EDUKASI PERLINDUNGAN HAK CIPTA DI ERA DIGITAL
II. METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan salah satu faktor suatu permasalahan yang akan dibahas, dimana metode penelitian merupakan cara utama yang bertujuan untuk mencapai tingkat penelitian ilmiah.
Sesuai dengan rumusan permasalahan dan tujuan penelitian maka dalam metode penelitian dipergunakan jenis penelitian hukum normatif (yuridis normatif) dan pendekatannya ialah berdasarkan kaidah hukum peraturan perundang-undangan. Selanjutnya sifat penelitian ini merupakan deskriptif analisis. Sumber data yang dipakai untuk melakukan penelitian yuridis normatif ini adalah bersumber dari data
- 33 primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah dengan studi pustaka/studi dokumentasi dan menganalisis data-data dan peraturan perundang-undangan yang ada. Studi dokumentasi merupakan studi yang mengkaji tentang berbagai dokumen-dokumen, baik yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan maupun dokumen-dokumen yang sudah ada (Salim HS dkk, p. 19).
Pada akhirnya penelitian ini akan dianalisis datanya, analisis data adalah merupakan tahap yang paling penting dan menentukan dalam penulisan skripsi. Melalui proses penelitian itu diadakan analisa dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah (Soerjono Soekamto, p. 1). Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif, yaitu analisis data yang tidak menggunakan angka, melainkan memberikan gambaran-gambaran (deskripsi) dengan kata-kata atas temuan-temuan, dan karenanya lebih mengutamakan mutu/kualitas dari data (Salim HS dkk, p. 19).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan teknologi informasi yang semakin massif di masyarakat berupa internet telah diantisipasi oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) dengan menyelenggarakan konferesensi di Jenewa pada Desember 1996 untuk memperbarui norma-norma kekayaan intelektual dalam menghadapi lingkungan digital atau digital environtment. World Intellectual Property Organization (WIPO) adalah badan yang secara internasional mengurus masalah Kekayaan Intelektual yang merupakan badan khusus di PBB dan Indonesia termasuk salah satu anggotanya dengan diratifikasinya Paris Convention for the Protection of Industrial Property and Convention Establishing the World Intellectual Property Organization (Ida Nadirah dan Rahmad Abduh, 2020).
Konferensi WIPO ini dihadiri sebanyak 160 negara. Ruang lingkup pembahasan dalam konferensi tersebut adalah tentang kreasi, adopsi, transmisi, dan distribusi karya melalui medium digital (Budi Agus Riswandi, 2016). Hasil dari konferensi tersebut menghasilkan WIPO Copyright Treaty (WCT) dan WIPO Performance and Phonogram Treaty (WPPT), merupakan dua produk pengaturan hak cipta dalam merespon perkembangan lingkungan digital atau digital environtment. Dua konvensi ini dikenal sebagai secara internasional sebagai WIPO Internet Triteas.”
Hak cipta terdiri atas hak ekonomi dan hak moral. Hak-hak ini diberikan guna memunculkan adanya penghargaan atas jerih payah pencipta dan perlindungan untuk memungkinkan segala biaya dan jerih payah pencipta terbayar kembali. Sedangkan ciptaan yang dilindungi menurut Pasal 12 adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni
dan sastra, karya tulis seperti buku, program komputer, pamflet, lay out, ceramah, kuliah, pidato, alat peraga untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, lagu atau musik dengan atau tanpa teks, drama atau drama musikal, koreografi tari, pewayangan dan pantomim, seni rupa dalam segala bentuknya, arsitektur, peta, seni batik, fotografi, sinematografi, hasil pengalih wujudan seperti terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai dan database (Sudikno Mertokusumo, 2007).
Pengertian hak cipta di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hak seseorang atas hasil penemuannya yang dilindungi oleh undang-undang (seperti hak cipta dalam mengarang, menggubah musik) (Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Sedangkan menurut Edy Damian, hak cipta adalah bagian dari sekumpulan hak yaitu Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang pengaturannya terdapat dalam ilmu hukum dan dinamakan Hukum HKI. Hukum HKI meliputi suatu bidang hukum yang membidangi hak-hak yuridis atas karya-karya atau ciptaan-ciptaan hasil olah pikir manusia yang bertautan dengan kepentingan-kepentingan bersifat ekonomi dan moral.Sophar Maria Hutagalung dalam Eddy Damian mengemukakan pendapatnya tentang Hak Cipta sebagai hasil karya pencipta dalam bentuk khas apa pun, dan juga dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dari seorang pencipta atau beberapa orang secara bersama-sama atas inspirasi lahirnya suatu ciptaan, berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi dan mendapat perlindungan hukum ( Eddy Damian, 2014).
Hak Cipta pertama kali di atur pada Konvensi Berne yang kala itu negara-negara Eropa menjadi pihak yang meratifikasi. Sedangkan Kerajaan Belanda mengikatkan diri pada Konvensi Berne pada 1886 dengan mengikut sertakan Indonesia (kala itu Hindia Belanda) sebagai daerah jajahannya untuk menjadi peserta konvensi dalam Staatblad 1914 Nomor 797 (Hendra Tanu Atmadja, 2003). Namun Indonesia sempat keluar dari keanggotaan Konvensi Berne pada tahun 1958.
Negara Indonesia melahirkan undang-undang hak cipta pertama kali melalui UU No. 6 Tahun 1982 yang merupakan sarana pembangunan nasional dan menjadi tonggak era pembangunan sistem Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia. Meski bernuansa monopoli dan berkarakter individualistik kelahiran UU Hak Cipta nyaris tanpa reaksi pro dan kontra ( Budi Agus Riswandi, 2009).
Undang-Undang Hak Cipta mengalami revisi sebanyak empat kali, yang berawal dari Undang-Undang Nomor 6 tahun 1982, lima tahun kemudian diubah dengan UU No. 7 Tahun 1987, diubah lagi menjadi UU No. 12 tahun 1997. Undang-Undang Hak Cipta Tahun 1997 ini kemudian direvisi menjadi UU No. 19 Tahun 2002 dan hingga saat ini, Indonesia
- 35 menggunakan UU No. 28 Tahun 2014 menjadi landasan hukum atas hak cipta.
Pengaturan Hak Cipta dalam hukum nasional termasuk dalam bidang hukum perdata dan merupakan hukum benda. Zaak atau benda adalah benda berwujud dan tidak berwujud. Hak kebendaan itu sendiri terdiri atas hak kebendaan materiil dan hak kebendaan imateriil. Yang termasuk hak kebendaan imateriil adalah Hak Kekayaan Intelektual yang terdiri atas Hak Cipta dan Hak Milik Industri (Budi Agus Riswandi dan M.
Syamsudin, 2005). Adapun standar agar dinilai sebagai Hak Cipta atas karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yaitu adanya perwujudan (fixation) suatu karya cipta, keaslian (originality) atas suatu sifat karya cipta, dan kreativitas (creativity) yang mendasari proses suatu karya ciptaan (Budi Agus Riswandi dan M. Syamsudin, 2005).
Menurut Pasal 40 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014, ciptaan yang dilindungi meliputi ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang terdiri atas :
1. buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;
2. ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan sejenis lainnya;
3. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
4. lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks;
5. drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
6. karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;
7. karya seni terapan;
8. karya arsitektur;
9. peta;
10. karya seni batik atau seni motif lain;
11. karya fotografi;
12. potret;
13. karya sinematografi;
14. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;
15. terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;
16. kompilasi ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan program komputer maupun media lainnya;
17. kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;
18. permainan video; dan 19. program komputer.
Penggunaan teknologi pengaman sebagai perlindungan hak cipta atas hak moral diatur dalam Pasal 6 dan 7 Undang-Undang Hak Cipta.
Pasal 6 Undang-Undang No.28 tahun 2014 menyatakan: Untuk melindungi hak moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Pencipta dapat memiliki:
a. informasi manajemen Hak Cipta; dan/atau b. informasi elektronik Hak Cipta.
Selanjutnya Pasal 7 Undang-Undang No.28 Tahun 2014 menyatakan:
(1) Informasi manajemen Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a meliputi informasi tentang:
metode atau sistem yang dapat mengidentifikasi originalitas substansi Ciptaan dan Penciptanya; dan
b. kode informasi dan kode akses.
(2) Informasi elektronik Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b meliputi informasi tentang:
1. suatu Ciptaan, yang muncul dan melekat secara elektronik dalam hubungan dengan kegiatan Pengumuman Ciptaan;
2. nama pencipta, aliasnya atau nama samarannya;
3. Pencipta sebagai Pemegang Hak Cipta;
4. masa dan kondisi penggunaan Ciptaan;
5. nomor; dan 6. kode informasi.
(3) Informasi manajemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan informasi elektronik Hak Cipta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang dimiliki Pencipta dilarang dihilangkan, diubah, atau dirusak. Selanjutnya penggunaan teknologi pengaman sebagai perlindungan hak cipta atas hak ekonomi diatur dalam pasal 52 dan 53 Undang-Undang Hak cipta.
Pasal 52 Undang- Undang No.28 tahun 2014 menyatakan:
Setiap Orang dilarang merusak, memusnahkan, menghilangkan, atau
- 37 sebagai pelindung Ciptaan atau produk Hak Terkait serta pengaman Hak Cipta atau Hak Terkait, kecuali untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara, serta sebab lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan, atau diperjanjikan lain.
Penggunaan sarana kontrol teknologi digunakan untuk mencegah atau membatasi tindakan yang tidak diizinkan oleh pencipta, pemegang hak cipta, pemilik hak terkait, dan atau yang dilarang oleh peraturan perundang- undangan.
Selanjutnya Pasal 53 Undang-Undang No.28 tahun 2014 menyatakan:
1. Ciptaan atau produk Hak Terkait yang menggunakan sarana produksi dan/atau penyimpanan data berbasis teknologi informasi dan/atau teknologi tinggi, wajib memenuhi aturan perizinan dan persyaratan produksi yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana produksi dan/atau penyimpanan data berbasis teknologi informasi dan/atau teknologi tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Dalam penjelasan pasal 53 Undang- Undang No.28 tahun 2014 disebutkan apa saja yang dimaksud sebagai sarana produksi dan/atau penyimpanan data berbasis teknologi informasi dan/atau teknologi tinggi yaitu cakram optik, server, komputasi awan (cloud), kode rahasia, password, barcode, serial number, teknologi deskripsi (descryption), dan enkripsi (encryption).
Bagi pelanggar hak cipta dalam hal perusakan teknologi pengaman dapat dikenakan sanksi pidana seperti yang diatur dalam pasal 112 Undang-Undang No.28 tahun 2014, yaitu dipidana paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp. 300 juta.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Masyarakat harus diedukasi bahwa perlu menghormati karya cipta orang lain. Mengingat teknologi informasi dan komunikasi di satu sisi memiliki peran strategis dalam pengembangan sistem hukum hak cipta tetapi disisi lain juga memiliki alat untuk pelanggaran hukum di bidang ini. Era digital dan ciptaan berbentuk digital dengan mudah ditemukan karena hal tersebut telah menjadi sesuatu yang umum dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.Pemanfaatan teknologi Internet memberikan perubahan terhadap ciptaan yang dahulunya hanya ada berbentuk fisik sekarang berubah menjadi bentuk digital. Terhadap produk digital tersebut memiliki beragam macam penyebutan seperti digital works,
digital content, digital information, dan digital copyrights dengan contoh produk digital seperti Ebook dalam format PDF atau kindle, musik dalam format MP3 atau MP4, video dalam format MP4 atau FLV, Software, gambar dalam bentuk JPEG atau PNG, Tiket Online, Aplikasi Android atau Aplikasi Iphone, Fonts, dan lain-lain.
B. SARAN
Terhadap perlindungan hukum terhadap karya digital dalam hukum positif Indonesia harus di perkuat saat ini terdapat dalam UU No.28 tahun 2014 Tentang Hak Cipta khususnya dalam Pasal 6, Pasal 7 untuk perlindungan hak moral dan Pasal 52,Pasal 53 untuk perlindungan hak ekonomi bagi pencipta karya digital. Apabila terjadi pelanggaran terhadap hak pencipta karya digital tersebut dapat dikenakan sanksi pidana seperti yang diatur dalam Pasal 112 UU Hak Cipta.
V. DAFTAR PUSTAKA
Budi Agus Riswandi dan M. Syamsudin.2005 Hak Kekayaan Intelektual Dan Budaya Hukum. Rajawali Press. Jakarta.
Budi Agus Riswandi,2009. Hak Cipta di Internet Aspek Hukum dan Permasalahannya di Indonesia, FH UII Press, Yogyakarta.
Budi Agus Riswandi,2016 “Hukum Dan Teknologi: Model Kolaborasi Hukum Dan Teknologi Dalam Kerangka Perlindungan Hak Cipta Di Internet,” Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM NO. 323
Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Eddy Damian, 2014. Hukum Hak Cipta, PT. Alumni, Bandung.
Hendra Tanu Atmadja, 2003. Hak Cipta Musik atau Lagu, UI Press, Jakarta.
https://www.dgip.go.id/artikel/detail-artikel/pentingnya-edukasi-pelindungan-hak-cipta-di-era-digital?kategori=liputan-humas
Ida Nadirah dan Rahmad Abduh,2020. Modul Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Fakultas Hukum UMSU
Khwarizmi Maulana Simatupang, (2021). Tinjauan Yuridis Perlindungan Hak Cipta dalam Ranah Digital, Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, 15 (1), 67-80
Sudikno Mertokusumo,2007. Mengenal Hukum, Cetakan Ketiga, Liberty, Yogyakarta
- 39