informasi yang lengkap mengenai masalah-masalah yang akan teliti, sehingga dapat digambarkan masalah-masalah yang akan dihadapi dalam birokrasi pemerintahan khususnya mengenai pengaruh

kualitas sumber daya manusia terhadap efektivitas organisasi Badan Perencanan Pembangunan daerah Kota Banda Aceh.

Untuk menunjang informasi-informasi tersebut akan dilakukan penyebaran angket terhadap pegawai pada Bappeda Kota Banda Aceh yang dijadikan objek dalam penelitian ini. Pemilihan teknik angket dalam pengumpulan data pada penelitian ini di dasarkan atas kecendrungan penelitian administrasi negara yang mencoba mengungkap data seobjektif mungkin melalui penelitian empirik.

Sebagai pelengkap guna memperoleh gambaran mengenai masalah yang diteliti, peneliti juga mengadakan studi dokumentasi dan studi kepustakaan untuk memperolah informasi-informasi lain terutama berupa data sekunder sebagai data pendukung.

A. Populasi dan Responden Penelitian Populasi penelitian ini adalah pegawai pada Bappeda Kota Banda Aceh. Dalam Muhammad Daud, Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia

(13)

160

Muhammad Daud, S.Sos, M.Si*adalah dosen FISIP Universitas Terbuka hubungannya dengan ini maka yang menjadi

populasi sasaran seluruh pegawai negeri sipil yang bekerja pada lingkungan Bappeda Kota Banda Aceh yang berjumlah 47 orang. Dari jumlah tersebut secara sensus semuanya dijadikan responden.

B. Analisis Data

Dalam suatu penelitian kesahihan (validitas) dan kehandalan (reliabilitas) suatu hasil penelitian tergantung pada alat pengukur (instrument) yang digunakan dan data yang diperoleh. Jika alat ukur yang digunakan tersebut tidak sahih dan tidak andal maka hasilnya tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Untuk itu diperlukan dua macam pengujian yaitu tes kesahihan (test of validity) dan tes kehandalan (test of reliability). 1. Uji Kesahihan atau Validitas (validity)

Uji validitas dilakukan untuk mengukur pernyataan yang ada dalam kuisioner. Suatu

pernyataan dianggap sahih jika pernyataan tersebut mampu mengungkapkan apa yang diungkapkan atau apa yang ingin diukur. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiono (1999 : 109) instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan masing-masing pernyataan dengan jumlah skor untuk masing-masing variabel. Secara statistik angka korelasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan angka kritikal tabel korelasi nilai r. Teknik korelasi yang digunakan adalah teknik korelasi Product Moment Djamaluddin Ancok (dalam Masri Singarimbun dan Sofyan, 1995 : 137) dengan rumus sebagai berikut:

Setelah angka korelasi diketahui, kemudian dihitung nilai t dari r dengan rumus sebagai berikut:

Setelah itu dibandingkan dengan kritiknya. Bila r hitung > r tabel data tersebut signifikan (valid) dan layak digunakan dalam pengujian hipotesis penelitian. Sebaliknya bila r hitung < r tabel berarti data tersebut tidak signifikan (tidak valid) dan tidak akan diikutsertakan dalam pengujian hipotesis penelitian.

2. Uji Keandalan atau Reliabilitas (reliability)

Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah alat pengumpul data pada dasarnya menunjukkan tingkat ketepatan, keakuratan, kestabilan, atau konsistensi alat tersebut dalam mengungkapkan gejala tertentu dari sekelompok individu, walaupun dilakukan terhadap pernyataan-pernyataan yang sudah

valid, untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran kembali terhadap gejala yang sama. Menurut Sugiono (1999 : 110), menyatakan instrumen yang valid adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Uji ini dilakukan dengan menggunakan teknik belah dua dari Spearman Brown (Split-hallf), yang langkah-langkah kerjanya sebagai berikut: a. Membagi pernyataan-pernyataan

menjadi dua belah

b. Skor untuk masing-masing pernyataan pada tiap belahan dijumlahkan, sehingga menghasilkan dua skor total untuk masing-masing responden. c. Mengkorelasikan skor total belahan

pertama dengan belahan kedua, dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment.

d. Angka korelasi yang diperoleh adalah angka korelasi dari alat pengukur yang dibelah (split-hallf), maka angka korelasi yang lebih rendah dari pada angka yang diperoleh jika alat ukur itu

=

− (∑ )(∑ )

− (∑ )

− (∑ )

√ − 2

√1 −

(14)

161

Muhammad Daud, S.Sos, M.Si*adalah dosen FISIP Universitas Terbuka tidak dibelah, seperti pada teknik

test-retest. Oleh karena itu dicari angka reliabilitasnya untuk keseluruhan item tanpa dibelah dengan rumus Spearman Brown.

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Wilayah Kota Banda Aceh

Kota Banda Aceh sebagai ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki luas wilayah 61,36 km. Terletak 05.30° -05.35° Lintang Utara dan 95.30° - 09.16° Bujur Timur. Batas-batas daerah meliputi sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar, sebelah Barat dengan Samudera Indonesia, dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar.

Ciri-ciri demografi selama empat kali pelaksanaan sensus penduduk menggambarkan rata-rata pertumbuhan penduduk antara periode yang berfluktuasi. Rata-rata laju pertumbuhan relatif meningkat setiap tahun. Berdasarkan jenis kelamin, data statistik tahun 2003 menunjukkan bahwa penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang berjenis kelamin perempuan, yaitu 119.627 dan 115.896.

Dengan adanya globalisasi ekonomi, akan menempatkan Kota Banda Aceh sebagai ibukota propinsi yang lebih aktif dalam berhubungan baik regional maupun internasional. Jika pada saat ini Banda Aceh berperan sebagai pusat kegiatan ekonomi, budaya, politik, maka dalam era globalisasi ini, Kota Banda Aceh akan menjadi salah satu simpul terpenting di antara simpuil-simpul kegiatan ekonomi di kawasan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, walaupun diketahui bahwa saat ini masih dalam tahap rekonstruksi sebagai akibat bencana alam gempa bumi dan tsunami.

B. Analisis Deskriptif Variabel Kualitas SDM

Dalam variabel kualitas SDM ini terdiri dari 3 (tiga) dimensi yaitu pendidikan, pengalaman dan kemampuan. Ketiga dimensi dioperasionalkan kepada 14 item pertanyaan.

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 11.5, jawaban responden terhadap dimensi pendidikan secara keseluruhan menunjukkan bahwa proporsi

tertinggi terdapat pada skor 4 (empat) kategori setuju dengan rata-rata 58,71%, proporsi tertinggi kedua terdapat pada skor 3 (tiga) kategori ragu-ragu dengan rata-rata 19,86%. Data ini memberikan indikasi bahwa dimensi pendidikan sudah berjalan dengan baik, walaupun ada beberapa responden yang masih ragu-ragu.

Jawaban responden terhadap dimensi pengalaman secara keseluruhan menunjukkan bahwa proporsi tertinggi terdapat pada skor 3 (tiga) kategori ragu-ragu dengan rata-rata 39,53%, proporsi tertinggi kedua terdapat pada skor 4 (empat) kategori setuju dengan rata-rata 31,78%. Data ini memberikan indikasi bahwa dimensi pengalaman sudah berjalan dengan baik walaupun masih ada responden yang ragu-ragu terhadap dimensi pengalaman.

Jawaban responden terhadap dimensi kemampuan menunjukkan bahwa proporsi tertinggi terdapat pada skor 4 (empat) kategori setuju dengan rata-rata 51,71%, proporsi tertinggi kedua terdapat pada skor 5 (lima) kategori sangat setuju dengan rata-rata 31,15%. Data ini memberikan indikasi bahwa dimensi kemampuan sudah berjalan dengan baik. SIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan (korelasi) yang positif dan pengaruh yang nyata kualitas sumber daya manusia terhadap efektivitas organisasi Bappeda Kota Banda Aceh, berarti bahwa semakin tinggi kualitas sumber daya manusia maka semakin efektif organisasi Bappeda di Kota Banda Aceh. 2. Komponen tingkat pendidikan memijiki

pengaruh yang lebih besar terhadap efektivitas organisasi Bappeda Kota Banda Aceh, yaitu 51,96%, dibandingkan dengan komponen sumberdaya lainnya (pengalaman dan kemampuan). Hal ini disebabkan pendidikan sangat bermanfaat dan memudahkan bagi pegawai Bappeda dalam menginterpretasikan, memahami, dan melaksanakan berbagai tugas yang dibebankan kepadanya.

3. Komponen pengalaman memiliki pengaruh terhadap efektivitas organisasi Bappeda Kota Banda Aceh, yaitu 27,28%, lebih besar dibandingkan dengan variabel Muhammad Daud, Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia

(15)

162

Muhammad Daud, S.Sos, M.Si*adalah dosen FISIP Universitas Terbuka kemampuan pegawai Bappeda. Pengalaman

yang baik terhadap bidang tugasnya merupakan salah satu persyaratan yang amat penting bagi kelancaran pelaksanaan tugas pegawai. Oleh karena itu pegawai Bappeda Kota Banda Aceh dituntut untuk mempunyai pengalaman yang luas terhadap seluk beluk berbagai macam tingkat pekerjaan, teratoma yang berhubungan dengan masalah perencanaan pembangunan daerah.

4. Komponen kemampuan memiliki pengaruh terhadap efektivitas organisasi Bappeda Kota Banda Aceh, sebesar 9,63%.

5. Secara simultan atau secara bersama-sama ketiga komponen number daya manusia (tingkat pendidikan, pengalaman, kemampuan) pegawai Bappeda Kota Banda Aceh, mampu mempengaruhi efektivitas organisasi Bappeda Kota Banda Aceh sebesar 62,86%.

B. Saran

Dalam rangka mencapai tingkat efektivitas organisasi di Bappeda Kota Banda Aceh maka disarankan :

1. Agar kualitas sumber daya manusia agar menjadi perhatian pimpinan Bappeda Kota Banda Aceh, terutama tingkat pendidikan. Oleh karena itu strategi peningkatan kualifikasi tingkat pendidikan pegawai Bappeda melalui tugas belajar maupun pendidikan non formal, haras menjadi prioritas utama dalam rangka peningkatan sumber daya manusia pegawai.

2. Dalam rangka meningkatkan pengalaman pegawai, maka perlu dikembangkan program pemagangan bagi pegawai Bappeda Kota Banda Aceh ke instansi yang memiliki efektifitas organisasi yang lebih baik, terutama pegawai yang berasia dinas masih muda dan pegawai yang berpendidikan rendah.

3. Hasil analisis yang memmjukkan bahwa terdapat korelasi positif dan tinggi antara pendidikan serta pengalaman dengan kemampuan, maka peningkatan kemampuan dapat dilakukan melalui peningkatan strata pendidikan serta pengalaman pegawai Bappeda Kota Banda Aceh.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Jakarta , PT Renika Cipta. Cochran G William, 1977. Sampling

Techniques. John Wiley & Sons, Inc. Daft, Richard L. 1998. Organizational Theory

and Design. Ohio International Thompson publisening. ITP Cincinati. Denison, Daniel R. 1990. Corporate Culture

and Organizational Effectiveness, Canada John wiley dan Sons.

Dillon R Wiliem, Goldstein Matthew, 1984. Multivariate Analysis Method and Application. John Wiley & Sons, Inc. Etzioni, Amitai,1982, Organisasi-Organisasi

Modern, (alih bahasa: Suryatin) Jakarta UI Press.

Fremount, E. Kastd dan James E. Rosenzweig. 2002. Organisasi dan Manajemen terjemah Drs A. Hasyimi Ali. Jakarta Bumi Aksara.

Gibson. 1996, Organisasi. Edisi kedelapan, (Alih bahasa Nunuk Adiarni) Jakarta, Binarupa Aksara.

Indrawidjaya, Adam I, 2000. Perilaku Organisasi. Bandung. Sinar Baru. Johnson, A, Richard. Wichern W, Dean .1988.

Applied Multivariate Statistical Analysis, Prentice - Hall, Inc.

Kasim, Azhar, 1993, Pengukuran Efektivitas dalam Organisasi, Jakarta. Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi bekerjasama dengan pusat antar Universitas Ilmu-Ilmu sosial UI. Kotler, Philip. 2000. Marketing Management.

The Millenium Edition. Prentice Hall Intemasional Inc. USA.

Mc. Laughlin, Curtis P, 1978. Productivity and Effectiveness in Government, dalam Sutherland, John W. (ed), Management Handbook For Public Adminitration, New York : Van Nostrand Reinhold Company.

Mulyono, Mauled, 1993. Penerapan Produktivitas dalam organisasi. Jakarta. PT. Bumi Aksara. Muslimin, Amarah, 1989. Perspektif Otonomi

Daerah. Jakarta. Bina Aksara.

Ndraha, 1997. Budaya Organisasi. Jakarta, Rineka Cipta.

Parasuraman, A. Berry L Leonard, 1991, Marketing Services, The Free Press a Division of Macmillan, Inc.

(16)

163

Muhammad Daud, S.Sos, M.Si*adalah dosen FISIP Universitas Terbuka Ravianto. J. 1985. Produktivitas dan Mannsia,

Jakarta. SIUP.

Robbins P. Stephen, 1994. Teori Organisasi; Struktur, Desain, dan Aplikasi. Jakarta. Arcan.

---, 2001. Perilaku Organisasi. Ahli bahasaTim Indeks.

Sedarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Jakarta : Ilham Jaya.

Singarimbun. Masri, Efendi Sopyan. 1995. Metode Penelitian Survey, Jakarta. LP3ES.

(17)

164

Abubakar*adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Anwar**adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

ANALISIS MATERI PENDIDIKAN BERKARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SOSIOLOGI PADA

SMA KOTA BANDA ACEH

Oleh

Abubakar*, dan Anwar**

Abstrak

Sejak resmi menjadi mata pelajaran, masalah utama pembelajran sosiologi adalah tidak tersedianya guru yang memiliki latar belakang ilmu sosiologi, hal ini menyebabkan minimnya kemampuan pengajar dalam menyiapkan model dan bahan ajar berbasis kearifan lokal, pembelajarannya seringkali terfokus pada buku teks saja, sehingga mengembangkan paradigma pendidikan berkarakter tidak bisa terwujud, pembelajaran tidak menarik dan membosankan, yang dipelajari siswa jauh dari pengalaman hidupnya, Penelitian ini merupakan salah satu usaha penting untuk menemukan model yang tepat dengan prinsip-prinsip pembelajaran sosiologi dan tersedianya bahan ajar yang susuai dengan paradigma pendidikan berkarakter. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, hasil penelitian menunjukkan banyak pengajar belum faham dan tidak menguasai bagaimana membuat rencana pembelajaran yang sarat dengan nilai-nilai lokal yang perlu dipahami dan diteladani sebagai panduan hidupnya, yang dijalankan selama ini adalah apa yang telah lama dilakukan, dengan muatan materi yang sangat umum dari buku-buku nasional, bahkan ada yang berpendapat materi dari nilai-nilai lokal tidak diperlukan dengan berbagai alasan, padahal apa yang tersurat dalam teori universal faktanya banyak bertebaran pada masyarakat sekitar, usaha pemberdayaan gurupun masih minim, dengan kondisi yang demikian pembelajaran sosiologi pada SMA Kota Banda Aceh belum berbasis lokal sebagaimana diharapkan Syariat Islam, yang sedang digalakkan oleh pemerintah daerah dengan berbagai qanunya.

Kata kunci : Pembelajaran sosiologi, Karakter dan Nilai Kearifan local Abstract

Begin 1976 the sociology officially became the subjects in senior high school, the main problem is not the availability of learning that teachers have a background of sociology, this led to a lack of ability of teachers in preparing and teaching material models based on local wisdom, learning is often focused on textbooks alone, so that the development paradigm character education can not be realized, unattractive and boring lessons, students learned much from the local values and life experiences, this study is one of the important effort to find the exact model of learning with the learning principles of sociology and the availability of teaching materials which corresponds the paradigm of character education and be able to identify various barriers and were able to find a way out. This research method is descriptive qualitative triangulation approach, results show, shows, Implementation character values based on local wisdom in teaching sociology in Banda Aceh has some problems and become obstacles are: The existence of a standard regulatory measurement of national education through the national final examination (standardized testing) which emphasizes the realm koqnitif course, this raises the contradictory because it is centralized, making it hard Implementation indigenous values that are decentralized. Teachers do not have the experience of teaching sociology, they are not in field of sociology, teaching sociology is additional subjects other than teaching main task in mayority, with such conditions are often the task of teaching sociology courses in Banda Aceh is a double play (multiple roles). The material used is a national and centralized textbooks, teachers have not been able to develop special materials in the classroom-based learning in the region. Many parents no longer pay attention to their children's education in

(18)

165

Abubakar*adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Anwar**adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

every school, they assume teenager education is the responsibility of school, the task of parents is to deliver and finance only.

Key Words : Teaching Caracter Value and Local Wisdom

Tujuan pendidikan pada umumnya bernilai baik, yaitu sebagai usaha sadar, sistimatis dan terencana, yang bertujuan membentuk manusia yang berkepribadian sesuai dengan karakter bangsa dan masyarakatnya, banyak faktor yang dapat mempengaruhi pendidikan, salah satu factor yang menentukan (determinan factor) tersedianya sumber daya manusia yang kompeten menurut bidangnya, serta faktor lain yang cukup penting adalah peran serta masyarakat sebagai sumber belajar, hal ini penting karena apa yang diberikan dan dikembangkan di sekolah merupakan segala sesuatu yang dibutuhkan dan apa yang tersedia di masyarakat, oleh sebab itu sesungguhnya apa yang dipelajari di sekolah tidak boleh terlepas dari apa yang ada di dalam masyarakatnya, apa bila itu terjadi maka akan muncul apa yang disebut oleh Hary A Gunawan 2013 dengan gejala desintegratif, yaitu berkurangnya kesetiaan terhadap nilai-nilai umum yang telah berlaku di masyarakat, dengan demikian maksud dari tujuan pendidikan yang sebenarnya tidak tercapai.

Provinsi Aceh merupakan daerah khusus yang memiliki berbagai potensi, baik potensi alam dan potensi sosialnya, serta memiliki berbagai kearifan lokal yang selaras dengan nilai-nilai Syariat Islam, demikian juga hal dengan Kota Banda yang telah menetap visinya menjadi kota madani berbasis Syariat Islam, untuk itu perlu adanya upaya berbagai pihak termasuk guru dalam mengembangkan nilai-nilai Islami guna mewujudkan visi tersebut, termasuk melalui berbagai pembelajaran di sekolah adalah upaya nyata dalam penanaman nilai-nilai kearifan lokal pada generasi mudanya.

Salah satu pembelajaran penting untuk mencapai tujuan itu adalah pembelajaran mata pelajaran sosiologi, namun sering sosiologi di anggap sebagai mata pelajaran pelengkap, bahkan mata pelajaran sosiologi hanya di berikan pada anak-anak kelompok IPS saja, sering orang berpikir IPS adalah jurusan di mana tempat berkumpulnya

anak-anak kurang cerdas dan nakal, Pemahaman seperti itu akan terbagunnya paradigma berpikir (frame of mind) kebanyakan kita menyangkut dikhatomi kelompok ilmu IPA dan IPS, IPA prioritas sedangkan IPS menjadi alternatif, dengan demikian tanpa kita sadari pembelajaranpun akan berjalan seadanya saja dan mengikuti karakter siswa sesuai dengan anggapan di atas. METODA PENELITIAN

Penelitian ini bersifat kualitatif, responden penelitian berasal dari seluruh guru pengajar mata pelajaran sosiologi pada SMA Kota Banda Aceh, beserta beberapa unsur dari pihak terkait seperti pakar-pakar sosiologi dan tokoh adat budaya yang dianggap memilki pengetahuan sesuai dengan masalah yang diteliti dan data yang diperlukan. Teknik pengumpulan adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi.

Pengolahan dan Analisis Data, data yang terkumpul akan di olah dengan pendekatan “Trianggulasi’. Dengan metoda kualitatif. Tujuannya untuk menggambarkan katagori-katagori yang relevan dengan tujuan yang ingin di capai dalam penelitian, sehingga melahirkan luaran penelitian yang sempurna. Reduksi data dilakukan sebagai usaha sejak awal penelitian secara terus menerus, hal ini di tempuh untuk menghindari penumpukan data, sehingga memungkinkan peneliti mengumpulkan data secara terus menerus untuk memperdalam setiap temuan sebelumnya dan untuk mempertajam data – data yang sudah ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran Sosiologi di Indonesia termasuk mata pelajaran baru, masuk dalam kurikulum Indonesia mulai tahun 1994, model pembelajaran dan berbagai tujuannya terus berkembang sesuai dengan arah tujuan, visi utama pendidikan Indonesia yaitu pembentukan karakter sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 3. Mengingat Indonesia Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

(19)

166

Abubakar*adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Anwar**adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh memiliki 1.128 suku mendiami pulau yang

berbeda-beda, maka nilai-nilai karakter perlu diselaraskan pula dengan kearifan lokalnya, sehingga hasil pembelajaran bermanfaat bagi lulusannya ketika kembali ke masyarakat lingkungannya.

Bagi guru sosiologi menyelaraskan nilai-nilai karakter yang telah ditetapkan secara nasional dengan nilai-nilai kearifan lokal dirasa masih banyak hambatan, hambatan itu baik yang berasal dari guru itu sendiri, buku ajar, kurikulum dan model pembelajaran yang belum selaras dengan harapan pembelajaran yang diinginkan, bahkan hambatan tersebut bersumber dari regulasi pemerintah sendiri. Berikut ini penulis mencoba mendeskripsikan beberapa problema pembelajaran sosiologi berdasarkan hasil penelitian tahun 2013 di Kota Banda Aceh.

1. Hambatan Implimentasi Penerapan Nilai Karakter pada SMA Kota Banda Aceh

Berdasarkan hasil pengelohan dan analisis berbagai data yang terkumpul, dapat disimpulakn sebagai berikut :

a. Hambatan Regulasi dan Standar Pengukuran

UU No 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menetapkan tujuan pendidikan nasional ditujukan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif untuk memiliki kekuatan spiritual keamanan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan. Apa yang digariskan dalam UUD tersebut jelas bahwa pendidikan bukan hanya menjadikan peserta didik pandai dari segi akademik, tetapi untuk menjadikan manusia yang utuh yang mampu menjadi manusia yang mengabdi kepada Sang Maha Pencipta, menjadi manusia demi manusia yang lain dan alam semesta.

Pendidikan nasional tidak hanya bermkasud menciptakan kemampuan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual saja, namun harus membangkitkan hati nurani yang akan menghasilkan manusia yang tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata. dasar pembelajaran harus mampu mengembangkan nilai-nilai bijak, dan mengarahkan pada kecerdasan intelektual/akademik atau Intelegence Quotient (IQ), kecerdasan emosional atau Emotional

Quotient (IQ), dan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quetient (SQ).

Mencermati maksud tersebut arah pembangan pembelajaran perlu penekanan pada berbagai karakternya, dengan demikian pulu tidak bisa dipisahkan dengan kearifan lokalnya sebagai tempat mereka beradaptasi dan membesarkan keluarganya, tekanan pembelajaran lebih bersifat desentralistik. Sementara di sisi lain kebijakan penerapan Ujian Akhir Nasional (standardized testing) menekankan pada ranah koqnitif saja menimbukan kontradiktif karena lebih bersifat sentralistik. Dua kebijakan yang bertolak belakang ini menimbulkan kebingungan bagi guru dalam pelaksanaan pembelajarannya di kelas, karena disatu sisi ada dasar penerapan tujuan pembelajaran yang bersifat local dengan berbagai keunggulannya, namun di sisi lain pemerintah menghendaki adanya keseragaman penguasaan materi yang bersifat nasional atau provinsi, guru dipacu dengan luar biasa untuk mencapai kelulusan tertinggi dalanm ujian itu dengan sasaran materi terpusat, padahal setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Di samping itu ada anggapan dan “hukuman” kalau mata pelajaran yang diasuh seorang guru, dihasil UAN banyak siswa yang tidak lulus, maka kinerja guru tersebut dianggap tidak bagus, disinilah beban batin seorang guru berkecamuk antara kejujuran dan kecurangan. Kejujuran adalah membiar hasil ujian siswa apa adanya sesuai denga kemampuan siswa pada mata pelajaran yang diasuh, kecurangan adalah melakukan berbagai upaya yang sistimatis untuk meningkatkan tingkat kelulusan siswa pada mata pelajaran yang diasuh untuk mempertahankan citra kinerjanya, dan menyelamatkan citra sekolahnya, karena tingkat kelulusan UAN juga menjadi tolak ukur keberhasilan sekolahdi Indonesia saat ini, regulasi seperti ini dapat mencoreng nilai-nilai karakter dan kearifan kal, karena tidak ada satupun budaya masyarakat yang menyakini “curang” sebagai karakter bernilai baik.

Dari fenomena itu banyak hal yang kita petik sebagai indicator yang menjadi penghambat karena :

1. Banyak guru yang bingung dalam pembelajaran karena memiliki tujuan ganda, secara tertulis tujuan pembelajaran membangun karakter sesuai dengan Abubakar dan Anwar, Analisis Materi Pendidikan Berkarakter dalam Pembelajaran Sosiologi

(20)

167

Abubakar*adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Anwar**adalah Dosen Kopertis DPK pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

kearifan local masyarakatnya, sementara siswa wajib lulus UAN yang sentralistik sebagai indicator keberhasilan siswa, guru dan sekolah serta berbagai satuan kerja yang terlibat.

2. Dampak “hukuman” yang akan diterima guru dan sekolah apabila siswa gagal UAN menyebabkan konsentrasi guru lebih terfokus pada materi nasional dari pada materi–materi berbasis local. 3. Berkembangnya nilai buruk seperti

curang, jual beli kunci jawaban, tidak jujur, padahal sekolah adalah lembaga yang menjaga nilai–nilai baik, berfungsi menjadi pengembang nilai- nilai buruk. 4. Materi yang diujikan tidak sinkron

dengan amanat konstitusi dan perundangan pendidikan nasional, karena hanya memerhatikan kecerdasan intelegensia. Kemampuan intelektual saja jelas tidak menjamin kualitas dan keberhasilan manusia karena kurang ada kaitannya dengan etos kerja keras dan hubungan dengan lingkungannya. b. Kompetensi Mengajar Guru dan

tugas mengajar tidak sesuai

Di Kota Banda guru masih merupakan faktor penentu keberhasilan pembelajaran dan pencapaian tujuannya, artinya keberhasilan belajar siswa masih sangat memerlukan peran guru di kelas, dalam pembelajaran siswa belum mandiri untuk menciptakan kondisi belajarnya sendiri. Kalau guru tidak bisa hadir maka sering kali siswa menjadi ribut dan dapat mengganggu kelas lain yang ada disampingnya. Meskipun peranan guru sangat penting untuk profesionalisme mengajar, namun untuk pembelajaran sosiologi di Kota Banda Aceh belum ada guru khusus yang memiliki kemampuan pendidikan sosiologi.

Guru pengajar mata pelajran sosiologi pada SMA Kota Banda Aceh 100% tidak memiliki bidang yang relevan dan mata pelajaran yang diasuh, pada umumnya mereka memiliki latar belakang pendidikan seperti Geografi, Sejarah, Kewarganegaraan, Administrasi Pendidikan, Ekonomi, dan Bahasa Indonesia. Dengan demikian pembelajaran sosiologi pada daerah yang diteliti dapat dikatakan belum memenuhi unsur profesionalnya. Karena pengalaman pendidikan guru yang mereka peroleh tidak sesuai mata pelajaran yang mereka asuh.

Dampaknya adalah minimnya kompetensi profesi yang harus dikembangkan sebagai seorang guru yang baik, dengan demikian prinsip-prinsip dan sifat-sifat pembelajaran sosiologi tidak diterapkan, baik bagaimana model pembelajaran, bagaimana menghubungkan materi-materi sosiologi dengan nilai-nilai karakter masyarakat localnya dalam pembelajaran sekolah. Rendahnya latar pengetahuan guru bidang sosiologi cukup menghambat guru dalam mengembangkan materi-materi pembelajaran dan mengembangkan metoda penelitian sosiologi pada masyarakat.

c. Tidak ada pelatihan khusus untuk tenaga pengajar sosiologi

Pelatihan merupakan suatu upaya peningkatan keterampilan secara berkelanjutan, minimal pelatihan dilakukan setahun sekali, hal ini penting mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan cepat, sehingga model-model pembelajaran tersebut mengikuti juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, seluruh perkembangan tersebut perlu disampaikan dan dikuasai oleh setiap guru sebagai model pembelajarannya.

Meskipun dinyakini pentingnya pelatihan dalam peningkatan ketrampilan guru pengajar sosiologi selama ini guru tidak mendapat pelatihan secara sistimatis dan regular, guru mata pelajaran lain sebenarnya hampir sama, namun frekwensi pelatihan untuk guru lain sering dilakukan meskipun belum juga memenuhi jumlah yang ideal, beda halnya dengan guru pengajara mata pelajaran sosiologi pelatihan pernah diberikan pada IKIP padang tahun 1985 dan yang terakhir tahun 2006 pasca Tsunami yang didanai oleh LSM asing. Pelatihan yang pernah diperoleh oleh guru sosiologi dalam kedua tahun tersebut 1% menyebutkan pernah mengikuti bidang materi sosiologi dan 3% bidang metoda mengajar, dengan demikian 96% guru pengajar sosiologi Kota Banda Aceh belum pernah mengikuti pelatihan yang mendukung pembelajaran sosiologi di kelas.

Minimnya pelatihan tersebut menyebabkan mengajar guru di kelas dilakukan berdasarkan pengalaman yang diperoleh pada saat menempuh pendidikan dulu dari berbagai LPTK-nya. Mengingat pendidikan berkarakter baru digalakkan pada Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1

Gambar

Gambar 1. Kertas transparan yang digunakan untuk menemukan rumus luas
Gambar 3. Hasil kelompok yang menyusun juring lingkaran membentuk jajargenjangJurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Edisi September 2015 Volume 22 Nomor 1
Gambar Bagan Pengembangan Proses Pendidikan Karakter dan Kearifan Lokal Kota Banda Aceh
Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa
+2

Referensi

Dokumen terkait

Istilah quotpopulasiquot maksudnya adalah kumpulan organisme dari satu spesies jenis dan biasanya didefinisikan sebagai suatu kumpulan mahluk hidup dengan berbagai karakter yang

hasil analisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam Kompetensi Dasar 3 dan 4 dalam materi Pencemaran Lingkungan dan Pemanasan Global yang digunakan sebagai

Untuk melihat kekurangan-kekurangan yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan strategi pembelajarann Kooperatif tipe think pair share

Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau

Masalah pendidikan dan perempuan tentu tidak bisa terlepas dari berbagai penafsiran terhadap teks-teks otoritatif keagamaan tersebut.Kaum Muslim umumnya sependapat bahwa menuntut

“kemampuan didefinisikan sebagai perwujudan pengetahuan, ketrampilan dan nilai dalam kebiasaan berfikir dan bertindak”. Maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan

Banyak cara yang dilakukan untuk hidup lebih rapi, bersih dan sehat dengan melakukan berbagai macam perawatan, karena menurut mereka perawatan diri itu sangat penting untuk

Pengelolaan sarana dan prasarana merupakan kegiatan yang sangat penting di sekolah, karena keberadaannya akan sangat mendukung terhadap suksesnya proses pembelajaran