• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.6 Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan tiga tahap yakni metode penyediaan data, metode analisis data, dan metode penyajian data, Sudaryanto dalam Mahsun (2006:120).

Dalam menyelesaikan penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu proses pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.

Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang, Nazir dalam Metode Penelitian (1988:63).

Adapun metode penyediaan data yang digunakan adalah metode pustaka atau library research, yaitu mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data, Subroto dalam Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural (2007:47). Sumber-sumber data tersebut berasal dari buku-buku yang terkait dengan judul penulisan yang ada di perpustakaan. Lalu penulis menyediakan data komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.

Metode analisis data dilakukan dengan menerapkan teori analisis deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan suatu gejala sosial dengan tujuan menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang lengkap sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah dibandingkan dengan hanya sekedar angka-angka. Mahsun dalam Metode Penelitian Bahasa (2006:233) mengatakan bahwa analisis kualitatif fokusnya pada penunjukan makna, deskripsi, penjernihan dan penempatan data

pada konteksnya masing-masing dan sering kali melukiskannya dalam bentuk kata-kata daripada dalam angka-angka.

Metode analisis data yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan sekaligus menerjemahkan cuplikan-cuplikan yang mengandung unsur campur kode yang terdapat pada komik Nodame Cantabile Jilid 10. Kemudian mengklasifikasikan wujud campur kode yang telah didapat dalam pengklasifikasian sebagai berikut :

1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata.

2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa.

3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk baster.

4. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom.

5. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa.

Metode penyajian data menggunakan metode informal. Metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, Sudaryanto dalam Metode Penelitian Bahasa (2006:200). Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode informal berupa pendeskripsian tentang dan campur kode dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG VARIASI BAHASA, BILINGUALISME DAN CAMPUR KODE

2.1 Variasi Bahasa

Linguistik merupakan kajian yang mengupas segala unsur-unsur bahasa, serta hubungannya dengan fungsi-fungsi bahasa itu. Fungsi yang dimaksud adalah fungsi bahasa sebagai alat perhubungan antar manusia. Dengan demikian, masalah utama yang menjadi bahan pengkajiannya adalah hal-hal yang bertautan dengan bunyi-bunyi bahasa, bentuk-bentuk kata dan bentuk-bentuk penggabungan kata menjadi kalimat, Nababan dalam Warsiman (2014:31). Oleh karena fungsi bahasa yaitu sebagai alat perhubungan antar manusia, maka muncul masalah-masalah yang berhubungan dengan ciri dan fungsi berbagai variasi bahasa atau ragam bahasa.

Menurut Chaer dan Agustina (2014:61), terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Oleh karena itu, bahasa memiliki hal yang sangan beragam dan bervariasi, definisi variasi bahasa itu sendiri menurut Poedjosoedarmo dalam Suwito (1985:23), variasi bahasa ialah merupakan bentuk atau variasi dalam bahasa yang pada tiap-tiap hal memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya. Lalu Chaer dan Agustina (2014:62) membedakan variasi-variasi bahasa tersebut kedalam beberapa bagian, yaitu sebagai berikut :

1. Variasi Bahasa dari Segi Penutur

Variasi bahasa dari segi penuturnya ini terdiri atas empat bagian, yaitu:

a. Idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idolek ini berkenaan dengan “warna”

suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat dan sebagainya.

Namun, yang paling banyak dominan adalah “warna” suara itu, sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang, hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya, kita dapat mengenalinya.

b. Dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah atau area tertentu. Para penutur dalam suatu dialek, meskipun mereka mempunyai idioleknya masing-masing, memiliki kesamaaan ciri yang menandai bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga. Misalnya, bahasa Jawa dialek Banyumas memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan ciri yang dimiliki bahasa Jawa dialek Pekalongan, dialek Semarang atau juga dialek Surabaya.

c. Kronolek atau dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Contohnya yaitu variasi

bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi yang digunakan tahun lima puluhan, dan variasi yang digunakan pada masa kini.

d. Sosiolek atau dialek sosial, yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi ini menyangkut pada semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Berdasarkan usia, kita bisa melihat perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh kanak-kanak, para remaja, orang dewasa dan orang-orang yang tergolong lansia atau lanjut usia. Perbedaan disini bukan yang berkenaan dengan isinya, melainkan perbedaan dalam bidang morfologi, sintaksis dan juga kosakata.

Beradarkan pendidikan kita juga bisa melihat adanya variasi sosial ini, para penuturr yang memperoleh pendidikan tinggi akan berbeda variasi bahasanya dengan mereka yang hanya berpendidikan menengah, rendah atau yang tidak berpendidikan sama sekali.

e. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status dan kelas sosial para penuturnya, biasanya dikemukakan orang variasi bahasa yang disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot dan ken.

2. Variasi Bahasa dari Segi Pemakai

Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaanya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya atau tingkat keformalan dan

sarana penggunaan. Variasi bahasa dalam bidang ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa.

Variasi bahasa berdasarkan fungsi ini lazim disebut register.

Dalam pembicaraan tentang register ini biasanya dikaitkan dengan masalah dialek. Kalau dialek berkenaan dengan masalah bahasa itu digunakan untuk kegiatan apa, maka register berkenaan dengan masalah bahasa itu digunakan untuk kegiatan apa.

3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan

Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joss dalam Chaer dan Agustina (2014:70) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya (ragam) yaitu sebagai berikut :

a. Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di mesjid, taat cara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-surat keputusan. Disebut dengan ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap, tidak boleh diubah.

Dalam bentuk tertulis ragam beku ini kita dapati dalam dokumen-dokumen bersejarah, seperti undang-undang dasar, akte notaris, naskah-naskah perjanjian jual beli atau sewa-menyewa.

b. Ragam resmi atau formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran dan sebagainya. Pola

dan kaidah ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar. Ragam resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku atau standar yang hanya digunakan dalam situasi resmi, dan tidak dalam situasi yang tidak resmi.

c. Ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasikepada hasil atau produksi.Jadi dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional.

d. Ragam santai atau ragam kasual adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat, berolahraga, berekreasi, dan sebagainya. Ragam santai ini banyak menggunakan bentuk alegro, yaitu bentuk kata atau ujaran yang dipendekkan.

e. Ragam akrab atau ragam intim adalah variasi bahasa yang digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab seperti antara anggota keluarga, atau antarteman yang sudah karib.

Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan dengan artikulasi yang sering tidak jelas.

4. Variasi Bahasa dari Segi Sarana

Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan, Dalam hal ini dapat disebut ragam lisan atau ragam tulis, atau juga ragam dalam berbahsa dengan menggunakan sarna atau alat tertentu, yakni misalnya dalam bertelepon atau bertelegraf. Adanya ragam bahasa

lisan atau ragam bahasa tulis didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan dan bahasa tulis memilik wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidaksamaan wujud struktur ini adalah karena dalam berbahasa lisan atau dalam menyampaikan informasi secara lisan, kita dibantu oleh unsur-unsur nonsegmental atau unsur-unsur nonlinguistik yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengan kepala, dan sejumlah gejala-gejala fisik lainnya.

2.2 Bilingualisme

Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan.

Berdasarkan istilahnya secara harafiah, bilingualisme dapat dipahami yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian, menurut Chaer dan Agustina dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2014: 84).

Nababan (1991:27) mengatakan beberapa hal mengenai bilingualisme dan bilingualistas serta keterkaitan antara keduanya, yaitu sebagai berikut :

“Kalau kita melihat seseorang memakai dua bahasa dalam pergaulannya dengan orang lain, dia berdwibahasa dalam arti dia melaksanakan kedwibahasaan yang kita akan sebut bilingualisme. Jadi bilingualisme ialah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Jika kita berpikir tentang kesanggupan atau kemampuan seseorang berdwibahasa, yaitu memakai dua bahsa, kita akan sebut ini bilingualitas (dari bahasa Inggris bilinguality). Jadi orang yang

“berdwibahasa” mencakup pengertian kebiasaan memakai dua bahasa atau kemampuan memakai dua bahasa”.

Sementara Weinreich dalam Umar dan Delvi (1994:8) membatasi kedwibahasaan sebagai praktik penggunaan dua bahasa secara bergantian. Dalam batasan Weinreich ini tidak disyaratkan tingkat penguasaannya.

Sedangkan menurut Spolsky (1998:45) mengemukakan definisi sederhana dari bilingualisme yaitu sebagai berikut :

“ Bilingual is a person who has some functional ability in a second language.

This may vary from a limited ability in one or more domains, to very strong command of both languages”

(Bilingual adalah seseorang yang mempunyai beberapa kemampuan fungsional dalam menggunakan bahasa keduanya. Hal ini bervariasi dari terbatasnya kemampuan pada satu atau lebih dari domain (bahasa), untuk menguasai kedua bahasa dengan sangat kuat.)

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bilingualisme atau kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa oleh seorang penutur kepada orang lain secara bergantian, baik secara sempurna (antara dua bahasa tersebut) atau tidak, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

2.3 Campur Kode

2.3.1 Pengertian Campur Kode

Campur kode adalah suatu peristiwa dimana bercampurnya dua bahasa yang berbeda yang digunakan oleh seorang penutur yang termasuk kedalam

masyarakat yang bilingual atau berdwibahasa, dan tidak menutup kemungkinan pada masyarakat multilingual.

Kachru dalam Umar dan Delvi (1994:14) mengatakan bahwa :

“Campur kode adalah pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten. Unsur-unsur bahasa yang menyelusup ke dalam bahasa itu tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disusupinya dan secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi”.

Sementara Nababan (1991:32) mengatakan juga bahwa campur kode adalah suatu keadaan berbahasa apabila orang mencampur dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut percampuran bahasa tersebut. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur atau kebiasaannya yang dituruti. Secara singkat, Fasold dalam Chaer dan Agustina (2004:115) menambahkan bahwa kalau seseorang menggunakan satu kata atau frase dari satu bahasa, dia telah melakukan campur kode.

Berdasarkan tiga pengemukaan definisi dari para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya campur kode adalah pemakaian kata, frasa atau dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut percampuran bahasa tersebut.

2.3.2 Jenis Campur Kode

Suwito dalam Fathur Rokhman (2013:38) mengatakan bahwa campur kode dibagi atas dua jenis yaitu, campur kode ke dalam (inner code mixing) dan campur kode ke luar (outer code mixing).

a. Campur kode ke dalam (inner code mixing)

Campur kode ke dalam (inner code mixing) adalah campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya, yaitu penyisipan unsur bahasa daerah ke dalam bahasa nasionalnya. Misalnya yaitu bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa.

Contoh : Aku udah mangan di warung Bu Nani tadi siang.

(Aku udah makan di warung Bu Nani tadi siang.)

b. Campur kode ke luar (outer code mixing)

Campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang bersumber dari bahasa asing.

Contoh : Masa kecil adalah masa dimana anak-anak hyperactive, oleh

Karena itu mereka harus mengonsumsi vitamin yang cukup.

(Masa kecil adalah masa dimana anak-anak beraktivitas tinggi,

oleh karena itu mereka harus mengonsumsi vitamin yang cukup.)

2.3.3 Bentuk Campur Kode

Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, Suwito dalam skripsi “Analisis Campur Kode pada komik “Gals! Jilid 1” Karya Mihona Fujii” (2014:9) membedakan campur kode menjadi beberapa macam, antara lain sebgai berikut :

1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata

Kata adalah satuan bebas paling kecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Gorys Keraf dalam Harimusti Kridalaksana (1990:25) membagi kata atas empat bagian yaitu kata nomina, verba, adjektiva dan kata tugas (kata tugas terdiri dari: preposisi, konjungsi, artikula, kata seru dan adverbial).

2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa

Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa, Ramlan (1995:151). Berdasarkan jenis dan kategori, frasa dibagi menjadi, frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa adverbial dan frasa preposisi.

3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk baster

Menurut Suwito (1985:76). baster merupakan hasil perpaduan dua unsur bahasa yang berbeda, membentuk satu makna. Baster adalah bentuk yang tidak asli, artinya bentuk ini terjadi karena perpaduan antara afiksasi bahasa Indonesia dengan unsur-unsur bahasa dari bahasa lain, atau sebaliknya afiksasi dari bahasa lain yang dipadukan dengan unsur-unsur bahasa dari

bahasa Indonesia. (https://sastrapuisi.wordpress.com/2011/12/11/kode-alih- kode-dan-campur-kode-disusun-untuk-disajikan-dalam-diskusi-mata-kuliah-sosiolinguistik-dosen-pengampu-prof-fathurahman-dan-dr-ida-zulaida/ )

4. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud pengulangan kata

Penyisipan unsur-unsur yang berwujud pengulangan kata memiliki arti yaitu suatu penyisipan unsur dari bahasa asing yang kemudian digunakan secara berulang-ulang lalu menjadi suatu kata atau bahasa inti yang berbeda dari bahasa awalnya. Dalam hal ini perulangan bahasa asing yang kemudian menjadi kata atau bahasa inti bahasa Jepang.

5. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom

Menurut Alwasih (1993:165), idiom adalah grup kata-kata yang mempunyai arti tersendiri yang berbeda dari makna tiap kata dalam grup itu, idiom juga tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

6. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa

Menurut Ramlan (1995:89) klausa adalah satuan gramatik yang terdiri dari subjek dan predikat baik disertai objek, pelengkap dan keterangan ataupun tidak.

2.3.4 Faktor Penyebab Campur Kode

Nababan (1991:32) mengatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode yaitu :

1. Faktor kesantaian (situasi informal),

2. Faktor kebiasaaan,

3. Faktor tidak adanya ungkapan yang tepat dalam bahasa yang

digunakan,

4. Faktor penutur ingin memamerkan “keterpelajarannya” dan/atau

“kedudukannya”.

Keempat hal tersebut hampir serupa dengan yang diungkapkan oleh Weinreich (1963) dalam skripsi Maulidini (2007:69) yang kemudian penulis kutip dan tinjau kembali. Weinreich menjelaskan mengapa seseorang harus meminjam kata-kata dari bahasa lain. Hal ini pada dasarnya memiliki dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor Internal

Faktor ini menunjukan bahwa sesorang meminjam kata dari bahasa lain karena dorongan yang ada dalam dirinya. Adapun faktor tersebut meliputi tiga macam yaitu:

1. Low Frequency of Word (Kata dengan Tingkat Penggunaan yang Rendah)

Hal ini berkaitan dengan bagaimana posisi suatu kata berada di dalam masyarakat, apakah masuk ke dalam tingkat penggunaan yang tinggi atau rendah. Seseorang melakukan campur kode karena kata-kata

Seseorang tersebut pun akan cenderung memilih untuk menggunakan kata yang umum atau populer meskipun bukan dari bahasanya sendiri ketimbang menggunakan kata-kata dari bahasa aslinya sendiri yang tidak umum digunakan.

Contoh : “Ini adalah case Samsung S8 versi terbaru”

Kata case di atas memiliki arti sarung yang melindungi telepon genggam dari lecet dan kerusakan. Ada pula masyarakat yang menyebutnya dengan casing. Kalimat di atas timbul dari istilah-istilah pada handphone yang banyak mengandung istilah dari bahasa Inggris.

Dengan demikian peminjaman kata dari bahasa lain bertujuan untuk menghindari pemakaian kata yang jarang didengar orang. Atau dengan kata lain menggunakan kata yang biasanya dipakai sehingga lawan tutur mudah memahami makna yang ingin disampikan penutur.

2. Pernicious Homonymy (Kehomoniman yang Buruk)

Homonim yang merupakan kata-kata yang berbunyi sama namun memiliki makna yang berbedaadang dapat menyebabkan kerancuan atau keambiguan dan juga konotasi buruk. Maksudnya adakalanya jika penutur menggunakan kata daam bahasanya sendiri, maka kata tersebut dapat menimbulkan masalah homonim yaitu makna ambigu. Sehingga untuk menghindari keambiguan makna penutur menggunakan kata dari bahasa lain.

3. Need for Synonim (Kebutuhan untuk Sinonim)

Seorang penutur sengaja menggunkan kata dari bahasa lain yang bersinonim dengan bahasa penutur dengan tujuan untuk menghaluskan ungkapan dan menyelamatkan muka lawan tutur.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah suatu dorongan yang berasal dari luar penutur, yang menyebabkan penutur meminjam kata dari bahasa lain. Terdapat empat faktor eksternal yaitu:

1. Perkembangan atau perkenalan dengan budaya baru.

Faktor ini terjadi karena adanya perkembangan budaya baru misalnya perkembangan teknologi di Indonesia, mau tidak mau orang Indonesia banyak menggunakan bahasa Inggris karena banyak sekali alat-alat teknologi yang berasal dari negara asing. Atau pemakaian bahasa Jawa oleh para mahasiswa yang notabene tidak berasal dari Jawa.

2. In Sufficiently Differentiated (Kurangnya Pembedaan)

Penutur mencampurkan kata atau istilah bahasa lain atau bahasa daerah ke dalam bahasa sendiri, karena kata atau istilah tersebut lebih cocok atau mengena daripada kata atau istilah dalam bahasa aslinya sendiri. Menunjukkan makna tertentu yang memiliki maksud tertentu misalnya karena kebiasaan.

3. Social Value (Nilai Sosial)

Penutur mengambil kata dari bahasa lain dengan mempertimbangkan faktor sosial, sehingga diharapkan dengan penggunaan kata-kata tersebut dapat menunjukan status sosial dari penutur.

Contoh : “Total semua payment yang harus dibayar kali ini biar saya yang

bayar, ya.”

Dalam hal ini payment berarti pembayaran dan biasa digunakan oleh kalangan menengah ke atas.

4. Oversight (Kealpaan)

Maksudnya ada keterbatasan kata-kata yang dimiliki oleh bahasa penutur dalam kaitannya dengan topik yang disampaikan sehingga penutur harus mengambil kata dari bahasa lain. Contohnya terbatasnya kata dalam bidang kedokteran dalam bahasa Indonesia maka banyak istilah kedokteran yang dimabil dari bahasa latin yang mempunyai istilah yang tepat dalam bidang kedokteran.

Contoh : “Kata Dokter, ia mengidap kanker serviks stadium awal”‟

2.4 Sinopsis Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya

Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya ini menceritakan tentang Shinichi Chiaki yang merupakan mahasiswa Akademi Musik Momogaoka yang sangat berbakat. Shinichi adalah putra dari pianis ternama bernama Chiaki Masayuki. Meskipun ia masuk di Jurusan Piano, namun

ia sebenarnya memiliki cita-cita menjadi konduktor. Ia lalu bertemu dengan Megumi Noda atau sering disapa dengan Nodame, merupakan gadis sederhana yang sangat mencintai piano, namun meskipun begitu, ia tidak bisa membaca partitur dan belum serius dalam bermusik. Belakangan Chiaki lah yang membuka matanya untuk masuk kedunia musik yang sesungguhnya. Berkat keahlian mereka berdua, akhirnya pun mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan proses belajarnya ke Perancis.

Pada pembahasan dalam penelitian ini, komik Nodame Cantabile Jilid 10 mengangkat kisah saat kedua tokoh utama dan teman-temannya yang baru saja pindah ke negara Perancis. Setting cerita yang diambil di Perancis menimbulkan banyak bermunculan campur kode berbahasa asing Inggris maupun Perancis dalam komik tersebut.

BAB III

ANALISIS CAMPUR KODE PADA KOMIK NODAME CANTABILE JILID 10 KARYA TOMOKO NINOMIYA

Pada penelitian ini, sesuai dengan ruang lingkup pembahasan yang telah

Pada penelitian ini, sesuai dengan ruang lingkup pembahasan yang telah

Dokumen terkait