• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

4. Metode Pendidikan Agama Islam

Metode disini adalah cara yang digunakan oleh pendidik untuk menyampaikan materi kepada anak didik. Dalam pendidikan, semua aspek kelembagaan dan proses belajar mengajamya hams menerapkan sistem dan metode yang tepat agar tujuan dari pendidikan dapat tercapai. Menumt Abdullah Nashih

Ulwan dalam Safaat (2008:40-47) menyatakan bahwa teknik atau metode Pendidikan Agama Islam ada lima macam, yaitu:

a. Pendidikan dengan keteladanan

Keteladanan dalam pendidikan adalah metode

influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mepersiapkan dan membentuk anak di dalam moral, spiritual dan social hal ini karena pendidik adalah contoh yang paling terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru dalam tindak tanduk baik disadari atau tidak. Allah telah menunjukkan contoh keteladanan dari kehidupan nabi Muhammad mengandung nilai pedagogis bagi manusia (para pengikutnya). Seperti dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:

<111 j y y j (jlS (jlol 4 ojjoi! <111 -^1 jjlS Jial 4U1

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Jelas dalam ayat ini diterangkan bahwa rasul menjadi suri tauladan atau contoh bagi para pengikutnya yang ada didunia.

b. Pendidikan dengan adat kebiasaan

Kebiasaan merupakan peran penting dalam kehidupan manusia, karena menghemat banyak kekuatan

manusia. Sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dilapangan seperti untuk bekerja, memproduksi, dan mencipta.

Islam mempergunakan kebiasaa itu sebagai salah satu teknik pendidikan, dengan mengubah seluruh sifat- sifat baik menjadi suatu kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan baik tanpa banyak tenaga dan tanpa banyak kesulitan.

c. Pendidikan dengan nasihat

Nasihat dapat membukakan mata pada hakekat sesuatu, mendorongnya menuju situasi luar, menghiasinya dengan akhlak yang mulia, dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.

d. Pendidikan dengan memberi perhatian

Dimaksud dengan pendidikan dengan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak daiam hal akidah dan moral, persiapan spiritual dan sosial, disamping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan daya hasil ilmiahnya.

Metode pendidikan anak dengan cara memberikan perhatian kepada anak akan memberikan dampak positif,

karena dengan metode ini si anak merasa dilindungi, diberi kasih sayang karena ada tempat untuk mengadu baik suka maupun duka. Sehingga anak tersebut menjadi anak yang berani untuk mengutarakan isi hatinya atau permasalahan yang hadapi kepada orang tuanya atau gurunya.

e. Pendidikan dengan niemberi hukuman

Pada dasamya, hukum-hukum syariat Islam yang lurus dan adil, prinsip-prinsipnya yang universal, berkisar di sekitar penjagaan berbagai keharuasan asasi yang tidak

«k

bisa di lepas oieh manusia. Manusia tak bisa hidup tanpa hukum. Dalam hal ini, para imam mujtahid dan ulama’usul fiqh membatasi pada lima perkara. Mereka menamakannya sebagai al-kulliyat al-khamsah (lima prinsip universal), yakni menjaga agma, menjaga jiwa, menjaga kehormatan, menjaga akal, dan menjaga harta benda.

Janganlah menghukum atau memukul anak sampai si anak menjerit-jerit, melolong-lolong yang tentu saja amat sakit. Karena, para ahli beipendapat bahwa hukuman yang kejam akan membuat anak menjadi penakut, rendah diri, dan akibat akibat lain yang negatif seperti sempit hati pemalas, dan pembohong. Hukuman itu hams adil (sesuai dengan kesalahan) anak hams mengetahui mengapa dia di

hukum selanjutnya hukuman itu hams membawa anak kepada kesadaran atas kesalahannya.hukuman jangan meninggalkan dendam pada anak.

Selain dalam Muhaimin (59-68) model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dikemukan oleh para ahli adalah sebagaai berikut:

a. Model Dikotomi

Model ini memandang kehidupan yang ada dengan sangat sederhana. Segala hal hanya dipandang

*

dari dua sisi, seperti laki-laki dan perempuan, ada dan tidak ada, pendidikan agama dan non agama dan lain sebagainya. Model ini berkembang pada periode pertengahan dalam sejarah pendidikan Islam.

b. Model Mekanisme

Model ini memamdang kehidupan dari berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai-nilai kehidupan yang terdiri atas nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilai ekonomi dan nilai-nilai yang lain. Model tersebut dikembangkan lembaga pendidikan yang bukan berciri khas agama Islam, namun mungajarkan mata pelajaran agama Islam.

c. Model Sistemik

Dalam konteks metode ini pendidikan Islam dipandang sebagai aktifitas yang terdiri atas komponen- komponen yang hidup bersama dan bekeija sama dengan tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius. Model ini diterapkan oleh madrasah atau sekolah swasta Islam unggulan.

B. PLURALALITAS

1. Pengertian Plu ralitas Keberagamaan

Pluralitas sesimgguhnya merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari terlebih di Indonesia sendiri karena merupakan Negara pluralistik dimana terdapat beragam etnik, kultur dan agama yang beragam. Pluralitas juga menjadi suatu yang tidak mungkin dipungkiri, yaitu suatu hakikat perbedaan dan keragaman yang timbul semata karena memang adanya kekhususan dan karakteristik yang diciptakan Allah swt (Thoha, 2005:207). Sebagai mana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 118-119 yang berbunyi:

jjjljj j <1*1 ilXij j j j

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”

a

LJ

i # ^

a i/, ^

a ir ,

dUJSj J j t I s

“ Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) Telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”

Kata pluralitas dan pluralisme sering kali digunakan bersamaan akan tetapi makna dari kata ini berbeda. Pluralitas artinya kemajemukan atau sifat kemajemukan. Kemajemukan merupakan sifat dan realitas masyarakat Indonesia yang tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan bangsa Indonesia itu sendiri, karena letak geografisnya yang berada di persimpangan jalan antara Benua Asia dan Australia dan lautan Pasifik dan lautan Hindia. Oleh karena itu, untuk hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia haruslah umat beragama bersedia menerima realitas kemajemukan tersebut. Keanekaragaman janganlah dipandang sebagai laknat, melainkan kehendak tuhan untuk menjadi berkat untuk saling kritis dan mengayakan antara satu dengan yang lain demi kebaikan bersama (Zainuddin, 2010:193).

Ragam agama yang ada di Indonesia telah diakui sejak dulu oleh masyarakat. Adapun agama yang diakui di Indonesia yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Akan tetapi pada masa pemerintahan presiden Gus Dur agama Kong Hucu diakui menjadi salah satu agama yang ada di Indonesia. Adanya pengakuan agama ini menjadikan masyarakat Indonesia bebas dalam menentukan agamanya masing-masing. Jaminan kebebasan untuk memeluk

agama tertuang di dalam UUD pada pasal-pasal berikut. Pasal 28E Ayat (1) menegaskan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Hak kebebasan beragama juga dijamin dalam Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Dengan adanya jaminan kebebasan beragama tersebut maka masyarakat berhak menentukan agamanya sesuai apa yang diyakini tanpa suatu paksaan.

Yuli Agung seorang pendeta membedakan antara istilah pluralism dan pluralitas. Menurutnya, pluralism agama adalah paham dimana orang menentukan sikap dalam memahami agama- agama. Bahwa agama-agama memang tumbuh dalam realitas yang berbeda. Karena itulah dengan paham pluralism, orang mengakui kebenaran dalam ajaran masing-masing agama. Sementara pluralitas adalah realitas keberagamaan itu sendiri. Realitasnya adalah bahwa keberagamaan agama itu tidak hanya diluar agama tapi juga di dalam tubuh agama itu sendiri. Di sini dapat dikadakan ada pluralitas ekstemal dan internal. Pluralitas ekstemal adalah melihat agama-agama diluar agamanya sendiri, misalnya Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan seterusnya. Sedangkan pluralitas internal adalah realitas keberagamaan yang ada di dalam tubuh

agama itu sendiri, misalnya di dalam Kristen ada banyak realitas kelompok-kelompck Kristen yang berbeda aliran (Zainuddin, 2010:213).

Menurut Imarah (1997:9) pluraitas adalah kemajemukan yang didasari oleh keutamaan (keunikan) dan kekhasan. Sedangkan Pluralisme adalah kemajemukan yang didasari oleh keutamaan (keunikan) dan kekhasan (Imarah, 1999:9). Sedangkan menurut Ali (2006:4) pluralisme adalah “realita fundamental yang bersifat jamak” selain itu ia juga mendefinisikan pluralisme sebagai sebuah faham tentang keberagamaan cara pandang untuk mengatakan bahwa segala sesuatunya adalah jamak dan beragam. Sedangkan pluralisme agama adalah suatu paham yang mengatakan bahwa semua agama itu sama dan benar (Zainuddin, 2010: 4).

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa pluralitas adalah kemajemukan yang menjadi sikap kenyataan hidup dimana setiap orang hams bemsaha untuk sampai pada sikap saling menghargai dan meyakini keberadaan agama-agama lain. Sedangkan pluralitas keberagamaan adalah kemajemukan sikap setiap individu dalam menghargai ajaran agama yang dianut oleh setiap orang.

Dokumen terkait