Anggota III : Drs M Takari, M.Hum., Ph.D ( )
2.4 Musik Vokal
Budaya musikal masyarakat Batak Toba tercakup dalam dua bahagian besar, yaitu musik vokal dan musik alat musiktal. Musik vokal pada masyarakat Batak Toba disebut dengan ende. Dalam musik vokal tradisional, pengklasifikasiannya ditentukan oleh kegunaan dan tujuan lagu tersebut yang dapat dilihat berdasarkan liriknya. Ben Pasaribu (1986:27-28) membuat pembagian terhadap musik vokal tradisional Batak Toba dalam delapan bagian, yaitu :
1. Ende mandideng, adalah musik vokal yang berfungsi untuk menidurkan anak (lullaby).
2. Ende sipaingot, adalah musik vokal yang berisi pesan kepada putrinya yang akan melangsungkan pernikahan. Biasanya dinyanyikan pada waktu senggang saat menjelang pernikahan.
3. Ende pargaulan, adalah musik vokal yang secara umum merupakan “solo chorus”, dan dinyanyikan oleh kaum muda-mudi dan daam waktu senggang, biasanya malam hari.
4. Ende tumba, adalah musik vokal yang khusus dinyanyikan sebagai pengiring tarian hiburan (tumba). Penyanyinya sekaligus menari dengan melompat-lompat dan berpegangan tangan sambil bergerak melingkar. Biasanya endetumba ini dilakukan oleh para muda-mudi atau remaja di alaman (halaman kampung) pada malam terang bulan.
5. Ende sibaran, adalah musik vokal yang menggambarkan cetusan penderitaan seseorang yang berkepanjangan. Penyanyinya adalah orang yang menderita tersebut, dan biasanya dinyanyikan di tempat yang sepi.
6. Ende pasu-pasuan, adalah musik vokal yang berkaitan dengan pemberkatan, dan berisi lirik-lirik tentang kekuasaan yang abadi dari Yang Maha Kuasa. Biasanya dinyanyikan oleh para orang tua kepada keturunannya.
7. Endehata, adalah musik vokal berupa lirik yang diimbuhi ritem yang disajikan secara monoton, seperti metricspeech. Liriknya berupa rangkaian pantun dengan bentuk pola “aabb” yang memiliki jumlah suku kata yang sama. Biasanya dimainkan oleh kumpulan anak-anak yang dipimipin oleh seseorang yang lebih dewasa atau orang tua.
8. Endeandung, adalah musik vokal yang bercerita tentang riwayat hidup seseorang yang telah meninggal, yang disajikn pada saat atau setelah disemayamkan. Dalam ende andung alunan melodi biasanya muncul secara spontan sehingga penyanyinya haruslah penyanyi yang cepat tanggap dan terampil dalam sastra yang menguasai beberapa motif-motif lagu yang penting untuk jenis nyanyian ini.
Demikian juga Hutasoit yang dikutip oleh Ritha Ony membagi kelompok musik vokal menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Endenamarhadohoan, yaitu musik vokal yang diyanyikan untuk acara-acara namarhadodoan (resmi)
2. Endesiriakon, yaitu musik vokal yang dinyanyikan oleh masyarakat Batak Toba dalam kegiatan sehari-hari.
3. Endesibaran, yaitu musik vokal yang dinyanyikan dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa kesedihan atau dukacita.
Tetapi apabila dikaji lebih rinci dari banyaknya jenis musik vokal pada masyarakat Batak Toba, maka dibuat pengklasifikasian yang lebih mendetail terhadap nyanyian-nyanyian tersebut sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Berikut ini adalah pembagian jenis musik vokal Batak Toba oleh Jan Harold Brunvand yang dikutip oleh Ritha Ony (1983:13). Jenis musik vokal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Nyanyian kelonan (lullaby), yakni musik vokal yang mempunyai irama halus, tenang, berulang-ulang, ditambah dengan kata-kata kasih sayang sehingga dapat membangkitkan rasa kantuk bagi sianak yang mendengarkan. Contoh : mandideng.
2. Nyanyian kerja (worksong), yaitu musik vokal yang mempunyai irama dan kata-kata yang bersifat menggugah semangat,sehingga dapat menimbulkan rasa gairah untuk bekerja. Contoh : luga-luga solu.
3. Nyanyian permainan (playsong), yakni musik vokal yang mempunyai irama gembira serta kata-kata yang lucu dan selalu dikaitkan dengan permainan. Contoh : sampele-sampele.
4. Nyanyian yang bersifat kerohanian atau keagamaan, yaitu musik vokal yang teksnya berhubungan dengan kitab Injil, legenda-legenda keagamaan, atau pelajaran-pelajaran keagamaan. Contoh : metmet ahu on
5. Nyanyian nasehat, yaitu musik vokal yang liriknya berisi nasehat tentang bagaimana pola bertingkah laku yang baik. Contoh : siboruadi.
6. Nyanyian mengenai hubungan berpacaran dan pernikahan, yaitu musik vokal yang liriknya biasanya mengungkapkan kebiasaan muda-mudi yang sedang bercinta dan akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Contoh : madekdek ma gambiri.
2..5 Musik alat musiktal
Musik alat musiktal masyarakat Batak Toba dibagi menjadi dua kategori berdasarkan bentuk penyajiannya, yakni ada yang lazim digunakan dalam bentuk ensambel, dan ada yang disajikan dalam bentuk permainan tunggal baik dalam kaitannya dengan upacara adat, religi/kepercayaan, maupun sebagai hiburan. Secara umum, pada masyarakat Batak Toba terdapat dua ensambel musik tradisional, yakni : gondanghasapi dan gondangsabangunan. Selain dalam bentuk ensambel, ada juga alat musik yang disajikan secara tunggal.
2.6 Gondang Hasapi
Komposisi alat musik pada gondanghasapi terdiri dari alat-alat music, yang dapat diuraikan seperti berikut ini:
1. Hasapi ende (pluckedlute), atau kadang kala disebut dengan hasapiinang atau hasapitaganing, yaitu sejenis sebuah lute berleher pendek yang dimainkan dengan cara dipetik dan memiliki dua buah senar. Alat musik ini merupakan pembawa melodi dan dianggap sebagai alat musik utama dalam ensambel gondanghasapi.
2. Hasapi doal (pluckedlute), alat musik ini sama bentuknya dengan hasapiende, perbedaannya hanya terletak pada peranan musikalnya yakni hasapidoal berfungsi sebagai pembawa ritem konstan.
3. Sarune etek (shawn), yakni sejenis alat tiup berlidah tunggal (singlereed) yang juga berfungsi sebagai pembawa melodi. Alat musik ini tergolong ke dalam kelompok aerophone yang memiliki lima lobang nada (empat di atas
dan satu di bawah),dan dimainkan dengan cara mangombusmarsiulakhosa (meniup secara sirkular tanpa berhenti) yang dalam istilah musiknya disebut dengan circularbreathing.
4. Garantung (xylophone), yaitu alat musik berbilah yang terbuat dari kayu dan umumnya memiliki lima buah bilah nada. Selain berperan sebagai pembawa melodi, juga berperan sebagai pembawa ritem pada lagu-lagu tertentu. Dimainkan dengan cara mamalu.3
5. Hesek, yaitu sejenis alat perkusi yang terbuat dari plat besi atau botol kaca yang berperan sebagai pembawa tempo atau ketukan dasar.
Gondang hasapi dianggap sebagai bentuk ensambel musik yang kecil. Penggunaannya terbatas pada ruang yang lebih kecil dan tertutup, dimainkan oleh lima orang walaupun jumlah pemusik ini dapat juga bervariasi. Jika mengacu pada praktek pertunjukan gondang hasapi di komunitas parmalim4,saruneetek kadangkala bisa terdiri dari dua alat yang masing-masing dimainkan oleh satu orang pemain. Begitu juga dengan jumlah orang yang memainkan hasapiende atau pun hasapi doal. Dengan kata lain, jumlah pemusik keseluruhan dalam gondang hasapi yang terdapat pada kelompok parmalim bisa mencapai enam hingga delapan orang.5
3
Mamalu dapat diartikan dengan memukul, memainkan atau membunyikan. Contoh mamalu hasapi (membuyikan hasapi), mamalu garantung (membunyikan garantung) dan lain-lain. Palu-palu merupakan alat pemukul berupa stik yang digunakan untuk memukul alat musik.
4
Sebuah aliran kepercayaan tradisional/agama suku Batak Toba yang berkembang di Huta Tinggi, Laguboti, Sumatera Utara.
5
Dikutip dari Buku yang berjudul “Gondang Batak Toba” oleh Ritha Ony dan Irwansyah Harahap.
2.8 Gondangsabangunan
Ensambel gondangsabangunan mempunyai beberapa istilah yang sering digunakan oleh masyarakat Batak Toba, yakni ogung sabangunan atau gondang bolon. Komposisi alat-alat musiknya adalah seperti uraian berikut ini:
1. Sarune bolon (shawm, oboe), yaitu sejenis alat tiup berlidah ganda (double reed) yang berperan sebagai pembawa melodi dan dimainkan dengan cara mangombusmarsiulakhosa. Alat musik ini tergolong kepada kelompok aerophone.
2. Taganing (single headed drum), yaitu seperangkat gendang bernada bermuka satu yang tersusun atas lima buah gendang, yang berfungsi sebagai pembawa melodi dan juga pembawa ritem variabel untuk lagu atau repertoar tertentu. Kelima gendang tersebut dibedakan sesuai dengan namanya masing-masing, yakni odap-odap, paiduaniodap, painonga, paiduani ting-ting, dan ting-ting. Alat musik ini tergolong ke dalam kelompok membranophone.
3. Gordang bolon (single headed drum), yakni sebuah gendang-bas bermuka satu yang ukurannya lebih besar dari taganing, yang berperan sebagai pembawa ritem konstan dan ritem variabel. Insrumen juga sering disebut sebagai bass dari ensambel gondang sabangunan. Klasifikasi alat musik ini termasuk kepada kelompok membranophone.
4. Ogung (gong), yaitu seperangkat gong yang terdiri dari empat buah dengan ukuran yang berbeda-beda. Keempat buah gong tersebut diberi nama oloan, ihutan, doal, dan panggora. Masing-masing ogung sudah memiliki ritem tertentu dan dimainkan terus menerus secara konstan/tidak berubah-ubah. Alat musik ini tergolong kepada kelompok idiophone.
5. Hesek, yaitu sejenis alat perkusi berupa plat besi, botol, atau benda lainnya yang dapat menghasilkan bunyi tajam untuk dijadikan sebagai pembawa tempo. Alat musik ini tergolong kepada idiophone.
6. Odap (double headed drum), yakni sejenis gendang kecil bermuka dua (dua sisi selaput gendang) yang berperan sebagai pembawa ritem variabel. Alat musik ini biasanya hanya dimainkan pada lagu atau repertoar tertentu. Alat musik ini tergolong kepada kelompok membranophone.
Gondangsabangunan pada zaman dahulu digunakan untuk setiap upacara yang berhubungan dengan adat ataupun religius. Gondang sabangunan berperan sebagai media untuk menghubungkan manusia dengan penciptanya (secara vertikal) dan menghubungkan manusia dengan sesama (secara horizontal).
Penggunaan odap dalam ensambel gondang sabangunan jarang ditemukan saat ini. Beberapa musisi tradisional Batak seperti Marsius Sitohang, Guntur Sitohang, dan S.Sinurat mengatakan bahwa penggunaan alat ini sangat terbatas dan hanya diperuntukkan dalam upacara-upacara tertentu, dan biasanya hanya parmalim yang masih tetap melestarikan alat musik tersebut. Namun, berkaitan dengan peran dan bunyi musikalnya, pada zaman sekarang ini teknik permainan odap sudah banyak ditransformasikan oleh taganing yang juga mampu berperan sebagai pembawa ritem variabel. Mungkin hal ini juga menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan odap sudah semakin jarang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ensambel gondangsabangunan pada umumnya dimainkan oleh tujuh orang, yakni satu orang memainkan sarunebolon, satu orang memainkan taganing dan odap, satu orang memainkan gordangbolon, satu orang memainkan ogungoloan dan ihutan, satu orang memainkan ogungdoal, satu orang memainkan
ogungpanggora, dan satu orang memainkan hesek. Namun, formasi dan jumlah pemusik ini sedikit berbeda dengan apa yang terdapat di dalam upacara parmalim. Dalam konteks tersebut, umumnya pemusik berjumlah delapan orang, dimana alat musik ogungoloan dan ihutan masing-masing dimainkan oleh satu orang. Kadang- kadang juga bisa ditemukan pemain sarunebolon berjumlah dua orang pada beberapa upacara parmalim tertentu. Pada masyarakat Batak Toba secara umum di luar parmalim, formasi pemusik dalam formasi ensambel semacam ini jarang terjadi pada kebanyakan pertunjukan gondangsabangunan.
2.9 Alat-alat Musikyang Disajikan Tunggal
Di dalam kebudayaan Batak Toba, dahulu kala alat musik (alat musik) tunggal diartikan sebagai alat musik yang dimainkan secara tunggal dan tidak boleh digabungkan ke dalam ensambel gondanghasapi maupun gondangsabangunan, sebab pada dasarnya sudah ditetapkan berbagai alat musik tertentu yang boleh dimainkan ke dalam kedua ensambel tersebut. Dalam hal ini, penggunaannya hanya dikaitkan ke dalam kedua ensambel tersebut karena berdasarkan sejarah, dahulu hanya ada dua ensambel dalam musik adat masyarakat Batak Toba yakni gondanghasapi dan gondangsabangunan.
Alat musik tunggal biasanya hanya digunakan pada waktu senggang untuk mengisi kekosongan atau menghibur diri. Alat musik ini juga tidak pernah dimainkan dalam upacara-upacara adat yang bersifat ritual layaknya alat musik- intrumen yang ada pada ensambel gondangsabangunan atau gondanghasapi. Namun jika diartikan secara lebih luas dan terkait perkembangan berbagai musik Batak Toba pada masa kini, alat musik tunggal pada dasarnya bukan hanya alat musik yang tidak boleh dimainkan bersama dengan ensambel
gondanghasapimaupun gondangsabangunan saja, melainkan juga pada berbagai ensambel atau format musik yang lain.
Selain sulim, ada berbagai intrumen Batak Toba yang termasuk ke dalam alat musik tunggal seperti uraian berikut ini:
1. Saga-saga (jew’s harp) yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara menggetarkan lidah alat musikt tersebut dengan bantuan hentakan tangan dan rongga mulut berperan sebagai resonator. Alat musik ini tergolong ke dalam keompok ideophone.
2. Jenggong (jew’sharp) yang terbuat dari logam dan mempunyai konsep yang sama dengan saga-saga. Juga termasuk ke dalam kelompok ideophone.
3. Talatoit (transverse flute), sering juga disebut dengan salohat atau tulila, yaitu alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara meniup dari samping. Mempunyai empat lobang nada yakni dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan, sedangkan lobang tiupan berada di tengah. Alat musik diklasifikasikan ke dalam kelompok aerophone.
4. Sordam (up blown flute) yang terbuat dari bambu, dan dimainkan dengan cara meniup dari ujungnya dengan meletakkan bibir pada ujung alat musik yang diposisikan secara diagonal. Alat musik ini memiliki lima lobang nada, yakni empat di bagian atas dan satu di bagian bawah, sedangkan lobang tiupan berada pada ujung atas nya. Alat musik ini juga termasuk ke dalam kelompok aerophone.
5. Tanggetang (bamboo ideochord), yaitu alat musik yang terbuat dari batang bambu besar dan memiliki senar yang dibentuk dari badan bambu itu sendiri dan badan bambu tersebut berperan sebagai resonator. Prinsip pembuatan, cara memainkan dan karakter bunyi alat musik ini hampir sama dengan keteng-
ketengyang ada pada masyarakat Batak Karo, dimana alat musik ini bersifat ritmis dan gaya permainannya seakan mengimitasikan karakter bunyi ogung (gong Batak Toba). Alat musik ini termasuk kelompok yang dipadukan antara ideophone dengan chordophone sehingga disebut dengan ideochordophone 6. Mengmung juga merupakan alat musik sejenis ideochordophone yang mirip
dengan tanggetang, hanya saja senarnya terbuat dari rotan dan peti kayu dijadikan sebagai resonator.
Dari keseluruhan intrumen tunggal yang ada pada masyarakat Batak Toba, sulim adalah alat musik yang masih tetap eksis dan paling sering digunakan hingga pada saat ini. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sulim merupakan alat musik tiup yang lebih kompleks dengan frekuensi nada serta jangkauan nada yang lebih luas dibandingkan alat musik tunggal yang lainnya, sehingga berbagai jenis lagu atau repertoar dapat dimainkan pada alat musik tersebut.
Sementara alat musik tunggal yang lain sudah sangat jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari bahkan ada orang yang mengatakan bahwa beberapa di antaranya sudah hampir punah keberadaannya seperti saga-saga, jenggong, tanggetang dan mengmung. Sebab pada umumnya, keempat alat musik ini sudah sangat jarang kelihatan atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin hanya satu dua orang yang masih melestarikan alat musik ini, dan itu pun kemungkinan jika siempunya masih hidup atau alat musik tarsebut masih tetap diwariskan secara turun temurun.
2.10 Musik Populer Batak Toba sebagai Ekspresi Modernisasi
2.10.1 Konsep Musik Populer
Konsep budaya populer (popular culture) dan seni populer (art culture) digunakan dengan secara meluas di Barat selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem pendidikan populer, meluasnya kapitalisme, dan peristiwa proses modernisasi dan urbanisasi. Budaya populer memberikan pengertian yang sama dengan budaya massa (Gans 1974:10). Konsep budaya massa berasal dari bahasa Jerman masse dan kultur. Masse ialah golongan rakyat (nonaristokrasi) yang tidak berpendidikan, yang merujuk juga pada istilah lower- middle class atau kelas pekerja yang miskin. Kultur juga bermakna sebagai budaya tinggi, yang tidak saja melingkupi seni, musik, kesusastraan, dan penghasilan simbolis lain yang diminati oleh golongan elit yang berpendidikan dalam masyarakat, tetapi juga corak pemikiran dan perasaan golongan itu yang dikatakan golongan yang berbudaya. Jadi, budaya massa adalah hasil simbolis yang diminati golongan mayoritas berbudaya itu. Ada pula para pengkaji yang menganggap penggunaan istilah budaya massa adalah lebih tepat dari budaya populer karena dikatakan penghasilan unsur-unsur budaya seperti itu ialah untuk masyarakat ramai (Donald 1968:12). Konsep budaya massa dipergunakan karena hubungan dengan pengeluaran unsur-unsur budaya secara besar-besaran (massive scale), penggunaannya pula adalah meluas dan bagi kepentingan masyarakat manusia (Lohisse 1973:17).
Munculnya budaya populer mempunyai sejarah perkembangan tersendiri. Perubahan politik feodal ke arah demokrasi, perkembangan teknologi, dan usaha perdagangan sistem kapitalis menjadi titik tolak munculnya budaya populer ini. Menurut Donald sistem politik demokrasi dan pelajaran yang semakin meluas
meruntuhkan monopoli golongan kelas atas terhadap unsur budaya (Donald 1968:12). Perkembangan teknologi yang lebih baik dapat mengeluarkan bentuk hiburan dengan harga murah. Ia berpendapat teknologi modern seperti piringan hitam dan film sesuai bagi pengeluaran dan penyebaran hiburan yang meluas. Jadi usaha menawarkan hiburan menjadi lapangan bisnis yang menguntungkan.
Budaya populer bukanlah sebuah fenomena baru, ia merupakan kontinuitas dari budaya rakyat yang menjadi milik rakyat. Seni rakyat (folk art) adalah hasil budaya ekspresif rakyat yang disesuaikan dengan kehendak golongan mereka, berbeda dari budaya populer yang disebut sebagai imposed from above (Donald 1968:13). Orang-orang yang ahli dalam lapangan tertentu, seperti artis-artis menerima bayaran dari pihak penyelenggara. Penyelenggara bertujuan mencari untung dan menggunakan bahan budaya sebagai barang dagangan. Penonton merupakan pengguna sementara unsur-unsur budaya menjadi barang pengguna. Penawaran unsur-unsur budaya seperti itu senantiasa berubah-ubah bergantung kepada perubahan citarasa pengguna.
Seni rakyat pada mulanya terpisah dari budaya tinggi (hoc cultuur) tetapi kemudian budaya populer memainkan peranan penting dalam menyambungkan antara dua budaya itu (Donald 1968:13). Perkembangan budaya populer Barat bukanlah masalah baru tetapi paling tidak telah muncul abad ke-17 (Lowenthal 1961:14-28). Persoalan dan perdebatan ahli-ahli agama yang menganggap bahwa hiburan yang bertujuan melarikan individu dari kenyataan merusakkan dan membawa keburukan kepada moral anggota masyarakat, bertentangan dengan ahli- ahli filsafat yang menganggap hiburan sebagai kepentingan dasar sebagaimana kepentingan dasar lainnya yang mempunyai fungsi tertentu dalam kehidupan masyarakat.
Budaya populer dikatakan bersifat seragam atau homogen karena pengeluarannya yang besar-besaran dan tidak statis. Apa yang dianggap budaya tinggi pada masa lalu adalah hak milik golongan elit yang bertujuan menyampaikan nilai dan menggunakan unsur budaya untuk menyebarkan pengajaran kepada khalayak ramai. Golongan elit menggunakan unsur-unsur budaya untuk mengukuhkan kedudukan mereka. Sementara itu budaya populer tersebar kepada masyarakat awam dan menentukan the image of a centripetal force rather than a centrifugal force (Lohisse 1973:35).
Konsep budaya populer meliputi aktivitas-aktivitas yang diminati orang ramai yang bertujuan memberi hiburan, seperti musik, film, buku, dan lainnya yang selalu dikaitkan dengan apa yang disalurkan melalui media massa (Winston 1973:54). Budaya populer atau budaya massa ini boleh dilihat melalui sifat- sifatnya yang tersebar secara meluas dan dapat menarik perhatian kelas pekerja industri, dan produksinya dibuat secara besar-besaran (Quail 1969:22).
Budaya populer memegang peranan penting dalam menaikkan citra budaya. Munculnya budaya populer yang boleh dikatakan sebagai sebuah revolusi dalam perkembangan budaya telah dapat merapatkan jurang pemisah antara golongan elit dan rakyat biasa (Donald 1968:15). Munculnya budaya populer kadang-kadang menimbulkan kekeliruan. Rosenberg menerangkan beberapa kekeliruan atau anggapan orang ramai yangkurang tepat tentang budaya populer. Orang selalu mengaitkan kemunculan budaya populer dengan kapitalisme, yang berawal di Amerika Serikat, dan berasal dari sistem politik demokrasi (Rosenberg 1960:11). Anggapan seperti itu tidak disetujui Rosenberg karena ia percaya bahwa pengaruh perkembangan teknologi pertumbuhan budaya populer adalah besar sekali. Perkembangan ekonomi dan perkembangan politik tidak dapat dianggap sebagai
akibat langsung sebagaimana yang berlaku dalam revolusi industri yang berkembang di Eropa abad ke-19.
Masyarakat umumlah yang menentukan nilai dan selera atau kehendak masyarakat (Gans 1974:12). Selera masyarakat umum ini penting dalam menentukan corak budaya populer, misalnya dalam menentukan tema, pertunjukan, dan sejenisnya. Nilai anggota masyarakat adalah manifestasi terhadap bentuk budaya populer dalam suatu zaman.
Proses urbanisasi merupakan faktor penting dalam pertumbuhan budaya populer. Setelah bergulirnya revolusi industri di Barat pada abad ke-19, banyak golongan petani pindah dan bekerja di kota sebagai pusat industri. Golongan ini, yang dijuluki proletariat dan petty bourgeois, belajar membaca dan menulis dengan tujuan memperbaiki kedudukan dan menambahkan keahlian mereka dalam pekerjaan baru serta menyesuaikan diri dengan kehidupan kota. Hiburan diperlukan untuk mengisi masa lapang mereka. Untuk itu di pasar dimunculkan bahan-bahan erstz culture atau kitsch yang dapat memenuhi masa lapang, dan mengurangi keletihan mereka setelah bekerja. Kitsch adalah hasil revolusi industri yang menyebabkan rakyat mengalami proses urbanisasi dan perkembangan sistem pendidikan (Howe 1960:497).
Pertumbuhan budaya populer berkaitan dengan aspek seni yang menimbulkan pula konsep seni populer. Seni populer adalah kontinuitas dari seni tradisional. Seni populer, seperti musik, tari, dan teater disalurkan melalui media massa hingga menyebabkan orang menganggap media massa juga sebagai seni populer. Media massa bukanlah seni, tetapi alat komunikasi yang bisa mempengaruhi pertumbuhan seni. Media massa menyiarkan penerangan tetapi
dilakukan dalam bentuk hiburan untuk masyarakat ramai. Konsep seni populer muncul selaras dengan pertumbuhan budaya populer abad ke-19 (Bigsby 1973:16).
Seni populer dalam keadaan tertentu mengambil alih seni tradisional dengan berbagai cara: ada yang muncul sebagai tiruan dan kontinuitas dari seni tradisional, ada pula yang muncul dalam bentuk baru. Seni rakyat juga menjadi seni populer dalam konteksnya tersendiri (Kaplan 1967:317). Kadang-kadang bentuk seni populer disesuaikan dengan kesadaran dan kehendak masyarakat umum. Seperti halnya dalam musik populer Batak Toba yang menjadi kajian dalam tulisan ini.
Dengan perkembangan sistem komunikasi, seni dapat tersebar dengan meluas dan diminati. Oleh sebab itu sebagian pihak menganggap nilainya turut