• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Tempat

Penelitan ini dilakukan di Taman Kota Tebing Tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2018.

Alat dan Bahan

Alat yang diperlukan pada penelitian ini adalah kamera, tallysheet, phiband, hagameter, GPS, meteran, alat tulis dan buku pengenalan identifikasi kerusakan pohon.

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah pohon–pohon yang terdapat di Taman Kota Tebing Tinggi.

Prosedur Penelitian Metode Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode sensus. Metode sensus digunakan untuk menilai kesehatan pohon yang berada di Taman Kota Tebing Tinggi. Indentifikasi status kesehatan dilakukan dengan metode pemantau kesehatan hutan atau Forest Health Monitoring (FHM) yaitu metode penilaian kesehatan pohon dengan mengelompokkan jenis dan tingkat kerusakan per individu tanaman. Dalam menilai kesehatan pohon digunakan dua indikator yaitu kerusakan pohon dan kondisi tajuk pohon. Metode pengambilan data dilakukan secara sensus dengan kriteria diameter pohon minimal 20 cm. Metode analisis data yaitu deskriptif dan skoring berdasarkan pembobotan.

Pengukuran LBDS

Pertumbuhan pohon dapat diketahui dengan mengukur diameter pohon yakni penambahan diameter pohon dari waktu ke waktu. Diameter pohon diukur pada ketinggian 1,3m diatas permukaan tanah (dbh). Tegakan yang memiliki diameter 20 cm atau lebih dikategorikan sebagai pohon. Dari data diameter dapat digunakan untuk menentukan nilai LBDS (Luas Bidang Dasar). LBDS dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan atau produktivitas pohon dari waktu ke waktu. LBDS dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

12

LBDS = 1

4 x π x D2 Keterangan:

LBDS : Luas Bidang Dasar per Pohon Π : Konstanta (3,14)

D : Diameter Setinggi Dada (dbh) Pengukuran Indikator Kerusakan

Kerusakan yang dicatat pada masing-masing pohon yaitu maksimal tiga kerusakan. Ketika ada kerusakan yang berganda terjadi di tempat yang sama maka hanya kerusakan paling parah yang ditulis. Data kerusakan pohon yang digunakan untuk mengetahui indikator kerusakan pohon adalah lokasi, tipe kerusakan dan nilai ambang batas keparahan (Tabel 1).

Tabel 1. Tally Sheet Penilaian Kerusakan Pohon menurut metode FHM

No Nama

Kerusakan 1 Kerusakan 2 Kerusakan 3

Xi Yi Zi Xi Yi Zi Xi Yi Zi

Keterangan :

Xi : Lokasi Kerusakan.

Yi : Tipe Kerusakan.

Zi : Kelas Keparahan Kerusakan.

Pengamatan pohon dilakukan pada seluruh sisi dimulai dari pangkal batang. Kerusakan yang dicatat pada masing-masing pohon yaitu maksimal tiga kerusakan. Dicatat data tipe kerusakan, lokasi kerusakan dan nilai ambang batas keparahan untuk mengetahui indikator kerusakan pohon. Pengkodean dan penilaian kerusakan pohon. Data kerusakan pohon kemudian dimasukkan ke dalam tally sheet.

Untuk mempermudah pengamatan, lokasi kerusakan yang terdapat pada pohon dapat dikodekan sehingga dapat mempermudah proses pengamatan kesehatan pohon. Kode kerusakan bagian-bagian pohon menggunakan kodefikasi menurut standar Environmental Monitoring and Assessment Program (EMAP) seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Lokasi Kerusakan Pada Pohon (Mangold R, 1997) Keterangan :

01 : Akar 06 : Batang Tajuk

02 : Akar dengan Batang Bawah 07 : Cabang

03 : Batang Bawah 08 : Tunas dan Pucuk

04 : Batang Atas dan Bawah 09 : Dedaunan 05 : Batang Atas

Penilaian kerusakan digunakan kriteria – kriteria berdasarkan metode FHM. Data yang diperoleh dari penilaian kerusakan dihitung nilai indeks kerusakannya dengan kode dan bobot nilai indeks kerusakan (NIK). Hasil perhitungan akhir dapat diketahui NIK (Kelas sehat, kelas ringan, kelas sedang dan kelas berat) (Noviady dan Rivai, 2015).

IK = ∑(xi. yi. zi)

𝑛

𝑖=1

IK =

x

lokasi x

y

tipe kerusakan x

z

keparahan

Menilai Indeks Kerusakan tingkat pohon ( Tree Level Index-TLI ) pada masing-masing klaster dengan menggunakan rumus :

TLI/NIK = (IK1) + (IK2) + (IK3) Keterangan:

NIK : Nilai Indeks Kerusakan pada level pohon Xi : Nilai bobot pada tipe kerusakan

Yi : Nilai bobot pada bagian/lokasi pohon yang mengalami kerusakan Zi : Nilai bobot pada keparahan kerusakan

Selanjutnya dapat diketahui kelas kerusakan pohon berdasarkan bobot nilai indeks sebagai berikut :

14

Kode tipe kerusakan, bagian/lokasi kerusakan dan bobot pada keparahan kerusakan dan bobot indeks kerusakan dapat dilihat pada Tabel 2, Tabel 3,Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 2. Bobot Indeks Kerusakan Pohon

Lokasi Kerusakan Tipe Kerusakan Kelas Keparahan

Kode Bobot Kode Bobot Kode Bobot

Sumber : Mangold R. (1997)

Tabel 3. Kode dan Lokasi Kerusakan

Kode Keterangan Bobot

0 Sehat (Tidak ada kerusakan) 0 batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)

1,8

4 Bagian bawah dan bagian atas batang 1,8

5 Bagian atas batang (setengah bagian atas dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)

1,6 6 Batang tajuk (batang utama di dalam daerah tajuk

hidup di atas dasar tajuk hidup)

1,2 7 Cabang (lebih besar 2.54 cm pada titik percabangan

terhadap batang utama atau batang tajuk didalam daerah tajuk hidup)

1

8 Kuncup dan tunas (pertumbuhan tahun terakhir) 1

9 Daun 1

Sumber: Mangold R. (1997)

Tabel 4. Kode dan Tipe Kerusakan Kode Tipe

Kerusakan Tipe Kerusakan Bobot

1 Kanker, gol (puru) 1,9

2 Busuk Hati, Tubuh Buah (Badan Buah), dan Indikator Lain Lapuk Lanjut

1,7

3 Luka Terbuka 1,5

4 Eksudasi (Resinosis dan Gumosis) 1,5

11 Batang Patah Kurang dari 0.91 m 1,6

12 Brum pada Akar atau Batang 1,6

13 21

Akar Patah atau Mati kurang dari 0.91 m Hilangnya Ujung Dominan (Mati Ujung)

1,5 1

22 Cabang Patah atau Mati 1

23 Brum pada Cabang atau Daerah dalam Tajuk

1

24 Kerusakan Daun 1

25 Daun Berubah Warna (Tidak Hijau) 1

Sumber: Mangold R. (1997)

Tabel 5. Kode dan Kelas Keparahan Kerusakan

Kode Kelas Keparahan (%) Bobot

Pencatatan kerusakan pohon dilakukan sebanyak jumlah kerusakan pohon yang terjadi dan dimulai dari lokasi dengan kode terendah. Kerusakan yang tidak memenuhi nilai ambang akan diberi nilai “0” pada tingkat keparahannya. Apabila terdapat kerusakan ganda pada lokasi yang sama, maka semua kerusakan tetap dicatat supaya tingkat keparahannya dapat diperkirakan secara tepat.

Pengukuran Indikator Tajuk

Parameter-parameter kondisi tajuk pohon yang diukur berdasarkan metode FHM yaitu sebagai berikut :

16

- Rasio tajuk hidup (Live Crown Ratio-LCR), yaitu tinggi tajuk yang tertutup terhadap tinggi total pohon. Mengukur tinggi pohon pada batas pucuk ranting yang berdaun sebagai ‘TT’ menggunakan hagameter. Mengukur TTBC sebagai

‘Ttj’ menggunakan hagameter dan menghitung rasio tajuk hidup dengan rumus LCR =𝑇𝑡𝑗

𝑇𝑇 × 100%.

Gambar 2.Pengukuran Rasio Tajuk Hidup ( Mangold R, 1997)

- Kerapatan tajuk (Crown density-Cden), yaitu persentasi cahaya matahari yang tertahan oleh tajuk untuk tidak mencapai permukaan tanah. Cden dihitung dengan menggunakan kartu skala kerapatan tajuk.

Gambar 3. Kartu Skala Kerapatan Tajuk (Mangold R, 1997)

- Tranparansi tajuk (Foliage Transparancy-FT), yaitu persentasi cahaya matahari yang dapat melewati tajuk dan mencapai permukaan tanah. FT dihitung dengan menggunakan kartu skala transparansi tajuk.

Gambar 4. Kartu Skala Transparansi Tajuk (Mangold R, 1997)

- Diameter tajuk (Crown Diameter Width dan Crown Diameterat 90o), yaitu nilai rata-rata dari pengukuran panjang dan lebar tajuk pohon yang bersangkutan. CDW dihitung berdasarkan pengukuran panjang dan lebar tajuk terluar menggunakan meteran. Estimasi posisi tajuk terluar dengan dengan cara memproyeksikan tajuk terluar secara vertikal pada titik diameter terlebar.

Gambar 5. Penentuan Diameter Tajuk (Mangold R, 1997)

- Crown Dieback (CDB), yaitu cabang dan ranting yang baru saja mati dimana bagian yang mati dimulai dari bagian ujung kemudian merambat ke bagian pangkal.

18

Pengukuran tinggi tajuk harus dilakukan dengan hati – hati terutama pada tegakan dengan kerapatan tinggi karena sulit membedakan antara tajuk pohon yang diamati dengan pohon yang tidak. Penilaian parameter kondisi tajuk didasarkan pada tiga kategori kondisi tajuk, yaitu nilai 3 untuk kondisi tajuk yang bagus, 2 untuk kondisi parameter tajuk sedang dan 1 untuk kondisi parameter tajuk yang jelek.

Tabel 6. Kriteria Kondisi Tajuk (Anderson et al., 1992, dalam Putra, 2004)

Parameter Klasifikasi

Baik (Nilai=3) Sedang (Nilai=2) Jelek (Nilai=1) Nisbah Tajuk

Semua parameter pengukuran kondisi tajuk pohon digabungkan kedalam peringkat penilaian penampakan tajuk (Visual Crown Rating) untuk masing-masing pohon. VCR memiliki nilai 1,2,3 dan 4 tergantung kepada besaran nilai pengamatan setiap parameter kondisi tajuk.

Tabel 7.Nilai peringkat Visual Crown Rating (VCR) individu pohon (Anderson et al., 1992, dalam Putra, 2004)

Nilai VCR Kriteria

4 Seluruh parameter bernilai 3, atau hanya 1 parameter memiliki nilai 2, tidak ada parameter bernilai 1.

3 Lebih banyak kombinasi antara nilai 3 dan 2 pada parameter tajuk, atau semua bernilai 2, tetapi tidak ada parameter bernilai 1.

2 Setidaknya 1 parameter bernilai 1, tetapi tidak semua parameter.

1 Semua parameter kondisi tajuk bernilai 1.

Penilaian dan Penentuan Status Kesehatan Pohon

Penentuan Status Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi didapatkan berdasarkan nilai skor yang diperoleh dari penentuan nilai selang (interval) terhadap nilai setiap parameter pengamatan yakni produktivitas,

kerusakan pohon dan kondisi tajuk yang mewakili indikator kesehatan pohon.

Skoring untuk setiap indikator diberikan interval 0-10. Nilai akhir kesehatan pohon didapat dari jumlah skoring dari seluruh indikator dengan interval 0-20.

Semakin tinggi nilai skor menunjukkan tingkat kesehatan yang semakin tinggi.

Adapun pembagian nilai skoring adalah sangat sakit (1-4), sakit (5-8), kurang sehat (9-12), sehat (13-16) dan sangat sehat (17-20).

20

Gambaran Lokasi Penelitian

Peta lokasi penelitian taman kota dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian Taman Kota Tebing Tinggi

Dokumen terkait