• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR GAMBAR

3. METODE PENELITIAN

FAO (2003), UU No. 18 Tahun 2012 GFSI (2012), FSVA (2009) Gambar 3 Blok diagram kerangka penelitian

Sedangkan model konseptual dari penelitian ini dapat digambarkan pada Gambar 4.

Gambar 4 Model konseptual ketahanan pangan

3. METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dibedakan menjadi beberapa katagori, untuk industri maritim diadakan di industri maritim yang ada di Jakarta, Surabaya, Batam, dan Makasar, dan beberapa wilayah di Indonesia bagian timur, sedangkan untuk unsur pemerintah selain pemerintah pusat, pemerintah daerah juga dijadikan responden yaitu daerah yang mempunyai kerawanan pangan tinggi menurut peta kerawanan pangan 2009 yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Pengumpulan data

33 dilakukan selama Juli sampai dengan September 2014, sedangkan pengolahan data dan analisis data dilakukan selama lebih kurang 2 bulan.

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan survei melalui penyebaran kuesioner kepada stakeholder (sebagai responden penelitian) meliputi perusahaan pelayaran, Pelindo, maritime manufacture, Pemda, anggota DPRD, Ditjen Perhubungan Laut, perusahaan perikanan, BULOG dan pakar. Responden diminta untuk mengisi kuesioner mengenai peran industri maritim dalam memperlancar sistem distribusi pangan untuk meningkatkan sistem ketahanan pangan nasional.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan data yang berskala Likert. Sedangkan sumber data yang digunakan pada penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang berasal dari sumber asli atau pertama. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara pendahuluan dan pengisian kuesioner penelitian oleh responden. Sedang data sekunder dikumpulkan dari literatur-literatur yang ada (studi literatur). Data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh dari sumber lain, baik dari publikasi maupun dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain.

Teknik Pengambilan Contoh

Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik wawancara langsung terstruktur terhadap responden dan pengisian kuesioner oleh responden penelitian yang merupakan stakeholder industri maritim. Teknik pengambilan contoh dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan contoh diawali dengan pemilihan terhadap instansi pemerintah dan BUMN yang terkait langsung dengan sistem ketahanan pangan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat daerah dan perusahaan ataupun lembaga lain yang terkait secara purposif. Pemilihan ini dilakukan secara purposif karena fakta di lapangan tampak bahwa tidak semua perusahaan ataupun lembaga mempunyai kompetensi untuk dijadikan responden sehingga hanya perusahaan ataupun lembaga tertentu yang dapat terlibat dalam penelitian ini (Sekaran, 2002). Selain itu, penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dengan metode dokumentasi atau kutipan langsung dari berbagai sumber melalui studi kepustakaan (literature study) dengan cara mempelajari dan menelaah literatur yang berupa buku, jurnal, maupun makalah.

Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berbentuk angket menggunakan skala likert, yaitu dengan menggunakan pilihan jawaban dengan 5 kategori pilihan, yaitu: (1) sangat setuju, (2) Setuju, (3) kurang setuju, (4) tidak setuju, dan (5) sangat tidak setuju. Alternatif jawaban diberikan bobot nilai 5 sampai dengan 1. Instrumen diuji

34

terlebih dahulu sebelum dipergunakan dalam penelitian. Pengujian instrumen tersebut meliputi uji keabsahan (validity) dan uji kehandalan (reliability) (Dericson, 2000). Dari hasil pengujian tersebut diperoleh butir-butir instrumen yang valid dan tidak valid. Instrumen yang tidak valid dibuang. Kuesioner digunakan untuk memperoleh data penelitian seperti dijabarkan sebagai berikut: (1) Industri Maritim, (2) Distribusi Pangan dan (3) Sistem Ketahanan Pangan Nasional.

Definisi Operasional variabel

Model penelitian mengacu kepada konsep pemikiran yang telah disusun mengikuti kaidah penelitian, dan merupakan teknik penelitian untuk mempelajari hubungan sebab akibat antar variabel laten (unobservable variables). Objek penelitian yang ingin dilihat adalah peranan industri maritim di Indonesia untuk mempercepat pendistribusian pangan di wilayah terpencil dalam rangka memperkokoh ketahanan pangan nasional. Variabel unobservable tidak dapat diukur secara langsung, sehingga harus dilakukan pendefinisian secara operasional melalui indikator untuk mengukurnya.

Sistem ketahanan pangan nasional

Pengertian tentang pangan menurut Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Menurut FAO (2013), selama ini ketahanan pangan diukur menggunakan indikator gizi kurang, yang merupakan ukuran dari kekurangan energi diet. Sebagai indikator mandiri, prevalensi indikator kekurangan gizi tidak mampu menangkap kompleksitas dan multidimensionality ketahanan pangan (Worsfold, 2006; Shapouri, 2010), seperti yang didefinisikan oleh Deklarasi KTT Dunia tahun 2009 tentang Ketahanan Pangan: "Ketahanan pangan terjadi ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial dan ekonomi yang cukup, aman dan bergizi, yang memenuhi kebutuhan diet mereka dan preferensi makanan untuk hidup aktif dan sehat".

Didasarkan pada definisi tersebut, menurut FAO (Kim dan Kim, 2009) ukuran ketahanan pangan dapat diidentifikasi menggunakan 4 dimensi yaitu: food availability, economic and physical access to food, food utilization and stability (vulnerability and shocks) over time. Penelitian ini mengacu pada World Food Programe, FAO, dan Global Food Security Index (2013), ketahanan pangan diukur mengunakan 3 dimensi, yaitu (i) Availibility, (ii) Accesability/ affordability, dan (iii) Quality and Safety.

Dimensi availability mengukur kecukupan pasokan pangan nasional, risiko gangguan pasokan, kapasitas nasional untuk menyebarluaskan makanan, dan upaya penelitian untuk meningkatkan output pertanian (Kruemas T, 2012; Kim K

35 dkk, 2011; Lambert, 1998, Bulte dkk, 2007). Dimensi ketersediaan diukur menggunakan 7 indikator yaitu:

Y11: Kecukupan pasokan (Sufficiency of supply)

Y12: Alokasi penelitian dan pengembangan bidang ketahanan pangan (Public expenditure on agricultural research and development) Y13: Infrastruktur pertanian (Agricultural infrastructure)

Y14: Ketidakpastian produksi pertanian (Volatility of agricultural production)

Y15: Resiko stabilitas politik (Political stability risk) Y16: Tingkat korupsi (Corruption)

Y17: Kapasitas penyerapan pangan di perkotaan (Urban absorption capacity)

Dimensi affordability mengukur kemampuan konsumen untuk membeli makanan, kerentanan mereka terhadap ketidakpastian harga, dan adanya program dan kebijakan untuk mendukung mereka ketika ketidakpastian harga terjadi (FSIS, 2005; Mezetti dan Billari, 2005; Andreyeva dkk, 2010; Martin dan Anderson, 2012). Dimensi Affordability diukur mengunakan 6 indikator, yaitu:

Y21: Proporsi pengeluaran belanja rumah tangga untuk bahan makan dari total pengeluaran (Food consumption as a proportion of total household expenditure)

Y22: Proporsi populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan (Proportion of population living under or close to the global poverty line)

Y23: GDP per kapita (at purchasing power parity, or PPP, exchange rates)

Y24: Tarif import hasil pertanian (Agricultural import tariffs)

Y25: Program jaring pengaman pangan (Presence of food safety net programmes)

Y26: Akses ke pembiayaan bagi petani (Access to financing for farmers) Dimensi Quality and Safety mengukur apa yang sering disebut sebagai "utility" dalam istilah keamanan pangan (Pouliot dan Summer, 2008). Dimensi ini menilai keberagaman dan rata-rata kualitas nutrisi makanan, serta keamanan makanan (Steenkamp dan van Trijd, 1996; Manning dkk, 2006; Canavari, 2010). Dimensi Quality and Safety diukur menggunakan 5 indikator, yaitu:

Y31: Keragaman makanan (Diet diversification)

Y32: Komitmen pemerintah untuk meningkatkan standar nutrisi masyarakat (Government commitment to increasing nutritional standards)

Y33: Ketersediaan mikronutrien (Micronutrient availability) Y34: Kualitas protein (Protein quality)

Y35: Keamanan pangan (Food safety)

Sehingga dalam penelitian ini variabel sistem ketahanan pangan nasional dapat digambarkan dalam model operasional seperti pada Gambar 5.

36

(Sumber: GFSI (2012), FSVA (2009), FAO(2013) )

Gambar 5. Model national food security

Distribusi pangan

Produksi dan ketersediaan pangan yang cukup di tingkat nasional dan provinsi tidak secara otomatis menjamin ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dan individu. Pangan mungkin tersedia dan dapat diakses namun sebagian anggota rumah tangga mungkin tidak mendapat manfaat secara maksimal apabila kelompok ini tidak memperoleh distribusi pangan yang cukup, baik dari segi jumlah maupun keragaman atau apabila kondisi tubuh mereka tidak memungkinkan penyerapan makanan karena penyiapan makanan yang tidak tepat atau karena sedang sakit.

Ditinjau dari beberapa dimensi serta indikator yang digunakan untuk mengukur ketahanan pangan di atas, belum secara nyata menempatkan aspek distribusi sebagai aspek yang sangat penting dalam peningkatan ketahanan pangan. Sebagai negara kepulauan, aspek distribusi yang menjadi sangat penting mengingat tiap-tiap daerah di Indonesia mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, sehingga kebutuhan pangan di suatu daerah tidak dapat dipenuhi semua oleh produksi di daerah tersebut, sehingga faktor transportasi terutama transportasi laut menjadi kebutuhan yang sangat vital (Purwanti, 2008). Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan, faktor karakteristik dan sosial budaya daerah mempengaruhi produksi pangan, dimana untuk produksi 9 bahan pokok terutama beras nasional sebagai bahan pokok utama masyarakat Indonesia masih didominasi oleh pulau Jawa dan Sumatra, sehingga keterjangkauan terhadap bahan pokok tersebut masih tidak merata. Selain dari produksi yang belum merata di semua daerah, juga karena infrastruktur yang berupa jalan, alat transportasi laut sebagai penghubung antar pulau, dan fasilitas pelabuhan masih belum memadai. Dari permasalahan tersebut, maka ketersediaan serta kebijakan pemerintah terhadap industri maritim yang mewadahi transportasi laut, pelabuhan dan sarana pendukungnya berpengaruh sangat signifikan terhadap ketersediaan pangan nasional secara berkelanjutan melalui proses distribusi pangan yang akan secara

37 nyata mempengaruhi ketahanan pangan terutama di daerah yang bukan produsen pangan (Singh, 2005; Nurmalia, 2007).

Menurut Kepmenperindag No 115/mpp/kep/2/1998, Sembako adalah kependekan dari sembilan bahan pokok yang terdiri dari beras, gula pasir, minyak goreng dan margarin, daging (sapi dan ayam), telur ayam, susu, jagung, minyak tanah dan garam beryodium. Bahan yang dikategori sembilan hal penting bagi kehidupan dasar ini dapat saja berubah sesuai kondisi, misal sebelum tahun 1998, termasuk Sembako (waktu itu) diantaranya sabun cuci, tektil kasar dan batik kasar. Waktu itu, daging sapi tidak termasuk dalam sembako. Jadi suatu komoditas dikategorikan sebagai sembako, bila diputuskan dan ditetapkan oleh pemerintah, yakni bahan-bahan yang betul-betul dasar dalam menopang perikehidupan rakyat. Suatu bahan pokok kehidupan dikategorikan sebagai sembako oleh pemerintah, artinya pemerintah mengambil tanggungjawab langsung untuk tidak membiarkan stok barang dan harganya menjadi liar mengikuti mekanisme pasar. Walau pemerintah Indonesia menghormati pasar bebas, tapi sepanjang menyangkut sembako, maka pemerintah harus siap turun tangan menormalkan situasi, demi normalnya kehidupan rakyatnya. Istilah sembako (menurut istilah/ kategorisasi Deperindag) ini tidak semua minyak goreng dikategorikan sembako, sebab yang masuk sebagai sembako hanyalah minyak goreng dalam bentuk curah. Sedangkan minyak goreng dalam kemasan belum tentu dikategorikan sembako. Demikian pula untuk kategori sembako yang lain, yang dimasukkan sebagai sembako biasanya adalah dalam bentuk yang massal dengan harga yang memang termurah di pasar.

Distribusi pangan secara nasional harus dapat diintegrasikan dengan sistem logistik nasional agar efektif dan efisien (Vickery dkk, 2003). Salah satu elemen dari sistem logistik nasional adalah masalah transportasi. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan dan ketidakpastian iklim berdampak pada mahalnya biaya transportasi yang harus ditanggung untuk mendistribusikan komoditi agar menjadi produk-produk unggulan dalam negeri (Yanes dkk, 2010; Coates dkk, 2006). Mahalnya biaya distribusi menjadikan lebarnya disparitas harga antar wilayah sehingga tidak mampu bersaing dengan produk sejenis yang berasal dari luar negeri (Barnett dan Coble, 2011). Menyimak kasus yang baru-baru ini terjadi di Indonesia yaitu masalah impor daging sapi, sebagai negara yang besar dan mempunyai tanah yang subur, tentunya tidaklah sulit untuk melakukan budi daya sapi unggulan untuk mencapai kemandirian daging nasional. Namun yang terjadi adalah komoditi yang berada dalam negeri tersebut kalah bersaing dengan produk impor dikarenakan biaya transportasi untuk komoditi impor jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya kapal untuk mengangkut komoditi dari daerah di Indonesia. Sebagai contoh, Menteri Pertanian beberapa saat yang lalu menyatakan bahwa biaya pengapalan sapi dari Kupang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya pengangkutan sapi dari Darwin.

Menurut pasal 47 UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, distribusi pangan merupakan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Distribusi pangan dilakukan untuk memenuhi pemerataan ketersediaan pangan ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkelanjutan. Distribusi pangan dilakukan agar perseorangan dapat memperoleh pangan dalam jumlah yang cukup, aman, bermutu, beragam, bergizi, dan terjangkau baik secara fisik maupun secara ekonomi.

38

Distribusi pangan dilakukan melalui pengembangan sistem distribusi pangan yang dapat menjangkau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara efektif dan efisien. Pengelolaan sistem distribusi pangan harus dapat mempertahankan keamanan, mutu, gizi, dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat. Mengacu pada UU No 18 Tahun 2012 tersebut, maka keberhasilan dari distribusi pangan dapat dilihat dari dua aspek penting yaitu pengembangan sistem distribusi dan pengelolaan sistem distribusi. Indikator kinerja dari distribusi pangan sesuai pasal 49 UU No 18 tersebut adalah:

Variabel pengembangan sistem diukur menggunakan indikator:

X41: Terwujudnya pengembangan sistem distribusi pangan melalui pelayanan transportasi yang efektif dan efisien.

X42: Adanya pengembangan sistem regulasi dari pemerintah daerah yang mempermudah bongkar muat produk pangan

X43: Tersedianya pengembangan sistem sarana dan prasarana untuk distribusi pangan terutama pangan pokok.

X44: Tersedianya pengembangan sistem lembaga distribusi pangan di masyarakat.

Selanjutnya untuk variabel pengelolaan sistem diukur menggunakan indikator:

X51: Terwujudnya pengelolaan sistem distribusi pangan melalui pelayanan transportasi yang efektif dan efisien.

X52: Adanya pengelolaan sistem regulasi dari Pemerintah Daerah yang mempermudah bongkar muat produk pangan

X53: Tersedianya pengelolaan sistem sarana dan prasarana untuk distribusi pangan terutama pangan pokok.

X54: Tersedianya pengelolaan sistem lembaga distribusi pangan di masyarakat.

Sehingga persamaan model untuk distribusi pangan dapat digambarkan seperti pada Gambar 6.

(Sumber: UU No.18 Tahun 2012 tentang Pangan)

Gambar 6 Model distribusi pangan

39 Industri maritim

Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terintegrasi yang terdiri atas berbagai subsistem. Subsistem utamanya adalah ketersediaan pangan, distribusi pangan dan konsumsi pangan. Terwujudnya ketahanan pangan merupakan sinergi dari interaksi ketiga subsistem tersebut. Peran industri maritim dalam meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia sangatlah besar, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan. Transportasi laut sebagai salah satu bagian dari industri maritim di Indonesia yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional. Komponen utama dari industri maritim yang terkait langsung dengan sistem ketahanan pangan terutama menyangkut distribusi pangan dapat dikelompokkan menjadi 3 klaster industri yaitu: industri jasa maritim, industri perkapalan, dan industri pangan strategis.

Industri jasa maritim berkaitan dengan kegiatan usaha bidang jasa yang berhubungan dengan sektor kelautan yang terdiri dari pelabuhan, pergudangan, pelayaran, dan industri pariwisata bahari (Gunther, 2014). Selain industri pelbuhan, industri pergudangan dan industri pelayaran, sector maritime Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk mengembangkan industry pariwisata bahari. Industri pariwisata bahari jika dikelola dengan manajemen yang baik maka akan dapat menghasilkan devisa yang sangat besar. Multiplyer effeck dari industri pariwisata bahari dapat meningkatkan kesempatan kerja dan dapat mensejahterakan masyarakat yang selanjutnya dapat meningkatkan ketahanan pangan (Gautama, 2011). Industri jasa maritim meliputi:

X11: Industri Pelabuhan X12: Industri Pergudangan X13: Industri Pelayaran X14: Industri Pariwisata.

Menurut Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 124/M-IND/PER/10/2009 tentang Road Map Pengembangan Klaster Industri Perkapalan, pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa Industri Perkapalan terdiri dari:

1. Indusri Kapal/ Perahu (KLBI 35111);

2. Industri Peralatan dan Perlengkapan Kapal (KLBI 35112) 3. Industri Perbaikan Kapal (KLBI 35113)

4. Industri Pemotongan Kapal (KLBI 35114) 5. Industri Bangunan Lepas Pantai (KLBI 35115)

6. Industri Pembuatan dan Pemeliharaan Perahu Pesiar, rekreasi dan Olahraga (KLBI 351120)

Dari enam kelompok klaster industri perkapalan tersebut, bidang yang terkait dengan ketahanan pangan adalah kelompok a, b, c, dan f, yaitu:

X21: Industri Kapal

X22: Industri Peralatan dan Perlengkapan Kapal X23: Industri Perbaikan Kapal

X24: Industri Pembuatan dan Pemeliharaan Perahu Pesiar, rekreasi dan Olahraga

40

Sehingga pada penelitian ini keempat kelompok industri tersebut dijadikan sebagai indikator untuk mengukur variabel Industri maritim. Keberhasilan dalam kepemihakan terhadap industri maritim dapat dilihat dari sejauh mana pemerintah mengalokasikan anggaran di sektor tersebut dan sejauh mana kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah dapat meningkatkan gairah masyarakat untuk mengembangkan sektor kemaritiman tersebut.

Salah satu sector andalan yang dimiliki Indonesia sebagai Negara kepulauan adalah sektor perikanan tangkap. Masih rendahnya kontribusi sector ini salah satu nya disebabkan karena masih belum memadainya regulasi yang dijadikan payung hukum, serta konsistensi aparat pemerintah dalam penegakkan hukum terhadap pelanggaran yang terjadi di laut wilayah Indonesia. Sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia sebagaimana negara-negara kepulauan lain sudah seharusnya Indonesia menempatkan industri perikanan sebagai bagian dari industri pangan strategis mengingat potensi perikanan nasional sangat besar (Islam, 2008; Sowman, 2010). Potensi perikanan di Negara kepulauan dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat jika dikelola dengan manajemen yang baik (Roos, 2007). Sedang kelompok industri pangan strategis meliputi:

X31: Industri Penangkapan Ikan/ Hasil Laut X32: Industri Pengolahan Ikan/ Hasil Laut X33: Industri Pemasaran Ikan/Hasil Laut. X34: Industri Pangan Nasional

Sehingga jika ditinjau dari aspek industri maritim, maka model industri maritim dapat dirumuskan sebagaimana terlihat pada Gambar 7:

41 Model Penelitian

Dari definisi operasional variabel yang sudah dijabarkan, maka dapat disusun model lengkap tentang pengaruh industri maritim dan distribusi pangan di wilayah terpencil terhadap sistem ketahanan pangan nasional.

Gambar 8 Model lengkap ketahanan pangan di daerah terpencil.

Hipotesis Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui model peningkatan industri maritim di Indonesia guna mempercepat pendistribusian pangan di wilayah terpencil dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional dengan menggunakan model SEM (Sabarella, 2009; Stata, 2011). Model SEM merupakan evolusi dari model persamaan berganda (regresi) yang dikembangkan dari prinsip ekonometri dan digabungkan dengan analisis jalur (path analysis) dan prinsip analisis faktor (factor analysis) dari psikologi dan sosiologi (Hair dkk, 2010; Ghozali, 2010)). Pada metode SEM dilakukan pengujian model struktural dan model measurement secara bersama-sama. Pengujian model struktural merupakan pengujian hubungan antara konstruk yang meliputi variabel endogen dan variabel eksogen, sedangkan pengujian model measurement merupakan pengujian hubungan antara indikator dan konstruk. Pada SEM dapat dilakukan pemeriksaan validitas dan realiabilitas instrumen menggunakan Confirmatory Factor Analysis, dan pengujian hubungan antar variabel dan pengujian model secara serempak menggunakan Path Analysis. Pengujian kebaikan model pada SEM menggunakan ukuran goodness of fit sebagai ukuran kecocokan/kebaikan model. Ukuran goodness of fit yang digunakan untuk menguji kebaikan model adalah Chi Suare, Goodness of Fit Index (GFI), Adjusment Goodness of Fit Index (AGFI), Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA), Tucker Lewis Index (TLI), Comparative Fit Index (CFI), serta nilai probability (p).

42

Dalam implementasi sesungguhnya seringkali diperlukan untuk mengetahui suatu variabel eksogen yang secara parsial berpengaruh terhadap variabel endogen. Untuk mengetahui pengaruh variabel eksogen secara parsial diperlukan pengujian hipotesis sesuai model. Berdasarkan penjelasan variabel di atas, maka uji hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel eksogen secara parsial terhadap variabel endogen yang dirumuskan sebagai berikut:

H1: Industri maritim memiliki pengaruh signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.

H2: Industri maritim mempunyai pengaruh signifikan terhadap distribusi pangan nasional.

H3: Pendistribusian pangan memiliki pengaruh signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.

H4: Industri maritim memiliki pengaruh terhadap ketahanan pangan nasional melalui distribusi pangan.

Penarikan kesimpulan pada penelitian ini dilakukan dengan menganalisa nilai loding factor terkait. Selain loading factor, ada indikator lain yang digunakan untuk menguji signifikansi model secara struktural (SEM) yaitu menggunakan indeks GFI, AGFI, RMSEA, TLI, CFI, dan p value.

Persamaan Model Penelitian

Model yang ditampilkan adalah model Structural Equation Modeling (SEM) yang digambarkan menggunakan software AMOS 21.0. SEM merupakan suatu teknik statistik untuk mempelajari hubungan sebab akibat antar variabel laten (unobservable variable), yaitu suatu alat dalam statistika untuk memeriksa hubungan antara satu atau lebih variabel independen (exogen) dan variabel dependen (endogen). SEM merupakan gabungan antara analisis regresi, korelasi, path analysis, dan confirmatory factor analysis (CFA) yang biasanya dipakai dalam bidang sosial dan psikologi, tapi sekarang telah berkembang lebih jauh lagi. Model dapat digunakan juga dalam bidang manajemen, ekonomi, dan lainnya.

Dalam rangka menjawab hipotesis penelitian, rumus model struktural berdasarkan model dan hipotesis adalah sebagai berikut:

Untuk mendapatkan η1 pendukung jawaban hipotesis 1: η1= γ11. ξ4 + γ12. ξ5 + γ13 . ξ6

Untuk mendapatkan η2 pendukung jawaban hipotesis 2 dan 3: η2= γ31. ξ7 + γ32. ξ8

Untuk mendapatkan η3 pendukung jawabanhipotesis 4: η3= γ21. ξ1+ γ22. ξ2 + γ2.3. ξ3

Keterangan:

ξ1 = Ketersediaan pangan (availibility) ξ2 = Daya beli masyarakat (affordability)

ξ3 = Kualitas dan keamanan pangan (quality and safety) ξ4= Industri perkapalan

43 ξ5 = Industri jasa maritim

ξ6 = Industri pangan strategis ξ7 = Pengembangan sistem ξ8 = Pengelolaan sistem

η1 = Ketahanan Pangan Nasional (NFS) η2 = Industri maritim

η3 = Distribusi pangan

Pada Gambar 9 tersebut dapat dilihat bahwa ηn adalah simbol variabel utama ke-n yang disebut dengan Eta. Sedangkan ξn merupakan simbol bagi variabel laten yang membentuk second order ke-n yang biasa disebut sebagai Xi. Pada penelitian ini variabel ketahanan pangan nasional (NFS), distribusi pangan merupakan variabel endogen, sedangkan variabel industri maritim dan distribusi pangan sebagai variabel eksogen. Dalam model penelitian ini variabel distribusi pangan bisa bertindak sebagai variabel endogen maupun eksogen. Variabel-variabel tersebut, baik endogen maupun eksogen biasa dikenal sebagai Variabel-variabel laten.

Model SEM sesuai Gambar 9 menggambarkan hubungan antara variabel laten dengan masing-masing indikator yang membangunnya. Indikator-indikator tersebut dilambangkan dengan notasi X dan Y. X adalah variabel indikator untuk variabel laten eksogen dan Y adalah variabel indikator untuk variabel laten endogen. Persamaan antara indikator dengan variabel laten adalah:

ξ1= λ11 X11+ λ12 X12+ λ13 X13 + λ14 X14 ξ2= λ21 X21+ λ22 X22+ λ23 X23 + λ24 X24 ξ3= λ31 X31+ λ32 X32+ λ33 X33 + λ34 X34 ξ4= λ41 Y11+ λ42 Y12+ λ43 Y13 + λ44 Y14 + λ42 Y15+ λ43 Y16 + λ44 Y17 ξ5= λ51 Y21+ λ52 Y22+ λ53 Y23 + λ54 Y24 + λ52 Y25+ λ53 Y26 ξ6= λ61 Y31+ λ62 Y32+ λ63 Y33 + λ64 Y34 + λ62 Y35+ λ63 Y36 ξ7= λ71 X41+ λ72 X42+ λ73 X43 + λ74 X44 ξ8= λ81 X51+ λ82 X52+ λ83 X53 + λ84 X54

Persamaan tersebut di atas memperlihatkan bahwa variabel laten yang dinotasikan dengan lambang ξn (Xi) dan ηn (Eta) dibangun oleh indikator-indikator yang dinotasikan dengan huruf Xn dan Yn. Besar kontribusi yang diberikan Xn terhadap ξn dan ηn dilambangkan dengan notasi λ (lambda).

44

Gambar 9 Model lengkap penelitian

Penentuan Jumlah Sampel

Hair (2010) menyatakan bahwa ukuran sampel minimal dalam model persamaan struktural adalah 100. Ferdinand (2005) menyatakan bahwa bila ukuran sampel terlalu besar maka model menjadi sangat sensitif sehingga sulit

Dokumen terkait