BAB I PENDAHULUAN
1.5 Metode Penelitian
Pentingnya sebuah metode sejarah didalam sebuah penelitian sejarah yang ilmiah. Metode sejarah merupakan suatu tahapan yang digunakan dalam sebuah penelitian sejarah ilmiah. Dengan adanya sebuah metode penelitian dapat menjadi petunjuk peneliti untuk memperoleh sumber – sumber yang relevan terhadap pokok pembahasan sehingga hasil yang di paparkan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.
Metode sejarah merupakan proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan jejak-jejak peninggalan sejarah.3 Dalam penerapannya, metode sejarah menggunakan empat tahapan pokok, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.
Tahap pertama adalah heuristik. Secara sederhana heuristik berarti proses pengumpulan sumber-sumber historis yang berkaitan dengan topik penelitian.
Dalam kaitannya dengan hal ini, penulis melakukan studi dokumen dan studi pustaka. Studi dokumen diperlukan mengingat cakupan tahun dan yang dikaji dalam penelitian. Studi dokumen dilakukan dalam rangka memperoleh sumber-sumber primer. Dokumen yang penulis cari tentu dokumen yang berhubungan dengan awal berdirinya hingga proses pemindahan Kebun Binatang Medan di Arsip Medan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara. Dalam melakukan studi dokumen, penulis sedikit kesulitan dalam mendapatkan data atau dokumen yang
3 Louis Gottchalk, “Mengerti Sejarah”, terjemahan dari Nugroho Notosusanto, Jakarta:UI Press, 1985, hal. 39
berhubungan dengan Kebun Binatang Medan. Hal tersebut dikarenakan adanya aturan pemerintah tentang diperbolehkannya penghangusan dokumen arsip setiap 10 tahun sekali.
Selain sumber dari studi dokumen tersebut, penulis juga mengumpulkan sumber melalui studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan sumber-sumber yang berhubungan dengan topik penelitian ini baik dalam bentuk buku, skripsi, jurnal, internet dan lainnya. Untuk mengumpulkan sumber pustaka peneliti mengunjungi beberapa perpustakaan yakni Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, Perpustakaan Umum Kota Medan dan Perpustakaan Universitas Negeri Medan.
Setelah mendapatkan sumber-sumber yang diinginkan, maka tahap yang selanjutnya adalah kritik sumber. Pada tahap ini, sumber-sumber relevan yang telah diperoleh diverifikasi kembali untuk mengetahui keabsahannya.4 Oleh karena itu perlu dilakukan kritik, baik kritik eksteren maupun interen. Kritik eksteren mencakup seleksi sumber yang didapatkan. Apakah sumber-sumber tersebut perlu digunakan atau tidak dalam penelitian. Kritik interen dilakukan terhadap sumber-sumber yang telah diseleksi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kredibilitas atau kebenaran isi dari sumber tersebut.
Tahap selanjutnya adalah interpretasi. Interpretasi merupakan penafsiran-penafsiran terhadap sumber-sumber yang telah dikritik. Dalam tahap ini, peneliti akan melakukan analisa dan sintesa. Analisa berarti menguraikan sumber-sumber yang telah dikritik sebelumnya. Dari proses analisa akan diperoleh fakta-fakta.
4 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995, hlm. 99.
Kemudian fakta-fakta yang telah diperoleh disintesakan sehingga mendapat sebuah kesimpulan.5
Tahap terakhir dari penelitian sejarah adalah historiografi. Historiografi merupakan proses penulisan fakta-fakta yang telah diperoleh secara kronologis dan kritis-analitis. Penulisan tersebut akan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berpedoman pada outline yang telah dirancang sebelumnya.
Ketika menganalisis berbagai peristiwa atau fenomena masa lalu, sejarawan menggunakan konsep-konsep dari berbagai ilmu sosial tertentu yang relevan hanya pokok kajian. Ini dikenal dengan pendekatan interdisiplin atau multidimensional yang memberikan karakteristik ilmiah kepada sejarah. Empat tahapan di atas akan saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Penggunaan berbagai konsep disiplin ilmu sosial lain juga memungkinkan suatu masalah dapat dilihat dari berbagai dimensi sehingga pemahaman tentang masalah itu, baik keluasan dan kedalamannya akan semakin jelas.
5 Ibid., hlm. 100.
BAB II
SEJARAH BERDIRINYA KEBUN BINATANG MEDAN 1968 – 2005
2.1 KEBUN BINATANG MEDAN 1968 – 1993
Kebun Binatang merupakan suatu taman marga satwa yang didalamnya terdapat berbagai jenis satwa yang dipelihara dan hidup dalam penangkaran, dengan tujuan pengembangbiakan dan perlindungan terhadap satwa yang dilindungi maupun yang tidak tergolong dilindungi yang disesuaikan dengan etika kesehatan dan kesejahteraan satwa.
Kebun Binatang Medan pertama kali dibentuk dalam status sebagai Yayasan Kebun Binatang Medan yang dibentuk pada tahun 1961 dengan SK (Surat Keputusan) Walikotamadya Medan nomor. 812 tanggal 2 September 1961 dengan Akte Notaris Rusli nomor. 86 tanggal 9 September 1961 yang kemudian diperbaharui lagi dengan Akte Notaris Rusli nomor. 117 tanggal 16 Januari 1967.
Kebun Binatang Medan sudah dibangun sejak bulan Mei tahun 1967 dengan luas lahan hampir 2 ha ( dua hektare ) dan dibawah naungan Pemda Kota Madya Medan. Kemudian baru diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1968 oleh bapak Gubernur Sumatera Utara Brigjen Marah Halim Harahap dengan luas sudah mencapai 3,1 ha ( hektare ).6
6 ( Lihat lampiran 9). Surat Keputusan Walikota Madya Medan Tentang Pembubaran Yayasan Kebun Binatang Medan.
Kebun Binatang Medan didirikan di Jl. Brigjen Katamso KM. 45, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun. Pada saat peresmian tanggal 17 Agustus 1968, kebun binatang dalam keadaan masih belum lengkap.
Maksud dari belum lengkap ini bukan hanya terdapat pada jenis satwa saja tetapi juga bangunan dan sarana fasilitas yang ada. Masih adanya pembangunan yang sedang berjalan seperti pembuatan kandang, sarana umum bagi pengunjung dan wisatawan dan lainnya.
Kebun Binatang Medan didirikan sebagai tempat rekreasi baru yang pertama kali bagi masyarakat kota Medan. Hal ini dikarenakan hingga tahun 1968, belum adanya tempat rekreasi sejenis kebun binatang yang ada di kota Medan. Hal tersebut juga menjadikan Kebun Binatang Medan sebagai kebun binatang pertama dan satu – satunya di kota Medan. Dalam pembangunan Kebun Binatang Medan, Pemda Kota Madya Medan telah mengeluarkan dana sebesar Rp. 742,000,00 ( tujuh ratus empat puluh dua ribu rupiah ) sebagai uang ganti rugi bagi para pemilik lahan di jl. Brigjen Katamso yang lahannya digunakan sebagai tempat pembangunan kebun binatang. Sedangkan untuk dana keseluruhan pembangunan Kebun Binatang Medan yang mencakup bangunan, kandang, sarana dan fasilitas umum juga keperluan lainnya, Pemda Kota Madya Medan lebih kurang mengeluarkan dana sekitar Rp. 8,320,000,00 ( delapan juta tiga ratus dua puluh ribu ).
Di awal peresmian, Kebun Binatang Medan belum terbuka untuk umum sehingga masyarakat kota Medan baru bisa mengunjungi kebun binatang sehari setelah peresmian. Tepat tanggal 18 Agustus 1968, Kebun Binatang Medan resmi
dibuka untuk umum. Pada tahun 1968, Yayasan Kebun Binatang Medan dibawah pimpinan bapak Alwi St Sinaro. Dalam pembukaannya untuk umum, Kebun Binatang Medan hanya memiliki beberapa satwa yang dapat di peragakan kepada para pengunjung. Kemudian seminggu detelah peresmian, tepatnya tanggal 24 Agustus 1968 binatang – binatang yang berukuran besar dan sedikit jarang dijumpai oleh warga kota Medan didatangkan. Binatang – binatang tersebut antara lain : Harimau, Ungko7, Gajah, dan Ular Sawah sepanjang 2,5 meter.
Harimau Buluh sendiri didatangkan langsung dari Paraman Ampaluh yang berada di perbatasan Tapanuli, Sumatera Barat. Sedangkan untuk Ular Sawah, merupakan sumbangan dari ARMED (Artileri Medan). Sedangkan Ungko merupakan satwa yang sejenis dengan Siamang. Hal tersebut dilakukan guna untuk menambah koleksi satwa – satwa yang ada di Kebun Binatang Medan.
Selain menerima sumbangan satwa dari warga dan berbagai pihak, Yayasan Kebun Binatang Medan juga membeli8 beberapa satwa untuk dimasukkan sebagai koleksi Kebun Binatang Medan. Sebagai upaya lainnya, Yayasan Kebun Binatang Medan juga menghubungi pihak PKBSI (Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia) untuk meminta agar dapat membantu menghubungi berbagai lembaga konservasi yang ada di Indonesia guna menambah koleksi satwa.
Selain mempertunjukkan berbagai macam satwa koleksinya, Kebun Binatang Medan juga menyediakan hiburan khusus bagi pengunjung yang dapat
7 Ungko adalah satwa sejenis primata yang merupakan hewan endemik Pulau Sumatera.
Tubuh ungko ditutupi dengan rambut/bulu dengan variasi warna dari coklat keemasan hingga coklat gelap.
8 (Lihat lampiran 2). Harian Waspada, Senin, 26 Agustus 1968.
disaksikan pada hari – hari tertentu seperti hari libur nasional dan hari – hari besar lainnya. Hiburan tersebut berupa band – band orkes kota Medan seperti : orkes gambus El-Surayya yang dipimpin oleh Ahmad Baqi dan sebagainya.9 Kebun Binatang Medan juga terkadang mengundang artis – artis kota Medan untuk tampil menghibur para pengunjung yang hadir. Selain band orkes, Kebun Binatang Medan juga turut menampilkan beberapa atraksi seperti sulap, tari – tarian, dan sebagainya. Untuk harga tiket masuk, Kebun Binatang Medan mematok harga Rp. 10 (sepuluh rupiah) untuk anak – anak dan Rp. 20 (dua puluh rupiah) untuk orang dewasa. Adapun tabel harga tiket masuk Kebun Binatang Medan (1968 – 1992) : (Lihat Lampiran 2)10.
No. Tahun Harga
1. 1968 – 1972 Rp. 10 – Rp. 50 2. 1972 – 1976 Rp. 50 – Rp. 90 3. 1976 – 1980 Rp. 90 – Rp. 130 4. 1980 – 1984 Rp. 130 – Rp. 170 5. 1984 – 1988 Rp. 170 – Rp. 210 6. 1988 – 1992 Rp. 210 – Rp. 250
Tabel 2.1.1 harga tiket masuk anak – anak Kebun Binatang Medan per 5 tahun.
9 Wawancara dengan narasumber Emiwaty, tanggal 10 April 2018 di Kota Medan.
10 Harian Waspada, Senin 26 Agustus 1968.
Kemudian, berikut merupakan daftar tabel harga tiket masuk Kebun Binatang Medan, untuk dewasa tahun 1968 – 199211 :
Tabel 2.1.2 daftar harga tiket masuk dewasa Kebun Binatang Medan per 5 tahun.
2.2 Kebun Binatang Medan 1993 – 2005
Yayasan Kebun Binatang Medan yang didirikan pada tahun 1967 merupakan milik dan dibawah pengawasan Pemda Tingkat II Medan. Hal ini juga bersamaan dengan 2 yayasan lainnya yaitu, Yayasan Kolam Renang Deli dan Yayasan Gelanggang Remaja. Yayasan Kolam Renang Deli didirikan setelah Yayasan Kebun Binatang Medan yaitu pada tahun 1978, dan kemudian disusul oleh pendirian Yayasan Gelanggang Remaja tahun 1983.
Pada tahun 1993, ketiga yayasan tersebut harus dibubarkan atas perintah yang diberikan oleh Walikota dengan surat keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Medan Nomor : 061/1960/SK/93 tentang pembubaran yayasan.
Hal tersebut dilakukan berdasarkan dengan Instruksi Pemerintah Dalam Negeri No. 5 tahun 1990 tentang pengalihan bentuk usaha Badan Usaha Milik Daerah
kedalam dua bentuk, yaitu Perumda dan Perser oda. Maka dari itu pada tahun 1992, dibentuklah Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Kodati II Medan.
Semenjak tanggal 16 Juni 1992, ketiga yayasan tersebut yaitu Yayasan Kebun Binatang Medan, Yayasan Kolam Renang Deli serta Yayasan Gelanggang Remaja dimasukkan menjadi unit usaha dari Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Kodati II Medan. Maka dari itu, sebelum dilakukannya pengalihan dari ketiga bidang usaha tersebut juga termasuk pengalihan asset dari ketiga yayasan kedalam unit Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan perlu dilakukannya pembubaran terhadap ketiga yayasan yang ada sebelumnya.
Pada tanggal 18 September 1993,12 dilakukannya penyerahan atas harta kekayaan atau asset dari ketiga yayasan tersebut. Penyerahan dilakukan oleh Drs.
Zainul Aris yang menjabat sebagai sekretaris Kotamadya Daerah Tingkat II Medan selaku pihak pertama kepada Adly Junus yang menjabat sebagai direktur utama Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Kotamadya Daerah Tingkat II Medan selaku pihak kedua. Harta kekayaan atau asset yang di terima oleh PD Pembangunan dari ketiga yayasan yaitu Yayasan Kebun Binatang Medan, Yayasan Kolam Renang Deli dan Yayasa Gelanggang Remaja seluruhnya bernilai Rp. 8.408.356.000,- ( delapan milyar empat ratus delapan juta tiga ratus lima puluh enam ribu rupiah ). Dari keseluruhan biaya tersebut, yang terdiri dari :
a) Tanah b) Bangunan
12 ( Lihat Lampiran 9). Surat Keputusan Walikota Madya Medan Tentang Pembubaran Yayasan.
c) Mesin d) Kendaraan e) Inventaris Kantor
f) Seluruh satwa ( Mamalia, Primata, Aves, Reptil, dan Pisces.
Untuk Kebun Binatang Medan, penyerahan asset yayasan dilakukan oleh bapak Darwin Azis Nasution. Pada saat itu, yaitu tahun 1993 Darwin Azis Nasution menjabat sebagai manager Kebun Binatang Medan. Semua asset Kebun Binatang Medan diserahkan kepada bapak Drs. Zainul Aris selaku sekretaris Kotamadya Daerah Tingkat II Medan untuk nantinya diserahkan lagi kepada Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan. Jumlah keseluruhan asset dari Kebun Binatang Medan senilai Rp.3.486.161.000,- (tiga milyar empat ratus delapan puluh enam juta seratus enam puluh satu ribu rupiah).13 Jumlah tersebut sudah terdiri dari :
a) Tanah b) Bangunan c) Kendaraan
d) Inventaris Kantor dan
e) Seluruh Satwa ( Mamalia, Primata, Aves, Reptil, dan Pisces.
Berikut merupakan daftar dari jenis – jenis satwa Kebun Binatang Medan yang diserahkan sebagai asset dari Yayasan Kebun Binatang Medan kepada Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan pada tahun 1993 :
13 Lihat Lampiran 23.
a) Mamalia
Tabel 2.2.1 daftar satwa Kebun Binatang Medan jenis Mamalia tahun 1993.14
b) Primata
6. Siamang 3
Tabel 2.2.2 daftar satwa Kebun Binatang Medan jenis Primata tahun 1993.
c) Aves
20. Ayam Kate 2
21. Ayam Polandia 2
22. Ayam Bromo 1
23. Merak 2
24. Jalak 6
25. Nuri 5
26. Betet 3
27. Beo Nias 1
28. Tiung Air 1
29. Enggang Papan 1
30. Golden Pheasant 2
31. Silver Pheasant 2
Tabel 2.2.3 daftar satwa Kebun Binatang Medan jenis Aves tahun 1993.
d) Reptil
NO. JENIS JUMLAH
(Ekor)
1. Buaya Katak 2
2. Biawak 2
3. Kura – Kura 6
4. Labi – Labi 7
5. Senyulong 1
6. Ular Sawah 4
Tabel 2.2.4 daftar satwa Kebun Binatang Medan jenis Reptil tahun 1993.
e) Pisces
Tabel 2.2.5 daftar satwa Kebun Binatang Medan jenis Pisces tahun 1993.
Setelah diserahkan dan berada dibawah Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan, Kebun Binatang Medan tidak memiliki banyak perubahan dari segi pengelolaan. Perubahan hanya terdapat pada struktur organisasai . Sebagian pegawai yang bekerja di kebun binatang dulunya saat dibawah naungan Pemda Kotamadya II Medan, hanya berstatus sebagai pegawai honorer atau pegawai tidak tetap, tetapi setelah berpindah tangan, setiap pegawai yang bekerja lebih dari 5 tahun di Kebun Binatang Medan diangkat sebagai pegawai tetap.15
2.2.1 Pemindahan Kebun Binatang Medan Tahun 2005
Kebun Binatang Medan selalu mejadi idola bagi masyarakat kota Medan sebagai tempat rekreasi yang murah, serta lengkap dengan hiburan dan satwa yang memanjakan masyarakat Medan. Hal ini dikarenakan Kebun Binatang Medan masih menjadi tempat rekreasi satu – satunya yang menarik bagi masyarakat Kota Medan hingga tahun 1970an. Setelah tahun 1970, tepatnya tahun 1971 tempat hiburan dan rekreasi telah dibuka untuk masyarakat Kota Medan. Tempat rekreasi
15 Wawancara dengan narasumber Emiwaty, 8 July 2018 di Kota Medan.
keluarga tersebut disebut dengan “ Taman Ria atau Medan Fair”. Meskipun demikian, Kebun Binatang Medan masih menjadi tempat rekreasi favorit masyarakat untuk mengenalkan alam dan berbagai satwa kepada anak – anak.
Sehingga pengunjung tidak berkurang secara signifikan. Setiap harinya Kebun Binatang Medan selalu didatangi oleh pengunjung baik dari dalam kota hingga luar kota Medan. Setiap hari besar atau libur nasional, halaman parkir Kebun Binatang Medan akan dipenuhi dengan berbagai jenis kendaraan dari pengunjung.
Kemudian memasuki tahun 2000an Kebun Binatang Medan mulai kurang diminati oleh masyarakat. Kebun binatang yang selalu dikenal sebagai tempat yang ramai oleh pengunjung dan pedagang musiman, pada tahun 2000an sudah tidak dapat terlihat. Hal tersebut dikarenakan sudah banyaknya jenis – jenis tempat rekreasi keluarga yang bermunculan di Kota Medan. Hal ini juga di perparah dengan semakin bertambahnya mall – mall besar yang menjadi rekreasi favorit masyarakat perkotaan seperti : mall Olympia yang dibangun pada tahun 1984 menjadikannya sebagai mall pertama di Kota Medan.16 Kemudian mulai banyak mall besar lainnya yang ikut dibangun di Kota Medan. Selain banyaknya alternatif rekreasi atau wisata lain di Medan, pihak pengelola Kebun Binatang Medan diketahui kekurangan dana atau biaya dalam mengurus satwa – satwa yang ada.17 Hal tersebut dikarenakan pihak Kebun Binatang Medan hanya mengandalkan keuntungan atau uang hasil dari penjualan tiket masuk untuk memberikan makan para satwa. Masyarakat juga menyayangkan tidak adanya
16 MedanBisnisDailyOnline, Rabu 28 Maret 2018, pukul 12:27 WIB.
http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2018/03/28/30602/olympia_mall_legendaris_
di_kota_medan/
17 (Lihat Lampiran 3). Harian Waspada, Rabu, 2 Maret 2005.
inovasi baru dalam pengembangan Kebun Binatang Medan sehingga dapat tetap terlihat menarik bagi masyarakat. Dilain pihak, pihak Pemko Medan juga dinilai kurang memperhatikan dengan serius dalam mengelola dan memajukan Kebun Binatang Medan.
Sekitar tahun 2000an kepadatan jalan raya yang semakin ramai, hal ini dikarenakan mulai banyaknya pembangunan gedung – gedung dan jalan raya sehingga sering menimbulkan kemacetan dan juga kebisingan di daerah Kebun Binatang Medan juga menjadi pemicu masyarakat enggan untuk berkunjung.
Jumlah satwa yang semakin sedikit, tempat bermain bagi anak – anak yang sudah tidak memadai dan sarana penunjang lainnya dirasa menjadi faktor kurangnya minat masyarakat terhadap Kebun Binatang Medan.
Untuk mengatasi hal tersebut akhirnya pihak Pemko Medan dengan kebijakan walikota Medan saat itu tahun 2005, yaitu bapak H. Abdillah,ak,MBA memutuskan untuk memindahkan lokasi Kebun Binatang Medan. Dalam pemindahan ini, diharapkan Kebun Binatang Medan dapat menjadi lebih baik lagi dikarenakan lokasi pemindahan yang lebih luas dan ditempatkan di pinggiran kota sehingga membuat para satwa lebih nyaman karena tidak adanya suara kebisingan dari kendaraan yang lalu lalang atau kendaraan yang terjebak oleh kemacetan.
Menurut penuturan narasumber, kabar atau berita tentang perpindahan Kebun Binatang Medan sudah terdengar dari awal tahun 2002. Kabar itu telah banyak di bicarakan antara para pegawai dan pemilik kantin di Kebun Binatang Medan. Sebelum dipindahkan, pihak Kebun Binatang Medan sudah
memperingatkan para pemilik kantin 2 bulan sebelumnya. Kemudian sebulan sebelum pemindahan, Kebun Binatang Medan sudah ditutup untuk umum. Hanya para pegawai dan pihak yang berwenang yang bisa masuk kedalam kebun binatang. Hal ini dilakukan guna mempersiapkan satwa – satwa yang nantinya akan dipindahkan ke lokasi yang baru.
Kebun Binatang Medan dipindahkan ke Jl. Bunga Rampai IV Nomor. 100 Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan.18 Di lokasi yang baru luas area kebun binatang mencapai 30 hektare. Tentu saja lokasi ini jauh lebih luas jika dibandingkan dengan lokasi lama yang hanya seluas 3,1 hektare. Dalam hal lokasi, sebelumnya DPRD Medan telah menyetujui pelepasan hak atas tanah dan bangunan milik Pemko Medan dengan melakukan tukar menukar/ruislagh hak atas tanah dan bangunan Kebun Binatang Medan yang berada di Jl. Brigjen Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, sertifikat HPL (Hak Pengelolaan) No. 1 atas nama Pemko Medan yang telah dihitung kurang lebih senilai Rp. 26.000.000.000,- (dua puluh enam milyar rupiah) yang ditukar melalui ruislagh dengan Kebun Binatang Medan pengganti di atas tanah 30 hektare yang berada di Kelurahan Simalingkar B yang menjadi lokasi kebun binatang yang baru yang dinilai lebih kurang sebesar Rp.28.000.000.000,- (dua puluh delapan milyar rupiah).19 Hal tersebut dikarenakan lokasi Kebun Binatang Medan yang baru sudah bertaraf internasional dan dengan fasilitas yang lebih lengkap.
18 ( Lihat Lampiran 3). Harian Waspada, Rabu, 2 Maret 2005.
19 (Lihat Lampiran 3). Harian Waspada, Rabu 2 Maret 2005.
Dengan luas lahan yang mencapai 30 hektare, Kebun Binatang Medan yang baru akan membagi lokasinya menjadi dua, yakni tempat penangkaran satwa dan khusus hutan satwa. Hutan satwa ini berada di sebelah kiri areal dalam dari pintu masuk dengan luas sekitar 10 hektare. Hutan satwa itu nantinya akan ditempati berbagai satwa yang sengaja dilepas seperti burung merpati. Hutan satwa juga dipersiapkan sebagai hutan kota yang nantinya akan menjadi penyejuk bagi para pengunjung dan satwa, sehingga pihak pemko menambahkan beberapa tanaman dan pepohonan yang rindang dan cepat tumbuh.
Pada tahun 2005, sebelum pemindahan Kebun Binatang Medan ke lokasi yang baru, bapak Syariful Alam, SE selaku Kepala Kebun Binatang Medan meminta bantuan kepada PKBSI (Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia) agar mendapatkan satwa yang lebih banyak untuk menambah jumlah koleksi satwa Kebun Binatang Medan. Satwa yang diharapkan untuk menambah jumlah koleksi satwa ialah satwa yang belum ada di Kebun Binatang Medan saat itu pihak PKBSI sebagai penambah jumlah koleksi satwa Kebun Binatang Medan
yang baru. Tetapi sayangnya, hingga saat ini sepertinya pihak PKBSI belum bisa memenuhi harapan pihak dari Kebun Binatang Medan. Hal ini dikarenakan biaya untuk mengirimkan satwa – satwa tersebut cukup besar sedangkan pihak Kebun Binatang Medan hanya mengandalkan dana dari tiket masuk pengunjung disamping sponsor dan pihak lainnya.
Pemindahan satwa Kebun Binatang Medan dilakukan pada tanggal 11 April 2005. Terdapat 265 ekor yang dipindahkan dari lima jenis satwa yang ada seperti, mamalia, primata, reptil, aves dan pisces di Kebun Binatang Medan.
Sebelum proses pemindahan, para satwa sebelumnya dibius terlebih dahulu khususnya satwa – satwa yang berukuran besar seperti harimau, singa, gajah, beruang dan sebagainya. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak stres akibat perpindahan yang akan dialami oleh satwa serta memudahkan para petugas dalam memindahkan satwa – satwa tersebut. Para satwa tersebut dipindahkan dengan menggunakan mobil – mobil besar khusus.20
Pada saat pemindahan, Kebun Binatang Medan dibawah naungan Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan yang diketuai oleh bapak A Gusri selaku Dirut (Direktur Utama). Tiga hari setelah seluruh satwa dipindahkan, tepatnya tanggal 14 April 2005 Kebun Binatang Medan diresmikan oleh bapak Walikota Medan H. Abdillah, ak, MBA bersama Ketua DPRD kota Medan bapak DR. H.
Syahdansyah Putra beserta Wakilnya bapak Zulfan, MBA. Dalam peresmian tersebut juga turut dihadiri oleh Ketua Komisi C Hendra DS dan beberapa anggota
20 DetikNews, Sabtu 16 April 2005 pukul 20:25 WIB.
http://m.detik.com/berita/343159/demo-tolak-peresmian-kebun-binatang-medan-terhadang-preman.
DPRD lainnya. Para kadis juga diundang dalam peresmian tersebut seperti, Kadis Pertamanan yang saat itu diketuai oleh Drs. H. Radiman Tarigan, MAP, Kadis Perindag Drs HT Basyrul Kamal, MM, Kadis Pendidikan Drs. Adios Gusri. Selain itu tokoh pemuda setempat dan Camat Medan Tuntungan Alex Ketaren dan Arjuna Sembiring juga diundang dan juga beberapa camat dan lurah se-Kota Medan. Hal ini dimaksudkan untuk mengenalkan Kebun Binatang Medan kepada masyarakat kota Medan juga sebagai ajang promosi yang nantinya diharapkan dapat disampaikan melalui perwakilan – perwakilan yang telah diundang tersebut.21
Setelah peresmian tanggal 14 Agustus 2005, Kebun Binatang Medan
Setelah peresmian tanggal 14 Agustus 2005, Kebun Binatang Medan