• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENDIDIKAN SERAMBI ILMU (Wadah Informasi Ilmiah dan Kreativitas Intelektual Pendidikan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL PENDIDIKAN SERAMBI ILMU (Wadah Informasi Ilmiah dan Kreativitas Intelektual Pendidikan)"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PENDIDIKAN

SERAMBI ILMU

(Wadah Informasi Ilmiah dan Kreativitas Intelektual Pendidikan)

VOLUME 17

NOMOR 2

MARET 2014

 Penerapan Metode Eksperimen dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XII IA 1 Pelajaran Biologi Materi Metabolisme Sel dengan Menggunakan Percobaan Sach dan Percobaan Ingenhouzs di MAN Model Banda Aceh

Hasni (Hal 56- 61)

 Pengambilan Keputusan Sekolah Melalui Manajemen Strategik Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bandar Baru

Marzuki (Hal 62-66)

 Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Sekolah Dalam Peningkatan Akreditasi Madrasah Aliyah Negeri I Kota Langsa

Khairuddin (Hal 67-78)

 Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Tebak Kata dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IA2 Materi Sel Pelajaran Biologi pada SMA Negeri 6 Banda Aceh

Husna (Hal 79-83)

 Penerapan Model Pembelajaran Peta Konsep Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Proklamasi Kemerdekaan Pada Siswa Kelas Viii Smpn 1 Darul Kamal Tahun Pelajaran 2013/2014

Hayaton (Hal 84-91)

 Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Script Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Kolonialisme Barat Pada Siswa Kelas Viii Smpn 1 Darul Kamal Tahun Pelajaran 2013/2014

Mardiana (Hal 92-99)

 Peningkatan Hasil Belajar Geografi Pada Persebaran Flora Dan Fauna Melalui Metode Penugasan

Yunaidah (Hal 100-103)

 Pengaruh Masa Kerja dan Sertifikasi Guru Terhadap Komitmen Kerja Guru Pada SMA Negeri 5 Banda Aceh

Maria Lena (Hal 104-110)

 Analisis Penalaran dalam Soal Ujian Nasional Matematika SMP/MTs Tahun Ajaran 2012 / 2013

Sukmawarti dan Dewi Liliani Batubara (Hal 111-116)

Diterbit Oleh

FKIP Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu

Volume 17 Nomor 2 Hal 56-116

Banda Aceh Maret

(2)

Dra. Hj. Hasni* adalah Guru MAN Model Banda Aceh

PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XII IA 1 PELAJARAN BIOLOGI MATERI METABOLISME SEL

DENGAN MENGGUNAKAN PERCOBAAN SACH DAN PERCOBAAN INGENHOUZS DI MAN MODEL BANDA ACEH

Oleh Hasni*

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran melalui metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas XII IA 1 pada MAN Model Banda Aceh pada materi metabolisme sel. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Subjek penelitian adalah kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh Tahun Ajaran 2012/2013 sebanyak 34 siswa. Analisis data menggunakan metode deskriptif komperatif, yaitu dengan membandingkan nilai tes siswa, hasil observasi terhadap guru dan hasil wawancara dari kondisi awal dengan hasil-hasil yang dicapai dari setiap siklus dan analis pada siklus I dan siklus II dengan penerapan metode eksperimen. Pada akhir siklus II diketahui telah terjadi peningkatan yaitu dari siklus I 70 keatas sebanyak 28 siswa, nilai 70 kebawah 6 siswa yang tuntas hanyua 82,35%, sedangkan yang tidak tuntas 17,64%. Pada siklus II nilai 70 keatas sebanyak 32 siswa dan 70 kebawah sebanyak 2 siswa, jadi yang tuntas meningkat menjadi 94,11%, sedangkan yang tidak tuntas 5,88%. Dengan demikian sebagian besar siswa kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh mengalami peningkatan hasil belajar melalui metode eksperimen pada materi metabolisme sel khususnya sub konsep fotosintesis.

Kata Kunci: Metode eksperimen, hasil belajar, penelitian tindakan kelas.

Permendiknas No/41 tahun 2007 merupakan tuntutan Pemerintah kepada para pendidik/guru agar melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai Standar Proses dengan menggunakan berbagai strategi, pendekatan metoda dan model pembelajaran sehingga mencapai hasil pembelajaran yang optimal dalam menghadapi persaingan diera globalisasi yang penuh tantangan dan harapan. Hasil belajar siswa kelas XII IA 1 secara umum masih rendah terutama pelajaran biologi pada MAN Model Banda Aceh. Hal ini terbukti pada hasil belajar siswa kelas XII IA 1 tahun pelajaran 2012/2013. Peneliti sebagai guru pada kelas XII IA 1 yang jumlah siswa 34 orang terdiri dari 22 orang siswa perempuan 12 orang siswa laki-laki. Dari sekian banyak siswa dikelas tersebut, hanya 10 orang (39%) saja sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM ) 70, sedangkan yang lainnya harus diremidial. Salah satu metode yang diterapkan dalam pembelajaran materi metabolisme pada sub konsep fotosintesis adalah metode eksperimen. Penerapan metode eksperimen melalui

percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach dalam pembelajaran fotosintesis diharapkan dapat membantu peserta didik untuk lebih memahami serta memperoleh gambaran yang lebih konkrit tentang konsep fotoseintesis sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep tersebut.

Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut. ³(1) Apakah dengan penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran materi metabolisme sub konsep fotosintesis pada kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh Tahun Ajaran 2012/2013, (2) Apakah kelebihan dan kekurangan penerapan metode eksperimen, (3) Manfaat apa saja dalam penerapan metode eksperimen, (4) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi hasil belajar siswa, (5) apakah penerapan metode eksperimen dapat PHQLQJNDWNDQKDVLOEHODMDUVLVZD´

Tujuan penelitian ini adalah, (1) untuk mengetahui bagaimana peningkatan hasil belajar dari metode eksperimen pada materi metabolisme sub konsep foto sintesis melalui

(3)

Dra. Hj. Hasni* adalah Guru MAN Model Banda Aceh

percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach, (2) untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode eksperimen, (3) untuk mengetahui manfaat penerapan metode eksperimen, (4) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, (5) untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan metode eksperimen.

TINJAUAN PUSTAKA A. Beberapa pengertian 1). Hasil Belajar

Hasil belajar siswa dalam hal ini meliputi tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif, kemampuan kognitif yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis sintesis dan evaluasi. Aspek efektif, kemampuan efektif meliputi penerimaan partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup. Aspek psikomotorik, kemampuan psikomotorik meliputi persepsi, kesiapan, gerak terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompak, gerakan penyesuaian dan kreativitas. (Hamalik, 2003: 160) Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran, Nana Sudjana (2009: 3) mendefinikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindakan belajar dan tindak mengajar.

2). Metode Eksperimen

Menurut Djamarah (2000), metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik peroeangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Dengan metode ini anak didik diharapkan sepenuhnya terlibat merencanakan eksperimen, melakukan

eksperimen, menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variable, dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata. Berikut ini beberapa kelebihan Metode Eksperimen, diantaranya: metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku, anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi ekspolasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi, suatu sikap yang dituntut dari seorang ilmuwan, dan dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaannya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.

Metode Eksperimen yang dapat meningkatkan hasil belajar IPA, bagi guru menggunakan metode ini bisa mengetahui kekurangan dalam proses KBM dan siswa dalam menggunakan metode Eksperimen aktivitas belajarnya meningkat. Maka bagi sekolah dapat memberikan masukan pada guru tentang upaya peningkatan hasil belajar siswa (Suwandi, 2012). Metode Eksperimen adalah prosedur pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sendiri sesuatu pertanyaan atau hipotesis yang dipelajari (Anggraini, 2010). Pengangkutan Zat

a. Ekstra fasikuler:

x Simplas (melalui protoplasma dengan perantaraan plasmodestama)

x Apoplas (lewat rongga-rongga intersekuler)

b. Intra fasikuler, menggunakan problem dan xylem pengangkutan dari bawah ke atas, dimungkinkan karena adanya: daya isap daun, tekanan akar, kapilaritas, transportasi yang menggunakan energi.

(4)

Dra. Hj. Hasni* adalah Guru MAN Model Banda Aceh

Fotosintesis

Asimilasi C dengan menggunakan energi cahaya Cahaya CO2 + H2O C6H12O6 + O2 + H2O Kloropil 1. Cahaya H2O NORURSLOH«DNWLIDVLNORURSLO 2. H2O H+ + OH- «IRWROLVLVDLU +NADP OH + OH NADPH2 H2O + O2 Reaksi terang --- Reaksi gelap 3. CO2 + RDP APG «ILNVDVL&22

APG + NADPH2 ALPG + NADP

4. ALPG C6H12O8 amilum «SROLPHULVDVLproduk sintesa

Pada kloroplas terjadi transformasi energi, yaitu dari energi cahaya sebagai energi kinetik berubah menjadi energi kimia sebagai energi potensial, berupa ikatan senyawa organik pada glukosa. Dengan bantuan enzim-enzim, proses tersebut berlangsung cepat dan efisien. Bila dalam suatu reaksi memerlukan energi dalam bentuk panas reaksinya disebut reaksi endergonik. Reaksi semacam itu disebut disebut reaksi endoterm.

3). Metabolisme

Sel merupakan unit kehidupan yang terkecil, oleh karena itu sel dapat menjalankan aktivitas hidup, di antaranya metabolism. Metabolisme adalah proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup/sel. Metabolism disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim.

Pada metabolisme sel bahan dan energi diperoleh dari lingkungan sel yang berupa cairan. Cairan yang mengelilingi sel disebut cairan ekstrasel. Cairan ini terdiri dari ion dan gas berikut: 1) gas (terutama O2 dan CO2), 2)

ion anorganik (terutama NA+, Cl-, K, Ca++, HCO3, PO4), 3) zat organic (makanan dan

vitamin), 4) hormone.

Mekanisme pertukaran zat dalam sel dengan cairan eksternal melalui lima cara, yaitu difusi, osmosis, transport aktif, endositosis, dan eksositosis. Berdasarkan

prosesnya metabolisme dibagi menjadi 2, yaitu: 1) anabolisme, 2) katabolisme. Tapi yang kita bahas pada eksperimen ini hanya materi anabolisme saja.

Anabolisme adalah proses pembentukan molekul yang kompleks dengan menggunakan energi tinggi. Yaitu menggabungkan molekul-molekul kecil menjadi makromolekul-molekul yang lebih kompleks, memerlukan energi yang disuplai dari hidrolisis ATP. Makhluk hidup dapat mensintesa makanannya sendiri disebut autotrof, contohnya tumbuhan hijau. Berdasarkan cara memperoleh energi, autotrof dibagi menjadi fotoautotrof (cahaya menjadi kimia, missal fotosintesis) dan kemoautotraf (energi sebagai hasil oksidasi senyawa anorganik). Asal energi dalam proses metabolisme adalah energi matahari dan energi kimia.

Tahap pertama dari sistem fotosintesis adalah reaksi terang, yang sangat bergantung kepada ketersediaan sinat matahari. Reaksi terang merupakan penggerak bagi reaksi pengikatan CO2 dari udara. Reaksi ini

melibatkan beberapa kompleks protein dari membrane tilakoid yang terdiri dari sistem cahaya (fotosistem I dan II), sistem pembawa electron, dan komplek protein pembentuk ATP (enzim ATP sintese). Reaksi terang mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, juga menghasilkan oksigen dan mengubah ADP dan NASP+ menjadi energi

(5)

Dra. Hj. Hasni* adalah Guru MAN Model Banda Aceh

pembawa ATP dan NADPH. Reaksi terang terjadi di tilakoid, yaitu struktur cakram yang terbentuk dari pelipatan membrane dalam kloroplas. Membran tilakoid menangkap energi cahaya dan mengubahnya menjadi energi kimia. Jika ada bertumpuk-tumpuk tilakoid, maka disebut grana.

B. Penerapan metode eksperimen

Media pembelajaran dengan menggunakan metode ekspimen digunakan sebagai wahana mengajar oleh guru. Menurut Nasution (2005: 94), penggunaan media ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dan manfaat konkret dan motivasi belajar, serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar peserta didik. Nasution (2005: 94) juga mengatakan bahwa penggunaan media dalam proses belajar mengajar, utamanya adalah untuk menghindari verbalisme, yaitu apabila peserta didik dapat menghafalkan kata-kata tanpa memahami makna dari kata-kata tersebut.

C. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa

Kemampuan guru, media yang digunakan guru, serta kesiapan siswa dalam mengikuti materi metabolisme khusus pada pembahasan anabolisme dengan menggunakan percobaan Sach dan Ingenhouz.

D. Penggunaan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa

Metode eksperimen merupakan suatu cara yang dapat membantu guru untuk membawa/mengantarkan pesan. Metode eksperimen dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkret, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar. Metode juga bisa membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik. Arief S. Sadiman, dkk (2006: 7) memberikan pengertian bahwa media yang digunakan dalam pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengantarkan pesan dari pengirim (guru) ke penerima (siswa) sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat peserta didik. Sehubung dengan proses pembelajaran, agar dapat dimengerti oleh siswa biasanya menggunakan alat atau media pembelajaran. Media pembelajaran adalah benda yang digunakan mempermudah tercapainya tujuan, seperti

gambar atau bagian, alat pandang pendengar, kamus ensiklopedi dan alat rekam dengar dan lain-lain (Pasandaran dan Fakihudin, 2007).

METODA PENELITIAN A. Setting dan tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MAN Model Banda Aceh di kelas XII IA 1 selama 3 bulan, mulai dari bulan September sampai bulan November 2012.

B. Subjek penelitian dan sumber data Berdasarkan judul penelitian yaitu Penerapan Metode Eksperimen Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XII IA 1 Pada Pelajaran Biologi Materi Metabolisme Sel Melalui Percobaan Ingenhouzs dan Percobaan Sach di MAN Model Banda Aceh, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas XII IA 1 yang berjumlah 34 siswa yang terdiri dari 22 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Sumber data yang diperolah berasal dari siswa-siswi kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh, teman sejawat lainnya yang juga ikut mengajar Biologi kelas XII, dari pihak-pihak lain yang terkait dengan pembelajaran tersebut.

C. Teknik dan alat pengumpulan data Teknik pengumpulan data yaitu: tes, observasi, dan wawancara. Sedangkan alat pengumpulan data yaitu instrument soal, lembar observasi terhadap siswa, dan lembar observasi terhadap guru.

D. Teknik analisis data dan Indikator keberhasilan

Teknik analisis data yang digunakan adalah Nilai tes (hasil belajar), proses pembelajaran (observasi aktifitas siswa dan PBM guru). Indikator keberhasilan yang diharapkan dalam kegiatan penelitian ini adalah: hasil penelitian ini diharapkan nilai ketuntasan siswa berkisar 70% siswa mencapai ketuntasan belajar, terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa pada setiap siklus. Terjadi peningkatan pelaksanaan proses belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru.

E. Prosedur penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan

(6)

Dra. Hj. Hasni* adalah Guru MAN Model Banda Aceh

kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Setiap siklua dilaksanakan 2 kali kegiatan pembelajaran setiap KD, setiap kali pembelajaran terdiri atas 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan kompetisi dasar terdiri atas 4 indikator. Siklus terdiri atas: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi pembelajran sebelum dilakukan tindakan dan sesudah dilakukan tindakan dengan menggunakan metode eksperimen melalui percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach peningkatan hasil belajar siswa. Tergambar dari antusiasme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Melalui percobaan Ingenhouzs dan Sach diperoleh bahwa terjadi perubahan warna pada daun yang ditetesi lugol menjadi biru kehitaman yang mengindikasikan bahwa pada daun tersebut telah terbentuk amilum.

A. Hasil siklus I

Dari analisis terhadap hasil belajar yang dicapai oleh sisiwa diperoleh data bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas XII IA 1 yaitu 82,35% dan terdapat 28 siswa yang nilainya telah mencapai KKM dengan kata lain terdapat 28 siswa yang telah tuntas belajar sedangkan 6 siswa lainnya memperoleh nilai hasil belajar maish dibawah KKM.

B. Hasil siklus II

Hasil belajar siswa yang diperoleh pada siklus I belum sesuai dengan harapan yang diinginkan yaitu 100%. Hasil belajar siklus I hanya 82,35% siswa tuntas dan sebanyak 28 orang siswa yang memperoleh nilai 70 sesuai dengan nilai KKM. Mendapatkan hasil belajar yang belum sesuai dengan harapan yang diinginkan, maka dilanjutkan dengan siklus II untuk memperbaiki dan menyempurnakan hal-hal atau aspek yang masih kurang maksimal pada siklus I. setelah dilakukan siklus II, ternyata terjadi peningkatan jumlah siswa yang memperoleh nilai lebih 70 yaitu sebanyak 32 orang dari jumlah total siswa 34 orang dengan persentase ketuntasan siswa 94,11%. Jumlah ini jelas menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari siklus I ke siklus II dan hasil tersebut telah sesuai dengan yang diharapkan

yaitu ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 100%.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:

1. Penerapan metode eksperimen melalui Percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Materi Metabolisme Sel di kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh. 2. Penerapan metode eksperimen melalui

Percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach dapat meningkatkan aktivitas siswa pada Materi Metabolisme Sel di kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh.

3. Penerapan metode eksperimen melalui Percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach dapat meningkatkan proses pembelajaran guru di dalam kelas pada Materi Metabolisme di kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh.

4. Penerapan metode eksperimen melalui Percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada Materi Metabolisme Sel di kelas XII IA 1 MAN Model Banda Aceh.

1. Saran-saran

Berdasarkan kesimpulan dan kondisi selama dilakukannya penelitian, maka peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Kepada guru-guru IPA, khususnya biologi yang sering menemukan kendala dalam penyampaian materi kepada siswa agar dapat merancang proses pembelajaran yang sesuai dengan materi yang ingin disampaikan sehingga materi tersebut dapat diterima dengan baik oleh siswa. Terutama pada pemanfaatan media pembelajaran yang merupakan salah satu alat bantu dalam kegiatan proses belajar mengajar.

2. Khusus untuk penyampaian Materi Metabolisme Sel dapat dilakukan dengan penerapan metode eksperimen melalui Percobaan Ingenhouzs dan percobaan Sach agar proses pembelajaran menjadi lebih manarik dan menyenangkan bagi siswa.

(7)

Dra. Hj. Hasni* adalah Guru MAN Model Banda Aceh

3. Bagi guru yang tertarik dengan penelitian ini disarankan untuk menggunakan metode lainnya sebagai metode pembelajaran pada Materi Metabolisme Sel untuk variasi dalam dunia pendidikan kita.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini. 2010. Penerapan Pembelajaran

Konstruktifi. Jakarta: Rineka Cipta.

Angkowo, R dan Kosasih, A. 2007.

Optimalisasi Media Pembelajaran Mempengaruhi Motivasi, Hasil Belajar dan Kepribadiaan. Jakarta:

Grasindo.

Depdikbud. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi SAINS. Jakarta.

Dimyati & Mudjiono. 2006. Pengembangan

Metode Pembelajaran Aktid di Sekolah Menengah. Bandung: Armico.

Djamarah, S. B. 2000. Guru dan Anak Didik

dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:

Rineka Cipta.

Fenomena A. Newsletter. 2009. Pentingnya

Alat Peraga dalam Pembelajaran Sains/IPA.http//www.ppiptek.ristek. go.id/fenomena-edisi-001/juni-agustus.pdf.

Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia Widiasarana.

Nasution, S. 2005. Didaktik Azas-Azas

Mengajar. Jakarta: BumiAksara.

Oemar, Hamalik. 2003. Metode Mengajar dan

Kesulitan-Kesulitan Belajar.

Bandung: Tarsito.

Passandaran, J. Djoko S. dan Fakihudin. 2007.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Terpadu. Makalah.

Raharjo, R, dkk. 2004. Media Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Sadiman, Arief, dkk. 2006. Media Pendidikan

(Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sanjaya, W. 2008. Perencanaandan Desain

Sistem Pembelajaran. Jakarta: Persada Media Grup.

Sudibyo, Elok. 2003. Beberapa Teori yang

Melandasi Pengembangan Model-model Pengajaran. Jakarta: Dit PLP

Ditjen Diksasmen Depdiknas. Suwandi. 2012. Penggunaan Metode

Eksperimen Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Tentang Penerapan Konsep Energi Gerak pada Siswa Kelas III SD Negeri Sentul. Salatiga: Universitas Kristen

Satya Lencana.

(8)

Marzuki* adalah Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEKOLAH MELALUI MANAJEMEN

STRATEGIK PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 BANDAR BARU

Oleh Marzuki*

Abstract

This study aims to determine the mechanism, consideration, implementation, and dissemination of the principal decision-making through strategic management at Bandar Baru SMPN 1. This research used descriptive method with qualitative approach, data collection techniques were interviews, observation and documentation study. Subjects were principals, vice-principals, and teachers. The results showed that: (1) The mechanism of decision-making is done by identifying activities problems, formulate goals, determine alternatives, determine solutions, and decision-making, (2) consideration in decision-making is done by consensus paths between teachers and employees, (3) Implementation of decision-making implemented through legalization, operational plans, and communication, and action, monitoring, review and evaluation, and (4) socialization of decisions implemented through an open explanation to the vice principal and carried out according to plan.

Keywords : strategic management, and decision making

Manajemen strategik dipahami sebagai model pengelolaan pendidikan modern yang harus diterapkan oleh setiap satuan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Pernyataan tersebut sesuai dengan pandangan Sagala (2006:102) bahwa “Manajemen strategik merupakan pengelolaan pendidikan yang berorientasi pada quality assurance (jaminan kepada pelanggan), baik internal maupun eksternal dalam pengelolaan pendidikan yang berorientasi pada peningkatan mutu”.

Sehingga jelaslah bahwa manajemen strategik haruslah direncanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan menganalisis potensi kekuatan dan kekurangan suatu lembaga secara internal serta menganalisis aspek lingkungan eksternal pendidikan.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pengambilan Keputusan

Bagi seorang pimpinan pengambilan keputusan merupakan salah satu fungsi yang tidak dapat dihindari, sebab tanpa keputusan dan kebijakan fungsi kepemimpinan tidak dapat dilaksanakan dan fungsi manajemen tidak dapat berjalan untuk mewujudkan tujuan organisasi.

Simon (Dermawan, 2006:15) mengemukakan bahwa “Keputusan adalah manifestasi kewenangan pimpinan yang sangat diharapkan oleh bawahan, sebab tanpa pengambilan keputusan, seluruh kegiatan bawahan menjadi tidak pasti”. Dengan demikian, jelaslah bahwa ketidakpastian terhadap sebuah keputusan dapat mengakibatkan lemahnya fungsi pimpinan terhadap stabilitas organisasi. Kelabilan ini merupakan titik awal kehancuran suatu organisasi. Hal ini mengandung arti bahwa keputusan dari seorang pimpinan menuntut dipenuhinya persyaratan profesional yang harus dimiliki. Upaya membangun keefektifan manajerial terletak pada pembekalan dimensi keterampilan teknis dan keterampilan konseptual.

Deskripsi tersebut menjelaskan bahwa keterampilan seorang manajer dalam sebuah organisasi pendidikan sangatlah dibutuhkan terutama memiliki kemampuan dalam memahami perilaku organisasi pendidikan dengan berbagai karakteristik karyawan dan budaya organisasi. Terry (Lubis, 2006:5) bahwa “Pengambilan keputusan adalah

pemilihan dua alternatif

untuk dicari keputusan yang lebih baik”. Dari berbagai pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pembuatan dan pengambilan

(9)

Marzuki* adalah Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

keputusan merupakan kegiatan yang meliputi rumusan masalah, penambahan alternatif keputusan yang akan diambil, dan pemilihan alternatif keputusan yang akan melahirkan sebuah keputusan yang dapat diterima oleh semua komponen dalam suatu organisasi pendidikan.

METODA PENELITIAN

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penggunaan metode dan pendekatan tersebut mengingat bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis tentang pengambilan keputusan melalui konsep manajemen strategik pada SMP Negeri 1 Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya, dengan melibatkan partisipasi kepala sekolah maupun guru sebagai sumber informasi sebagai kegiatan pengumpulan data.

Deskripsi tersebut sesuai dengan pernyataan Sukardi (2005:157) bahwa “Metode penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan obyek atau subyek yang diteliti sesuai dengan apa adanya dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik subyek yang diteliti secara cepat”.

Dari deskripsi tersebut dapatlah dipahami bahwa pendekatan kualitatif adalah suatu pertanyaan mengenai hakikat gejala atau pertanyaan mengenai apa itu atau mendiskripsikan tentang apa itu, sehingga diperoleh informasi keadaan gejala yang sedang berlangsung sebagai pemecahan masalah yang ada, masalah yang hangat dan aktual, dalam bentuk kata atau kalimat sehingga memberikan makna.

Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru-guru, dan pihak- pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan di persekolahan. Moleong (2005:65) mengemukakan bahwa subjek penelitian pada penelitian kualitatif adalah sampel bertujuan artinya menjaring informasi dari berbagai macam sumber dan bentuknya sehingga dapat dirinci kekkhususannya yang ada dalam konteks yang unik.

Dalam menemukan data yang benar tentang pengambilan keputusan sekolah

melalui manajemen strategik pada SMPN 1 Bandar Baru Pidie Jaya, peneliti mengunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Selanjutnya untuk menganilisis data yang telah dikumpulkan sejak awal penelitian sampai akhir penelitian dengan teknik reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1). Mekanisme Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian membuktikan bahwa mekanisme pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kepala sekolah di SMPN 1 Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya melalui kegiatan identifikasi awal terhadap unit permasalahan, merumuskan tujuan penyelesaian masalah, identifikasi berbagai alternatif solusi, menentukan kriteria pemilihan alternatif solusi, dan menentukan pilihan alternatif solusi sehingga menjadi kumpulan keputusan atau kebijakan.

Selanjutnya hasil penelitian membuktikan bahwa bahwa upaya pengambilan keputusan di SMPN 1 Bandar Baru dilakukan dengan mengundang kehadiran para dewan guru dalam satu pertemuan khusus selanjutnya memaparkan suatu permasalahan terkait dengan keputusan yang akan diambil. Selanjutnya mekanisme pengambilan keputusan kepala sekolah di SMPN 1 Bandar Baru mengedepankan pada musyawarah dewan guru. Maka untuk mengkaji setiap keputusan yang sudah disepakati, dilakukanlah sebuah pertemuan khusus dewan guru untuk mengambil alternatif solusi setiap pemecahan masalah. 2). Pertimbangan Kepala Sekolah dalam Pengambilan Keputusan pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian membuktikan bahwa merealisasi sebuah keputusan yang baik sangat dipengaruhi oleh unsur lainnya yang menjadi perhatian penting sekaligus menjadi pertimbangan bagi kepala sekolah. Pertimbangan tersebut dapat berupa keterbatasan waktu, kondisi cuaca, kondisi geografis sekolah, dan jumlah partisipan. Kondisi seperti ini seringkali muncul dan

(10)

Marzuki* adalah Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

sangat tidak diharapkan terjadi sehingga prosesi pengambilan keputusan sekolah sedikit mengalami polimik.

Meskipun demikian, eksistensi peran dan fungsi kepala sekolah dapat mengimbangi persoalan tersebut menjadi sebuah pertimbangan dan kebijaksanaan dalam kegiatan pengambilan keputusan sekolah. Sehingga keputusan yang diambil dapat diterima secara baik dan bijaksana bagi seluruh komponen pendidikan dan warga sekolah.

3). Implementasi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian memuktikan bahwa bahwa implementasi pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMPN 1 Bandar Baru adalah melalui legalisasi keputusan, rancangan operasional, sosialisasi dan komunikasi, aksi dan tindakan, pengawasan, review dan evaluasi. Di samping itu, sumber daya merupakan kunci suksesnya pelaksanaan program kegiatan di sekolah yang terdiri dari personil yang profesional, memiliki wawasan yang luas dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap moral atau etika.

4). Sosialisasi Keputusan Kepala Sekolah Terhadap Kelangsungan Program Pendidikan pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian juga membuktikan bahwa sosialisasi keputusan sekolah terhadap kelangsungan program pendidikan di SMPN 1 Bandar Baru diterapkan melalui penjelasan secara terbuka dengan masing-masing wakil kepala sekolah selanjutnya disampaikan kepada seluruh komponen tenaga pendidikan dan kependidikan untuk dapat dilaksanakan sesuai rencana dan melibatkan seluruh komponen pendidikan dan kepala sekolah selalu bekerja sama dewan guru dalam membangun komunikasi yang baik sehingga terjaga interaksi sosial yang sangat tinggi. B. PEMBAHASAN

1). Mekanisme Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian membuktikan bahwa mekanisme pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kepala sekolah di SMPN 1

Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya melalui kegiatan identifikasi awal terhadap unit permasalahan, merumuskan tujuan penyelesaian masalah, identifikasi berbagai alternatif solusi, menentukan kriteria pemilihan alternatif solusi, dan menentukan pilihan alternatif solusi sehingga menjadi kumpulan keputusan atau kebijakan.

Selanjutnya hasil penelitian membuktikan bahwa bahwa upaya pengambilan keputusan di SMPN 1 Bandar Baru dilakukan dengan mengundang kehadiran para dewan guru dalam satu pertemuan khusus selanjutnya memaparkan suatu permasalahan terkait dengan keputusan yang akan diambil.

Selanjutnya mekanisme pengambilan keputusan kepala sekolah di SMPN 1 Bandar Baru mengedepankan pada musyawarah dewan guru. Maka untuk mengkaji setiap keputusan yang sudah disepakati, dilakukanlah sebuah pertemuan khusus dewan guru untuk mengambil alternatif solusi setiap pemecahan masalah. Deskripsi tersebut sesuai dengan tinjauan Atmosodirdjo (2007:14), bahwa pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen strategik. Karena pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. Selain itu, dalam tataran proses pengambilan keputusan terdiri dari dua tahapan yaitu: “(a) Identifikasi masalah, (b) perumusan tujuan, (c) identifikasi alternatif solusi, (d) penentuan kriteria pemilihan alternatif solusi, dan (e) penentuan pilihan alternatif solusi (keputusan).

Dari deskripsi tersebut jelaslah bahwa mekanisme perumusan keputusan hendaknya meliputi komponen-komponen identifikasi masalah, merumuskan tujuan, merumuskan alternatif solusi, menentukan kriteria pemilihan alternatif solusi, dan penentuan pilihan alternatif pemecahan masalah.

Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa mekanisme pengambilan keputusan di sekolah dapat diwujudkan dengan mengenal indikator-indikator dari suatu permasalahan sehingga alternatif solusi permasalahan dengan sendriinya harus relevan dengan inti permasalahan yang dihadapi.

(11)

Marzuki* adalah Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

2). Pertimbangan Kepala Sekolah dalam Pengambilan Keputusan pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian membuktikan bahwa merealisasi sebuah keputusan yang baik sangat dipengaruhi oleh unsur lainnya yang menjadi perhatian penting sekaligus menjadi pertimbangan bagi kepala sekolah. Pertimbangan tersebut dapat berupa keterbatasan waktu, kondisi cuaca, kondisi geografis sekolah, dan jumlah partisipan. Kondisi seperti ini seringkali muncul dan sangat tidak diharapkan terjadi sehingga prosesi pengambilan keputusan sekolah sedikit mengalami polimik.

Terkait dengan deskripsi tersebut, pertimbangan kepala sekolah dalam pengambilan keputusan juga sangat dipengaruhi oleh perilaku pengambilan keputusan berkaitan dengan perilaku organisasi. Meskipun teori pengambilan keputusan klasik berjalan dalam asumsi rasionalitas dan kepastian, tetapi tidak begitu halnya dengan teori keputusan perilaku.

Dari deskripsi tersebut, terkadang risiko dan ketidakpastian dari suatu keputusan dan kebijakan menyebabkan proses pengambilan keputusan organisasi diragukan karena ketidakpastian dan ambiguitas dari sejumlah model pengambilan keputusan yang sudah diterapkan selama bertahun-tahun.

3). Implementasi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian memuktikan bahwa bahwa implementasi pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMPN 1 Bandar Baru adalah melalui legalisasi keputusan, rancangan operasional, sosialisasi dan komunikasi, aksi dan tindakan, pengawasan, review dan evaluasi. Di samping itu, sumber daya merupakan kunci suksesnya pelaksanaan program kegiatan di sekolah yang terdiri dari personil yang profesional, memiliki wawasan yang luas dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap moral atau etika. Hal ini sesuai dengan Nawawi (2005:148-149), bahwa “Proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh disertai dengan penetapan cara pelaksanaan yang dibuat oleh manajemen puncak dan dimplementasikan oleh seluruh jajaran di

dalam suatu organiasasi, untuk mencapai tujuannya”.

Dari tinjauan deskripsi di atas jelaslah bahwa dalam tahap implementasi pengambilan keputusan di sekolah mencakup langkah menggerakkan, melakukan evaluasi yang strategis, dan mengontrol atau pengawasan yang strategis.

4). Sosialisasi Keputusan Kepala Sekolah Terhadap Kelangsungan Program Pendidikan pada SMPN 1 Bandar Baru

Hasil penelitian juga membuktikan bahwa sosialisasi keputusan sekolah terhadap kelangsungan program pendidikan di SMPN 1 Bandar Baru diterapkan melalui penjelasan secara terbuka dengan masing-masing wakil kepala sekolah selanjutnya disampaikan kepada seluruh komponen tenaga pendidikan dan kependidikan untuk dapat dilaksanakan sesuai rencana dan melibatkan seluruh komponen pendidikan dan kepala sekolah selalu bekerja sama dewan guru dalam membangun komunikasi yang baik sehingga terjaga interaksi sosial yang sangat tinggi.

Oleh karena itu, keterampilan kepala sekolah sebagai manajer dalam kegiatan sosialisasi pengambilan keputusan merupakan tuntutan kompetensi yang harus dimiliki dan tuntutan kualitas manajemen yang mendorong untuk pengembangan program organisasi dan manajemen. Dengan demikian, Usman (2006:267), mengemukakan bahwa keterampilan yang dibutuhkan manajer dalam kegiatan pengambilan keputusan adalah: “(a) Keterampilan kognitif, (b) keterampilan menghimpun dan mengolah data, (c) keterampilan komunikasi, (d) keterampilan mempengaruhi, dan (e) keterampilan managerial”.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kepala sekolah mengembangkan keunggulan sekolah yang dimulai dari perencanaan sampai evaluasi agar sekolah dapat mewujudkan keunggulan sekolah sehingga dapat beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi sesuai dengan kebutuhan pengembangan mutu sumber daya manusia.

(12)

Marzuki* adalah Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

SIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil temuan penelitian, ada beberapa hal yang dapat penulis simpulkan, yaitu:

1. Mekanisme pengambilan keputusan kepala sekolah pada SMPN 1 Bandar Baru dilakukan melalui kegiatan identifikasi awal, merumuskan tujuan, alternatif solusi, menentukan kriteria pemilihan solusi, dan menentukan solusi sehingga menjadi keputusan. Adapun dalam tataran proses, pengambilan keputusan dilakukan dengan mengundang kehadiran guru-guru selanjutnya memaparkan permasalahan terkait dengan keputusan yang akan diambil.

2. Pertimbangan kepala sekolah dalam pengambilan keputusan antara lain mencakup keterbatasan waktu, kondisi cuaca, kondisi geografis sekolah, dan jumlah partisipan.

3. Implementasi pengambilan keputusan kepala sekolah dilaksanakan melalui legalisasi keputusan, rancangan operasional, sosialisasi dan komunikasi, tindakan, pengawasan, review, dan evaluasi.

4. Sosialisasi keputusan kepala sekolah terhadap kelangsungan program pendidikan dijelaskan secara terbuka dengan wakil kepala sekolah selanjutnya disampaikan kepada seluruh komponen tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan untuk dapat dilaksanakan sesuai rencana.

1. Saran-saran

Adapun saran-saran yang diajukan adalah sebagai berikut:

1. Kepala sekolah, agar dapat meningkatkan pemahaman tentang konsep manajemen strategis dalam pengelolaan program-program pendidikan di sekolah

2. Wakil kepala sekolah hendaknya lebih pro-aktif dalam mewujudkan keputusan denganformat keputusan yang mudah dipahami.

3. Para guru hendaknya dapat mengikuti semua prosedur dan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pengelola sekolah. 4. Karyawan sekolah seharusnya dapat

meningkatkan pemahaman dan wawasan dalam menterjemahkan berbagai rumusan

keputusan yang dibuat oleh kepala sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Ardana, Komang, dkk. (2008). Perilaku

Keorganisasian, Yogyakarta: Graha

Ilmu.

Atmosudirdjo, Prajudi. (2007), Pengambilan

Keputusan, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Dermawan, Rizky. (2006). Pengambilan

Keputusan, Bandung: Alfabeta.

Moleong, Lexy J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Murniati, AR. (2008), Manajemen Strategik:

Peran Kepala Sekolah dalam Pemberdayaan, Bandung: Cipta Pustaka.

Murniati, AR.. Usman Nasir (2009),

Implementasi Manajemen Stratejik

dalam Pemberdayaan Sekolah

Kejuruan, Bandung: Cipta Pustaka.

Nawawi, Hadari. (2005), Manajemen Strategik, Yogyakarta: Universitas

Gadjah Mada Pers.

Robbins, Stephen, (2005). Teori Organisasi:

Struktur, Desain, dan Aplikasi. (Terj.

Yusuf Udaya). Jakarta: Arcan.

Sagala, Syaiful. (2007), Manajemen Strategis

dalam Peningkatan Mutu Pendidikan,

Bandung: Alfabeta.

Salusu, J. (2005), Pengambilan Keputusan

Strategik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Non Profit, Jakarta: Grasindo.

Sukardi, (2005), Metodologi Penelitian

Pendidikan: Kompetensi dan

Praktiknya, Jakarta: Bumi Aksara.

Usman, Husaini. (2006), Manajemen Teori,

Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta:

(13)

PENGELOLAAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN AKREDITASI MADRASAH ALIYAH NEGERI I KOTA LANGSA

Oleh Khairuddin* Abstrak

Pengelolaan sarana dan prasarana merupakan kegiatan yang sangat penting di sekolah, karena keberadaannya akan sangat mendukung terhadap suksesnya proses pembelajaran di sekolah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) perencanaan, 2) pengadaan, 3) inventarisasi, 4) pemeliharaan dan 5) penghapusan sarana dan prasarana dalam peningkatan akreditasi MAN 1 Kota Langsa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua MGMP, komite sekolah, pengawas dan guru. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Perencanaan dilakukan oleh kepala sekolah bersama personel sekolah menyusun daftar kebutuhan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dan modal atau potensi yang telah ada. Kepala sekolah membentuk panitia khusus yang berhubungan dengan bangunan, mengatur kunjungan sekolah-sekolah yang digunakan sebagai model, dan mempelajari gambar bangunan sekolah dan perlengkapannya baik yang diproyeksikan maupun gambar biasa. 2) Pengadaan dilakukan berdasarkan perencanaan kebutuhan yang sudah ditentukan. Sekolah menyiapkan proposal sebelum melakukan pengadaan. Dalam proposal pengadaan dicantumkan secara jelas tentang jenis barang yang diminta, jumlah satuannya, merek beserta dengan tipenya, dan taksiran harganya. 3) Inventarisasi dengan cara menyediakan buku inventaris, buku pembelian, buku penghapusan, dan kartu barang. Barang inventaris diberikan lambang nama berbentuk angka yang tersusun menurut pola tertentu. Barang inventaris sekolah dipertanggungjawabkan dengan membuat laporan penggunaan barang-barang tersebut yang ditujukan kepada Kantor Kementrian Agama setempat. 4) Pemeliharaan dengan cara menunjuk beberapa personel sekolah untuk pemeliharaan sarana dan prasarana secara rutin dan insidental. Apabila terjadi kerusakan akan dilaporkan kepada kepala sekolah dan menentukan perbaikan berupa mengusulkan dan menggantikannya kepada atasan berwenang. Sumber dana pemeliharaan adalah dari pemerintah, donatur, komite sekolah. 5) Penghapusan dilakukan apabila memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti: apabila sarana sudah dalam keadaan tua atau rusak berat, menelan biaya yang besar apabila diperbaiki, tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masa kini dan apabila dicuri, terbakar, musnah sebagai akibat bencana alam. Proses penghapusan tersebut biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu di musnahkan atau di lelang kepada guru dan karyawan sekolah.

Kata Kunci: Pengelolaan Sarana dan Prasarana dan Akreditasi Sekolah.

Pendidikan adalah suatu proses pemberian bantuan bagi manusia peserta didik untuk mengembangkan daya berpikir, merasa dan bertingkahlaku sehingga mereka berkemampuan melaksanakan tugas, fungsi, dan perannya dalam kehidupan. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Bab I pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Salah faktor yang mendukung keberhasilan program pendidikan dalam proses pembelajaran yaitu sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolak ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih. Sarana dan prasarana sangat penting diperhatikan untuk

(14)

menunjang keterampilan siswa agar siap bersaing terhadap pesatnya teknologi.

Pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah pada dasarnya merupakan salah satu bidang kajian manajemen sekolah atau manajemen pendidikan dan sekaligus menjadi tugas pokok manajer sekolah atau kepala sekolah. Harun (2009:85) mengemukakan bahwa “Manajemen sarana dan prasarana adalah keseluruhan proses yang terdiri dari perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan sarana dan prasarana pendidikan yang digunakan untuk mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar, agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal”. Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolak ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta di lapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang kurang dioptimalkan dan dikelola dengan baik. untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana.

Kepala sekolah yang menduduki jabatan dalam mengambil kebijakan seharusnya mampu meningkatkan berbagai komponen yang dapat membangun kinerja, data dan mutu dari tenaga pendidik dan kependidikan. Proses penjaminan mutu lembaga pendidikan dapat mengidentifikasi bidang-bidang pencapaian dan prioritas untuk perbaikan, menyediakan data untuk pembuatan keputusan bersama dan membantu membangun budaya perbaikan yang berkelanjutan sesuai tujuan akreditasi sekolah. Peran dan kemampuan kepala sekolah yang dapat memberikan pelayanan baik dalam penataan sarana dan prasarana maupun pemberdayaan warga sekolah. Usaha peningkatan akreditasi sekolah mengharuskan kepala sekolah memiliki acuan atau rencana strategi sekolah, sehingga lembaga pendidikan dapat melayani kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan. Pendidikan yang bermutu menunjukkan bahwa pendidikan telah menjadi salah satu pranata kehidupan sosial yang kuat dan berwibawa, serta memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan peradaban bangsa, budaya dan agama.

Pelaksanaan Akreditasi pada Satuan Pendidikan secara langsung akan membawa sekolah/madrasah melakukan pembenahan pada berbagai aspek. Seorang Kepala sekolah

harus memiliki pandangan luas tentang sekolahnya dan apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional. Upaya pemenuhan standar nasional pendidikan melalui evaluasi diri akan menuntut kepala sekolah/madrasah dan guru untuk menumbuh kembangkan sikap kepedulian, semangat bekerja, disiplin, dan hubungan yang harmonis diantara sesama warga sekolah/madrasah.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Langsa adalah salah satu sekolah/madrasah yang berada di Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa. Pada tahun 2007, MAN 1 Langsa memperoleh nilai akreditasi peringkat A (sangat baik). Hasil pengamatan penulis, kondisi MAN 1 Langsa yang kondusif untuk belajar, serta kepedulian para stakeholder pada madrasah telah menunjukkan peningkatan mutu pendidikan, yaitu menjadikan madrasah tersebut sebagai madrasah rintisan manajemen berbasis sekolah dan madrasah unggulan dalam lingkungan Kementerian Agama kota Langsa.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah dalam Peningkatan Akreditasi Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Langsa”.

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Manajemen Pendidikan Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Menurut Murniati AR (2008:71) “Manajemen adalah kegiatan mengatur berbagai sumber daya, baik manusia maupun material, dalam rangka melakukan berbagai kegiatan suatu organisasi untuk mencapai tujuan secara optimal. Karena itu, manajemen merupakan tugas pimpinan dalam menggerakkan berbagai sumber yang ada kearah sasaran yang ingin dicapai”.

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Sebagaimana Sagala (2009:54) mengemukakan bahwa “Manajemen pendidikan adalah mencakup semua kegiatan yang dijalankan oleh institusi pendidikan, khususnya suatu pendidikan pada berbagai

(15)

tingkatan dan fungsi tugasnya dalam rangka mencapai tujuan”. Jika manajemen pendidikan sudah tertata dengan baik dan membumi, niscaya tidak akan lagi terdengar tentang pelayanan sekolah yang buruk, minimnya profesionalisme tenaga pengajar, sarana-prasarana tidak memadai, pungutan liar, hingga kekerasan dalam pendidikan.

Substansi proses manajemen pendidikan yang harus dilakukan adalah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan atau pembinaan. Menurut Mulyati (2010:93) bahwa “proses manajemen secara umum mengikuti langkah-langkah merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan”. Sedangkan substansi tugasnya adalah murid, guru, atau orang tua, kurikulum, atau sumber belajar dan fasilitas. Agar kegiatan penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat terlaksana secara efektif, maka setiap pimpinan harus mampu melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap sumberdaya pendidikan, sumber belajar, fasilitas dan dana.

B. Manajemen Sarana dan Prasarana Manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah pada dasarnya merupakan salah satu bidang kajian manajemen sekolah atau manajemen pendidikan dan sekaligus menjadi tugas pokok manajer sekolah atau kepala sekolah. Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolok ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta di lapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan berbasis sekolah.

Dalam rangka mengatur substansi fasilitas atau sarana di sekolah di gunakan suatu pendekatan administratif tertentu yang disebut juga manajemen sarana pendidikan. Sarana pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses belajar mengajar. Sedangkan prasarana pendidikan merupakan berbagai macam perlengkapan dan peralatan yang secara tidak langsung menunjang terhadap kelancaran kegiatan pendidikan khsususnya berkaitan dengan kelancaran kegiatan pembelajaran di sekolah. Manajemen sarana dan prasarana merupakan proses kerjasama pendayagunaan semua sarana dan

prasarana pendidikan secara efektif dan efisien. Sebagaimana Harun (2009:85) mengemukakan bahwa “Manajemen sarana dan prasarana adalah keseluruhan proses yang terdiri dari perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan sarana dan prasarana pendidikan yang digunakan untuk mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar, agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal”. Bagi pengambil kebijakan di sekolah, pemahaman tentang sarana dan prasarana akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana dapat berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal guna mencapai tujuan pendidikan.

C. Prinsip Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Supaya tujuan-tujuan manajemen perlengkapan bisa tercapai ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan dalam mengelola perlengkapan di sekolah, prinsip-prinsip dalam mengelola sarana dan prasarana sekolah menurut Bafadal (2008:5) yaitu: “1) Prinsip pencapaian tujuan, 2) Prinsip efisiensi, 3) Prinsip administratif, 4) Prinsip kejelasan tanggung jawab dan 5) Prinsip kekohesifan”.

Perlengkapan yang digunakan harus benar-benar tepat guna, maka baik jenis, bentuk, serta warna hendaknya benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan kegiatan anak didik/siswa. Penggunaan atau pemakaian sarana dan prasarana pendidikan disekolah merupakan tanggungjawab kepala sekolah pada setiap jenjang pendidikan. Untuk kelancaran kegiatan tersebut, bagi kepala sekolah yang mempunyai wakil bidang sarana dan prasarana atau petugas yang berhubungan dengan penanganan saran dan prasarana sekolah diberi tanggung jawab untuk menyusun jadwal tersebut.

D. Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan

Penetapan standar kompetensi dan standar mutu pendidikan nasional merupakan jaminan bagi laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas nasional. Adanya standar atau hasil yang harus dicapai, juga dapat meningkatkan komponen input dan

(16)

proses pembelajaran yang dilaksanakan akan lebih efektif sehingga hasilnya lebih optimal karena pembelajaran lebih terfokus.

Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti: ruang, buku, perpustakaan, labolatarium dan sebagainya. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa

1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat bekreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana meliputi ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang laboratorium biologi, ruang laboratorium fisika, ruang laboratorium kimia, ruang laboratorium komputer, ruang laboratorium bahasa, ruang pimpinan, ruang guru, ruang tata usaha, tempat beribadah, ruang konseling, ruang UKS, ruang organisasi kesiswaan, jamban, gudang, ruang sirkulasi, dan tempat bermain/berolahraga.

Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua benda yang bergerak atau tidak bergerak yang diperlukan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar baik secara langsung maupun tidak langsung dan benda-benda yang habis pakai ataupun tidak habis pakai. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan bahwa “Standar sarana dan

prasarana adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi”.

Proses belajar mengajar pada setiap jenjang dan jenis pendidikan memerlukan dan dipengaruhi oleh sarana dan prasarana. Untuk mencapai efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar diperlukan pengelolaan atau manajemen sarana dan prasarana yang baik di sekolah.

E. Akreditasi Sekolah

Akreditasi dilakukan agar penyelenggaraan pendidikan pada semua lingkup mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Akreditasi sekolah adalah kegiatan penilaian (asesmen) sekolah secara sistematis dan komprehensif melalui kegiatan evaluasi diri dan evaluasi eksternal (visitasi) untuk menentuksn kelayakan dan kinerja sekolah. Akreditasi sekolah/madrasah menurut Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (2009:5) adalah “proses penilaian secara komprehensif terhadap kelayakan satuan atau program pendidikan, yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk sertifikat pengakuan dan peringkat kelayakan yang dikeluarkan oleh suatu lembaga yang mandiri dan profesional”.

Salah satu program pemerintah yang sedang dilaksanakan sekarang adalah meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Salah satu yang harus dilakukan dalam meningkatkan mutu adalah dengan cara tersedia fasilitas yang memadai. Menurut Engkoswara (2010:225) bahwa “Fasilitas pendidikan merupakan faktor yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang berfungsi memberikan kemudahan-kemudahan baik bagi siswa, guru maupun bagi tenaga kependidikan lainnya yang berupa gedung atau ruangan kelas, perumahan guru, penjaga sekolah, dan gedung laboratorium”.

Proses akreditasi dilakukan secara berkala dan terbuka dengan tujuan untuk membantu dan memberdayakan program dan satuan pendidikan agar mampu mengembangkan sumberdayanya dalam

(17)

mencapai tujuan pendidikan nasional. Pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah harus berpedoman kepada norma-norma yang sesuai dengan tujuan dan fungsi akreditasi. Badan Akreditasi Nasional sekolah/madrasah (2009:53-56) menetapkan bahwa norma-norma pelaksanaan akreditasi adalah “1) kejujuran, independensi, profesionalisme, 3) keadilan, 4) keadilan, 5) kesejajaran, 6) keterbukaan, 7) akuntabilitas, 8) bertanggung jawab, 9) bebas intimidasi, 10) menjaga kerahasiaan, dan 11) keunggulan mutu”.

Akreditasi sekolah merupakan kerja yang tidak ringan, yang harus ditanggung oleh segenap warga sekolah. Akreditasi sekolah bukan pekerjaan satu atau beberapa orang. Sehingga, semua pihak harus berpartisipasi secara aktif bahkan proaktif. Satu saja pihak tidak mau terlibat, maka rusaklah seluruh kerja berat semua warga sekolah. Ibaratnya, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Untuk itu sangat dibutuhkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan berkoordinasi.

Kepala sekolah sangat berperan dalam meningkatkan akreditasi sekolah. Hasil akreditasi diharapkan dapat menjadi bahan informasi untuk pemetaan indikator kelayakan sekolah, kinerja warga dan kepala sekolah selama periode kepemimpinannya. Disamping itu, hasil akreditasi juga diperlukan kepala sekolah sebagai bahan masukan untuk penyusunan program serta anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Akreditasi merupakan alat regulasi diri agar sekolah/madrasah mengenal kekuatan dan kelemahan serta melakukan upaya yang terus menerus untuk meningkatkan kekuatan dan memperbaiki kelemahannya.

METODA PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk menghasilkan gambaran yang berkenaan dengan pengelolaan sarana dan prasarana dalam peningkatan akreditasi Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Langsa. Menurut Usman dan Purnomo (2009:78) bahwa “Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri”. Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun

pandangan mereka yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit.

Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua MGMP, komite sekolah, pengawas dan guru. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman dokumentasi.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis setelah dikumpulkan dan dituangkan dalam bentuk laporan lapangan. Langkah-langkah dalam menganalisis data adalah reduksi data, display data, dan pengambilan keputusan dan verifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan dalam penelitian ini memberikan penjelasan sesuai dengan hasil penelitian dan dapat didukung oleh pendapat ahli yang jelas maka, pembahasan dapat penulis paparkan sebagai berikut:

A. Perencanaan sarana dan prasarana dalam peningkatan akreditasi pada Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Langsa

Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Langsa bersama personel sekolah menyusun daftar kebutuhan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dan modal atau potensi yang telah ada. Kemudian mempersiapkan perkiraan tahunan untuk diusahakan penyediaannya. Dalam bidang prasarana, kepala sekolah membentuk panitia untuk mempelajari kebutuhan-kebutuhan khusus yang berhubungan dengan bangunan, mengatur kunjungan sekolah-sekolah yang digunakan sebagai model, dan mempelajari gambar bangunan sekolah dan perlengkapannya baik yang diproyeksikan maupun gambar biasa. Perencanaan yang dilakukan berupa rehabilitasi bangunan, keindahan ruang belajar, halaman dan lapangan olahraga.

Penentuan sarana pendidikan sekolah juga harus mempertimbangkan, siapa-siapa saja yang memfasilitasi atau membiayai pengadaan sarana tersebut. Pihak sekolah bisa mengajukan permohonan pengadaan sarana pendidikan kepada istansi atasan seperti kepada pemerintah melalui Kementerian

(18)

Agama provinsi, kabupaten/kota, bisa juga kepada pihak komite sekolah mengajukan RAPBM (Rencana Anggaran Penerimaan dan Belanja Madrasah) pada awal tahun pelajaran atau mungkin sumbangan dari masyarakat. Apabila pengajuan pengadaan sarana pendidikan tersebut hanya sebagian yang disetujui, maka harus menentukan sekala prioritas atau sarana yang paling penting dan mendesak diperlukan dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk memudahkan mengetahui sarana yang paling penting dan mendesak dalam keperluan pendidikan, maka pada daftar pengadaan sarana harus diurut dari nomor terkecil untuk sarana/fasiltas yang paling penting atau mendesak kemudian diikuti sarana yang lain sesuai dengan tingkat kepentingan.

Perencanaan sarana dan prasarana pendidikan pada hakikatnya memberikan dampak perubahan terhadap akreditas sekolah sehingga dapat membangun kinerja personel sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kinerja pemimpin pendidikan dalam hal ini kepala sekolah sangat menentukan peningkatan hasil akreditasi sekolah. Menurut Harun (2009:86) dalam perencanaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah didasarkan atas beberapa tujuan, yaitu “(a) perencanaan kebutuhan sarana dan prasarana karena berkembangnya kebutuhan sekolah, (b) perencanaan untuk penggantian barang-barang yang rusak, dihapuskan atau hilang, dan (c) perencanaan sarana dan prasarana untuk persediaan barang”.

Program pendidikan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja akan berbeda dengan program pendidikan yang berorientasi pada pemerataan kesempatan belajar, dalam hal sarana dan prasarananya, karena itu dalam perencanaan kebutuhan tersebut tersebut perlu dikaji sstem internal pendidikan dan aspek eksternalnya seperti masalah demographi, ekonomi kebijakan-kebijakan yang ada. Prinsip prinsip umum dalam perencanaan seperti komprehensif, obyektif, fleksibel dan interdisiplin perlu diperhatikan. Menurut Usman (2009:649) bahwa program pengelolaan sarana dan prasarana mengacu kepada standar sarana dan prasarana, antara lain:

1. Merencanakan, memenuhi dan mendayagunakan sarana dan prasarana pendidikan.

2. Mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana agar tetap berfungsi mendukung proses pendidikan

3. Melengkapi fasilitas pembelajaran pada setiap tingkat kelas di sekolah/madrasah 4. Menyusun skala prioritas pengembangan

fasilitas pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan dan kurikulum masin-masing tingkat

5. Pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatan dengan memperhatikan kesehatan dan keamanan lingkungan.

Perencanaan perlengkapan pendidikan merupakan upaya memikirkan perlengkapan yang di perlukan di masa yang akan datang dan bagaimana pengadaannya secara sistematis, rinci, dan teliti berdasarkan informasi dan realistis tentang kondisi sekolah. Sarana dan prasarana yang berupa gedung, sangat bagus kalau dibuat maketnya, agar dapat diproyeksikan arah pengembangannya. Arah pengembangan tersebut, tentu sejalan dengan proyeksi kebutuhan di masa yang akan datang.

B. Pengadaan sarana dan prasarana dalam peningkatan akreditasi pada Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Langsa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengadaan sarana dan prasarana pada MAN 1 Kota Langsa dilakukan berdasarkan perencanaan kebutuhan yang sudah ditentukan. Sekolah menyiapkan proposal sebelum melakukan pengadaan. Pada proposal pengadaan dicantumkan secara jelas tentang jenis barang yang diminta, jumlah satuannya, merek beserta dengan tipenya, dan taksiran harganya. Proses pengadaan sarana dan prasarana sekolah dengan cara membeli secara langsung ke toko-toko sarana dan prasarana yang kini banyak beredar.

Pengadaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan semua jenis sarana dan prasarana pendidikan persekolahan yang sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Soetjipto (2010:171) bahwa “pengadaan adalah kegiatan untuk menghadirkan sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas-tugas sekolah”. Dalam konteks persekolahan, pengadaan merupakan

Gambar

Tabel  1.1  Rekapitulasi  Hasil  Tes  Formatif  Siswa Pada Siklus I
Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Darul Kamal Siklus I
Tabel 2. Aktivitas Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Darul Kamal dalam Pembelajaran
Tabel 4. Aktivitas Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Darul Kamal dalam Pembelajaran
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dari urian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh peristiwa yang terjadi pada seseorang (locus of control), pengetahuan

Dari global perspektif, Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga acuannya pada posisi 0%.. Selain itu Bank Sentral Eropa juga mempertahankan kebijakan pembelian

Dalam perancangan pabrik asam adipat diperlukan analisa ekonomi karena untuk mendapatkan perkiraan tentang kelayakan investasi, besarnya laba yang diperoleh,

menghasilkan pendapatan yang stabil melalui investasi terutama pada instrumen-instrumen berpendapatan tetap dalam mata uang Rupiah, yang diterbitkan oleh para pihak di

Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pelaksanaan, dan pembinaan dan bimbingan di bidang penelitian

Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang fisika bahan, fisika dan termohidrolika reaktor, fisika

Keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) 2. Penyelesaian sengketa melalui mediasi pribadi, diatur oleh para pihak itu sendiri dibantu oleh mediator terkait

Dapat digunakan untuk meninjak lanjuti penanganan pedagang kaki lima di sekitar kawasan Pantai Kuta khususnya dan Tempat-tempat wisata lainnya di Kabupaten