Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Latuppa hulu sebagai penyedia jasa lingkungan yaitu di Kecamatan Mungkajang dan Sendana Kota Palopo untuk wilayah hilir yang merupakan pemanfaat jasa lingkungan yaitu perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Palopo, serta Dinas Kehutanan Kota Palopo, Dinas Pertanian dan perkebunan Kota Palopo, Wallacea Kota Palopo, dan Forum DAS Paremang sebagai fasilitator. Pemilihan lokasi tersebut, atas pertimbangan keduanya dianggap sudah representatif untuk mewakili penyedia dan pemanfaat jasa lingkungan untuk air bersih. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli- Agustus 2014.
Jenis Dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari responden melalui wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan terstruktur kepada masyarakat hulu
khususnya kelompok tani To’buangin dan Se’pon serta stakeholders yang terlibat dalam mekanisme PJL. Sementara data sekunder diperoleh dari studi literatur dan data statistik yang berasal dari instansi-instansi terkait seperti BPDAS Saddang, Badan Pusat Statistik, Bappeda Kota Palopo, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palopo, PSDA Kota Palopo, dan data akuntansi keuangan dari PDAM Kota Palopo.
Metode Pengambilan Sampel
Masyarakat hulu DAS Latuppa khususnya Kecamatan Mungkajang dan Kecamatan Sendana diwakili oleh kelompok tani dari masing-masing kecamatan. Penentuan kelompok tani dalam penelitian ini dilakukan dengan metode sensus, yaitu kelompok tani To’buangin yang berada di Kecamatan Mungkajang dan
kelompok tani Se’pon yang berada di Kecamatan Sendana yang lahannya dijadikan sebagai model pembayaran jasa lingkungan di DAS Latuppa. Selanjutnya, untuk mengetahui persepsi dan pola perilaku kelompok tani dalam melakukan rehabilitasi lahan dan air dilakukan dengan metode Purposive Sampling (responden dipilih berdasarkan jarak lahan milik mereka yang berada pada lokasi pembayaran jasa lingkungan). Jumlah populasi dari kelompok tani
To’buangin dan Se’pon adalah sebanyak 55 orang. Menurut Sugiyono (2013) penentuan sampel dari populasi sebanyak 55 orang dengan taraf kesalahan 10% adalah sebanyak 46 responden. Pengumpulan data menggunakan panduan kuisioner yang terstruktur. Responden key person dari para pihak yang terlibat dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan yaitu: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palopo, Dinas Pertanian Kota Palopo, BLH Kota Palopo, BPDAS Saddang, Wallacea Kota Palopo, Forum DAS Paremang, PSDA Kota
Palopo, Pemerintah Daerah Kota Palopo, dan PDAM Kota Palopo, dilakukan dengan metode indepth interview.
Metode Analisis Data
Pengumpulan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1 Pengumpulan dan analisis data berdasarkan tujuan penelitian. No Tujuan Penelitian Jenis & Sumber Data Teknik
Pengumpulan Data
Metode Analisis
1 Mengkaji persepsi dan pola
perilaku masyarakat dalam
melakukan konservasi lahan dan air di hulu DAS Latuppa
Data primer
mengenai persepsi
petani dalam
melakukan
konservasi lahan dan air di hulu DAS Latuppa Kuesioner dan wawancara dengan kelompok tani To’buangin dan Se’pon Analisis Skala Likert dengan Rataan Skor & Analisis Deskriptif
2 Mengestimasi kontribusi nilai
ekonomi air baku bagi PDAM Kota Palopo.
Data komponen
biaya langsung dan
komponen biaya
tidak langsung
PDAM
Data sekunder dari PDAM Kota Palopo
Residual imputation approach (RIA)
3 Mengkaji Kesanggupan PDAM
membayar untuk menjaga water
catcment area di hulu agar
pasokan air baku tetap
berkelanjutan
Data besaran nilai
ekonomi air bersih
Data besaran tarif
pajak air bersih untuk Pemkot Palopo
Wawancara
mendalam (indepth
interview) dengan pihak PDAM Kota Palopo
Conversion value &
Analisis Deskriptif
4 Menganalisis kelembagaan untuk
penerapan mekanisme
pembayaran jasa lingkungan air bersih di DAS latuppa hulu, sebagai implikasi dari penelitian.
Data perilaku
masyarakat dalam
melakukan konservasi
Data hasil analisis kesanggupan membayar PDAM
Data hasil
wawancara dengan
para pihak yang
terlibat dalam
pengelolaan DAS
Latuppa
Kuesioner dan
indepth interview dengan key person
Analisis
Stakeholders
&
Focus Group
Analisis persepsi dan pola perilaku masyarakat dalam melakukan konservasi lahan dan air di hulu DAS Latuppa
Analisis persepsi petani dalam melakukan rehabilitasi lahan dan air di hulu DAS Latuppa dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh respon petani terhadap pentingnya usaha rehabilitasi di hulu untuk mempertahankan water catchmen area. Data responden terkait analisis persepsi ini meliputi persepsi terhadap peran penting DAS Latuppa hulu sebagai water catchmen area (PPDL), persepsi terhadap konsekuensi dari rusakya water catchmen area di hulu (PKRW), persepsi terhadap keinginan untuk melakukan upaya rehabilitasi lahan dan air di hulu DAS Latuppa (PKMK), serta persepsi terhadap pembayaran jasa lingkungan (PPJS). Responden diminta untuk memilih satu dalam lima tingkat penilaian. Skala tingkat penilaian merupakan skala likert, yaitu jenis skala yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian (fenomena sosial spesifik), seperti sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekolompok orang. Terdapat lima tingkat skala yang dipilih responden, agar hasil persepsi yang didapat lebih spesifik. Tingkat pertama merupakan penilaian terendah dan tingkat ke lima merupakan penilaian tertiggi (Bubeck et al 2012). Tabel 2. akan menjelaskan tentang lima tingkat penilaian dari masing-masing kelompok persepsi.
Tabel 2 Tingkat penilaian kelompok persepsi Tingkat Persepsi terhadap peran penting DAS
Latuppa hulu sebagai water catchmen area (PPDL)
Persepsi terhadap konsekuensi dari rusaknya water catcmen area di hulu (PKRW)
1 Sangat tidak penting Tidak memiliki konsekuensi sama sekali
2 Tidak Penting Tidak mungkin memiliki konsekuensi
3 Mungkin Penting Kemungkinan memiliki konsekuensi
4 Penting Sangat mungkin memiliki konsekuensi
5 Sangat Penting Konsekuensi yang sangat tinggi
Tingkat Persepsi terhadap keinginan untuk melakukan upaya rehabilitasi di hulu DAS Latuppa (PKMK)
Persepsi terhadap pembayaran jasa lingkungan (PPJS)
1 Tidak sama sekali Tidak penting sama sekali
2 Mungkin Tidak Agak penting
3 Mungkin akan melakukan Kemungkinan Penting
4 Sangat mungkin melakukan Penting
5 Pasti melakukan Sangat Penting
Selanjutnya pembobotan yang telah ditetapkan antara 1 hingga 5 dibuat rentang skala. Rentang skala dapat dibuat dengan rumus:
� � � =��� �ℎ � X � �
� (1)
Berdasarkan hasil persamaan dan bobot nilai yang digunakan dalam penelitian ini maka diperoleh rentang skala 0,8. Rentang skala untuk interpretasi jawaban kuesioner dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Rentang skala interpretasi hasil jawaban kuesioner Rentang Skala Pernyataan Jawaban
1,00-1,80 Sangat Tidak Setuju/Sangat Buruk/Sangat Rendah
1,81-2,60 Tidak Setuju/Buruk/Rendah
2,61-3,40 Cukup Setuju/Mungkin Penting
3,41-4,20 Setuju/Baik/Tinggi
4,21-5,00 Sangat Setuju/Sangat Baik/Sangat Penting Estimasi nilai ekonomi air baku bagi PDAM.
Estimasi nilai ekonomi air baku dalam suatu proses produksi dapat digunakan residual imputation approach (RIA- metode perhitungan nilai sisa dalam produksi). Metode RIA didekati dengan menggunakan prinsip product exhaustion theorem yang dikembangkan oleh Philip Wicksteed pada akhir abad 19 (Young 2005). Perhitungan nilai air baku bagi PDAM juga dapat didasarkan pada penetapan harga input-output. Model penilaian yang diterapkan dalam studi tersebut mengandung arti bahwa nilai air tergantung pada produktivitasnya, harga dan jumlah faktor lain yang digunakan. Penaksiran water rent dalam konsep ini pada umumnya dilakukan dengan menghitung keuntungan akhir atau sisa untuk air baku. Untuk menghitung nilai ekonomi air baku bagi PDAM, dianalisis dengan rumus sebagai berikut:
WR = TR-TC (2)
WR = Y.Py - ��=1Xi. PXi (3)
Keterangan:
WR = Water Rent (contribution of water) yang merupakan perbedaan antara nilai penerimaan dari hasil pemanfaatan air bersih dalam proses produksi PDAM dan total biaya produksinya kecuali penggunaan sumberdaya air (Rp/Tahun)
TR = Total Revenue meliputi nilai produksi yang di jual, produk yang dikonsumsi, dan produk yang disimpan (Rp/Tahun)
TC = Total Cost (total biaya produksi kecuali biaya untuk air baku) mencakup biaya langsung, dan biaya tidak langsung (Rp/Tahun)
Y = Jumlah output produksi air yang dihasilkan pada tahun yang diteliti (Rp/Tahun)
Py = Harga output produksi air yang dihasilkan pada tahun yang diteliti (Rp/m3)
Xi = Jumlah input Xi yang digunakan untuk proses produksi air bersih kecuali air baku
Pxi = Harga input Xi dari proses produksi air bersih kecuali air baku (Rp/Satuan)
Mengkaji kesanggupan PDAM membayar .
Mengkaji kesanggupan PDAM membayar dilakukan dengan menggunakan metode conversion value (CV) dan dianalisis secara deskriptif. Metode ini dilakukan dengan cara menghitung maksimum besaran nilai kompensasi untuk masyarakat hulu, dengan mengurangkan total kontribusi nilai ekonomi air baku
dengan alokasi keuntungan perusahaan dan pemasukan untuk pemerintah Kota (Pemkot) Palopo. Nilai yang diperoleh dari pengurangan tersebut kemudian dijadikan proksi sebagai maksimum biaya yang akan dibayarkan oleh PDAM
kepada kelompok tani To’buangin dan Se’pon untuk rehabilitasi di hulu. Secara umum metode ini dapat diformulasikan sebagai berikut:
�CV = PM XM– CV1 – CV2 (4)
Dimana:
�CV = Maksimum besaran nilai kompensasi untuk masyarakat hulu PM XM = Kontribusi nilai ekonomi air baku
CV1 = Keuntungan PDAM
CV2 = Retribusi untuk pemerintah Kota Palopo
Selanjutnya dilakukan negosiasi melalui indepth interview dengan pihak PDAM, nilai yang diperoleh dari conversion value dijadikan proksi harga yang
akan dibayarkan kepada kelompok tani To’buangin dan Se’pon, untuk rehabilitasi
lahan dan air di hulu DAS Latuppa.
Analisis Kelembagaan untuk penerapan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air bersih
Analisis kelembagaan untuk penerapan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air bersih, langkah pertama dilakukan dengan menggunakan analisis para pihak. Analisis terhadap keterlibatan para pihak dilakukan untuk mengetahui peran dan fungsi dari masing-masing pihak. Keterlibatan para pihak dianalisis melalui pendekatan yang dikemukakan oleh Groenendjik (2003). Proses identifikasi para pihak merupakan proses awal dalam metode ini. Selanjutnya, dilakukan pengklasifikasian para pihak menjadi pihak primer dan sekunder. Pembagian ini dilakukan berdasarkan tingkat keterkaitan para pihak dengan mekanisme yang ada.
Atribut kunci dari masing-masing pihak kemudian diidentifikasi dan dianalisis. Atribut kunci yang dimaksud adalah kepentingan (interest). Selain itu, dimasukkan pula atribut lainnya yaitu pengaruh (influence) dan tingkat kepentingan (importance). Masing-masing pihak memiliki atribut yang berbeda dan dianalisis tergantung pada situasi dan tujuan analisis.
Kepentingan (interest) terhadap tujuan mekanisme merupakan atribut yang penting untuk dianalisis dari para pihak. Kepentingan ini mendukung tujuan ( apakah para pihak juga mengiginkan apa yang coba dicapai oleh mekanisme PJL) atau kebalikannya. Pengaruh (influence) adalah kewenangan para pihak untuk mengontrol keputusan apa yang dibuat, untuk memfasilitasi penerapan mekanisme PJL atau untuk menggunakan tekanan yang mempengaruhi mekanisme secara negatif. Pengaruh mungkin saja diartikan sebagai tingkatan orang, kelompok, atau organisasi yang dapat membujuk atau memaksa pihak lain dalam membuat keputusan dan mengikuti beberapa tindakan.
Tingkat kepentingan (importance) mengindikasikan prioritas yang diberikan untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan para pihak pada mekanisme. Oleh karena itu, tingkat kepentingan merujuk pada masalah, kebutuhan, dan
kepentingan para pihak yang merupakan prioritas dari mekanisme. Kepentingan dari para pihak yang diindentifikasi tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4 Kepentingan (interest) masing-masing pihak Kepentingan
(Interest)
Potensi dampak terhadap mekanisme Tingkat kepentingan Relative Pihak 1 ……… Pihak primer Pihak n Pihak 1 ……… Pihak sekunder Pihak n
Keterangan : Tanda positif (+), negatif (-), tidak jelas (-/+), dan tidak diketahui (?) diisi pada kolom potensi dampak, sedangkan kolom tingkat kepentingan relatif diisi dengan skala 0-5 berdasarkan kebijakan dan tujuan mekanisme (Groenendjik 2003).
Keberhasilan suatu mekanisme juga tergantung pada kebenaran asumsi yang dibuat oleh masing-masing pihak serta resiko yang dihadapi oleh mekanisme tersebut. Resiko-resiko tersebut dapat menimbulkan konflik kepentingan. Kombinasi pengaruh dan kepentingan masing-masing pihak akan menghasilkan identifikasi asumsi dan resiko masing-masing pihak. Kombinasi tersebut dibuat pada satu diagram matriks (Gambar 3). Posisi masing-masing pihak pada suatu kuadran tertentu akan mengindikasikan resiko relatif yang mungkin ditimbulkan. Selain itu, posisi tersebut juga dapat mengindikasikan peluang kerjasama antar pihak untuk mendukung mekanisme yang ada.
High
Importance
Low Influence High Gambar 3 Diagram matriks kepentingan (interest) dan pengaruh (influence) dari
masing-masing pihak
Berdasarkan matriks tersebut, kotak A, B, dan C merupakan pihak kunci yang dapat mempengaruhi mekanisme secara signifikan. Implikasi dari masing- masing kotak adalah sebagai berikut:
A Pihak 1 B Pihak 2 D Pihak 4 C Pihak 3
A. Para pihak dengan tingkat kepentingan tinggi terhadap mekanisme tetapi memiliki pengaruh yang rendah. Hal tersebut mengimplikasikan pihak- pihak tersebut memerlukan inisiatif khusus untuk melindungi kepentingan mereka.
B. Para pihak dengan tingkat pengaruh dan kepentingan yang tinggi terhadap keberhasilan mekanisme. Untuk membentuk kerjasama efektif dalam mendukung mekanisme , sebaiknya pihak yang terlibat langsung dengan mekanisme membangun hubungan kerja dengan pihak-pihak ini.
C. Para pihak yang memiliki pengaruh tinggi tetapi tidak memiliki kepentingan terhadap mekanisme. Pihak-pihak ini dapat menjadi sumber resiko yang signifikan. Selain itu, dibutuhkan monitoring dan manajemen dengan hati-hati. Pihak-pihak ini dapat menghentikan mekanisme dan perlu diperhatikan.
D. Para pihak pada kuadran ini memiliki pengaruh dan kepentingan yang rendah terhadap mekanisme. Pihak-pihak tersebut mungkin memerlukan monitoring dan evaluasi namun dengan prioritas yang rendah. Pihak-pihak pada kuadran ini bukanlah subyek dari mekanisme yang berlangsung. Analisis ini juga mendeskripsikan kelembagaan pengelolaan DAS yang telah berjalan di hulu DAS Latuppa khususnya di Kecamatan Mungkajang dan Sendana, identifikasi kelemahan dan kekurangan dalam kelembagaan tersebut untuk menyempurnakan kelembagaan melalui mekanisme pembayaran jasa lingkungan.