• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anggota III : Drs M Takari, M.Hum., Ph.D ( )

1.8 Metode Penelitian

Penelitian ini direncanakan sebagai riset pustaka dan metode lapangan (wawancara dan pengamatan). Dalam penelitian inidigunakan metode deskriktif kwantitatif. Lagu dengan judul DITAKKO HO ROHAKKI penyanyi Jack Marpaung ( mirip lagu THATS WHY penyanyi Michael Learn To Rock ), lagu dengan judul LADYpenyanyinya Paniel Panjaitan ( mirip Lagu dengan judul SHE’S GONE penyanyi Steel Heart),lagu dengan judul Maria penyanyinya Marsada Band ( mirip Lagu dengan judul MARIAN penyanyi The Cats). Masih dari lagu yang sama melodinya akan tetapi makna lirik berbeda dan versi yang berbeda (asli dan tiruan),dapat digali atau diperoleh pengetahuan tentang apa, siapa, di mana, untuk apa, mengapa, kapan,bagaimana, dsb.sesuatu itu terhubung atau berhubung kait dengan lagu tersebut.

1.9 Sistematika Penulisan

Penelitian ini direncanakan terdiri dari lima bab. Bab Iterdiridari Pendahuluan berisi tentang Latar Belakang penelitian, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Setersunya Bab II berupa Gambaran Umum Kebudayaan Musik batak Toba: Tradisi dan Modernisasi. Bab II ini memfokuskan kajian aspek hostoris yang melatarbelakangi budaya music popular Batak Toba yang melodinya diadopsi dari kebudayaan Barat. Aspek religi terutama agama Kristen menjadi factor penghubung dua budaya ini.

Setersunya Bab III bertajuk Analisis Komparatif Struktur Melodi Tiga Lagu Pop Barat dan Batak Toba. Bab ini mengkhususkan kajian terhadap struktur melodi tiga lagu pop Batak Toba yang melodinya diadopsi dari melodi music pop Barat. Tujuan utmanya adalah seberapa jauh perkembangan dan perubahan yang terjadi setelah diolah kembali oleh para pemusik Batak Toba.

Bab IV berjudul Makna Teks Tiga Lagu Pop Barat dan Batak Toba yang bermelodi sama. Pada bab ini focus kajian dilakukan terhadap teks-teks yang digunakan dalam masing-masing lagu. Kajian iniuntuk menjawab apakah lagu pop Batak Toba memiliki tema yang sama atau berubah temanya disbanding dengan lagu asalnya dalam budaya music pop Barat.

Bab V berjudul Respon Pendengar dalam Budaya Batak Toba. Bagian ini mengkaji langsung bagaimana tanggapan, apresiasi, rekasi dari para pendengar ketika mendengarkan lagu-lagu Batak Toba yang melodinya diadopsi dari musik pop Barat tersebut.

Bab VI adalah Kesimpulan dan Saran, yang merupakan bahagian penutup dari tulisan berbentuk tesis ini.

BAB II

GAMBARAN UMUM KEBUDAYAAN MUSIK BATAK TOBA:

TRADISI DAN MODERNISASI

Apa yang dapat dilihat dan diamati mengenai lagu-lagu popular dalam kebudayaan Batak Toba, yang sebahagiannya mengadopsi lagu-lagu dari budaya musik pop daerah lain, nasional, bahkan global, khususnya music Barat, tidaklah terjadi begitu saja, namun memiliki sejarah yang panjang. Dalam hal ini perubahan dan kontinuitas berjalan bersama di dalam kebudayaan Batak Toba. Perubahan yang terjadi selain dari factor internal, juga factor eksternal berupa adopsi lagu-lagu dengan melodi yang seudah umum dikenal, dan dipandang sebagai bahagian dari identitas orang Batak dalam konteks globalisasi. Namun demikian, secara inovatif, para pencipta dan penyanyi membuat lirik lagunya yang khas Batak Toba. Untuk mengetahui, semua proses ini, alangkah baiknya dilihat terlebih dahulu bagaimana budaya tradisi Batak Toba, dan kemudian bagaiman proses modernisasinya, terutama yang berkait erat dengan musik popular Batak Toba yang melodinya diadopsi dari kebudayaan musik pop Barat.

2.1 Adat

Salah satu pendukung budaya tradisi Batak Toba, adalah apa yang disebut dengan adat. Di dalam kebudayaan Batak Toba, adat merupakan warisan yang diperoleh dari leluhurnya—dan wajib dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Secara kultural, adat dalam masyarakat Batak Toba ini menjadi pedoman kepada setiap individu dan kelompok, dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya. Di dalamadat

terdapat unsur hukum, aturan, norma, nilai, dan tata cara yang mengatur tentang hubungan manusia dan manusia, baik secara individu maupun kelompok.

Dalam persepsi budaya masyarakat Batak Toba, adat merupakan pemberian Debata Mulajadi Na Bolon1

Selain itu, adatmerupakan kebiasaan (hasomalan) yang dapat diartikan sebagai aturan-aturan yang dibiasakan (yang berdimensi ide dan perilaku sekaligus). Pengertian lain dari istilah adat ini adalah kebiasaan di suatu tempat atau yang terdapat pada suatu kelompok marga(klen) yang diturunkan dari orang-orang tua dan diwariskan secara turun temurun, berupa pesan tentang aturan dan hukum yang tidak boleh diabaikan atau dilupakan. Seterusnya, hukum adat yang merupakan pemberian dari Debata Mulajadi Na Bolon sebagai perintah yang harus dituruti oleh segenap warga masyarakat Batak Toba, dimulai dari kebiasaan adat yang dilaksanakan oleh sekelompok masyarakat. Dampaknya adalah tertanam

yang harus dituruti oleh makhluk penciptan-Nya, dengan tujuan aman, damai, sentosa seluruh alam ini. Adat tersebut menjadi hukum (yang tidak tertulis) bagi setiap orang yang memberikan pengetahuan tentang cara kehidupan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, menurut standar kebudayaan Batak Toba.

1

Dalam sistem religi tradisi masyarakat Batak Toba Lama,Debata Mula Jadi Na Bolon dipercayai memiliki kekuasaan di atas langit yang mencakup jiwa dan roh yaitu: tondi,sahala, dan begu. Yang dimaksud tondi dalam system kepercayaan ini,adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan. Oleh karena itu tondi memberikan nyawa kepada manusia. Tondi didapat sejak seseorang janin berada di dalam kandungan ibundanya. Jikalau tondi meninggalkan badan (raga) seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal dunia. Maka ketika tondi meninggalkan raga seseorang, dalam budaya Batak Toba selalu diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon (roh jahat) yang menawannya. Kemudian termonilogi sahala dapat diartikan sebagai jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Seterusnya, istilah sahala sama dengan kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula. Begu adalah tondi orang telah meninggal yang perilakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

suatu kepercayaan pada setiap individu dalam masyarakat Batak Toba terhadap hukum adat tersebut. Orang-orang Batak Toba meyakini bahwa jikalau adat sebagai warisan utama itu diikuti dan dilaksanakan, maka orang tersebut dipercayai akan mendapat berkah, sedangkan orang yang tidak peduli dengan adat tersebut akan mendapat bala, berupa hukum tersirat maupun yang tersurat.

Selanjutnmya, secara teologis, adat adalah bentuk keseluruhan suatu sistem religi suku. Adat tersebut merangkum, meresapi, dan menentukan eksistensi suku atau bangsa dengan cara bagaimanapun. Kemudian, adat menghubungkan orang yang hidup dan kasat mata atau kelihatan dengan orang yang mati yang tidak kelihatan; selain itu adat mengatur tata tertib sosial untuk desa atau kelompok desa sebagai persekutuan hukum, persekutuan produksi, dan persekutuan religi. Selain itu, adat mempertahankan daya hidup mitos, dimana kekuatannya terdapat pada nomisme, yaitu sikap hukum yang alamiah dan tujuannya ialah untuk pencapaian kelanggengan dan keselarasan antara alam makrokosmos dan mikrokosmos. Di dalam keseluruhan aspek yang berkait dengan adat ini, dunia binatang dan tumbuh- tumbuhan diintegrasikan sepenuhnya sama seperti dunia alam dan angkasa. Adat mepunyai corak bermotif sebab ia mempunyai dasar dalam mitos yang merupakan konsep suatu bangsa untuk memahami dirinya. Oleh karena itu, adat merupakan bagian lahiriah serta pengembangan mitos dalam kehidupan bersama dan penerapannya dalam segala seluk belukn kehidupan (Pasaribu, 1986:61).

Adat memiliki asal-usul keilahian (ketuhanan) begitu pula merupakan seperangkat norma yang diturunkan dari nenek moyang, yang berulang-ulang atau yang teratur datang kembali. Selepas itu kembali menjadi suatu kebiasaan atau hal yang biasa (Schreiner, 1994:18). Pola-pola kehidupan yang Nampak dan dapat diamati dalam bentuk pergaulan sehari-hari, pembangunan rumah, upacara

perkawinan, upacara kematian, semuanya dipelihara, dilaksanakan dan diatur berdasarkan adat (ibid, 1994:20).

Budaya Batak Toba merupakan sebuah bentuk gagasan yang diwarisi masyarakat pemiliknya dengan membuat perilaku terhadap nilai-nilai budaya. Konsep masyarakat Batak Toba tentang kehidupan manusia, adalah bahwa kehidupannya selalu terkait dan diatur oleh nilai-nilai adat. Adat adalah bagian dari kewajiban yang harus ditaati dan dijalankan. Di dalam praktik pelaksanaan adat Batak Toba, realitas di lapangan menunjukkan terdapat empat (4) katagori adat.

Yang pertama, masyarakat Batak Toba mempunyai sistem hubungan adat tersendiri. Menunjukkan bahwa setiap komunitas mempunyai tipologi adat masing- masing. Perlakuan masyarakat pedesaan terhadap adat lebih intensif dan merekat, di sisi lain masyarakat Batak Toba yang tinggal di perkotaan relatif lebih individualistis dalam konteks menyikapi adat Batak. Perilaku ini muncul akibat pengaruh lingkungan yang membentuk pola pikir, disamping unsur teknologi yang mempengaruhi adat tersebut.

Yang kedua, adat yang diyakini sebagai norma yang mengatur hubungan antar manusia Batak Toba, dipengaruhi oleh aturan dan norma yang sudah berlaku dalam masyarakatnya. Peraturan perundang-undangan dan hukum religi yang banyak mengatur kehidupan normatif masyarakat secara rinci, memperkecil peranan adat dalam mengatur norma sosial dan kehidupan bermasyarakatnya. Selaras pula dengan aturan perundang-undangan dan hukum religi yang sudah membudaya, sering juga dipandang dan dianggap sebagai bagian dari adat istiadat Batak Toba sendiri.

Ketiga, Pola hubungan antar manusia dalam kelompok masyarakat Batak Toba berubah secara terus menerus. Oleh karena itu, maka pelaksanaan adatnya juga mengalami perubahan sesuai kebutuhan tanpa melihat sisi ruang dan waktu.

Keempat, pandangan dan nilai yang diberikan terhadap adat itu juga mengalami perubahan, akibat dari pengaruh teknologi dalam penyebaranluasan informasi. Hal itu tampak dalam praktek adat yang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya.

Adat ini juga mengarahkan bagaimana orang-orang Batak Toba dalam menciptakan, mengkreasikan, menggubah, dan mempraktikkan kesenian- keseniannya termasuk dalam nyanyian. Kemudian aspek-aspek adat yang mentradisi ini diteruskan ke dalam konteks musik populer Batak Toba, termasuk juga bagaimana mengadopsi musik-musik dunia dalam kebudayaan batak Toba itu sendiri. Bagaimanapun, peran adat tetap berlanjut baik secara tradisi atau di era modernisasi dan globalisasi sekarang ini.

Dokumen terkait