ANALISIS CAMPUR KODE DALAM KOMIK “NODAME CANTABILE JILID 10” KARYA TOMOKO NINOMIYA
TOMOKO NINOMIYA NO
「
DAI JUKKAN NO NODAME CANTAABIRE」
TO IU MANGA NI OKERU KOODO MIKISHINGU NO BUNSEKISKRIPSI
Skripsi ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat
Ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang
OLEH : TANTRY PRATIWI
140708027
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
ANALISIS CAMPUR KODE DALAM KOMIK “NODAME CANTABILE JILID 10” KARYA TOMOKO NINOMIYA
TOMOKO NINOMIYA NO
「
DAI JUKKAN NO NODAME CANTAABIRE」
TO IU MANGA NI OKERU KOODO MIKISHINGU NO BUNSEKISKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat
ujianSarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang OLEH :
TANTRY PRATIWI 140708027
Pembimbing
Drs. Yuddi Adrian Muliadi, M.A.
NIP.196008271991031001
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
Disetujui Oleh : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan
Medan, 4 Juli 2018
Departemen Sastra Jepang Ketua,
Prof. Hamzon Situmorang, MS., Ph.D NIP. 19580704 1984 12 1 001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya penulis diberikan kesehatan selama mengikuti perkuliahan hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Usaha yang diiringi dengan doa merupakan dua hal yang membuat penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Campur Kode dalam Komik
“Nodame Cantabile Jilid 10” Karya Tomoko Ninomiya” ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak terlepas dari bimbingan, dukungan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S, Ph.D., selaku ketua Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Yuddi Adrian Muliadi, M.A, selaku dosen pembimbing sekaligus Dosen Penasehat Akademik, yang telah ikhlas memberikan dorongan dan meluangkan banyak waktu, pikiran, serta tenaga dalam membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik.
4. Dosen Penguji Ujian Skripsi yang telah menyediakan waktu untuk membaca dan menguji skripsi ini.
5. Para dosen pengajar beserta staf pegawai di Fakultas Ilmu Budaya, khususnya pada program studi Sastra Jepang yang telah memberikan ilmu dan pendidikan kepada penulis selama perkuliahan sampai penulisan skripsi ini.
6. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tua yang sangat penulis cintai. Ayah saya Marzuki Ismail dan Mama saya Raiminda Astuti Hasibuan, atas kasih sayang, kesabaran, dan tidak pernah lelah mendidik dan memberikan cinta yang tulus ikhlas kepada penulis sejak kecil sampai sekarang. Tanpa kedua orang tua penulis, penulis tidak akan mampu menjadi seperti sekarang ini. Semoga Allah SWT. Membalas semua kebaikan mereka.
7. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kak Putri sebagai administrasi jurusan Sastra Jepang yang selalu membantu mengurus keperluan dan berkas-berkas penulis.
8. Untuk orang-orang tercinta yaitu Febri Novita Hutauruk, Frida Damanik, Nuh Yasser Hafiz Hasibuan, Achmad Subakti M, dan Teguh Setiawan yang selalu ada dan selalu mendukung penulis dalam hal apapun termasuk menyelesaikan skripsi ini.
9. Kepada teman-teman terdekat saya di kelas A dan B yaitu Risnawati, Fanni Armia, Cindy Cicilia, Muhammad Irvandy Lubis, Randu Fascal, Putra Rizkyanda Hasibuan, senior saya abangda Ahmad Ridho Damanik dan yang lainnya yang selalu mewarnai hari-hari dan menjadi
penyemangat juga membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi. Dan tak lupa teman-teman seperjuangan stambuk 2014 yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu-persatu. Terima kasih untuk 4 tahun ini.
10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah memberikan doa serta bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, karena menyadari segala keterbatasan yang ada. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penulis dapat memperbaiki kesalahan pada masa yang akan datang.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para mahasiswa Sastra Jepang.
Medan, 3 Juli 2018
Penulis,
Tantry Pratiwi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah...1
1.2 Rumusan Masalah...5
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan...6
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori...7
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian...13
1.6 Metode Penelitian...14
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG VARIASI BAHASA, BILINGUALISME DANCAMPUR KODE 2.1 Variasi Bahasa...16
2.2 Bilingualisme...21
2.3 Campur Kode...22
2.3.1 Pengertian Campur Kode...22
2.3.2 Jenis Campur Kode...24
2.3.3 Bentuk Campur Kode...25
2.3.4 Faktor Penyebab Campur Kode...26
2.4 Sinopsis Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko
Ninomiya...30
BAB III ANALISIS CAMPUR KODE PADA KOMIK NODAME CANTABILE JILID 10 KARYA TOMOKO NINOMIYA
3.1 Penyisipan Unsur-unsur Berbentuk Kata...33
3.2 Penyisipan Unsur-unsur Berbentuk Frasa...61
3.3 Penyisipan Unsur-unsur Berbentuk Baster...66
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan...74
4.2 Saran...75
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Semua manusia di dunia menggunakan bahasa, karena melalui bahasa manusia bisa mengungkapkan maksud kepada lawan bicara agar lawan bicara tersebut dapat mengerti. Kemampuan menguasai bahasa sangat diperlukan untuk tukar-menukar informasi, bersosialisasi terhadap masyarakat disekitar, maupun sosialisasi antar bangsa. Salah satunya yaitu bahasa Jepang. Dewasa ini semakin banyak orang yang mempelajari bahasa Jepang baik untuk kepentingan pekerjaan atau kepentingan lainnya.
Chaer dalam Kajian Bahasa (2007:12) mengatakan bahwa ilmu tentang bahasa lazim disebut linguistik, berasal dari bahasa Latin lingua. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Chaer dalam Kajian Bahasa (2007:16) juga menjelaskan bahwa secara garis besar, yang menjadi objek kajian linguistik terdiri atas kajian terhadap struktur internal bahasa dan kajian terhadap struktur eksternal bahasa atau dikatakan dengan kajian pemakaian bahasa.
Kemampuan bertukar informasi masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut erat kaitannya dengan kajian struktur eksternal bahasa. Menurut Chaer dan Agustina dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2004:1), kajian secara eksternal, berarti, kajian itu dilakukan terhadap hal-hal atau faktor-faktor yang berada di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para
Kepentingan berbahasa dalam bersosialisasi dengan sesama manusia tersebut menimbulkan beberapa ilmu yang terkait, salah satunya adalah sosiolinguistik. Menurut Chaer dan Agustina dalam Sosiolinguitik Perkenalan Awal (2004:2), sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat.
Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, dan mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguitik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.
Menurut Kridalaksana dalam Chaer dan Agustina (2004:3) sosiolinguistik lazim didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan pelbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa. Berdasarkan definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat beberapa variasi bahasa yang ada dan digunakan oleh masyarakat. Dewasa ini, variasi bahasa yang sangat terlihat jelas adalah akibat dari adanya proses globalisasi, yang dikenal dengan kemudahan dalam bekerja sama antar negara khususnya negara barat baik itu dari segi teknologi ataupun komunikasi, namun akibat lain dari kerja sama tersebut adalah masuk juga pengaruh lain khususnya bahasa.
Masuknya berbagai bahasa asing yang kemudian diaplikasikan dalam penggunaan bahasa oleh masyarakat, bahkan tidak sedikit masyarakat yang mencampurkan bahasa asing tersebut kedalam bahasa ibu dan menjadi kebiasaan.
Inilah yang disebut dengan campur kode.
Campur kode merupakan kajian sosiolinguistik yang terjadi ketika adanya percampuran dua bahasa pada masyarakat multilingual dalam suatu kalimat yang sama yang terjadi sesuai dengan kejadian yang sedang berlangsung. Penyebab pasti dalam terjadinya campur kode ialah adanya kemampuan sang pengguna bahasa yang mampu mengucapkan dan memahami 2 bahasa yang berbeda atau bahkan lebih.
Campur kode biasanya terjadi ketika situasi berada dalam situasi non formal, adanya faktor kebiasaan, dan tidak ada ungkapan yang tepat dalam mengaplikasikan apa yang akan disampaikan.
Pencampuran kode bahasa bukan hanya sering terjadi di kehidupan biasa saja, namun dalam komik atau manga Jepang juga terdapat adanya pencampuran bahasa tersebut, salah satunya yaitu dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 karya Tomoko Ninomiya. Komik ini pertama kali diterbitkan secara berseri oleh Majalah Kiss di Jepang sejak tahun 2001.
Komik ini menceritakan tentang Shinichi Chiaki yang merupakan mahasiswa Akademi Musik Momogaoka yang sangat berbakat. Shinichi adalah putra dari pianis ternama bernama Chiaki Masayuki. Meskipun ia masuk di Jurusan Piano, namun ia sebenarnya memiliki cita-cita menjadi konduktor. Ia lalu bertemu dengan Megumi Noda atau sering disapa dengan Nodame, merupakan gadis sederhana yang sangat mencintai piano, namun meskipun begitu, ia tidak
bisa membaca partitur dan belum serius dalam bermusik. Belakangan Chiaki lah yang membuka matanya untuk masuk kedunia musik yang sesungguhnya. Berkat keahlian mereka berdua, akhirnya pun mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan proses belajarnya ke Perancis.
Pada pembahasan dalam penelitian ini, komik Nodame Cantabile Jilid 10 mengangkat kisah saat kedua tokoh utama dan teman-temannya yang baru saja pindah ke negara Perancis. Setting cerita yang diambil di Perancis menimbulkan banyak bermunculan campur kode berbahasa asing Inggris maupun Perancis dalam komik tersebut.
Berikut salah satu cuplikan campur kode dalam komik Nodame Cantabile :
Situasi yang terjadi yaitu saat sedang berlangsungnya Kompetisi pertama dirigen dunia Platini International. Salah satu peserta bernama Jean Donnadieu sedang melaksanakan penampilannya, dan penampilan memukau yang ia berikan mampu memikat juri dan menimbulkan komentar positif dari beberapa juri.
Berikut cuplikannya:
選者1 : 前評判どおりきましたねぇ!
ジャン∙ドナデユウ
少し意味不明なところもあるが、有無いを言
わせぬ華がある。音楽にも、本人にも。
スター誕生!?
(Juri 1 : Datang seperti evaluasi sebelumnya!
Jean Donnadieu.
Ada beberapa hal ia sedikit sulit dimengerti,
namun ada kemampuannya yang tidak bisa dipungkiri. Pada musik maupun dirinya sendiri.
Apakah kelahiran seorang bintang!? )
選者2 : いやー
まだまだわからんよ 才能は明らかだけど
(Juri 2 : Tidak. Belum dimengerti, sih.
Tapi ia sangat berbakat.)
(Nodame Cantabile Jilid 10 Lesson (Sub-bab) 56 hal 139) Berdasarkan beberapa cuplikan di atas, dapat terlihat bahwa telah terjadi campur kode dalam 2 bahasa yang berbeda. Tidak hanya cuplikan tersebut saja, namun terdapat banyak lagi unsur-unsur pencampuran bahasa asing dengan bahasa Jepang dalam dialog di komik tersebut. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk membahas campur kode pada komik Nodame Cantabile lebih mendalam lagi. Berdasarkan hal tersebut penulis mengangkat judul yaitu
“Analisis Campur Kode dalam Komik “Nodame Cantabile Jilid 10” Karya Tomoko Ninomiya ”.
1.2 Rumusan Masalah
Istilah kode dipakai untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan, sehingga selain kode yang mengacu kepada bahasa (seperti bahasa Inggris, Perancis, Jepang, Indonesia), juga mengacu kepada variasi bahasa.
Campur kode merupakan peristiwa bercampurnya dua atau lebih jenis bahasa
yang berbeda dalam satu frasa. Masyarakat multilingual, yang mampu menguasai beberapa bahasa tersebut sangat sulit untuk menjadi seorang penutur mutlak yang hanya menggunakan satu bahasa saja. Tidak dapat dipungkiri bahwa percampuran bahasa menjadi suatu hal yang unik di masa sekarang ini. Pada campur kode masing-masing bahasa masih cenderung mendukung fungsi masing-masing dan dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteks dan situasinya.
Hal ini yang menyebabkan perlunya meneliti lebih lanjut mengenai campur kode pada setiap bidang multimedia, khususnya dalam media komik, seperti komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya. Berdasarkan hal tersebut penulis merumuskan masalah penelitian ini dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1. Apa sajakah bentuk campur kode yang terdapat dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya?
2. Bagaimanakah penyisipan unsur-unsur campur kode pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya?
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Pengaruh bahasa asing yang mengakibatkan timbulnya campur kode menjadi fokus utama penelitian ini. Pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 memiliki percampuran bahasa asing dengan bahasa Jepang yang paling banyak ditemukan adalah bahasa Inggris dan beberapa bahasa Perancis.
Agar permasalahan yang diteliti oleh penulis lebih terfokus dan tidak melebar, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan. Ruang lingkup pembahasan terbatas pada campur kode dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10
Karya Tomoko Ninomiya. Penulis juga ingin menjabarkan tentang batasan penggunaan campur kode dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya, dan berbagai penyebab mengapa campur kode itu digunakan.
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1.4.1 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka berupa penelitian terdahulu sangat dibutuhkan agar penelitian menjadi relevan. Adapun beberapa kajian yang berkaitan dengan penelitian ini salah satunya yaitu skripsi berjudul “Alih Kode dan Campur Kode dalam Film Jepang Rupan San Sei” oleh Ade Nidya Zodittia dari Universitas Andalas pada tahun 2016.
Penelitian terdahulu tersebut membahas film Jepang Rupan San Sei yang di sutradarai oleh Ryuhei Kitamura. Tahap pengumpulan data pada penelitian tersebut menggunakan metode simak dengan teknik sadap, serta teknik lanjutan simak bebas libat cakap (SBLC), dan teknik catat dalam proses penyediaan data. Pada tahap analisis data, Ade Nidya menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung (BUL) dan menggunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu. Kemudian pada tahap penyajian hasil, menggunakan metode informal dengan cara memaparkan hasil data dalam bentuk kata-kata biasa.
Terdapat beberapa perbedaan pada penelitian Ade Nidya dengan penelitian yang penulis lakukan. Penelitian tersebut meneliti Alih kode dan Campur Kode dalam Film Jepang Rupan San Sei, menjadikan perbedaan mendasar pada penelitian “Analisis Campur Kode dalam Komik Nodame
Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya” yang penulis lakukan, karena ruang lingkup penelitian penulis adalah Campur Kode dalam Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.
Adapun beberapa persamaan pada penelitian Ade Nidya dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu, pada metode penyediaan data yang digunakan adalah metode catat, dan pada metode penyajian data menggunakan metode informal, yaitu perumusan dengan kata-kata biasa.
Hal tersebut juga penulis jadikan referensi pada penelitian ini.
Skripsi Reni Handayani (2014:27) membahas mengenai jenis-jenis campur kode yang terdapat dalam komik Gals! Jilid 1 serta faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode tersebut.
Para peneliti sebelumnya membahas campur kode dan juga alih kode yang terdiri dari beberapa bentuk dan juga dilengkapi dengan faktor penyebabnya dengan sumber data anime maupun komik berbahasa Jepang.
Pada kesempatan ini, dengan meninjau beberapa teori yang digunakan peneliti sebelumnya, penulis meneliti bentuk campur kode yang terdapat dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya serta meneliti faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya campur kode.
1.4.2 Kerangka Teori
Dalam penelitian ini diperlukan adanya kerangka teori agar penulis dapat menyusun penelitian ini tetap dalam ruang lingkupnya, terdapat beberapa kerangka teori yaitu sebagai berikut :
2.1 Sosiolinguistik
Fathur Rokhman dalam Sosiolingustik: Suatu Pendekatan Pembelajaran Bahasa dalam Masyarakat Multikultural (2013:1) mengatakan sosiolinguistik adalah ilmu yang interdisipliner.
Istilahnya sendiri menunjukkan bahwa ia terdiri atas bidang sosiologi dan linguistik.
Bram dan Dickey dalam Fathur Rokhman (2013:2) menyatakan bahwa sosiolinguistik mengkhususkan kajiannya pada bagaimana bahasa berfungsi di tengah masyarakat. Mereka menyatakan pula bahwa sosiolinguistik berupaya menjelaskan kemampuan manusia menggunakan aturan-aturan berbahasa secara tepat dalam sitausi-situasi yang bervariasi. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain. Pada masyarakat yang multilingual tentu berhubungan dengan sosiolinguistik.
Jika disimak definisi-definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat, Chaer dan Agustina dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2004:4), atau secara lebih operasional lagi seperti dikatakan Fishman dalam Chaer dan Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2004:4),
“...study of who speak what language to whom and when”.
2.2 Pemilihan Bahasa
Menurut Fasold dalam Chaer dan Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2004:153) mengatakan bahwa hal pertama yang terbayang bila kita memikirkan bahasa adalah “bahasa keseluruhan”
(whole language) dimana kita membayangkan seseorang dalam masyarakat bilingual atau multilingual berbicara dua bahasa atau lebih dan harus memilih yang mana yang harus digunakan.
Jika kita berbicara tentang pilihan bahasa, hal pertama yang muncul dibenak kita adalah “seluruh bahasa” yang ada dalam suatu masyarakat, atau lebih pada seseorang. Kita membayangkan adanya orang yang menguasai dua atau tiga beberapa bahasa dan harus memilih salah satu bahasa jika dia bicara. Ada tiga jenis pilihan bahasa yang bisa dikenal dalam kajian sosiolinguistik.
Pertama alih kode (code switching), Campur kode (code mixing) dan variasi bahasa yang sama (variation whitin the language) (https://www.academia.edu/9402476/PILIHAN_BAHASA_SOSIO LINGUISTIK).
2.3 Kode
Menurut Poedjosoedarmo dalam (https://sastrapuisi.
wordpress.com/2011/12/11/kode-alih-kode-dan-campur-kode-disus un-untuk-disajikan-dalam-diskusi-mata-kuliah-sosiolinguistik-dose n-pengampu-prof-fathurahman-dan-dr-ida-zulaida/) kode merupa- kan suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya
mempunyai ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur dengan lawan tutur, dan situasi tutur yang ada.
Menurut Wardhaugh dalam (http://seberkasharapan 1.blogspot.co.id/2014/06/alih-kode-dan-campur-kode.html), mas- yarakat bilingual atau multilingual dihadapkan pada masalah untuk memilih sebuah kode (bisa berupa dialek atau bahasa) tertentu pada saat mereka bertutur, dan mereka mungkin juga memutuskan untuk berganti dari satu kode ke kode lain atau mencampur kode- kode tersebut.
2.4 Campur Kode
Chaer dan Agustina dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2004:107) mengatakan bahwa Campur kode merupakan kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya sendiri.
Sedangkan Thelander dalam Chaer dan Agustina (2004:107) mengatakan bahwa apabila didalam suatu peristiwa tutur, klausa- klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases) dan masing- masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri- sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode.
Berdasarkan unsur yang terlibat di dalamnya, Suwito dalam skripsi “Analisis Campur Kode pada komik “Gals! Jilid 1” Karya
Mihona Fujii” (2014:9) membedakan campur kode menjadi beberapa macam, antara lain :
1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata.
2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa.
3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk baster.
4. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan kata.
5. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom.
6. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa.
Menurut Reni dalam skripsi “Analisis Campur Kode pada komik “Gals! Jilid 1” Karya Mihona Fujii” (2014:9) Makna kontekstual merupakan makna berupa makna kata yang sesuai dengan konteks yang ada. Chaer dalam Kajian Bahasa (2007:290) mengatakan, makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori sosiolinguistik dari Chaer dan Agustina (2004:4), Bram dan Dickey dalam Fathur Rokhman (2013:2), Fathur Rokhman (2013:1). Teori campur kode dari Thelander dalam Chaer dan Agustina (2004:107) dan Chaer dan Agustina (2004:107), Suwito dalam skripsi “Analisis Campur
Kode pada komik “Gals! Jilid 1” Karya Mihona Fujii” (2014:9).
Lalu teori kontekstual dari Chaer (2007:290).
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.5.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan bentuk campur kode yang terdapat dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.
2. Mendeskripsikan penyisipan unsur-unsur campur kode pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya 1.5.2 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam bidang pembelajaran sosiolinguistik khususnya mengenai campur kode.
2. Dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan penelitian- penelitian selanjutnya di bidang sosiolinguistik terkhusus campur kode.
3. Memberi informasi kepada pembaca mengenai campur kode yang terdapat pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 karya Tomoko Ninomiya.
1.6 Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan tiga tahap yakni metode penyediaan data, metode analisis data, dan metode penyajian data, Sudaryanto dalam Mahsun (2006:120).
Dalam menyelesaikan penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu proses pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.
Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang, Nazir dalam Metode Penelitian (1988:63).
Adapun metode penyediaan data yang digunakan adalah metode pustaka atau library research, yaitu mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data, Subroto dalam Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural (2007:47). Sumber-sumber data tersebut berasal dari buku-buku yang terkait dengan judul penulisan yang ada di perpustakaan. Lalu penulis menyediakan data komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.
Metode analisis data dilakukan dengan menerapkan teori analisis deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan suatu gejala sosial dengan tujuan menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang lengkap sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah dibandingkan dengan hanya sekedar angka-angka. Mahsun dalam Metode Penelitian Bahasa (2006:233) mengatakan bahwa analisis kualitatif fokusnya pada penunjukan makna, deskripsi, penjernihan dan penempatan data
pada konteksnya masing-masing dan sering kali melukiskannya dalam bentuk kata-kata daripada dalam angka-angka.
Metode analisis data yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan sekaligus menerjemahkan cuplikan-cuplikan yang mengandung unsur campur kode yang terdapat pada komik Nodame Cantabile Jilid 10. Kemudian mengklasifikasikan wujud campur kode yang telah didapat dalam pengklasifikasian sebagai berikut :
1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata.
2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa.
3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk baster.
4. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom.
5. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa.
Metode penyajian data menggunakan metode informal. Metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, Sudaryanto dalam Metode Penelitian Bahasa (2006:200). Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode informal berupa pendeskripsian tentang dan campur kode dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG VARIASI BAHASA, BILINGUALISME DAN CAMPUR KODE
2.1 Variasi Bahasa
Linguistik merupakan kajian yang mengupas segala unsur-unsur bahasa, serta hubungannya dengan fungsi-fungsi bahasa itu. Fungsi yang dimaksud adalah fungsi bahasa sebagai alat perhubungan antar manusia. Dengan demikian, masalah utama yang menjadi bahan pengkajiannya adalah hal-hal yang bertautan dengan bunyi-bunyi bahasa, bentuk-bentuk kata dan bentuk-bentuk penggabungan kata menjadi kalimat, Nababan dalam Warsiman (2014:31). Oleh karena fungsi bahasa yaitu sebagai alat perhubungan antar manusia, maka muncul masalah- masalah yang berhubungan dengan ciri dan fungsi berbagai variasi bahasa atau ragam bahasa.
Menurut Chaer dan Agustina (2014:61), terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Oleh karena itu, bahasa memiliki hal yang sangan beragam dan bervariasi, definisi variasi bahasa itu sendiri menurut Poedjosoedarmo dalam Suwito (1985:23), variasi bahasa ialah merupakan bentuk atau variasi dalam bahasa yang pada tiap-tiap hal memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya. Lalu Chaer dan Agustina (2014:62) membedakan variasi-variasi bahasa tersebut kedalam beberapa bagian, yaitu sebagai berikut :
1. Variasi Bahasa dari Segi Penutur
Variasi bahasa dari segi penuturnya ini terdiri atas empat bagian, yaitu:
a. Idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idolek ini berkenaan dengan “warna”
suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat dan sebagainya.
Namun, yang paling banyak dominan adalah “warna” suara itu, sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang, hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya, kita dapat mengenalinya.
b. Dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah atau area tertentu. Para penutur dalam suatu dialek, meskipun mereka mempunyai idioleknya masing-masing, memiliki kesamaaan ciri yang menandai bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga. Misalnya, bahasa Jawa dialek Banyumas memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan ciri yang dimiliki bahasa Jawa dialek Pekalongan, dialek Semarang atau juga dialek Surabaya.
c. Kronolek atau dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Contohnya yaitu variasi
bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi yang digunakan tahun lima puluhan, dan variasi yang digunakan pada masa kini.
d. Sosiolek atau dialek sosial, yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi ini menyangkut pada semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Berdasarkan usia, kita bisa melihat perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh kanak-kanak, para remaja, orang dewasa dan orang-orang yang tergolong lansia atau lanjut usia. Perbedaan disini bukan yang berkenaan dengan isinya, melainkan perbedaan dalam bidang morfologi, sintaksis dan juga kosakata.
Beradarkan pendidikan kita juga bisa melihat adanya variasi sosial ini, para penuturr yang memperoleh pendidikan tinggi akan berbeda variasi bahasanya dengan mereka yang hanya berpendidikan menengah, rendah atau yang tidak berpendidikan sama sekali.
e. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status dan kelas sosial para penuturnya, biasanya dikemukakan orang variasi bahasa yang disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot dan ken.
2. Variasi Bahasa dari Segi Pemakai
Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaanya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya atau tingkat keformalan dan
sarana penggunaan. Variasi bahasa dalam bidang ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa.
Variasi bahasa berdasarkan fungsi ini lazim disebut register.
Dalam pembicaraan tentang register ini biasanya dikaitkan dengan masalah dialek. Kalau dialek berkenaan dengan masalah bahasa itu digunakan untuk kegiatan apa, maka register berkenaan dengan masalah bahasa itu digunakan untuk kegiatan apa.
3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan
Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joss dalam Chaer dan Agustina (2014:70) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya (ragam) yaitu sebagai berikut :
a. Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di mesjid, taat cara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-surat keputusan. Disebut dengan ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap, tidak boleh diubah.
Dalam bentuk tertulis ragam beku ini kita dapati dalam dokumen- dokumen bersejarah, seperti undang-undang dasar, akte notaris, naskah-naskah perjanjian jual beli atau sewa-menyewa.
b. Ragam resmi atau formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran dan sebagainya. Pola
dan kaidah ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar. Ragam resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku atau standar yang hanya digunakan dalam situasi resmi, dan tidak dalam situasi yang tidak resmi.
c. Ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasikepada hasil atau produksi.Jadi dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional.
d. Ragam santai atau ragam kasual adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat, berolahraga, berekreasi, dan sebagainya. Ragam santai ini banyak menggunakan bentuk alegro, yaitu bentuk kata atau ujaran yang dipendekkan.
e. Ragam akrab atau ragam intim adalah variasi bahasa yang digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab seperti antara anggota keluarga, atau antarteman yang sudah karib.
Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan dengan artikulasi yang sering tidak jelas.
4. Variasi Bahasa dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan, Dalam hal ini dapat disebut ragam lisan atau ragam tulis, atau juga ragam dalam berbahsa dengan menggunakan sarna atau alat tertentu, yakni misalnya dalam bertelepon atau bertelegraf. Adanya ragam bahasa
lisan atau ragam bahasa tulis didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan dan bahasa tulis memilik wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidaksamaan wujud struktur ini adalah karena dalam berbahasa lisan atau dalam menyampaikan informasi secara lisan, kita dibantu oleh unsur- unsur nonsegmental atau unsur nonlinguistik yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengan kepala, dan sejumlah gejala-gejala fisik lainnya.
2.2 Bilingualisme
Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan.
Berdasarkan istilahnya secara harafiah, bilingualisme dapat dipahami yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian, menurut Chaer dan Agustina dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2014: 84).
Nababan (1991:27) mengatakan beberapa hal mengenai bilingualisme dan bilingualistas serta keterkaitan antara keduanya, yaitu sebagai berikut :
“Kalau kita melihat seseorang memakai dua bahasa dalam pergaulannya dengan orang lain, dia berdwibahasa dalam arti dia melaksanakan kedwibahasaan yang kita akan sebut bilingualisme. Jadi bilingualisme ialah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Jika kita berpikir tentang kesanggupan atau kemampuan seseorang berdwibahasa, yaitu memakai dua bahsa, kita akan sebut ini bilingualitas (dari bahasa Inggris bilinguality). Jadi orang yang
“berdwibahasa” mencakup pengertian kebiasaan memakai dua bahasa atau kemampuan memakai dua bahasa”.
Sementara Weinreich dalam Umar dan Delvi (1994:8) membatasi kedwibahasaan sebagai praktik penggunaan dua bahasa secara bergantian. Dalam batasan Weinreich ini tidak disyaratkan tingkat penguasaannya.
Sedangkan menurut Spolsky (1998:45) mengemukakan definisi sederhana dari bilingualisme yaitu sebagai berikut :
“ Bilingual is a person who has some functional ability in a second language.
This may vary from a limited ability in one or more domains, to very strong command of both languages”
(Bilingual adalah seseorang yang mempunyai beberapa kemampuan fungsional dalam menggunakan bahasa keduanya. Hal ini bervariasi dari terbatasnya kemampuan pada satu atau lebih dari domain (bahasa), untuk menguasai kedua bahasa dengan sangat kuat.)
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bilingualisme atau kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa oleh seorang penutur kepada orang lain secara bergantian, baik secara sempurna (antara dua bahasa tersebut) atau tidak, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
2.3 Campur Kode
2.3.1 Pengertian Campur Kode
Campur kode adalah suatu peristiwa dimana bercampurnya dua bahasa yang berbeda yang digunakan oleh seorang penutur yang termasuk kedalam
masyarakat yang bilingual atau berdwibahasa, dan tidak menutup kemungkinan pada masyarakat multilingual.
Kachru dalam Umar dan Delvi (1994:14) mengatakan bahwa :
“Campur kode adalah pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten. Unsur-unsur bahasa yang menyelusup ke dalam bahasa itu tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disusupinya dan secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi”.
Sementara Nababan (1991:32) mengatakan juga bahwa campur kode adalah suatu keadaan berbahasa apabila orang mencampur dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut percampuran bahasa tersebut. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur atau kebiasaannya yang dituruti. Secara singkat, Fasold dalam Chaer dan Agustina (2004:115) menambahkan bahwa kalau seseorang menggunakan satu kata atau frase dari satu bahasa, dia telah melakukan campur kode.
Berdasarkan tiga pengemukaan definisi dari para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya campur kode adalah pemakaian kata, frasa atau dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut percampuran bahasa tersebut.
2.3.2 Jenis Campur Kode
Suwito dalam Fathur Rokhman (2013:38) mengatakan bahwa campur kode dibagi atas dua jenis yaitu, campur kode ke dalam (inner code mixing) dan campur kode ke luar (outer code mixing).
a. Campur kode ke dalam (inner code mixing)
Campur kode ke dalam (inner code mixing) adalah campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya, yaitu penyisipan unsur bahasa daerah ke dalam bahasa nasionalnya. Misalnya yaitu bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa.
Contoh : Aku udah mangan di warung Bu Nani tadi siang.
(Aku udah makan di warung Bu Nani tadi siang.)
b. Campur kode ke luar (outer code mixing)
Campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang bersumber dari bahasa asing.
Contoh : Masa kecil adalah masa dimana anak-anak hyperactive, oleh
Karena itu mereka harus mengonsumsi vitamin yang cukup.
(Masa kecil adalah masa dimana anak-anak beraktivitas tinggi,
oleh karena itu mereka harus mengonsumsi vitamin yang cukup.)
2.3.3 Bentuk Campur Kode
Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, Suwito dalam skripsi “Analisis Campur Kode pada komik “Gals! Jilid 1” Karya Mihona Fujii” (2014:9) membedakan campur kode menjadi beberapa macam, antara lain sebgai berikut :
1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata
Kata adalah satuan bebas paling kecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Gorys Keraf dalam Harimusti Kridalaksana (1990:25) membagi kata atas empat bagian yaitu kata nomina, verba, adjektiva dan kata tugas (kata tugas terdiri dari: preposisi, konjungsi, artikula, kata seru dan adverbial).
2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa
Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa, Ramlan (1995:151). Berdasarkan jenis dan kategori, frasa dibagi menjadi, frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa adverbial dan frasa preposisi.
3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk baster
Menurut Suwito (1985:76). baster merupakan hasil perpaduan dua unsur bahasa yang berbeda, membentuk satu makna. Baster adalah bentuk yang tidak asli, artinya bentuk ini terjadi karena perpaduan antara afiksasi bahasa Indonesia dengan unsur-unsur bahasa dari bahasa lain, atau sebaliknya afiksasi dari bahasa lain yang dipadukan dengan unsur-unsur bahasa dari
bahasa Indonesia. (https://sastrapuisi.wordpress.com/2011/12/11/kode-alih- kode-dan-campur-kode-disusun-untuk-disajikan-dalam-diskusi-mata-kuliah- sosiolinguistik-dosen-pengampu-prof-fathurahman-dan-dr-ida-zulaida/ )
4. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud pengulangan kata
Penyisipan unsur-unsur yang berwujud pengulangan kata memiliki arti yaitu suatu penyisipan unsur dari bahasa asing yang kemudian digunakan secara berulang-ulang lalu menjadi suatu kata atau bahasa inti yang berbeda dari bahasa awalnya. Dalam hal ini perulangan bahasa asing yang kemudian menjadi kata atau bahasa inti bahasa Jepang.
5. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom
Menurut Alwasih (1993:165), idiom adalah grup kata-kata yang mempunyai arti tersendiri yang berbeda dari makna tiap kata dalam grup itu, idiom juga tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
6. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa
Menurut Ramlan (1995:89) klausa adalah satuan gramatik yang terdiri dari subjek dan predikat baik disertai objek, pelengkap dan keterangan ataupun tidak.
2.3.4 Faktor Penyebab Campur Kode
Nababan (1991:32) mengatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode yaitu :
1. Faktor kesantaian (situasi informal),
2. Faktor kebiasaaan,
3. Faktor tidak adanya ungkapan yang tepat dalam bahasa yang
digunakan,
4. Faktor penutur ingin memamerkan “keterpelajarannya” dan/atau
“kedudukannya”.
Keempat hal tersebut hampir serupa dengan yang diungkapkan oleh Weinreich (1963) dalam skripsi Maulidini (2007:69) yang kemudian penulis kutip dan tinjau kembali. Weinreich menjelaskan mengapa seseorang harus meminjam kata-kata dari bahasa lain. Hal ini pada dasarnya memiliki dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor Internal
Faktor ini menunjukan bahwa sesorang meminjam kata dari bahasa lain karena dorongan yang ada dalam dirinya. Adapun faktor tersebut meliputi tiga macam yaitu:
1. Low Frequency of Word (Kata dengan Tingkat Penggunaan yang Rendah)
Hal ini berkaitan dengan bagaimana posisi suatu kata berada di dalam masyarakat, apakah masuk ke dalam tingkat penggunaan yang tinggi atau rendah. Seseorang melakukan campur kode karena kata-kata
Seseorang tersebut pun akan cenderung memilih untuk menggunakan kata yang umum atau populer meskipun bukan dari bahasanya sendiri ketimbang menggunakan kata-kata dari bahasa aslinya sendiri yang tidak umum digunakan.
Contoh : “Ini adalah case Samsung S8 versi terbaru”
Kata case di atas memiliki arti sarung yang melindungi telepon genggam dari lecet dan kerusakan. Ada pula masyarakat yang menyebutnya dengan casing. Kalimat di atas timbul dari istilah-istilah pada handphone yang banyak mengandung istilah dari bahasa Inggris.
Dengan demikian peminjaman kata dari bahasa lain bertujuan untuk menghindari pemakaian kata yang jarang didengar orang. Atau dengan kata lain menggunakan kata yang biasanya dipakai sehingga lawan tutur mudah memahami makna yang ingin disampikan penutur.
2. Pernicious Homonymy (Kehomoniman yang Buruk)
Homonim yang merupakan kata-kata yang berbunyi sama namun memiliki makna yang berbedaadang dapat menyebabkan kerancuan atau keambiguan dan juga konotasi buruk. Maksudnya adakalanya jika penutur menggunakan kata daam bahasanya sendiri, maka kata tersebut dapat menimbulkan masalah homonim yaitu makna ambigu. Sehingga untuk menghindari keambiguan makna penutur menggunakan kata dari bahasa lain.
3. Need for Synonim (Kebutuhan untuk Sinonim)
Seorang penutur sengaja menggunkan kata dari bahasa lain yang bersinonim dengan bahasa penutur dengan tujuan untuk menghaluskan ungkapan dan menyelamatkan muka lawan tutur.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah suatu dorongan yang berasal dari luar penutur, yang menyebabkan penutur meminjam kata dari bahasa lain. Terdapat empat faktor eksternal yaitu:
1. Perkembangan atau perkenalan dengan budaya baru.
Faktor ini terjadi karena adanya perkembangan budaya baru misalnya perkembangan teknologi di Indonesia, mau tidak mau orang Indonesia banyak menggunakan bahasa Inggris karena banyak sekali alat- alat teknologi yang berasal dari negara asing. Atau pemakaian bahasa Jawa oleh para mahasiswa yang notabene tidak berasal dari Jawa.
2. In Sufficiently Differentiated (Kurangnya Pembedaan)
Penutur mencampurkan kata atau istilah bahasa lain atau bahasa daerah ke dalam bahasa sendiri, karena kata atau istilah tersebut lebih cocok atau mengena daripada kata atau istilah dalam bahasa aslinya sendiri. Menunjukkan makna tertentu yang memiliki maksud tertentu misalnya karena kebiasaan.
3. Social Value (Nilai Sosial)
Penutur mengambil kata dari bahasa lain dengan mempertimbangkan faktor sosial, sehingga diharapkan dengan penggunaan kata-kata tersebut dapat menunjukan status sosial dari penutur.
Contoh : “Total semua payment yang harus dibayar kali ini biar saya yang
bayar, ya.”
Dalam hal ini payment berarti pembayaran dan biasa digunakan oleh kalangan menengah ke atas.
4. Oversight (Kealpaan)
Maksudnya ada keterbatasan kata-kata yang dimiliki oleh bahasa penutur dalam kaitannya dengan topik yang disampaikan sehingga penutur harus mengambil kata dari bahasa lain. Contohnya terbatasnya kata dalam bidang kedokteran dalam bahasa Indonesia maka banyak istilah kedokteran yang dimabil dari bahasa latin yang mempunyai istilah yang tepat dalam bidang kedokteran.
Contoh : “Kata Dokter, ia mengidap kanker serviks stadium awal”‟
2.4 Sinopsis Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya
Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya ini menceritakan tentang Shinichi Chiaki yang merupakan mahasiswa Akademi Musik Momogaoka yang sangat berbakat. Shinichi adalah putra dari pianis ternama bernama Chiaki Masayuki. Meskipun ia masuk di Jurusan Piano, namun
ia sebenarnya memiliki cita-cita menjadi konduktor. Ia lalu bertemu dengan Megumi Noda atau sering disapa dengan Nodame, merupakan gadis sederhana yang sangat mencintai piano, namun meskipun begitu, ia tidak bisa membaca partitur dan belum serius dalam bermusik. Belakangan Chiaki lah yang membuka matanya untuk masuk kedunia musik yang sesungguhnya. Berkat keahlian mereka berdua, akhirnya pun mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan proses belajarnya ke Perancis.
Pada pembahasan dalam penelitian ini, komik Nodame Cantabile Jilid 10 mengangkat kisah saat kedua tokoh utama dan teman-temannya yang baru saja pindah ke negara Perancis. Setting cerita yang diambil di Perancis menimbulkan banyak bermunculan campur kode berbahasa asing Inggris maupun Perancis dalam komik tersebut.
BAB III
ANALISIS CAMPUR KODE PADA KOMIK NODAME CANTABILE JILID 10 KARYA TOMOKO NINOMIYA
Pada penelitian ini, sesuai dengan ruang lingkup pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini berfokus pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya. Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, telah ditemukan bentuk campur kode yang terdapat dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, yaitu adanya penyisipan unsur-unsur kebahasaan.
Menurut Suwito dalam skripsi “Analisis Campur Kode pada komik “Gals!
Jilid 1” Karya Mihona Fujii” (2014:9), ia membedakan bentuk campur kode menjadi 6 bentuk yaitu penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata, frasa, baster, perulangan kata, ungkapan atau idiom dan berwujud klausa. Namun, pada penelitian ini beberapa bentuk campur kode yang ditemukan adalah penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata (terdiri atas kata nomina, verba dan adjektiva), penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa dan penyisipan unsur-unsur yang berwujud baster. Untuk penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan kata, idiom dan klausa tidak ditemukan dalam penelitian ini.
Pada bentuk penyisipan unsur-unsur tersebut juga tidak hanya melibatkan unsur sosiolinguistik yaitu campur kode saja, namun dikarenakan terdapat
juga erat hubungannya dengan ilmu Morfologi atau ilmu bentuk kata adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Morfologi_(linguistik)).
Berikut di bawah ini adalah analisis penyisipan unsur-unsur campur kode pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.
3.1 Penyisipan Unsur-unsur Berbentuk Kata
Kata adalah satuan bebas paling kecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Jenis-jenis kata yang terdapat dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya ini yaitu kata nomina, verba dan adjektiva.
Berikut di bawah ini tabel analisis cuplikan percakapan yang disisipi unsur-unsur berwujud kata tersebut.
1. Bentuk Nomina
Tabel Campur Kode Bentuk Nomina
No Data Campur Kode Wujud Campur Kode
Klasifikasi Wujud
Terjemahan
1 学 生 : あ ~私 もそ の 噂 聞 いた !な んか 強 烈 な イン パク ト だ っ たっていう。
インパクト Nomina Murid : Ah, saya juga mendengar kabar itu! Ada suatu dampak
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 13)
yang kuat.
2 千 秋 :オ レま ずは 指
揮 者 コン クー ル に 出 て 、 自 分 の 力 を 試 す!
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 32)
コンクール Nomina Chiaki : Saya pertama-tama akan
mengikuti kompetisi dirijen dan menguji kemampuan saya sendiri!
3 店 員 :は い、 先ほ ど
マドモアゼル
が、(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 35)
マドモアゼル (Mademoiselle (bahasa Prancis)
Nomina Pelayan : Ya, nyonya yang (memesan) sebelumnya,
4 タ ー ニャ :い いじ ゃ
な ー い! ココ は ア ム ー ル の 国 な ん で し ょ?!
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 53)
アムール (Amour (bahasa
Prancis)
Nomina Tania : Tidakkah bagus! Disini adalah negara cinta, kan?!
5 の だ め : じ ゃ あ 先 輩 、 個人 レッ スン し
レッスン Nomina Nodame : Jadi kak, tolong
てくださいよ~
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 68)
ajarkan (saya) secara
private~
6 タ ー ニャ :ボ ンジ ュ
ール!ムッシュー∙チ アキ!
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 75)
ムッシュー (Monsieur (bahasa Prancis)
Nomina Tania : Halo (selamat pagi)!
Tuan Chiaki!
7 タ ー ニャ :ね ーお ね
がい~マダム∙セイコ
の息子さんでしょ (Nodame Cantabile Jilid
10 hal 76)
マダム (Madame (bahasa Prancis)
Nomina Tania : Saya mohon~ Kamu anak lelaki dari Ibu Seiko, bukan.
8 タ ー ニャ :な んだ !
だ っ たら フラ ンク チ ャンスじゃなーい~
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 78)
チャンス Nomina Tania : Apa itu! Bukankah itu sepertinya kesempatan Frank~
9 フ ラ ンク :う ん! 毎
年やってるフェステイ バルでね
(Nodame Cantabile Jilid
フェステイバル Nomina Frank : Ya!
Setiap tahun diadakan festival, lho.
10 hal 93)
10 フ ラ ンク :今 年は プ
リ ゴ ご ろ 太の ショ ー もやるんだよ!
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 95)
ショー Nomina Frank : Tahun ini juga menampilkan pertunjukkan Purigorota, lho!
Analisis 1
学生1:坪井先輩ステキ~
Murid 1 : Kak Tsuboi hebat, ya~
学生2:マラドーナ∙コンクールで4位だったんだよねー
Murid 2 : Mendapat peringkat 4 di Kompetisi Maradona, lho.
学生1:オレ見に行った~~
うちの学校で他にもすごい先輩いたんだよ!野田っていう女の
人!!4年生らしいんだけど。。。
Murid 1 : Aku sudah pergi melihatnya~~
Ada senior hebat juga di sekolah lain dari sekolah kita! Perempuan
yang bernama Nodame!! Tapi sepertinya dia murid tahun ke 4.
学生2:あ~私もその噂聞いた!なんか強烈なインパクトだったっていう。
Murid 2 : Ah, saya juga mendengar kabar itu! Ada suatu dampak yang kuat.
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 13)
Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “インパクト”, yang merupakan kata bahasa Inggris berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa Indonesia memiliki makna „dampak‟ atau „akibat‟. Dalam tuturan ini kata impact disini bermakna dampak. Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata impact adalah 影響(えいきょう)yang bermakna sama yaitu „dampak‟ atau „akibat‟.
Situasi yang melatarbelakangi terjadinya percakapan ini adalah adanya situasi santai atau informal yang dilakukan oleh dua orang murid di Akademi Musik Momogaoka. Mereka berdua tengah melihat sesi latihan dari senior mereka yang bernama Tsuboi. Oleh karena mereka saling akrab dan mengenal satu sama lain, maka mereka pun saling menggunakan ragam bahasa santai. Hal ini sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Nababan (1991:32), ia mengatakan bahwa campur kode adalah suatu keadaan berbahasa apabila orang mencampur dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa tersebut, dalam keadaaan demikian, hanya kesantaian penutur atau kebiasaannya yang dituruti.
Pada konteks percakapan ini, penutur melakukan campur kode dengan memasukkan kata „impact‟ ke dalam percakapan bahasa Jepangnya dikarenakan
situasi mereka yang sedang menikmati musik dan cenderung sedang bersantai tanpa adanya tekanan. Ditambah lagi kata yang diucapkan oleh penutur cenderung lebih memadai dan terlihat keren dan populer apabila digunakan dibanding padanan kata yang lain.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 1 terjadi karena adanya faktor ragam kesantaian antara penutur dan petutur, dan juga adanya faktor padanan kata asing yang lebih memadai dan populer.
Analisis 2
のだめ :ヴィエラ先生に会わなくていいんですか?楽屋に行けば入れて
もらえるんじゃ。。。
Nodame : Kenapa tidak bertemu dengan guru Vierra, bukankah bagus? Kalau
pergi ke ruang ganti, akan dipersilakan masuk...
千秋 :いいんだまだ会わなくて。会っても。。。すぐ弟子にしてもら
えるなんて思ってないし、オレまずは指揮者コンクールに出て、
自分の力を試す!
Chiaki : Bagus kalau belum bertemu. Meskipun bertemu... Saya pikir saya
tidak akan langsung dijadikan sebagai murid, saya pertama-tama akan mengikuti kompetisi dirijen dan menguji kemampuan saya sendiri!
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 32)
Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “コンクール” (concours) yaitu sebuah kata bahasa Inggris berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa Indonesia memiliki makna „kompetisi‟. Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata concours adalah 競争(きょうそう)yang bermakna sama yaitu
„kompetisi‟.
Situasi yang melatarbelakangi terjadinya percakapan ini adalah ketika sang penutur dan lawan bicaranya sedang berada di Prancis dan baru saja melihat penampilan dari seorang yang dikagumi oleh tokoh Chiaki, lalu mereka terlihat sedang membicarakan suatu hal. Kata concours yang berarti kompetisi ini digunakan karena faktor kebiasaan dari pemusik sepeti mereka dalam mengatakan suatu istilah padanan kata. Berdasarkan hasil penelitian penulis pada komik ini, istilah ini lebih sering dipakai di dunia permusikan sepanjang komik tersebut.
Bagi keduanya yaitu penutur dan petutur yang sama-sama mampu memahami dua bahasa terkhusus dalam istilah musik seperti ini bukanlah hal yang baru lagi.
Seperti menurut Nababan (1991:32), yang mengatakan bahwa situasi yang menuntut pencampuran bahasa yaitu adanya kesantaian penutur dan kebiasaan yang dituruti.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 2 terjadi karena adanya faktor kebiasaan yang dituruti oleh segenap pemusik yang mampu memahami istilah kedwibahasaan dalam dunia permusikan.
Analisis 3
Chiaki : Apa itu?
のだめ:かたつむり。。。?
Nodame : Siput...?
千秋 :こんなの頼んだ?
Chiaki : Apakah saya memesan (makanan) semacam ini?
店員 :はい、先ほど
マドモアゼル
が、タルタルステーキがなかったのでかわりに
Pelayan : Ya, Nyonya yang (memesan) sebelumnya, karena steak tartar tidak ada,
maka saya (menyarankan) untuk mengganti.
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 35)
Berdasarkan cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “
マドモアゼル
”. Kata yang telah menyisip kedalam bahasa Jepang tersebut berasal dari bahasa Prancis yaitu Mademoiselle yang berarti Nyonya.Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata ini adalah 様(さ ま)‟sama‟ atau さん‟san‟ yang bermakna „tuan‟ atau „nyonya‟ sesuai dengan nama yang mengikutinya.
Situasi yang melatarbelakangi terjadinya percakapan ini adalah situasi yang cenderung lebih sedikit formal, hal tersebut karena kedua tokoh utama terlihat sedang berada di suatu restoran berbintang terbaik yang ada di kota Paris
tersebut, dan mereka berdua mulai melakukan interaksi dengan sang pelayan, lalu muncullah kata ini yang disisipkan oleh penulis komik tersebut dan diucapkan oleh seorang pelayan di restoran Prancis tersebut. Dengan kata lain, campur kode bisa saja terjadi saat situasi agak formal, seperti yang dikatakan oleh Nababan (1991:32) yaitu dalam situasi berbahasa yang formal jarang terdapat campur kode, kalau terdapat, hal itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing.
Pada awalnya situasi bahasa yang digunakan antara Pemeran utama dengan pelayan adalah bahasa Prancis, namun sang penulis komik ini mengubah bahasa yang dituangkan pada komik menjadi bahasa Jepang agar lebih mudah untuk dibaca. Namun sang penulis menyisipkan istilah Prancis pula ke kalimat pelayan. Hal ini didasari agar jati diri pelayan yang seorang warga Prancis asli tidak hilang. Sesuai dengan pendapat sebelumnya, bahwasanya yaitu sang penulis berusaha menemukan kata yang tepat dalam bahasa Prancis tersebut yang kemudian diubah ke bahasa Jepang, dengan cara tetap menyisipkan satu kata dalam padanan yang pas dari bahasa Prancis ke bahasa Jepang.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 2 terjadi karena suasana yang agak cenderung formal namun disebabkan oleh sang penulis komik yang memiliki tujuan untuk menyisipkan padanan kata yang pas dalam bahasa yang sedang digunakan oleh karakter asing tersebut dan ditambah lagi karena tidak adanya ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai.
Analisis 4
ターニャ:マダム∙セイコの息子でしょ!?お金持ちね~
ねぇねぇ、ちょっと見に行かな~~い。。。
Tania : Anaknya Ibu Seiko ya!? Sepertinya kaya ya~
Hey Hey, tidakkah kau mau untuk melihat-lihat sedikit...
フランク:ターニャ。。。まだ君は
Frank : Tania... Kau mulai lagi,
ターニャ:いいじゃなーい!ココはアムールの国なんでしょ?!
Tania : Tidakkah bagus! Disini adalah negara cinta, kan?!
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 53)
Berdasarkan cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “アムール” yang merupakan kata dari bahasa Prancis yaitu Amour berarti „cinta‟ dan menyisip kedalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata amour adalah 恋(こい)atau 愛(あい)
yang keduanya bermakna „cinta‟.
Situasi yang melatarbelakangi terjadinya penyisipan campur kode tersebut yaitu situasi non formal ketika Tania yang merupakan warga negara Prancis, ia berbicara dengan salah seorang temannya bernama Frank yang juga warga negara
Prancis. Mereka berdua tinggal di penginapan yang sama dengan Chiaki dan Nodame. Faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode pada situasi tersebut yaitu adanya faktor penggunaan bahasa yang pas dan juga faktor kepopuleran bahasa.
Hal yang sama terjadi lagi, yaitu penulis komik menggunakan bahasa Jepang pada percakapan kedua orang tersebut agar terlihat mudah untuk dipahami, bukan menggunakan bahasa Prancis, namun penulis komik tetap menyisipkan bahasa Prancis di dalamnya agar tidak terlepas bahwa keduanya memang orang Prancis asli dan penggunaan istilah dari bahasa tersebut juga sudah menjadi faktor kebiasaan dalam bertutur. Selain itu, ditambah lagi istilah amour ini memang sangat familiar dan populer.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 4 dikarenakan faktor penempatan padanan bahasa yang sesuai dengan kewarganegaraan penutur dengan lawan bicaranya dan juga faktor kebiasaan dan kepopuleran kata tersebut.
Analisis 5
千秋 :その本なんか変だろう!?
Chiaki : Bukankah buku itu aneh!?
のだめ:そうですか~?
Nodame : Begitu ya~?
千秋 :もっと基礎の基礎からやってくれ!
Chiaki : Lakukanlah dari dasar dulu!
のだめ:じゃあ先輩、個人レッスンしてくださいよ~
Nodame : Jadi kak, tolong ajarkan (saya) secara private~
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 68)
Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “レッスン” (lesson) yaitu sebuah kata bahasa Inggris berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa Indonesia memiliki makna „ajar‟ atau „pengajaran‟. Dalam percakapan di atas lebih terlihat lagi percampuran bahasa dikarenakan kata “レッスン” (lesson) digabungkan dengan kata “~してください”yang pada akhirnya memiliki arti „tolong ajarkan‟. Dalam
bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata lesson adalah 教え(おし え)、授業(じゅぎょう)yang bermakna sama yaitu „ajar‟ atau „pengajaran‟.
Situasi yang melatarbelakangi terjadinya penyisipan campur kode tersebut yaitu situasi santai ketika Nodame sedang berbincang dengan Chiaki, dan disaat itu juga Nodame belajar bermain salah satu musik yang sulit di negara Prancis tersebut, dan karena kesulitan, Nodame pun meminta Chiaki untuk membantunya.
Faktor mendasar yang menyebabkan campur kode analisis ini adalah adanya faktor kesantaian, dikarenakan keduanya sudah saling mengenal dan situasi juga mengakibatkan Nodame ingin menunjukkan sejauh mana kepandaiannya dalam berbahasa asing khususnya bahasa Inggris.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 5 dikarenakan faktor kesantaian yang dirasakan antara penutur dan petutur, serta adanya keinginan untuk diakui akan sejauh mana tingkat kekmampuannya.
Analisis 6
ターニャ:ボンジュール!ムッシュー∙チアキ!ちょっと頼みごとがある
んだけどー
今時間あるかしら?
Tania : Halo (selamat pagi)! Tuan Chiaki! Karena ada hal yang ingin
ditanyakan sedikitー
Sekarang apakah ada waktu?
千秋 :ない
Chiaki : Tidak ada
ターニャ:ちょっと、ちょっとだけ!
Tania : Sebentar, hanya sebentar!
(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 75)
Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “ ムッシュ ー”, yang merupakan kata yang berasal dari bahasa Prancis berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa