BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
D. Temuan Hasil Penelitian
1. Qentuk penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Edi Mancoro
Pondok Pesantren Edi Mancoro menamkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam melalui berbagai kegiatan. Untuk mengetahui lebih jauh peneliti menanyakan bagaimana pembelajaran yang dilakukan:
“Santri diwajibkan mengikuti semua kajian yang jadwalnya
sudah dibuat oleh pengurus K D II mulai ja m 18.45-20.00 w ib ”
Pembelajaran yang berlangsung formal yaitu di diadakan di KDII. Berlangsung setiap malam mulai jam 18.45 sampai 20.00 wib.setelah dirasa cukup kemudian peneliti mencari tahu mengenai materi yang diajarkan:
"Materi yang diajarkan yaitu mengenai Fiqih, Bahasa
Arab, Ilmu Alat (Nahwu SoroJ), Tajwid, Akhlak, dan Tarikh
(sejarah). ” W/KA/P/ 25-11-2014/21.25 WIB
Selain materi tersebut dari hasil pengamatan yang ditemukan temyata pembelajaran yang dilakukan di pesantren ini tidak terbatas hanya pada itu. Akan tetapi ada pembelajaran bennasyarakat yang secara tidak langsung santri peroleh karena tinggal di tengah-tengah masyarakat dan seringnya bersinggungan dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan.
2. Wacana Pluralitas yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro Temuan penelitian yang ada menunjukkan adanya beberapa kegiatan yang berbentuk plurali. Banyak juga dikalangan luar jika mendengar kata Pesantren Edi Mancoro maka akan langsung tertuju dengan sikap pluralnya. Seperti yang disampaikan oleh M. Hanif.
“ pesantren itu tergantung dengan corak pemikiran dari kyainya, ketika kyai banyak beraktivitas dengan kegiatan kemasyarakatan
maka pesantren yang dipimpin pastilah akan berbaur dengan
scorang yang mengagas adanya Forum Gedangan, kcmudicin juga
menjadi inisiator lintas iman sobat sehingga pesantren edi
mancoro terkenal dengan konsep pluralnya" W /M H/P/25-11-
2014/21.25 WIB
Sedangkan menurut salah seorang santri menyatakan bahwa:
“disini sering ada kunjungan berbagai lembaga yang berbeda
kepercayaan dan suku bangsa, kemudian mengadakan diskusi
dengan santri, selain itu ju g a ada program pengurus teniang
diskusi lintas agam a” W/RR/S/26-11-2014/10.15 WIB'
Kegiatan yang telah didesain pengurus merupakan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan oleh seluruh santri. Rangkaian kegiatan yang telah terprogram melibatkan kepanitiaan dari santri dalam mendesain dan merancang kegiatan dengan detail. Akan tetapi ada juga kegiatan yang sifatnya insidental dimana santri hanya sebagai partisipan dalam kegiatan tersebut.
Menurut gus hanif “dalam kurikulum pembelajaran yang ada di Kddi tidak di desain mengenai sikap plural, akan tetapi memang
benar ada beberapa kegiatan dari santri dengan konsep pluraF
W/KA/P/ 25-11-2014/21.25 WIB
Setelah dirasa cukup mengenai adanya kegiatan yang melibatkan agama lain maka peneliti memperdalam lagi mengenai bentuk kegiatannya apa saja:
“seperti ada forum gedangan, kemudian ada life in pesantren,
diskusi lintas agama, dan ada juga lintas iman sobat muda
W /MH/P/25-11-2014/21.25 WIB
Sstelah dirasa cukup peneliti memperdalam lagi mengenai kerjasama yang dilakukan pesantren:
“seperti dengan Percik, GKJ Sinode Salatiga, dan Uskup Agung
Semarang” W/MH/P/25-11-2014/21.25 WIB
Dari informasi yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa wacana plur'alitas keberagamaan yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro yaitu dengan diadakan berbagai kegiatan diskusi baik dari program kerja yang telah ditentukan maupun kegiatan insidental yang sifatnya hanya partisipan bagi santri. 3. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam melalui wacana pluralitas
keberagamaan yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro
Dari pengamatan yang telah dilakukan ada sesuatu yang berbeda di Pondok Pesantren Edi Mancoro di banding dengan pondok pesantren lain. Perbedaan tersebut terdapat pada sistem dan kegaitan yang diterapkan. Beberapa hal yang membedakan dengan pesantren-pesantren seperti yang disampaikan oleh salah seorang santri
“emmh kalo saya nyantri disini itu selain memperdalam
agama Islam khususnya, selain itu ju g a belajar mengenai ilmu-
yang majemuk. Bagaimana berkumpul dengan orang dengan
berbagai golongan terutma dengan agama lain, bagaimana
bersikap dalam memahami perbedaan yang ada diantara
m asyarakat” W /RR/S/27-11-2014/09.47 WIB
a. Adanya Pengakuan Keberagaman {plural)
Sebuah hal yang menarik dimana santri yang ada di pesantren
ini diajarkan mengenai sebuah keberagaman. Dengan adanya berbagai kegiatan yang secara langsung melibatkan santri seperti adanya diskusi lintas agama, dan kunjungan dari berberapa pemeluk agama lain. Para santri dapat menjadi pengabdi terbaik
(fastabiqul al khairat) kepada Allah di dunia yang plural ini. Selain itu dapat menjadi pengembangan ilmu pengetahuan dan saling memahami sesama ciptaan-Nya. Sebagai mana pendapat salah seorang santri.
b. Menghargai Kesetaraan atau Persamaan
Pesantren Edi Mancoro selain mengajarkan tentang adanya perbedaan dan keberagaman juga memberikan sebuah pemaparan akan pentingnya sebuah persamaan. Dalam persamaan inilah santri diberitahu mengenai tugasnya di pesantren ini yaitu untuk menuntut ilmu {tholabid ilmi) dan mentaati sebuah peraturan yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Selain itu fasilitas yang di berikan kepada santri sama sehingga tidak ada perbedaan antara
satu sama lain, karena, manusi diciptakan di dunia sama-sama sebagai khalifah fi l ardhi (pemimpin).
“disini semua yang nyantri diberlakukan sama baik kaya,
mis kin, tua dan muda tidak ada perlakuan khusus, wong ngaji dan
tidur alasnya sama, peraturan jaga berlaku sama'’' W /RR/S/27-11- 2014/09.47 WIB
c. Toleransi
Dengan melihat realita yang ada dipesantren ini bahwa titik tekan yang ada sebagai pembeda dengan pesantren lain yaitu adanya kebebasan (toleransi) kepada semua santri untuk aktif dan kreatif dalam mengekspesikan dirinya dengan berbagai bentuk aktifitas dalam mempelajari ilmu pengetahuan baik organisasi yang ada di kampus maupun organisasi yang ada diluar kampus. Selain itu pesantren ini juga memberikan kebebasan (keterbukaan) kepada semua golongan, kelompok, dan komunitas baik dari muslim maupun non muslim untuk belajar di Pesantren Edi Mancoro meskipun hanya sesaat. Seperti halnya disampaikan oleh salah seorang santri bahwa
“disini enak kok meskipun di pondok kita masih bisa aktif
mengikuti kegiatan yang ada dikampus, soalnya diberi ijin 2 kali
dalam sebulan yaitu ijin pulang dan ijin kegiatan, ja d i meskipun di
pondok bisa menimba ilmu juga di kegiatan lu a r” W/PR/S/26-11- 2014/10.25 WIB
d. Rasa Kemanusiaan
Dalam menanamkan rasa kemanusiaan pesantren ini juga
memberikan pengajaran akan pentingnya ras kemanusiaan. yang mejadi titik tekan disini yaitu mencetak seorang santri yang nantinya akan menjadi pendamping umat (khadimil umat).
Sehingga dapat membantu semua orang yang membutuhkan bantuan dalam menghadapi permasalaan yang ailiadapi. Dengan adanya kegiatan yang ber’nubungan dengan masyarakat seperti yang diungkapkan oleh salah seorang santri “bahwa dipcsantren ini sering mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan
masyarakat meskipun kegiatan-kegiatan kecil seperti membantu
masyarakat yang sedang mengadakan walimah, ta ’ziyah ketika
ada yang meninggal, berjanjen, PHBI, perlombaan-perlombaan
hari kemerdekaan dan lain-lain ” W /PR/26-11-2014/10.25 WIB Dari informasi yang didapat dapat disimpulkan bahwa nilai- nilai Pendididkan Agama Islam yang berwawasan pluralisat keberagamaan di Pondok Pesantren Edi Mancoro antara lain, adanya pengakuan keberagaman (plural), sikap toleransi, rasa kemanusiaan, dan menghargai persamaan.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Bentuk Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam
Dalam sebuah lembaga pendidikan sistem merupakan salah satu
hal yang akan mendukung ketercapaian suatu pembelajaran. Tak kenal dimanapun lembaga pendidikan itu pastiiah memiliki sistem yang telah dirancang secara matang yang akan menentukan kearah kesuksesan suatu lembaga pendidikan. Sistem yang dimiliki antara satu lembega pendidikan dengan lembaga pendidikan lain pastiiah berbeda. Karena sebuah sistem diterapkan pastiiah sudah mempertimbangkan segala aspek yang ada di sekitar lembaga pendidikan tersebut.
Menurut Rahardjo dalam Rahman (2011:162) menyatakan bahwa sistem pendidikan pesantren melahirkan jiw a yang menjadi karakteristik yang belum pernah dibangun oleh sistem pendidikan manapun. Setidaknya karakteristik tersebut terimplikasi dalam jiwa pesantren, yaitu : Persaudaraan, Tolong-menolong, Persatuan, Keikhlasan, Kesederhanaan , Kemandirian, Kebebasan, dan Pluralitas.
Sama juga dalam Pondok Pesantren Edi Mancoro juga ada sistem yang dilaksanakan menjadi bekal mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu dalam sebuah sistem juga digunakan untuk memberikan pengalaman dan tambahan materi sebagai pendukung dalam mencapai tujuan yang ada.
Sistem pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro tidaklah hanya terpaku pada pengkajian kitab-kitab kuning, akan tetapi ada juga pengajaran yang tidak hanya mengacu pada khasanah keilmuan dalam hal ini kitab dan buku semata melainkan pembelajaran yang langsung dapat dirasakan yaitu belajar bennasyarakat. Karena dalam pembelajaran bermasyarakat santri mendapatkan pembelajaran dari hasil pengamatan dari sebuah kejadian yang ada di sekitamya yang kemudian akan disaring dan kemudian akan dijadikan sebuah teladan.
Selain itu di dalam bennasyarakat santri akan menjadi lebih peka terhadap sebuah permasalah yang ada di masyarakat. Seperti dengan banyaknya kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat dan juga melibatkan masyarakat. Dengan barlatih hidup bermasyarakat akan menjadikan santri sosok yang peduli terhadap lingkungan sekitar dan dapat menerapkannya ketika sudah kembali ke daerah masing-masing. B. Wacana Pluralitas yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro
Pesantren Pesantren Edi Mancoro sejak awal berdiri sudah banyak bersinggungan dengan kegiatan-kegiatan yang berbau plural. Akan tetapi walaupun demikian lembaga pendidikan ini masih memegang sebuah prinsip metodologis yaitu memelihara tradisi-tradisi lama yang baik dan tidak meninggalkan tradisi baru yang lebih baik. Dengan prinsip yang ada santri dituntut untuk lebih berfikir kritis dan berwawasan lusa untuk dapat menjaga tradisi yang sudah ada dan mengembangkannya kearah yang lebih baik tentunya. Selain itu juga harus dapat menyikapi permasalahan-
permasalahan yang berkembang disekitamya mengikuti perkembangan zaman yang terjadi sanggat pesat.
Keterbukaan Pondok Pesantren Edi Mancoro dalam menerima sebuah kenyataan bahwa banyak agama non musim yang tertarik untuk mendalami atau hanya untuk mengetahui ajaran-ajaran Islam di pondok pesantren. Hal ini memberikan gambaran bagai mana pesantren ini akan tetap memegang prinsip metodologis yang ada. Banyaknya kunjunggan dari berbagai agama dan kebudayaan ini dikarenakan terkenalnya pondok ‘pesantren ini dengan pondok yang plural. Artinya banyak orang-orang di luar sana yang ketika mendengar nama Edi Mancoro makan akan langsung tertuju pada satu argument yaitu pondok yang mengakui adanya keanekararagaman atau plural.
Kunjungan-kunjungan yang ada tidak lepas dari adanya kerjasama yang ada di pondok ini. Seperti penuturan Gus H anif yang menyataka bahwa di pondok ini menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga keagamaan lain seperti GKJ Sinode, Uskub Agung Semarang, dan juga kejasama dengan Percik.
Dari adanya kerjasama itu sehingga banyak kegiatan-kegiatan lintas iman ataupun lintas agama yang di bertempat di Pondok Pesantren Edi Mancoro. Meskipun santri hanya sebagai partisipan dari kegiatan diskusi yang ada akan tetapi juga ada sebuah kegiatan lintas iman yang telah di rancang dan diadakan oleh pengurus pondok. Kegiatan yang ada hubungannya dengan adanya kerjasma ini yaitu adanya diskusi yang
diadakan oleh teman-teman dari sobat muda, teman-teman dari berbagai lembaga, maupun teman-teman dari pengurus pondok sendiri yang mendatangkan tamu dari berbagai lintas agama.
Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang melibatkan santri dengan berintreaksi kepada orang yang non muslim yang berasal dari berbagai wilayah dapat lebih membuka wawasan santri agar dapat berdampingan dengan realita kemajemukan yang akan dijumpai di kehidupan yang sebenamya.
Kegiatan-kegiatan yang pluralis yang ada di Edi Mancoro seperti adanya diskusi lintas iman, life in pesantren, dan adanya kunjungan dari berbagai lembaga agama. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan agama.
Dari realita yang ada Pondok Pesantren Edi Mancoro menerapkan konsep pembelajaran berwawasan pluralitas keberagamaan. Jika menengok kembali visi, misi dan tujuan pesantren ini didirikan yaitu:
Visi: untuk menyiapkan santri menjadi pendamping umat atau masyarakat. Misi: membentuk santri yang memiliki wawasan keagamaan mendalam, berwawasan kebangsaan, dankemasyarakatan dalam konteks ke-Indonesaan yang plural. Serta membentuk santri yang peduli dan berkem am puan melakukan pendampingan masyarakat secara luas, untuk menyiapkan santrinya menjadi pendamping masyarakat yang berwawasan kebangsaan yang plural. Tujuan: untuk membina santri memiliki keilmuan baik keagamaan maupun keilmuan kebangsaan dan kemasyarakatan.
D aftar Pustaka
Ahmadi, Tafsir. 2010. Filsafat Pendidikan Islam Integrasi Jasman Rohani dan Kalbu Memamtsiakan Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya.
A1 Bana, Gema. 2006. Doktrin Pluralism Dalam Al-Q ur’an. Jakarta: Menara.
Ali, Mukti. 2006. Pluralism Agama di Persimpangan Menuju Tuhan. Salatiga: STAIN Salatiga Press.
Anshori. 2010. Transformasi Pendidikan Islam. Jakarta: Gaung Persaada Perss. Aswil Rony, 1999, Alat Ibadah Muslim Koleksi Museum Adhityawarman, Padang:
Bagian Proyek Pembinaan Pennuseuman Sumatera Barat. Darajat, Zakiyah. 2011. limit Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara
Daymon, Cristine. 2002. Metode Riset Kualitatif Dalam Public Relations dan Marketing Communication. Jakarta: Benteng Pustaka.
Dhofer, Zamakhsyuri. 1984. Tradisi Pesantren ;Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3S.
Effendi, Djohan, 2009. Islam dan Pluralism Agama (Kumpulan Tulisan).
Yogyakarta: Insist Press
Ghani, Djuanidi. 1997. Dasar-Dasar Pendidikan Kualitatif, Prosedur, Tehnik, dan Teori. Surabaya: PT. Bila Ilmu .
Hamzah Ya’qub, 1996, Etika Islam, Bandung: CV. Diponegoro
http://ahmadalim.blogspot.coin/2010/02/agenda-liberalisasi-pesantren-di.html. http://www.mocinpak.blogspot.com/2008/10/forum-gedangan-forged.html
Kristiawan, Muhammad. 2007. Islam According to Nurcholish Madjid. Its Implication Toward Islamic Education. STAIN Salatiga.
M a’arif, Samsyul. 2011. The Baeuty o f Islam “Dalam Cinta dan Pendidikan Pluralisme. Semarang: Need’s Press.
Ma’arif, Syamsul. 2005. Pendidikan Pluralism di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka
Mansur. 2004. Peradaban Islam Dalam Lintas Sejarah. Yogyakarta: Global Pustaka Utama
Milles, Mattew B. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: PT UI Perss.
Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Muhadjir, Nceng. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatoif Yokyakarta: Reka Sarasin.
Muhaimin. 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Nadroh, Siti. 1990. Wacana Keagamaan dan Politik Nurcholish Madjid. Jakarta: PT
.Raja Grafindo Persada
Nata, Abuddin. 2010. limit Pendidikan Islam. Jakarta: Pranata Media Group.
Nawawi, Hadari. 1990. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Perss.
Poerwodarminto, WJS. 1999. Kama Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rahman, Musthafa. 2011. Humamisasi Pendidikan Islam Plus Minus Sistem
Pendidikan Pesantren. Semarang : Walisongo Press.
Roqib, Moh. 2009. Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Intregatif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Yogyakarta: LKIS
Saerozi, M. 2004. Politik Pendidikan Agama Dalam Era Pluralism: Telaah Historis Atas Kebijakan Pendidikan Agama Konfensional di Indonesia. Yogyakarta: Tiarawacana.
Sukarja, Ahmad. 1995. Piagam Madinah Dan Undang-Undang Dasar 1945: Kajian Perbandinga Tentang Dasar-Dasar Hidup Bersama Dalam Masyarakat.
Jakarta: UI Press
Suprayogo, Imam danTabroni. 2001. Metodologi Sosial Agama.
Suryabrata, Sumadi. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Syafaat, H. TB.Aat. 2008. Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Deliquency). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tafsir, Ahmad. 2008. limit Pendidikan Islam Dalam Persepektif Islam, Bandung: PT
Remaja Rosda Karya
Thoha, Anis Malik. 2005. Tren Pluralism Agama: Tinjauan Kritis. Jakarta:
Persspektif
Umar, Husain. 1999. Metodologi Penelitian Aplikasi dalam Pemasaran. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Yasmadi, Dra. 2005. Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholish Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Ciputat: Quantum Teaching.
Yatim, Badri. 1999. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafmdo Persada
Zainuddin, H. M. 2010. Pluralism Agama Pergulatan Dialok Islam-Kristen di Indonesia. Malang: UIN-Mlik Perss.
DAFTAR RIW AYAT HIDUP A. IDENTITAS DIRI
Nama Umur
Jenis Kelamin
Tempat/tanggal lahir
Agama Alamat
Aulia Ulfa Dewi 22 tahun
Perempuan
Temanggung, 6 Januari 1993 Islam
Blimbing, 01/03 Morobongo, Kec. Jumo, Kab. Temanggung
B. PENDIDIKAN
1. SD Negeri Morobongo lulus tahun 2004 2. SMP Islam Ngadirejo lulus tahun 2007
3. SMA Takhassus Al-Qur’an Wonosobo lulus tahun 2010 4. STAIN Salatiga jurusan tarbiyah (Pendidikan Agama Islam)
Demikian riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benamya.
Salatiga, 11 Februari 2015
K E M E N T E R IA N A G A M A
SE K O L A H T IN G G I A G A M A ISLAM N E G E R I (STA IN ) SA LA TIG A
Jl. Tentara Pelajar 02 Telp.(0298) 323706 Fax 323433 Salatiga 50721 Website : www.stainsalatiaa.ac.id E-mail : [email protected]
Nomor: Sti.24/K-1 /PP.00.9/I-1.1.138/2014 1 September 2014 Lamp. : Proposal Skripsi
Hal : Pem bim bing dan Asisten Pembimbing Skripsi
Ylh. Dr. Mukti Ali, M.Hum.
Assalamucilaikum w. w.
Dalam rangka penulisan Skripsi Mahasiswa Program Sarjana (S.l). Saudara ditunjuk sebagai Dosen Pembimbing Pembimbing Skripsi mahasiswa:
N a m a : Aulia Ulfa Dewi NIM : 11110167 Jurusan : Tarbiyah JuduL skripsi:
PENGARUH INTERAKSI SOS1AL TERHADAP PENANAMAN NILAI-NILAI PLURAL1SME SANTRI PONDOK PESANTREN EDI MANCORO GEDANGAN KECAMATAN TUNTANG KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
Apabila dipandang perlu Saudara diminta mengoreksi tema skripsi di atas. Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan.
Wassalamualaikum w.w.
:mbusan :1. Ketua STAIN Salatiga (sebagai laporan) 2. Mahasiswa yang bersangkutan
KEM ENTERIA N AG AM A
SEKOLAH T1NGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA
Jl. Tentara Pclajar 02 Telp.(0298) 323706 Fax 323433 Salatiga 50721 Website : ww\ \ .siainsalatiua.ac.id E-mail : [email protected]
Nomor : Sti.24/K-1 /1 L.00/?>ier| /2 0 14 Salatiga, 14 November 2014 Lamp : Proposal Penelitian.
Hal : Pcrmolinnnn I/.in Penelitian
Kepada
Vlh. Pengasuh Pondok Pesantren lkli Maneom di Uedangan, Kcc. TuiUang. Kali. Semarang
Assalamualaiktim iv.iv.
Yang bertanda tangan di bavvah ini, kaini menerangkan bahvva : N a m a NIM Mahasiswa Jurusan Program Studi Aulia U1 la Dcwi 11110167
Sckolali Tinggi Agama Islam Negcri (STAIN) Salatiga Tarbiyah
Pendidikan Agama Islam (PAI)
Dalam rangka penydesaian studi Program S.l di STAIN Salatiga, diwajibkan memenuhi salah satu persyaratan yang berupa pembuatan SKRIPS1.
Adapun judul sUripsinya adalah :
PLNANAMAN NI LA I-NI LA I PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MLLALU1 WAC'ANA PLURAUTAS K E B DRAG A M A AN DI PONDOK PESANTREN EDI MANCORO GEDANGAN KEGAMATAN TUNTANG KABUPATEN SEMARANG TAIIIJN 2014 Dengan Pembimbing : Dr. Mukti Ali, M.I-Ium.
Untuk penyelesaian Skripsi tersebut. kami mohon Bapak/Ibu memberi izin kepada mahasiswa tersebut untuk mengadakan penelitian guna memperoleh data atau keterangan dan bahan yang diperlukan di Pondok Pesantren Edi Mancoro Gedangan Kec. Tunlang kab. Semarang, mulai tanggal 17 November 2014 s.d selesai.
Kemudian atas pemberian izin Bapak/Ibu, karni sampaikan terima kasih.
Wdssitlmnualuiliiim m. u>.
a.n. Ketua ...Wakil Ketua
■ Biadang Akademik dan Pengembangan Lembaga
f(*‘
il l * l \
Y A W S A N K1)I M A N C O R O
O ’K M )
Alumai : (icdiinguin 02 (II I iiniang Kah. Scmarang Jaw a I cngah 50772 lelp : (020X)242000X. e-mail : ppcdimancoro a yahoo.com SURAT KETERANGAN
N o m o r : O O S / Y P i M / A - k t / X 1 1 / 2 0 1 4
Dengan ini kami sda k u Pengurus Marian Yayasan I
id
i M ancoro. setelah menerim a sural dari Sekolali Tinggi A gam a Islam Negeri Salatiga dengan nom or : Sti.24/K- 1 /T L .01/3164/2014 tanggal 17 N o v em b er 2014 leniang Perm ohona Izin Peneltian, m enerangkan bahwa : Nam a N1M Malvasiswa Jurusan Program SludiAulia l dl’a Dew i I I I 10 167 SPA IN Salatiga
Iarbiyah
Pendidikan Agam a Islam (PA1)
Benar-benar telah m elakukan penelilian di Pondok Pesantrcn Pdi M ancoro Gedangan l untang Kah Sem arang untuk penulisan skripsi dengan judul :
" P E N A N A M A N Nil A l-N lLA I PEN D ID IK A N A G A M A ISLAM M ELA LUI W A C A N A P L U R A L IT A S K E B E R A G A M A A N DI P O N D O K P E S A N T R E N EDI M A N C O R O DESA G E D A N G A N K E C A M A T A N TU N FANG KABLJPATEN S E M A R A N G TA H U N 2014 "
D E S K R IP S I W A W A N C A R A
Pada hari Selasa, 25 November 2014 pukul 20.30 wib tepatnya setelah kegiatan Tikroran, Ketua Yayasan yaitu Gus Hanif sedang berada di aula atas. Lalu peneliti menemui beliau untuk mewawancarai mengenai sejarah berdirinya Pondok Pesantren Edi Mancoro. Sebelum peneliti melakukan wawancara, peneliti memperkenalkan identitas dan memberikan surat izin penelitian kepada beliau. Beliau menyambut peneliti dengan baik dan akhimya peneliti melanjutkan apa yang menjadi tujuan:
Peneliti : Kapan berdirinya Pondok Pesantren Edi Mancoro ?
Gus Hanif : Pada tahun 1970, seorang tokoh pendatang dari Desa Pulutan, yaitu K.H.Muh Sholeh mendirikan sebuah masjid yang diberi nama “Darussalam” yang kemudian dijadikan tempat kegiatan-kegiatan keagamaan. setelah beliau meninggal dilanjutkan oleh kyai Sukemi, seseorang yang dipercaya oleh masyarakatnya untuk melanjutkan perjuangan Bapak K.H Sholeh hingga beliau meninggal tahun 1984.
Peneliti : Setelah Kyai Sukemi meninggal siapa yang melanjutkannya lagi ? Gus Hanif :Yang melanjutkan seorang tokoh pendatang dari pulutan yaitu
Bapak KH.Mahfudz Ridwan Lc bersama tokoh lokal yaitu Muh Sholeh, Matori Abdul Jalil, Zainal Arifm, dan Ali Tahsisudin pada tahun 1984.
Peneliti : Apakah dalam peijuangannya masih meneruskan perjuangan K.H. Sholeh dan Kyai Sukemi ?
Gus Hanif : “ya” dengan mendirikan Yayasan Desaku Maju yang bergerak dalam bidang sosial dengan visi dan misi membantu pemerintah
dalam meningkatkan kesejahteraan dan pengembangan swadaya masyarakat desa.
Peneliti : Dalam hal apa yayasan desaku maju dalam menyejahterakan masyarakat desa pada waktu itu ?
Gus Hanif : Melalui kelompok mandiri di masyarakat, terdapat 63 kelompok diantaranya koperasi usaha, kelompok KUB sejahtera, tukang perah susu, penderes kelapa. Serta melalui pendirian sebuah lembaga pendidikan Agama Islam yaitu Pondok Pesantren Edi Mancoro. Dan pada tahunl989 tepatnya pada tanggal 26 Desember yang diberi nama Wisma Santri Edi Mancoro”, pada akhir tahun 2006 tepatnya pada 31 Desember berganti nama menjadi “Pondok Pesantren Edi Mancoro” di bawah naungan yayasan “Pondok Pesantren Edi Mancoro”.
Peneliti : Mengapa nama pondok ini Pondok Pesantren Edi Mancoro ? Gus Hanif : Edi Mancoro adalah nama dalam bahasa jawa. Edi adalah bagus
atau elok dan Mancoro kira-kira berarti bersinar. Yang substansinya menyinari serta identik dengan rahmatan lil ‘alamin.