JURNAL PENDIDIKAN SERAMBI ILMU
Teks penuh
(2) Hasil Belajar Siswa Pada Materi Bangun Ruang Melalui Pendekatan Realistik (Suatu Penelitian Pada Anak Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar) Oleh Muhammad. Isa, * Abstrak : Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu. Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan seharihari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa melalui pendekatan realistik pada anak kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar yang tersebar dalam tiga kelas paralel. Berdasarkan hal tersebut penulis tetapkan satu kelas sebagai kelas eksperimen yaitu kelas VIII-2 dengan jumlah siswa 40 orang dan satu kelas sebagai kelas kontrol yaitu kelas VIII-3 dengan jumlah siswa 39 orang. Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan realistik lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajarkan tanpa menggunakan pendekatan realistik pada bangun ruang di SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar. Kata Kunci : Prestasi, Pendekatan Realistik, Materi, Bangunan Sebagaimana tercantum dalam kurikulum matematika sekolah bahwa tujuan diberikannya matematika antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntutan yang sangat tinggi yang tidak mungkin di capai hanya melalui hafalan, latihan pengerjaan soal yang bersifat rutin, serta proses pengerjaan soal yang biasa. Untuk menjawab tuntutan tujuan yang demikian tinggi maka perlu di kembangkan materi serta proses pembelajarannya yang sesuai. Berdasarkan teori belajar yang di kemukakan Gagne (1970), bahwa "keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat di lakukan melalui pemecahan masalah''. Suryuadi dkk. (1999) dalam surveinya tentang Current situation on matematics and science education in Bandung'', antara lain menemukan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matematika yang dianggap penting baik oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan mulai dari Sekolah Dasar sampai SMU. Sehubungan dengan pemecahan masalah (Problem Solving), National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2000) Menyatakan bahwa pembelajaran matematika sekolah harus mengupayakan agar siswa dapat (1) membangun pengetahuan matematika melalui pemecahan masalah, (2) memecahkan masalah yang muncul. dalam konteks matematika dan konteks yang lain, jadi pembelajaran matematika di sekolah perlu mengupayakan agar siswa mempunyai kemampuan memecahkan masalah dan menjadi pemecah masalah yang baik. Salah satu karakteristik matematika mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Rendahnya prestasi matematika siswa di sebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara konfrehensif Abidin (1989:5) menyatakan bahwa pemecahan masalah dapat membentuk sikap positif pada diri siswa untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dalam situasi tertentu. Menurut NCTM (2000: 335), Pemecahan masalah mempunyai dua fungsi dalam pembelajaran matematika. Pertama Pemecahan masalah adalah alat penting mempelajari matematika. Banyak konsep matematika yang dapat dikenalkan secara efektif kepada siswa melalui pemecahan masalah. Kedua pemecahan masalah dapat membekali siswa dengan pengetahuan dan alat sehingga siswa dapat memformulasikan, mendekati, dan menyelesaikan masalah sesuai dengan yang telah mereka pelajari di sekolah. Sebagai implikasinya, maka siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dan strategi-strategi pemecahan masalah..
(3) Media pembelajaran matematika merupakan alat untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa dalam matematika terutama dalam proses pemecahan masalah, selain itu alat peraga dapat lebih membantu siswa agar tidak bosan saat belajar dan lebih terfokus pada masalah yang sedang di pecahkan. Penggunaan alat peraga yang tepat diperlukan agar siswa dapat memahami konsep abstrak pada konsep yang diajarkan. Alat peraga pengajaran diperlukan dalam pembelajaran matematika umumnya dan pada bangun ruang khususnya. Bangun Ruang merupakan sub konsep dari geometri yang berhubungan dengan bentuk dari benda yang mempunyai panjang, lebar dan tinggi sebagai unsur-unsurnya. Hal ini menyebabkan timbulnya kesulitan dalam mengongkritkan sifat-sifat abstrak dalam imajinasi siswa. Siswa juga tidak bisa mengkaitkan persoalan bangun ruang ke dalam persoalan sehari hari. Dan siswa juga tidak bisa menyelesaikan persoalan bangun ruang ke penyelesaian Problem Solving. Berdasarkan permasalahan di atas penulis ingin mengetahui apakah melalui pendekatan realistik bisa meningkatkan pemahaman konsep-konsep kesebangunan dan simetri lipat pada anak. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hasil Belajar Siswa Pada Materi Bangun Ruang Melalui Pendekatan Realistik (Suatu Penelitian Pada Anak Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar). Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada peningkatan prestasi belajar siswa pada materi bangun ruang melalui pendekatan matematika realistik di kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar? Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa melalui pendekatan realistik pada anak kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar. Manfaat Penelitian a. Sebagai masukan bagi guru, dengan dilaksanakannya penelitian ini guru dapat dengan baik menilai bagaimana pendekatan realistik ini lebih tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Serta dapat memberikan pembelajaran baru dalam dunia pendidikan. b. Sebagai masukan bagi siswa, penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa untuk. meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi bangun ruang, serta dapat meningkatkan proses belajar mengajar yang baik. c. Manfaat bagi lembaga terkait dan sekolah, dengan dilaksanakannya penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi Kepala Sekolah dan guru Bidang studi Matematika SMP Negeri 1 Kuta Malaka dalam perbaikan mengajar ke arah yang lebih baik. Anggapan Dasar dan Hipotesis Anggapan dasar adalah sesuatu hal yang diterima sebagai landasan berpikir. Arikunto (2006:65) menyatakan bahwa “Anggapan dasar atau asumsi adalah sesuatu hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti harus dirumuskan secara jelas. Anggapan dasar ini merupakan landasan teori di dalam pelaporan hasil penelitian nanti”. Adapun anggapan dasar dalam penelitian ini adalah model pendekatan Matematika Realistik sebagai salah satu model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika dan siswa dianggap berhasil dengan pendekatan Matematika Realistik. Hipotesis adalah dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya. Berdasarkan anggapan dasar tarsebut, yang menjadi hipotesis yaitu: Hasil belajar siswa yang diajar dengan Pendekatan Matematika Realistik lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvesional pada materi Bangun Ruang di SMPN Kuta Malaka Aceh Besar. Definisi Istilah Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Maka menjadi definisi operasional dalam penelitian ini adalah : 1.. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Chatarina, 2004:4). Sedangkan menurut Winkel (dalam Sukestiyarno dan Budi Waluya, 2006:6), hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai peserta didik di mana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Penilaian hasil belajar dilakukan sekali setelah suatu kegiatan pembelajaran dilaksanakan. 2.. Bangun Ruang Bangun ruang adalah bangun yang semua elemen pembentuknya tidak seluruhnya terletak.
(4) TINJAUAN PUSTAKA. 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Matematika sekolah tidak dapat dipisahkan sama sekali dari ciri-ciri yang dimiliki matematika. Dua ciri penting matematika menurut GBPP matematika adalah: a. Memiliki obyek kajian yang abstrak. b. Berpola pikir deduktif dan konsisten (Suyitno, 2000:10). Dari kutipan di atas, jelas bahwa tujuan diberikannya Matematika di SMP adalah untuk memahami konsep matematika, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan dan memiliki sifat menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah. Selain itu juga mempersiapkan siswa dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi, serta berguna untuk membantu siswa dalam mempelajari ilmu pengetahuan.. 1. Tujuan Pembelajaran Matematika di SMP Kegiatan belajar dan mengajar matematika seyogianya juga tidak disamakan begitu saja oleh ilmu yang lain. Karena peserta yang belajar matematika itu sebagai ilmu pengetahuan yang dewasa ini berkembang sempat pesat, baik materi maupun kegunaannya merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan kepada pendidik dasar, menengah dan tinggi, masing-masing mempunyai tujuan pembelajaran tersendiri. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006: 388) tujuan pembelajaran matematika di SMP berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebagai berikut: 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah. 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat. Melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan menyatakan matematika; 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah;. 2. Pembelajaran Matematika Realistik a. Sejarah dan landasan filosofis Matematika Realistik Pendidikan matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME) mulai berkembang karena adanya keinginan meninjau kembali pendidikan matematika di Belanda yang dirasakan kurang bermakna bagi pembelajar. Gerakan ini mula-mula diprakarsai oleh Wijdeveld dan Goffre (1968) melalui proyek Wiskobas. Selanjutnya bentuk RME yang ada sampai sekarang sebagian besar ditentukan oleh pandangan Freudenthal (1977) tentang matematika. Menurut pandangannya matematika harus dikaitkan dengan kenyataan, dekat dengan pengalaman anak dan relevan terhadap masyarakat, dengan tujuan menjadi bagian dari nilai kemanusiaan. Selain memandang matematika sebagai subyek yang ditransfer, Freudenthal menekankan ide matematika sebagai suatu kegiatan kemanusiaan. Pelajaran matematika harus memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk “dibimbing” dan “menemukan kembali” matematika dengan melakukannya. Artinya dalam pendidikan matematika dengan sasaran utama matematika sebagai kegiatan dan bukan sistem tertutup. Jadi fokus pembelajaran matematika harus pada kegiatan bermatematika atau “matematisasi” (Freudental,1968). Kemudian Treffers (dalam Diyah, 2007) secara eksplisit merumuskan ide tersebut dalam 2 tipe. pada sebuah bidang datar atau lengkung. Bangun ruang dapat berupa luasan dan bukan berupa luasan, misalnya spiral. Yang dibahas hanya berupa luasan saja. Pada penelitian ini bangun ruang yang dibahas adalah Bangun Ruang Kubus dan Balok. 3.. Pendekatan Realistik Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu. Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari..
(5) matematisasi dalam konteks pendidikan, yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. Pada matematisasi horizontal siswa diberi perkakas matematika yang dapat menolongnya menyusun dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Matematisasi vertikal di pihak lain merupakan proses reorganisasi dalam sistem matematis, misalnya menemukan hubungan langsung dari keterkaitan antar konsep-konsep dan strategi-strategi dan kemudian menerapkan temuan tersebut. Jadi matematisasi horisontal bertolak dari ranah nyata menuju ranah simbol, sedangkan matematisasi vertikal bergerak dalam ranah simbol. Kedua bentuk matematisasi ini sesungguhnya tidak berbeda maknanya dan sama nilainya (Freudenthal, 1991 dalam Gusti Putu Suharta, 2008). Hal ini disebabkan oleh pemaknaan “realistik” yang berasal dari bahasa Belanda “realiseren” yang artinya bukan berhubungan dengan kenyataan, tetapi “membayangkan”. Kegiatan “membayangkan” ini ternyata akan lebih mudah dilakukan apabila bertolak dari dunia nyata, tetapi tidak selamanya harus melalui cara itu. b. Karakteristik Pendidikan Matematika Realistik. Pendidikan Matematika Realistik mencerminkan pandangan matematika tertentu mengenai bagaimana anak belajar matematika dan bagaimana matematika harus diajarkan. Pandangan ini tercermin pada 6 prinsip, yang diturunkan dari 5 kaidah yang di kemukakan Treffers (1987) yaitu eksplorasi fenomenologis menggunakan konteks, menjembatani dengan menggunakan instrumen vertikal, konstruksi dan produksi oleh pembelajar sendiri, pembelajaran interaktif, dan jalur-jalur belajar yang saling menjalin. Berdasarkan kaidah-kaidah tersebut, maka keenam prinsip yang merupakan karakteristik pendidikan matematika realistik akan dipaparkan sebagai berikut. 1) Prinsip kegiatan Pembelajar harus diperlakukan sebagai partisipan aktif dalam proses pengembangan seluruh perangkat perkakas dan wawasan matematis sendiri. Dalam hal ini pembelajar dihadapkan situasi masalah yang memungkinkan ia membentuk bagian-bagian masalah tersebut dan mengembangkan secara bertahap algoritma, misalnya cara mengalikan dan membagi berdasarkan cara kerja nonformal. 2) Prinsip nyata Matematika realistik harus memungkinkan pembelajar dapat menerapkan. pemahaman matematika dan perkakas matematikanya untuk memecahkan masalah. Pembelajar harus mempelajari matematika sedemikian hingga bermanfaat dan dapat diterapkan untuk memecahkan masalah sesungguhnya dalam kehidupan. Hanya dalam konteks pemecahan masalah pembelajar dapat mengembangkan perkakas matematis dan pemahaman matematis. 3) Prinsip bertahap Belajar matematika artinya pembelajar harus melalui berbagai tahap pemahaman, yaitu dari kemampuan menemukan pemecahan informal yang berhubungan dengan konteks, menuju penciptaan berbagai tahap hubungan langsung dan pembuatan bagan yang selanjutnya pada perolehan wawasan tentang prinsip-prinsip yang mendasari dan kearifan untuk memperluas hubungan tersebut. Kondisi untuk sampai tahap berikutnya tercermin pada kemampuan yang ditunjukkan pada kegiatan yang dilakukan. Refleksi ini dapat ditunjukkan melalui interaksi. Kekuatan prinsip tahap ini yaitu dapat membimbing pertumbuhan pemahaman matematika pembelajar dan mengarahkan hubungan longitudinal dalam kurikulum matematika. 4) Prinsip saling menjalin Prinsip saling menjalin ini ditemukan pada setiap jalur matematika, misalnya antar topik-topik seperti kesadaran akan bilangan, mental aritmatika, perkiraan (estimasi), dan algoritma. 5) Prinsip interaksi Dalam matematika realistik belajar matematika dipandang sebagai kegiatan sosial. Pendidikan harus dapat memberikan kesempatan bagi para pembelajar untuk saling berbagi strategi dan penemuan mereka. Dengan mendengarkan apa yang ditemukan orang lain dan mendiskusikan temuan ini, pembelajar mendapatkan ide untuk memperbaiki strateginya. Lagi pula interaksi dapat menghasilkan refleksi yang memungkinkan pembelajar meraih tahap pemahaman yang lebih tinggi. 6) Prinsip bimbingan Pengajar maupun program pendidikan mempunyai peranan terpenting dalam mengarahkan pembelajar untuk memperoleh pengetahuan. Mereka mengendalikan proses pembelajaran yang lentur untuk menunjukkan apa yang harus dipelajari untuk menghindarkan pemahaman semu melalui proses hafalan. Pembelajar memerlukan kesempatan untuk.
(6) membentuk wawasan dan perkakas matematisnya sendiri, karena itu pengajar harus memberikan lingkungan pembelajaran yang mendukung berlangsungnya proses tersebut. Artinya mereka harus dapat meramalkan bila dan bagaimana mereka dapat mengantisipasi pemahaman dan keterampilan pembelajar untuk mengarahkannya mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini perbedaan kemampuan pembelajar harus diperhatikan, sehingga setiap pembelajar mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuannya dengan cara yang paling cocok untuk mereka masing-masing. c, Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Realistik Pendekatan Matematika Realistik mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut: siswa memiliki seperangkat konsep laternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya; siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri; pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi,penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan; pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman; setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematika. Konsepsi tentang guru sebagai berikut: guru hanya sebagai fasilitator belajar; guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif; guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan guru tidak Dunia Nyata. terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia-riil, baik fisik maupun sosial. Hartono (dalam Diyah, 2007). Menurut Sudharta (2004), dalam pengajaran matematika realistik, dibutuhkan upaya (1) penemuan kembali terbimbing dan matematisasi progresif, artinya pembelajaran matematika realistik harus diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengalami sendiri proses penemuan matematika ;(2) fenomena didaktik, artinya pembentukan situasi dalam pemecahan masalah matematika realistic harus menetapkan aspek aplikasi dan mempertimbangkan pengaruh proses dari matematisasi progresif; (3) mengmbangkan model-model sendiri, artinya pemecahan masalah matematika realistic harus mampu dijembatani melalui pengembangan model-model yang diciptakan sendiri oleh siswa dari yang konkrit menuju situasi abstrak, atau model yang diciptakan sendiri oleh siswa untuk memecahkan masalah, dapat menciptakan kreasi dalam keprbadian siswa melalui aktifitas di bawah bimbingan guru. Langkah-langkah pembelajaran matematika dengan PMR dapat digambarkan sebagai berikut (Sudharta, 2004):. Dunia. Masalah Konkrit. Model Matematika. Jawaban Atas Masalah. Jawaban Model. Berdasarkan gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa pembelajaran matematika realistik diawali dengan fenomena yang ada di dalam dunia nyata, kenudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali. dan mengkonstruksi dalam model matematika kemudian membuat jawaban atas model matematika tersebut.Setelah itu diaplikasikan dalam masalah sehari-hari atau dalam bidang lain. Dalam pembelajaran, sebelum siswa masuk pada sistem formal, terlebih dahulu siswa.
(7) dibawa ke ‘situasi informal’, misalnya pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bagian yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga tidak terjadi loncatan pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal). Setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian yang sama, baru dikenalkan istilah pecahan. Ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan PMR) di mana siswa sejak awal sudah dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa jenis pecahan. Jadi, Pembelajaran matematika realistik diawali dengan fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri. Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah seharihari atau dalam bidang lain. 1.. Kriteria Pemilihan Media Pada Bangun Ruang. Ely (Ariel 2005:85) mengatakan bahwa pemilihan seyogyanya tidak terlepas dari konteksnya bahwa media merupakan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan. Karena itu meskipun tujuan dan isi sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik siswa, strategi belajar mengajar, Organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilaiannya perlu di pertimbangkan. Menurut Azhar (2004:75) bahwa ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media yaitu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta konsep, prinsip dan generalisasi, praktis, lues dan bertahan, dan guru terampil menggunakannya, pengelompokan sasaran dan mutu teknis. METODE PENELITIAN 1. Populasi dan Sampel Menurut Margono (2005:118), populasi adalah keseluruhan data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar yang tersebar dalam tiga kelas paralel. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti (Margono, 2005:121). Sampel dari penelitian ini dipilih dua kelas yang mempunyai kemampuan sama, berdasarkan dari pengamatan guru bidang studi matematika pada sekolah tersebut dan diperkuat dari hasil tes awal yang penulis berikan pada kedua kelas. Dari pengolahan hasil tes awal dan pengujian terhadap hipotesis didapat bahwasanya siswa kelas VIII-2 dan siswa kelas VIII-3 mempunyai kemampuan yang homogen. Berdasarkan hal. tersebut penulis tetapkan satu kelas sebagai kelas eksperimen yaitu kelas VIII-2 dengan jumlah siswa 40 orang dan satu kelas sebagai kelas kontrol yaitu kelas VIII-3 dengan jumlah siswa 39 orang. Kelas eksperimen adalah kelas yang digunakan untuk penerapan pembelajaran dengan pendekatan Realistik, sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang proses belajarnya tanpa menggunakan pendekatan Realistik. Jumlah keseluruhan sampel dari kedua kelas tersebut adalah 79 orang. b. Teknik Pengumpulan Data Adapun perangkat pembelajaran yang dipersiapkan dalam penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS), sedangkan instrumen pengumpulan data yang disiapkan adalah lembaran tes, yang terdiri dari tes awal dan tes hasil belajar. LKS dan lembaran tes yang penulis siapkan berlaku untuk kedua kelas tersebut. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini peneliti terlebih dahulu memberikan tes awal yang bertujuan untuk mengetahui homogenitas sampel dari kedua kelas yang akan diteliti. Selanjutnya pada kelas eksperimen pembelajaran dilanjutkan dengan menerapkan pembelajaran pendekatan Realistik pada materi Bangun Ruang. Pada akhir pertemuan, untuk kedua kelas tersebut (eksperimen dan kontrol) diadakan tes hasil belajar yang diberikan dalam bentuk essay sebanyak 5 butir soal. Nilai yang diperoleh dari kedua hasil tes tersebut inilah yang diambil sebagai data penelitian. c. Teknik Pengolahan Data Data yang telah terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan statistik uji-t pada taraf signifikan α = 0,05 . Adapun statistik lainnya yang diperlukan sehubungan dengan pengujian uji-t adalah: 1. 2.. Menstabulasikan data ke dalam daftar distribusi frekuensi. Menentukan nilai rata-rata ( x ) dan 2. varians ( s ) 3. Uji Normalitas Sebaran Data 4. Uji Homogenitas Varians Uji homogenitas varians berguna untuk mengetahui apakah penelitian ini berasal dari populasi yang sama atau bukan. Menurut Sudjana (2001:250) uji homogenitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus:. F=. var ians terbesar var ians terkecil. Kriteria. F ≥ Fα ( n1 −1, n2 −1) dengan α = 0,05.. pengujian. tolak. H0. jika. dan dalam hal lain H0 diterima.
(8) 5.. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji-t pihak kanan, dengan taraf signifikan α = 0,05. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah: H0 : µ1 = µ 2 Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan Realistik pada materi Bangun Ruang di SMPN 1 Kuta Malaka sama dengan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran selain pendekatan Realistik . H1 : µ1 > µ 2 Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan Realistik pada materi Bangun Ruang di SMPN 1 Kuta Malaka lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran selain pendekatan Realistik. Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan dapat digunakan rumus uji-t yang menurut Sudjana (2001: 239) ialah:. t=. x1 − x2 1 1 + s gab n1 n2. Dimana varians gabungan (s2gab), menurut Sudjana (2001:239) dapat dihitung dengan rumus: 2 sgab =. (n1 − 1) s12 + (n2 − 1) s22 n1 + n2 − 2. Untuk pengujian digunakan dk = n1 + n2 – 2 dengan peluang (1 - α ), kriteria pengujian adalah: terima H 0 jika harga t lainnya.. thit < ttab dan tolak H 0 untuk. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.. Pengumpulan Data. Pengumpulan data dalam penelitian diproleh dari tes hasil belajar yang diberikan pada pertemuan terakhir untuk kedua kelas tersebut. Adapun rincian nilai tes hasil belajar dari masingmasing kelas adalah sebagai berikut:. Tabel 4.1 Daftar Nilai Tes Hasil Belajar Siswa yang diajarkan dengan Pembelajaran dengan pendekatan realistik (Kelas Eksperimen) No Kode Total No Kode Total Sampel Nilai Sampel Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20. X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20. 100 70 80 75 70 100 90 100 85 100 70 85 60 90 75 85 100 90 70 90. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40. X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29 X30 X31 X32 X33 X34 X35 X36 X37 X38 X39 X40. 60 80 85 90 70 90 85 90 80 60 90 85 85 80 100 85 85 80 80 75. Tabel 4.2 Daftar Nilai Tes Hasil Belajar Siswa yang diajarkan dengan Pembelajaran Non pendekatan realistik (Kelas Kontrol) No Kode Total No Kode Total Sampel Nilai Sampel Nilai 1. Y1. 75. 21. Y21. 60.
(9) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20. Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20. 85 80 60 60 60 65 75 60 70 75 55 65 70 50 65 70 65 75 65. 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39. Y22 Y23 Y24 Y25 Y26 Y27 Y28 Y29 Y30 Y31 Y32 Y33 Y34 Y35 Y36 Y37 Y38 Y39. 60 75 65 80 50 80 65 70 90 85 70 70 50 80 90 70 90 55. 2. Pengolahan Data • Nilai tes hasil belajar siswa kelas eksperimen Tabel 4.3 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Hasil Belajar Kelas Eksperimen di SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar Nilai fi xi fixi xi2 fixi2 59 − 64 3 61,5 184,5 3782,25 11346,75 65 − 70 5 67,5 337,5 4556,25 22781,25 71 − 76 3 73,5 220,5 5402,25 16206,75 77 − 82 6 79,5 477 6320,25 37921,5 83 − 88 9 85,5 769,5 7310,25 65792,25 89 − 94 8 91,5 732 8372,25 66978 95 − 100 6 97,5 585 9506,25 57037,5 Jumlah 40 3306 278064. x1 =. ∑fx ∑f i. i. =. i. 3306 40. 2. 2 1. s =. = 82,65. n ∑ f i x i − (∑ f i xi ). 2. n (n − 1). 40(278064) − (3306) 2 = 40(40 − 1). = 123,66. s1 = 123,66 = 11,12 • Nilai tes hasil belajar siswa kelas kontrol Tabel 4.4 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Hasil Belajar Kelas Kontrol di Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar Nilai fi xi fixi xi2 fixi2 50 − 55 5 52,5 262,5 2756,25 13781,25 56 − 61 6 58,5 351 3422,25 20533,5 62 − 67 7 64,5 451,5 4160,25 29121,75 68 − 73 7 70,5 493,5 4970,25 34791,75 74 − 79 5 76,5 382,5 5852,25 29261,25.
(10) 80 − 85 86 – 91 Jumlah. x2 =. ∑fx ∑f i. 6 3 39. i. =. i. 82,5 88,5 -. 2701,5 39. = 69,26. 2. 2 2. s =. 495 265,5 2701,5. n ∑ f i x i − (∑ f i xi ). 2. n (n − 1). 39(191823,75) − (2701,5) 2 39(39 − 1) 183024 = = 123,49 1482 s2 = 123,49 = 11,11 =. Sebelum dilakukan analisa data dengan menggunakan uji-t, maka terlebih dahulu data dari masing-masing kelas harus memenuhi syarat-syarat normalitas dan homogenitas variansi.. 2. Uji Normalitas Sebaran Data Uji normalitas diperlukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari masing-masing kelas dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak. Adapun hipotesis yang digunakan adalah: H0 : data berdistribusi normal H1 : data tidak berdistri normal Kriteria pengujian menurut Sudjana (2001:273): ”tolak H0 jika. 2 χ hitung. 2. ≥ χ tabel , dengan. α = 0,05 dalam hal lain H0 diterima.. 6806,25 7832,25 -. 40837,5 23496,75 191823,75.
(11) Tabel 4.5 Daftar Uji Normalitas Nilai Tes Hasil Belajar Kelas Eksperimen di Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar. Nilai. Batas Kelas (x). Zscore. Ls. DKN. 58,5. -2,17. 0,4850. 64,5. -1,63. 0,4484. 70,5. -1,09. 0,3621. 76,5. -0,55. 0,2088. 82,5. -0,01. 0,0040. 88,5. 0,52. 0,1985. 94,5. 1,06. 0,3554. 59 − 64 65 − 70 71 − 76 77 − 82 83 − 88 89 − 94. Ls. DKI. Frekuensi Diharapkan (Ei). 0,0366. 1,46. 0,0863. 3,45. 0,1533. 6,13. 0,2048. 8,19. 6. 0,1945. 7,78. 9. 0,1569. 6,27. 0,0898. 3,59. 11,04. 9,86. 95 − 100. Frekuensi Pengamatan (Oi). 11. 14. 100,5 1,60 0,4452 Keterangan: Ls. DKN = luas daerah kurva normal Ls. DKI = luas daerah kurva interval Berdasarkan tabel diatas diperoleh:. (O i − E i ) 2 Ei i =1 k. χ2 =. χ2 =. ∑. (11 − 11,04) 2 (6 − 8,19) 2 (9 − 7,78) 2 (14 − 9,86) 2 + + + 11,04 8,19 7,78 9,86. χ 2 = 0,0001 + 0,58 + 0,19 + 1,73 χ 2 = 2,50 2. Dengan taraf signifikan α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 4 – 3 = 1, maka diperoleh nilai tabel χ 0.95(1) 2. = 3,84. Karena χ hitung = 2,50 <. 2 χ tabel. = 3,84, maka H0 diterima dan dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi. normal. Tabel 4.6 Daftar Uji Normalitas Nilai Tes Hasil Belajar Kelas Kontrol di Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar. Nilai. Batas Kelas (x). Zscore. Ls. DKN. 49,5. -1,77. 0,4616. 55,5. -1,23. 0,3907. 50 − 55 56 − 61 61,5. -0,69. 0,2549. 67,5. -0,15. 0,0596. 73,5. 0,38. 0,1480. 62 − 67 68 − 73 74 − 79. Ls. DKI. Frekuensi Diharapkan (Ei). 0,0709. 2,76. 0,1358. 5,29. 0,1953. 7,61. 0,0884. 3,44. 0,1732. 6,75. 8,05. Frekuensi Pengamatan (Oi). 11. 7. 10,19. 12.
(12) 79,5. 0,92. 0,3212. 85,5. 1,46. 0,4279. 80 − 85. 2,00. χ2 =. (O i − E i ) Ei i =1. 0,0493. 1,92. 9. 0,4772. Berdasarkan tabel diatas diperoleh: k. 4,16 6,08. 86 − 91 91,5. 0,1067. dapat disimpulkan bahwa kedua kelas berasal dari populasi yang sama berarti kedua varians homogen.. 2. ∑. 4.Tinjauan terhadap Hipotesis. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini (11 − 8,05) 2 (7 − 7,61) 2 (12 − 10,19) 2 (9 − 6,08) 2 χ2 = + + + menggunakan uji-t pihak kanan, dengan taraf 8,05 7,61 10,19 6,08signifikan α = 0,05. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah: H0 : µ 1 = µ 2 Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan Realistik pada materi Bangun Ruang di SMPN 1 Kuta Malaka sama dengan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran selain pendekatan Realistik . H1 : µ 1 > µ 2 Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan Realistik pada materi Bangun Ruang di SMPN 1 Kuta Malaka lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran selain pendekatan Realistik. Sebelum mencari thit terlebih dahulu dicari standar deviasi gabungan dari kedua sampel yaitu:. 2. χ = 1,08 + 0,04 + 0,32 + 1,40 χ 2 = 2,84 Dengan taraf signifikan α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 4 – 3 =1, maka diperoleh nilai tabel. χ 02.95(1). 2. = 3,84. Karena χ hitung = 2,84 <. 2 χ tabel. =. 2,84, maka H0 diterima dan dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. 3. Uji Homogenitas Varians Uji homogenitas varians berguna untuk mengetahui apakah sampel dari penelitian ini berasal dari populasi yang sama atau bukan, sehingga generalisasi dari penelitian ini hasilnya berlaku bagi populasi. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah: H0 : σ 12 H1 : homogen) Statistik. F =. = σ 22 (varians data homogen). σ 12 > σ 22 yang. s. (varians data tidak digunakan. 2 gab. adalah. F ≥ Fα ( n − 1,n2 − 1) dan. (40 −1)(123,66) + (39 − 1)(123,49) 40 + 39 − 2 9515,36 = = 123,57 77 = 123.57 = 11,12 =. var ians terbesar , dengan kriteria pengujian var ians terkecil. adalah tolak H0 jika. (n1 − 1) s12 + (n 2 − 1) s 22 = n1 + n 2 − 2. dalam. s gab. hal lain H0 diterima (Sudjana, 2001:251). Dari hasil perhitungan data sebelumnya diperoleh:. s12 = 123,66 Dengan demikian dapat dihitung nilai t 2 n2 = 39 ; x 2 = 69,26 ; s 2 = 11,11 ; s 2 = sebagai 123,49 berikut: 82,65 − 69,26 x1 − x 2 123,66 = t= F = sehingga: 1 1 1 1 123,49 11,12 + s gab + F = 1,001 40 39 n1 n2 Dengan taraf signifikan α = 0,05 maka dari 13,39 = tabel distribusi F diperoleh: F ≥ F0,05(39,38) = 1,71. 39 40 Ternyata Fhitung < Ftabel maka H0 diterima, sehingga 11,12 + 1560 1560 n1 = 40. ; x 1 = 82,65. ; s1 = 11,12. ;.
(13) =. 13,39. =. 11,12 0,0506 13,39 = = 5,47 2,4464. 13,39 (11,12)(0,22). Dengan taraf signifikan α = 0,05 dan dk = (40 + 39 - 2) = 77 maka. t hitung > ttabel. t 0,95 (77) = 1,67 .. Karena. yaitu 5,47 >1,67, maka H0 ditolak dan. diterima H1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan realistik lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran selain pendekatan realistik pada materi bangun ruang (kubus dan Balok) di kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar.. 4. Pembahasan Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penulis menganalisis pengaruh penerapan pembelajaran dengan pendekatan Realistik hasil belajar siswa pada materi bangun ruang di kelas VIII SMP Negeri 1 Kuta Malaka Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan lima kali pertemuan, pada pertemuan pertama dilakukan tes awal untuk menguji homogenitas kemampuan siswa pada kedua kelas (kontrol dan eksperimen) yang penulis teliti. Dari pengujian tersebut didapat bahwasanya siswa pada kedua kelas tersebut mempunyai kemampuan yang homogen. Selanjutnya pada pertemuan kedua sampai ke empat dilakukan proses pembelajaran dengan pendekatan realistik. Model ini juga diberlakukan untuk kedua kelas, hanya saja pada kelas eksperimen (kelas VIII-2) pendekatan realistik. Pada pertemuan terakhir dilakukan tes hasil belajar. Dari hasil pengolahan data dan analisis data yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa pada dasarnya siswa dapat menguasai materi bangun ruang, baik itu dengan menggunakan pendekatan realistik maupun tanpa menggunakan pendekatan realistik. Ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil tes kedua kelas tersebut. Nilai rata-rata hasil tes kelas yang diajarkan dengan pendekatan realistik adalah 82,65, sedangkan nilai rata-rata hasil tes kelas yang diajarkan tanpa pendekatan realistik adalah 69,26. Selisih nilai rata-rata dari kedua kelas tersebut adalah 13,39. Sehingga terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran pendekatan realistik dibandingkan. tanpa menggunakan pembelajaran pendekatan realistik. Hal ini disebabkan dalam pembelajaran pendekatan realistik siswa yang tadinya tidak berani bertanya atau malu untuk bertanya pada guru utama (berada di depan) dapat bertanya pada assistant teacher (berada di belakang), sehingga guru dapat membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa dengan segera. Tingkat keberhasilan proses belajar mengajar pada kedua kelas dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil tes belajar siswa. Dengan demikian, tingkat keberhasilan proses belajar mengajar dengan pembelajaran pendekatan realistik berada pada tingkat baik sekali atau optimal, sedangkan tingkat keberhasilan proses belajar mengajar tanpa pembelajaran pendekatan realistik berada pada tingkat baik atau minimal. Secara umum kedua kelas telah mencapai ketuntasan belajar. Hal ini ditinjau menurut kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila 85% atau lebih dari jumlah siswa dalam satu kelas mendapatkan nilai di atas 65. Namun secara individual, pada kelas yang menerapkan pembelajaran pendekatan realistik terdapat 3 orang siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar dan pada kelas yang tidak menerapkan pembelajaran pendekatan realistik terdapat 11 orang siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun dari luar diri siswa. Dalam proses belajar, pada kelas yang menerapkan pembelajaran pendekatan realistik siswanya terlihat lebih aktif baik secara fisik maupun mental dibandingkan dengan kelas yang tidak menerapkan pembelajaran pendekatan realistik. Siswa dengan bebas mengeluarkan pendapat dalam memahami konsep dan siswa saling berinteraksi baik antara siswa maupun dengan guru, baik itu dengan guru utama ataupun dengan assistant teacher dalam berdiskusi. Pengetahuan siswa mengenai materi bangun ruang juga lebih lengkap karena diberikan dan ditinjau oleh guru-guru yang pandangan dan pengetahuannya saling melengkapi, sehingga siswa tidak hanya dapat memahami materi tetapi juga dapat menguasai fakta, konsep serta prinsip-prinsip yang digunakan dalam menyelesaikan soal-soal materi persamaan linear dengan dua variabel terutama dalam mengubah soal yang berbentuk cerita ke dalam kalimat matematika. Hasil penelitian Rahmayani (2009:71) juga menemukan bahwa dengan adanya bimbingan yang lebih fokus dari dua orang guru siswa lebih konsentrasi dalam belajar. Siswa juga tidak berani mengganggu temannya karena mereka diawasi/diamati oleh dua orang guru. Konsentrasi yang tinggi dalam belajar mengakibatkan hasil.
(14) belajar yang lebih baik, sehingga prestasi belajar matematika siswa juga meningkat. Pembelajaran dengan pendekatan realistik tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga dengan adanya kolaborasi dua orang guru di dalam kelas, maka proses observasi terhadap siswa lebih intens. Catatan khusus terhadap perilaku, ketidakbiasaan, kesulitan siswa akan terekam dengan baik, sehingga setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran dapat diatasi secara bersama-sama. Walaupun pembelajaran dengan pendekatan realistik dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik (optimal), namun masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran ini seperti team mudah kembali kepada kerja individual sehingga tanggung jawab kelompok terabaikan. Sulit untuk membentuk team yang kompak terutama saat membagi peran di dalam kelas.. DAFTAR PUSTAKA Arsyad, Azhar. 2004. Media pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo persada. Arikunto, S. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Baroody. A.J. 1993. Problem Solving, Reasoning, and Communicating. Macmillan Publising, New York. Freudenthal, H. 1977. Antwoord door Prof. Dr. H. Freudenthal na het verlenen van het eredoctoraat [Speech by Prof. H. Freudenthal upon being granted an honorary doctorate]. Euclides. Freudenthal, H. 1968. Why to Teach Mathematics so as to Be Useful. Educational Studies in Mathematics. Dordrecht, Reidel.. PENUTUP 1. Simpulan. Freudenthal, H. 1991. Revisiting Mathematics Education. China Lectures. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.. Berdasarkan hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis yang dilakukan pada siswa kelas VIII SMP N 1 Kuta Malaka Aceh Besar pada materi bangun ruang dapat di simpulkan bahwa, “Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan realistik lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajarkan tanpa menggunakan pendekatan realistik pada bangun ruang di SMP N 1 Kuta Malaka Aceh Besar”.. Gagne. 2, Saran. Hudojo.. Mengingat penerapan dengan pendekatan realistik membawa pengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa, maka: a) Diharapkan kepada guru untuk dapat menerapkan strategi, model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dalam meningkatkan ketuntasan belajar siswa. b) Diharapkan kepada siswa untuk lebih sering belajar, baik secara individu maupun berkelompok karena hasil yang didapat akan lebih baik dan memuaskan. c) Disarankan kepada pihak lain untuk melakukan penelitian selanjutnya terhadap bidang studi matematika pada pokok bahasan lainnya untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang dengan pendekatan realistic.. 1970. Realistic Mathematics. http://www.depdiknas.co.id/editorial:jurn al pendidikan Indonesia. (diakses Januari 2010). Gravemeijer, K. 1994. Educational Development and Developmental Research in Mathematics Education. Journal for Research in Mathematics Education 1997. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang. IKIP Malang.. Junaedi, Samsul. 2004. Matematika SMP untuk Kelas VII. Jakarta: Erlangga. Junaedi, Dedi. 1999. Penuntun Belajar Matematika Untuk SLTP Kelas 3. Jakarta: Mizan. Maschke Kathy L., Gagne: The Condition of Learning, www.nc.gsu/~mstswh/course/it7000/paper s/robert.htm. Musser, Gary L and Brnger. 1994. Mathematics for Ellementary Teachers A Cotemporary Approuh. New York: Macmillan Publishing Co..
(15) M. Cholik Adinawan, Sugijono. 2006. Matematika SMP Kelas VIII. Jakarta: Erlangga. National Council of Teachers of Mathematics (2000). Principles and standards for school mathematics. Reston: Author. Polya, G. How to solve it. 1957. Garden City, NY: Doubleday and Co., Inc. Suryuadi. 1999. Current situation on matematics and science education in Bandung. http://www.ditnagadikti.org/ditnaga/files/PIP/MRE. (akses Januari 2010). Sudjana. 1996. Metode Statistik. Bandung. Tarsito. Sukestiyarno, dan Budi Waluya. 2006. Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Membentuk Mahasiswa menjadi Matematikawan yang Filsafati Melalui Pembelajaran Filsafat Ilmu dengan Strategi Student Team Heroic Leadership. Laporan Teaching Grant: Pend. Matematika Unnes Treffers. A. 1987. Thee Dimensions, A Model of Goal and Theory Description in Mathematics Instruction, The Wiskobas project, D. Reidal Publishing Company.
(16) “Model Project Citizen Untuk Meningkatkan Kecakapan Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Mengembangkan Sikap Nasionalisme” Oleh : Hafidh Maksum Abstrak. Salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan pendidikan kewarganegaraan dalam pengembangan sikap nasionalisme siswa adalah dengan model Project citizen, yaitu sebuah model pembelajaran berbasis portofolio. Melalui model ini para siswa bukan hanya diajak untuk memahami konsep dan prinsip keilmuan, tetapi juga mengembangkan kemampuannya untuk bekerja secara kooperatif melalui kegiatan belajar praktik empirik. Dengan demikian pembelajaran akan semakin menantang, mengaktifkan dan lebih bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pretest dan postest antara siswa yang proses belajar mengunakan project citizen dengan siswa yang belajar secara konvensional dalam meningkatkan kecakapan pendidikan kewarganegaraan dalam pengembangan sikap nasionalisme. Penelitian ini didasarkan pada teori bahwa strategi instruksional yang digunakan dalam model ini, pada dasarnya bertolak dari strategi “inquiriy, discovery, problem solving, research-oriented,” yang dikemas dalam model ”project” ala John Dewey. Dalam hal ini ditetapkan langkah-langkah sebagai berikut: mengindentifikasi masalah, memilih masalah untuk dikaji oleh kelas, mengumpulkan informasi, mengembangkan portofolio kelas, menyajikan portofolio, dan melakukan refleksi pengalaman belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan adalah eksprimen kuasi dengan desain ”nonequivalent control group pre-test dan posttest design.” Dalam desain ini kedua kelompok tidak dipilih secara radom. Pengumpulan data dilakukan dengan pre-test dan post-test dengan mengunakan test angket. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kecakapan intelektual, dan peningkatan kategori sedang pada kecakapan kewarganegaraan dan kecakapan partisipatoris antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Analisis data dapat menunjukkan bahwa siswa merespon positif pembelajaran PKn dengan menggunakan model project citizen. Dari hasil diatas rekomendasi penelitian ini ditujukan kepada pengajar agar mempraktekkan pembelajaran PKn dengan model project citizen karena terbukti disenangi siswa dan dapat meningkatkan kecakapan kewarganegaraan. Kata Kunci: Project Citizen, Kecakapan pendidikan kewarganegaraan dan Pengaruh konflik yang berkepanjagan di Aceh telah menimbulkan masalah baru yaitu memudarnya rasa nasionalisme sesama anak bangsa. Arus masalah tersebut dapat mempengaruhi identitas nasional sebuah bangsa. Kalau kita perhatikan dewasa ini jika ditinjau dari segi sikap nasionalisme (sebagai elemen penting dalam penumbuhan nasionalisme), kita banyak mengalami kemunduran. Generasi muda Aceh khususnya dan generasi muda indonesia pada umumnya pada saat ini telah berada jauh dari rentang waktu kepahlawanan ’45 (Nilai nilai nasionalisme atau nilai nilai semangat kebangsaan pejuang kita tahun 1945). Hal inilah yang kemudian membuat generasi muda tidak terlalu peduli dengan hari kebangsaan. Mereka perlu mengingat kembali peristiwa kolonial (penjajah) di masa lampau. Dalam menjawab persoalan ini, kecakapan pendidikan kewarganegaraan dapat berpengaruh dalam penyelesaian masalah masalah nasionalisme terutama terhadap siswa yang tinggal di daerah konflik dan daerah pasca konflik.. Nasionalisme.. Identitas nasional erat kaitannya dengan nasionalisme. Kecakapan PKn diyakini sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan sikap dan jiwa nasionalisme. Pendapat ini nampaknya sesuai dengan usulan Ernest Gelner yang dikutip oleh Tilaar (2007: 25) yang berpendapat bahwa : Kewarganegaraan merupakan suatu keanggotaan moral (moral membership) dari suatu masyarakat modern. Keanggotaan itu diperolehnya melalui pendidikan nasional dan biasanya menggunakan bahasa yang dipilih sebagai bahasa ibu atau bahasa nasional. Tilaar (2007: 25) berpendapat bahwa pendidikan merupakan faktor penting untuk menumbuhkan nasionalisme disamping bahasa dan budaya. Pendidikan kewarganegaraan sangat kental dan erat dengan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme. Hal tersebut bukanlah sebuah mitos belaka. Karena memang secara substanstif pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik, yang salah satu didalamnya kental nuansa nasionalisme-nya..
(17) Nasionalisme sebagai ungkapan perasaan senasib sepenanggungan dalam lingkup bangsa dalam bentuk kepedulian dan kepekaan akan masalahmasalah yang dihadapi bangsa, termasuk didalamnya masalah yang berkaitan dengan rasa solidaritas sebangsa dan setanah air, dan pada saat kini perlu terus ditumbuh kembangkan. Dalam hal ini dapat diyatakan bahwa nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian besar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan yang secara bersama di dalam suatu bangsa. Nasionalisme hari ini tentunya berbeda dengan nasionalisme pada masa perjuangan perebutan kemerdekaan bangsa Indonesia dulu, sebagaiman dikemukakan oleh Cohyo (1995: 30) Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang integralistik, dalam arti yang tidak membeda-bedakan masyarakat atau warga negara atas dasar golongan atau yang lainnya, melainkan mengatasi segala keanekaragaman itu tetap diakui. Singkatnya nasionalisme bangsa Indonesia dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan (Bhineka Tunggal Ika). Dengan demikian dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa kebanggaan akan bangsa negara sendiri dan rasa cinta terhadap tanah air perlu dimiliki. Karena hal tersebut merupakan wujud dari sikap seorang warga negara yang siap berjuang, berkorban dan menegakkan kehidupan berbangsa dan neagra didalam berbagai bidang. Jiwa Nasionalisme sangat penting untuk dimiliki setiap individu terutama generasi muda . Namun, ada anggapan yang mengatakan generasi muda tidak memiliki jiwa nasionalisme. Bahkan ada pula yang mengatakan jiwa nasionalisme itu ada. Hanya saja tidak ada pemicu yang dapat membuat jiwa nasionalisme itu tampak. Berbagai cara harus dilakukan untuk memicu jiwa nasionalisme dalam diri generasi muda. Siswa sebagai generasi muda penerus bangsa memegang peranan penting dalam menumbuhkan sikap dan jiwa nasionalisme. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh para generasi muda untuk mewujudkan sikap dan jiwa nasionalisme yaitu dengan memanfaatkan pendidikan dengan sebaik-baiknya, karena pendidikan merupakan salah satu hal penting dalam hal pembinaan sikap nasionalisme. Menurut Somantri (2001: 279) pendidikan kewarganegaraan memiliki tujuan mendidik warga negara yang baik, yang dapat dilukiskan dengan ‘warga negara negara yang patriotik, toleran, setia terhadap bangsa dan negara, beragama, demokratis…, Pancasila sejati. Kecerdasan yang dimiliki warganegara harus tercermin dalam tiga aspek. yaitu pengetahuan. kewarganegaraan (civic knowledge), kecakapan pendidikan kewarganegaraan (civic skill), dan watakwatak kewarganegaraan (civic disposition). Senada dengan hal ini Wahab (2006: 62) mengemukakan bahwa "...kewarganegaraan yang dikembangkan haruslah mengandung pengetahuan. keterampilanketerampilan. nilai-nilai. dan disposisi yans idealnya dimiliki warganegara". Jika warganegara sudah tercerdalam aspek aspek tersebut maka tujuan Pkn sudah dapat dikatakan berhasil Sekolah sebagai lembaga formal penyelenggara pendidikan sudah barang tentu memiliki peran yang sentral dalam hal ini. Terlebih sekolah merupakan pranata yang digunakan untuk mengimplementasikan tujuan penyelenggaraan pendidikan nasional yang sesuai dengan idealita yang tertera dalam Undang-Undang negara kita. Siswa sebagai generasi muda penerus bangsa tentunya harus memiliki pengetahuan yang kuat akan dinamika kehidupan kebangsaan. Sekolah tentu saja mempunyai tanggungjawab untuk melakukan hal tersebut. Dalam kacamata kewarganegaraan siswa diyakini sebagai warga negara baru tumbuh, yakni warga negara yang masih harus dididik menjadi seorang yang sadar akan hak dan kewajibannya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Terlebih sikap nasionalisme sangat harus dimiliki oleh generasi muda yang kelak akan menjalankan roda kehidupan negeri ini. Salah satu model pembelajaran dalam pengembangan nasionalisme siswa adalah dengan model Project citizen, yaitu sebuah model pembelajaran berbasis potofolio, Melalui model ini para siswa bukan hanya diajak untuk memahami konsep dan prinsip keilmuan, tetapi juga mengembangkan kemampuannya untuk bekerja secara kooperatif melalui kegiatan belajar praktikempirik. dengan demikian pembelajaran akan semakin menantang, mengaktifkan dan lebih bermakna Menurut Budimansyah (2009: 2) ,dengan model prozect citizen dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap apa yang dikaji khususnya tengtang kewarganegaraan. Program tersebut mendorong para siswa untuk terlibat aktif dengan organisasi organisasi pemerintah dan masyarakat sipil untuk memecahkan satu persoalan di sekolah atau masyarakat dan untuk mengasah kecerdasan social dan intelektual yang penting bagi kewarganegaraan demokratis yang bertanggungjawab. Berangkat dari pemaparan di atas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan sebuah pengkajian mengenai pengembangan sikap nasionalisme siswa. Hal tersebut dilatar belakangi pula oleh adanya sebuah keyakinan bahwa.
(18) pendidikan dan sekolah merupakan pranata yang dapat membentuk pikiran, sikap, mental serta semangat siswa. Atas dasar itulah maka judul yang diambil ialah Model Project Citizen Untuk meningkatkan kecakapan Pendidikan kewarganegaraan pada konsep Pengembangan Sikap Nasionalisme siswa. (Studi Kuasi Eksprimental Pada SMA Negeri 12 Banda Aceh ) Metode Penelitian. Penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi eksprimen. Dalam penelitian, yang menjadi fokus adalah model project citizen untuk mengembangkan kecakapan sikap nasionalisme siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kuasi eksperimen (Best, 1982). Metode tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimental sesungguhnya, dalam keadaan tidak memungkinkan untuk mengontrol atau mengendalikan semua variabel. Untuk mendapatkan gambaran implementasi model project citizen untuk mengembangkan sikap nasionalisme siswa melalui pendidikan kewarganegaraan, digunakan metode quasi eksperiment dengan desain "randomized control group pre-test post-test design" (Fraenkel,1993). Dengan desain ini sampel dibagi dalam 2 kelompok yaitu satu kelompok dengan eksperimen dan satu kelompok lagi dengan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen mendapatkan pembelajaran konsep nasionalisme dengan model project citizen sedangkan kelompok control mendapatkan pelajaran dengan model konvensional. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pembelajaran PKn dengan Model project citizen berpengaruh kategori sedang terhadap kecakapan Kewarganegaraan, Berdasarkan output SPSS diatas, karena varians tidak sama, maka untuk melihat hasil uji t memakai hasil pada baris ke dua (equal varians not assumed). Diperoleh nilai p-value sebesar 0,503, karena nilai p-value > 0,05 maka dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan rerata skor kecakapan partisipatoris dengan indikator kemampuan partisipasi umum yang signifikan antara kelas kontrol dan eksperimen. Tetapi berpengaruh kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa model project citizen berpengaruh secara sedang untuk meningkatkan kecakapan kewarganegaraan. Adanya pengaruh kategori sedang antara model project citizen untuk meningkatkan kecakapan. kewarganegaraan dapat dianalisis dari beberapa hal: Pertama: model project citizen bersifat alamiah bagi siswa. Artinya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan berpikir kritis, berinteraksi dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas, melakukan negosiasi, bekerjasama dan membuat keputusan terbaik untuk kepentingan umum. Hal tersebut sejalan dengan paham konstruktivistik yang dikemukakan oleh Glaserfeld dalam Budiningsih dalam Adha (2010: 160) bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu; (1) perlakuan.kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya. Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan indranya. Melalui interaksinya dengan objek lingkungan, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, membau, atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan, melainkan sesuatu proses pcmbentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya, pengetahuan dan pemaliamannya akan objek dan lingkungan akan lebih meningkat. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seorang (guru) ke kepala orang lain (siswa). Siswa sendirilah yang hams mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalamanpengalaman mereka (Lorsbach & Tobin dalam Komalasari, 2008). Pembelajaran PKn dengan Model Project Citizen berpengaruh senifikan terhadap Kecakapan Intelektual (intelectual skill) siswa Model Project Citizen untuk meningkatkan kecakapan kewarganegaraan berpengaruh secara signifikan, Berdasarkan output SPSS , karena varians tidak sama, maka untuk melihat hasil uji t memakai hasil pada baris ke dua (equal varians not assumed). Diperoleh nilai p-value sebesar 0,000, karena nilai pvalue < 0,05 maka dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan rerata skor kecakapan intelektual dengan indikator mengidentifikasi masalah yang signifikan antara kelas kontrol dan eksperimen. Kuatnya pengaruh secara signifikan antara model project citizen untuk meningkatkan kecakapan intelektual dapat dianalisis dari beberapa hal: Pertama: model project citizen dalam proses pembelajaran, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa, sehingga dapat membentuk kecakapan hidup dan menambah wawasan siswa yang sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat..
(19) Kecakapan hidup itulah yang nantinya digunakan oleh anak didik memasuki kehidupan nyata di masyarakat. Dalam hal ini siswa dituntut untuk lebih dapat berpikir secara lebih mendalam, dengan melihat permasalahan apa saja yang terjadi di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Dan dalam proses inilah maka terjadi proses belajar bagi siswa itu sendiri. Senada dengan yang dikemukakan oleh Surya dalam Sutrisno (1997) : "belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya". Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa dengan belajar maka perubahan perilaku secara keseluruhan akan terjadi, dimana hal tersebut didapat dari interaksi antar manusia dan lingkungan dimana siswa tinggal. Dengan demikian siswa dapat dapat berpikir secara lebih kritis dan mampu mengembangkan kecakapan intelektualnya. Kedua, dengan menggunakan model Project Citizen lebih menekankan sikap dan perilaku yang lebih baik dalam proses pembelajaran erat kaitannya dengan kecakapan intelektual. Seperti yang dikemukakan oleh Andriyan (2007) bahwa Intelektualitas, sebagaimana yang selalu kita pahami adalah seperangkat sikap dan perilaku yang lebih bijak, lebih mengarahkan kepada pendekatan otak dan rasional serta selalu menimbang-nimbang apa yang akan diambil berdasarkan resiko yang akan terjadi kemudian. Pendek kata, orang intelektual adalah orang yang selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional dibandingkan emosional. Intelektual, selalu akan mencoba menghindari segala hal yang bersifat kekerasan dan irasionalitas yang justru akan merusak sisi intelektualitasnya. Sebab, intelektual selalu mencari cara dan solusi yang lebih baik daripada hanya mengedepankan otot dan perilaku kasar semata. Senada dengan yang dikemukakan oleh Susanto (2008) bahwa pendidikan merupakan sebuah proses penting dalam kehidupan manusia, karena melalui proses ini manusia dibentuk dan dilahirkan sebagai seorang manusia yang utuh dan sebenamya. Pendidikan semestinya bertanggungjawab terhadap proses pencerdasan bangsa dan berimplikasi kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena tingkat pendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat kemandirian. Pembelajaran PKn dengan Model Project Citizen tidak berpengaruh signifikan terhadap. Kecakapan Partisipatoris (partisipatory skill) siswa. Tetapi kategori sedang. Berdasarkan output SPSS diatas, karena varians sama, maka untuk melihat hasil uji t memakai hasil pada baris pertama (equal varians assumed). Diperoleh nilai p-value sebesar 0,064, karena nilai pvalue > 0,05 maka dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan rerata skor kecakapan partisipatoris dengan indikator keahlian pemecahan masalah yang signifikan antara kelas kontrol dan eksperimen. Model Project Citizen untuk meningkatkan kecakapan partisipatoris berpengaruh kategori sedang, adanya pengaruh secara sedang antara model Project Citizen untuk meningkatkan kecakapan partisipatoris dapat dianalisis dari beberapa hal: yaitu adanya perubahan sikap. Hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang model project citizen untuk meningkatkan kecakapan pendidikan kewarganegaraan pada konsep pengembangan sikap nasionalisme pada SMA Negeri 12 Banda Aceh. secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan kategori sedang. Secara Umum dan khusus dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1.. Kesimpulan Umum. Dari hasil analisis dan pengujian terhadap hipotesis yang dilakukan oleh peneliti serta hasil pembahasan, secara umum dapat disimpulkan bahwa penggunaan model project citizen dipandang dapat mempengaruhi dalam meningkatkan kecakapan kewarganegaraan (civic skills) pada konsep pengembangan sikap nasionalisme, yang pada dasarnya disenangi oleh siswa , ketika dalam pembelajaran di dalam dan di luar kelas. Model belajar project citizen merupakan suatu pembaharuan proses belajar dalam pendidikan yang cukup baik untuk dipratekkan dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan karena dirasakan bermanfaat untuk siswa dalam kehidupannya. umumnya dan memecahkan suatu permasalahan pada khususnya..
(20) 2.. Kesimpulan Khusus Dari hasil analisis data dan temuan yang diperoleh dari lapangan tentang implementasi model project citizen untuk meningkatkan kecakapan kewarganegaraan siswa di SMA Negeri 12 Banda Aceh, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1.. Kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran model project citizen terlihat perbedaan yang tidak senifikan tetapi mengalami peningkatan kategori sedang, untuk kecakapan kewarganegaraan. Pada pengukuran kecakapan kewarganegaraan terdapat perbedaan yang signifikan kecakapan kewarganegaraan antara siswa yang menggunakan model project citizen dengan pembelajaran konvensional. Hal ini dikarenakan pada tahap pengukuran kecakapan kewarganegaraan tersebut, siswa pada kelas eksperimen dapat melakukan sedikit lebih baik untuk indikator kecakapan intelektual dan kecakapan partisipatoris dilihat dari hasil pengukurannya melalui insrrumen untuk kecakapan intelektual dan kecakapan partisipatoris. 2. Kelas eksperimen yang mendapatkan pembeljaran model project citizen terlihat perbedaan yang signifikan untuk kecakapan intelektual. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil siswa yang menggunakan model project citizen dengan kelas kontrol pada pengukuran akhir (post-test) untuk kecakapan intelektual. Hal ini dikarenakan pada tahap pengukuran kecakapan intelektual tersebut, siswa pada kelas eksperimen dapat melakukan dengan sangat baik bagaimana untuk berpikir kritis mengenai permasalahan yang menjadi bahan kajian kelas dimana siswa dapat berpikir dengan lebih efektif dan bertanggung jawab berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian siswa dapat mengidentifikasi dan membuat deskripsi, menjelaskan dan menganalisis mengenai permasalahan yang ada di sekitarnya. 3. Kelas eksperimen yang mendapatkan pebelajaran model project citizen terlihat perbedaan yang tidak senifikan untuk kecakapan partisipatoris. Tetapi tetapi adanya peningkatan kategori sedang. ,Pada pengukuran kecakapan partisipatoris terdapat perbedaan yang signifikan kecakapan partisipatoris antara siswa yang menggunakan model project citizen dengan yang tanpa perlakuan. Hal ini dikarenakan pada tahap pengukuran kecakapan tersebut, siswa pada kelas eksperimen dapat melakukan sedikit lebih baik untuk indicator kecakapan partisipatoris pada tahap pengukuran, siswa pada kelas eksperimen dapat melakukan dengan baik bagaimana untuk. berpartisipasi yang bertanggung jawab, efektif dan ilmiah, dimana siswa dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik dan santun. Kemudian pada tahap tersebut siswa dapat belajar dan berinteraksi dengan kelompok-kelompok kecil dalam rangka mcngumpulkan informasi, bertukar pikiran, dan menyusun rencana-rencana tindakan sesuai dengan pengetahuan yang siswa miliki. DAFTAR PUSTAKA Adha Mona. (2010), Model Projec Citizen Untuk Meningkatkan KecakapanKewarganegaraan Pada Konsep Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat UPI, Bandung:Tidak diterbitkan. Arikunto, Suharsimi (2006) Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik Jakarta; PT Rineka Cipta. Azra, A. (2006). “Pancasila dan Identitas Nasional Indonesia: Perspektif Multikulturalisme”. Dalam Restorasi Pancasila: Mendamaikan Politik Identitas dan Modernitas. Bogor: Brighten Press. Branson, M.S. (1998). The Role of Civic Education. Calabasas: CCE. Budimansyah, D. (2009). “Project Citizen”UPI Bandung. ---------------------, (2002). Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio. Bandung: PT. Genesindo. Budi. Utomo, (1995). Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan. Semarang : IKIP Semarang Press.. Burhan, A.S. dan Muhammad, Agus (Eds.). 2001. Demokratisasi dan Demiliterisasi: Wacana dan Pergulatan di Pesantren. Jakarta: P3M. Dault, Adhyaksa.( 2005). Islam dan Nasionalisme: Reposisi Wacana Universal Dalam Konteks Nasional. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.. Danial AR, Endang dan Nanan Warsiah. 2007. Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung : Laboratorium PKN FPIPS UPI..
(21) Djahiri, K. (2003). Pemilihan Strategi Dan Media Pembelajaran dan Fortofolio Learning and Evalation Based. Jakarta: Depdiknas Komalasari,. (2008). Pengaruh pembelajaran Kontekstual Dalam pendidikan Kewarganegaraan Terhadap Kompetensi Kewarganegaraan Siswa SMP. Disertasi Doktor pada Sekolah Pascasarjana Universitas pendidikan Indonesia. Bandung: Tidak diterbitkan. ---------------,. (2008). Pengaruh pembelajaran Kontekstual Dalam pendidikan Kewarganegaraan Terhadap Kompetensi Kewarganegaraan Siswa SMP. Acta Civicus, Vol. 2, No. 1, Oktober 2008, 77. Kahim, George Mc Turnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik. Semarang: UNS Press. Maududi, Abul A’la. Tanpa Tahun. Islam Kaffah: Menjadikan Islam Sebagai Jalan Hidup. Terjemahan oleh Muhammad Humaidi. 2004. Jogjakarta: Cahaya Hikmah Maleong, Lexy J. 1999. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya. Nasution, S. 2001. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Bandung : Bumi Aksara. Somantri, M. Numan. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suparlan, P. (2005). Sukubangsa dan Hubungan Antar Sukubangsa. Jakarta: Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian. Suryadi, A. (2009). Mewujudkan Masyarakat Pembelajaran: Konsep, Kebijakan dan Implimentasi. Bandung: Genesindo.. Purwoko, Dwi. 2002. Dari bung Karno ke Megawati. Dalam Mega Wati Soekarno Putri,Presiden Republik Indonesia.Depok : Rumpun Dian Nugraha, Gema Pesona. Ristina, (2009), Pengaruh Project Citizent (Pembelajaran Berbasis Fortofolio) Dalam PKn Terhadap Pengetahuan Warga Negara (Civic Knowlage). Tesis Magister Pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan. Triantoro,H.B. (2008). Erosi rasa kebangsaan Indonesia. Yayasan pananjung wibawa mukti: Jakarta. Tilaar, H.A.R. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional Winataputra, Udin S. dan Budimansyah D, (2007), Civic Education, Konteks, landasan, Bahan Ajar dan Kuitul Kelas, Bandung,UPI Pres. -------------------------, (2007), Pendidikan Kewarganegaraan Dalam perspektif Internasional.Acta civicus, No. 1, Oktober 2007, Wahab, A.A. (2006). Pengembangan Konsep dan paradigm Kewarganegaraan baru Indonesia Bagi Terbinanya warga Negara Dimensional Indonesia” Dalam Pendidikan Nilai Moral dimensi PKn Menyanbut 70 tahun Prof.Drs. H.A.Kosasih Djahiri. Bandung: Laboratorium PKn FPIPS UPI. Yatim, Badri.( 2001). Soekarno, Nasionalisme. Bandung: Nuansa. Islam,. Dan.
(22) Efektifitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tai ( Teams Assisted Individualization ) Dalam Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas Xi Pada Materi Hidrolisis Garam Di Smti Negeri Banda Aceh Oleh : MARIATI MR Abstrak. Telah dilakukan penelitian ”Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Teams Assisted Individualization) pada materi Hidrolisis Garam di SMTI Negeri Banda Aceh”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Teams Assisted Individualization) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Hidrolisis Garam. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMTI Negeri Banda Aceh kelas XI-A yang berjumlah 31 siswa yang terdiri dari 25 orang siswa laki-laki dan 6 orang siswa perempuan. Untuk mengetahui pengaruh efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Teams Assisted Individualization) pada materi Hidrolisis Garam dilakukan pre-test dan post-test, obsevasi terhadap keaktifan siswa, kemampuan guru dalam mengajar dan tanggapan siswa dari angket. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dari pertemuan pertama sampai pertemuan kedua mengalami peningkatan dari 80,5% menjadi 83.3% dan keterampilan guru mengalami peningkatan dari pertemuan pertama sebesar 3,10 (75,5%) menjadi 3,30 (82,5%) pada pertemuan kedua. persentase ketuntasan hasil belajar siswa meningkat dari 80,5 % menjadi 83,3 %. Dengan demikian, hasil belajar siswa tuntas secara klasikal, aktivitas siswa dan keterampilan guru mengalami peningkatan dan sebagian besar siswa memberikan respon yang positif terhadap efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe TAI yaitu sebesar 87,9 %. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap keaktifan siswa dan guru baik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan efektifitas model pembelajaran tipe TAI dilakukan analisis ketuntasan hasil belajar siswa. Berdasarkan data hasil pekerjaan rumah diperoleh 75%. Dengan demikian, ketuntasan hasil belajar secara klasikal dengan menerapkan tipe TAI telah tercapai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe TAI pada materi Hidrolisis Garam di kelas XI-A SMTI Negeri Banda Aceh dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan tanggapan siswa baik. Kata Kunci: Cooperative Learning Model, Type TAI. Pendidikan memegang peranan penting dalam proses pembangunan bangsa. Proses pendidikan perlu diarahkan untuk menyediakan atau membentuk tenaga terdidik yang profesional bagi kepentingan bangsa Indonesia. Pendidikan berkualitas merupakan hal yang penting yang merupakan dasar kualitas manusia Indonesia. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan-perbaikan baik sarana maupun prasarana pendidikan. Seorang guru dituntut untuk memiliki kemampuan keterampilan, menampilkan materi yang akan diberikan oleh guru kepada siswanya. Apabila guru dapat menciptakan suasana yang membuat siswa termotivasi dan aktif dalam mengajar maka akan meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan.. Sehubungan dengan peranan guru, menurut Kuswana (2005:5) “salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru adalah memilih, menentukan metode dan model yang tepat dalam proses belajar mengajar”. Model pembelajaran sangat menentukan keberhasilan mengajar selain didukung oleh faktor materi, metode, kemampuan mengajar, serta realitas dan situasi kelas yang ada. Dalam memilih suatu model pembelajaran harus disesuaikan dengan realitas dan situasi kelas yang ada, serta pandangan hidup yang akan dihasilkan dari proses kerjasama yang dilakukan antara guru dan peserta didik. Menurut Jailani (2003:36) “tujuan pembelajaran kooperatif ini adalah untuk memotivasi siswa agar saling membantu meningkatkan kemampuan anggota kelompok, sehingga dapat meningkatkan motivasi sosial dan siswa akan bekerja keras sehingga hasilnya dapat.
(23) member sumbangan kepada kelompoknya”. Penerapan model pembelajaran yang bervariasi akan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran. Materi hidrolisis garam sangat sulit, karena pada sub materi hidrolisis garam siswa harus menentukan garam yang bersifat asam dan garam yang bersifat basa dari sifat larutan garam, menentukan sifat larutan garam dan konsep hidrolisis kemudian menghitung pH larutan garam sehingga dapat diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Teams Assisted Individualization) dalam meningkatkan hasil belajar siswa didalam proses pembelajaran. Menurut Lie (2004:115) “Model pembelajaran kooperatif tipe TAI mengelompokkan siswa kedalam kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang mempunyai pengetahuan yang lebih dibandingkan anggotanya”. Kesulitan pemahaman materi yang dialami oleh siswa dapat dipecahkan bersama dengan ketua kelompok serta dengan bimbingan guru. Materi hidrolisis garam merupakan salah satu materi yang dapat diterapkan dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Teams Assisted Individualization). Pemilihan materi hidrolisis garam ini, karena merupakan materi yang mempelajari tentang sifat larutan garam dan konsep hidrolisis, serta menghitung pH larutan garam. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian guna membantu siswa dalam menguasai materi pada hidrolisis garam. METODE PENELITIAN 1. Pengumpulan Data Penelitian yang penulis laksanakan bersifat eksperimen, maka untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini penulis menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut:. 1) Tes awal (Pre-tes) Tes ini diberikan kepada siswa sebelum dimulai proses belajar mengajar. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum proses belajar mengajar dimulai. 2) Tes Akhir (post-tes). Tes ini diberikan kepada siswa setelah berlangsungnya proses belajar mengajar. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan/ pengetahuan siswa setelah diterapakan pembelajaran kooperatif tipe TAI pada materi hidrolisis garam. a.. Angket. Angket pada penelitian ini berisikan tentang respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TAI yang telah diterapkan, dimana angket tersebut berisikan 8 pertanyaan dan di setiap pertanyaan terdapat alternatif jawaban ”ya” atau ”tidak” juga disertai alasan siswa mengapa memilih salah satu alternaif jawaban yang telah ditentukan. Angket ini akan diberikan pada pertemuan terakhir sebelum jam pelajaran berakhir. b.. Data yang diperoleh dalam penelitian ini kemudian dianalisis untuk mengetahui perkembangan yang dialami siswa dari setiap pertemuan, baik dari segi keaktifan siswa maupun hasil belajar siswa. 1. Aktivitas siswa. Aktivitas siswa diperoleh dari lembaran pengamatan, dianalisis dengan rumus seperti yang dikemukakan oleh Sudirman (2005 )
(24) 100% 2.. a. Observasi. Penulis mengadakan pengamatan langsung ke lokasi penelitian yaitu pada SMTI Negeri Banda Aceh. Pengamatan tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah penulis dapat melakukan penelitian dan apakah model pembelajaran kooperatif tipe TAI sudah diterapkan atau belum di sekolah tersebut. Penulis juga mengadakan pendekatan pada guru bidang studi, guna mengetahui masalah materi yang akan diajarkan dan juga untuk mengetahui jumlah siswa yang akan dijadikan sampel dalam penelitian tersebut. b. Tes. Tes merupakan sejumlah soal yang diberikan kepada siswa yang terpilih sebagai sampel. Tes ini diberikan kepada siswa dalam 2 tahap yaitu:. Analisis Data Dan Indikator Penelitian. Tes. Tes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan rumus deskriptif persentase seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1992:5). 100% keterangan: P = Angka persentase. f = Frekuensi yang sedang dicari presentasenya. n = Jumlah keseluruhan sampel yang diteliti. Nilai yang diperoleh setelah dianalisis dengan rumus tersebut diatas telah tercapai jika memenuhi.
Dokumen terkait
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi menerima pengajuan penerbitan NUPTK dari sekolah dalam aplikasi verval PTK dengan melakukan pemeriksaan berkas persyaratan
[r]
Skenario sangat optimis ini adalah pilihan yang paling tepat dilaksanakan untuk dapat memenuhi ketersediaan ruang terbuka hijau di Jakarta dalam jangka panjang, sehingga
Menurut Satzinger, Jackson & Burd (2009: 169), trigger adalah sebuah signal yang memberitahu system mengenai suatu event yang terjadi, baik dari datangnya
Pada sediaan parenteral volume besar umumnya digunakan pembawa air tetapi dapat juga dipakai emulsi lemak intravena yang diberikan sendiri atau dikombinasi dengan
Âli ve Fuat paşalar, Ali Suavi’nin yayınlarını umursamıyorlar dı. Bu yazılan ayak takımının sözleri gibi karşılıyorlardı. Şimdiki günlere oranlamak
Selain itu untuk memperkuat hasil peningkatan pemahaman siswa dilakukan dengan analisis t-test yang menunjukkan Thitung = 4,153 lebih besar dari Ttabel = 1,734, maka disimpulkan
Studi analisis kelayakan dilakukan untuk mengetahui apakah implementasi pada biogas berbahan baku limbah mendong ini layak untuk dijalankan jika dilihat dari aspek pasar, aspek