DAFTAR PUSTAKA
C. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap 2009/2010 mahasiswa semester 5 A sejumlah 41 mahasiswa, dengan 18 mahasiswa laki-laki dan 23 mahasiswa perempuan. Objek penelitian ini adalah mahasiswa. Varibel yang diambil adalah hasil belajar mahasiswa dan aktivitas belajar mahasiswa dalam pembelajaran. Prosedur kerja penelitian dilaksanakan seperti bagan siklus model penelitian tindakan kelas pada gambar 1 berikut :
(Arikunto, 2006,97) Gambar 1. Siklus Model Penelitian Tindakan Kelas
Pengambilan data hasil belajar mahasiswa digunakan dengan metode tes soal, data tentang aktivitas belajar diambil dengan menggunakan lembar observasi dan check list. Indikator pembelajaran
Siklus I Perencanaan Pelaksanaan
Observasi Refleksi
Siklus II
Pelaksanaan Perencanaan berdasarkan refleksi siklus I
Observasi Refleksi
Siklus III, Jika diperlukan
fisika modern menggunakan pembelajaran berbasis masalah melalui metode diskusi berhasil bila ketuntasan rata-rata hasil belajar kognitif fisika modern minimal 65, indikator lainya adalah persentase aktivitas belajar mahasiswa dalam kategori baik (>60%) atau baik sekali (<80%). B. Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan berupa siklus-siklus pembelajaran. Dalam penelitian ini kegiatan pembelajaran dilakukan peneliti yang bertindak sebagai dosen, dosen rumpun lainnya sebagai pengamat. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, setiap siklusnya satu kali pertemuan dengan waktu 120 menit. Berdasarkan observasi dan evaluasi maka hasil penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Siklus pertama
Siklus pertama terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi serta planning. Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus pertama adalah sebagai berikut :
a. Hasil Evaluasi pada siklus pertama mengalami peningkatan untuk rata-rata hasil belajar kognitif base line 64,09 menjadi 66,63.
b. Aktivitas belajar mahasiswa di kelas 43,33% (kategori cukup) menjadi 56,45% (kategori cukup), faktor penyebabnya antara lain Pendapat yang diungkapkan mahasiswa cenderung sama, Diskusi masih dikuasai oleh mahasiswa yang pandai, Observer tidak dapat mencatat nama-nama mahasiswa, karena banyak yang belum dikenal, Setiap pembahasan perlu direview agar tidak perjadi pengulangan permasalahan, Kelompok 10 (bagian belakang) kurang mengikuti diskusi secara maksimal, Mahasiswa ada yang menggunakan HP pada saat pembelajaran, posisi duduk di awal tidak representatif untuk diskusi.
Walaupun hasil belajar sudah memenuhi standar minimal kelulusan, namun persentasi aktivitas belajar mahasiswa belum memenuhi kriteria pada indikator yakni kategori baik (lebih dari
60%), sehingga perlu dilakukan siklus II. 2. Siklus Kedua
Seperti pada siklus pertama, siklus kedua ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan rfleksi. Adapun keberhasilan yang diperoleh selama siklus kedua ini adalah : a. Meningkatnya nilai rata-rata tes hasil belajar kognitif
mahasiswa dari 66,63 pada siklus pertama menjadi 79,46 pada siklus kedua. Hal ini disebabkan karena dosen intensif melakukan bimbingan melalui internet (facebook), memotivasi mahasiswa dan mengarahkan permasalahan pada saat mahasiswa mengalami kesulitan pada kegiatan pembelajaran.
b. Sebagaian mahasiswa yang sebelumnya belum aktif, sudah ikut mewarnai diskusi, Pendapat yang disampaikan mahasiswa sudah beragam walaupun masih bersifat tekstual, Penggunaan internet pada saat pembelajaran membantu mahasiswa dalam menganalisis permasalahan. Faktor ini meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa dari 56,45 % menjadi 65,50% (kategori baik).
Peningkatan rata-rata hasil belajar Fisika modern pada ranah kognitif dan persentase aktivitas belajar mahasiswa kami paparkan pada tabel 1.
Tabel 1. Peningkatan rata-rata Hasil Belajar Fisika Modern ranah Kognitif dan persentase aktivitas belajar mahasiswa
Dengan diterapkannya pembelajaran berbasis masalah melalui diskusi, ternyata berhasil meningkatkan rata-rata hasil belajar Fisika Modern secara berkesinambungan. Berdasarkan data yang diperoleh dari data awal (base line), siklus I maupun siklus II. Rata-rata hasil belajar ranah kognitif awal sebagai base line sebesar 64,09, pada siklus I
Base line Siklus I Siklus II
Rata-rata penilaian hasil belajar ranah kognitif 64,09 66,63 79,46 Persentase aktivitas belajar mahasiswa 43,33% 56,45% 65,50%
sebesar 66,63 dan pada sikus II sebesar 79,46. Persentase aktivitas belajar mahasiswa juga mengalami peningkatan dari 43,33% menjadi 56,45% pada siklus I, 65,50% pada siklus II. Peningkatan ini terjadi karena dosen memberikan motivasi kepada mahasiswa yang tidak aktif untuk mewarnai proses diskusi, memberikan perhatian khusus (dengan menunjuk langsung mahasiswa yang tidak aktif) serta memberikan penghargaan lebih kepada mahasiswa yang bertanya, mengungkapkan pendapat dan memberikan solusi permasalahan, menambahkan pertanyaan unit.
E. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, dapat disimpulkan sebagai berikut : Penggunaan pembelajaran berbasis masalah melalui diskusi dapat meningkatkan rata-rata hasil belajar Fisika modern pada ranah kognitif dari 64,09 menjadi 79,46 dan persentase aktivitas belajar mahasiswa dari 56,45% (kategori cukup) menjadi 65,50% (kategori baik) melalui dua siklus.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi, 2006. Dasar-dasar evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Haris Mudjiman. 2006. Belajar Mandiri. Surakarta: UNS Press
Ibrahim, M. dan Nur, M. (2005). Pengajaran Berdasarkan Masalah
(Edisi 2). Surabaya :
Unesa – University Press.
Imam Mulyana. 2008. Perbedaan problem-solving dan discussion
making.Jakarta : Oeconomicus.
Syaiful Bahri D. & A. Zain. 2006. Startegi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Oleh : Sardulo Gembong
Program Studi Pendidikan Matematika ABSTRAK
Mata kuliah struktur aljabar merupakan salah satu mata kuliah yang yang memerlukan konsep dasar yang cukup kuat. Mahasiswa selalu mengalami kesulitan memahami teorema-teorema yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Apalagi ketika mengaplikasikan teorema dalam berbagai persoalan, umumnya banyak yang mengalami kesulitan. Melalui kegiatan lesson study dengan menerapkan model pembelajaran debat antar kelompok ternyata mampu meningkatkan pemahaman konsep dan aktivitas belajar mahasiswa.
Kata Kunci. Pembelajaran debat antar kelompok, pemahaman konsep, aktivitas belajar
A. Pendahuluan
Mata kuliah struktur aljabar merupakan salah satu mata kuliah yang yang memerlukan konsep dasar yang cukup kuat. Penulis sebagai pengampu mata kuliah ini, cukup merasakan berbagai kesulitan yang dialami mahasiswa kami. Mahasiswa selalu mengalami kesulitan memahami teorema-teorema yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Apalagi ketika mengaplikasikan teorema dalam berbagai persoalan, umumnya banyak yang mengalami kesulitan. Kesulitan yang sering dialami adalah terletak pada tingkat pemahaman konsep dasarnya. Berbagai usaha telah kami lakukan, namun kenyataanya belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, perlu penerapan suatu model pembelajaran yang mampu menanamkan konsep pada mahasiswa sehingga mereka mampu menerapkan berbagai teorema dalam
berbagai kasus yang terkait dengan materi yang telah dipelajari. Penulis mencoba menerapkan metode diskusi antar kelompok dalam kegiatan lesson study. Melalui kegiatan lesson study kelemahan yang terjadi selama pembelajaran berlangsung dapat segera diketahui dan dicari solusinya untuk perbaikan pembelajaran berikutnya.
B. Pembahasan
Pelaksanan lesson study pada rumpun ini dilakukan sebanyak 3 kali dan 1 kali open lesson. Tahap awal pelaksanaan lesson study didahului dengan workshop Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Hasil workshop RPP untuk pelaksanaan kegiatan pertama sebagai berikut:
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)