BAB I PENDAHULUAN
1.6 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Karena data yang dihasilkan dalam penelitian ini merupakan data deskriptif, maka analisis fokus pada penunjukkan makna, deskripsi, penjernihan, dan penempatan jadwal pada konteksnya masing-masing dan sering kali melukiskannya dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka (Mahsun, 2011:257).
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak.
Metode simak adalah metode yang digunakan dalam penelitian bahasa dengan cara menyimak penggunaan bahasa pada objek yang akan diteliti (Sudaryanto,
1993:132). Penulis akan mencatat beberapa polisemi warui kemudian mencatat semua kata warui yang muncul dalam film tersebut kemudian menganalisis berdasarkan konteks atau situasi yang terjadi.
BAB II
TINJAUAN TERHADAP SEMANTIK, MAKNA, ADJEKTIVA DAN POLISEMI
2.1 Pengertian Semantik
Secara umum, semantik merupakan ilmu tentang makna. Dalam bahasa Jepang semantik disebut dengan imiron (意味論). Semantik lingusitik adalah studi tentang makna yang digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa, semantik sering digunakan dalam bahasa sehari-hari. Semantik memiliki peranan penting untuk membuat pendengar melaksanakan sesuatu sesuai
kehendak yang diinginkan penutur. Semantik tidak hanya mengkaji tentang makna bahasa, tetapi juga simbol dan tanda (Chaer, 2007:67). Bila kata yang diucapkan tidak dipahami dengan makna yang sama seperti yang diinginkan pembicara, komunikasi akan mengalami gangguan.
Aminuddin (1985:15) mengungkapkan bahwa semantik yang semula berasal dari bahasa Yunani, mengandung makna to signify atau memaknai.
Sebagai istilah teknis, semantik mengandung pengertian „‟studi tentang makna‟‟.
Batas liput semantik hanya membahas mengenai sinonim, antonim, hipernim, homonim dan polisemi.
Chaer (1994:60) mengungkapkan bahwa dalam semantik yang dibahas adalah hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut, serta benda atau hal-hal yang dirujuk oleh makna itu yang berada di luar bahasa.
2.2 Makna
2.2.1 Konsep Makna
Makna merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semantik. Di dalam ilmu bahasa untuk memahami segala sesuatunya, kita harus mengetahu makna-makna dalam sebuah kata.
Dalam pemakaian sehari-hari, kata makna digunakan dalam berbagai bidang maupun konteks pemakaian. Apakah pengertian khusus makna kata tersebut serta perbedaannya dengan ide, misalnya, tidak begitu diperhatikan.
Sebab itu, sudah sewajarnya bila makna dapat disejajarkan pengertiannya dengan arti, gagasan, konsep, pernyataan, pesan, informasi, maksud, firasat, isi dan pikiran (Pateda, 2001:50)
Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Bentuk makna diperhitungkan sebagai istilah sebab bentuk ini mempunyai konsep dalam bidang ilmu tertentu., yakni dalam bidang linguistik. Ada tiga hal yang coba dijelaskan oleh para filsuf dan linguis sehubungan dengan usaha menjelaskan makna. Ketiga hal itu adalah :
1. Menjelaskan makna kata secara alamiah.
2. Mendeskripsikan makna secara alamiah.
3. Menjelaskan makna dalam proses komunikasi.
Grice (dalam Aminuddin, 2001:52) mengatakan bahwa makna ialah hubungan antara bahasa dengan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat saling mengerti.
Konsep pendekatan dalam studi makna tampak dalam kajian semantik yang dikembangkan oleh Halliday. Menurut Halliday (dalam Aminuddin, 2001:65)
Kehadiran suatu bentuk tuturan atau makna melibatkan sejumlah tataran abstrak, meliputi :
1. Field, yakni hubungan antara bentuk kebahasaan dengan pemakaian yang selalu berada pada konteks sosial dan situasional.
2. Tenor, yakni hubungan antara bentuk kebahasaan dengan pemeran yang memiliki cirri kondisi ikutan, baik status maupun cirri relasi
3. Mode, berkaitan dengan jenis tuturan atau genre serta penyampaiannya Menurut Sutedi (2003:111) objek kajian semantik antara lain terbagi menjadi 4 yaitu : makna kata (go no imi), Relasi makna antar satu kata dengan kata lainnya (go no imi kankei), makna frase (ku no imi), dan makna kalimat (bun no imi).
1. Makna kata (go no imi)
Makna seriap kata merupakan salah satu objek kajian semantik, karena komunikasi dengan menggunakan suatu bahasa yang sama seperti bahasa Jepang, baru akan berjalan dengan lancar jika setiap kata yang digunakan oleh si pembicara dalam komunikasi tersebut menyatakan maksud yang sama dengan yang digunakan oleh lawan bicaranya. Dalam bahasa Jepang terdapat ruigigo/dogikankei atau yang disebut dengan sinonim. Misalkan kata 使う、着る、
は く 、 か け る , dan か ぶ る . Keempat kata kerja tersebut dalam bahasa Indonesia dapat dipadankan dengan memakai.
Dalam bahasa Jepang pun terdapat kata yang memiliki makna lebih dari satu atau polisemi yang dalam bahasa Jepang disebut dengan tagigo
階段をあがる :naik tangga
料理をあがる :siap memasak
家に上がる :masuk rumah
犯人があがる :penjahatnya tertangkap 2. Relasi makna (go no imi kankei)
Hubungan antara dua kata atau lebih yang berhubungan dengan
pengelompokan kata baik itu hubungan sinonim, antonim, homonim, homofon, homograf, polisemi, hipernim dan homonim. Contoh dalam bahasa Jepang 「話す
„hanasu‟」(berbicara), 「言う „iu‟」(berkata), dan 「しゃべる„shaberu‟」
(ngomong) dapat dikelompokkan dalam sinonim (類義語) karena memiliki kesamaan makna antara satu ujaran dengan ujaran lainnya. Lalu 「高い „takai‟」
(mahal), dan 「安い„yasui‟」(murah) yang dapat dikelompokkan kedalam antonim (対義語) yaitu hubungan semantik dua buah satuan ujaran yang maknanya
menyatakan kebalikan pertentangan dengan ujaran lainnya. Sedangkan 「動物
„doubutsu‟」(hewan), 「犬 „inu‟」(anjing), 「猫 „neko‟」(kucing), 「鳥 „tori‟」
(burung), 「馬 „uma‟」(kuda) merupakan hubungan superordinat (上下関係) Dalam bahasa Jepang ada frase yang mempunyai secara leksikal, ada juga frase yang mempunyai makna secara idiomatikal dan ada juga yang meimliki makna keduanya. Frase yang memiliki makna secara leksikal tentu saja mempermudah pembelajar bahasa Jepang utuk mengungkap arti yang ada
Contoh kalimat 「私はりんごを食べる」‟‟watashi wa ringo wo taberu’‟ bisa kita pahami secara leksikal yang diartikan „saya makan apel‟. Tetapi, untuk frase
「 顔 が 広 い 」‟‟kao ga hiroi‟‟ dan 「 額 を 集 め る 」 ‟‟hita wo atsumeru„‟
meskipun kita mengetahui makna setiap kata dan strukturnya, belum tentu bisa memahami makna frase tersebut secara keseluruhan. Kita harus mengetahui makna frase secara idiomatikal. Lain halnya dengan frase 「足を洗う」yang memiliki makna frase leksikal dan makna frase idiomatikal. Secara leksikal ia memiliki arti „mencuci kaki‟ tetapi secara idiomatikal artinya „berhenti berbuat jahat‟.
3. Makna referensial
Pateda (2001:125) mengungkapkan bahwa makna referenisal (refential meaning) adalah makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata. Makna referensial mengisyaratkan kepada kita tentang makna yang langsung menunjuk pada sesuatu apakah benda, gejala, kenyataan, peristiwa, proses, sidat.. Referen adalah sesuatu yang ditunjuk oleh lambang. Jadi, kalau seseorang mengatakan sungai, maka yang ditunjuk oleh lambang tersebut, yakni tanah yang berlubang lebar dan panjang tempat air mengalir dari hulu ke danau atau laut. Kata sungai langsung dihubungkan dengan acuannya.
4. Makna kalimat (bun no imi)
Makna kalimat juga dijadikan sebagai obek kajian semantik, karena suatu kalimat ditentukan oleh makna setiap kata dan strukturnya. Misalnya pada kalimat
„‟Watashi wa Yamadasan ni megane o ageru‟‟ (Saya memberi kacamata pada Yamada) dan kalimat „„Watashi wa Yamadasan ni tokei wo ageru‟‟ (Saya memberi jam kepada Yamada). Jika dilihat dari strukturnya kalimat tersebut sama
yaitu, „„A wa B ni C o ageru‟ tetapi maknanya berbeda. Oleh karena itu, makna kalimat ditentukan oleh kata yang menjadi unsur kalimat tersebut. Lain halnya dengan kalimat „„Watashi wa Yamada san to Tanaka san o matte iru‟‟ terdapat dua makna yang terkandung di dalamnya, yaitu [Watashi wa] [Yamasan to Tanakasan wo] [matte iru] yang berarti (Saya menunggu Yamada dan Tanaka) dan [Watashi wa] [Yamada san to] [Tanaka san o matte iru] yang berarti (Saya bersama Yamada menunggu Tanaka). Dari sini bisa diketahui bahwa dalam suatu kalimat bisa menimbulkan makna ganda yang berbeda. Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa objek kajian semantik adalah berupa makna kata dan frase, relasi makna antara beberapa kata, dan makna kalimat.
2.2.2 Jenis Jenis Makna
Chaer (1994 : 289-296) membagi jenis jenis makna sebagai berikut : (1) makna leksikal, (2) makna gramatikal, (3) makna referensial dan non referensial, (4) makna denotatif dan konotatif, (5) makna kata dan makna istilah, (6) makna konseptual dan asosiatif dan (7) makna idiomatikal dan peribahasa.
1. Makna Leksikal
Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, atau mana yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer, 1994:60). Dalam bahasa Jepang makna leksikal disebut dengan jishoteki imi (辞書的意味) atau goiteki imi (語意的意味). Kata leksikal biasanya diturunkan dalam bentuk nomina (vokabuler, kosakata, pembendaharaan kata) . Makna leksikal ini dipunyai unsur-unsur bahasa lepas dari penggunaannya atau konteksnya. Misalnya kata kuda memiliki makna leksikal „sejenis binatang
alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang‟. Kata air bermakna leksikal „sejenis barang cair yang biasanya digunakan untuk keperluan sehari hari‟. Kata kata di atas merupakan kata yang sesuai dengan apa yang ditangkap oleh panca indera dan terlepas dari unsur gramatikal. Menurut Sutedi (2008:131) bahwa makna leksikal adalah makna kata yang sesungguhnya sesuai dengan referensinya sebagai hasil pengamatan indera dan terlepas dari unsur gramatikalnya, atau bisa juga dikatakan sebagai makna asli suatu kata.
2. Makna Gramatikal
Dalam bahasa Jepang makna gramatikal disebut dengan bunputeki imi (文 法的意味). Makna gramatikal adalah makna yang berubah ketika terjadi suatu proses gramatikal seperti afiksasi, reduplkasi, komposisi atau kalimatisasi. Contoh dalam bahasa Jepang, partikel atau jodoshi memiliki makna yang berbeda tergantung dari gramatikalnya. Contoh dalam kalimat ミラーさんに本をあげる
„mirasan ni hon wo ageru‟ (memberikan buku kepada mira) ミラーさんに本を もらう„mirasan ni hon wo morau’ (menerima buku dari mira). Partikel ni pada kedua kalimat tersebut memiliki makna gramatikal tetapi tidak memiliki makna secara leksikal. makna gramatikal akan lebih jelas kita lihat apabila melihat struktur dari kalimat tersebut. Selain itu, verba dan adjektiva memiliki makna gramatikal dan makna leksikal. Verba dan adjektiva yang memiliki kedua jenis makna tersebut, misalnya pada kata 「忙しい „ishogashii‟」 dan 「食べる „taberu‟」, bagian gokan-nya [ishogashi] dan [tabe] bermakna leksikal (sibuk) dan (memakan), sedangkan gobi-nya, yaitu [ い /i] dan [ る /ru] sebagai makna gramatikal, karena akan berubah sesuai dengan konteks gramatikalnya. Menurut
Chaer (2007:75) makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai hasil proses gramatikalnya.
3. Makna Referensial dan Nonreferensial
Makna referensial (referential meaning) adalah makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata (Pateda, 2010: 125). Makna referensial mempunyai sesuatu yang diacu di luar bahasa itu. Misalnya, kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut „meja‟ dan „kursi‟.
Berkenaan dengan acuan ini, ada sejumlah kata yang acuannya tidak menetap pada satu wujud, melainkan dapat berpindah dari wujud yang satu kepada wujud lainnya.
Contohnya ada pada pronominal misalya dia, saya, kamu atau kata kata yang menyatakan ruang. Misalnya di sana, di sini, di situ. Kata kata yang menyatakan waktu seperti sekarang, besok dan nanti. Berikut contoh pronominal saya pada kalimat berikut yang acuannya tidak sama.
A: „‟Tadi pagi saya bertemu dengan pak Ahmad‟‟ sahut Ani kepada Ali B : „‟o,ya ? saya juga bertemu beliau tadi pagi‟‟ sahut Ali
C : „‟dimana kalian bertemu beliau?, saya sudah lama tidak jumpa‟‟ tanya Amir
Kata saya pada kalimat (a) mengacu kepada Ani. Pada kalimat (b) mengacu kepada Ali. Pada kalimat (c) mengacu kepada Amir.
4. Makna Denotatif dan Konotatif
Hubungan antara makna denotasi dan konotasi terletak pada notasi atau rujukannya. Pembeda makna denotasi dan onotasi didasarkan pada ada atau tidaknya „‟nilai rasa‟‟ pada sebuah kata. Makna denotasi adalah makna polos,
disebut dengan meijiteki imi (明示的意味) atau gaien (外). Menurut Harimurti dalam Pateda (2010:98). Makna Denotasi (denotative meaning) adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas hubungan lugas antara satuan bahasa dan wujud di luar bahasa yang diterapi satuan bahasa itu secara tepat.
Berdasarkan uraian diatas, kiranya makna denotasi lebih mudah dicatat dan direkam oleh para semantikus. Oleh karena itu, dikatakan pula makna denotasi adalah makna kamus atau makna sesuai dalam kamus dan terbatas.
Makna konotasi memperoleh penambahan perasaan yang berupa nilai rasa, dan emosi tertentu, prasangka tertentu yang sering tidak terduga. Artinya bisa jadi positif atau negatif. Harimurti (1982: 91) berpendapat “aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Dalam bahasa Jepang makna konotasi disebut anjiteki imi (暗示的意味) atau naihou (内包).
Misalnya, pada kata chichi (父) dan oyaji (親父) kedua-duanya memiliki makna yang sama yaitu „ayah‟ tetapi, keduanya memiliki nilai rasa yang berbeda. Kata chichi digunakan lebih formal dan lebih halus, sedangkan kata oyaji terkesan lebih dekat dan lebih akrab. Begitu juga dengan contoh lainnya, yaitu kata keshoushitsu (化粧室) dan banjo (便所) merujuk pada hal yang sama yaitu „kamar mandi‟.
Tetapi, kesan dan nilai rasanya berbeda, keshoushitsu terkesan bersih, sedangkan benjo terkesan kotor dan bau.
5. Makna Umum dan Makna Khusus
Makna umum (general meaning) adalah makna secara luas. Kata yang memberikan makna luas dapat diperinci maupun dijabarkan kembali menjadi lebih khusus (tahap lanjut) dan sederhana, sehingga penggunaannya menjadi lebih
tepat. Chaer (1994:70) menyebutkan dalam penggunaan bahasa secara umum, sering kali kata kata digunakan secara tidak cermat sehingga maknanya bersifat umum. Tetapi, dalam penggunaan secara khusus, dalam bidang kegiatan tertentu, kata kata digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat.
Sedangkan makna khusus (specialized meaning) atau (narrowed meaning) adalah makna yang mempunyai ruang lingkup terbatas (sempit) pada keseluruhan ujaran. Makna khusus akan menjadi lebih jelas ketika ia diujarkan atau dimasukkan ke dalam kalimat. Selain itu, makna khusus memiliki makna tetap dan pasti. Berikut contoh kalimat dalam bahasa Indonesia :
1. Pak Ujang membawa karung beras yang sangat berat 2. Pak Ujang menjinjing karung beras yang sangat berat 3. Pak Ujang memikul karung beras yang sangat berat
Dalam kalimat di atas kata membawa merupakan makna secara umum sedangkan kata menjinjing dan memikul memiliki makna khusus dan lebih jelas.
6. Makna Konseptual dan Asosiatif
Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun (Chaer ,1994:72). Oleh karena itu, makna kontekstual bisa disamakan dengan makna leksikal dan makna denotatif. Makna kontekstual merupakan hal yang paling penting dalam suatu bahasa. Karena, jika kita tidak melihat makna sebuah kata dari hubungan situasional maka akan terjadi kesalahpahaman antar si pembicara. Makna konseptual dapat diketahui setelah kita menghubungkan atau membandingkannya pada tataran bahasa. Oleh karena itu, makna kontekstual atau situational meaning merupakan faktor utama di dalam setiap komunikasi. Pateda
(2001:115) menyebutkan bahwa makna kontekstual setiap kata dapat kita analisis setelah kata tersebut ada pada sebuah konteks. Konteks yang dimaksud di sini, yakni: (i) konteks orangan, termasuk di sini hal yang berkaitan dengan jenis kelamin, kedudukan pembicara, usia pembicara/pendengar, latar belakang sosial ekonomi pembicara/pendengar; (ii) konteks situasi, mislanya situasi aman, situasi rebut; (iii) konteks tujuan, misalnya meminta, mengharapkan sesuatu; (iv) konteks formal/tidaknya pembicaraan; (v) konteks suasana hati pembicara/pendengar, misalnya takut, gembira, jengkel; (vi) konteks waktu, misalnya malam, setelah maghrib; (vii) konteks tempat, apakah tempatnya di sekolah, di pasar, di depan bioskop; (viii) konteks objek, maksudnya apa yang menjadi focus pembicaraan;
(ix) konteks alat kelengkapan bicara/dengar pada pembicara/pendengar; (x) konteks kebahasaan, maksudnya apakah memenuhi kaidah bahasa yang digunakan oleh kedua belah pihak; dan (xi) konteks bahasa, yakni bahasa yang digunakan (Pateda, 2010:116)
Makna asosiasi adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Makna asosiatif itu sama dengan perlambang-perlambang yang digunakan masyarakat bahasa untuk menyatakan sesuatu dengan konsep lain. Makna asosiatif dimasukkan juga kedalam makna konotatif. Karena, makna konotatif berasosiasi kepada nilai rasa positif, negatif, maupun netral. Makna asosiatif adalah makna kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul pada penyapa dan pesapa. Makna ini muncul akibat asosiasi perasaan pemakai bahasa terhadap leksem yang dilafalkan atau yang didengarkan. Sehingga, makna ini lebih terasa nyata dalam bahasa lisan. Makna Asosiatif disebut juga sebagai
Makna Kiasan. Makna Kiasan (transferred meaning atau figurative meaning) adalah pemakaian kata yang maknanya tidak sebenarnya (Harimurti, 1982:103).
Misalnya kata „melati‟ berasosiasi dengan makna suci atau kesucian.
7. Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Makna idiomatikal adalah makna yang tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal. Karena apabila diterjemahkan secara leksikal dan mengikuti aturan-aturan struktur gramatikal akan terdengar aneh. Idiom dapat beruba kata, frase, maupun kalimat. contoh idiom dalam frase adalah „cuci mata‟. Frase ini bukan bermakna si pembicara mencuci mata menggunakan air, melainkan hiburan dengan melihat sesuatu yang indah. Idiom dibedakan menjadi dua yaitu, idiom penuh dan idiom sebagaian.
Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu.
Sedangkan, idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Berbeda halnya dengan peribahasa, peribahasa masih dapat diramalkan secara leksikal atau gramatikalnya.
Peribahasa mengandung suatu kiasan bahasa berisi tentang norma,nilai,nasihat,perbandingan,perumpaan,prinsip dan aturan tingkah laku.
Misalnya, kalimat peribahasa „di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung‟.
Kalimat ini bermakna jika kita pergi ke tempat lain kita harus menyesuaikan, menghormati dan toleransi dengan budaya setempat.
2.3 Adjektiva
Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat (Nasution, 2013: 15).
Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif.
Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Singkatnya, kata sifat dapat memberikan informasi berupa ukuran-ukuran, bentuk, usia, warna suatu benda, atau dapat juga menggambarkan keadaan atau sifat seseorang. Contoh kata pemberi keadaan ialah mabuk, sakit, basah, baik, dan sadar. Adjektiva juga dicirikan oleh kemungkinannya menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Perbedaan tingkat kualitas ditegaskan dengan pemakaian kata seperti sangat di samping adjektiva. Karena dari segi bentuknya adjektiva dasar sukar dibedakan dari verba dasar atau nomina dasar, klasifikasi adjektiva akan dipaparkan lebih dahulu berdasarkan ciri semantiknya. Perinciannya menjadi beberapa tipe dengan korelasi antara ciri semantiknya dengan proses pembentukan dan penurunan kata adjektiva secara morfologis, serta dengan proses sintaksisnya.
2.3.2 Adjektiva Bahasa Jepang
Dalam bahasa Jepang adjektif atau kata kata sifat disebut dengan keiyoushi
(形容詞). Kata sifat atau adjektiva dalam bahasa Jepang terbagi dua yaitu kata sifat na (な‐形容詞) dan kata sifat i (い‐形容詞) . Kata sifat adalah kata yang mengungkapkan situasi atau sifat pada suatu benda. Shimizu dalam buku Sudjianto (2007: 154) Keiyoushi (形容詞) dapat mengalami perubahan, berdiri sendiri dan di dalam kalimat berfungsi sebagai predikat. Setiap kata yang
termasuk i-keiyoushi selalu diakhiri silabel /i/ dalam bentuk kamusnya, dapat menjadi predikat, dan dapat menjadi kata keterangan yang menerangkan kata lain dalam suatu kalimat. sedangkan na-keiyoushi sering disebut dengan keiyoudoshi karena bentuk shuushikei-nya berakhir dengan da atau desu
2.3.3 Adjektiva Warui
Menurut pendapat Kindaichi dan Ikeda (1978:2127) mengenai adjektiva warui dalam kamus Kokugo Dai Jiten:
ある現象が、何らかの基準からはずれたり何らかの要求に反したりす るときに、その現象を、思わしくない、好ましくない、または望ましくな
い現象として評価していう語。参「よくない」に似ているが、「よくない」○
よりも積極的、断定的な意味あいが強い。
1. 〔人に及ぼす作用、影響を評価する場合〕一般に不都合である。適当 でない。有害である。迷惑である。
2. 〔感知しうる物事の状態を評価する場合〕
3. 〔申し訳ない〕特に、会話文中で、こちらの行為が相手に対して迷惑 や不都合な影響を及ぼすことを言う場合。気の毒である。
aru genshou ga naniraka no kijun kara zuretari naniraka no youkyuu ni hanshitari suru toki ni, sono genshou wo omowashikunai, konomashikunai, mata wa nozomashikunai genshou toshite hyouka shite iu go. 「yokunai」 ni nite iru ga 「yokunai」 yorimo sekkyokuteki , danteitekina imi ai ga tsuyoi.
1. [Hito ni oyobosu sakuyou, eikyou wo hyouka suru baai] ippanteki ni futsugo
2. [Kanchi shi uru monogoto no joutai wo hyouka suru baai]
3. [Moushiwakenai] tokuni, kaiwa bunchuu de, kochira no koui ga aite ni taishite meiwaku ya futsugo na eikyou wo oyobosu koto wo iu baai. Ki no doku de aru
Terjemahan :
kata yang mengevaluasi sebuah fenomena sebagai fenomena yang tidak
kata yang mengevaluasi sebuah fenomena sebagai fenomena yang tidak