ANALISIS KESEHATAN POHON DI TAMAN KOTA TEBING TINGGI PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
DAVID PASARIBU 141201113
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ANALISIS KESEHATAN POHON DI TAMAN KOTA TEBING TINGGI PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Oleh:
DAVID PASARIBU 141201113
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
23 Desember 2019
LEMBAR PENGESAHAN
Tanggal Lulus :
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini Nama : David Pasaribu
NIM : 141201113
Judul : Analisis Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara
menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Medan, 23 Desember 2019
David Pasaribu NIM 141201113
ABSTRACT
DAVID PASARIBU : Tree health analysis in City Park of Tebing Tinggi, North Sumatra Province, supervised by ALFAN GUNAWAN AHMAD
Tebing Tinggi Urban Forest is one of green open space that has an important role in supporting the realization of the city’s most beautiful, comfortable and healthy for its inhabitants. Many trees species was grown at Tebing Tinggi City Park area. The purpose of this research ere to get information of the number and distribution of trees in Tebing Tinggi City Park, and to get information about the health level of the trees in that area. In determining the tree health, this research uses Scoring Method of Forest Health Monitoring with two indicators namely damage indicator and crown indicator. The result observation of damage indicator, there were ten types of damage found on the trees. The types of damage is cancer (19,6%), fruiting bodies (18,2%), open wounds (27,05%), resinosis (0,57%), brooms on roots or bole (4,62%), dead terminal (5,20%), broken and dead branch (12,7%), brooms on a branches (2,89%), leaf damage (4,62%), discoloration of leaves (3,46%). The result of tree health assessment showed that there were 1 tree (1,26%) with very healthy classes, 12 trees (15,18%) with healthy classes, 46 trees (55,22%) with unhealthy classes, 20 trees (22,78%) with disease classes.
Keywords : Forest Health Monitoring, Damage Indicator, Crown Indicator, Tebing Tinggi Urban Forest
ABSTRAK
DAVID PASARIBU : Analisis Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara, dibimbing oleh ALFAN GUNAWAN AHMAD
Taman Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu bentuk ruang terbuka hijau yang memiliki peranan penting dalam mendukung terwujudnya perkotaan yang indah, nyaman serta sehat bagi warga kotanya. Berbagai jenis pohon tumbuh di area Taman Kota Tebing Tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi jumlah dan sebaran pohon di Taman Kota Tebing Tinggi, serta mendapatkan data dan informasi mengenai tingkat kesehatan pohon di Taman Kota Tebing Tinggi. Penelitian ini menggunakan Metode Penilaian Kesehatan Hutan dengan 2 indikator yaitu indikator kerusakan dan indikator tajuk. Hasil pengamatan terhadap indikator kerusakan terdapat 10 tipe kerusakan yang ditemnukan pada pohon. Tipe kerusakan tersebut adalah kanker (19,6%), busuk hati (18,2%), luka terbuka (27,05%), resinosis (0,57%), brum pada akar atau batang (4,62%), hilangnya pucuk dominan (5,20%), cabang patah atau mati (12,7%), percabangan berlebihan (2,89%), kerusakan daun (4,62%), daun berubah warna (3,46%). Berdasarkan hasil penilaian kesehatan pohon di Taman Kota Tebing Tinggi, didapat sebanyak 1 pohon (1,26%) dengan kelas sangat sehat, 12 pohon (15,18%) dengan kelas sehat, 46 pohon (55,22%) dengan kelas kurang sehat, 20 pohon (22,78%) dengan kelas sakit.
Kata kunci : Forest Health Monitoring, Indikator Kerusakan, Indikator Tajuk, Taman Kota Tebing Tinggi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul
“Analisis Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara”. Skripsi ini sebagai syarat untuk menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Alfan Gunawan Ahmad, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis serta memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
2. Kepada kedua dosen penguji yang saya hormati, ibu Siti Latifah, S.Hut., M.Si., Ph.D, bapak Dr. Apri Heri Iswanto, S.Hut., M.Si yang telah bersedia menguji skripsi dan membantu dalam mengarahkan skripsi ini menjadi lebih baik.
3. Ketua dan sekretaris Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Dr.
Achmad Siddik Thoha, S.Hut., M.Si dan Dr. Nurdin Sulistiono, S.Hut., M.Si dan seluruh staf pengajar dan pegawai di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan.
4. Ibunda Christina Sirait, S.ST yang selalu memberikan dukungan materi dan moral serta doa yang tak henti kepada penulis selama mengikuti pendidikan hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Kakak perempuan penulis Gracella Arintanagabe Pasaribu, A.Md.A.K, Saudara laki-laki penulis Daniel Haristona Pasaribu, S.AP, serta adik perempuan penulis Nada Cynthia Pasaribu, S.E yang memberikan dukungan serta doa kepada penulis.
5. Teman satu tim penelitian Nanda Iskandar S, S.Hut, Reza Akbar, S.Hut, Khairul Amin, Eril Maribert Tambunan, S.Hut, Ibnu Sina, S.Hut, yang memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Sahabat - sahabat penulis Ricky Yacob Napitupulu, Erwin Sentosa, S.Hut, Miftah Fahmi Purba, S.Hut, Ridwansyah Ginting yang memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tebing Tinggi yang telah memberi ijin sebagai lokasi penelitian dan atas semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis.
Penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat ke berbagai pihak. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, 23 Desember 2019
David Pasaribu
RIWAYAT HIDUP
David Pasaribu dilahirkan di Pasar Baru pada tanggal 9 Mei 1996, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara oleh pasangan Ayah (Alm) Juda Pasaribu dan Ibu Christina Rosmawati Sirait, S.ST.
Tahun 2008 penulis menyelesaikan sekolah dasar di SD Swasta R.A.
Kartini Sei Rampah, pada tahun 2011 penulis menyelesaikan studi tingkat pertama di SMP Negeri 1 Teluk Mengkudu, pada tahun 2014 penulis menyelesaikan studi tingkat atas di SMA Negeri 1 Tebing Tinggi. Pada tahun 2014 penulis diterima kuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Kehutanan melalui jalur SBMPTN dan memilih minat studi Konservasi Sumberdaya Hutan.
Penulis mengikuti kegiatan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Ekosistem Hutan Mangrove di Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di KPH Banyuwangi Selatan, Jawa Timur pada tanggal 1 Februari 2018 sampai 4 Maret 2018.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis juga aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Sylva USU, GORGA, Kemangteer Medan, Biodiversity Warriors Yayasan Kehati, MPMF Kehutanan USU, GMNI FP USU. Pada tahun 2018 penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Analisis Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara” di bawah bimbingan Dr.
Alfan Gunawan Ahmad S.Hut., M.Si.
‘
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Manfaat Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Hutan Kota ... 4
Ruang Terbuka Hijau ... 4
Fungsi Ruang Terbuka Hijau ... 5
Tipe Ruang Terbuka Hijau ... 6
Bentuk – Bentuk Ruang Terbuka Hijau ... 7
Kerusakan Pada Pohon... 8
Forest Health Monitoring ... 9
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 11
Alat dan Bahan ... 11
Prosedur Penelitian ... 11
Metode Pengambilan Data ... 11
Pengukuran Indikator Kerusakan ... 12
Pengukuran Indikator Tajuk ... 15
Penilaian dan Penentuan Status Kesehatan Pohon ... 18
Gambaran Lokasi Penelitian ... 18
HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Jenis Struktur Diameter dan Sebaran Pohon ... 19
Komposisi Jenis ... 19
Struktur Diameter ... 20
Sebaran Pohon ... 23
Indikator Kerusakan Pohon ... 24
Lokasi Kerusakan ... 24
Tipe Kerusakan ... 25
Kelas Keparahan ... 31
Nilai Indeks Kerusakan Pohon ... 32
Indikator Tajuk ... 34
Penilaian Status Kesehatan Pohon ... 36
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 38
Saran ... 38
DAFTAR PUSTAKA ... 39
LAMPIRAN ... 43
DAFTAR TABEL
No Teks Hal
1. Tally Sheet Penilaian Kerusakan Pohon ... 12
2. Bobot Indeks Kerusakan Pohon ... 14
3. Kode dan Lokasi Kerusakan ... 14
4. Kode dan Tipe Kerusakan ... 15
5. Kode dan Kelas Keparahan Kerusakan ... 15
6. Kriteria Kondisi Tajuk ... 18
7. Nilai Peringkat Visual Crown Rating (VCR) Individu Pohon ... 18
8. Komposisi Jenis Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 21
9. Kelas Diameter Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 22
10. Nilai Luas Bidang Dasar Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 24
11. Kelas Luas Bidang Dasar Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 24
12. Skoring Kerusakan Pohon ... 35
13. Nilai Indeks Kerusakan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 36
14. Nilai Visual Crown Rating di Taman Kota Tebing Tinggi ... 37
15. Skoring VCR di Taman Kota Tebing Tinggi... 38
16. Skoring Penilaian Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 39
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
1. Lokasi Kerusakan Pada Pohon ... 13
2. Pengukuran Rasio Tajuk Hidup ... 16
3. Kartu Skala Kerapatan Tajuk ... 16
4. Kartu SkalaTransparansi Tajuk ... 17
5. Penentuan Diameter Tajuk ... 17
6. Gambaran Lokasi Penelitian ... 20
7. Diagram Kelas Diameter Pohon ... 22
8. Kelas Luas Bidang Dasar Pohon ... 23
9. Peta Sebaran Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi... 25
10. Bagian Pohon Yang Mengalami Kerusakan... 27
11. Tipe Kerusakan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 28
12. Penyakit Kanker Pada Pohon ... 28
13. Busuk Hati Pada Pohon ... 29
14. Luka Terbuka Pada Pohon ... 29
15. Resinosis Pada Pohon ... 30
16. Brum Pada Batang atau Akar Pohon ... 31
17. Hilangnya Pucuk Dominan... 31
18. Penyakit Cabang Patah atau Mati ... 32
19. Percabangan / Brum Yang Berlebihan ... 32
20. Kerusakan Daun ... 33
21. Daun Yang Berubah Warna ... 33
22. Tingkat Keparahan Kerusakan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 34
23. Grafik Nilai Indeks Kerusakan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 35
24. Grafik Nilai Visual Crown Rating di Taman Kota Tebing Tinggi ... 39
25. Status Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ... 40
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Inventarisasi Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ...46 2. Data Tinggi dan Diameter Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ...46 3. Status Kesehatan Pohon Berdasarkan Indiakator Produktivitas Pohon di
Taman Kota Tebing Tinggi ...48 4. Status Kesehatan Pohon Berdasarkan Indikator Kerusakan Pohon di
Taman Kota Tebing Tinggi ...50 5. Skoring Indikator Tajuk di Semua Parameter Tajuk ...51 6. Status Kesehatan Pohon Berdasarkan Indikator Tajuk di Taman Kota
Tebing Tinggi ...53 7. Penilaian Status Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi ...55
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu kota yang terletak di Sumatera Utara yang berjarak ±80 km dari kota Medan. Kota Tebing Tinggi secara geografis terletak pada 30°9̍3̎ – 30°4̍50̎ Lintang Utara (LU) dan 99°4̍1̎ – 99°0̍0̎
Bujur Timur (BT). Menurut data Badan Informasi dan Komunikasi Sumatera Utara, Tebing Tinggi memiliki 5 (lima) kecamatan. Secara keseluruhan luas wilayah Kota Tebing Tinggi adalah 38,438 km2. Tebing Tinggi memiliki taman kota yang terletak di pusat kota yang menjadi salah satu ruang terbuka hijau di kota Tebing Tinggi. Keberadaan taman memiliki kontribusi untuk mengurangi polusi di kota Tebing Tinggi serta menjadi salah satu tempat rekreasi bagi masyarakat. Taman kota juga memiliki fungsi dalam mengurangi polusi kota karena memiliki banyak vegetasi pohon yang ditanam di dalamnya serta menjadi habitat atau tempat hidup bagi satwa-satwa yang ada di Taman Kota Tebing Tinggi (Badan Informasi dan Komunikasi Sumatera Utara, 2019).
Pembangunan fisik di perkotaan yang diharapkan dapat mensejahterakan kehidupan manusia, dalam perkembangannya telah menimbulkan permasalahan tersendiri akibat perencanaan yang kurang memadai. Pertumbuhan penduduk serta pembangunan infrastruktur untuk mendukung kegiatan ekonomi diperkotaan menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan seperti hilangnya ruang terbuka hijau, rusaknya fungsi resapan air, polusi air dan udara (Balitbang KLHK, 2014).
Lingkungan kota berkembang secara ekonomis, namun menurun secara ekologis. Perkembangan kota di Indonesia dewasa ini cenderung ke arah perkembangan fisik yang lebih banyak ditentukan oleh banyaknya sarana dan prasarana yang ada. Akibatnya, ruang terbuka hijau terabaikan, bahkan menghilangkan wajah alam yang asri. Kawasan hijau sering kali disalahgunakan atau dialihfungsikan menjadi kawasan perdagangan, permukiman, perindustrian, serta untuk sarana dan prasarana kota lainnya. Kondisi tersebut sungguh memprihatinkan. Situasi yang sangat terasa perubahan akibat terjadinya pencemaran udara tersebut adalah terjadinya perubahan suhu, menurunnya
2
permukaan air tanah dan permukaan tanah. Kondisi menurunnya akan menyebabkan terganggunya ekosistem perkotaan (Sundari, 2010).
Ruang terbuka hijau (RTH) dalam lingkungan pembangunan secara global saat ini diperlukan demi menjaga keseimbangan kualitas lingkungan hidup suatu daerah khususnya di daerah perkotaan dengan berbagai permasalahan- permasalahan yang berkaitan dengan masalah ruang yang sedemikian kompleks(Imansari dan Khadiyanta, 2015). Kota adalah suatu pusat pemukiman penduduk yang besar dan luas. Dalam kota terdapat berbagai ragam kegiatan ekonomi dan budaya. Adakalanya kota didirikan sebagai tempat kedudukan resmi pusat pemerintahan setempat. Manusia dapat mencatat dan menganalisanya dari berbagai perspektif seperti moral, sejarah manusia, hubungan timbal balik anatara manusia dengan habitatnya, pusat kegiatan ekonomi, pusat kegiatan politik dan berbagai kenyataan dari kehidupan manusia (Zoer’aini, 2007).
Pohon sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki fungsi yang sangat penting. Pohon merupakan penetralisir sumber pencemar gas buangan kendaraan bermotor, tajuknya yang rindang memberikan keteduhan, sistem perakarannya dapat meningkatkan infiltrasi air permukaan dan mengurangi air limpasan sehingga meningkatkan jumlah air di dalam tanah. Di samping itu, arsitektur pohon yang beraneka macam juga memberikan nilai tambah keindahan.
Fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan dengan baik apabila ditunjang oleh faktor- faktor pendukung seperti faktor lingkungan dan tingkat adaptasi dari pohon itu sendiri terhadap lingkungannya (Stalin, 2011).
Keberadaan taman kota penting untuk mengurangi polusi, menetralisir udara, mengurangi kebisingan, menjadi tempat berteduh serta untuk fungsi estetika, namun masih terdapat banyak pohon-pohon yang rusak dan berpenyakit dan dapat membahayakan pengunjung serta masyarakat sekitar apabila pohon- pohon tersebut tumbang. Untuk kepentingan tersebut maka diperlukan data-data kerusakan pohon dan tingkat kerusakan pada pohon sebagai acuan untuk pemeliharaan pohon-pohon di taman kota sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
Tujuan Penelitian
Penelitian yang berjudul “Analisis Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara“ ini bertujuan untuk:
1. Mendapatkan data komposisi jenis dan struktur pohon yang tumbuh di Taman Kota Tebing Tinggi.
2. Mendapatkan data dan informasi tentang status kesehatan pohon yang tumbuh ditaman kota Tebing Tinggi.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan rujukan bagi pemerintah kota Tebing Tinggi dalam mengelola dan pengembangan Taman Kota Tebing Tinggi.
Serta menjadi bahan referensi bagi mahasiswa dan peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang kesehatan pohon.
TINJAUAN PUSTAKA
Hutan Kota
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, Hutan Kota adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang.
Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah untuk kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya.
Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan ekosistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota (Lussetyowati, 2011).
Hutan kota merupakan kawasan vegetasi berkayu yang luas serta jarak tanamnya terbuka bagi umum, mudah dijangkau oleh penduduk kotadan dapat memenuhi fungsi perlindungan dan regulatifnya, seperti kelestarian tanah,tata air, ameliorasi iklim, penangkal polusi udara, kebisingan dan lain-lain (Nurlaili, 2010).
Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau sebagai infrastruktur hijau perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan dan keindahan wilayah perkotaan tersebut, sedangkan secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami yang berupa habitat liar alami, kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH
non alami atau binaan yang seperti taman, lapangan olah raga dan kebun bunga merupakan salah satu komponen RTH (Direktorat Jenderal PU, 2006). Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 fungsi hutan kota adalah untuk memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika, meresapkan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota dan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Keberadaan ruang terbuka hijau atau vegetasi pohon mutlak dibutuhkan oleh warga kota yang menginginkan lingkungan kerja dan hunian yang nyaman.
Sudah saatnya manusia memperkaya pandangan mengenai fungsi vegetasi pohon.
Sebelumnya vegetasi dibutuhkan karena fungsi estetika atau sebagai komponen arsitektur. Namun sekarang lebih penting ditekankan pada fungsi ekologisnya.
Jika sebelumnya merupakan bersifat sekunder, kini sifat hutan kota menjadi kebutuhan primer. Artinya keberadaan vegetasi pohonan di perkotaan sudah menjadi kebutuhan mutlak. Kualitas lingkungan, termasuk iklim mikro sudah merupakan kebutuhan pokok masyarakat kota (Tauhid, 2008).
Fungsi Ruang Terbuka Hijau
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 5 Tahun 2008 ada dua fungsi Ruang Terbuka Hijau pada kawasan perkotaan yaitu fungsi utama (intrinsik) yaitu untuk memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota), pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen, penyerap air hujan, penyedia habitat satwa, penyerap polutan media udara, air dan tanah serta penahan angin dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitufungsi sosial dan budaya (menggambarkan ekspresi budaya lokal, merupakan media komunikasi warga kota, tempat rekreasi dan wadah dan objek pendidikan, penelitian dan pelatihan dalam mempelajari alam), fungsi ekonomi (sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah, daun, sayur mayur dan bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan dan lain-lain), fungsi estetika (meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro:
halaman rumah, lingkungan permukimam, maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan, menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota, pembentuk
6
faktor keindahan arsitektural, menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun).
Dalam suatu wilayah perkotaan, empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air, keseimbangan ekologi dan konservasi hayati.
Tipe Ruang Terbuka Hijau
Pembangunan hutan kota dan pengembangannya ditentukan berdasarkan pada objek yang dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota tersebut.
Berdasarkan letaknya, hutan kota dapat dibagi menjadi lima yaitu : a. Tipe Pemukiman
Hutan kota di daerah pemukiman dapat berupa taman dengan komposisi tanaman pepohonan yang tinggi dikombinasikan dengan semak dan rerumputan.
Taman adalah sebidang tanah terbuka dengan luasan tertentu di dalamnya ditanam pepohonan, perdu, semak dan rerumputan yang dapat dikombinasikan dengan kreasi dari bahan lainnya. Umumnya dipergunakan untuk olahraga, bersantai, bermain dan sebagainya.
b. Tipe Kawasan Industri
Suatu wilayah perkotaan pada umumnya mempunyai satu atau beberapa kawasan industri. Limbah dari industri dapat berupa partikel, aerosol, gas dan cairan dapat mengganggu kesehatan manusia. Di samping itu juga dapat menimbulkan masalah kebisingan dan bau yang dapat mengganggu kenyamanan.
Hutan kota dapat dibangun untuk menghindari dan memperkecil dampak akibat adanya kawasan industri (Dahlan, 2006).
c. Tipe Rekreasi dan Keindahan
Rekreasi pada kawasan hutan kota bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi badan yang sudah penat dan jenuh dengan kegiatan rutin, supaya siap menghadapi tugas yang baru. Untuk mendapatkan kesegaran diperlukan suatu masa istirahat yang terbebas dari proses berpikir yang rutin sambil menikmati sajian alam yang indah, segar dan penuh ketenangan.
d. Tipe Pelestarian Plasma Nutfah
Hutan konservasi mengandung tujuan untuk mencegah kerusakan perlindungan dan pelestarian terhadap sumberdaya alam. Bentuk hutan kota yang memenuhi kriteria ini antara lain: kebun raya, hutan raya dan kebun binatang. Ada dua sasaran pembangunan hutan kota untuk pelestarian plasma nutfah yaitu sebagai tempat koleksi plasma nutfah, khususnya vegetasi secara ex-situ dan sebagai habitat, khususnya untuk satwa yang akan dilindungi atau dikembangkan.
e. Tipe Perlindungan
Selain dari tipe yang telah disebutkan di atas, areal kota dengan tipe ke lima yaitu daerah dengan kemiringan yang cukup tinggi yang ditandai dengan tebing-tebing yang curam ataupun daerah tepian sungai perlu dijaga dengan membangun hutan kota agar terhindar dari bahaya erosi dan longsoran.
f. Tipe Pengamanan
Hutan kota tipe pengamanan adalah jalur hijau di sepanjang tepi jalan bebas hambatan. Dengan menanam perdu yang liat dan dilengkapi dengan jalur tanaman pisang dan tanaman yang merambat dari legum secara berlapis-lapis, akan dapat menahan kendaraan yang keluar dari jalur jalan. Sehingga bahaya kecelakaan karena pecah ban, patah setir ataupun karena pengendara mengantuk dapat dikurangi (Miardini, 2006).
Bentuk-Bentuk Ruang Terbuka Hijau
Menurut Dahlan (1992) bentuk-bentuk ruang terbuka hijau terdiri dari:
Beberapa bentuk ruang terbuka hijau antara lain berupa : 1. Jalur Hijau.
Jalur Hijau berupa peneduh jalan raya, jalur hijau di bawah kawat listrik tegangan tinggi, di kiri-kanan jalan kereta api, di tepi sungai dan di tepi jalan tol.
2. Taman Kota.
Taman Kota adalah tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, baik yang alami maupun buatan untuk menciptakan keindahan kota.
3. Kebun dan Halaman.
8
Jenis pohon yang ditanam di kebun dan halaman terdiri atas jenis pohon yang dapat menghasilkan buah.
4. Kebun Raya, Hutan Raya dan Kebun Binatang.
Kebun raya, hutan raya dan kebun binatang dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk Hutan Kota.
5. Hutan Lindung, daerah di dalam maupun di tepi kota dengan lereng yang curam harus dijadikan kawasan Hutan Kota untuk mencegah longsor.
Demikian pula dengan daerah pantai yang rawan akan abrasi laut.
Kerusakan Pada Pohon
Banyak faktor yang diketahui dapat menyebabkan kerusakan bagi hutan dan tanaman penyusunnya. Kerusakan itu baik dari lingkungan hutan yang ada yang sangat berhubungan dengan faktor penyusunnya maupun berasal dari luar hutan itu sendiri. Penyebab-penyebab kerusakan hutan dapat dikenali dan dievaluasi kemudian ditekan sedini mungkin sebelum kerusakan yang besar terjadi dan kondisi menjadi semakin parah. Menurut Winarni et al (2012) faktor- faktor penyebab kerusakan itu sendiri terdiri atas organisme hidup atau faktor- faktor lingkungan fisik seperti :
1. Patogen
2. Serangan hama, serangga dan penyakit 3. Faktor lingkungan abiotik.
4. Tumbuhan Pengganggu 5. Kebakaran
6. Satwa liar, penggembalaan ternak dan aktifitas manusia yang dapat merugikan tanaman.
Menurut Djafarudin (1996), secara alamiah yang termasuk pengganggu tanaman dapat dikelompokkan menjadi:
1. Pengganggu yang termasuk jasad hidup (organisme hidup-nonbiotis / abiotis) Hama ialah jasad pengganggu yang merupakan sejenis makhluk hidup yang termasuk kepada kelompok hewan atau binatang. Serangga dapat merusak tanaman dengan cara: a) memakan bagian tanaman dengan cara menggerek batang, ranting, buah atau biji; b) menghisap cairan sel-sel tanaman terutama daun; c) menyebabkan bengkak/puru pada bagian tertentu; d) menyebabkan
kanker pada batang/bagian berkayu; e) meletakkan telur pada bagian tanaman, mengambil bagian tanaman untuk dijadikan sarang dan f) menularkan jasad pengganggu.
2. Pengganggu yang bukan jasad hidup
Bencana alam lingkungan seperti banjir, erosi, kekeringan, longsor yang disebabkan oleh faktor dan unsur iklim serta cuaca. Kekeliruan (yang bukan secara alamiah) yang secara tak langsung sebagai akibat tindakan kurang hati-hati atau kurang lengkapnya prasyarat tumbuh dan kesalahan budidaya.
Forest Health Monitoring (FHM)
Forest Health Monitoring (FHM) adalah metode pemantauan kondisi kesehatan hutan yang diintroduksikan oleh USDA Forest Service untuk memonitor Nation Forest Health yang dirancang untuk temperate region. FHM diperkenalkan pertama kali pada tahun 1993 dan telah digunakan untuk memonitor kesehatan hutan di seluruh negara bagian Amerika dan negara-negara Eropa Timur pada tahun 1994 dan terus dilakukan hingga saat ini (Sitinjak, 2016).
Dalam pelaksanaannya FHM terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
1. Detection monitoring (penentuan jenis gangguan terhadap kondisi ekosistem udara dan tanah untuk digunakan sebagai dasar evaluasi status dan perubahan dalam eksosistem hutan,
2. Evaluating Monitoring (menentukan luas, keparahan dan penyebab perubahan yang tidak diinginkan dalam kesehatan hutan yang telah diidentifikasi pada langkah sebelumnya),
3. Intensive Site Monitoring (ditentukan status faktor-faktor biotik),
4. Research on Monitoring Techniques (penelitian tentang indikator kesehatan dan metode deteksi) dan
5. Analysis and Reporting (data yang diperoleh perlu disajikan dalam format yang mudah dipahami oleh semua pemangku kepentingan serta dilaporkan secara baik).
Tujuan keseluruhan dari FHM adalah untuk memantau, menilai dan melaporkan tentang status saat ini, perubahan dan kecenderungan jangka panjang dalam kesehatan ekosistem hutan, memantau jenis-jenis utama yang mengindikasikan kondisi hutan dan mengidentifikasi hubungan antara gangguan-
10
gangguan alami dan gangguan akibat aktivitas manusia dikaitkan dengan kondisi ekologis hutan (Duryat, 2014).
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitan ini dilakukan di Taman Kota Tebing Tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2018.
Alat dan Bahan
Alat yang diperlukan pada penelitian ini adalah kamera, tallysheet, phiband, hagameter, GPS, meteran, alat tulis dan buku pengenalan identifikasi kerusakan pohon.
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah pohon–pohon yang terdapat di Taman Kota Tebing Tinggi.
Prosedur Penelitian Metode Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode sensus. Metode sensus digunakan untuk menilai kesehatan pohon yang berada di Taman Kota Tebing Tinggi. Indentifikasi status kesehatan dilakukan dengan metode pemantau kesehatan hutan atau Forest Health Monitoring (FHM) yaitu metode penilaian kesehatan pohon dengan mengelompokkan jenis dan tingkat kerusakan per individu tanaman. Dalam menilai kesehatan pohon digunakan dua indikator yaitu kerusakan pohon dan kondisi tajuk pohon. Metode pengambilan data dilakukan secara sensus dengan kriteria diameter pohon minimal 20 cm. Metode analisis data yaitu deskriptif dan skoring berdasarkan pembobotan.
Pengukuran LBDS
Pertumbuhan pohon dapat diketahui dengan mengukur diameter pohon yakni penambahan diameter pohon dari waktu ke waktu. Diameter pohon diukur pada ketinggian 1,3m diatas permukaan tanah (dbh). Tegakan yang memiliki diameter 20 cm atau lebih dikategorikan sebagai pohon. Dari data diameter dapat digunakan untuk menentukan nilai LBDS (Luas Bidang Dasar). LBDS dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan atau produktivitas pohon dari waktu ke waktu. LBDS dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
12
LBDS = 1
4 x π x D2 Keterangan:
LBDS : Luas Bidang Dasar per Pohon Π : Konstanta (3,14)
D : Diameter Setinggi Dada (dbh) Pengukuran Indikator Kerusakan
Kerusakan yang dicatat pada masing-masing pohon yaitu maksimal tiga kerusakan. Ketika ada kerusakan yang berganda terjadi di tempat yang sama maka hanya kerusakan paling parah yang ditulis. Data kerusakan pohon yang digunakan untuk mengetahui indikator kerusakan pohon adalah lokasi, tipe kerusakan dan nilai ambang batas keparahan (Tabel 1).
Tabel 1. Tally Sheet Penilaian Kerusakan Pohon menurut metode FHM
No Nama Pohon
Diameter ( cm )
Tinggi ( m )
Kerusakan 1 Kerusakan 2 Kerusakan 3
Xi Yi Zi Xi Yi Zi Xi Yi Zi
Keterangan :
Xi : Lokasi Kerusakan.
Yi : Tipe Kerusakan.
Zi : Kelas Keparahan Kerusakan.
Pengamatan pohon dilakukan pada seluruh sisi dimulai dari pangkal batang. Kerusakan yang dicatat pada masing-masing pohon yaitu maksimal tiga kerusakan. Dicatat data tipe kerusakan, lokasi kerusakan dan nilai ambang batas keparahan untuk mengetahui indikator kerusakan pohon. Pengkodean dan penilaian kerusakan pohon. Data kerusakan pohon kemudian dimasukkan ke dalam tally sheet.
Untuk mempermudah pengamatan, lokasi kerusakan yang terdapat pada pohon dapat dikodekan sehingga dapat mempermudah proses pengamatan kesehatan pohon. Kode kerusakan bagian-bagian pohon menggunakan kodefikasi menurut standar Environmental Monitoring and Assessment Program (EMAP) seperti pada Gambar 1.
Gambar 1. Lokasi Kerusakan Pada Pohon (Mangold R, 1997) Keterangan :
01 : Akar 06 : Batang Tajuk
02 : Akar dengan Batang Bawah 07 : Cabang
03 : Batang Bawah 08 : Tunas dan Pucuk
04 : Batang Atas dan Bawah 09 : Dedaunan 05 : Batang Atas
Penilaian kerusakan digunakan kriteria – kriteria berdasarkan metode FHM. Data yang diperoleh dari penilaian kerusakan dihitung nilai indeks kerusakannya dengan kode dan bobot nilai indeks kerusakan (NIK). Hasil perhitungan akhir dapat diketahui NIK (Kelas sehat, kelas ringan, kelas sedang dan kelas berat) (Noviady dan Rivai, 2015).
IK = ∑(xi. yi. zi)
𝑛
𝑖=1
IK =
x
lokasi xy
tipe kerusakan xz
keparahanMenilai Indeks Kerusakan tingkat pohon ( Tree Level Index-TLI ) pada masing- masing klaster dengan menggunakan rumus :
TLI/NIK = (IK1) + (IK2) + (IK3) Keterangan:
NIK : Nilai Indeks Kerusakan pada level pohon Xi : Nilai bobot pada tipe kerusakan
Yi : Nilai bobot pada bagian/lokasi pohon yang mengalami kerusakan Zi : Nilai bobot pada keparahan kerusakan
Selanjutnya dapat diketahui kelas kerusakan pohon berdasarkan bobot nilai indeks sebagai berikut :
14
1. Kelas sangat sehat 2. Kelas sehat
3. Kelas kurang sehat 4. Kelas sakit
5. Kelas sangat sakit
Kode tipe kerusakan, bagian/lokasi kerusakan dan bobot pada keparahan kerusakan dan bobot indeks kerusakan dapat dilihat pada Tabel 2, Tabel 3,Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 2. Bobot Indeks Kerusakan Pohon
Lokasi Kerusakan Tipe Kerusakan Kelas Keparahan
Kode Bobot Kode Bobot Kode Bobot
0 0 1 1,9 0 1,5
1 2 2 1,7 1 1,1
2 2 3 1,5 2 1,2
3 1,8 4 1,5 3 1,3
4 1,8 11 1,6 4 1,4
5 1,6 12 1,6 5 1,5
6 1,2 13 1,5 6 1,6
7 1 21 1 7 1,7
8 1 22 1 8 1,8
9 1 23 1 9 1,9
24 1
25 1
Sumber : Mangold R. (1997)
Tabel 3. Kode dan Lokasi Kerusakan
Kode Keterangan Bobot
0 Sehat (Tidak ada kerusakan) 0
1 Akar (terbuka) dan tunggak (dengan tinggi 30 cm di atas permukaan tanah)
2
2 Akar dan batang bagian bawah 2
3 Bagian bawah batang (setengah bagian bawah dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)
1,8
4 Bagian bawah dan bagian atas batang 1,8
5 Bagian atas batang (setengah bagian atas dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)
1,6 6 Batang tajuk (batang utama di dalam daerah tajuk
hidup di atas dasar tajuk hidup)
1,2 7 Cabang (lebih besar 2.54 cm pada titik percabangan
terhadap batang utama atau batang tajuk didalam daerah tajuk hidup)
1
8 Kuncup dan tunas (pertumbuhan tahun terakhir) 1
9 Daun 1
Sumber: Mangold R. (1997)
Tabel 4. Kode dan Tipe Kerusakan Kode Tipe
Kerusakan Tipe Kerusakan Bobot
1 Kanker, gol (puru) 1,9
2 Busuk Hati, Tubuh Buah (Badan Buah), dan Indikator Lain Lapuk Lanjut
1,7
3 Luka Terbuka 1,5
4 Eksudasi (Resinosis dan Gumosis) 1,5
11 Batang Patah Kurang dari 0.91 m 1,6
12 Brum pada Akar atau Batang 1,6
13 21
Akar Patah atau Mati kurang dari 0.91 m Hilangnya Ujung Dominan (Mati Ujung)
1,5 1
22 Cabang Patah atau Mati 1
23 Brum pada Cabang atau Daerah dalam Tajuk
1
24 Kerusakan Daun 1
25 Daun Berubah Warna (Tidak Hijau) 1
Sumber: Mangold R. (1997)
Tabel 5. Kode dan Kelas Keparahan Kerusakan
Kode Kelas Keparahan (%) Bobot
0 01-09 1,5
1 10-19 1,1
2 20-29 1,2
3 30-39 1,3
4 40-49 1,4
5 50-59 1,5
6 60-69 1,6
7 70-79 1,7
8 80-89 1,8
9 90-99 1,9
Sumber: Mangold R. (1997)
Pencatatan kerusakan pohon dilakukan sebanyak jumlah kerusakan pohon yang terjadi dan dimulai dari lokasi dengan kode terendah. Kerusakan yang tidak memenuhi nilai ambang akan diberi nilai “0” pada tingkat keparahannya. Apabila terdapat kerusakan ganda pada lokasi yang sama, maka semua kerusakan tetap dicatat supaya tingkat keparahannya dapat diperkirakan secara tepat.
Pengukuran Indikator Tajuk
Parameter-parameter kondisi tajuk pohon yang diukur berdasarkan metode FHM yaitu sebagai berikut :
16
- Rasio tajuk hidup (Live Crown Ratio-LCR), yaitu tinggi tajuk yang tertutup terhadap tinggi total pohon. Mengukur tinggi pohon pada batas pucuk ranting yang berdaun sebagai ‘TT’ menggunakan hagameter. Mengukur TTBC sebagai
‘Ttj’ menggunakan hagameter dan menghitung rasio tajuk hidup dengan rumus LCR =𝑇𝑡𝑗
𝑇𝑇 × 100%.
Gambar 2.Pengukuran Rasio Tajuk Hidup ( Mangold R, 1997)
- Kerapatan tajuk (Crown density-Cden), yaitu persentasi cahaya matahari yang tertahan oleh tajuk untuk tidak mencapai permukaan tanah. Cden dihitung dengan menggunakan kartu skala kerapatan tajuk.
Gambar 3. Kartu Skala Kerapatan Tajuk (Mangold R, 1997)
- Tranparansi tajuk (Foliage Transparancy-FT), yaitu persentasi cahaya matahari yang dapat melewati tajuk dan mencapai permukaan tanah. FT dihitung dengan menggunakan kartu skala transparansi tajuk.
Gambar 4. Kartu Skala Transparansi Tajuk (Mangold R, 1997)
- Diameter tajuk (Crown Diameter Width dan Crown Diameterat 90o), yaitu nilai rata-rata dari pengukuran panjang dan lebar tajuk pohon yang bersangkutan. CDW dihitung berdasarkan pengukuran panjang dan lebar tajuk terluar menggunakan meteran. Estimasi posisi tajuk terluar dengan dengan cara memproyeksikan tajuk terluar secara vertikal pada titik diameter terlebar.
Gambar 5. Penentuan Diameter Tajuk (Mangold R, 1997)
- Crown Dieback (CDB), yaitu cabang dan ranting yang baru saja mati dimana bagian yang mati dimulai dari bagian ujung kemudian merambat ke bagian pangkal.
18
Pengukuran tinggi tajuk harus dilakukan dengan hati – hati terutama pada tegakan dengan kerapatan tinggi karena sulit membedakan antara tajuk pohon yang diamati dengan pohon yang tidak. Penilaian parameter kondisi tajuk didasarkan pada tiga kategori kondisi tajuk, yaitu nilai 3 untuk kondisi tajuk yang bagus, 2 untuk kondisi parameter tajuk sedang dan 1 untuk kondisi parameter tajuk yang jelek.
Tabel 6. Kriteria Kondisi Tajuk (Anderson et al., 1992, dalam Putra, 2004)
Parameter Klasifikasi
Baik (Nilai=3) Sedang (Nilai=2) Jelek (Nilai=1) Nisbah Tajuk
Hidup ≥ 40% 20 – 35% 5 – 15%
Kerapatan Tajuk ≥ 55% 25 – 50% 25 – 50%
Tranparansi Tajuk 0 - 45% 50 – 70% ≥ 75 %
Dieback 0 - 5% 10 – 25% ≥ 30 %
Diameter Tajuk ≥ 10,1 m 2,5 – 10 m ≥ 2,4 m
Semua parameter pengukuran kondisi tajuk pohon digabungkan kedalam peringkat penilaian penampakan tajuk (Visual Crown Rating) untuk masing- masing pohon. VCR memiliki nilai 1,2,3 dan 4 tergantung kepada besaran nilai pengamatan setiap parameter kondisi tajuk.
Tabel 7.Nilai peringkat Visual Crown Rating (VCR) individu pohon (Anderson et al., 1992, dalam Putra, 2004)
Nilai VCR Kriteria
4 Seluruh parameter bernilai 3, atau hanya 1 parameter memiliki nilai 2, tidak ada parameter bernilai 1.
3 Lebih banyak kombinasi antara nilai 3 dan 2 pada parameter tajuk, atau semua bernilai 2, tetapi tidak ada parameter bernilai 1.
2 Setidaknya 1 parameter bernilai 1, tetapi tidak semua parameter.
1 Semua parameter kondisi tajuk bernilai 1.
Penilaian dan Penentuan Status Kesehatan Pohon
Penentuan Status Kesehatan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi didapatkan berdasarkan nilai skor yang diperoleh dari penentuan nilai selang (interval) terhadap nilai setiap parameter pengamatan yakni produktivitas,
kerusakan pohon dan kondisi tajuk yang mewakili indikator kesehatan pohon.
Skoring untuk setiap indikator diberikan interval 0-10. Nilai akhir kesehatan pohon didapat dari jumlah skoring dari seluruh indikator dengan interval 0-20.
Semakin tinggi nilai skor menunjukkan tingkat kesehatan yang semakin tinggi.
Adapun pembagian nilai skoring adalah sangat sakit (1-4), sakit (5-8), kurang sehat (9-12), sehat (13-16) dan sangat sehat (17-20).
20
Gambaran Lokasi Penelitian
Peta lokasi penelitian taman kota dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian Taman Kota Tebing Tinggi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komposisi Jenis, Struktur Diameter dan Sebaran Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi
Komposisi Jenis
Inventarisasi pohon di Taman Kota Tebing Tinggi berdasarkan hasil pengamatan penelitian yang dilakukan terdapat 79 pohon yang terdiri dari 15 jenis pohon yang tersebar di berbagai titik, dengan jumlah individu yang tidak merata yaitu : Angsana (Pterocarpus indicus), Tanjung (Mimusops elengi), Mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla), Lamtoro (Leucaena leucocephala), Pulai (Alstonia scholaris), Kerai Payung (Filicium decipiens), Jati (Tectona grandis), Kapuk (Ceiba pentandra), Beringin (Ficus benjamina), Karet Kebo (Ficus elastica), Ketapang (Terminalia catappa ), Melinjo (Gnetum gnemon), Mangga (Mangifera indica), Glodokan (Polyalthia longifolia) dan Trembesi (Samanea saman) dimana pohon yang paling banyak ditemukan adalah jenis Mahoni dengan jumlah inidividu sebanyak 20 (25,31%) dan pohon yang paling sedikit ditemukan terdapat 7 jenis pohon yaitu, Kerai Payung, Kapuk, Karet Kebo, Ketapang, Melinjo, Mangga dan Glodokan dengan jumlah masing – masing individu berjumlah 1 . Adapun komposisi jenis pohon yang ditemukan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Komposisi Jenis Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi
No Jenis Pohon Nama Latin Jumlah Pohon
1 Angsana Pterocarpus indicus 9
2 Tanjung Mimusops elengi 12
3 Mahoni Swietenia macrophylla 20
4 Lamtoro Leucaena leucocephala 13
5 Pulai Alstonia scholaris 12
6 Kerai Payung Filicium decipiens 1
7 Jati Tectona grandis 2
8 Kapuk Ceiba pentandra 1
9 Beringin Ficus benjamina 2
10 Karet Kebo Ficus elastica 1
11 Ketapang Terminalia catappa 1
12 Melinjo Gnetum gnemon 1
13 Mangga Mangifera indica 1
14 Glodokan Polyalthia longifolia 1
15 Trembesi Samanea saman 2
Jumlah 79
22
23 21
12
7 5 6
2 1 1 1
0 5 10 15 20 25
A
KELAS DIAMETER (cm)
JUMLAH POHON
B C D E F G H I J
Struktur Diameter
Struktur Diameter dan Luas Bidang Dasar pohon dapat dijadikan parameter penentu pertumbuhan suatu pohon dan sebagai dasar dalam tingkat persaingan individu pohon dalam suatu area. Dari hasil penilitian, struktur diameter dan luas bidang dasar pohon yang didapat sangat bervariasi. Diameter terbesar pada Taman Kota Tebing Tinggi didapat dengan nilai 96 cm yaitu pada pohon jenis Mahoni (Swietenia macrophylla) dan diameter yang terkecil yang didapatkan pada 4 jenis pohon yaitu Pulai (Alstonia scholarism), Ketapang (Terminalia catappa), Tanjung (Mimusops elengi), dan Melinjo (Gnetum gnemon) dengan nilai diameter 21 cm pada setiap individu pohon tersebut.
Tabel 9. Kelas Diameter Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi
Simbol Kelas Diameter (cm) Jumlah Individu
A 21,0 – 28,5 23
B 28,6 – 36,0 21
C 36,1 – 43,5 12
D 43,6 – 51,0 7
E 51,1 – 58,5 5
F 58,6 – 66,0 6
G 66,1 – 73,5 2
H 73,6 – 81,0 1
I 81,1 – 88,5 1
J 88,6 – 96,0 1
Gambar 7. Diagram Kelas Diameter Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi
Jika dilihat dari individu pohonnya, produktivitas dapat diartikan sebagai perubahan luas bidang dasar (LBDS) individu pohon dalam dua waktu pengukuran yang berurutan yang juga menunjukkan pertumbuhan pohon (growth) (Cline, 1995). Pada Gambar 8. dapat dilihat luas bidang dasar pohon berdasarkan kelasnya. Produktivitas pohon tertinggi terdapat pada kelas 6545,727-7234,56 sebanyak 1 pohon sedangkan produktivitas pohon terendah terdapat pada kelas 346,185-1035,023 sebanyak 44 pohon.Adapun nilai produktivitas tertinggi terdapat pada pohon Mahoni (Swietenia macrophylla) dengan nilai sebesar 7234,56 cm² dan nilai produktivitas terendah terdapat pada pohon Melinjo (Gnetum gnemon) dengan nilai sebesar 346,185 cm²
Gambar 8. Kelas Luas Bidang Dasar pohon di Taman Hutan Kota Tebing Tinggi Berdasarkan Tabel 10 diatas diketahui nilai produktivitas pohon yang tertinggi dari ke 15 jenis pohon yang ada di Taman Hutan Kota Tebing Tinggi adalah jenis pohon Mahoni (Swietenia macrophylla) dengan nilai produktivitas sebesar 7234,56 cm2. Dari data pengukuran diameter yang didapatkan dilapangan dapat ditentukan nilai Luas Bidang Dasar ( LBDS ) suatu pohon yang digunakan untuk menentukan besar atau kecilnya produktivitas suatu tegakan. Setiap tegakan memiliki produkvitas yang berbeda–beda yang secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal (fisiologis) dan faktor eksternal (lingkungan).
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
44
17
3 8
3 2 0 1 0 1
JUMLAH POHON
KELAS LBDS ( cm2 )
A B C D E F G H I J
24
Tabel 10. Nilai Luas Bidang Dasar Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi No Jenis Pohon Nama Latin Nilai
Terbesar
Rata - rata
Nilai Terkecil 1 Angsana Pterocarpus indicus 4298,6 1279,8 379,9
2 Tanjung Mimusops elengi 2205,0 845,2 346,1
3 Mahoni Swietenia
macrophylla 7234,5 2217,8 706,5
4 Lamtoro Leucaena
leucocephala 3419,4 1686 530,6
5 Pulai Alstonia scholaris 2550,4 813,7 346,1 6 Kerai
Payung Filicium decipiens 660,1 660,1 660,1
7 Jati Tectona grandis 452,1 433,7 415,2
8 Kapuk Ceiba pentandra 706,5 706,5 706,5
9 Beringin Ficus benjamina 1808,6 1413 1017,3 10 Karet Kebo Ficus elastica 2550,4 2550,4 2550,4 11 Ketapang Terminalia catappa 346,1 346,1 346,1
12 Melinjo Gnetum gnemon 346,1 346,1 346,1
13 Mangga Mangifera indica 660,1 660,1 660,1
14 Glodokan Polyalthia longifolia 572,2 572,2 572,2
15 Trembesi Samanea saman 961,6 746,2 530,6
Tabel 11. Kelas Luas Bidang Dasar Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi Kelas LBDS ( cm2 ) Jumlah
6545,727-7234,56 1
5856,890-6545,727 0
5168,052-5856,889 1
4479,214-5168,051 0
3790,376-4479,213 2
3101,538-3790,375 3
2412,700-3101,537 8
1723,862-2412,699 3
1035,024-1723,861 17
346,185-1035,023 44
Sumber :Diolah dari Data Riset Lapangan
Dalam penentuan kelas LBDS dibutuhkan data pengukuran diameter dilapangan, pengkelasan kesehatan pohon berdasarkan LBDS tergantung kepada pengkategorian kesehatan pohon. Pengkategorian beberapa kelas kesehatan pohon disesuaikan dengan nilai yang diperoleh dilapangan. Kategori kesehatan pohon tersebut diperoleh dari nilai ambang batas. Nilai ambang batas diperoleh berdasarkan nilai tertinggi dan terendah dari nilai akhir dari semua pengukuran LBDS (Safe’i, 2015). Adapun interval nilai ambang batas setiap kategori diperoleh menggunakan rumus :
Interval Nilai =Nilai Tertinggi − Nilai Terendah Jumlah Kelas
=7234,56 − 346,185 10
= 6888,375 10
= 688,8375 𝑐𝑚²
Setelah didapatkan interval nilai lalu bisa ditentukan setiap kelas LBDS nya dengan menggunakan selisih nilai interval yang dimulai dari nilai terendah hingga ke nilai tertinggi untuk masing-masing kelas.
Sebaran Pohon
Berdasarkan hasil penelitian di Taman Kota Tebing Tinggi didapatkan sebaran pohon di Taman Kota Tebing Tinggi membentuk pola yang mengelompok. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang , bahwa Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang, jalur atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tumbuhan, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Pola sebaran tersebut dapat dilihat dari peta sebaran di bawah ini.
Gambar 9. Peta sebaran pohon Taman Kota Tebing Tinggi
26
Indikator Kerusakan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi
Penilaian kerusakan pohon dilakukan dengan mengamati setiap pohon yang ada di lingkungan Taman Kota Tebing Tinggi. Kerusakan pohon terjadi bila organ–organ dalam tubuh pohon tidak dapat berfungsi dengan baik dan tercermin pada penampakan fisiknya. Kondisi kerusakan fisik yang dapat dilihat secara langsung, misalnya pohon layu, daun menguning, batang patah dan berbagai macam luka-luka pada tubuh pohon. Dalam penilaian kerusakan pohon ini dilakukan dengan menggunakan tiga variabel pengamatan yaitu: lokasi kerusakan, tipe kerusakan dan tingkat keparahan kerusakan dan disetiap parameter dilakukan penilaian (scoring) terhadap hasil pengamatan dan kemudian dirangkum dalam satu indeks kerusakan untuk menentukan kondisi kerusakan pohonnya.
Kerusakan yang terjadi pada pohon dapat disebabkan oleh faktor biotik dan faktor abiotik seperti patogen, polusi udara, aktivitas manusia, serangga dan aktivitas alami lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan pohon. Diagnosa kesehatan pohon meruapakan suatu proses pengamatan berdasarkan gejala dan tanda secara alami yang disebabkan oleh penyebab apapun dalam hubungannya dengan perkembangan kesehatan hutan (Ebbels, 2003).
Lokasi Kerusakan
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan pada pohon umumnya ditemukan pada batang pohon yaitu pada bagian batang bawah dan batang atas pohon. Dari gambar 10 menunjukkan lokasi kerusakan pohon di Taman Hutan Kota Tebing Tinggi, lokasi kerusakan pohon yang ditemukan masing-masing adalah bagian bawah batang yaitu sebesar 33,72% (58 kerusakan) kerusakan yang dijumpai pada lokasi ini adalah kanker dan busuk hati, bagian batang atas yaitu sebesar 27,33% (47 kerusakan) dengan kerusakan yang dijumpai pada lokasi ini pada umumnya adalah luka terbuka, bagian akar dengan batang bawah sebesar 11,6% (20 kerusakan), bagian cabang 11,05% (19 kerusakan) pada lokasi ini dijumpai kerusakan cabang yang patah dan mati yang terjadi oleh beberapa faktor seperti angin pada saat hujan turun dan rusaknya cabang karena terinfeksi oleh jamur yang mengakibatkan cabang cenderung lemah dan mudah patah, bagian batang tajuk sebesar 6,98% (12 kerusakan) dan bagian dedaunan sebesar 3,49% (6 kerusakan) dari total 173 kerusakan.
Gambar 10. Bagian Pohon Yang Mengalami Kerusakan yang ditemukan di Taman Kota Tebing Tinggi
Batang mempunyai peran yang besar dalam proses kelangsungan hidup pohon yaitu menempati urutan ketiga setelah akar dan daun sebab infeksi oleh fungi dapat membahayakan pohon. Kerusakan yang terjadi di lokasi batang disebabkan karena batang dijadikan sebagai tempat pemasangan spanduk, tempat duduk menggunakan paku ataupun kawat besi kemudian kerusakan diperparah dengan masuknya agen penyebab kerusakan seperti jamur yang melakukan penetrasi hingga dalam kayu, yang dapat menyebabkan penyakit kanker pada batang (Sumardi et al., 1998).
Tipe Kerusakan Pohon
Kerusakan pohon akan berpengaruh terhadap fungsi fisiologis pohon, menurunkan laju pertumbuhan pohon dan dapat menyebabkan kematian pada pohon. Kerusakan yang diamati timbul akibat terganggunya proses fisiologis pohon baik akibat penyakit, serangga dan penyebab abiotik lainnya. Beberapa gejala yang dapat diamati akibat terganggunya pertumbuhan tanaman yaitu terjadinya perubahan pada tanaman dalam bentuk, ukuran, warna, tekstur dan lain–lain (Putra, 2004).
Kerusakan pohon yang terdapat di Taman Kota Tebing Tinggi memiliki tipe yang beraneka ragam. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa tipe kerusakan pohon yang dominan adalah tipe kerusakan berupa luka terbuka dengan jumlah 47 pohon.
0.0%
11.0%
33.5%
0.0%
27.2%
6.9%
11.6%
6.4%
3.5%
Bagian Pohon Yang Mengalami Kerusakan Akar
Akar dengan Batang Bawah
Batang Bawah
Batang Atas dan Bawah Batang Atas
Batang Tajuk Cabang
Tunas dan Pucuk Dedaunan
28
Gambar 11. Tipe Kerusakan Pohon di Taman Kota Tebing Tinggi
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Taman Kota Tebing Tinggi terdapat 10 tipe kerusakan pada pohon diantaranya :
1. Tipe Kerusakan Kanker
Gambar 12. Penyakit Kanker pada Pohon Tanjung
Tipe kerusakan ini ditemukan sebesar 20% pada Taman Kota Tebing Tinggi. Kerusakan ini terjadi karena agen penyebab kerusakan melakukan penetrasi hingga ke dalam kayu yang menyebabkan matinya kulit kambium kemudian diikuti oleh matinya kayu dibawah kulit. Kanker biasanya disebabkan oleh patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman dan patogen yang biasanya mengakibatkan kerusakan disebabkan oleh jamur(Safe’i, 2005).
19.7%
19.1%
27.2%
0.6%
0.0%
0.0%
0.0%
4.6%
0.0%
0.0% 5.2%
12.7%
2.9%
4.6% 3.5%
0.0%
0.0%
Kerusakan Pohon Kanker
Konk, Busuk Hati Luka Terbuka Resinosis Batang Pecah Sarang Rayap
Batang / akar patah < kaki dari batang Brum pada akar / batang
Akar patah / mati > 3 kaki dari batang Liana
Hilangnya pucuk dominan / mati Cabang patah / mati
Percabangan / brum yang berlebihan Daun , pucuk , tunas rusak
Daun berubah warna Karat Puru / Tumor Lain - lain
2. Tipe Kerusakan Busuk Hati
Gambar 13. Penyakit Busuk Hati pada Pohon Karet Hutan
Tipe kerusakan ini yang paling banyak dijumpai setelah luka terbuka dan kanker yaitu sebesar 18,2% dari total seluruh kasus di Taman Kota Tebing Tinggi.
Tipe kerusakan ini terjadi karena pohon yang mengalami luka terserang mikroorganisme dan menyebabkan terjadinya pelapukan. Berdasarkan tinjauan pernyataan Widyastuti dan Sumardi (2004), proses pelapukan kayu oleh mikroorganisme dengan kisaran yang luas bergantung pada mikroorganisme penyebab pelapukan, jenis tumbuhan dan habitat dalam sumber makanan. Jamur busuk hati umumnya adalah jamur pelapuk kayu atau parasit luka. Serangan busuk hati pada tegakn pohon menyebabkan kehilangan volume pada kayu (Rimbawanto, 2005).
3. Tipe Kerusakan Luka Terbuka
Luka terbuka merupakan suatu luka atau serangkaian luka di mana kulit telah mengelupas atau kayu bagian dalam telah terbuka dan tidak ada lapuk lanjut (Mangold, 1997).
Gambar 14. Penyakit Luka Terbuka
30
Luka terbuka dijumpai terjadi karena campur tangan manusia seperti pemotongan atau pemangkasan yang dilakukan secara tidak baik, vandalisme.
Batubara (2012) menyatakan bahwa paku atau benda tajam yang berfungsi menyandarkan baliho atau iklan mengakibatkan luka mekanis pada batang pohon.
Tipe kerusakan ini merupakan yang paling banyak ditemui di Taman Kota Tebing Tinggi yaitu sebesar 27,05%. Luka yang terjadi itu akan menjadi media masuknya patogen ke dalam tubuh pohon sehingga menurunkan kondisi kesehatan pohon (Stalin et al., 2011).
4. Tipe Kerusakan Resinosis/gummosis
Eksudasi yaitu keluarnya cairan dari bagian tanaman yang sakit, berdasarkan cairan yang keluar dapat dibedakan menjadi a) Gummosis apabila dikeluarkan gum atau belendok, sedangkan b) resinosis apabila yang dikeluarkan adalah resin (Martoredjo, 1989). Penyakit ini mengakibatkan kondisi daerah resin atau gum (cairan) eksudasi keluar pada cabang atau batang. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan tipe penyakit ini hanya ditemukan satu kasus saja dengan rata-rata 0,57% saja dari total seluruh kasus kerusakan yang ada di Taman Kota Tebing Tinggi.
Gambar 15. Penyakit Resinosis pada Karet Hutan 5. Tipe Kerusakan Brum Pada Akar atau Batang
Brum ditandai dengan adanya tunas-tunas baru baik pada batang atau akar secara tidak normal yang dapat menghambat proses pertumbuhan pohon sehingga pohon menjadi tidak sehat. Tipe kerusakan brum dijumpai 8 kasus dengan rata- rata sebesar 4,62% dari total seluruh penyakit yang ditemukan. Kondisi percabangan yang berlebihan merupakan salah satu penyebab tumbangnya pohon
karena angin (Huntingford et al., 2004). Tipe kerusakan ini dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Penyakit Brum pada Batang atau Akar 6. Tipe Kerusakan Hilangnya Pucuk Dominan
Pohon yang mengalami hilangnya pucuk dominan terlihat dari bagian ujung pohon yang mengalami kematian dan mengalami perubahan warna daun yang signifikan pada daerah ujung pohon (Rahayu, 1999). Kematian pada bagian pucuk pohon umumnya disebabkan oleh hama, penyakit, salju, kering, dll. Tipe kerusakan ini dijumpai ada 9 kasus dengan rata-rata 5,20% dari total seluruh kerusakan.
Gambar 17. Penyakit Hilangnya Pucuk Dominan Pada Pohon 7. Tipe Kerusakan Cabang Patah atau Mati
Berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan, penyakit cabang patah atau mati pada pohon di Taman Kota Tebing Tinggi sebanyak 22 kasus atau 12,7% dari total keseluruhan penyakit yang dijumpai. Pada penyakit ini, gejala yang ditemukan adalah cabang yang mati dan daunnya berguguran.
32
Gambar 18. Penyakit Cabang Patah atau Mati
Hal ini umunya terjadi karena penyakit parasit, non parasit atau hama (Pracaya, 2003). Batang patah yang dijumpai terjadi akibat bekas penebangan pemeliharaan dan bekas patahan dari batang yang lapuk.
8. Percabangan/Brum yang Berlebihan
Penyakit percabangan/brum yang berlebihan teridentifikasi juga di Taman Kota Tebing Tinggi. Tipe kerusakan brum dijumpai sebanyak 5 kasus atau 2,89%.
Brum terjadi akibat pemangkasan pemeliharaan. Cabang yang telah dipangkas mengakibatkan tumbuh cabang baru yang bergerombolan. Jika dibiarkan maka akan terjadi persaingan cahaya matahari untuk fotosintesis
Gambar 19. Percabangan/Brum yang berlebihan 9. Tipe Kerusakan Daun
Tipe kerusakan daun dijumpai sebanyak 8 kasus atau sebesar 4,62%. Gejala serangan bercak daun ini adalah gejala neokrotik yaitu gejala kerusakan berupa kematian sel jaringan tumbuhan yang semula berwarna hijau
menjadi kuning kemudian menjadi coklat atau kemerah-merahan atau menunjukkan gejala gosong/mati. Kerusakan daun yang paling sering ditemukan adalah banyaknya daun yang dimakan oleh hama seperti ulat dan serangga kecil lainnya.
Gambar 20. Kerusakan Pada Daun 10. Tipe Kerusakan Daun Berubah Warna
Pada kasus tipe kerusakan ini terdapat 6 kasus atau sebesar 3,46% tipe kerusakan yang terjadi pada daun. Gejala yang terlihat adalah gejala klorosis.
Klorosis yaitu proses menguningnya jaringan tanaman yang disebabkan degradasi klorofil dan gagalnya pembentukan klorofil. Gejala klorosis disebabkan karena terbatasnya sintesa klorofil akibat defisiensi Nitrogen (N). Nitrogen bersifat mobile dan ditranslokasikan dari jaringan tua ke jaringan yang lebih muda (Widyastuti dan Sumardi, 2004).
Gambar 21. Tipe Penyakit Daun Berubah Warna
Kondisi daun yang rusak akan menyebabkan proses fotosintesis terganggu, sehingga akan mengganggu juga proses fisologis lainnya seperti aktivitas
34
penganggkutan air dan hara dari tanah ke daun terganggu, meskipun nantinya akan terbentuk jaringan daun baru (Pribadi, 2010).
Kelas Keparahan
Kelas keparahan mengganbarkan besarnya dampak kerusakan yang diderita oleh pohon. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan didapat beberapa kelas keparahan yang terdapat di Taman Hutan Kota Tebing Tinggi, yaitu kelas keparahan dengan kode 0 (1-9%) ditemukan sebanyak 18 kasus atau rata-rata 10,4% , kelas keparahan dengan kode 1 (10-19%) ditemukan sebanyak 55 kasus atau rata-rata 31,79%, kelas keparahan dengan kode 2 (20- 29%) ditemukan sebanyak 62 kasus atau rata-rata 35,84% dan kelas keparahan dengan kode 3 (30-39%) ditemukan sebanyak 38 kasus atau rata-rata 21,97% dari total keparahan kerusakan yang ditemukan di lapangan.
Berdasarkan data tingkat keparahan kerusakan yang didapat dilapangan, dapat dikategorikan tingkat keparahan kerusakan yang diderita pohon di Taman Hutan Kota Tebing Tinggi masih tergolong rendah tetapi, jika kerusakan pada pohon dibiarkan begitu saja, maka akan sangat berpengaruh pada kesehatan pohon tersebut. Oleh karena itu diperlukan tindakan pemeliharaan yang bertujuan untuk menanggulangi atau mencegah terjadinya penyebab kerusakan dan merawat pohon yang rusak sehingga pohon dapat menjalankan fungsi fisiologisnya secara normal.
Gambar 22. Tingkat Keparahan Kerusakan Pohon Di Taman Kota Tebing Tinggi Nilai Indeks Kerusakan Pohon
Kerusakan pohon di Taman Hutan Kota Tebing Tinggi dianalisis menggunakan perhitungan indeks kerusakan (IK) yang merupakan hasil kali dari
Kode 0 Keparahan
= 1-9%
10,40%
Kode1 Keparahan
=10-19%
31,79%
Kode 2
Keparahan = 20-29%
35,84%
Kode 3 Keparahan
=30-39%
21,97%
Tingkat Keparahan Kerusakan
setiap nilai lokasi, tipe dan nilai keparahan yang telah dinilai dari data lapangan.
Berdasarkan Gambar 22. dapat diketahui bahwa indeks kerusakan sangat sakit sebesar 15,19% (12 pohon), sakit sebesar 27,85% (22 pohon), kurang sehat sebesar 24,05% (19 pohon), sehat sebesar 26,58% (21 pohon), dan sangat sehat sebesar 6,33% (5 pohon).
Tabel 12. Skoring Kerusakan Pohon
Kelas NIK Skor Jumlah Individu
0 – 1,235 10 8
1,236 – 2,47 9 4
2,48 – 3,705 8 9
3,706 – 4,94 7 13
4,95 – 6,175 6 10
6,176 – 7,41 5 9
7,42 – 8,645 4 11
8,646 – 9,88 3 10
9,89 – 11,15 2 2
11,16 – 12,35 1 3
Gambar 23. Grafik Nilai Indeks Kerusakan Pohon Di Taman Hutan Kota Tebing Tinggi
Berdasarkan Tabel 12. diatas dapat dilihat bahwa kelas NIK 0-1,235 sebanyak 8 pohon, NIK 1,236-2,47 sebanyak 4 pohon, NIK 2,48-3,705 sebanyak 9 pohon, NIK 3,706-4,94 sebanyak 13 pohon, NIK 4,95-6,175 sebanyak 10 pohon, NIK 6,176-7,41 sebanyak 9 pohon, NIK 7,42-8,645 sebanyak 11 pohon, NIK 8,646-9,88 sebanyak 10 pohon, NIK 9,89-11,115 sebanyak 2 pohon, NIK 11,116-12,35 sebanyak 3 pohon. Nilai 1-2 dikategorikan kedalam kelas sangat
0 5 10 15 20 25 30
Sangat Sakit Sakit
Kurang Sehat Sehat
Sangat Sehat 15.19%
27.85%
24.05% 26.58%
6.33%