DAFTAR GAMBAR
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Klasifikasi Penutupan Lahan dan Analisis Perubahan Garis Pantai Klasifikasi penutupan lahan digunakan untuk membedakan setiap jenis penutupan lahan. Metode klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi tidak terbimbing (unsupervised classification). Klasifikasi ini dilakukan dengan asumsi bahwa data (bands) citra dijital yang akan diproses terdiri dari band (multi-spektral) citra yang mencakup area yang sama. Pada klasifikasi tidak terbimbing, identitas dan lokasi kelas-kelas unsur tipe penutupan lahan (seperti halnya perkotaan, badan air, lahan basah, dan sebagainya) tidak dilakukan pendefinisian dari masing-masing kelas oleh pengguna (training sites/area) (Prahasta, 2008). Banyaknya kelas klasifikasi disesuaikan dengan kebutuhan, pada penelitian ini menggunakan tujuh kelas yaitu bangunan, danau, lahan terbuka, laut, mangrove, sawah dan tambak. Penajaman warna dengan proses RGB dan analisis foto
citra disesuaikan untuk proses klasifikasi penutupan lahan, lalu dilakukan digitasi untuk tiap-tiap kelas. Hasil klasifikasi dari kedua citra tersebut di-overlay, tujuannya yaitu untuk mengetahui perubahan luasan masing-masing hasil klasifikasi serta mengetahui perubahan penutupan lahan yang terjadi antara tahun 2003 yang diwakili dengan citra SPOT, dengan penutupan lahan tahun 2008 yang diwakili citra ALOS dilihat pada Lampiran 1. Penggunaan kedua citra satelit yang berbeda pada penelitian ini yaitu menggunakan citra SPOT dan ALOS, merupakan faktor keterbatasan data citra. Walaupun demikian, kedua citra ini cukup mewakili dalam penganalisaan perubahan lahan yang terjadi dalam jangka waktu lima tahun karena kedua citra ini memiliki resolusi yang sama.
Perubahan garis pantai diperoleh dari proses overlay kedua citra hasil klasifikasi penutupan lahan. Kemudian citra ALOS dan SPOT diklasifikasikan menjadi dua kelas besar yaitu kelas darat dan kelas laut. Hasil dari kedua citra yang diklasifikasi, untuk mengetahui seberapa besar perubahan luas masing-masing kelas. Klasifikasi darat dan laut menghasilkan empat kelas baru yaitu tetap darat, darat menjadi laut, laut menjadi darat, dan tetap laut. Kemudian dari hasil klasifikasi darat dan laut, kedua citra ini di- overlay untuk mendapatkan hasil perubahan garis pantai. Hasil overlay ini kemudian di- digitasi, yang didapatkan dua perubahan yaitu penambahan daratan dan pengurangan daratan. Perubahan tersebut dihasilkan yaitu perubahan laut menjadi daratan yang merupakan penambahan daratan (akresi), sedangkan perubahan darat menjadi laut merupakan pengurangan daratan (abrasi). Perubahanlahan pada kelas darat dan kelas laut dihasilkan dari proses overlay kedua citra yang berbeda serta dengan waktu perekaman citra yang berbeda.
Untuk menganalisa penambahan dan pengurangan daratan, kemudian dihitung luas masing-masingnya. Hasil perhitungan tersebut dapat dijadikan acuan untuk menganalisis kejadian banjir rob (pasang) berdasarkan perubahan garis pantai. Pada Gambar 7, dijelaskan diagram alir klasifikasi penutupan lahan dan perubahan garis pantai pada penelitian ini.
12
Gambar 7 Diagram alir klasifikasi penutupan lahan dan perubahan garis pantai 3.3.2 Penentuan Kejadian Pasang Surut
Data pasang surut harian di pesisir Jakarta digunakan untuk mengetahui perubahan tinggi muka air laut, saat kejadian dimana permukaan laut mengalami kenaikan (pasang) dan penurunan (surut). Kejadian pasang surut ini akan diakurasi dengan citra SPOT dan ALOS guna mengetahui waktu pada saat perekaman terjadi pasang atau surut. Selain itu dilihat pula tipe pasang surut pada stasiun yang bersangkutan. Data pasang surut diperoleh dari buku ramalan pasang surut DISHIDROS TNI-AL bulan Januari 2003 dan November 2008 pada stasiun Tanjung Priuk yang diterbitkan oleh Dinas Hidro-Oseanografi Indonesia (DISHIDROS) TNI-AL per tahun. Dari data pasang surut tersebut akan dapat ditampilkan grafik kejadian kenaikan (pasang) dan penurunan (surut) sehingga akan dapat
dilihat pengaruh pasang surut terhadap waktu perekaman citra. Tipe pasang surut dihitung dengan bilangan atau konstanta pasut (Tidal Constant/ Formzhal) yang dihitung dengan metode Admiltari (Wibisono, 2005). Bilangan Formzhal dirumuskan pada Persamaan 1 berikut :
Keterangan :
F = bilangan Formzhal atau Konstanta pasut
AK1 = amplitudo dari anak gelombang pasut harian tunggal rata-rata yang dipengaruhi oleh deklinasi bulan dan matahari
AO1 = amplitudo dari anak gelombang pasut harian tunggal yang Klasifikasi Penutupan
Perubahan Garis Pantai Citra SPOT 2003 Citra ALOS 2008 RGB Komposit band 321 Unsupervised Classification Unsupervised Classification Penutupan Lahan 2008 Penutupan Lahan 2003 Akresi Digitasi Perubahan Garis Pantai Perubahan Penutupan Lahan Overlay
Hasil dan Analisis Perubahan Garis Pantai
Abrasi RGB Komposit
13
dipengaruhi oleh deklinasi matahari
AM2 = amplitudo dari anak gelombang pasut harian ganda rata-rata yang dipengaruhi oleh bulan
AS2 = amplitudo dari anak gelombang pasut harian ganda rata-rata yang dipengaruhi oleh matahari. Kisaran nilai untuk bilangan Formzahl adalah sebagai berikut:
0.00< F≤ 0, 5 = tipe pasut semidiurnal
0, 5 < F ≤ ,50 = tipe pasut campuran
cenderung semidiurnal
,50 < F≤ 3,00 = tipe pasut campuran
cenderung diurnal
F ≥ 3,00 = tipe pasut diurnal
3.3.3 Survei Lapang
Survei ini bertujuan untuk memastikan lokasi-lokasi kejadian banjir rob (pasang) dengan merekam posisi koordinat menggunakan GPS dan mengetahui penyebab kejadian banjir rob (pasang) serta penggunaan lahan pada lokasi titik sampel tersebut. Titik yang diambil di lapangan untuk dijadikan sampel yaitu 8 titik. Pengambilan titik tersebut didasarkan pada wilayah-wilayah yang sering terjadi banjir rob (pasang) yang didasarkan informasi masyarakat sekitar lokasi kejadian. Kemudian hasil perekaman titik koordinat akan dibandingkan dengan peta penutupan lahan serta peta perubahan garis pantai hasil pengolahan citra dengan memetakan hasil perekaman titik koordinat tersebut.
3.3.4 Pemetaan Area Genangan Banjir Rob (Pasang) dengan Data DEM Pemetaan untuk area genangan banjir rob (pasang) diakurasi menggunakan data DEM-GDEM. Model elevasi dijital (Digital Elevation Model/DEM) merupakan penyajian permukaan relief secara dijital dengan elevasi atau ketinggian di atas datum geodetik. Data yang digunakan yaitu DEM-
GDEM 30 meter yang direkam pada tahun 2008 bulan Agustus. Pemoresesan data DEM ini dilakukan dengan beberapa tahap, tahap ekstraksi data DEM dan overlay data DEM dengan garis pantai. Tahap berikutnya, data DEM tersebut diekstraksi menjadi kontur ketinggian menggunakan software Global Mapper. Kontur ketinggian yang diekstraksi dengan memasukkan nilai sea level rise (kenaikan muka laut) pertahun pada wilayah kajian sehingga dihasilkan interval kontur. Prediksi genangan yang dihasilkan yaitu untuk 10 tahun agar genangan yang dihasilkan tampak lebih jelas dalam penganalisisan. Hasil kontur ketinggian tersebut akan dibentuk prediksi genangan banjir rob (pasang) menggunakan Arc GIS 9.3, melalui proses overlay dengan peta perubahan garis pantai yang diperoleh berdasarkan citra satelit. Pada penelitian ini elevasi yang digunakan tiap-tiap 5 meter dan prediksi yang digunakan untuk menghasilkan genangan yaitu selama 10 tahun. Pada Gambar 8, dijelaskan diagram alir prediksi genangan.
Gambar 8 Diagram alir prediksi area genangan DEM GDEM 30 meter Prediksi Area Genangan 10 tahun Perubahan Garis Pantai
Mean Sea Level (10 tahun)
14
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penutupan Lahan Tahun 2003 –